Archive for October, 2011|Monthly archive page
Militant fires on US embassy
Militant fires on US embassy
Rusmir Smajilhodzic
October 30, 2011
Attack … the alleged gunman. Photo: AP
SARAJEVO, Bosnia: A suspected radical Islamist has opened fire on the US embassy in Sarajevo, wounding a police guard in what a Bosnian leader condemned as a ”senseless terrorist attack”.
Bosnia’s intelligence chief later said on Friday police had arrested a Serbian national with ties to the local Wahhabi community, a radical branch of Islam.
Local television showed video footage of a bearded man carrying a Kalashnikov rifle.
A special police unit shot and wounded the suspect before arresting him, police spokesman Irfan Nefic told national BHT television.
”The person who fired an automatic weapon was wounded and arrested during the police operation,” he said. ”After receiving medical treatment on the scene the person was hospitalised.”
The US embassy, which closed after the incident, confirmed that the building in the Bosnian capital had been attacked with an automatic weapon and been hit several times.
A statement on the embassy’s website said that as well as the main suspect, police had arrested possible accomplices.
Bosnian politicians were quick to denounce the attack. ”I firmly condemn the terrorist attack on the US embassy in Bosnia-Herzegovina,” said Bakir Izetbegovic, the Muslim member of Bosnia’s three-person presidency.
After the attack, Bosnia’s acting President, Zeljko Komsic, met the US ambassador, Patrick Moon.
He told him that Bosnia was capable of ”guaranteeing the security of all US citizens and diplomatic representatives” in the country.
”Our country is not a haven for terrorists,” he said, as the presidency revealed it had called a special meeting of all the Bosnian police branches.
”I expect the competent authorities to carry out a quick and efficient investigation of this senseless act.”
Witnesses have described the scenes of panic as the gunman opened fire.
”I was waiting for a tram when I saw right next to me this guy armed with a rifle firing at the embassy,” Igor Parac said. ”People started running in all directions.”
Bosnia’s intelligence chief, Almir Dzuvo, said the suspect was Mevlid Jasarevic, 23, a Serbian national with ties to local Wahhabis.
Serbian police said the suspected gunman had been arrested in Serbia last year when police found him carrying a knife during a visit by Mary Warlick, the US ambassador to Serbia.
The ambassador was visiting the Sandzak region on the border between Serbia and Montenegro, which has an important Muslim community.
Bosnia is home to a small minority of followers of Wahhabism, a strict and ultra-conservative branch of Islam which is particularly dominant in Saudi Arabia.
The local security forces have been cracking down on the Wahhabis. In the northern summer of last year suspected radical Islamists attacked a police station in central Bosnia, killing one officer.
AFP
Indonesia recruitment crisis remains unresolved
Indonesia recruitment crisis remains unresolved
By DIANA AL-JASSEM | ARAB NEWS
Published: Oct 28, 2011 01:52 Updated: Oct 28, 2011 01:52
JEDDAH: Refuting a report that appeared in a local daily early this week, recruitment offices in Jeddah said the issue of visas for Indonesian maids is still resolved. Both the Saudi and Indonesian authorities stopped processing visas for Indonesian maids last August.
According to spokesman of the Ministry of Labor Hattab bin Saleh Al-Anzi, the Kingdom will no longer hire Indonesian domestic workers, citing strict requirements and unfair regulatory provisions imposed by the country. Indonesia prohibited its citizens from working as domestic servants in Saudi Arabia after the beheading of a maid convicted of murdering her Saudi employer. The ban started on Aug. 1 and remains in place until the Saudi government agrees to sign a memorandum of understanding to protect Indonesian workers’ rights.
The ban has led to a sudden increase in salaries of maids in Saudi Arabia to between SR1,500 and SR2,000. As a replacement, Saudi families have started looking for Ethiopian maids who have been living in the Kingdom for many years. However, Ethiopian maids’ salaries have also increased, due to the recruitment crisis.
Arab News spoke to a number of recruitment offices that confirmed the desire of Saudi families to bring Ethiopian maids in place of Indonesian maids.
Abu Hassan, owner of a recruitment office in Jeddah, stated that Ethiopian maids are now popular among Saudi families.
“Most families ask for Indonesian maids, but we are unable to bring them from Indonesia. We cannot make promises either, as we have no news about any new development on this front. We advise families to try Ethiopian maids,” he said.
Abu-Hassan added that recently, his office brought 17 Ethiopian maids. “The contract was free of requirements, except the sponsorship ID and a fixed salary of SR800 a month.”
Ghazi Omar Ghourab, a member of the recruitment committee at Jeddah Chamber of Commerce and Industry, confirmed that many rumors had been published in the media about the issue, but nothing officially had been announced so far.
“The issue of Indonesian maids is still pending. There are reports that a solution would be found by the yearend. However, no decisions have been announced so far,” he said.
Saudi officials had announced plans to hire more domestic workers from Ethiopia, India, Nepal, Eritrea, Sri Lanka, Bangladesh, Mali and Kenya. “Most Saudi families, nevertheless, are waiting for a decision to bring Indonesian maids again,” said Ghourab.
Some families prefer to hire Indonesian maids who are already in the Kingdom even if the salary is very high. Sara Al-Amoudi, a Saudi teacher, pays high fees for Indonesian maids, just to avoid maids with other nationalities.
“My kids prefer Indonesian maids to any other nationality. Recently, I brought an Ethiopian maid on a salary of SR800, but my kids didn’t like her. I returned her to the recruitment office and hired an Indonesian maid locally.”
Lain NU, Lain PKB
Lain NU, Lain PKB
Oleh: KH. Abdurrahman Wahid
Ada pemimpin Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), menyatakan bahwa ia tidak
bersedia menjadi pengurus sekarang, karena kepengurusan PKB ada
non-muslimnya. Ini adalah pernyataan yang aneh, karena itu beberapa alasan
akan diuraikan di bawah ini. Padahal ia sudah bertahun-tahun menjadi
pengurus PKB, dan sejak berdiri PKB senantiasa berisi orang-orang
non-muslim sebagai pengurus, disamping kaum muslimin yang bukan warga
Nahdlatul Ulama (NU). Bukankah itu berarti sekian tahun itu ia menipu diri
sendiri? Mengapakah ia tidak langsung saj berterus terang menolak hasil
Muktamar II di Semarang baru-baru ini? Dalam pandangan penulis, penipuan
kepada diri sendiri itu tidak lebih hanyalah sebuah alasan untuk menolak
kehadiran ‘orang lain’ dalam PKB. Karena itu, memang lebih baik ia tidak
berada dalam lingkungan pengurus partai, karena yang diperlukan adalah
mereka yang jujur dalam kepengurusan.
Sebenarnya, memang ada perbedaan mendasar antara NU dan PKB. Ini dapat
dilihat dalam 2 hal, yaitu masa lampau NU dan masa depan PKB. NU didirikan
tahun 1926, tetapi sebenarnya ia bermula dari langkah yang diambil oleh
Sultan Hadiwijaya dari Kerajaan Demak. Di saat itu, ia dikalahkan dalam
perang tanding melawan Sutawijaya, yang belakangan menggunakan gelar
Panembahan Senopati Ing Ngalaga Sayidin Panatagama Kalipatullah Ing Tanah
Jawi, dan menjadi pendiri Dinasti Mataram. Ketika kalah dalam perang
tanding tersebut, Hadiwijaya lari ke Sumenep untuk meminta pertolongan
ibunya, Kanjeng Ratu Putri di Astana Tenggi . Wanita ningrat yag juga
menjadi pembawa tarekat qadiriyah ke Pulau Madura itu memberinya 40 macam
kesaktian/ kanuragan kepadanya.
Dalam perjalanan pulang ke Pajang, Sultan Hadiwijaya singgah di pulau
Pringgoboyo (sebelah selatan Paciran di Lamongan) di sana ia bermimpi
didatangi oleh gurunya, yang menyatakan tidak ada gunanya ia kembali ke
Pajang untuk memperebutkan tahta kerajaan, karena ia akan tetap kalah
melawan Sutawijaya. Ia menurut perintah gurunya, dan tinggal di Pringgoboyo
itu kemudian membuka sebuah pondok pesantren. Maka bermulalah sebuah
tradisi baru {pondok pesantren} yang menjadi alternatif tardisi kraton
besar di pusat kerajaan. Pondok pesantren merupakan kekuatan tersendiri,
yang melaksaakan sistem nilai baru (kesantrian) sebagai sesuatu yang
memiliki kemampuan seimbang dengan kraton.
Fungsi seharusnya diteruskan oleh NU, yang merupakan kekuatan alternatif
bagi kekuatan pemerintahan pusat di Jakarta . Karena itulah dapat
dimengerti jika kepemimpinan dalam NU hanya terdiri dari orang-orang NU.
Dalam hal itu, pemimpin-pemimpin NU menjadi alternatif bagi kepemimpinan
nasional, yang hanya dapat “dipatahkan” oleh Soeharto-Ali Murtopo melalui
tindakan “penyederhanaan partai politik”. NU lalu menjadi bagian dari
Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Maka bermulalah masa
transisi/perpindahan dari parpol golongan menjadi parpol nasional.
****
Perjalanan sejarah inilah yang seharusnya disadari oleh tokoh tersebut.
Tapi ternyata ia tidak menyadarinya sama sekali. Karena itu, ia berkeras
untuk membuat kepemimpinan dalam PKB hanya dipegang oleh orang-orang NU
saja. Padahal sejarah telah menunjukkan dengan jelas, bahwa sikap seperti
ini tidak dapat terus menerus dipertahankan, tanpa mengorbankan cita-cita
NU sendiri.
Sejak lahirnya, PKB memiliki “jiwa” yang berbeda dari NU. Karena di masa
depan, peranan politik di kalangan parpol akan bersifat nasional. Parpol
akan menjembatani gerakan mahasiswa, lembaga swadaya masyarakat (LSM) dan
sebagian kaum intelektual. Di sisi lain, ada Tentara Nasional Indonesia
(TNI) juga akan berfungsi politik, walaupun resminya bukan. Parpol harus
menjadi jembatan yang menghubungkan antara keduanya. Karena itu, parpol
harus bersifat nasional, dan tidak terlalu mementingkan kepentingan
kelompok. Berdsarkan hal itu penulis menginginkan PKB mencapai lingkup
nasional dengan sendirinya. Penulis harus mengusahakan agar PKB diminati
oleh kelompok-kelompok non-muslim dan kelompok-kelompok muslim non-NU.
Itulah sebabnya mengapa penulis berusaha memasukan kawan-kawan non-muslim &
non- NU ke dalam kepengurusan PKB.
Inilah yang penulis namakan “masa depan PKB”. Tanpa mengerti hal ini,
berarti kita tidak memahami masa depan dunia politik kita. Kalau hal ini
tetap terjadi, NU akan tetap menjadi subordinat dari kehidupan nasional
kita, bukannya menjadi koordinat. Kalau memang NU benar-benar besar, ia
harus mau berbagi tempat. Dengan demikian akan menjadi bagian dari sesuatu
yang lebih besar, yaitu dunia politik nasional kita. Ketidakmampuan
memahami hal ini, akibat sikap “menjaga kemurnian”, akan membuat kita tetap
terpecah-pecah dalam lingkup kesantrian, seperti terjadi dalam PPP
terdahulu. Bagaimana klaim bahwa umat Islam merupakan kelompok terbesar
dalam kehidupan nasional kita, sedangkan dalam kenyataan kita hanya
berpikir tentang kepentingan kelompok saja.
Nyatalah dengan demikian, bahwa memang ada pergeseran besar. Kalau disadari
dahulu NU mewakili kepentingan kaum santri yang bersifat sempit, dan
membuatnya tidak berpartisipasi dalam kehidupan bangsa secara riil. Akibat
pola lama yang berwatak kepentingan golongan yang selalu diusahakan agar
ditentukan oleh NU. Maka sekarang justru PKB lah yang harus merambah pola
kehidupan baru itu. Tetapi kepentingan nasional menghendaki kesediaan untuk
memelihara peranan dalam kehidupan sebagai bangsa, dan dalam kenyataan
bangsa kita memang terdiri dari bermacam-macam golongan. Dalam mengelola
kehidupan sebuah parpol, hal ini memang harus selalu disadari dan dijadikan
kebijakan/policy dasar. Bersama-sama dengan kemampuan melakukan
pensejahteraan kehidupan, penegakan kebebasan, pemeliharaan kedaulatan
hukum dan penyelenggaraan kehidupan saling berbeda.
Jelaslah di sini, bahwa NU memang berbeda dari PKB. Perbedaan kesejarahan
masa lampau dan masa depan memang harus selalu diperhitungkan, kalau kita
memang ingin dewasa. Betapapun “murni” dan “indah” keinginan untuk tidak
memberikan tempat kepada pihak-pihak lain dalam PKB, jelas akan merugikan
masa depan PKB sendiri. Mereka yang “bermimpi” seperti itu, haruslah
menyadari bahwa PKB bukanlah parpol yang sesuai dengan keinginannya itu
sendiri. Mereka bermimpi dengan sesuatu yang melayani kepentingan kelompok
saja, bukannya kepentingan bangsa secara keseluruhan. Sudah tentu, bagi
orang-orang yang seperti penulis, hal itu adalah tragedi yang harus
dihindari. Di masa lampau, kebesaran NU terletak dalam kemampuan “menjaga
kemurnian” NU sendiri. Tetapi di masa yang akan datang hal itu ada dalam
kemampuan hidup bersama-sama dengan orang lain.
Dengan memahami perbedaan masa lampau dari masa depan, kita akan memperoleh
daya gerak untuk mempertahankan daya gerak itu sendiri. Ini berlaku untuk
semua pihak, dan selalu berulang kali terjadi kalau diperhatikan dengan
teliti. Maka hanya pihak yang bersedia melakukan penyesuaian/adaptasi masa
dahulu kepada masa depan saja yang akan mampu bertahan dalam kebesaran masa
lampau. Inilah yang sebenarnya merupakan kemampuan melanggengkan dan
menghilangkan apa yang kita kehendaki, sebagai bagian dari proses yang
lumrah terjadi dalam sejarah manusia, bukan?
Jakarta, 28 Mei 2005
–
http://harian-oftheday.blogspot.com/
“…menyembah yang maha esa,
menghormati yang lebih tua,
menyayangi yang lebih muda,
mengasihi sesama…”
Kapolretabes Surabaya Perintahkan Anggotanya Brutal, 3 Demonstran Terkapar
Kapolretabes Surabaya Perintahkan Anggotanya Brutal, 3 Demonstran Terkapar
Perintahkan Anggotanya Brutal, 3 Demonstran Terkapar, PPRI Desak Kapolri Pecat dan Proses Secara Hukum Kombes Coki Manurung
LENSAINDONESIA.COM: Tindakan represif aparat kepolisian kepada demonstran yang mengatas namakan APB (Aliansi Persatuan Buruh) dan PPRI (Persatuan Pergerakan Rakyat Indonesia) waktu peringatan hari Sumpah Pemuda yang ke 83 tahun, Jumat 28 Oktober 2011 lalu di depan Gedung Negara Grahadi hingga menyebabkan tiga orang demonstran yakni Nafiq (Fisip Untag), Okky (FE Untag), dan Angga (HMI) terluka, menuai kecaman keras dari Tedy Antonio, Presiden BEM Untag sekaligus kepala biro aksi PPRI.
“Ketiga rekan kami terluka dan mengalami trauma berat akibat pukulan dan tendangan dari aparat kepolisian. Bahkan rekan kami Okky, mengalami tulang rusuk patah dan Nafiq, robek dipelipis mata sebelah kanan. Keduanya kita larikan ke IGD RSUD Dr. Soetomo untuk mendapat perawatan. Tapi demi keamanan karena pihak intel Polrestabes Surabaya sudah membuntuti pergerakan kami dan mahalnya biaya opname, maka Okky dan Nafiq tidak dirawat inap,” terang Tedy, begitu akrab disapa kepada LIcom, Sabtu (29/10/2011).
Tedy yang mengaku ikut dalam aksi unjuk rasa berdarah itu menegaskan, dirinya melihat dan mendengar teriakan Kapolrestabes Surabaya, Kombes Coki Manurung perintahkan anak buahnya agar bertindak brutal ke pengunjuk rasa.
“Ayo pukul mundur, terus pukul mundur,” beber Tedy menirukan ucapan Perwira dengan tiga melati di pundak yang terjun langsung mengamankan aksi demonstrasi itu.
PPRI menurut Tedy akan segera konsolidasi dan meminta UBH (Unit Bantuan Hukum) Untag Surabaya, mengadvokasi korban yang segera melaporkan Kapolrestabes Surabaya dan anak buahnya ke Kapolri, Jenderal Timur Pradopo.
“PPRI menuntut Kapolri segera memecat serta memproses secara hukum Kapolrestabes Surabaya, Kombes Coki Manurung dan anggotanya yang terlibat dalam aksi kekerasan kepada demonstran waktu peringatan hari Sumpah Pemuda kemarin,” tegasnya. Yudha/LI-08
Album Lagu Terbaru SBY Diluncurkan Sore Ini
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Album berisi lagu-lagu ciptaan Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) akan diluncurkan di Taman Ismail Marzuki (TIM), Cikini, Jakarta Pusat, Senin (31/10/2011), sore ini.
Undangan yang diperoleh Tribunnews.com, Senin (31/10/2011) pagi, acara peluncuran album lagu SBY terbaru ini bertajuk ‘Harmoni’ akan dihadiri sejumlah selebriti diantaranya Afgan, Sandhy Sondoro, dan Joy Tobing.
SBY menyempatkan menciptakan lagu ini di tengah kesibukannya sebagai Presiden. Ini adalah album keempat Presiden setelah album lagu yang sama diluncurkan pada tahun 2006 dengan album ‘Rinduku Padamu’, pada 2007 bertajuk ‘Majulah Negeri’, dan pada 2010 lalu berjudul ‘Ku Yakin Sampai di Sana’.
Wartawan Papua Diancam Dibunuh
http://www.sinarharapan.co.id/content/read/wartawan-papua-diancam-dibunuh/
29.10.2011 13:33
Wartawan Papua Diancam Dibunuh
Penulis : Odeodata H Julia
(foto:dok/ist)
JAYAPURA – Upaya melemahkan kerja junarlis kembali dialami wartawan di Papua. Kali ini di Manokwari, Papua Barat. Mereka adalah Roy Sibarani (Papua Barat Pos) dan Budy Setiawan (kontributor Trans TV).
Keduanya menerima ancaman pembunuhan melalui pesan singkat dari nomor 081248247425, pada Kamis (27/10) sekitar pukul 22.00 WIT.
Dalam pesan tersebut pelaku mengatasnamakan Kepala Kejaksaan Negeri Manokwari yang isinya, “Saudara saya ingatkan. Agar segera hentikan pemberitaan mengenai Kajari Manokwari. Saya tidak segan-segan menghabisi saudara. Sekali lagi saya ingatkan hentikan, saya mau turun pangkat itu urusan saya, saya tetap Kajari Manokwari. Kalian sudah sangat keterlaluan, dasar binatang, kualat kalian.”
Roy ketika dihubungi Jumat (28/10), mengatakan, selain menerima pesan ancaman, pelaku sempat menghubunginya satu kali. Karena tidak diangkat, pelaku mengirim pesan kedua, “Hei binatang, kenapa saya telepon tidak angkat HP kamu,” tulis pelaku yang sampai sekarang masih misterius.
Sementara itu, Kepala Kejaksaan Manokwari Paryono, saat ditemui puluhan wartawan di Manokwari mengaku tidak mengirim ancaman tersebut. Hal ini menurutnya sengaja dilakukan orang tak bertanggung jawab untuk memperkeruh suasana soal penurunan pangkat seperti yang diberitakan sebelumnya.
“Ini ada yang mengadu domba saya dengan wartawan, sampai pakai ancaman pembunuhan segala. Saya tidak sebodoh itu, memang saya pernah persoalkan kalian memberitakan tentang saya, walaupun saya no comment. Pesan singkat ini sangat menyesatkan untuk memperkeruh suasana,” ujar Paryono.
Paryono mengaku nama baiknya telah dicatut pihak tidak bertanggung jawab. Untuk itu, Paryono juga berjanji akan membuat laporan polisi dan melacak keberadaan pengguna nomor tersebut bersama pihak kepolisian. “Nomor saya hanya satu, teman-teman wartawan bisa cek,” ujarnya.
Jumat, Roy dan Budi didampingi belasan wartawan menuju Mapolres Manokwari untuk membuat laporan polisi. Sesuai laporan polisi Nomor 426 tanggal 28 Oktober yang dibuat KSPK I Polres Manokwari Aiptu Slamet Padmadi, kini kasus tersebut resmi ditangani pihak kepolisian.
Selesai membuat laporan, penyidik Reskrim Polres Manokwari langsung memeriksa Roy sebagai saksi korban. “Saya hanya ditanyai seputar kronologis bagaimana pesan singkat itu bisa saya terima,” ujar Roy.
Kajari Kontak Wartawan TV
Namun anehnya, tidak berapa lama setelah Roy dan Budi membuat laporan polisi, Kajari menghubungi wartawan TV One di Manokwari, Anis Da Santos, dan meminta tidak memberitakan kasus tersebut. “Ya, Kajari minta saya untuk tidak memberitakan kasus ini, lalu saya jawab, lebih baik bapak komunikasi langsung ke wartawannya,” ujar Anis menjawab permintaan Paryono, ketika dihubungi.
Menurut Anis, Kajari menghubunginya, yang intinya, meminta agar televisi nasional tidak memberitakan pengancaman serta menyinggung penurunan pangkatnya, karena akan diketahui seantero republik ini. Wartawan Metro TV bernama Muin juga dihubungi Kajari, tapi tidak digubris.
Wakil Kepala Kejaksaan Tinggi Papua Hardjono Tjatjo mengatakan, Paryono dikenai hukuman indisipliner karena melakukan perbuatan tercela, dengan melanggar ketentuan Pasal 3 Ayat (4) Peraturan Pemerintah Nomor 53 Tahun 2010, tentang disiplin Pegawai Negeri Sipil (PNS), yakni tidak menaati ketentuan perundang-undangan.
Berdasarkan surat Keputusan Kejaksaan Agung RI Nomor 106 yang ditandatangani Wakil Jaksa Agung Darmono, tertanggal 14 September 2011, menjatuhkan hukuman disiplin berupa penurunan pangkat setingkat lebih rendah selama 3 tahun kepada Paryono menjadi III D.
“Yang jelas, ada kesalahan yang dibuat dalam tugas sebagai PNS, makanya dikenakan sanksi,” ujar Wakil Kajati Papua Hardjono Tatjo, namun ia tidak merinci kesalahan Kajari Manokwari.
The truth will come out
Issue No. 1070
The truth will come out
Click to view caption |
| The horryifing image of Kim Phuc, by AP Nick Ut, told the world what really happened in 1972 when the South Vietnamese planes dropped a napalm bomb on Trang Bang; in 2000, a free lance photographer Talal Abu Rahman, capturing the killing of 12-year-old child, Mohamed Al-Dorra by Israeli forces in Gaza; Gaddafi’s images came as another shocking truth
|
Since Egypt’s 25 January Revolution, many places in Egypt, including cafes, have grown used to having television news channels on in the background, whether something important is going on or not. Last Thursday, as the first photographs were released on news channels of former Libyan leader Muammar Gaddafi’s dead and bloodied face, opinions started flying between those who claimed that he had got what he deserved and those protesting against his cruel and gruesome death.
On the social networks, the debates were even stronger and more explicit, as videos of Gaddafi captured, first alive and then dead, and later of Libyan rebels taking photographs around his dead body and that of his son Mutassim did the rounds of Facebook and other networking sites.
Commentators were split between those who felt that Gaddafi had got what he deserved and those who put forward alternative views of what should have happened. The most common comment said that Islam specifies that prisoners of war should be treated well, no matter who they are. Al-Azhar’s statment last Tuesday announced it is against the Islamic teaching to kill protestors in peaceful demonstrations. It also stated that it is against Islam to treat the injured and dead bodies in an inhuman way.
While Gaddafi’s 42-year rule saw dreams of a future United States of Africa, real atrocities and dictatorship too often marred the country’s history. An investigation is currently being held in Libya to determine how Gaddafi died, and, whatever its eventual findings, certain facts cannot be ignored.
With the world’s media circulating video images of Gaddafi being captured, hit, and in another video sexually assaulted, the graphic images were certainly not for the weak-hearted. In an age where billions of people have phones with cameras, there is always a story to be had, even if there are few regulations governing relations between the media and the public. As Ayman al-Saiad, the editor of Weghat Nazar magazine, said this week, the truth had to come out.
Al-Saiad argues that the social networks on which video clips are commonly posted are not necessarily faster than other means of mass communication, though they do have larger audiences. “Instead of two newspaper reporters, you can have 5,000 people covering an event from different angles. Although the reporting is not necessarily credible, and is not governed by a code of practice, unlike reporting for the newspapers or television, we have to pay that price as otherwise we would never know the truth,” al-Said said.
Al-Saiad said that he was in favour of the media publishing photographs of Gaddafi’s death, “but I am against exaggerated use of them.” Since the photographs and the videos were taken by mobile phones, the truth will come out, he said. “There is a fine line in the case of Gaddafi. He was killed in a brutal way, regardless of whether you think he deserved it or not, and it was a particularly violent scene to be called upon to watch as a spectator. However, the media’s role is to present the full truth.”
He recalls other incidents of heartbreaking videos, like the killing of Mohamed Al-Dorra, a child, by Israeli forces. “This was shocking, but the world had to know what happened to him,” al-Saiad said. However, the media should warn viewers of violent images in advance, allowing them the choice of whether or not to watch them.
A comparison could be drawn between the way in which Osama Bin Laden was killed by US forces earlier this year in Pakistan and the manner of Gaddafi’s death. “In Bin Laden’s case, he was killed by American forces, and there were no media present. The Americans then dumped his body into the sea. However, with Gaddafi, there were many people present and thus the truth surrounding his death has been able to circulate. But in both cases, secret burials are wrong: they show how controversial people in life are also treated controversially in death,” al-Saiad said.
Despite the fact that Gaddafi’s record does not generate sympathy for him among many people, the way he was killed may well be a breach of human rights. According to Ziad Abdel-Tawab, deputy-director of the Cairo Institute for Human Rights Studies (CIHRS), the Geneva Conventions, which regulate the way in which prisoners should be kept in wartime, prohibit the mistreatment or killing of prisoners.
“As we saw in the videos, Gaddafi was captured alive, and then later he was killed. He should have been put on trial after capture, and there was already a warrant out for his arrest from the International Criminal Court (ICC) to try him on charges of war crimes,” Abdel-Tawab said.
In Abdel-Tawab’s opinion, the Libyan rebels had the option of either putting Gaddafi on trial locally or of turning him over to the ICC. However, “what happened was a political execution, penalised by law, and we can’t just let this pass because it would mean calling into question the rights of prisoners of war all over the world, including those of Libyans killed by Gaddafi’s forces during the eight-month-war.”
Many conventions protect the rights of prisoners of wars, including the African Charter on Human and People’s Rights, the UN Universal Declaration of Human Rights, and the Arab Charter on Human Rights. As Abdel-Tawab explains, these contain articles specifying that if a soldier is not fighting and is still killed in war, his killing could be considered an execution and thus a war crime.
Many online comments this week have nevertheless protested against such views when applied to Gaddafi, preferring to concentrate on the crimes against humanity that he was accused of committing. Yet, Abdel-Tawab argues that if we accept the principle of killing prisoners of war in wartime, we would have to agree to the illegal execution of Egyptian soldiers by the Israelis in 1967 and the Israeli killing of the Palestinians.
Although NATO originally targeted the Gaddafi convoy, the organisation has declared that it did not know Gaddafi was in the convoy, believing instead that “the vehicles were carrying a substantial amount of weapons and ammunition, posing a significant threat to the local civilian population.
French defence minister Gerard Longuet said that a French fighter had fired on the convoy carrying Gaddafi and that the French strike had stopped the convoy of 80 vehicles heading for Bani Walid but had not destroyed it. If NATO did know that Gaddafi was in the convoy, Abdel-Tawab said, then its action would have constituted a war crime, even if there is no easy way to prosecute an organisation such as NATO under present international law.
Ironi Diplomasi TKI

Pemugaran Situs Bung Karno Terbentur Dana
Pemugaran Situs Bung Karno Terbentur Dana
Refleksi: Mengapa kasus pemugaran Situs Bung Karno sekarang ini di angkat oleh rezim neoliberal SBY-Boedi, ada apa dibelakang kasus itu???. Kassus semacam ini mengingatkan pasa saya kejadian dimasa lampau , yaitu saat awal dimulainya kekuasaan rezim militer fasis Orde Baru Soeharto. Pada saat-sasat itu, mulai dari Malari, pertiwa Tanjung Priok, Kedung Ombo dan perlawanan rakyat terutama sekali dari kalangan mahasiswa semakin membengkak. Dalam perlawanan-perlawanan itu rakyat senantiasa mengangkat nama presiden Sukarno, sehingga atas inisyatif Ali Murtopo pemerintah orde baru dibawah pimpinan jendral TNI AD Soeharto perlu sekali merehabilitasi nama Sukarno, antara lain memugar makamnya, sehingga sakit hati rakyat kepada Soeharto dapat terhibur. Tetapi manover palsu itu cepat diketahui oleh rakyat, sehingga perlawanan terhadap pemerintah orde baru berkembang terus.
Dewasa ini kita semua sudah merasakan dampak sistemik dari kekuasaan rezim neoliberal SBY selama 7 tahum mendominasi kekuasaan Negara ini (5 tahun SBY-YK + 2 tahun SBY-Boedi). Dampak sistemik itu tercermin dalam keadaan, dimana negara kita semakin ambrul adul, pengangguran dan kemiskinan semakin meningkat, KKN semakin merajalela, diiringi dengan timbulnya bermacam-macam MAFIA, yaitu mafia hukum, mafia pajak, mafia birokrasi sampai pada mafia kekuasaan telah tumbuh seperti jamur dimusim hujan. Sampai munculnya ketegangan-ketegangan di Aceh dan Papua, yang sama sekali tidak dapat dimengerti secara terpisah dari kebijakan-kebijakan rezim neoliberal SBY-Boedi, yang melakukan kebijakkan-kebijakan yang berkelanjutan untuk menyengsarakan rakyat Indonesia pada umumnya, dan khususnya rakyat Papua .
Semua dampak sistemik seperti tersebut diatas, dengan sendirinya telah meimbulkan kemarahan Rakyat, dalam bentuk tuntutan-tuntutan seperti misalnya kembali pada UUD 45 naskah asli khususnya Pasal 33 UUD 45. Gulingkan kekuasaan neoliberal SBY-Boedi, dan kembali pada Demokrasi sejati yang sejalan dengan Pancasila 1 Juni 1945, dan bentuk –bentuk perjuangan yang lain-lainnya, yang semuanya bermuara pada tuntutan untuk menurunkan rezim SBY- Boedi yang dinilai sudah menjual kedaulatan bangsa pada pihak asing, menjual atau menggadaikan kekayaan alam bumi Inidonesia termasuk hutan-hutannya, yang semuanya itu dapat disimpulkan bahwa rezim neoliberal SBY-Boedi telah gagal total dalam memimpin negeri ini. Oleh karena itu harus segera mundur.
Dalam keadaan seperti tersebut diatas, terutama setelah Rakyat berniat untuk menggulingan rezim SBY-Boedi, barulah muncul gagasan seperti yang di pentaskan lewat wapres Boediono, yaitu gagasan pemugaran situs Bung Karno. Alasan yang mengatakan bahwa pemugaran situs Bung Karno itu terlambat dikarenakan terbentur pada dana adalah alasan yang asbun saja. Bisa dipercaya bahwa rezim SBY-Boedi punya manyak sekali dana. Coba saja cermati untuk membiyayai kongres Partai Demokrat milik SBY saja, menurut berita yang tersiar di media, menghabiskan biyaya bermiliyar-miliar rupiah atau bahkan sampai triliun-triliun rupiah. Jadi omong kosong jika pemugaran situs Bung Karno kekurangan dana. Alasan Boediono seperti itu, tidak lain hanyalah untuk menutup-nutupi manover palsu rezim neoliberal SBY-Boedi, artinya untuk menutup-nutupi watak munafik rezim neoliberal SBY-Boedi yang sebenarnya. yaitu rezim SBY-Boedi yang anti pada Bung Karno.
Bisa dipercaya bahwa manover rezim neoliberal SBY-Boedi inipun tidak akan dapat menipu Rakyat Indonesia. Gerakan rakyat progresif revolusioner dari segala lapisan masyarakat dimulai dari gerakan Mahasiswa, Buruh dan Tani, seniman dan para jendral purnawirawan kini telah bermunculan, mereka ini menginginkan agar supaya NKRI kembali pada UUD 45 naskah asli , khususnya Pasal 33 UUD 45 dan Pancasila 1 Juni 1945, yang semuanya itu telah di khianati oleh rezim neoliberal SBY-Boedi.
Rakyat menginginkan supaya penerus-penerus revolusi Agustus 1945 yang dijiwai oleh ajaran-ajaran Bung Karno dapat menyelamatkan rakyat dari tekanan-tekanan physik dan phsycoloki dari orde baru jilit ke II, oleh karena itu keberadaan rezim SBY-Boedi harus segera diakhiri!!!
Roeslan.
Von: GELORA45@yahoogroups.com [mailto:GELORA45@yahoogroups.com] Im Auftrag von Sunny
Gesendet: Montag, 31. Oktober 2011 04:16
An: GELORA45@yahoogroups.com
Betreff: Re: [GELORA45] Pemugaran Situs Bung Karno Terbentur Dana
Beberapa tahun silam Megawati menyumbangkan kurang lebih US$ 240.000 untuk perbaikan mesjid di New York, USA, Jadi sepatutnya Megawati menaruh perhatian pada pemugaran situ Bung Karno ini.
Pemugaran Situs Bung Karno Terbentur Dana
Samuel Oktora | Nasru Alam Aziz | Sabtu, 29 Oktober 2011 | 23:19 WIBKompas/SEM Patung Bung Karno lama dinilai tidak proporsional, sehingga Wakil Presiden Boediono melalui Yayasan Ende Flores merencanakan untuk memugar patung ini. Pencanangan pemugaran sudah dilakukan pada akhir Desember 2010.
ENDE, KOMPAS.com – Pemugaran situs Bung Karno di Kabupaten Ende, Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur, sampai saat ini belum terlaksana karena terbentur masalah dana. Padahal pemugaran situs ini telah dicanangkan pada akhir Desember 2010 oleh Wakil Presiden Boediono.
Situs yang akan dipugar oleh Yayasan Ende Flores itu direncanakan meliputi rumah tempat pengasingan Bung Karno, patung Bung Karno, Taman Renungan tempat Bung Karno biasa duduk untuk merenung, gedung Imakulata tempat pementasan Bung Karno, serta makam mertua Bung Karno, Ibu Amsi.
“Bapak Wakil Presiden Boediono selaku Ketua Dewan Pembina dalam yayasan ini menghendaki pendanaan pemugaran situs Bung Karno tak menggunakan dana APBD atau pun APBN, jadi murni dari swasta. Ini tidak mudah, karena tak banyak swasta berminat di bidang ini,” kata Ketua Yayasan Ende Flores, Ignas Kleden, Sabtu (29/10/2011) di Ende.
Menurut Ignas, paling tidak sampai akhir tahun ini diupayakan untuk penggalangan dana, sedangkan tahun depan (2012) baru mulai pengerjaan pemugaran.***
Australian helped Gaddafi’s son flee
Australian helped Gaddafi’s son flee
Saadi Gaddafi. Photo: Reuters
A FORMER Australian soldier working as a private security contractor has admitted he helped late leader Muammar Gaddafi’s son, Saadi, flee Libya last month as rebel forces took over Tripoli.
Saadi’s long-time bodyguard, Gary Peters, told Canada’s National Post that he was part of a team that drove Colonel Gaddafi’s third son across Libya’s southern border to Niger.
Mr Peters, who has permanent resident status in Canada, returned to Toronto in September, suffering from an untreated bullet wound to his left shoulder when the convoy was ambushed after crossing back into Libya.
”I’m not a mercenary,” he told the Post, which said his account had been verified by several sources.
”I work for a person in particular, have done for years, for close protection. When we go overseas, I don’t fight. That’s what a mercenary does. Defend? Yes. Shoot? Yes. But for defence, for my boss, and that’s what happened. The convoy got attacked and two of us got hit.”
Mr Peters said he had provided security services to Gaddafi family members since 2004. Though he worked mostly for Saadi, he also guarded the other sons, Seif al-Islam and Hannibal, and said he had escorted Hannibal and his sister Aisha to Algeria in a convoy.
Mr Peters said he first met Saadi while serving in the Australian Army when he was assigned to protect Saadi at the 2000 Olympics in Sydney.
After moving to Canada in 2002, Mr Peters said he worked for a time for security contractor Blackwater USA, which was barred from Iraq over a 2007 shooting.
Although Canada has enacted UN sanctions imposing an arms embargo on Libya, and frozen the assets of Saadi and other Gaddafi family members, Mr Peters has not been charged with a crime. ”I broke no laws,” he said. ”But they have to investigate, which is fine.”
Mr Peters, who said he had spoken to Saadi by telephone since returning to Canada and planned to return to Niger this weekend, defended his boss.
”If he was a mass murderer, then obviously I wouldn’t work for him,” he said. ”The man’s a gentleman, non-violent.”
According to Mr Peters, other members of Saadi’s security team were from Australia, New Zealand, Iraq and Russia. He said they had all previously served as special forces.
He warned that the fight in Libya was far from over. ”Don’t believe it’s going to settle down, because there are still three brothers there that are very, very angry. And three brothers that have a lot of money,” he said.
”And they’ve still got that money. We just purchased, brand-new, three Land Rovers, bullet-proof. We paid cash for it. That means there’s money around.”
AFP
Leave a Comment
Perbesar Foto