Analisis sebuah keajaiban: Model Tiongkok dan arti pentingnya.

 

Analisis sebuah keajaiban: Model Tiongkok dan arti pentingnya.

                                              Zhang Weiwei.

 

Seperti yang semua orang tahu kebangkitan Tiongkok, dari berbagai alasan, merupakan topik kontraversial di Barat. Selama dua dekade lebih ini, media Barat telah sering melukiskan Tiongkok sebagai sebuah negeri di mana pemerintah dan rakyat bertentangan satu sama lain, di mana pemerintah adalah opresif dan mencengkam erat-erat kekuasaannya, dan rakyat melakukan perlawanan di bawah pimpinan para dissident. Sementara orang di Eropa bahkan percaya bahwa Tiongkok adalah sebuah blown-up version dari Jerman Timur dan Bélarusia, hanya menunggu meletusnya sementara “color revolution”.

Pandangan ini telah menyebabkan banyak ahli tentang masalah Tiongkok di Barat memberikan ramalan tentang Tiongkok dengan rasa percaya diri. Mereka meramalkan bahwa Tiongkok akan ambruk setelah kerusuhan Tiananmen 1989. Mereka percaya bahwa Tiongkok akan berantakan setelah bubarnya Uni Sovyet. Mereka meramalkan kerusuhan massal menjelang dan sesudah meninggalnya Deng Xiaoping. Sebelum Hongkong kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi, mereka meramalkan bahwa Hongkong tidak lama lagi akan berhenti makmur. Ketika Tiongkok masuk WTO, mereka meramalkan bahwa Tiongkok akan bergerak menuju kehancuran. Ketika terjadi krisis keuangan internasional tahun 2008, mereka meramalkan bahwa Tiongkok akan merosot ke kehancuran. Tetapi akhirnya, semua ramalan ini ternyata salah. Tiongkok tidak bangkrut. Tetapi teori tentang “Tiongkok akan bangkrut”-lah yang bangkrut.

Kegagalan berulang-ulang dari ramalan ini telah menunjukkan kepada kita bahwa kita harus belajar untuk lebih obyektif dalam studi kita tentang  sebuah negeri yang seluas dan sekompleks seperti Tiongkok. Mungkin kita bisa memusatkan terhadap “téologi alam” Tiongkok seperti yang diajukan pada abad ke-XVII oleh filosof Belanda Spinoza atau filosof Jerman yang sejaman dengannya Leibniz. Mereka memusatkan tentang bagaimana Tiongkok menggunakan metode sekulèr dan lebih alamiah untuk memerintah masyarakat, ekonomi dan politik, yang bertentangan dengan metode teologis yang sedang berdominasi di Eropa pada waktu itu. Jika kita mengesampingkan pembatasan ideologis, kita akan menemukan bahwa kejadian-kejadian di Tiongkok selama 30 tahun lebih yang lalu mungkin merupakan perubahan sosial dan ekonomi yang terbesar dalam sejarah umat manusia. Ini disebabkan karena 400 juta rakyat telah dientaskan dari kemiskinan. Perubahan ini mempunyai pengaruh yang menjangkau jauh bagi Tiongkok dan bagi dunia lainnya.

Juga bisa dikatakan bahwa hasil-hasil Tiongkok selama 30 tahun lebih ini melampaui semua gabungan negeri-negeri sedang berkembang yang lain, karena Tiongkok terhitung 70% penduduk dunia yang telah melepaskan kemiskinan selama poeriode tersebut. Hasil-hasil Tiongkok melampaui semua gabungan ekonomi transisional, karena ukuran ekonomi Tiongkok telah tumbuh 18 kali lipat selama 30 tahun terakhir, sedang ekonomi trasisional, seperti yang di Eropa Timur, hanya berlipat dua selama periode yang sama. Tentu saja, negeri-negeri Eropa Timur memulai pada tingkat yang lebih tinggi daripada Tiongkok. Tiongkok juga mencapai hasil lebih banyak daripada banyak negeri maju. Jumlah orang yang tinggal di daerah maju Tiongkok daratan pada waktu ini sekitar 300 juta, kira-kira sama dengan penduduk AS, dan tingkat kemakmurannya samasekali tidak lebih rendah dari negeri-negeri maju di Eropa Selatan. Dalam banyak hal, kota-kota maju Tiongkok, seperti Shanghai, telah melampaui New York. Dalam soal aspek nyata seperti lapangan terbang, kereta bawah tanah, kereta cepat, fasilitas komersial dan arsitektur urban, maupun aspek tak nyata seperti usia harapan hidup, kematian anak-anak dan kejahatan urban, Shanghai melampaui New York.

Meskipun Tiongkok tentu saja mempunyai problimnya sendiri, yang sementara problim ada yang sangat serius dan yang perlu diurus secara serius, hasil-hasil keseluruhannya adalah mencolok. Bagaimana kita bisa menjelaskan sukses-sukses ini? Sementara orang mengatakan bahwa ini adalah akibat investasi langsung modal asing, tetapi dalam hal penyerapan investasi asing per kapita, negeri-negeri Eropa Timur adalah jauh melampaui Tiongkok. Sementara mengatakan bahwa ini disebabkan karena murahnya tenaga kerja di Tiongkok, tetapi banyak negeri sedang berkembang di mana tenaga kerja banyak lebih murah, seperti India. Sementara mengatakan bahwa ini karena adanya sebuah pemerintah yang kuat, tetapi banyak pemerintah kuat di negeri-negeri Asia, Afrika dan Amerika Latin serta di dunia Arab, tetapi tiada satupun yang mencapai hasil seperti Tiongkok.

Jika tidak satupun dari faktor-faktor ini yang bisa menjelaskan sukses-sukses Tiongkok, jadi kita perlu mencari jawaban di tempat lain. Penjelasan saya sendiri yalah “Model Tiongkok”. Tetapi sebelum menjelaskan Model Tiongkok, saya ingin pertama-tama membicarakan secara singkat tentang sifat dasar Tiongkok menurut pengertian saya, yang akan membantu kita untuk lebih baik mengerti Model Tiongkok.

Tiongkok bukan sebuah blown-up version Jerman Timur atau Bélarusia, bukan juga semata-mata negeri biasa. Tiongkok merupakan “negeri peradaban”, dan ini hanya satu macam di dunia. Mengapa saya mengatakan demikian? Ini karena Tiongkok,sebagai sebuah negeri kesatuan, mempunyai sejarah yang lebih panjang dari pada bangsa lain manapun di dunia; karena Tiongkok merupakan negeri satu-satunya di dunia dengan peradaban tak terputus selama 5000 tahun; dan karena Tiongkok adalah satu-satunya negeri di dunia di mana, secara praktis, peradaban tua ribuan tahun dan sebuah negeri modern hidup berdampingan. Ijinkanlah saya menggambarkan masalah ini dengan perbandingan kasar. Anggaplah seolah-olah Kekaisaran Romawi tidak pernah hancur, tetapi terus berdiri sampai hari ini. Ia akan merupakan sebuah negara modern, dengan pemerintah pusat dan sebuah ekonomi modern yang dipersatukan; ia akan menggabungkan berbagai macam tradisi dan budaya; ia akan mempunyai penduduk yang banyak; dan bahasa Latin akan merupakan bahasa bersamanya.

Dengan sendirinya, negara semacam ini tidak mirip dengan negara lain. Situasi peradaban Tiongkok dicirii oleh “empat terlalu”: terlalu banyak penduduk, terlalu luas teritori, terlalu panjang tradisi historis, dan terlalu kuat dasar budayanya. Ciri-ciri ini menyebabkan kebangkitan Tiongkok secara tak terhindarkan akan mempunyai pengaruh internasional yang luas. Penduduk Tiongkok lebih banyak dari pada jumlah keseluruhan penduduk Eropa, Amerika Serikat, Rusia dan Jepang. Pada waktu memuncaknya perjalanan hilir-mudik Hari Raya Tahun Baru Imlek 2011, lebih dari 2,5 milyar tiket untuk transportasi telah terjual. Ini berarti sama dengan apa? Ya, ini berarti sama dengan perjalanan seluruh penduduk Amerika Utara, Eropa, Rusia, Jepang dan Afrika dalam waktu kurang dari sebulan. Ini satu contoh yang menggambarkan tantangan besar maupun peluang tak terbatas yang dihadapi Tiongkok.

Tiongkok merupakan sebuah teritori luas, sebuah kontinen dengan kemacam-ragaman regional yang besar. Ia mempunyai warisan ribuan tahun  di setiap bidang yang ada, termasuk pemerintahan negara, filsafat, ekonomi, kedokteran, masalah-masalah militer dan gaya hidup. Tiongkok juga mempunyai kebudayaan yang sangat kaya, termasuk karya-karya bagus sastera dan arsitektur. Juga menonjol dalam tradisi cuisine Tiongkok yang kaya: cuisine Tiongkok dibagi dalam 8 Sekolah besar, dengan setiap sekolah mempunyai cabangnya sendiri yang tak terhitung jumlahnya. Saya pribadi percaya bahwa setiap sekolah dari 8 Sekolah cuisine ini dapat, dalam hal-hal tertentu, menandingi cuisine Prancis, misalnya dalam hal keaneka-ragaman, meskipun dalam hal ini mungkin ada yang membantah pandangan saya. Intinya, semua ini adalah akibat proses integrasi terus-menerus yang telah terjadi sepanjang sejarah panjang Tiongkok. Semua hal ini telah menentukan keunikan jalan perkembangan Tiongkok. Sekarang, kembali kepada Model Tiongkok, saya pribadi yakin bahwa model ini paling sedikit mempunyai 8 ciri sebagai berikut:

Pertama, yalah “mencari kebenaran dari kenyataan”. Ini adalah suatu konsepsi Tiongkok dengan sejarah yang sangat lama, sesuatu yang Deng Xiaoping ajukan kembali setelah berakhirnya “Revolusi Kebudayaan”. Deng Xiaoping yakin bahwa ukuran satu-satunya bagi kebenaran bukanlah dogma ideologis, tidak pandang apakah dogma Timur atau Barat, tetapi kenyataan. Setelah meninjau keadaan nyata, Tiongkok sampai pada kesimpulan bahwa baik ekonomi berencana model Uni Sovyet maupun demokrasi model Barat tidak bisa memimpin negeri yang sedang berkembang. Oleh karena itu, pada tahun 1978, Tiongkok memutuskan untuk menetapkan jalan perkembangannya sendiri, dengan menggunakan pendekatan pragmatis untuk mendorong modernisasi sendiri dalam skala besar-besaran.

Kedua, yalah mementingkan kesejahteraan rakyat. Ini juga filsafat politik tradisional Tiongkok. Deng Xiaoping memberikan prioritas pertama terhadap pengentasan kemiskinan, menyusun dan melaksanakan sejumlah politik praktis untuk menghilangkan kemiskinan. Reformasi Tiongkok mulai dari pedesaan, karena mayoritas luas penduduk hidup di daerah pedesaan pada waktu itu. Sukses reformasi di pedesaan mendorong perkembangan komprehensif ekonomi, membuat munculnya perusahaan-perusahaan desa serta perusahaan-perusahaan kecil dan menengah yang tak terhitung jumlahnya, yang dengan demikian meletakkan dasar bagi kebangkitan industri manufaktur Tiongkok dan berkembang semaraknya perdagangan luar negeri. Dalam arti tertentu, penekanan khusus yang Model Tiongkok berikan kepada kesejahteraan rakyat, mengoreksi sementara pandangan dalam konsepsi Barat tentang HAM, yaitu bahwa hak-hak politik penduduk lebih dulu dari semua hak lain. Ciri-ciri Model Tiongkok ini bisa mempunyai pengaruh mendalam terhadap kehidupan si miskin, yang berjumlah separo penduduk miskin dunia.

Ketiga, yalah menempatkan stabilitas yang pertama-tama. Sebagai negeri berperadaban tua, Tiongkok lebih rumit dari negeri manapun di dunia dalam hal etnis, agama, bahasa, dan region. Ciri-ciri ini telah menyebabkan munculnya ketakutan umum akan “kekacauan” di kalangan rakyat Tiongkok. Sesuai dengan konsepsi tradisional Tiongkok, “perdamaian dan kemakmuran” selalu datang bergandengan tangan. Deng Xiaoping berulang-ulang menekankan pentingnya stabilitas, karena beliau, lebih dari orang lain manapun, mengerti Sejarah Modern Tiongkok: sejarah selama hampir satu setengah abad antara Perang Candu tahun 1840 sampai dilancarkannya politik reformasi dan keterbukaan pada tahun 1978, Tiongkok mengalami tidak lebih dari 8 atau 9 tahun masa damai, di dalam masa kekacauan mana modernisasi Tiongkok berulang-ulang terganggu. Invasi asing, pemberontakan tani, meningkatnya pergulatan antar tuan tanah dan kegairahan ideologis menunjukkan bahwa Tiongkok tidak banyak menikmati tahun-tahun damai secara berturut-turut. 30 tahun lebih ini merupakan masa perkembangan stabil yang pertama kali dalam Sejarah Modern Tiongkok, dan inilah yang memungkinkan terjadinya keajaiban Tiongkok.

Keempat, yalah pendekatan secara bertahap atas reformasi negeri. Tiongkok memiliki penduduk yang banyak, teritori yang luas, dan situasi yang kompleks. Inilah yang menyebabkan mengapa Deng Xiaoping menggunakan strategi “menyeberangi sungai dengan berpegangan batu”. Beliau mendorong segala macam reformasi untuk dicoba, seperti pembentukan Zona Ekonomi Khusus. Ketika percobaan berhasil, lalu disebar-luaskan. Tiongkok menolak idé “shock therapy”. Sebaliknya, Tiongkok membiarkan sistim yang belum sempurna untuk berjalan terus, sambil bersamaan itu melakukan reformasi yang berguna bagi modernisasi. Ciri-ciri ini telah memungkinkan Tiongkok menghindari semacam kemacètan dan keberantakan yang telah terjadi di Uni Sovyet dan Yugoslavia.

Kelima, yalah membuat urutan reformasi. Secara umum dikatakan, reformasi Tiongkok maju dalam urutan sebagai berikut: mula-mula dilancarkan di pedesaan, kemudian di kota-kota; mula-mula di daerah pantai, kemudian di daerah pedalaman; mula-mula mementingkan reformasi ekonomi, kemudian reformasi politik. mula-mula reformasi yang relatif mudah, kemudian diikuti dengan reformasi yang  lebih sulit. Keunggulan pendekatan ini yalah bahwa pengalaman yang diperoleh dalam tahap pertama reformasi dapat digunakan untuk landasan reformasi tahap selanjutnya. Pendekatan ini dipengaruhi olah tradisi Tiongkok tentang pemikiran secara keseluruhan. Kembali ke tahun-tahun 1980-an, Deng Xiaoping menetapkan strategi 70 tahun untuk mengubah Tiongkok menjadi negara maju, dan strategi ini masih dilaksanakan sampai hari ini. Kemampuan untuk melihat dengan jelas periode waktu yang begitu panjang secara integral sangat berbeda dengan populisme dan myopi politik yang sedang membabi-buta di banyak negara pada dewasa ini (termasuk banyak di Eropa).

Keenam, yalah ekonomi campuran. Tiongkok telah berusaha memadukan secara organik “tangan-tangan yang kelihatan” dengan “tangan-tangan yang tak kelihatan”. Ikatan organik ini, yang menyatukan kekuatan pasar dengan peranan pemerintah dalam regulasi ekonomi, telah mampu mencegah secara efektif kegagalan pasar. Sistim ekonomi Tiongkok telah dinyatakan sebagai “ekonomi pasar sosialis”. Pada waktu reformasi ekonomi dalam skala besar telah membebaskan potensi besar pasar, pemerintah Tiongkok telah berusaha menjaga stabilitas lingkungan makro. Inilah sebab pokok mengapa Tiongkok tidak tersèrèt ke dalam krisis keuangan Asia, dan mengapa Tiongkok mampu secara berhasil mengarungi krisis keuangan dunia.

Ketujuh, yalah keterbukaan terhadap luar. Meskipun Tiongkok tidak mempunyai tradisi berkhotbah, tetapi Tiongkok mempunyai budaya kuat belajar. Budaya sekulèr Tiongkok menyerukan kebiasaan belajar dari keunggulan orang lain, dan Tiongkok telah lama mempertahankan tradisi untuk belajar secara selektif. Pada kenyataannya, Tiongkok telah mampu belajar dari sementara soal Konsensus Washington yang banyak diperdebatkan, seperti semangat kepengusahaan dan ekonomi yang berorientasi ke ekspor. Meskipun demikian, Tiongkok selalu mempertahankan kemampuan gerak dalam politiknya, dengan memilah-milah elemen-elemen mana yang akan dipelajari, dan tidak pernah mengikuti orang lain secara membuta. Keterbukaan dalam segala hal ini telah memungkinkan Tiongkok menjadi salah satu negeri yang paling kompetitif di dunia.

Kedelapan, yalah pemerintah yang relatif netral, yang selalu memperoleh penerangan, dan yang kuat. Pemerintah Tiongkok telah mampu mengumpulkan konsensus secara luas terhadap reformasi dan modernisasi, dan juga telah mampu mencapai tujuan strategis yang penuh tantangan, seperti reformasi sistim perbankan Tiongkok, reformasi BUMN, dan pentrapan politik stimulus untuk menjawab krisis keuangan Internasional. Ciri-ciri ini berasal dari persepsi konfusianis yang sangat lama tentang pemerintahan yang kuat, yang melihat pemerintahan sebagai sesuatu yang harus baik, berdasarkan pada seleksi dan penunjukkan orang-orang jenius dan berbakat. Bagaimanapun, Tiongkok telah melakukan sistim pengangkatan pejabat-pejabat sipil lewat ujian lebih dari 1000 tahun yang lalu. Meskipun adanya kemunduran, sistim politik Tiongkok seperti yang ada sekarang tidak memungkinkan untuk memproduksi pemimpin-pemimpin yang tidak mampu.

Tiongkok pada saat ini sedang melakukan eksperimen reformasi ekonomi, sosial dan politik yang paling luas di dunia. Sukses relatif dari reformasi ekonomi Tiongkok telah meletakkan pelajaran dasar bagi reformasi politik Tiongkok. Dengan kata lain, Tiongkok akan melakukan pendekatan reformasi politiknya secara bertahap, atas dasar eksperimen, dan dengan mengumpulkan pengalaman. Dalam proses ini, Tiongkok siap untuk belajar dari semua idé dan praktek siapapun yang dianggap unggul, tanpa melihat dari mana asalnya dan kapan didapatnya.

Tiongkok saat ini sedang melakukan revolusi industri dan sosialnya sendiri. Dalam proses ini, wajarlah kalau Tiongkok akan menghadapi bermacam-ragam persoalan dan tantangan, seperti mencabut akar korupsi, mengatasi perbedaan daerah, dan mengatasi perbedaan antara yang kaya dengan yang miskin. Meskipun adanya semua ini, Tiongkok akan terus menyusuri jalan perkembangannya sendiri, dan tidak akan secara begitu saja menyontèk model negara lain. Tiongkok telah melewati lebih dari satu abad pergolakan, peperangan dan revolusi, dan setelah itu mengalami lebih dari 3 dekade berturut-turut reformasi dan keterbukaan. Dengan alasan ini, mayoritas rakyat Tiongkok menginginkan untuk menancapkan jalan yang berhasil yang telah diletakkan oleh Model Tiongkok. Meskipun ada kekurangan, Model Tiongkok mempunyai kemampuan untuk melakukan penyempurnaan terus menerus, dan ini disebabkan karena ia mampu secara relatif mengintegrasikan tradisi dan budaya Tiongkok yang berumur ribuan tahun. Ada lebih dari 20 dinasti dalam sejarah Tiongkok, dan dalam sejarah ini, paling sedikit ada 7 dinasti yang bertahan lebih lama dibanding dengan seluruh sejarah Amerika Serikat.

Tata-aturan dunia sedang berubah secara bertahap dari tata-aturan vertikal menuju ke tata-aturan horisontal. Negara-negara Barat memaksakan prinsip-prinsip dan praktek-praktek mereka kepada bangsa lain  dengan kekerasan, sementara dalam tata-aturan dunia secara horisontal, prinsip-prinsip dan idé-idé berbagai macam negeri mampu berinteraksi satu sama lain atas dasar persamaan, dan juga mampu melakukan kompetisi positif. Oleh karena itu, tata-aturan dunia yang akan datang disusun untuk menjadi tata-aturan yang lebih demokratis.

Yang terakhir saya ingin menceriterakan sebuah ceritera yang seorang filosof Eropa teman saya menceriterakan kepada saya. Ceriteranya sebagai berikut: Pada suatu hari di akhir pertengahan abad ke-XVII, filosof Jerman Gottfried Leibniz mengunjungi Den Haag untuk menemui secara diam-diam filosof Belanda Baruch Spinoza. Mengapa mereka bertemu secara diam-diam? Sebabnya yalah karena pada waktu itu Spinoza telah diusir oleh otoritas religius karena kepercayaan non-orthodoxnya. Dalam pertemuan itu, keduanya mendiskusikan beberapa konsepsi fantastik, termasuk kesekulèran Tiongkok, bentuk pemerintahan non-téokratik. Saya percaya, bahwa peremajaan Tiongkok hari ini masih bisa disebabkan karena bentuk non-ideologis pemerintahan nasional. Setelah pertemuan dengan Spinoza, Gottfried Leibniz menulis surat kepada seorang teman di mana ia menyatakan bahwa ia ingin menempelkan plak di pintunya yang berbunyi “Pusat Pengetahuan Tiongkok”.

Tentu saja, dengan menceriterakan ceritera ini, saya tidak mengusulkan bahwa Departemen Umum Tiongkok perlu didirikan di bawah Senat Belanda, karena Belanda adalah negeri yang terkenal karena tradisinya dalam studi dan riset masalah Tiongkok. Tetapi, yang saya katakan yalah bahwa kita perlu mengusahakan semangat pemikir-pemikir besar pada masa jaman pencerahan tersebut, terutama keterbukaan pikiran, toleransi dan keberanian mereka untuk mencari pengetahuan baru. Dalam kenyataannya, dalam beberapa hal, ini adalah semangat rakyat Belanda. Kita perlu melakukan pendekatan terhadap budaya yang berbeda-beda, peradaban yang berbeda-beda, dan model pemerintahan yang berbeda-beda dengan semangat dan keberanian yang semacam itu, dengan tidak memandang apakah mereka berbeda dengan kita pada mulanya.

Jika kita bisa melakukan hal ini, kecenderungan salah mengerti terhadap Tiongkok oleh karena motivasi ideologis akan berkurang. Bersaman itu, kebijakan bersama kita akan menjadi lebih kaya, dan kita akan lebih baik dipersenjatai untuk mengatasi secara bersama tantangan yang bermacam-ragam yang dihadapi oleh umat manusia, seperti mengentas kemiskinan, melawan terorisme, mengatasi perubahan iklim, dan mencegah agar peradaban yang berbeda-beda tidak menjadi konflik satu sama lain.

 

 

S  e  l  e  s  a  i.

(Di alih-bahasakan olehj Bernard Santoso dari Qiushi, edisi Inggris, 1 Juli 2011).

About these ads

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 56 other followers

%d bloggers like this: