Tata Dunia Baru

http://www.balipost.com/mediadetail.php?module=detailberita&kid=33&id=57064
02 Oktober 2011 | BP
Tata Dunia Baru
KETIKA kenyataan tidak lagi seperti yang dulu, nostalgia memberikan makna yang sesungguhnya! (Jean Baudrillard).
Rubag terkesan dengan aporisme Baudrillard yang tokoh postmoderisme itu. Baginya nostalgia adalah rongsokan dunia yang kebanyakan bagiannya hilang digerogoti perubahan akibat berbagai revolusi. Yang tersisa masih punya harapan kecil untuk diperbaiki. Kerinduan akan masa lalu semakin menjadi-jadi ketika masa sekarang dipenuhi kejadian-kejadian mengejutkan akibat perubahan perilaku manusia.
Pikiran ini muncul setelah Rubag menyaksikan gonjang-ganjing tak putus-putus di Tanah Air yang dimulai krisis ekonomi tahun 1997 dan kini menjadi multikrisis. Seakan hampir tiada hari berlalu tanpa konflik, kerusuhan, bentrokan massal, kriminalitas bahkan kerap diselingi bencana alam, musibah, kecelakaan dan terorisme. Lagu ”Rayuan Pulau Kelapa” yang di tahun 1950-an sering dikumandangkan lewat radio dan kenduri, kalau kini dinyanyikan akan terdengar tidak masuk akal. Di samping kondisi alam sudah tidak sesuai kenyataan, rasa cinta Tanah Air dan nasionalisme pun memudar.
Tanah Airku Indonesia. Negeri elok yang amat kucinta. Tanah tumpah darahku yang mulia. Yang kupuja sepanjang masa. Tanah Airku aman dan makmur. Pulau kelapa yang amat subur. Pulau Melati pujaan bangsa. Sejak dulu kala. Melambai-lambai. Nyiur di pantai. Berbisik-bisik. Raja Kelana, lantun Rubag penuh perasaan.
Lirik dan irama lagu ciptaan almarhum Ismail Marzuki itu memang mantap! Tapi kalau kau nyanyikan sekarang di hadapan para rockermania, aku khawatir kepalamu akan didorong seraya dihardik, Mimpi! Mirip jin yang mendorong kepala seorang pria berblangkon dalam iklan rokok di TV, gara-gara minta ganteng. Aku paham kegelisahan batinmu akibat perubahan radikal yang mengubah perilaku masyarakat. Seorang anggota MPR-RI, Wahidin Ismail bersama empat rekannya yang sangat prihatin terhadap kondisi berbangsa dan bernegara saat ini sampai merasa perlu mengumpulkan ratusan guru di Klungkung. Para guru yang anggota PGRI tersebut diharapkannya menyosialisasikan empat pilar penting bangsa Indonesia yakni Pancasila, UUD 1945, Bhineka Tunggal Ika dan NKRI. Mereka resah atas melorotnya nasionalisme sehingga tawuran dan terorisme merebak di mana-mana, kata Ketut Kaplug.
Aku juga membaca beritanya di Bali Post. Konon saking prihatinnya anggota parlemen itu atas tidak dirawatnya nasionalisme dan nilai-nilai luhur bangsa selama ini, mereka ragu Indonesia akan masih eksis 20- 30 tahun mendatang. Cuma aku merasa geli dalam hati ketika membaca pendapatnya bahwa nasionalisme memudar akibat pengaruh globalisasi dan penerapan reformasi yang kebablasan. Kok terlambat ya sadarnya? Malah kita sejak belasan tahun silam mengatakan di forum obrolan ini bahwa globalisasi yang sering didewa-dewakan para pemimpin sebagai pembawa kemakmuran hanyalah mitos? Kita tahu hakikat globalisasi adalah terintegrasinya ekonomi, politik dan budaya dunia di dalam satu wadah dan di bawah satu atap. Dari sini jelas ada upaya-upaya pihak yang kuat untuk berambisi jadi atapnya sehingga muncul hegemoni dan dominasi terhadap pihak-pihak yang lemah. Bayangkan dunia yang telah ribuan tahun dihuni beragam bangsa bermacam suku,berbagai kepercayaan serta adatnya, mau dijadikan satu dalam tatanan dunia baru, ungkap Wayan Lonjong.
Mendengar paparanmu, aku jadi curiga kalau berbagai kerusuhan dan konflik dengan berbagai latar yang terjadi belakangan ini, sumbernya kukira adalah upaya mendominasi dan menghegemoni itu. Karena ada resistensi dari pihak yang dihegemoni, lalu dicarikan cara seperti yang dilakukan Van Mook tempo dulu. Adu domba atau pecah belah! Sebab di setiap zaman ada kelompok atau orang-orang yang karena vested interest memposisikan diri sebagai cantrik-cantrik, yang di era penjajahan dulu disebut Gandek-Gandek NICA. Kini mereka punya sebutan beken yakni kaum komprador yang punya intelektualitas tinggi karena tingkat edukasinya juga selangit. Bahkan ada di antaranya dididik di perguruan tinggi terkenal di negara-negara yang akan memperalatnya. Jadi tidak heran, karena dipicu masalah sepele kerusuhan besar bisa meledak dan berlarut-larut, yang andaipun bisa dipadamkan akan menyimpan bibit-bibit dendam. Kerusuhan Ambon pun nyaris tersulut lagi, ujar Putu Sentul.

Wah pantas bom bunuh diri yang terjadi di Solo, Minggu (25/9) lalu, konon pelakunya diduga kecewa karena dilarang pergi ke Ambon untuk berjihad. Terlepas benar atau tidaknya dugaan itu, apalagi pelakunya sendiri sudah mampus, aku percaya bibit-bibit dendam di negeri yang multietnis dan multikultur ini memang banyak. Malah kerajaan Majapahit yang kesohor juga dibangun dengan pondasi dendam. Pihak asing agaknya sangat paham akan hal itu sehingga majalah Newsweek, edisi 9 Juli 2001 menulis bahwa Indonesia yang memiliki 17 ribu pulau menyimpan seribu titik api yang sewaktu-waktu siap menyala. Aku tidak tahu apakah sinyalemen itu terkait dengan masalah dendam atau tidak ? Bahkan majalah tersebut menobatkan negeri ini sebagai The worst place to be president atau tempat yang terjelek untuk jadi presiden. Kurasa penobatan ini tidak begitu meleset. Buktinya, presiden yang memperoleh 60 persen lebih suara dalam Pemilu, sepertinya tidak tenang dalam memerintah, argumen Nengah Minggir.
Mendengar obrolan kalian aku seperti terserang paranoid dengan tingkat kekhawatiran tinggi apalagi dikaitkan kejadian-kejadian mengerikan belakangan ini. Nyawa manusia seakan lebih murah dari nyawa nyamuk. Keselamatan seseorang mudah terancam bahkan nyawanya pun bisa hilang, kalau berstatus minoritas. Belum lagi kematian akibat bencana alam, penyakit dan kecelakaan lalu-lintas di darat, laut dan udara akibat ketidakpedulian korban sendiri terhadap keselamatan mereka. Buku Pat Robertson berjudul” Tatanan Dunia Baru” membuatku semakin merinding. Dalam tatanan dunia baru, tulisnya, kedaulatan nasional harus dihilangkan, diganti dengan pemerintahan sedunia, polisi dunia, pengadilan dunia, bank dan mata uang dunia serta lembaga-lembaga dunia yang berwenang mengurus semua itu. Yang mengerikan, tambah Robertson, harus ada kematian dua atau tiga miliar penduduk di dunia ketiga, imbuh Kadek Bekul.
Jangan pesimis seperti itu! Kemerdekaan negeri ini bukan hadiah seperti dituduhkan kaum komprador, tapi diperoleh dari hasil perasan keringat para pejuang dan percikan darah para pahlawan. Apa pun rekayasa dan upaya yang dilakukan pihak yang menginginkan negara bangsa ini lenyap, asalkan kita sendiri tidak berniat membubarkannya, aku yakin Indonesia akan tetap eksis. Kita beragama dan yakin, Tuhanlah Yang Maha Penentu ! Kemerdekaan Indonesia pun berkat rakhmatNya, seperti tertuang di alinea ke-tiga Pembukaan UUD 1945, Menyimak kerusuhan hebat di London dan Tottenham seperti ditayangkan TV baru-baru ini, yang diduga akibat bumerang globalisasi, jangan-jangan yang akan terjadi Tata Dunia Baru, bukan Tatanan Dunia Baru atau The New World Order ! Itu sesuai pidato Bung Karno berjudul To Build The World A New di Sidang Umum PBB, 30 September 1960. Dunia baru yang hendak ditata Bung Karno adalah dunia yang damai, adil, sejahtera dan dunia tanpa imperialisme dan kolonialisme. Jadi tidak salah kalau aku menyanyikan Rayuan Pulau Kelapa sebagai wilful nostalgia, pungkas Rubag. (aridus)

About these ads

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 55 other followers

%d bloggers like this: