DISKUSI TENTANG G 30S: TOKOH G30S, LETKOL UNTUNG

DISKUSI TENTANG G 30S: TOKOH G30S, LETKOL UNTUNG

Salim Said <bungsalim@yahoo.com>

in “GELORA45@yahoogroups.com” <GELORA45@yahoogroups.com>
Thursday, 6 October 2011 9:29 AM

Bapak Liman Yth,

Saya hanya merefer ke buku Kemal Idris, sebuah sumber terbuka, yang bicara tentang kedatangannya ke perkawinan Kolonel Untung. Sebagai peneliti, saya akan senang sekali kalau Anda bisa menunjukkan kepada saya di mana saya bisa mendapat foto perkawinan Untung yang dihadiri Suharto itu.

 

Salam hormat,

Bung Salim.

 

“liman_pap@yahoo.com” <liman_pap@yahoo.com>
in: GELORA45@yahoogroups.com
Thursday, October 6, 2011 9:19 AM

 

Salam,

Soeharto menghadiri atau tidak, banyak saksi sejarah dan foto bersama pengantin. Pengamat mungkin punya tendensi, tetapi Tempo pernah memuat kisah tersebut.

Sebenarnya sejarah Orde Lama sudah ditentukan sejak 1 Oktober 1965 ketika Soeharto, dibantu Pangdam Jaya dan RPKAD menguasai RRI dan berhasil mengatur pasukan yang menempati lapangan Monas pada sore hari untuk kembali ke daerah. Sejak tanggal 1 Oktober 1965 Soeharto secara de facto sudah membangkang pada Presiden RI dan menguasai AD.

Dugaan Soeharto mengetahui akan ada gerakan G30S dan telah menyusun rencana untuk mengambil alih AD bukan pepesan kosong karena begitu pada tanggal 1 Oktober 1965, Soeharto sudah menguasai keadaan dan dalam 3 bulan, PKI sudah dibasmi sampai ke akar akarnya. Para lawan politiknya juga bertahap disingkirkan dan Maret tahun 1966 Soeharto secara de facto sudah menguasai Indonesia.

Soal keterlibatan Soeharto dalam G30S mungkin masih dalam perdebatan, tapi setidaknya Soeharto sudah membiarkan terjadinya G30S, terbukti dari kesiapan Soeharto mengendalikan situasi dan mengambil untung. Bung Salim tidak perlu putar ke sana ke sini lagi dengan menggunakan perspektif kolega Soeharto……

Regards,

Liman

Salim Said <bungsalim@yahoo.com>in:GELORA45@yahoogroups.com

Wed, 5 Oct 2011 17:59:57 -0700 (PDT)
Ketika Letkol Untung menikah, Suharto mengutus  Brigjen Ahmad Kemal Idris untuk mewakilinya menghadiri pesta perkawinan tersebut. Artinya, Suharto tidak menghadiri sendiri pesta perkawinan itu seperti yang selama ini ditulis oleh banyak pengamat dan komentator. Untuk soal ini, harap baca memoir Kemal Idris, Bertarung Dalam Revolusi, (halaman 180).

 

Y.T.Taher <ariyanto@bigpond.com>,in:GELORA45@yahoogroups.com; temu_eropa@yahoogroups.com
Wednesday, October 5, 2011 1:07 PM

 

TOKOH G30S, LETKOL UNTUNG

 

Tokoh ini tipikal seorang militer lapangan, sama sekali bukan tipe intelektual dengan otak cemerlang yang mampu melakukan langkah manipulasi canggih penuh perhitungan. Ia anak bodoh tetapi berani dan setia pada Sukarno. Hal ini amat berbeda dan berbalikan dengan Jenderal Suharto beserta beberapa pembantunya seperti Ali Murtopo [dan Yoga Sugomo] Begitu analisis Ben Anderson.. Sekalipun demikian ia salah satu lulusan terbaik Akademi Militer.

 

Letkol Untung salah satu pelaku G30S yang sebelumnya pernah menjadi anak buah Suharto di Jawa Tengah dalam Divisi Diponegoro. Ia pun pernah menjadi anggota “Kelompok Pathuk” di Yogya meskipun bukan dalam kelas yang sama dengan Suharto atau Syam. Mereka berpisah pada tahun 1950, kemudian bertemu kembali pada tahun 1962 ketika bersama bertugas merebut Irian Barat, ia berada di garis depan. Mendengar kisah keberaniannya selama bertugas di medan Irian, ia dianugerahi Bintang Penghargaan oleh Presiden, lalu ditarik menjadi Komandan Batalion I Resimen Cakrabirawa, suatu kedudukan cukup strategis. Sebelumnya ia pernah menjabat Komandan Yon 454 Diponegoro, pasukan yang memiliki kualitas yang kemudian terlibat G30S.

 

Letkol Untung menikah pada umur yang agak terlambat pada akhir 1964. Acara perkawinannya dilaksanakan di tempat cukup jauh di daerah udik di desa terpencil Kebumen. Sekalipun demikian Mayjen Suharto memerlukan hadir bersama isterinya ke tempat yang ketika itu tidak begitu mudah dicapai. Ia merupakan satu-satunya perwira tinggi yang datang, ini merupakan kehormatan besar bagi Untung dan menunjukkan hubungan keduanya cukup akrab. Bahkan yang mempertemukan Untung dengan calon isterinya ialah Ibu Tien Suharto. Soal kehadiran Suharto ini tidak pernah diungkapkan olehnya sendiri yang memiliki ingatan tajam itu, tetapi toh terekam dalam sebuah berita koran Pikiran Rakyat.  (Tambahan: Lieutenant-Colonel Untung Samsuri married in 1964, Gen. Suharto appeared to have thought highly enough of him to travel to Central Java to be present at the wedding. (“Kedaulatan Rakyat” April 29, 1964-tambahan kutipan oleh YTT).

 

 

Letkol Untung pernah dikirim belajar ke AS, tentunya CIA memiliki cukup catatan tentang dirinya sehingga ia dapat direkomendasikan. Seperti tercantum dalam catatan laporan CIA tertanggal 1 Oktober 1965 dalam CIA 2001:300, memorandum untuk Presiden Johnson bahwa Untung memiliki “military police background and was trained in the United States”. Sementara orang menyebut catatan CIA ini tidak akurat karena Untung tidak pernah belajar ke AS. Banyak pihak menyatakan ia seorang muslim yang taat, sangat muak dengan korupsi dan tingkah laku kehidupan sejumlah perwira tinggi.

 

Menurut David Johnson, Letkol Untung bukanlah tergolong pada apa yang disebut “perwira progresif”, ia pun bukan tergolong perwira yang tidak puas. Ia lebih tergolong sebagai seorang militer profesional yang berhasil. Ia pun menunjukkan tanda-tanda memiliki pandangan anti komunis. Selama beberapa bulan berkumpul di Penjara Cimahi, Bandung, Subandrio mencatat bahwa Untung bukan orang yang menyukai masalah politik, ia tipe tentara yang loyal kepada atasan. Ia risau dengan adanya isu Dewan Jenderal yang hendak menggulingkan Presiden Sukarno. Kepribadiannya polos dan jujur, hal ini antara lain dibuktikan dengan kenyataan, sampai detik terakhir sebelum eksekusinya, ia masih percaya vonis mati terhadap dirinya tidak mungkin dilaksanakan. “Percayalah Pak Ban, vonis buat saya itu hanya sandiwara”, ujarnya kepada Subandrio. Ia percaya Suharto mendukung tindakannya terhadap para jenderal dan akan memberikan bantuan seperti dijanjikannya.

 

Dalam persidangan Letkol Untung terungkap ia baru mengenal Syam dan Bono ketika dipertemukan oleh Mayor Udara Suyono kepada sejumlah perwira dalam pertemuan pertengahan Agustus 1965 sebelum gerakan. Untung yang tidak pernah sepenuhnya percaya kepada Syam, mencoba melakukan penyelidikan tentang hubungan rahasianya dengan ketua PKI. Hal ini tidak berlanjut, dan menganggap lebih bijak untuk tidak menantang Syam berhubung ia terdesak waktu bagi penyelesaian agendanya sendiri. Bagi Letkol Untung agenda mereka adalah mengambil langkah-langkah untuk menggagalkan kudeta Dewan Jenderal serta melindungi Presiden Sukarno. Kudeta itu diyakininya akan terjadi pada 5 Oktober 1965.

 

Berdasarkan kesaksian Mayor AU Suyono maka dapat disimpulkan adanya berbagai pertentangan di antara tokoh gerakan dengan ketegangan yang kian meningkat serta bermacam perbedaan pendapat selama berjalannya waktu yang mendekat. Letkol Untung menjadi cemas dan mungkin mempertimbangan untuk menghentikan semuanya. Rencana gerakan semula adalah tanggal 25 September, tetapi karena pasukan dari Jawa Timur belum tiba maka gerakan ditunda sampai 30 September.

 

Dapat disimpulkan Untung bukanlah seorang komunis bawah tanah. Jika ia seorang komunis semacam itu, ia mungkin sekali akan mendapatkan akses lebih mudah untuk menghubungi langsung ketua PKI DN Aidit untuk memastikan kedudukan Syam yang sebenarnya. Andaikata ia seorang komunis demikian maka dalam kedudukan dan pangkat yang disandangnya ia bakal memiliki serangkaian pendidikan dan pengalaman politik yang cukup memadai yang akan dengan mudah membuang ilusi pribadi terhadap Jenderal Suharto, bahwa Suharto telah berkhianat terhadapnya bagi keuntungan diri dan kelompoknya. Dengan begitu ia akan menyadari kesalahan analisisnya terhadap Suharto. Ia seorang prajurit yang setia kepada Bung Karno. Dokumen yang terkenal dengan Cornell Paper menyebutkan sebelum peristiwa telah bertahun-tahun, Sukarno, para jenderal [AD], pimpinan komunis dan golongan lain telah terjerat dalam manuver politik yang rumit. Semua itu secara keseluruhan menyebabkan Letkol Untung melakukan aksinya.

 

Letkol Untung dieksekusi mati pada tahun 1969 di Cimahi. Demikianlah nasib seorang prajurit yang naif politik itu tetap memendam ilusi pribadi besar sampai saat terakhir, yang pundaknya telah menjadi panjatan sang manipulator. Adatah itu memang realitas kehidupan di sepanjang sejarah. Pemeo menyatakan itulah politik dalam kenyataan telanjangnya, menghalalkan segala cara. (Petikan dari Harsutejo, “Sejarah Gelap G30S” / revisi).

 

About these ads

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 59 other followers

%d bloggers like this: