GEMPA LITERAI ALA TAMAN BACAAN MASYARAKAT

GEMPA LITERAI ALA TAMAN BACAAN MASYARAKAT
Oleh Gol A Gong

gongmedia cakrawala <gm_cakrawala@yahoo.com>,in: wong banten <wongbanten@yahoogroups.com>,Monday, 28 November 2011, 2:22

Gempa literasi adalah gerakan kebudayaan di tingkat lokal untuk Indonesia Membaca. Ini digagas oleh teman-teman penggiat literasi di seluruh Indonesia. Pada Sabtu, 26 November 2011, di Grand Pasundan Bandung, sekitar 30 komunitas literasi yang tergabung di Forum Taman Bacaan  Masyarakat Indonesia mencanangkan penyulutan sumbu gempa literasi secara serentak di 33 titik provinsi. “Dampak gempanya akan dahsat!” kata Yusrizal KW, wartawan sekaligus penyair yang mendirikan sanggar baca dan menulis Pelangi di Padang.
SEREMPAK APRIL
Iyut Fitra dari komunitas literasi Intro Payakumbuh, Padang, sepakat dengan Yusrizal, “Pada 23 April 2012 gempa literasi disulut. Setelah itu, sepanjang tahun 2012, di masing-masing komunitas literasi atau taman bacaan masyarakat (TBM) melakukan kegiatan gempa literasi susulan, sambung menyambung.”
Benny Arnas, pengarang yang mendirikan taman bacaan masyarat Wahid 21 di Payakumbuh bersemangat menyambut gerakan gempa literasi di tingkat lokal ini. “Setelah penyulutan sumbu gempa literasi dimulai pada 23 April 2012 nanti di 33 titik di seluruh Indonesia, saya akan menyelenggarakan secara besar pada hari kelahiran saya nanti!”
Sekitar 30 peserta TOT (Training of Trainers) yang diselenggarakan PPTK PAUD NI, Kemendikbud Nasional sudah merasakan getaran gempa literasi ini. Arman AZ dari komunitas baca Berkat Yakin, Lampung, sudah tidak sabar ingin menyulut gempa. Arman siap berkolaborasi dengan Forum Taman Bacaan Masyarakat Lampung, yang diwakili oleh Irfan Rahmawan dari TBM Cendekia, Kedaton, Bandar Lampung. Begitu juga Bode Riswandi dari TBM Beranda 57 Tasikmalaya, Hudan Noor dengan TBM Zeusagi Library Banjarmasin, Ramayani Riance dari Komuitas Pintu, Tebo, Jambi, dan Jamrin Abubakar dari Bone Bula, Donggala, Sulawesi Barat. Mereka siap secara serempak menyulut sumbu gempa literasi pada 23 April 2012 pukul 16:23 waktu setempat.
Para pengelola komunitas baca atau taman bacaan masyarakat yang tersebar di 5400 titik serta tergabung di 33 Pengurus Wilayah Forum TBM se-Indonesia, akan menjadi inisiator atau penggerak. “Bagi saya ini hal biasa yang sudah sering dilakukan,” tegas Iyut Fitra, Yusrizal KW dan Benny Arnas. Mereka yakin, jika lomba menulis cerpen, essay, puisi atau melukis sering diseleggarakan di TBM, percepatan menuju Indonesia Membaca akan segera terwujud.
 MENU WAJIB
Gempa Literasi ala TBM yang dikomandani Gol A Gong, peraih IKAPI Award 2011 untuk kategori Penggiat Literasi, yaitu berupa simulasi yang bersifat kompetisi. Diharapkan masyarakat di sekitar TBM bisa termotivasi untuk datang ke TBM, tertarik membaca, kemudian menjadikan membaca bagian dari budaya hidupnya. “Jika gempa literasi diselenggarakan secara konsisten dan kontinuitasnya perminggu atau perbulan seperti di Rumah Dunia, insya Allah, selama 10 tahun ke depan akan muncul peradaban baru di kampung dimana TBM itu berada.” Inilah makna gempa literasi sesungguhnya, yaitu menghancurkan kebodohan. “Selama ini kita hanya mengenal gempa tektonik atau vulkanik, yang identik dengan kehancuran. Sekarang yang kita hancurkan adalah kebodohan!” tegas Gong, yang juga Ketua Umum Pengurus Pusat Forum TBM.
Gempa literasi bisa diadopsi atau diselenggarakan oleh siapa saja, secara kelembagaan seperti Forum Taman Bacaaan Masyarakat, LSM, atau institusi pemerintah seperti Dikbud di daerah atau Kemendikbud Pusat. Bahkan Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah dengan produk bernama perpustakaan desa. Kegiatannya, pertama berupa orasi literasi dari pejabat atau tokoh setempat, bisa gubernur, bupati, camat, bahkan RW dan RT. Dengan oraswi literasi, waga di sekitar TBM akan tahu isi kepala pemimpinnya. Adagium “Apa yang kamu bicarakan mencerminkan apa yang kamu baca” akan tergambar. Kemudian nNaskah orasi literasi ini, menurut Agus Irkham, Litbang Forum TBM, “Kelak naskah orasi litrerasi itu kita kumpulkan dan diterbitkan menjadi sebuah buku.”
Gempa literasi kedua, pertunjukkan seni yang melibatkan komunitas seni setempat, boleh musikalisasi puisi, seni tradisional, seni tari, teater kontemporer, pembacaan puisi, monolog, nge-band, konser piano atau biola tunggal, pameran lukisan, dan apa saja yang bersifat produk kebudayaan. “Saya dengan grup musikalisasi puisi ‘Ki Amuk’ membuat CD album yang diproduseri oleh Jaya Komarudin Production. CD itu dijual. Dan ini bagus juga untuk strategi penggalangan dana TBM. Saya dan teman-teman bisa mensubsidi kas Rumah Dunia dari penjualan album CD itu,” cerita Firman Venayaksa, Ketua I Forum TBM.
Ketiga, pelatihan apa saja, mulai dari ketrampilan menulis, bisa yang bersifat kewirausahaan atau life skill lainnya. Wien Muldian, Sekjen Forum TBM yang pustakawan menawarkan, “Pelatihan tentang katalogisasi itu penting untuk perngembangan TBM selanjutnya.” Atau seperti yang Agus Munawar lakukan di Sudut Baca Soreang, Bandung Selatan. “Di TBM saya ada bisnis kaos, pin, tas, pembuatan baliho atau spanduk,” kata Agus Munawar, juga Ketua II Forum TBM. “Saya siap memberi pelatihan tentang bagaimana cara menyablon kaos,” tambah Agus.
Keempat, bazaar buku, silahkan bekerjasama dengan penerbit lokal atau besar seperti Gramedia Pustaka Utama, Kepustakaan Populer Gramedia, Penerbit Mizan, Gagas Media, Zikrul Hakim, dll. Beberapa TBM sudah melakukan ini. Di bazaar ini bisa kita dapatkn buku-buku murah dengan diskon antara 40% – 50%.
Kelima bedah dan peluncuran buku, diutamakan buku-buku karya penulis-penulis dari TBM setempat, agar bisa membuktikan kepada masyarakat, bahwa TBM tersebut memberi manfaat. “Penerbitan buku itu bisa secara indie atau major label,’ kata Gong yang juga Direktur Gong Publishing. “Penulisnya dari TBM setempat. Difotokopi juga oke. Setting yang bagus. Minta tolong ke teman yang bisa menggambar untuk cover bukunya. Lalu diluncurkan dan dibedah oleh wartawan atau akademisi setempat. Pasti heboh!” tambah Gong. Pada saat bersamaan pula, Forum Taman Bacaan Masyarakat bekerjasama dengan Kepustakaan Populer Gramedia (KPG). “Buku-buku yang ditulis oleh para pengelola TBM akan diterbitkan oleh KPG. Buku yang siap terbit bejudul ‘Gempa Literasi’, yang ditulis oleh saya dan Agus Irkham. Buku ini bisa juadi babon TBM!” Gong menjelaskan. Gong mengharapkan pada 2012 nanti, di setiap TBM yang menyelenggarakan gempa literasi ada “menu wajib” membedah buku “Gempa Literasi”.
 Keenam hibah buku dari orang-orang yang mampu dimana nanti buku-bukunya didistribusikan ke kantung-kantung baca di wilayah dimana kegiatan berlangsung. Diharapkan setelah pejabat setempat orasi literasi, langsung menghibahkan buku-bukunya, disusul oleh tamu dan undangan lainnya. Rumah Dunia bekerjasama dengan Dindik dan Perpusda Banten pada 2005 pernah menyelenggarakan gempa literasi berjudul “Banten Membaca” di GOR Maulana Yusuf, Serang. Terkumpul sekitra 22 ribu buku. “Masuk rekor MURI,’ cerita Firman, yang menjadi penanggung jawab acara Banten Membaca. Kemudian buku-buku itu didistribusikan ke TBM se-Banten.
Terakhir ketujuh, aneka lomba literasi; bisa menggambar, mengarang cerpen dan novel, membaca puisi, monolog, menulis essay, meresensi buku, menulis novel, menulis resep masakan, menulis sejarah kampung seperti yang dilakukan TBM Gelaran Buku, Yogyakarta. Dengan aneka lomba ini, warga di sekitar TBM akan masuk ke fase tidak sekadar mengeja atau membaca saja, tapi menulis. Jika sudah mampu menulis, berarti warga di sekitar TBM sudah memasuki fase kemampuan membaca (reading ability) yang tinggi, bisa mencerna isi buku yangn dibaca..

WISATA LITERASI

TOT Pengelola TBM sejak 24 November 2011 ini ditutup dengan kegiatan berwisata literasi ke TBM Arjasari di Bandung Selatan, Minggu (27/11). Memakai bus Pemda Bandung, rombongan meluncur ke Arjasari di Minggu pagi yang padat.  Tapi, begitu berada di luar kota, pemandangan sawah dan bukit-bukit membuat mata segar. TBM Arjasari berada di lingkungan perumahan. Awalnya dikelola Agus Munawar. Kemudian diserahkan ke Abdul Cholic. Pada 2011, TBM Arjasari mendapat anugrah TBM Kreatif dan mendapat sumbangan TBM Berbasis Elektronik sebesar Rp. 27 juta dari direktorak Pendidikan Masyarakat, Kemendikbud Nasional.
Ketigapuluh pengelola TBM yang ikut TOT terkesan dengan gempa literasi ala TBM Arjasari. Adil Tambono dari TBM Kakanna, Polewali, Mandar, Sulawesi Selatan berkali-kali mengutarakan niatnya ingin segera membuat gempa literasi. Begitu juga Huda Noor dari Zeusagi Library, Guntur Payung, Banjarbaru, Kalimantan Selatan.
Kegiatan membawa peserta TOT Pengelolaan TBM berwisata literasi ke TBM setempat akan terus dilakukan. “Ini wajib hukumnya!” tegas Gong. Pada September 2011 lalu, Pengurus Pusat Forum TBM mendapatkan kepercayaan dari PPTK PAUD NI untuk menyelenggarakan pelatihan mneulis di Serang, Banten. Juga ada kegiatan wisata literasi ke TBM Permadani yang dikelola Erna Yuliawati.
Wisata literasi di TBM Arjasari ini juga semodel dengan gempa literasi. Yaitu menunya petunjukkan seni angklung dari anak-anak SD, kemudian pembacaan puisi oleh Bode Riswandi dari TBM Beranda 51 Tasikmalaya, dan Iyut Fitra. Pendongeng Bambang Purwanto dari TBM Ayah Salwa, Lebak Wangi, Bandung Barat juga membikin heboh anak-anak. Kemudian bazaar buku murah diserbu. Para peserta dari luar Jawa memborong buku terbitan Gong Publishing seharga Rp. 15 ribu/buku.
Di sela-sela acara disisipkan pemberian “Apresiasi Literasi” kepada Abdul Manaf, pengelola TBM Jabal Uqhud, Natuna, Kepulauan Riau berupa buku-buku terbitan Gong Publishing, buku karya Agus Irkham dan Benny Arnas. Manaf adalah contoh warga miskin di daerah transmigrasi Batubi, Natuna, tapi tidak menyerah pada keadaan. Manaf tanpa kenal lelah membantu pendidikan di lingkungannya secara non formal/informal sejak tahun 2007. “Modal aweeal adalah 70 buku yang saya bawa dari Trenggalek. Kini koleksinya sudah ada 1000 buku, sumbangan dari Fokusmaker Natuna,” kenang Manaf.
Menu sisipan lainnya adalah pelantikan Pengurus Wilayah Forum TBM Jawa Barat dan peluncuran gempa literasi “Bandung Selatan Membaca”. Ternyata para pengelola TBM sudah merasakan gempa-gempa kecil literasi. Faiz Ashoul dari TBM Gelaran Buku, Yogyakarta siap menyulutnya pada 10 Desember nanti dengan bentuk pelatihan teknologi informasi. Ramayani Riance dari Komunitas Pintu, Tebo, Jambi, sudah mengagendakan gempa literasi “Kampanye Sastra” pada januari 2012 dengan nara sumber Gus tf Sakai. Juga DC Aryadi dari TBM Kedai Proses, Lebak, Banten menyulut gempa literasi dengan peluncurn dan bedah buku kumpulan cerpen “Ting Bating” karya Firman Venayaksa.
UNIT USAHA
Pukul 13:30 WIB rombongan TOT Pengelola TBM kembali ke Grand Pasundan. Mereka tidak langsung ke kamar, tapi berkumpul di ruang UM2; yaitu sharing TBM. Yusrizal KW dari Sanggar baca Tulis Pelangi Padang, Anas AG dari Sindikat Baca Bojonegoro dan Adil Tambono dari TBM Kakanna Polewali Mandar tampil. Mereka rata-rata bisa bertahan hidup, karena memiliki unit usaha. Anas dan Yusrizal KW dengan menjual kaos, sedangkan Adil memasok alat-alat musik tradisional ke toko-toko di Makassar.
Anas menceritakan, “Saya membuat majalah bulanan ‘Baca’. Setiap yang membeli kaos, mendapat bonus majalah. Harga kaosnya Rp. 50 ribu. Harga produksi kaos RP. 30 RIBU. Kelebihan Rp. 20 ribu, saya pakai untuk menerbitkan majalah sebanyak 1000 eksemplar.”
 Nah, Anda siap menyulut sumbu gempa literasi juga? (*)
*) Penulis adalah relawan di TBM Rumah Dunia dan Ketua Umum Forum Pengurus Pusat Taman Bacaan Masyarakat.
About these ads

2 comments so far

  1. Bone Bula Tbm Donggala on

    Mari kita dukung Gerakan Gempa Literasi untuk Indonesia membaca

  2. Jamrin Abubakar on

    Membaca Indonesia dengan gerakan literasi


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 49 other followers

%d bloggers like this: