“Ethnic Runaway”, Mencintai Indonesia dengan Jijik (1)

 

“Ethnic Runaway”, Mencintai Indonesia dengan Jijik (1)
oleh: TM Dhani Iqbal
PADA 6 Januari 2011, Trans TV menyampaikan permohonan maaf tertulis kepada Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN). Permohonan maaf tersebut—yang lahir setelah diprotes banyak pihak termasuk Remotivi—terkait  dengan nama tayangan yang diproduksi oleh stasiun tersebut, Primitive Runaway. Sejak itu, istilah “primitive” diganti dengan “ethnic”. Dari “primitif” ke “etnik”. Ethnic Runaway.
Dalam surat tersebut, Trans TV menyatakan bahwa sebagai media televisi nasional, pihaknya menjunjung tinggi nilai-nilai dari kebudayaan-kebudayaan lokal yang ada di Indonesia. Harapannya adalah dapat menumbuhkan pengetahuan dan kecintaan terhadap budaya bangsa Indonesia. Cara menumbuhkan kecintaan itu adalah dengan melibatkan masyarakat dari latar belakang yang berbeda untuk saling berinteraksi hingga dapat menghargai perbedaan.
Ada tiga hal yang menjadi kunci dari surat yang saya cuplik di atas, yakni “televisi nasional”, “menjunjung nilai kebudayaan”, dan “menumbuhkan pengetahuan dan kecintaan terhadap budaya bangsa Indonesia”. Ketiga hal tersebut akan menjadi pegangan dalam melihat tiga tayangan Ethnic Runaway, yakni episode 24 September dan 1 Oktober 2011 di Kepulauan Bangka Belitung serta 2 Oktober 2011 di Sulawesi Selatan.

“Ethnic Runaway”, Mencintai Indonesia dengan Jijik (1)

October 20, 2011Posted in: Amatan

PADA 6 Januari 2011, Trans TV menyampaikan permohonan maaf tertulis kepada Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN). Permohonan maaf tersebut—yang lahir setelah diprotes banyak pihak termasuk Remotivi—terkait  dengan nama tayangan yang diproduksi oleh stasiun tersebut, Primitive Runaway. Sejak itu, istilah “primitive” diganti dengan “ethnic”. Dari “primitif” ke “etnik”. Ethnic Runaway.

Dalam surat tersebut, Trans TV menyatakan bahwa sebagai media televisi nasional, pihaknya menjunjung tinggi nilai-nilai dari kebudayaan-kebudayaan lokal yang ada di Indonesia. Harapannya adalah dapat menumbuhkan pengetahuan dan kecintaan terhadap budaya bangsa Indonesia. Cara menumbuhkan kecintaan itu adalah dengan melibatkan masyarakat dari latar belakang yang berbeda untuk saling berinteraksi hingga dapat menghargai perbedaan.

Ada tiga hal yang menjadi kunci dari surat yang saya cuplik di atas, yakni “televisi nasional”, “menjunjung nilai kebudayaan”, dan “menumbuhkan pengetahuan dan kecintaan terhadap budaya bangsa Indonesia”. Ketiga hal tersebut akan menjadi pegangan dalam melihat tiga tayangan Ethnic Runaway, yakni episode 24 September dan 1 Oktober 2011 di Kepulauan Bangka Belitung serta 2 Oktober 2011 di Sulawesi Selatan.

Televisi Nasional

 

Dalam khazanah kebudayaan, ada adagium bahwa tak ada siapapun yang dapat melepaskan diri dari pengaruh kebudayaan tertentu. Setiap pikiran atau tindakan individu selalu ada dalam kerangka kebudayaan di lingkungannya, dalam lekak-lekuk yang relatif. Namun hal ini bisa tak berlaku jika seumur hidupnya seseorang tak pernah berinteraksi dengan siapapun dan apapun, macam selalu berada dalam peti sempit.

Pada saat yang sama, Ethnic Runaway adalah tayangan yang membawa dua bintang hiburan televisi, lelaki dan perempuan, dengan kebudayaan-kebudayaan yang ada di Indonesia. Artinya, tentu saja, tayangan ini akan mempertontonkan perjumpaan antara dua kebudayaan, yakni kebudayaan si bintang hiburan dengan kebudayaan-kebudayaan yang ada.

Pada episode 24 September 2011, bintang hiburan tersebut adalah Chika Jessica dan Vicky Nitinegoro. Keduanya, yang masing-masing lahir di Bandung (Jawa Barat) dan Jakarta, mendatangi Kepulauan Bangka Belitung, tepatnya di Dusun Pejem pada komunitas yang disebut Suku Lom.

Sementara, pada episode 1 Oktober 2011, bintang hiburannya adalah Five V dan Kiwil. Keduanya, yang masing-masing lahir di Surabaya (Jawa Timur) dan Jakarta,  juga mendatangi Kepulauan Bangka Belitung, tepatnya di Bangka Selatan pada Suku Pongok.

Dan pada episode 2 Oktober 2011, bintang hiburan yang muncul adalah Stuart Collin dan Ryana Dea. Mereka, yang masing-masing lahir di Inggris dan Bengkulu, mendatangi Sulawesi Selatan, tepatnya Sinjai pada Suku Karampuang.

Meski lahir di tempat yang berbeda-beda, keenamnya merupakan orang yang berdomisili di Jakarta. Saat berjumpa dengan kebudayaan-kebudayaan yang berbeda, keenamnya tampak betul bersandar pada identitas kejakartaan. Hal ini terlihat dari berulangkalinya bintang-bintang hiburan itu menyebut Jakarta sebagai perbandingan kala berinteraksi atau menemukan sesuatu yang baru buat mereka di kawasan yang dikunjungi.

“Ooo… Itu cupang. Vi,” kata Kiwil pada Five. “Kalau di Jakarta namanya kerang. Di sini namanya cupang.”

Atau, Ryana yang tertawa geli kala menemukan makanan yang namanya berbeda.

“Kalau di Jakarta, kita kan ngomongnya dodol ya,” kata Ryana kepada pemirsa. “Kok di sini dodor sih, hahaha.”

Tak hanya ketika berjumpa dengan sesuatu hal para bintang hiburan ini merujuk ke Jakarta. Tetapi, istilah-istilah khas kota itu juga berhamburan di sini. Sebut saja “dong”, “banget”, atau logat-logat yang terdengar amat kental dan asing bagi masyarakat setempat.

Dari hal-hal semacam ini saja, istilah “televisi nasional” sudah problematik. Di mana letaknya entitas “nasional” itu dalam program Ethnic Runway? Apakah “nasional” itu adalah Jakarta semata? Jakarta yang bertemu dan berinteraksi dengan bermacam kebudayaan untuk kemudian dikemas sebagai upaya menghargai perbedaan yang ada? Ajakan menghargai itu ditujukan kepada siapa sebetulnya?

Atau, mengingat stasiun ini menggunakan ranah publik, maka apakah yang disebut nasional itu adalah jangkauan siarnya belaka – betapapun kontennya amat bercitarasa lokal Jakarta? Jika ya, maka hal ini memiliki dua implikasi. Pertama, stasiun televisi gratisan ini menciptakan Jakarta sebagai subjek dan luar Jakarta adalah objek. Kedua, hal itu menjadikan stasiun televisi susah untuk dikritik atau mendapat hukuman dari pasar/masyarakat.

Pada implikasi kedua, hal itu terjadi karena tidak adanya interaksi bisnis langsung antara produsen (stasiun televisi) dengan pembeli (masyarakat). Kedua pihak itu diantarai oleh lembaga pemeringkat melalui praktik kuantifikasi (rating dan share). Alhasil, setiap kritik kualitatif akan ditangkis dengan pernyataan apakah Anda mewakili masyarakat yang bersangkutan? atau apa ukuran kritik kualitatif?. Jika pun masyarakat serius dalam mengkritik, maka ia harus bersusah payah mengajukan langkah hukum atau berbagai jenis aksi lain. Kalaupun mau melakukan aksi boikot, itu harus mengena pada mereka yang menjadi responden lembaga pemeringkat tadi, tepatnya mereka yang memegang peoplemeter (yang keberadaannya dirahasiakan).

Bandingkan dengan stasiun televisi berbayar. Jika tidak menyukai sebuah program, apalagi ditayangkan secara berturut-turut, masyarakat dapat menghukum stasiun televisi yang bersangkutan dengan cara menghentikan langganan. Di sini, mekanisme hukuman pasar dapat berlaku.

 

Menjunjung Nilai Kebudayaan

 

Secara sederhana, gambaran dari frasa “menjunjung tinggi nilai-nilai kebudayaan yang ada di Indonesia” adalah mewujudkan nilai-nilai dari suatu kebudayaan dalam keseharian. Tak hanya itu, menjunjung nilai juga berarti menghadirkan situasi dan kondisi di mana kebudayaan-kebudayaan tersebut memiliki peluang dan kesempatan yang sama, dengan siapa pun dan apa pun, untuk tumbuh dan berkembang.

Dalam Ethnic Runaway, praktik menjunjung nilai kebudayaan tersebut dilakukan dengan melecehkannya. Adegan demi adegan menampilkan mimik muka yang jijik pada sesuatu, entah itu makanan atau kerja-kerja di sawah, betapa pun di sekeliling mereka adalah penduduk yang sehari-hari mengalami hal tersebut.

“Geli banget,” kata Ryana di tengah sawah.

“Aduh, cobain enggak ya?” kata Five ketika hendak memakan cupang.

“Mamak, maaf ya. Ini mau berak,” kata Chika pada seorang ibu. Ia baru saja kentut di depan sejumlah penduduk.

“Pemirsa, beginilah tradisi Suku Lom. Mereka menyikat gigi dengan menggunakan lumpur. Mungkin bagi saya, Chika, bahkan pemirsa, pasti bakalan merasa jijik. Atau yang ada gigi kita malah tambah kotor (gambar: close up seorang ibu yang menggosok gigi dengan lumpur). Namun inilah yang terjadi di keseharian di Suku Lom,” kata Vicky.

Kecintaan Terhadap Budaya Bangsa Indonesia

 

Dalam menumbuhkan apa yang disebut “pengetahuan dan kecintaan terhadap budaya bangsa Indonesia”, Ethnic Runaway punya caranya yang khas. Pada episode 24 September 2011, misalnya, kala bintang-bintang hiburan itu sedang beraksi di Pejem, musik latar yang diputar adalah “Piso Surit” yang diaransemen oleh Vicky Sianipar.

Dalam benak produser, barangkali, adalah cocok atau pas untuk menampikan musik dari tanah Batak di tanah adat Pejem di Kepulauan Bangka Belitung. Ini kira-kira sebanding kala membahas Mesir tapi dengan latar belakang musik Irlandia.

Upaya “menumbuhkan cinta terhadap budaya bangsa Indonesia” juga dilakukan dengan beragam cara lain. Di antaranya, katakanlah, memasangkan sesuatu kepada penduduk atau menyamakan suatu perilaku dengan badut.

“Kayaknya lucu juga nih pemirsa… Lagi gue kasih lagu Justin Bieber,” kata Vicky setelah memasangkan headphone di kepala seorang penduduk Pejem.

Abis ini ngebadut di Ancol…. Aduh… hu hu hu…,” ujar Kiwil saat tubuhnya sedang dilumuri bedak atau tepung oleh sejumlah penduduk.

Bayangin aja, masak abis dari sawah, direbus tanpa dicuci, terus dapat dibuka-buka dalemnya… Eh, dalemnya lu enggak liat ini yang item-item, ini kotorannya. Ini coba makan. Coba… coba… coba…,” sambil berkata demikian, Stuart menyorongkan tangan kirinya, dengan memaksa, kepada seorang penduduk untuk memakan siput.

Cara mencintai kebudayaan Indonesia ala Ethnic Runaway belum selesai. Masih ada lagi. Cara lainnya adalah dengan mengganti bahasa Indonesia dengan bahasa Indonesia. Bingung? Ya, memang membingungkan.

Saat diajarkan menggunakan “kereta sorong” oleh penduduk Suku Pongok, Kiwil menerjemahkan benda yang dimaksud adalah “gerobak kayu”. Kita jadi dibingungkan, apakah diksi “kereta” dan “sorong”, dan paduan keduanya, bukanlah bahasa Indonesia? Hal serupa juga tampak kala kiwil menerjemahkan “pacak” menjadi “bisa” dan “sotong” menjadi “cumi”. Pun, apakah “pacak” dan “sotong” tidak dikenal dalam bahasa Indonesia?

Upaya menumbuhkan kecintaan yang unik ini membuat kita bertanya, dari mana sebetulnya bintang-bintang hiburan ini diambil? Mengapa bintang-bintang hiburan itu (dikonstruksi) begitu mentel, ganjen? Dalam kesusasteraan, ini dapat disebut lanturan, sesuatu yang tak diperlukan.

Selain itu—dan ini yang utama—“kecintaan terhadap budaya bangsa Indonesia” itu berasal dari siapa? Jika ada diksi “terhadap”, maka tentu harus ada diksi “dari”. Dan siapa “dari” yang dimaksud dalam Ethnic Runaway?

 

Nantikan kelanjutan tulisan ini di:

“Ethnic Runaway”, Mencintai Indonesia dengan Jijik (2)

 

REMOTIVI
“Hidupkan Televisimu, Hidupkan Pikiranmu”
www.remotivi.or.idTwitter | Facebook



Remotivi adalah sebuah inisiatif warga untuk kerja pemantauan tayangan televisi di Indonesia. Cakupan kerjanya turut meliputi aktivitas pendidikan melek media dan advokasi yang bertujuan (1) mengembangkan tingkat kemelekmediaan masyarakat, (2) menumbuhkan, mengelola, dan merawat sikap kritis masyarakat terhadap televisi, dan (3) mendorong profesionalisme pekerja televisi untuk menghasilkan tayangan yang bermutu, sehat, dan mendidik.


Roy Thaniago

About these ads

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 54 other followers

%d bloggers like this: