Pembantaian Mesuji, Kegagalan Aparat dan Negara

Avatar Juliani Wahjana
Jakarta, Indonesia
Jakarta, Indonesia

Pembantaian Mesuji, Kegagalan Aparat dan Negara

Diterbitkan : 15 Desember 2011 – 1:22pm | Oleh Juliani Wahjana (Foto: TomBroadbent)

Diarsip dalam:

Apakah benar telah terjadi pembantaian petani di Kabupaten Mesuji, Lampung? Pihak kepolisian daerah Lampung maupun Kapolri Jendral Timor Pradopo membantahnya. Namun bantahan itu disanggah oleh direktur Walhi Nasional Berry Nahdian Forgan yang baru saja kembali dari Mesuji untuk melakukan investigasi.

“Pembantaian itu memang betul terjadi. Ada rekaman video dan gambar-gambarnya,” tegas Berry. “Kami di sana menemukan selongsong-selongsong peluru yang berhamburan. Bukan peluru karet seperti pernyataan yang dikeluarkan. Ini fakta.”

Tiga kasus
Namun Berry menjelaskan ada tiga kasus kekerasan yang terjadi di Mesuji, berdiri sendiri-sendiri walaupun semuanya melibatkan konflik antara perusahaan perkebunan dengan warga setempat.

Pertama, kasus pembantaian di bulan April, kedua kasus penembakan, dan ketiga kasus penembakan dan pembunuhan di bulan November lalu. Dalam kasus terakhir, satu orang meninggal dan tujuh luka-luka akibat tembakan aparat Brimob.

Penyebab peristiwa terakhir: perkebunan kelapa sawit mengambil lahan masyarakat dengan perjanjian memberi ganti rugi serta membuat lahan inti dan plasma. Warga dan perusahaan sepakat bahwa warga hanya memanen sawit di lahan plasma, tapi oleh aparat keamanan mereka dianggap pencuri dan ditangkap.

Ketika warga protes, aparat melepas tembakan dan berbuntut pada kerusuhan dan pembakaran. Demikian jelas Berry. “Jadi bukan seperti yang dikatakan polisi bahwa pembakaran terjadi dan aparat baru melepas tembakan.”

Ditutup-tutupi
Menurut Berry, tereksposnya kasus-kasus sekarang ini karena adanya upaya untuk menutup-nutupinya. Pertama untuk kepentingan korporasi, kedua kepentingan aparat keamanan itu sendiri, dan ketiga dicurigai ada elit-elit politik yang berada di belakangnya.

Kasus Mesuji ini hanyalah satu dari 101 kasus pelanggaran dan tindakan kekerasan yang dicatat Walhi dalam tahun 2011, yang melibatkan aparat dalam menangani konflik pengelolaan sumber daya alam antara warga dengan perusahaan.

Sebanyak 123 orang ditahan, 26 luka berat, dan sembilan meninggal dunia. Terdapat 62 orang terkena luka tembak.

Mengomentari kenyataan di atas, direktur Walhi mengatakan, “ini menunjukkan kebobrokkan negara dalam mengurus warganya untuk mendapatkan hak-hak mereka seperti lahan dan mata pencaharian.” Aparat yang seharusnya bertindak netral, justru berada di pihak perusahaan karena mereka dibayar.

“Kami temukan di semua tempat termasuk di Mesuji, mereka dibayar langsung oleh perusahaan untuk mengamankan”.

Kebablasan
Walhi menyatakan kecewa dengan kelambanan Komnas Ham dalam menanggapi peristiwa ini. Walaupun mereka telah turun ke lapangan, tapi tindakannya terlalu lamban. Walhi juga meminta DPR untuk memanggil Kapolri serta melakukan evaluasi terhadap kewenangan polisi. “Tindakan aparat sudah kebablasan,” demikian Berry mengakhiri penjelasannya.

==========

http://www.balipost.com/mediadetail.php?module=detailberita&kid=33&id=59970

 

16 Desember 2011 | BP
Polri Bantah Bantai Warga Mesuji
Jakarta (Bali Post) -
Markas Besar Kepolisian RI membantah adanya pembantaian yang diduga dilakukan oleh aparat kepolisian terhadap warga Sungai Sodong, Kecamatan Mesuji, Kabupaten Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan, 21 April 2011. Meskipun dalam video rekaman yang dipertontonkan pada anggota Komisi III DPR-RI terlihat adanya pembantaian yang dilakukan oleh pihak aparat, pihak kepolisian menyatakan bahwa peristiwa tersebut bukanlah pembantaian namun pertikaian antara warga Mesuji dan pihak PT Sumber Wangi Alam yang bergerak dalam bidang kelapa sawit.
”Jadi video itu (pembantaian) diambil setelah kejadian. Setelah petugas dari Polres (OKI) dan Polda (Sumsel) hadir. Jadi tidak ada polisi yang memenggal warga. Saya tegaskan tidak ada. Berdasarkan fakta-fakta, yang melakukan tindakan itu warga terhadap karyawan PT SWA,” terang Kabagpenum Mabes Polri Kombes Pol. Boy Rafli Amar, Kamis (15/12) kemarin.
Boy menambahkan, pihaknya menyangsikan isi dari video rekaman yang isinya memperlihatkan kebiadaban aparat korps Bhayangkara terhadap sejumlah petani sawit di lingkungan wilayah Mesuji. ”Jadi tidak benar gambar-gambar penayangan aksi kekerasan yang dilakukan oleh petugas. Ini akibat dampak dari konflik horizontal yang terjadi. Bahkan, kalau tidak ada petugas (polisi) yang hadir, diprediksi korban akan bertambah lagi, karena saat kejadian pihak karyawan PT SWA dievakuasi oleh anggota Brimob,” katanya.
Kata dia, adapun kronologi peristiwa tersebut terjadi pada 21 April 2010. Berawal saat dilakukan kegiatan panen kebun kelapa sawit oleh PT SWA. Saat itu dilihat oleh warga yang merasa lahan kebun sawit yang dimiliki PT SWA tersebut milik warga Mesuji. ”Jadi sebenarnya konflik lahan ini sudah lama terjadi dan sudah ada upaya penyelesaian dari pemda. Tetapi pada waktu itu terjadi bentrok fisik terhadap warga yang berusaha melarang pihak perusahaan PT SWA untuk melakukan kegiatan panen di lahan yang dianggap milik mereka. Itu versi warga,” terangnya.
Karena tak bisa dibendung, akibat bentrok antara pihak Pam Swakarsa (anggota pengamanan perusahaan) dengan masyarakat tersebut akibatnya di pihak warga meninggal di lokasi satu orang dan satunya meninggal saat melarikan diri.
Atas meninggalnya dua warga, mengakibatkan reaksi dari masyarakat Desa Sungai Sodong, Kecamatan Mesuji, Kabupaten Ogan Komering Ilir, Sumsel. ”Pascaperistiwa itu (bentrokan), sekitar pukul 13.30 WIB massa datang ke lokasi menggunakan 4 truk, mobil pick up, dan sepeda motor, estimasi ada sekitar 400 warga,” tuturnya.
Dengan kondisi banyaknya massa, katanya, para pegawai dari PT SWA berusaha melarikan diri dan meninggalkan kamp. Namun, imbuhnya, ada aksi kekerasan oleh warga terhadap para pegawai yang tidak melarikan diri. ”Jadi akibatnya meninggal 5 orang di tempat itu, dari karyawan PT SWA,” tegasnya.
Atas peristiwa tersebut, enam pelaku ditangkap. Pihak kepolisian juga tengah memburu 8 DPO yang diduga keras terlibat atas peristiwa pembantaian tersebut. (kmb)
About these ads

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 56 other followers

%d bloggers like this: