Indeks Pembangunan Manusia Indonesia Anjlok

Indeks Pembangunan Manusia Indonesia Anjlok
Penulis : Cornelius Eko Susanto
Jumat, 04 November 2011 00:01 WIB
PERINGKAT indeks pembangunan manusia (IPM) Indonesia melorot tajam. Indonesia berada di peringkat 124 dari 187 negara pada 2011. Itu artinya peringkat Indonesia turun drastis sebab pada 2010 masih berada di posisi 108 dari 169 negara.

Badan Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (United Nation Development Program/UNDP) merilis IPM tersebut. Dalam laporan itu, IPM Indonesia ternyata hanya 0,617 atau berada di peringkat kelima di ASEAN.

IPM tertinggi di kawasan ASEAN dipegang Singapura yang duduk di peringkat 26 dari 187 negara dengan angka indeks 0,866. Brunei berada di urutan 33 (0,838), disusul Malaysia di urutan 61 (0,761), Thailand di urutan 103 (0,682), dan Filipina di urutan 112 (0,644).

Posisi Indonesia sedikit lebih baik daripada Vietnam yang berada di urutan 128 (0,583), Laos di urutan 138 (0,524), Kamboja di urutan 139 (0,523), dan Myanmar di urutan 149 (0,483).

IPM adalah alat untuk mengukur kualitas sumber daya manusia suatu negara. Yang diukur ialah pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan ekonomi. IPM itulah yang menjadi dasar klasifikasi sebuah negara menjadi negara maju, negara berkembang, atau negara terbelakang.

Ironisnya, IPM Indonesia melorot justru di bidang pendidikan, padahal bidang itulah yang mendapatkan kucuran dana paling banyak dari APBN. Dalam APBN 2011 tercatat Rp246 triliun atau 20% dari total belanja negara Rp1.229,6 triliun dialokasikan untuk anggaran pendidikan.

“Bidang pendidikan yang terus landai grafiknya pada 2010-2011 menjadi salah satu penyebab turunnya peringkat IPM Indonesia,” kata Menko Kesra Agung Laksono di Jakarta, kemarin, seusai menerima data dari UNDP.

Benahi kebijakan
Menurut Agung, UNDP mengukur peringkat pendidikan suatu negara berdasarkan lama waktu sekolah. Pada laporan IPM kali ini, lembaga tersebut mencatat rata-rata lama sekolah di Indonesia masih rendah, yaitu hanya 5,8 tahun (tidak lulus SD).

Meski IPM Indonesia melorot, Agung enggan disebut gagal. Ia berdalih bahwa penurunan itu hanya untuk bidang pendidikan, sedangkan dua bidang lainnya, kesehatan dan pendapatan per kapita, mengalami kemajuan.

UNDP mencatat pendapatan per kapita Indonesia pada tahun ini telah mencapai US$3.716 yang dihitung dari 242,3 juta penduduk. Itu artinya, kata Agung, pendapatan per kapita naik 180% dari IPM sebelumnya.

Pemerintah, kata Agung, telah melakukan sejumlah pembenahan kebijakan di bidang pendidikan. Pembenahan itu, antara lain, penaikan cakupan biaya operasional sekolah lewat dana bantuan operasional sekolah (BOS) yang tadinya hanya mengover 70% kebutuhan menjadi 100% pada tahun depan.

Alur penyaluran dana BOS pun, kata dia, telah diperbaiki agar lebih efisien. Pada tahun depan penyaluran dana BOS dari Kementerian Keuangan tidak lagi disalurkan ke kabupaten/kota, tetapi melalui provinsi dan langsung disalurkan ke sekolah.(GA/X-3)

cornel@mediaindonesia.com

About these ads

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 54 other followers

%d bloggers like this: