Antagonisme Penerapan Ajaran Islam di Indonesia (1)

Sabtu, 24 Desember 2011

Antagonisme Penerapan Ajaran Islam di Indonesia (1)

H. Munawar M. Saad
Dosen STAIN Pontianak dan sedang menyelesaikan program doktor di UGM Yogyakarta

Kita menyadari bahwa Islam di Indonesia adalah agama mayoritas, dan praktik ritualisme keagamaan di negeri ini cukup semarak. Jemaah haji Indonesia merupakan jemaah terbesar di dunia. Bahkan tiap tahun kuota haji untuk Indonesia selalu bertambah, seiring besarnya minat masyarakat untuk menunaikan ibadah haji.

Musabaqah Tilawatil Quran dan Seleksi Tilawatil Quran secara berkala selalu diselenggarakan, mulai tingkat kecamatan sampai tingkat nasional. Tentu telah menelan biaya yang tidak sedikit. Tiap perayaan hari-hari besar keagamaan selalu diperingati, mulai dari tingkat RT sampai istana negara.

Ketika datang bulan suci Ramadan, surau-surau dan masjid bahkan hotel dan kantor mengadakan Salat Tarawih berjemaah. Hampir 20 stasiun tv, baik swasta maupun pemerintah menyiarkan dakwah Islam. Di sekolah juga praktik ritualisme keagamaan terjadi. Tiap masuk sekolah siswa atau murid wajib berdoa, mengucapkan salam dan mencium tangan guru. Di kampus tumbuh pesat pusat kajian keagamaan dan diskusi tentang Islam. Di masyarakat juga tidak mau ketinggalan, majelis taklim ibu-ibu tumbuh di mana-mana bak jamur tumbuh di musim hujan.

Jumlah masjid tiap tahun bertambah, pembangunan masjid dan surau juga semakin meningkat. Di mana-mana masjid dan surau seakan berlomba-lomba memperindah dan memperluas bangunannya. Demikian juga pada kelompok-kelompok tertentu, bermunculan kegiatan dakwah Islam. Pendek kata di Indonesia kegiatan dakwah Islam dan pengajian keislaman luar biasa. Satu sisi ini sangat membanggakan.

Akan tetapi penulis kaget membaca hasil penelitian sosial bertema “How Islamic are Islamic Countries” yang dilakukan oleh Scheherazade S Rehman dan Hossein Askari dari The George Washington University, yang menyimpulkan bahwa negara yang paling Islami (menerapkan nilai-nilai keislaman dalam kehidupan bermasyarakat) justru negara non-Islam.

Hasil penelitiannya dipublikasikan dalam Global Economy Journal (Berkeley Electronic Press, 2010). Menilai Selandia Baru berada di urutan pertama negara yang paling Islami di antara 208 negara, diikuti Luksemburg di urutan kedua. Sementara Indonesia yang mayoritas penduduknya muslim menempati urutan ke-140. Dari 56 negara anggota OKI, yang memperoleh nilai tertinggi adalah Malaysia (urutan ke-38), Kuwait (48), Uni Emirat Arab (66), Maroko (119), Arab Saudi (131), Indonesia (140), Pakistan (147), dan terburuk adalah Somalia (206). Negara barat yang dinilai mendekati nilai-nilai Islam adalah Kanada di urutan ke-7, Inggris (8), Australia (9), dan Amerika Serikat (25).

Sekali lagi, penelitian ini tentu menyisakan banyak pertanyaan serius yang perlu juga dijawab melalui penelitian sebanding. Jika masyarakat atau negara muslim korup dan represif, apakah kesalahan ini lebih disebabkan oleh perilaku masyarakatnya atau pada sistem pemerintahannya? Atau akibat sistem dan kultur pendidikan Islam yang salah?

Namun, satu hal yang pasti, penelitian ini menyimpulkan bahwa perilaku sosial, ekonomi, dan politik negara-negara anggota OKI justru berjarak lebih jauh dari ajaran Islam dibandingkan negara-negara nonmuslim, yang perilakunya lebih Islami. Pertanyaan dasarnya adalah seberapa jauh ajaran Islam dipahami dan memengaruhi perilaku masyarakat muslim dalam kehidupan bernegara dan sosial? “Kehidupan sosial di Jepang lebih mencerminkan nilai-nilai Islam ketimbang yang mereka jumpai, baik di Indonesia maupun di Timur Tengah.”

Ajaran dasar Islam yang dijadikan indikator dimaksud diambil dari Alquran dan hadis, dikelompokkan menjadi lima aspek. Pertama, ajaran Islam mengenai hubungan seseorang dengan Tuhan dan hubungan sesama manusia. Kedua, sistem ekonomi dan prinsip keadilan dalam politik serta kehidupan sosial. Ketiga, sistem perundang-undangan dan pemerintahan. Keempat, hak asasi manusia dan hak politik. Kelima, ajaran Islam berkaitan dengan hubungan internasional dan masyarakat nonmuslim.

Setelah ditentukan indikatornya, lalu diproyeksikan untuk menimbang kualitas keberislaman 56 negara muslim yang menjadi anggota Organisasi Kerjasama Islam (OKI), yang rata-rata berada di urutan ke-139 dari sebanyak 208 negara yang disurvei. (bersambung)

About these ads

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 49 other followers

%d bloggers like this: