Bahasa Belanda di Indonesia: Dibayangi VOC

http://www.rnw.nl/bahasa-indonesia/article/bahasa-belanda-di-indonesia-dibayangi-voc

Beranda

Radio Video Sajian Dosir Interaktif

Replika Prins Willem

Avatar Joss Wibisono
Hilversum, Belanda
Hilversum, Belanda

Bahasa Belanda di Indonesia: Dibayangi VOC

Diterbitkan : 22 Desember 2011 – 1:14pm | Oleh Joss Wibisono (Foto: Johan Wieland)

Diarsip dalam:

Kalau Spanyol di Filipina, Portugal di Timor Leste, Prancis di Indochina, dan Inggris di Birma memberlakukan bahasa-bahasa mereka, mengapa Belanda tidak berbuat serupa di Indonesia? Tapi mengapa pula Belanda mewajibkan bahasanya di Suriname dan Antila yang dulu disebut Hindia Barat?

Di mana-mana penguasa kolonial Eropa selalu memberlakukan bahasa mereka di wilayah jajahan. Bahasa-bahasa Inggris, Prancis, Portugis dan Spanyol bukan saja menjadi bahasa pemerintahan di Afrika, Asia Selatan dan Amerika Latin, tetapi juga merupakan bahasa yang diajarkan di sekolah-sekolah pada belahan dunia itu.

Alhasil ketika kolonialisme berakhir, negara-negara yang merdeka dari jajahan Inggris, Prancis, Portugal dan Spanyol tetap menggunakan bahasa (bekas) penjajah sebagai bahasa nasional. Atau, walaupun sudah punya bahasa nasional seperti Maroko atau Aljazair yang berbahasa Arab, bahasa Prancis menjadi bahasa nasional kedua yang sekaligus merupakan bahasa penghubung dengan dunia internasional.

Mengapa penjajah Belanda tidak berbuat serupa di Indonesia?

Bahasa Melajoe
Kees Groeneboer, direktur Erasmus Taalcentrum di Jakarta, sempat meneliti politik bahasa penguasa kolonial Hindia Belanda ketika menulis disertasi doktor. Menurutnya ketika tiba di Nusantara pada akhir abad 16, Belanda mendapati bahwa bahasa Melajoe sudah merupakan bahasa pengantar.

Jadi Belanda tidak merasa perlu untuk memperkenalkan bahasanya yang harus berfungsi sebagai bahasa pengantar.

Ini jelas berbeda dengan Spanyol di Filipina, Prancis di Indochina misalnya. Wilayah-wilayah itu tidak memiliki bahasa pengantar yang bisa berfungsi sebagai bahasa nasional, ini memberi kesempatan kepada penguasa kolonial untuk memberlakukan bahasa mereka.

Belanda jelas tidak merasa perlu memberlakukan bahasanya di Nusantara.

VOC
Yang sebenarnya juga harus diperhitungkan adalah bahwa Belanda datang ke Nusantara sebagai sebuah perusahaan dagang, VOC. Perusahaan multinasional pertama ini tentu saja berprinsip laba, artinya menekan ongkos serendah mungkin.

Bagi mereka jelas lebih murah belajar bahasa Melajoe ketimbang mengajar bahasa Belanda kepada warga Nusantara. Langkah VOC ini sangat berpengaruh dan seolah membayangi setiap politik bahasa yang dilancarkan tehadap Nusantara sesudahnya.

Itu sama sekali tidak berarti VOC tidak berupaya mengajarkan bahasa Belanda. Di Ambon pada abad 16 dibuka sekolah berbahasa Belanda, demikian pula ada gereja-gereja yang menggelar kebaktian dalam bahasa Belanda. Ini tidak dilanjutkan karena hasilnya dinilai tidak ada.

Politik bahasa
Pada abad XIX, ketika VOC bangkrut dan pemerintah Den Haag mengambil alih Nusantara, dilancarkan politik bahasa terhadap orang Eropa. Mereka wajib berbahasa Belanda. Politik ini bisa dikatakan berhasil, karena kalangan yang berbahasa Portugis, sisa-sisa zaman Portugal, makin sangat berkurang.

Pada abad 20 Belanda melancarkan Politik Etis yang bertujuan meningkatkan martabat para pribumi Inlanders. Belanda mulai membuka sekolah-sekolah, walaupun itu hanya ditujukan pada para elit/bangsawan. Sudah dari awal penguasa kolonial tidak berambisi menjadikan bahasa Belanda sebagai bahasa pengantar di Hindia Belanda.

Walau begitu, berkat pelbagai sekolah itu, jumlah orang pribumi yang mampu berbahasa Belanda meningkat sampai 14 kali lipat. Ketika penjajahan Belanda berakhir, pada tahun 1940an, jumlah pribumi yang mampu berbahasa Belanda mencapai dua persen dari seluruh warga Hindia Belanda.

Itupun sudah mencapai 1,4 juta orang.

Pendidikan berbahasa Belanda
Faktor jumlah penduduk inilah yang menurut Kees Groeneboer berperan penting bagi politik bahasa Belanda untuk Hindia Barat yang terdiri dari Suriname dan Antila Belanda. Pada awal abad 20 jumlah penduduk wilayah ini tidaklah banyak, diperkirakan belum mencapai 200 ribu orang. Jumlah seperti ini memungkinkan untuk menyediakan pendidikan berbahasa Belanda.

Groeneboer melihat masih ada dua faktor lain yang tidak kalah pentingnya. Pertama, pemerintah kolonial Hindia Barat ingin mengasimilasikan seluruh penduduk pada pemerintahan kolonial. Kedua Belanda berminat menyebarkan agama Nasrani dan untuk ini dipakai bahasa Belanda.

Kosa kata bahasa setempat dianggap terlalu miskin untuk penyebaran agama Nasrani.

Perbedaan jumlah penduduk ini menyebabkan seolah Belanda melancarkan kebijakan yang berbeda terhadap Hindia Timur dan Hindia Barat. Yang jelas, ketika sekarang bahasa Belanda masih digunakan di Suriname atau Antila Belanda, penulis Belanda seperti Adriaan van Dis sempat mengeluh.

“Coba,” kata Van Dis, “kalau bahasa Belanda juga digunakan di Indonesia, pasti buku saya akan laku banyak!”

Favorit/Cari dengan:
Utjok 22 Desember 2011 – 5:49pm / Indonesia

Itu tidak bisa. Setelah saya mempelajari berbagai tulisan dimilis ini dan lain lainnya, saya sendiri merasa kegetlah. VOC dengan Indonesia, adalah dua kata yang sangat besar perbedaannya. Oostindische dan Indonesia. Coba menjelaskan tentang Indische atau Hinidia belanda dengan Indonesia? ternyata kapal VOC ini, tidak pernah ada dan datang di Indonesia. Siapa yang bilang bahwa kapal VOC ini datang di Indonesia dan itu berarti dia tipu. Aku mau mencari kebenarannya VOC dan Indonesia. kalau ada yang lebi pintar, cobalah terangkan kepada saya tentang kapal VOC ini di Indonesia. Untuk itu, keterangan diatas ini, aku rasa tidak benar bahwa kapal VOC ini datang di Indonesia.

Jonathan Magi 22 Desember 2011 – 9:43pm / Belanda

Benar saudara, bahwa VOC tidak ada hubungannya dengan Indonesia. VOC tidak mengenal Indonesia itu apa dan dimanakah Indonesia itu? VOC datang dan bermarkas di Batavia kala itu, tidak ada satu orangpun yang menyebut dirinya orang Indonesia. Sampai lahirnya Sukarno di Jawa itupun, dia bukanlah Indonesia. Lalu darimana datangnya Indonesia itu? Ini namanya main pasung saja seperti oranga gila dipasung kayu pasung. Ini sama saja dengan pancasila dan bineka tunggalika. Ini namanya main serobot saja. Indonesia itu dengan sejarahnya dan pemerintahnya, main serobot saja. Pancasila dan binekatunggalika itu adalah alat penyerobot aja ni.

_

About these ads

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 54 other followers

%d bloggers like this: