Konsep-Konsep Kunci Pendidikan Karakter ala Islam?

Konsep-Konsep Kunci Pendidikan Karakter ala Islam?: Bagaimana Saya Menulis BukuWriting Toolbox (98)

Oleh Hernowo

in:dikbud@yahoogroups.com, Tuesday, 4 October 2011 4:26 AM
Ketika saya membaca salah satu tulisan Ustad Quraish Shihab—yang terdapat di dalam buku terbarunya yang berjudulMembumikan Al-Quran Jilid 2: Memfungsikan Wahyu dalam Kehidupan (2011)—saya menemukan dua kata menarik dari bahasa Arab: rusyd dan halah. Dua kata ini terletak di halaman 714 dan 719 dalam tulisan yang berjudul “Mewujudkan Misi Nation and Character Building”. Ustad Quraish, dalam tulisan tersebut, memang sedang membahas pendidikan karakter dari kacamata Islam.
 
Menurut Ustad Quraish, “Kepribadian dan karakter yang baik merupakan interaksi seluruh totalitas manusia. Dalam bahasa agama Islam, ia dinamai rusyd. Ia bukan hanya nalar, tetapi gabungan antara nalar, kesadaran moral, dan kesucian jiwa. Karakter terpuji merupakan hasil internalisasi nilai-nilai agama dan moral pada diri seseorang yang ditandai oleh sikap dan perilaku positif.”
 
Di tempat lain, halah dijabarkan sebagai berikut, “Pengetahuan tanpa penghayatan tidak dapat menimbulkan apa yang diistilahkan oleh para pakar tasawuf dengan halah (“ha” dibaca panjang—H), yakni kondisi psikologis yang mengantarkan seseorang berkeinginan kuat untuk berubah secara positif.” Di sini, secara menarik, Ustad Quraish mengaitkan “keinginan kuat” itu dengan AQ (adversity quotient) yang diperkenalkan oleh Paul G. Stoltz.
 
Ustad Quraish
 
Tentu, Ustad Quraish tidak hanya membahas ihwal “rusyd” dan “halah”. Saya hanya ingin menafsirkan tulisannya tentang pendidikan karakter dalam Islam yang sangat mementingkan dua kata tersebut. Pendidikan karakter tanpa mempertimbangkan “rusyd” adalah omong kosong. Manusia adalah makhluk bidimensional (dua dimensi). Jika pendidikan karakter tidak berhasil menyentuh setiap detail unsur yang ada di dalam dua dimensi itu, ya tentu keberhasilannya layak dipertanyakan.
 
Demikian juga dengan makna kata “halah”. Apakah ketika pendidikan karakter itu dilakukan secara periodik dan berkelanjutan akan tercipta sebuah kondisi psikologis yang membuat seorang anak didik bertekad untuk terus mendaki dan mau berubah secara positif? “Boleh jadi tidak lahir keinginan berubah dari seseorang karena yang bersangkutan telah puas dengan keadaannya yang buruk, yang dalam bahasa Al-Quran, telah diperindah (oleh setan) keburukan amal-amalnya sehingga memperturutkan nafsunya (QS 47: 14),” tulis Ustad Quraish. Bagaimana mendeteksi tekad untuk berubah ke arah sikap positif dalam sebuah pendidikan karakter?
 
Nah, akhirnya, dalam tulisan itu, Ustad Quraish memberikan empat langkah praktis dalam membentuk karakter. Tidak praktis sih karena persyaratannya tidak mudah dan keempat langkah ini harus ditindaki—bukan sekadar dipahami:
 
 
Pertama, olah jiwa. “Dalam konteks olah jiwa dan pengendalian nafsu itulah kita temukan praktik-praktik yang mungkin oleh sebagian orang dinilai sebagai praktik yang aneh. Nabi Muhammad Saw, misalnya, mendempetkan batu di perut beliau agar jeritan nafsu makannya berkurang. Abu Bakar, sahabat Nabi, pernah menyelipkan batu kecil di sisi mulut agar tekun berpikir sebelum berbicara.”
 
Kedua, pembiasaan. “Dimulai dengan upaya sungguh-sungguh untuk memaksakan diri, bahkan—kalau perlu—membuat aktivitas yang dinilai baik dengan tujuan membentuk watak, bukan karena kemunafikan. Imam Al-Ghazali menasihati seseorang yang angkuh agar membiasakan diri melakukan aktivitas yang dilakukan oleh mereka yang bermoral dan dinilai memiliki status sosial yang tinggi.”
 
Ketiga, keteladanan. “Keteladanan sangat diperlukan karena tidak jarang nilai-nilai yang bersifat abstrak itu sulit diapahami, bahkan tidak terlihat keindahan dan manfaatnya oleh orang kebanyakan. Hal-hal yang abstrak—lewat keteladanan—dijelaskan dengan perumpamaan yang konkret dan indrawi.”
 
Keempat, lingkungan yang sehat. “Lingkungan memiliki pengaruh yang sangat besar dalam membentuk watak. Apalagi lingkungan saat ini yang sudah menjadi datar dan kecil akibat kemajuan teknologi informasi dan komunikasi. Internet telah membuat lingkungan yang dahulu tidak bisa dijangkau kini bisa hadir sekejap di depan mata. Interaksi pun menjadi lebih canggih, mengglobal, dan impresif.”
 
Nah, kepada para peminat pendidikan karakter silakan mengambil hikmahnya. Salam.[]
 
CATATAN KECIL: Artikel ini pernah saya muat di “Catatan” Facebook saya pada 23 Maret 2011. Saya muat kembali karena untuk keperluan membangun pemikiran saya tentang bagaimana buku yang sedang saya buat, Writing Toolbox, dapat saya kaitkan dengan pendidikan karakter. (Hernowo)
About these ads

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 54 other followers

%d bloggers like this: