Peristiwa G30S, Apa dan Bagaimana?

 

 

YT Taher:
Memperingati 46 TAHUN TRAGEDI 1965

Peristiwa G30S, Apa dan Bagaimana?

Penggalian dan analisa pribadi (bagian 1 – 4)

In: <GELORA45@yahoogroups.com>, Wednesday, 21 September 2011 11:30 AM

Pendahuluan:
Setiap memasuki dan berada dalam bulan September, tidak sedikit orang, yang ingatannya kembali kepada catatan sejarah tanah air 46 tahun-hampir setengah abad- yang lalu, tentang kekejaman, kebrutalan, pembunuhan atau genosida atas jutaan bangsa Indonesia yang dilakukan oleh kaum militer Angkatan Darat dengan mempergunakan tangan-tangan sebagian bangsa Indonesia yang tergabung dalam milisia dan organisasi komando aksi massa kanan dan agama. Penganiayaan, penangkapan, perkosaan dan pembunuhan di mana-mana, seolah-olah bangsa ini telah kembali kepada zaman jahiliah tanpa mengingat harga dan nilai nyawa manusia. Jutaan dibunuh, dan hampir 2 juta ditahan serta sekitar 20 juta keluarga hidup teraniaya dan dikucilkan, dianggap tidak bersih, sepertinya tiada hak untuk hidup sebagai bangsa dalam suatu negara yang merdeka yang penduduknya mayoritas menganut agama. Perempuan dan gadis-gadis diperkosa ramai-ramai oleh 6 atau 7 orang pemuda anggota komandao aksi, kemudian dibunuh dan mayatnya diklelerkan atau dibuang begitu saja, tanpa penguburan. Sungai-sungai dipenuhi dengan tubuh-tubuh tak bernyawa yang merapung, di rawa-rawa dan selokan bertumpuk mayat-mayat yang kadang-kadang tak berkepala yang dilemparkan setelah dibunuh dengan kejam. Dimana-mana, di seluruh pojok tanah air, terkubur jasad rakyat tanpa nisan, yang di bunuh tanpa hukum dan peradilan. Rakyat menjadi takut dan gentar dengan kekejaman dan terror yang dilakukan atau direstui serta dilindungi oleh Angkatan Darat di bawah pimpinan Jenderal Suharto.
Aksi Penangkapan dan pembunuhan 6 jenderal oleh gerakan militer yang menamakan dirinya Gerakan 30 September -G30S- yang berlangsung pada dinihari 1 Oktober 1965, menjadi dasar dan alasan buat Letjen Suharto dan para grupnya melaksanakan pembunuhan massal atau genosida atas jutaan bangsa Indonesia. Dengan dalih membasmi G30S, yang oleh pihak militer direka identik dengan PKI dan diperkenalkannya dengan nama G30S/PKI, dilangsungkanlah perburuan dan pembunuhan massal atau genosida yang terbesar setelah Perang Dunia ke-2. Bertrand Russel, pemikir besar Liberalisme, menyebut pembunuhan massal ini sebagai hal yang amat mengerikan yang mustahil bisa dilakukan oleh [mahluk yang bernama-pen] manusia. (Perang Urat Syaraf…Kompas 9 Pebruari 2001) “Dalam empat bulan, manusia yang dibunuh di Indonesia, lima kali dari jumlah korban perang Vietnam selama 12 tahun” (“In four months, five times as many people died in Indonesia as in Vietnam in twelve years”
Lebih gamblang lagi adalah Pengakuan Letjen Sarwo Edhi Wibowo, Komandan RPKAD di depan Team Pencari Fakta, yang dengan bangga mengaku telah membunuh 3 juta orang komunis!
Akan tetapi, kendatipun begitu banyak korban pembunuhan massal/genosida yang dilakukan oleh Angkatan Darat pada tahun 1965/66 itu, masih ada saja tokoh-tokoh dan para mantan jenderal militer yang mengatakan bahwa “tidak ada Jenderal yang membunuh rakyatnya” ( Jenderal Sutiyoso-myRMnews, 24 April 208), “tidak ada genosida di Indonesia. Genosida itu seperti yang terjadi di Jerman, Rwanda………..” (Jenderal Wiranto-myRMnews 24/4/08). Bahkan Mantan Wakil Presiden R.I. yang pernah menjadi tokoh KAMI Bagian Indonesia Timur di Makasar pernah mengatakan “peristiwa itu kan sudah lama……perlu apa dibicarakan”.(dari sebuat tulisan Ibrahim Isa). Dan ucapan tokoh pimpinan KAMI itu disambut dan digendangi oleh SBY, Presiden R.I. sendiri dengan ucapannya bahwa “membicarakan G30S sebagai tidak produktif……………….” (RMMinggu, 01 Oktober 2006, 06:33:55 WIB)
Sehingga benarlah apa yang ditulis oleh H A. Mustofa Bisri, pengasuh pesantren Rodlatut Thalibin, Rembang, bahwa Suharto, ”Jenderal terkuat yang saat berkuasa mampu menyihir banyak orang pintar menjadi bebek-bebek, meneluh wakil-wakil rakyat menjadi gagu, dan membuat pers tiarap sekian lama”. Bahkan, setelah Suharto matipun, para pengikut dan kroninya yang tak ubahnya seperti kambing-kambing congek yang sekarang masih banyak menduduki kursi-kursi empuk di pemerintahan, terbukti tetap berkaok-kaok membela sang majikan tercinta dan menutupi segala kejahatan dan kebrutalan rezimnya dari pengetahuan Rakyat, bahkan ingin mengangkat si pembunuh zalim menjadi pahlawan.
Seperti yang pernah ditulis oleh Ibrahim Isa (Netherland): “Ada yang tidak mau tahu tentang kasus 65 itu, karena dirinya atau golongannya sendiri, memang terlibat dalam kejahatan terhadap kemanusiaan ketika itu. Sebagian orang juga bersikap acuh tak acuh, karena bagaimanapun adalah berkat Orba, yang kayak apapun kejahatannya ketika itu, toh telah memberikan kesempatan dan peluang sehingga mareka menjadi pejabat penting ataupun orang kaya sekarang ini. Jadi mareka-mareka itu bagaimanapun merasa telah “berhutang budi” pada Suharto, pada rezim Orba. Dan ada pepatah kita yang mengatakan “hutang budi dibawa mati” Padahal. Presiden A.S., Barack Obama sendiri dalam satu tulisannya mengatakan: “………the CIA began providing covert support to various insurgencies inside Indonesia, and cultivated close links with Indonesia’s military officers, many of whom had been trained in the United States. In 1965, under the leadership of General Suharto, the military moved against Sukarno, and under emergency powers began a massive purge of communists and their symphathizers. According to estimates, between 500.000 and one million people were slaughtered during the purge, with 750.000 others imprisoned or forced to exile”.[1]

Memang tepat seperti apa yang pernah ditulis oleh Ibrahim Isa: “Ada yang tidak mau tahu tentang kasus 65 itu, karena dirinya atau golongannya sendiri, memang terlibat dalam kejahatan terhadap kemanusiaan ketika itu. Sebagian orang juga bersikap acuh tak acuh, karena bagaimanapun adalah berkat Orba, yang kayak apapun kejahatannya ketika itu, toh telah memberikan kesempatan dan peluang sehingga mareka menjadi pejabat penting ataupun orang kaya sekarang ini. Jadi mareka-mareka itu bagaimanapun merasa telah “berhutang budi” pada Suharto, pada rezim Orba. Dan ada pepatah kita yang mengatakan “hutang budi dibawa mati”
Sebelum pemilihan presiden putaran terakhir pada 2004, Ilham Aidit, putra DN Aidit, Pemimpin PKI dalam mengikuti silaturahmi yang digagas oleh dai kondang Aa Gym, bertemu dengan calon presiden Susilo “SBY” Bambang Yudhoyono. Dalam pertemuan di mana mereka duduk bersama dan berdampingan itu, setelah berbincang-bincang, dengan tangannya yang besar dan kekar SBY memegang paha kiri Ilham dan berkata “kita harus menyelesaikan masa lalu, namun dengan cara yang arif.” Setelah SBY terpilih menjadi Presiden, rakyat berharap semoga apa yang pernah diucapkannya itu akan menjadi kenyataan, yaitu “menyelesaikan masa lalu”. Akan tetapi, ya, akan tetapi, setelah beliau menjadi Presiden, jangankan “menyelesaikan masa lalu dengan cara yang arif” malahan beliau mengatakan bahwa “membicarakan G30S sebagai tidak produktif……………….” Apakah maksud dan pikiran beliau “menyelesaikan masa lalu” itu berarti menutup habis dan melupakan begitu saja jutaan korban tanpa salah yang dibantai oleh Angkatan Darat? Apakah begitu?
Rupanya begitulah pikiran-pikiran dan ucapan-ucapan “tokoh-tokoh” hipokrit yang coba mengelabui rakyat dengan kepandaian bermain lidah dan berusaha menutup dan melupakan sejarah. Dengan menelanjangi tubuh-tubuhnya sendiri mereka berlindung di balik lalang sehelai dan mengengkari ucapan Pemimpin Besar Bangsa Indonesia: “Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah!”.
Kendatipun generasi muda Indonesia yang lahir setelah 1965 tidak mengalami langsung Peristiwa yang meninggalkan trauma bangsa sampai sekarang, Peristiwa yang merobah jalannya Sejarah dan Revolusi Indonesia, Peristiwa yang menghancur luluhkan susunan dan tata kehidupan bangsa, kaum muda tidak tinggal diam dan senantiasa belajar dan mencari kebenaran sejarah atas Peritiwa 1965 yang menelan jutaan korban. Namun, tidak sedikit juga yang menganggap dan berpendapat bahwa segala apa yang disampaikan dan ditulis oleh ahli-ahli pengikut Suharto dan Ordebaru, sebagai suatu kebenaran, tanpa mau melakukan penyelidikan. Mata dan hati mereka dibutakan oleh kenyataan bahwa semenjak Peristiwa 1965, semenjak kudeta Suharto sampai hari ini, keadaan negeri tercinta bukannya bertambah baik malahan sebaliknya. Tanah, air dan udara bumi tercinta telah tergadai dan terjual, dan rakyat tidak punya apa-apa!
Banyak buku dan hasil riset telah ditulis dan dicetak juga berbagai milis dalam internet mengenai Peristiwa 1965 itu.  Namun, umumnya buku dan tulisan itu jarang atau hampir tidak ada sama sekali mengungkapkan tentang pembunuhan massal atau genosida yang terjadi, yang dilakukan oleh Jenderal Angkatan Darat dan kaum milisia dan golongan agama. Kalaupun ada, hanya menggambarkan bahwa pembantaian atau genosida itu disebabkan kesalahan orang atau rakyat yang yang dibantai itu sendiri, karena menjadi golongan kiri atau PKI, yang mereka identikkan sebagai terlibat G30S, langsung maupun tidak langsung. Sedang mereka yang dibantai, tidak tahu sebab dan mengapa mereka dibantai dan dibunuh! Para ahli dan cerdik pandai bisu membungkam, menjadi kambing-kambing congek yang mengabdi kepentingan para Jenderal Angkatan Darat dan rezim Suharto dan penerusnya.
Banyak korban Peristiwa 65 yang kini telah menua dan sakit-sakitan akibat kezaliman rezim Orba, dan yang kini hanya menunggu saat napas terakhir keluar dari hidungnya, namun mereka tidak mau tinggal diam dan berhenti menjadi saksi dalam mengungkap Peristiwa 65 yang menelan sangat banyak korban itu. Kendatipun mereka mesti menulis sambil tidur karena memang jompo lemah jasmani, mereka tetap berusaha menjelaskan kebenaran sejarah yang selama ini diputar belokkan oleh rezim orba Suharto serta penerusnya.
Untuk mengetahui apa dan bagaimana Peristiwa 1965 yang mengerikan, yang menelan jutaan nyawa bangsa Indonesia yang tak berdosa, yang membuat trauma yang tak terobati sampai sekarang, marilah sedikit kita telusuri, kita pelajari, apa dan bagaimana dan kita renungkan sebagai suatu sejarah hitam bangsa Indonesia, demi perjuangan bangsa untuk mengarahkan kembali Revolusi 1945 ajaran Bung Karno, yang semenjak 1 Oktober 1965 diputar belokkan oleh penguasa kudeta yaitu Jenderal Ordebaru Suharto.
Semoga tulisan dan analisa pribadi ini ada gunanya!
G30S

Dinihari, Jumat 1 Oktober 1965, kiranya merupakan pagi yang kelabu bagi bangsa dan rakyat Indonesia. Di subuh pagi itu, sekelompok perwira muda Angkatan Darat, melalui suatu gerakan yang mereka beri nama Gerakan 30 September, dibawah pimpinan Letkol. Untung Samsuri, Komandan Yon I Cakrabirawa, Pasukan Pengawal Presiden; Kolonel A. Latief, Komandan Brigade Infantri 1 Kodam V Jaya dan Brigjen Supardjo menggunakan militer bawahannya, bertindak melakukan penculikan dan penangkapan terhadap para perwira tinggi Angkatan Darat yang diduga tergabung dalam organisasi “dewan jenderal” dan bakal melakukan kudeta terhadap Presiden Soekarno. Penangkapan dan penculikan yang katanya bertujuan untuk membawa dan menghadapkan para jenderal Angkatan Darat itu kepada Presiden Sukarno, ternyata berakir dengan pembunuhan yang mengenaskan, yang jenazahnya dibuang di sumur tua yang disebut Lubang Buaya, di daerah Kebun Karet Pondok Gede Jakarta.
Enam Jenderal dan seorang Perwira menengah menjadi korban di malam dan pagi naas itu. Mereka adalah: Jenderal Ahmad Yani, Menteri/Panglima Angkatan Darat; Mayjen. Suprapto, Asisten II Men/Pangad; Mayjen. Haryono M. T., Asisten III Men/Pangad; Mayjen. S. Parman, Asisten I Men/Pangad; Brigjen. D.I. Panjaitan, Asisten IV Men/Pangad; Brigjen. Sutoyo Siswomiharjo, Oditur Jenderal Angkatan Darat.
Jenderal Abdul Haris Nasution, Kepala Staf Angkatan Bersenjata RI, berhasil lolos, namun ajudannya, Letnan P. Tendean, dan anak Jenderal A.H.Nasution, Ade Irma Suryani, menjadi korban.
Sebelum orang tahu apa yang terjadi, Yoga Sugama yang tahun 50-an pernah dikirim oleh KSAD Zulkifli Lubis mengikuti pendidikan Intel pada MI-6 Inggris, pada pagi hari 1 Oktober 65 itu, mengaku lebih dahulu sampai di Kostrad. Sebagai Asisten I Kostrad/Intelijen, mendengar kejadian pagi subuh 1 Oktober itu, serta merta Yoga Sugama menyatakan bahwa hal itu pasti perbuatan PKI. Ketika pengumuman RRI Jakarta pada jam 07.00 pagi, menyampaikan tentang Gerakan 30 September di bawah Letkol Untung, maka Yoga Sugama-pun memerintahkan, “Siapkan semua penjagaan, senjata, bongkar gudang. Ini PKI berontak.” Yoga Sugama mengucapkan “kesimpulannya” itu, karena Untung pernah menjadi anak buahnya dalam RTP II Bukttinggi waktu bertugas menumpas PRRI di Sumatra Barat dan dianggapnya sebagai kiri. Begitu juga Ali Murtopo yang pernah training di CIA, dengan gembira menyokong ucapan Yoga Sugama itu.

 

Beberapa jam setelah para jenderal diculik dan dibunuh, kelompok bayangan Soeharto ini, Yoga dan Ali, langsung mengumumkan rekayasa dengan mengatakan “G30S didalangi PKI”. Lantas Soeharto memerintahkan: “Basmi dulu partai itu (PKI), bukti-bukti cari kemudian”. Dan tanpa selidik dan tanpa pemeriksaan terlebih dahulu, kontan saja di belakang kata G30S diberi embel-embel PKI, menjadi G30S/PKI. Lebih jelek lagi, Kolonel Haji Sugandhi, Pemimpin Redaksi Harian Angkatan Bersenjata menciptakan suatu sebutan baru, tanpa mengikuti kaedah dan peraturan Bahasa Indonesia, merobah “Gerakan 30 September” menjadi “Gerakan September Tiga Puluh” yang disingkatnya menjadi Gestapu, guna memberikan gambaran kekejaman seperti Gestapo Nazi Jerman dalam Perang Dunia Kedua. Berkat Angkatan Darat, jadilah dan disebutlah G30S sebagai Gestapu/PKI.
Jenderal Suharto yang ketika itu adalah Panglima Komando Strategi Angkatan Darat (Pangkostrad), yang datang kemudian, dalam kesempatan itu, dengan licik bertanya kepada Yoga Sugama, “Apa kira-kira Presiden Soekarno terlibat dalam gerakan ini?” Tanpa selidik dan tanpa pemeriksaan, Yoga Sugama yang Ass. I Kostrad/Perwira Intelijen langsung menjawab : “Ya”. Jawaban spontan yang tanpa penyelidikan, tanpa bukti dan fakta ini menuduh Presiden/Pangti ABRI Bung Karno sebagai terlibat dengan gerakan para militer muda itu!. Jawaban Yoga Sugama ini nampak seperti sudah diatur, disutradarai oleh “tiga sekawan” Suharto, Yoga dan Ali Murtopo, agar Yoga Sugama mengatakan begitu. Hal ini sangat membesarkan hati Soeharto, karena sesuai dengan ambisi dan keinginannya seperti apa yang pernah diucapkannya kepada Kolonel A.Latief, dua hari sebelumnya, Jenderal Soeharto MENGHENDAKI Presiden SOEKARNO DIGANTI.
Dengan demikian rencananya untuk menghancurkan kekuatan PKI dan menggulingkan Presiden Soekarno, “sepertinya mendapat dukungan dari bawah.”
Catatan: Ketika Kol. Latief berkunjung kerumah Suharto membicarakan masalah gerakan. Pengakuan Kol. Latief adalah: “Seperti biasanya, pada tanggal 28 September 1965 sekitar pukul 20,00 (malam hari) saya dan istri berkunjung ke rumah Jenderal Soeharto/Pangkostrad di Jl Agus Salim Jakarta, di saat itu sewaktu berdua dengan saya, Jenderal Soeharto menegaskan pada diri saya bahwa Jenderal Soeharto MENGHENDAKI (kata yang ditekankan kepada diri saya) Presiden SOEKARNO DIGANTI, karena selalu membikin ribut. Saya jawab: ‘Tidak mungkin, karena BUNG KARNO didukung rakyat!'; —- KESAKSIAN TAMBAHAN ATAS PERNYATAAN DAN TUNTUTAN Kol. A. Latief TERTANGGAL 01 JANUARI 2003 Kolom Ibrahim Isa, http://www.pewarta-kabarindonesia.blogspot.com. (Silahkan Lihat juga Mengorek Abu Sejarah Hitam Indonesia/Ultimus 2010, halaman 117)
Presiden Soekarno yang berada di Halim pada pagi hari itu dan mendengar gugurnya para perwira tinggi AD, tidak mau mendukung G30S dan memerintahkan Brigjen Supardjo menghentikan gerakannya, dan Supardjo sebagai militer mematuhi Perintah Presiden/Pangti ABRI ini.
Selanjutnya, Presiden Soekarno, selaku Pangti ABRI, setelah mendengar meninggalnya Jenderal Ahmad Yani, mengeluarkan Perintah Presiden/Panglima Tertinggi ABRI/Pemimpin Besar Revolusi Indonesia yang menyatakan: “Pimpinan Angkatan Darat RI sementara berada langsung dalam tangan Presiden/Panglima Tertinggi ABRI. Bahwa untuk melaksanakan tugas sehari-hari dalam Angkatan Darat ditugaskan untuk sementara Mayor Jenderal TNI Pranoto Reksosamudro Ass III/Pangad….” Perintah Presiden/Panglima Tertinggi ABRI itu dikeluarkan pada 1 Oktober 1965, dan memerintahkan ajudan beliau Kol. KKO Bambang Widjanarko memanggil Pranoto Reksosamudro dan Umar Wirahadikusuma Pangdam V Jaya untuk menghadap.
Akan tetapi, pada jam 9.00 pagi hari itu juga, dalam rapat yang berlansung di Markas Kostrad, di bawah pimpinan Letjen Suharto selaku Panglima Kostrad, setelah mengetahui bahwa Letjen A. Yani Menpangad telah terbunuh, Suharto dengan mengabaikan perintah dan keputusan Presiden/Pangti ABRI, “mengangkat dan menetapkan dirinya” sebagai Panglima Angkatan Darat.

Ketika Ajudan Presiden Kol. KKO Bambang Wijarnako datang ke Makostrad menyampaikan Perintah Presiden/Panglima Tertinggi ABRI itu dikeluarkan pada 1 Oktober 1965, meminta Pranoto Reksosamudara dan Umar Wirahadikusuma Pangdam V Jaya untuk menghadap Presiden, disambut oleh Pangkostrad Jenderal Suharto dengan angkuh dan galak, sambil mengatakan kepada kurir Presiden Soekarno dalam bahasa Belanda: “Jendral Umar blijft hier!” (Y.Pohan: “Siapa yang melakukan kudeta…” (http://www.munindo.brd.de/archiv/pohan.htm)
Dengan perilaku Suharto dan kejadian pada pagi hari 1 Oktober itu, maka mulailah gerakan pembangkangan dan pengengkaran perintah Pangti ABRI/Presiden Sukarno oleh Letjen Suharto. Lebih jauh lagi, bahkan lewat kurir pribadi Ajudan Presiden Kol. Bambang Wijarnako tersebut, Suharto memberi “perintah dan petunjuk” kepada Presiden/Pangti ABRI Sukarno, agar segala persoalan yang menyangkut militer harus melalui dirinya, Pangkostrad Letjen Suharto.
Sejalan dengan itu, Suharto dengan sigap-seperti kucing yang telah siap menunggu, segera menerkan, “melumpuhkan” kekuatan G30S yaitu Yon 454/Diponegoro dan Yon 530/Brawijaya dengan menggunakan pasukan RPKAD Yon 328/Kujang Siliwangi, yang semuanya adalah pasukan yang dipanggil dan berada di bawah pimpinan Pangkostrad Jenderal Suharto sendiri.
RRI yang pagi hari digunakan oleh G30S untuk menyiarkan pengumumannya, sore harinya diserahkan kepada Kostrad. Oleh Pangdam V Jaya Letjen Umar Wirahadikusuma, di Jakarta diumumkan dan diberlakukan “jam malam” dan semua surat kabar media dilarang terbit, kecuali suratkabar militer yaitu Angkatan Bersenjata, Berita Yudha dan Api Pancasila. Waktu jam malam dan pelarangan terbit media massa itu, digunakan oleh pihak militer melalui RRI dan korannya untuk mengkampanyekan keterlibatan PKI dalam G30S. Semua berita fitnah dan rekayasa yang telah dipersiapkan pihak militer disiarkan oleh Koran Angkatan Bersenjata, Berita Yudha dan Api Pancasila. Ternyata, usaha pihak militer yang dikepalai oleh Pangkostrad Letjen Suharto ini berhasil menanamkan “kepercayaan”, simpati dan dukungan kuat masyarakat terhadap gerakan penumpasan yang dipimpin Suharto. G30S yang cuma “berkuasa” beberapa jam di Radio, dapat “dilumpuhkan” oleh pasukan Kostrad/Suharto dengan mudah. Para prajurit yang digunakan sebagai kekuatan G30S, lari ke markas induk yaitu Kostrad minta makan.
Kendatipun para pentolan dan penggerak G30S seperti Untung, Latief dan Supardjo dll. dapat segera ditangkap dan ditahan, banyak sipil dan militer yang langsung “diselesaikan” tanpa melalui pengadilan dan hukum. Hari-hari selanjutnya bukan hanya merupakan hari yang kelabu, namun merupakan hari-hari yang gelap gulita dan hitam bagi bangsa dan rakyat Indonesia. karena pembunuhan yang dilakukan seperti atas para jenderal itu, sesungguhnya tidak berhenti hanya sampai disitu, namun berlanjut dengan pembantaian yang dilakukan oleh Angkatan Darat dan milisia/golongan agama serta massa kanan, dengan restu dan langsung maupun tidak langsung perintah pembersihan dari Jenderal Suharto, terhadap golongan dan rakyat yang dituduh “gestapu/pki” dan golongan kiri umumnya. Dengan alasan membasmi dan membersihkan sisa-sisa G30S, dilakukanlah pembunuhan di seluruh pelosok tanah air. Persada tanah air menjadi banjir darah orang-orang yang tak berdosa, besar kecil, tua muda, lelaki maupun perempuan, dibantai tanpa hukum dan pemeriksaan!

 

Manusia Indonesia hidup dalam ketakutan dan saling curiga mencurigai. Pembunuhan terhadap golongan kiri di mana-mana. Sungai-sungai penuh dengan mayat-mayat tak berkepala, jalan-jalan dan rawa-rawa serta jurang dipenuhi tubuh-tubuh tanpa nyawa, kepala-kepala yang dipenggal oleh manusia-manusia yang mengaku bertuhan dan berperikemanusiaan, dipacakkan di simpang-simpang atau tepi jalan menjadi tontonan dan hiburan manusia-manusia haus darah. “Dalam empat bulan, manusia yang dibunuh di Indonesia, lima kali dari jumlah korban perang Vietnam selama 12 tahun.” (Perang Urat Syaraf…Kompas, 9 Februari 2001). Dan Bertrand Russel, pemikir besar liberalisme, menyebut pembunuhan massal ini sebagai hal yang amat mengerikan yang mustahil bisa dilakukan oleh [mahkluk yang bernama] manusia. Sementara itu dalam Komisi Pencari Fakta yang dibentuk oleh Pemerintah, Letjen Sarwo Edhi Wibowo, Komandan RPKAD, dengan bangga mengakui telah membunuh 3 juta orang komunis. Suatu prestasi yang sangat membesarkan hati Imperialis Amerika!

“Ketangkasan” Mayjen Soeharto dalam meredam aksi G30S memancing kecurigaan Ratna Sari Dewi Soekarno, istri ketiga Bung Karno yang berasal dari Jepang. Katanya: “Sepertinya Soeharto sudah tahu semua, seakan telah direncanakan, … Bagaimana dia bisa memecahkan masalah yang terjadi pada malam 30 September dan segera bertindak. Begitu cepat. Kalau belum tahu rencana G30S, ia tak mungkin bisa melakukannya”
Bahkan Mike Head yang menulis dalam Sydney Morning Herald, 19 July 1999, mengatakan: “The speed with which Soeharto moved on October 1 support the conclusion that, acting in concert with the US agencies, he engineered the whole operation to eliminate his rivals and provide a pretext for moving against Soekarno and the PKI”.
Benarkah dugaan dan kecurigaan Ratna Sari Dewi dan tulisan Mike Head, wartawan Sydney Morning Herald Australia itu? Lebih daripada itu, benarkah Gestok itu adalah “Gerakan Suharto 1 Oktober”?
Pembangkangan dan “gerakan” Suharto melawan atasannya yaitu Presiden RI/Pangti ABRI, dengan menggunakan kliknya dalam Kostrad dan Angkatan Darat (Suharto-Yoga Sugama dan Ali Murtopo) yang dimulainya pada pagi hari 1 Oktober itu, oleh Bung Karno disebut “Gerakan 1 Oktober” atau disingkat Gestok. Dalam satu kesempatan Bung Karno mengatakan bahwa “Gestok adalah lawannya G30S”.
Namun, Dr. Asvi Warman Adam mengatakan, “Kita tahu, gerakan ini menyebut diri sebagai Gerakan Tiga Puluh September. Karena itu, lebih objektif bila peristiwa itu disebut sebagai G30S, bukan Gestapu dan bukan pula Gestok.” (Kompas, Senin, 30 September 2002). Apa yang dikatakan Dr. Asvi memang benar. G30S adalah Gerakan Tigapuluh September. Akan tetapi, aksi penculikan dan pembunuhan oleh G30S itu dilakukan pada subuh hari 1 Oktober, sehingga ketika Bung Karno menyebut “Gestok”, Gerakan Satu Oktober, maka asosiasi rakyat adalah bahwa G30S itu disebut juga sebagai Gestok. Akan tetapi, mungkin bukan itu yang dimaksud oleh Bung Karno, karena beliau mengatakan “Gestok adalah lawannya G30S”. Jadi, ini berarti ada 2 gerakan. Gerakan 30 September dan Gerakan Satu Oktober, yang kedua-duanya sama-sama mulai beraksi pada hari 1 Oktober itu.
Seandainya kita tidak mau menggunakan nama “gestok” untuk “Gerakan Suharto 1 Oktober” yang melawan Pangti ABRI, (Selama 32 tahun Suharto berkuasa, tidak pernah terdengar sebutan Gestok), maka apakah tidak mungkin bahwa gerakan Suharto 1 Oktober itu adalah sebenarnya penerusan atau kelanjutan dari G30S. Karena kita bisa melihat dan mempelajari bahwa tokoh-tokoh G30S seperti Untung, Latief, dan Supardjo sangat erat hubungannya dengan Suharto. Kemudian, Gerakan Suharto 1 Oktober, sangat erat hubungannya dengan Yoga Sugama dan Ali Murtopo yang adalah klik dan bawahannya Suharto. Dengan kata lain, baik G30S maupun Gestok sama-sama berada di bawah satu komandan yaitu Pangkostrad, Letjen Suharto sendiri!

 

Banyak sudah tulisan-tulisan atau buku yang menceritakan tentang tokoh-tokoh militer dan sipil yang menjadi pentolan G30S seperti Untung, Latief, Suparjo, Syam Kamaruzaaman serta hubungannya dengan Suharto. Karena ruangan ini tidak memungkinkan kita buat menceritakan kembali satu persatu secara menyeluruh maka kita ambil saja point penting yang dirasa perlu, yang kita peroleh dari hasil riset dan tulisan Drs. Harsutejo.

Letkol. Untung Samsuri

Yang saat itu adalah Komandan Yon I Pasukan Pengawal Presiden Cakrabirawa, adalah lulusan Akmil yang terbaik, bersama Benny Murdani bertugas dalam perebutan Irian Barat dan merupakan salah satu anak buah Soeharto yang dipercaya. Kendatipun tidak sekelas dengan Suharto, Untung juga tergabung dalam “Kelompok Pathuk” dan bertemu kembali dengan Suharto tahun 1962. Untug  menikah tahun 1964 dengan gadis hasil carian Ibu Tien Suharto, di mana pernikahannya dihadiri oleh Suharto dan istrinya di Kebumen. Dengan demikian, Untuk adalah merupakan anak mantu angkat Suharto.

Letkol. Untung pernah dikirim belajar ke AS. Menurut catatan CIA tertanggal 1 Oktober 1965 dalam “CIA, 2001:300, memorandum untuk Presiden Johnson” bahwa Untung memiliki “military police background and was trained in the United States.

Sebelum pelaksanaan G30S, Untung menemui Suharto dan menyampaikan rencananya untuk menangkap dan membawa para jenderal yang diduga akan melakukan kup kehadapan Bung Karno. Dengan antusias, Suharto menjawab: “Bagus kalau kamu punya rencana begitu. Sikat saja, jangan ragu-ragu. Kalau perlu bantuan pasukan akan saya bantu. Dalam waktu secepatnya akan saya datangkan pasukan dari Jawa Timur dan Jawa Tengah”

 

Untuk merealisasinya, Suharto memanggil Batalyon dari Jateng dan Timur dengan telegram No. T.220/9 (15 September 1965) dan mengulanginya dengan radiogram No. T.239/9 tanggal 21 September 1965 kepada Yon 530 Brawijaya Jawa Timur dan Yon 454 Banteng Raider Diponegoro Jawa Tengah untuk datang ke Jakarta dengan kelengkapan tempur penuh. Ketika Batalyon itu sampai di Jakarta, di terima dan diinspeksi oleh Suharto selaku Pangkostrad. Tanggal 30 September 1965 jam 17.00 Yon 454 diperintahkan ke Lubang Buaya untuk bergabung dengan pasukan lainnya guna melakukan gerakan pada malam harinya.

 

Pada 1 Oktober 1965, Untung tampil sebagai pemimpin Gerakan 30 September yang menculik para jenderal AD, yang ternyata kemudian dibunuh. Pembunuhan para jenderal ini, dianggap menyimpang dari rencana mereka semula, yang hanya akan menangkap dan menghadapkan para jenderal kepada Presiden.

Setelah G30S meletus dan gagal dalam operasinya, Untung melarikan diri dan menghilang beberapa bulan lamanya sebelum kemudian ia tertangkap, dan ditahan. Setelah melalui sidang mahmilub yang kilat, Untung pun dieksekusi di Cimahi, Jawa Barat pada tahun 1969.

Kolonel A. Latief

Menurut riset dan tulisan Harsutejo dalam “Sekitar G30S”, pada awal tahun-tahun kemerdekaan, A. Latief, yang pada waktu itu berpangkat Kapten, pernah menjadi Komandan Kompi dari Kesatuan dibawah pimpinan Letkol. Soeharto di Yogyakarta Dalam Serangan Umum 1 Maret di Yogya,  Pasukan Kapten Latief yang masuk ke Yogya dari Godean.

Belakangan, Latief menjadi Komandan Brigade Infanteri I Kodam Jaya, suatu kedudukan yang strategis. Sebagai Komandan Kostrad pun Soeharto mendekati Kolonel Latief antara lain dengan mendatangi rumahnya ketika Latief mengkhitankan anaknya.

Latief sendiri menyatakan karier kemiliterannya nyaris selalu mengikuti jejak Suharto. Pada gilirannya membuat hubungan Latief dan Suharto bukan lagi sekedar bawahan dan atasan, melainkan sudah sebagai dua sahabat. Suharto tahu Latief tak akan melakukan sesuatu yang dapat merugikan dirinya. Sudah sejak setelah agresi kedua, Latief merasa selalu mendapatkan kepercayaan dari Suharto sebagai komandannya yakni memimpin pasukan pada saat yang sulit. Ketika Trikora pun ia masih dicari bekas komandannya itu, tetapi Latief sedang mengikuti Seskoad. Pada bulan Juni 1965 Mayjen Suharto meminta agar Latief dapat memimpin suatu pasukan di Kalimantan Timur, akan tetapi Umar Wirahadikusuma menolak melepasnya karena tenaganya diperlukan untuk tugas keamanan di Kodam V Jaya.

Di luar dinas Latief mempunyai hubungan kekeluargsaan yang cukup akrab dengan Suharto dan sering berkunjung ke rumahnya. Ketika Sigit, anak Suharto dikhitan, isteri Latief datang. Sebaliknya ketika Latief mengkhitankan anaknya maka Suharto dan Ibu Tien juga datang ke rumahnya. Bahkan pada 28 September 1965 ketika Latief berkunjung ke rumah Suharto di Jl HA Salim, ia membicarakan soal tukar-menukar rumah dinas. Latief menawarkan rumah dinas baginya di Jl Jambu bekas kedutaan Inggris yang lebih besar untuk ditukar dengan kediaman Suharto yang lebih kecil yang sedang ditempatinya.

 

3 minggu sebelum meletusnya G30S, Letkol. Untung  dan Kol. Latief  masing masing sebagai Komandan Batalion 1 Cakrabirawa dan Komandan Brigade Infantri 1 Kodam V Jaya , sudah merundingkan dengan Suharto langkah-langkah yang perlu diambil, sebab Untung dan Latief kedua-duanya bekas anak buah Suharto, dan persahabatan mereka terus berkelanjutan”

(http://www.geocities.com/arsip_nasional/politik/politik12.htm)

 

: Seperti biasanya, pada tanggal 28 September 1965 sekitar pukul 20,00 (malam hari) saya dan istri berkunjung ke rumah Jenderal Soeharto/Pangkostrad di Jl Agus Salim Jakarta, di saat itu sewaktu berdua dengan saya, Jenderal Soeharto menegaskan pada diri saya bahwa Jenderal Soeharto MENGHENDAKI (kata yang ditekankan kepada diri saya) Presiden SOEKARNO DIGANTI, karena selalu membikin ribut. Saya jawab: ‘Tidak mungkin, karena BUNG KARNO didukung rakyat!';(Catatan:  Sayang sekali. Kolonel Latief tidak menaruh perhatian akan ucapan yang merupakan iktikad Soeharto yang “menghendaki” Presiden Soekarno diganti ini, sehingga Latief sebagai prajurit, sebagai bawahan, tetap melanjutkan gerakan yang sudah mereka rencanakan.—Pen.)

 

“Pada tanggal 29 September 1965, antara pukul 09.00 – 10.00 (siang hari) saya menemui Jenderal Soeharto yang di saat itu sedang menunggu putranya yang tersiram sup panas yang sedang dirawat di RSPAD Gatot Soebroto. Pada tanggal 30 September, jam 11.00 malam hari, Kolonel Latief atas persetujuan Untung dan Supardjo.

 

mengunjungi Jenderal Soeharto di RSPAD Gatot Subroto untuk melaporkan situasi “gerakan” yang bakal dimulai empat jam lagi.

 

Kolonel Latief ditangkap sepuluh hari setelah kegagalan gerakan, tetapi ia diadili 13 tahun kemudian pada 1978. Sedang vonisnya baru mendapatkan kepastian hukum pada tahun 1982. Latief merupakan saksi kunci yang dapat menggoyahkan kedudukan Jenderal Suharto.

Seperti yang tercantum dalam pembelaannya di depan Mahmilub pada 27 Juni 1978. Letkol Latief tetap menuduh Jenderal Suharto sebagai ikut terlibat dalam G30S. Namun, sampai maut menjemputnya pada 6 April 2005 di rumahnya di Tangerang, tidak menjelaskan secara terperinci, sampai berapa jauh keterlibatan Jenderal Suharto dalam G30S.

Brigjen Supardjo 

IA berasal dari Divisi Siliwangi, pasukan Supardjo-lah yang telah berhasil menangkap gembong DI, Kartosuwiryo, dan mengakhiri pemberontakan DI di Jawa Barat. Kemudian ia ditugaskan ke Kostrad, lalu menjabat sebagai Panglima Kopur II Kostrad di bawah Jenderal Soeharto. Tokoh ini juga cukup dekat dengan Soeharto. Hampir dapat dipastikan bahwa tokoh ini pun, seperti kedua tokoh sebelumnya, yakni Letkol. Untung dan Kolonel Latief, seseorang yang memiliki kesetiaan tinggi kepada Presiden Soekarno.

Supardjo merupakan anggota kelompok yang biasa disebut kelompok Kolonel Suwarto (Seskoad Bandung), yang di dalamnya terdapat Alamsyah, Amir Makhmud, Basuki Rakhmad, Andi Yusuf, Yan Walandow.

Ia mempunyai hubungan lama dengan CIA dan menjadi petugas Soeharto dalam mencari dana dari luar negeri. Ia pun anggota trio Soeharto—Syam—Latief, cs. [Untung, Supardjo], begitu tulis A.M. Hanafi. Brigjen. Supardjo pernah mendapatkan pendidikan militer di Amerika yakni di Fort Bragg dan Okinawa. Tentulah pemilihannya selain berdasar kriteria di dalam negeri yakni pihak AD, juga telah melalui seleksi ketat baku yang dikendalikan oleh CIA. Sampai di mana tangan dinas rahasia CIA bermain dalam hubungan ini?

Setelah kegagalan G30S, ketika ditahan di RTM Budi Utomo, Jakarta, dalam keadaan diisolasi Supatjo mendapat simpati banyak orang, dari petugas maupun tahanan lain.

Di depan mahmilub, jenderal ini telah menantang agar bukan cuma G30S yang diadili, tetapi juga Dewan Jenderal (DJ). Untuk itu ia siap membuktikan keberadaan DJ, kegiatan mereka masa prolog yang menjurus pada Peristiwa G30S dan masa yang sama serta bahan-bahan setelah kejadian. Tentu saja permintaan semacam itu hanya menjadi suara di padang pasir tanpa gaung dalam situasi pengadilan penuh rekayasa serta tekanan politik dan penindasan fisik masif rezim orba. Sedang permintaan sederhana yang amat wajar dari Sudisman di mahmilub untuk menghadirkan Supardjo sebagai saksi tidak dipenuhi.

Salah seorang putra Jenderal Supardjo mengisahkan detik-detik terakhir sebelum dia dieksekusi pada 16 Mei 1970. Ketika bertemu keluarganya, dia meminta mereka menggenggam dan menghancurkan sebuah apel, lalu dia memberikan ke masing-masing anaknya apel yang telah digigitnya untuk dihancurkan. “Kalau Kalian terdiri dari kepingan-kepingan kecil, akan gampang dihancurkan. Tapi jika kamu bersatu, mungkin akan hancur, tapi diperlukan kekuatan besar….” Pada saat terakhir, “Saya lihat ayah berjalan menuju tempat eksekusi. Dia mengenakan baju olahraga putih yang menurut dia bisa sekaligus untuk kafan. Ayah tenang berjalan menuju lapangan sambil menyanyikan lagu Indonesia Raya.” Demikian yang ditulis Tempo, 9 Oktober 2005.

 

Syam Kamaruzzaman

Bahan atau data-data  tentang tokoh sipil yang menjadi  “gembong “ G30S yaitu Syam Kamaruzzaman, sangat banyak dan bisa kita peroleh dari tulisan-tulisan para ahli riset dan sejarah seperti Ben Anderson, Dr. Asvi Warman Adam, Harsutedjo, dan Prof. John Roosa serta para ahli lainnya. Namun, untuk sekedar pengetahuan kita bersama, marilah sedikit kita kutip tulisan Harsutedjo tentang Syam ini

“Nama asli Syam  ialah Syamsul Qomar bin Mubaidah, dalam dokumen 1960-an disebut Kamarusaman bin Ahmad Mubaidah. Nama samarannya Sjamsuddin, Djiman, Karman, Ali Muchtar, Ali Sastra. Ia diduga membujang sampai umur 40 tahunan, juga tidak diketahui bagaimana keluarganya

Menurut Letkol. Ali Said, S.H., Syam bukan tokoh PKI sepele, ia dapat disejajarkan dengan D.N. Aidit. Ia sebagai jenderal intel PKI yang menjadi anggota PKI sejak 1949.

Syam bertindak sebagai intel di Resimen 22 Brigade 10, Divisi Diponegoro dengan pangkat letnan satu, eks Laskar Gabungan Yogya yang sebelumnya berada dalam satu Kelompok Pathuk bersama Letkol. Soeharto. Komandan resimennya ketika itu Mayor Haryosudirjo. Berdasar pengakuan Syam yang diceritakan kepada Latief, ia berada dalam pasukan Soeharto ketika SU 1 Maret 1949.   Sekitar 1947, Syam mulai berkenalan dengan D.N. Aidit yang mengajaknya untuk aktif di Pemuda Tani, afiliasi BTI. Sebagai intel pada Batalyon 10 Yogya, Lettu. Syam di bawah Letkol. Soeharto. Sejak itu Syam berhubungan dekat dengan Aidit maupun Soeharto. Hubungan persahabatannya dengan Soeharto berjalan selama 20 tahun. (Ada informasi yang mengatakan bahwa pada waktu itu Aidit juga merupakan anggota pemuda Kelompok Pathuk bersama Syam dan Suharto-pen).

Pada tahun 1949, Syam pindah ke Jakarta dan pada 1950 ia membantu pembebasan Aidit yang baru datang dari Vietnam [menurut mitos] yang ditahan di Tanjungpriok karena tidak punya tiket.

Pada tahun 1950—57, ia di SOBSI Jakarta, lalu sebagai sekretaris. Pada 1957 ia diangkat sebagai pembantu pribadi Aidit, Ketua PKI.

Peter Dale Scott menyebut Syam sebagai seorang kader PSI, pada tahun 1950-an ini juga ia sering datang dan menginap di rumah Soeharto di Yogya. Menurut Subandrio, yang juga Ketua Badan Pusat Intelijen (BPI), pada 1958, Syam perwira intelijen AD serta mitra lokal CIA. Dengan demikian Syam mempunyai hubungan tertentu dengan CIA, baik secara langsung atau pun tidak.

Ketika Kolonel Soeharto memasuki Seskoad di Bandung, Syam ikut serta dalam kursus militer itu, demikian menurut penyelidikan Poulgrain. Hubungan mereka begitu rumit. Kolonel Suwarto dididik di Amerika, ia sahabat Guy Pauker, orang penting CIA dalam hubungan dengan Indonesia, pernah mengajar di Barkeley, konsultan RAND Corporation yang menitikberatkan kontak-kontaknya dengan kalangan militer AD Indonesia. Suwarto pernah diundang Pauker meninjau perusahaan tersebut pada 1962. Pauker mendapat tugas melakukan sapu bersih terhadap PKI. Antara lain lewat Suwarto-lah CIA melakukan operasinya misalnya dengan apa yang disebut civic mission AD, yang sebenarnya merupakan civic action CIA dalam melakukan kontak-kontak dengan kelompok anti komunis di kalangan AD. Rupanya lewat jalur inilah Soeharto pertama kali berhubungan dengan CIA.

Berdasar pemeriksaan dokumen-dokumen yang ada di AS, Belanda, dan Indonesia, dalam majalah resmi PSI, nama Syam tercantum sebagai Ketua PSI Ranting Rangkasbitung, Banten. Dalam arsip Belanda, Syam tercatat sebagai intel Recomba Jawa Barat. Recomba merupakan pemerintah federal boneka Belanda, bisa saja Syam menyelundup menjadi spion untuk mengorek rahasia Belanda, akan tetapi hal ini aneh. Dalam berbagai koran 1950-an, ia disebut sebagai informan dari Komando Militer Kota (KMK) Jakarta. Sejumlah narasumber perwira yang menjadi tapol di Salemba menyebutkan Syam pada tahun 1951 tercatat sebagai kader PSI yang mendapatkan pelatihan partai itu di antara 29 kader yang lain.

PADA 1960-an dengan bentuk lebih jelas pada 1964, Syam diangkat menjadi ketua Biro Chusus (BC), suatu jaringan intelijen PKI yang hanya mempunyai hubungan langsung dengan Aidit selaku ketua Politbiro CC PKI. Tugas Syam, pertama mengumpulkan info untuk diolah dan diserahkan kepada Aidit. Kedua, membangun sel-sel PKI di tubuh ABRI dan membinanya. Tugas Syam yang lain mengadakan evaluasi dan melaksanakan tugas-tugas yang tak mungkin dilakukan alat-alat formal PKI. BC mempunyai aparatnya sendiri yang tidak diketahui oleh pimpinan formal PKI. Ia memberikan laporan, mengolah informasi dan menyampaikannya kepada Aidit secara langsung. Oleh Aidit, bahan-bahan dan keputusan disodorkan pada Politbiro untuk disetujui dan dilaksanakan.

Menurut seseorang yang mengaku sebagai mantan agen CIA, Soeharto mendapat perhatian cukup dari BC PKI dan dibina melalui Syam, Untung, dan Latief. Dalam hal ini Soeharto mendapat kategori sebagai ‘orang yang dapat dimanfaatkan’. Hal ini cocok dengan keterangan Untung dan Latief bahwa Soeharto akan membantu gerakan mereka, dan dibuktikan dengan didatangkannya Yon 530 dan Yon 454 dalam keadaan siap tempur. Sedang yang lain menamainya sebagai trio sel PKI.

Pada tahun 1967, majalah Ragi Buana menamai Syam sebagai ‘double agent’, ia menjadi informan Kodam Jaya sejak 1955 sampai kudeta 1965. Untuk memperdalam ilmunya pada 1962 ia dikirim ke RRT, Korea Utara, dan Vietnam, termasuk memperdalam bidang intelijen terutama menyangkut strategi mempersiapkan dan menggerakkan pemberontakan bersenjata.  Menurut Dr. Asvi Warman Adam (Kompas, Senin, 30 September 2002), “Sjam sendiri masih misterius, apakah dia double agent (AD dan Biro Chusus PKI) bahkan triple agent (AD, Biro Chusus PKI, dan CIA)?”

Sebagai Ketua BC PKI, Syam lapor langsung kepada Aidit. Karena Aidit satu-satunya pimpinan PKI yang membentuk BC serta mengetahui personilnya, maka BC ini merupakan partai dalam partai dengan Syam sebagai orang tertingginya. Seperti disebutkan oleh Sudisman, BC dibentuk tanpa persetujuan CC PKI, dalam hal ini Aidit telah melanggar konstitusi partai. Dengan demikian BC bukan aparat partai, tetapi aparat Aidit. Di pihak lain yang mengontrol seluruh struktur aparat dan sepak terjang BC bukan Aidit, tetapi Syam. Jika Syam seorang agen ganda, maka praktis seluruh struktur BC merupakan alat dalam kendali musuh PKI.  Nama Syam juga berada dalam daftar gaji Kodam Jaya. Di Kodam Jaya, Syam berhubungan dengan Latief, di samping hubungannya dengan Kostrad

 

Setelah G30S gagal, dan semua pimpinannya, Untung, Latief, Supardjo dll. Ditangkap, Syam ditangkap pada 8 Maret 1967 di Cimahi dan ditahan di RTM Budi Utomo Jakarta pada 27 Mei 1967. Namun, berbeda dengan tahanan lainnya, Syam mendapat perlakuan “super istimewa” selama dalam tahanan. Oei Tjoe Tat, S.H., mantan menteri negara yang juga pernah ditahan di RTM, menggambarkan Syam sebagai orang yang tidak tahu diri. Kalau ia keluar untuk diperiksa, orang lain menjadi tidak tenteram karena ulahnya. Ia orang misterius yang dijauhi oleh para tahanan yang lain.

Dengan telah ditembakmatinya Aidit tanpa diajukan ke pengadilan maka Syam mempunyai kesempatan untuk memonopoli seluruh keterangan tentang G30S dalam hubungannya dengan PKI. Hanya Syam sebagai Ketua BC PKI dan Aidit sebagai Ketua Politbiro PKI yang mengetahui seluk beluk biro tersebut dalam hubungan dengan peristiwa G30S serta hubungannya dengan sejumlah perwira militer.

 

Syam dijatuhi hukuman mati oleh mahmilub pada 9 Maret 1968. Namun,  berdasarkan catatan, Syam diambil dari Cipinang pada 27 September 1986 jam 21.00 oleh petugas Litkrim Pomdam Jaya atas nama Edy B. Sutomo (NRP.27410), lalu dibawa ke RTM Cimanggis. Tiga hari kemudian tengah malam bersama dua kawannya ia dibawa dari Cimanggis dan pada jam 01.00 sampai ke Tanjungpriok. Mereka diangkut dengan kapal laut militer ke sebuah pulau di Kepulauan Seribu dan dieksekusi pada jam 03.00. Tak ada keterangan mengapa pelaksanaan eksekusi terhadap Syam—dan sejumlah tokoh yang lain—terus diulur-ulur hingga 14 tahun dihitung dari sejak masuk Cipinang, bahkan 18 tahun bila dihitung sejak vonis mahmilub”.

 

Jalannya peristiwa menunjukkan peran agen Syam menjadi salah satu kunci penting keberhasilan operasi yang sedang dilancarkan oleh sahabat lamanya, Jenderal Soeharto. Mungkinkah orang yang agaknya tahu betul akan “isi perut” Soeharto dalam hubungan dengan G30S dibiarkan hidup bebas?

Kita telah melihat dan mengetahui sedikit banyaknya profil orang-orang yang pegang peranan dalam Gerakan 30 September 1965, seperti Letkol. Untung, Kol.A.Latief, Brigjen. Supardjo, dan tokoh misterius Syam Kamaruzzaman yang merupakan gembong G30S. Kita juga bisa melihat hubungan antara mereka dengan Panglima Kostrad Jenderal Soeharto, sehingga dengan demikian kita juga bisa melihat bagaimana “hubungan” antara Jenderal Soeharto dengan Gerakan 30 September 1965.  Sehingga dengan demikian terjawablah kecurigaan Ratna Sari Dewi Soekarno, istri ketiga Bung Karno yang berasal dari Jepang, yang mengatakan “Sepertinya Soeharto sudah tahu semua, seakan telah direncanakan….Bagaimana dia bisa memecahkan masalah yang terjadi pada malam 30 September dan segera bertindak. Begitu cepat. Kalau belum tahu rencana G30S, ia tak mungkin bisa melakukannya”

Begitu juga Mike Head , wartawan Sydney Morning Herald 19 July 1999 yang  mengatakan: “The speed with which Soeharto moved on October 1 support the conclusion that, acting in concert with the US agencies, he engineered the whole operation to eliminate his rivals and provide a pretext for moving against Soekarno and the PKI”.  Jadi benar sekali kalau Hasan Raid dengan nama samaran Sulangkang Suwalu pada 8 Agustus 1998 menulis dan menyebarkan dalam berbagai milis: “G30S/SOEHARTO, BUKAN G3OS/PKI”. (lihat juga  apakabar@access.digex.net ; http://umarsaid.free.fr/ dan GELORA45). Bahkan, sampai matinya tokoh G30S, Kol. A. Latief, tetap mengatakan “Jenderal Soeharto Terlibat G30S!”

Jenderal Suharto

Membicarakan soal G30S, dan menyoroti tokoh-tokohnya seperti Untung, Latief, Supardjo dan Syam Kamaruzzaman, rasanya kurang lengkap kalau kita tidak menyorot pula “tokoh paling penting” dalam masalah G30S dan Peristiwa 1965, yang telah merobah jalannya Revolusi Indonesia, yaitu Jenderal Suharto.

Menurut satu tulisan Drs. Harsono Sutedjo (Harsutejo), Orang tua dan keluarga Soeharto merupakan misteri. Dalam “otobiografi”-nya, yang ditulis oleh orang yang paling bertanggung jawab atas pembentukan citra publiknya, G. Dwipayana, Soeharto mengklaim bahwa ia dilahirkan di kalangan petani miskin di Desa Kemusuk di dekat Yogyakarta. Sebuah majalah yang dimiliki oleh bos intelijen militer yang dipercayanya mengklaim pada tahun 1974, bahwa ayahnya seorang ningrat. Dalam sebuah jawaban yang mungkin disiapkan lebih dulu, Soeharto mengundang wartawan ke ruang kerjanya di istana kepresidenan untuk menjelaskan garis keturunannya dan mengajukan saksi-saksi yang dapat menguatkan bahwa ia sungguh-sungguh orang yang baik, jujur, dan dapat dipercaya. Sekalipun ia menyanggah, garis keturunannya tetap diragukan. Di kalangan orang Indonesia tersebar luas cerita bahwa ia anak tidak sah dari seorang pedagang Tionghoa.

 

Suharto memulai karir militernya sebagai kopral KNIL (Koninklijk Nederlands Indisch Leger) alias tentara penjajah Belanda pada tahun 1940-an di Batalyon XIII di Rampal Malang. Karena “prestasinya” ia segera naik pangkat menjadi Sersan. Pada masa pendudukan Jepang, ketika ia menjadi anggota milisi Peta. Seperti anggota milisi lain, ia bergabung dengan tentara nasional Indonesia yang baru dibentuk begitu militer Jepang menyerah pada Agustus 1945.

SETELAH kemerdekaan tercapai dalam tahun 1949, Soeharto menanjak pangkatnya menjadi kolonel, kemudian brigadir jenderal, mayor jenderal, dan sampai menjadi Jenderal Besar (entah siapa yang menaikkan pangkatnya jadi Jenderal Besar!).

Ketika berada di Yogyakarta tahun 1946, dia ikut dalam percobaan kudeta 3 Juli bersama atasannya Mayjen Soedarsono, Komandan Divisi III APRI. Tetapi percobaan kudeta ini ternyata gagal. Para pelakunya ditangkap dan ditahan. Persis pada saat itu Soeharto berbalik arah. Ia yang semula berkomplot dengan peserta kudeta, berbalik menangkapi komplotan kudeta. Ia berdalih, keberadaannya sebagai anggota komplotan merupakan upaya Soeharto mengamankan komplotan dengan kata lain Suharto berhasil menyelesaikan “tokoh kudeta dan atasannya Mayjen Soedarsono. Itulah karakter Soeharto dan ia bangga dengan hal itu. Soeharto tidak merasa malu berbalik arah dari penjahat menjadi penyelamat. Nampak, pada awal Indonesia merdeka itu, Soeharto sudah menerapkan politik “bermuka dua”

Dalam Peristiwa Madiun, ada informasi yang mengatakan bahwa Suharto, Gatot Subroto dan Kartosuwiryo (yang kemudian jadi panglima DI/TII) adalah adalah para penjagal, pembunuh orang Komunis dalam Peristiwa Madiun dibawah arahan Kolonel A.H.Nasution dan Perdana Menteri Drs. Mohamad Hatta yang menjalankan garis AS yaitu menerapkan politik pembersihan kaum kiri (Red Drive Proposal) di Indonesia sebagai bagian makro politiknya untuk membendung komunisme.

Namun, Suharto terlalu licik, kendatipun ia sebagai penjagal, dia bisa “mencuci tangan” dengan mengatakan suatu kebenaran bahwa memang tidak ada bendera palu arit di Madiun ketika itu, sehingga orang-orang yang pro komunis kemudian hari menganggap bahwa Suharto adalah orang baik yang bisa diandalkan.

Pada akhir 1956 ketika rencana pengangkatan Kolonel Bambang Supeno sebagai Pangdam Diponegoro

bocor, terjadi rapat gelap di Kopeng dihadiri sejumlah perwira yang dikoordinir oleh Letkol Suharto melalui anak buahnya Mayor Yoga Sugamo sebagai Asisten I Divisi di Semarang, Suharto sendiri tidak hadir. Dari puluhan perwira yang hadir hanya Kolonel dr Suhardi yang menandatangani setuju pencalonan Letkol Suharto dan menolak pencalonan Kolonel Bambang Supeno sebagai Pangdam. Suharto yang ingin merebut kedudukan ini berpacu dengan waktu karena pencalonan Bambang Supeno tinggal menunggu tanda tangan Presiden. Akhirnya komplotan tersebut berhasil.

Seandainya tidak, maka rapat gelap itu akan diusut, dan yang paling terbukti adalah Kolonel dr Suhardi, sedang Suharto tidak terbukti tersangkut karena Suharto menjadi ‘Mr Alibi’. Masalah tersebut dicatat juga oleh Ali Murtopo yang ketika itu Kapten dan Komandan Raiders yang diminta Yoga Sugomo untuk melakukan operasi intelijen soal pencalonan Suharto (Yoga Sugomo 1990:20-30). Selanjutnya Yoga Sugomo mencatat bahwa rapat di Kopeng itu dihadiri oleh Sudarmo Djojowiguno, Suryo Sumpeno, Surono, Pranoto, Suwito Haryoko (Asisten II), Suwarno (Asisten IV), dan Munadi (AsistenV). Ia dan Mayor Suryo Sumpeno berangkat ke Jakarta menemui Kolonel Zulkifli Lubis di MBAD untuk menggagalkan pencalonan Bambang Supeno dan menggantinya dengan Suharto. Usaha mereka berhasil (Yoga Sugomo 1990:80-82).

Inilah trio pertama Suharto-Ali Murtopo-Yoga Sugomo. Trio ini pula kelak melakukan usaha-usaha menikam politik konfrontasi Presiden Sukarno dengan penyelundupan ke Malaysia dan Singapura serta kontak-kontak politik gelap dengan pihak Malaysia melibatkan tenaga militer, politisi sipil anti komunis, pengusaha. Kontak-kontak trio ini di lapangan melibatkan Ali Murtopo, Benny Murdani, AR Ramly, selanjutnya di Malaysia dengan Des Alwi, Prof Sumitro (Yoga Sugomo 1990:139; Hanafi 1998:206).

Trio ini pula kemudian menangani peristiwa G30S. Pagi-pagi pada 1 Oktober 1965 sebelum orang lain mengetahui keadaan yang sebenarnya, Kolonel Yoga menyatakan, “…Ini mesti perbuatan PKI…”. Selanjutnya, “Siapkan semua penjagaan, senjata, bongkar gudang. Ini PKI berontak”. Selanjutnya Letkol Ali Murtopo mencatat, “…berdasar penjelasan Pak Yoga kepada Pak Harto, maka kita bertiga kumpul lagi di ruang Pak Harto. Disini kita tentukan lagi nasib bangsa selanjutnya” (Yoga Sugomo 1990:37,148). Yang dimaksud Ali Murtopo dengan kata ‘lagi’ dalam “Di sini kita tentukan lagi nasib bangsa selanjutnya”, bahwa komplotan semacam itu telah pernah mereka lakukan sebelumnya ketika merancang operasi intelijen perebutan jabatan Panglima Diponegoro untuk Suharto seperti tersebut di atas. (Harsutejo)

Waktu Kolonel Suharto menjabat sebagai Panglima Diponegoro, dia dikenal sebagai sponsor penyelundupan dan berbagai tindak pelanggaran ekonomi lain dengan dalih untuk kesejahteraan anak buahnya. Suharto membentuk geng dengan sejumlah pengusaha seperti Lim Siu Liong, Bob Hasan, dan Tek Kiong, konon masih saudara tirinya. Dalam hubungan ini Kolonel Suharto dibantu oleh Letkol Munadi, Mayor Yoga Sugomo, dan Mayor Sujono Humardani. Komplotan bisnis ini telah bertindak jauh antara lain dengan menjual 200 truk AD selundupan kepada Tek Kiong.

Persoalannya dilaporkan kepada Letkol Pranoto Reksosamudro yang ketika itu menjabat sebagai Kepala Staf Diponegoro, bawahan Suharto. Maka MBAD membentuk suatu team pemeriksa yang diketuai Mayjen Suprapto dengan anggota S Parman, MT Haryono, dan Sutoyo. Langkah ini diikuti oleh surat perintah Jenderal Nasution kepada Jaksa Agung Sutarjo dalam rangka pemberantasan korupsi untuk menjemput Kolonel Suharto agar dibawa ke Jakarta pada 1959. Ia akhirnya dicopot sebagai Panglima Diponegoro dan digantikan oleh Pranoto, namun tidak diajukan ke depan pengadilan, namun disekolahkan di SESKOAD Bandung.

Dengan pemecatan dirinya sebagai Panglima Divisi Diponegoro tersebut, Kolonel Soeharto sangat marah dan dendam, bersumpah untuk membuat perhitungan dan akan menghabisi, mereka-mereka yang membuat dirinya celaka. Mereka itu tidak lain adalah para perwira anggota Team Pengusut MBAD, yang terdiri dari Mayjen Suprapto, Deputi Pangad sebagai ketua, dengan aggota-anggota Team  Mayjen S.Parman,Mayjen Haryono M.T., Brigjen Soetoyo dan Brigjen Panjaitan. Serta penanda tangan Surat Keputusan Pemecatan Panglima Divisi Diponegoro yang tidak lain adalah Panglima Tertinggi/Presiden Soekarno.

Di Bandung Kolonel Suharto bertemu dengan Kolonel Suwarto, Wadan Seskoad, hal ini sangat berpengaruh terhadap perjalanan hidup Suharto selanjutnya. Sekolah Komando Angkatan Darat (Seskoad) di Bandung yang telah berdiri sejak 1951 ini merupakan sebuah think tank AD, pendidikan militer Indonesia tertua, terbesar dan paling berpengaruh. Seskoad telah menjadi tempat penggodogan perkembangan doktrin militer di Indonesia. Sampai 1989 telah meluluskan 3500 perwira. Para alumninya menjadi tokoh terkemuka dalam pemerintahan. Hampir 100 orang menjadi sekretaris jenderal, gubernur, pimpinan lembaga-lembaga nasional atau badan-badan non departemental. Presiden, Wakil Presiden, dan lebih 30 menteri merupakan alumni Seskoad.

Suwarto sendiri pernah menempuh pendidikan Infantry Advance Course di Fort Benning pada 1954 dan Command and General Staff College di Fort Leavenworth, AS pada 1958. Ia bersahabat dengan Prof Guy Pauker, konsultan RAND (Research and Development Corporation) yang dikunjunginya pada 1963 dan 1966. Suwartolah yang menjadikan Seskoad sebagai think tank politik MBAD, mengarahkan para perwira AD menjadi pemimpin politik potensial (Sundhaussen 1988:245/Harsutejo).

Suharto, murid baru yang masuk pada Oktober 1959 ini telah mendapatkan perhatian besar dari sang guru. Pada awal 1960-an Suharto dilibatkan dalam penyusunan Doktrin Perang Wilayah serta dalam kebijaksanaan AD dalam segala segi kegiatan pemerintah dan tugas kepemerintahan. Peran Suharto dalam civic mission menempatkan dirinya dan sejumlah opsir yang condong pada PSI dalam pusat pendidikan dan pelatihan yang disokong oleh CIA lewat pemerintah AS, suatu program bersifat politik (Scott 1999:81). Pada masa Bandung Kolonel Suharto inilah agaknya hubungan Suwarto-Syam-Suharto-CIA mendapatkan dimensi baru (Hanafi 1998:20-25).

Y. Pohan dalam tulisannya mengatakan: “Soeharto sesungguhnya sangat berkepentingan atas tindakan yang diambil oleh Letkol. Untung. Untung bersama kawan-kawannya bertindak terhadap sejumlah jenderal pada tanggal 30 September malam itu. Karena jenderal-jenderal itu adalah rival-rival Soeharto, khususnya Jenderal A. Yani, rival utama yang dianggap sebagai penghalang utama untuk memperoleh kedudukan tertinggi dalam AD. Bukanlah rahasia umum lagi waktu itu di kalangan perwira-perwira AD bahwa Soeharto merasa sangat tidak puas dengan diangkatnya Jenderal A. Yani sebagai Pangad. Putusan Presiden Soekarno mengangkat Jenderal A. Yani tidak bisa diterima oleh Soeharto, karena sebagai perwira TNI ia merasa dirinya lebih senior”..

Kita telah sama-sama melihat, betapa dan sampai di mana kedekatannya Trio: Suharto dengan Untung dan Latief dan Trio: Suharto, Yoga Sugama dan Ali Murtopo. Sehingga, pembaca yang arif tentunya bisa menyimpulkan bahwa G30S adalah Untung, Latief, Suharto (+ Suparjo), sedang Gestok adalah Suharto, Yoga Sugama dan Ali Murtopo. Dus, baik G30S maupun Gestok, adalah sama-sama di bawah pimpinan Suharto!

“Ada fakta sangat keras, dua batalyon AD dari Jateng dan Jatim yang didatangkan ke Jakarta dengan senjata lengkap dan peluru tajam yang kemudian mendukung pasukan G30S, semua itu atas perintah Panglima Kostrad Mayjen. Soeharto yang diinspeksinya pada 30 September 1965 jam 08.00. Tentunya dia pun mengetahui dengan tepat kekuatan dan kelemahan pasukan tersebut beserta jejaring intelijennya, di samping adanya tali-temali dengan intelijen Kostrad lewat tangan Kolonel Ali Murtopo. Tentu saja masalah ini tak pernah diselidiki, jika dilakukan hal itu dapat membuka kedok Soeharto menjadi telanjang di depan korps TNI AD ketika itu. Mungkin saja jejaring Soeharto yang telah melumpuhkan logistik kedua batalyon tersebut, hingga Yon 530 dan dua kompi Yon 434 melapor dan minta makan ke markas Kostrad pada sore hari 1 Oktober 1965. Kedua pasukan ini bersama pasukan Letkol. Untung dihadapkan pada pasukan RPKAD. Itulah sejumlah indikasi kuat keterlibatan Jenderal Soeharto dalam G30S, ia bermain di dua kubu yang dia hadapkan dengan mengorbankan 6 jenderal.” (Harsutejo)

SEJAK 4 Oktober 1965, ketika dilakukan penggalian jenazah para jenderal di Lubang Buaya, maka disiapkanlah skenario yang telah digodok dalam badan intelijen militer untuk melakukan propaganda hitam terhadap PKI dimulai dengan pidato fitnah Jenderal Soeharto tentang penyiksaan kejam dan biadab, Lubang Buaya sebagai wilayah AURI. Hari-hari selanjutnya dipenuhi dengan dongeng horor fitnah keji tentang perempuan Gerwani yang menari telanjang sambil menyilet kemaluan para jenderal dan mencungkil matanya. Ini semua bertentangan dengan hasil visum dokter yang dilakukan atas perintah Jenderal Soeharto sendiri yang diserahkan kepadanya pada 5 Oktober 1965. Kampanye hitam terhadap PKI terus-menerus dilakukan secara berkesinambungan oleh dua koran AD, Angkatan Bersenjata dan Berita Yudha, RRI dan TVRI yang juga telah dikuasai AD, sedang koran-koran lain diberangus. Ketika sejumlah koran lain diperkenankan terbit, semuanya harus mengikuti irama dan pokok arahan AD. Seperti disebutkan dalam studi Dr. Saskia Eleonora Wieringa, mungkin tak ada rekayasa lebih berhasil untuk menanamkan kebencian masyarakat daripada pencitraan Gerwani (gerakan perempuan kiri) yang dimanipulasi sebagai “pelacur bejat moral”. Kampanye ini benar-benar efektif dengan memasuki dimensi moral religiositas manusia Jawa, khususnya kaum adat dan agama. (Harsutejo)

PROPAGANDA bohong melalui media massa segera memicu kemarahan dan kebencian massa organisasi-organisasi yang sebelumnya memilih politik yang berseberangan dengan PKI dan ormas-ormas kiri pada umumnya. Situasi panas ini dimanfatkan sebaik-baiknya oleh golongan keagamaan, terutama NU, Muhammadiyah, dan Partai Katolik untuk membentuk Kesatuan Aksi Pengganyangan Gerakan 30 September (KAP Gestapu), di bawah pimpinan Subchan Z.E. (NU) dan Harry Tjan Silalahi (Katolik), tapi di belakangnya beberapa perwira Kostrad dengan Brigjen Sucipto sebagai pemrakarsa, yang melalui Adam Malik mendapat curahan Rp50 juta (nilai waktu itu US$ 1, 2 juta) dari Kedubes AS di Jakarta untuk mengganyang PKI.  Partai-partai lain, berikut ormas-ormas yang selama ini bersaing dengan PKI untuk memperoleh dukungan massa, seperti PSII, Partai Kristen Indonesia, bahkan PNI yang menjadi tumpuan Soekarno, bergabung dalam aksi pengganyangan ini, secara langsung maupun tidak. KAP Gestapu mengadakan demonstrasi-demonstrasi panas menghujat dan menuntut pembubaran PKI.

Setelah situasi matang, maka dilakukanlah gerakan militer untuk melakukan pembunuhan massal dengan menggunakan emosi tinggi sebagian rakyat terhadap anggota PKI dan siapa saja yang dianggap PKI serta pendukung Bung Karno yang lain di Jateng, Jatim, Bali, dan akhirnya di seluruh Indonesia. Hal ini dilanjutkan dengan pembersihan terhadap siapa saja, utamanya aparat yang mendukung BK, pertama-tama AURI selanjutnya di kalangan ABRI yang lain. Muaranya ialah menjatuhkan Presiden Sukarno.

Peranan AS/CIA

 

DALAM situasi yang demikian, Marshall Green, Duta Besar Amerika Serikat di Jakarta pada tanggal 5 Oktober 1965, mengirim telegram Nomor 868 yang ditujukan kepada Departemen Luar Negeri Amerika Serikat, menyatakan:

Inilah saat yang tepat untuk mengenyahkan komunisme dari Indonesia. Namun bantuan harus secara diam-diam”, Army now has opportunity to move against PKI if it act quickly……Momentum is now at peak with discovery of bodies of murdered army leaders. In short, its now or never…

Selanjutnya, Green memberikan beberapa panduan tentang sikap AS/CIA: *Hindari keterlibatan yang terang-terangan karena seiring berkembangnya perebutan kekuasaan. *Secara sembunyi, sampaikan dengan jelas kepada tokoh-tokoh kunci di ABRI seperti Nasution dan Soeharto tentang keinginan kita membantu apa yang kita bisa, sementara di saat bersamaan sampaikan kepada mereka asumsi kita bahwa kita sebaiknya menjaga agar setiap bentuk keterlibatan atau campur tangan kita tidak terlihat. Pertahankan dan jika mungkin perluas kontak kita dengan militer. *Sebarkan berita mengenai kesalahan PKI, pengkhianatan dan kebrutalannya (prioritas ini mungkin paling membutuhkan bantuan kita segera, yang dapat kita berikan kepada ABRI jika kita menemukan jalan untuk melakukannya tanpa diketahui bahwa hal itu merupakan usaha AS) … Spread the story of PKIs guilt, treachery dan brutality (this priority effort is perhaps most—needed immediate assistance we can give army if we can find way to do it without identifying it as solely or largely US effort).”( Rita Uli Hutapea, Misteri CIA di Seputar G30S, detik.com, 08/8/2001. )

 

Ternyata, “panduan” Duta Besar AS/CIA, Marshall Green itu, terutama perihal menyebarluaskan “kesalahan PKI, pengkhianatan dan kebrutalannya”, serta penghancurannya, menjadi garis utama para perwira Angkatan Darat, yang kemudian menjadi panutan dan policy Angkatan Darat dan pemerintahan militer. Hal ini terbukti, sebagaimana yang dikatakan Duta Besar Green dalam telegramnya “prioritas ini membutuhkan bantuan kita segera … tanpa diketahui bahwa hal itu merupakan usaha AS … secara sembunyi sampaikan dengan jelas kepada tokoh-tokoh kunci di ABRI seperti Nasution dan Soeharto tentang keinginan kita … seiring dengan berkembangnya perebutan kekuasa-an….

Pada tanggal 5 Oktober itu juga, Phoenix Park Singapore (Kedutaan Inggris) mengirim telegram ke Departemen Luar Negeri di London, yang berbunyi: “….we should have no hesitation in doing what we can surreptitiously to blacken the PKI in the eyes of the people of Indonesia.” (Wiyanto Rahman, S.H., dalam Sarasehan Leuven Belgia: Peristiwa G30S dalam Tinjauan Ulang, http://arus.kerjabudaya.org/htm/1965_Seminar_Leuven.htm )

Dengan nada dan irama yang sama, hal tersebut diperjelas dalam rapat para jenderal militer di Kostrad pada tanggal 5 Oktober 1965 yang dipimpin oleh Jenderal Soeharto dan Jenderal A.H. Nasution, yang menghasilkan panduan perihal pelaksanaan dari rencana penghancuran PKI. (Robinson, p.283, n.25). Tanggung jawab atas rencana dan segala cara-cara pelaksanaan operasi militer ini diakui dengan bangga oleh Jenderal Soeharto, melalui pernyataan yang tertulis dalam bukunya Pikiran, Ucapan, dan Tindakan Saya, 1989, halaman 136, yang berbunyi: “Sejak menyaksikan … apa yang didapat di Lubang Buaya, kegiatan saya yang utama adalah menghancurkan PKI, menumpas perlawanan mereka di mana-mana, di ibukota, di daerah-daerah, dan di pegunungan tempat pelarian mereka….”

Semenjak “ucapan” Soeharto, Pangkostrad yang mengangkat dirinya menjadi Pangad, dan bertekad untuk menghancurkan dan menumpas PKI, yang menjadi panutan dan policy militer (penguasa/pemerintah), maka pasukan-pasukan Angkatan Darat, terutama pasukan Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD), yang dipimpin oleh Kolonel Sarwo Edhie Wibowo, menggalang milisi-milisi terutama dari organisasi-organisasi keagamaan seperti Banser NU, Pemuda Muhammadiyah, untuk memusnahkan anggota, simpatisan, bahkan anggota keluarga yang dianggap berafiliasi dengan PKI. Para pemuda dipersenjatai, dilengkapi dengan alat komunikasi dan transportasi, dan didorong untuk melakukan tindakan-tindakan keji dan brutal terhadap orang-orang yang masih belum jelas apa salahnya, dan tidak tahu apa yang terjadi di Jakarta. Banyak korban jatuh justru setelah mereka diwajibkan melapor dan ‘diamankan’ di kantor-kantor polisi, militer atau institusi-institusi negara lainnya, seperti kecamatan atau kelurahan dan kemudian, tanpa diadili, dengan berbagai cara, dibunuh begitu saja.

 

Telegram Green, Duta Besar AS di Jakarta ke Washington tanggal 20 Oktober mengatakan: “Beberapa ribu kader PKI dilaporkan telah ditangkap di Jakarta … beberapa ratus di antaranya telah dibunuh. Kami mengetahui hal itu … pimpinan PKI Jakarta telah ditangkap dan barangkali telah dibunuh…. RPKAD tidak mengumpulkan tawanan, mereka langsung membunuh PKI.

 

Green melanjutkan: “pembersihan oleh AD berlanjut di kampung dan tempat-tempat lain di daerah Jakarta. Pemuda Muslim “membantu” mengawani pasukan militer. Sumber mengatakan “beberapa” pembunuhan merupakan hasil dari pembersihan ini. Fakta lebih jauh tentang hubungan militer dengan kumpulan yang terorganisir dalam kampanye anti PKI ini, dapat dilihat dari pertemuan antara Kolonel Ethel (CIA) dan pembantu dekat Jenderal Nasution, yang mengatakan bahwa demonstrasi anti PKI akan meningkatkan pengganyangan menjadi anti Tionghoa. Dan perusakan dan pendudukan kantor perdagangan Kedutaan Tiongkok di Cikini, bukan dilakukan oleh AD akan tetapi oleh “mereka yang bertindak untuk kita”, yaitu Muslim dan Ansor. Hanya 3 bulan semenjak kampanye anti PKI, CIA melaporkan: “Hampir semua anggota Politbiro PKI ditangkap, banyak di antara mereka telah dibunuh, termasuk tiga pimpinan tertinggi partai. Berita besar hari ini, adalah: ditangkap dan dibunuhnya Ketua PKI D.N. Aidit. Sedang pembunuhan terhadap anggota dan simpatisan PKI di Sumatra Utara, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Bali, terus berlangsung….” Bagi AS dan sekutunya, keberhasilan Angkatan Darat Indonesia menghancurkan PKI adalah merupakan suatu kemenangan besar.” Demikian Marian Wilkinson menulis dalam Sydney Morning Herald, 10 Juli 1999.

 

Pembunuhan massal berkelanjutan, bukan saja di pulau Jawa namun di seluruh pelosok tanah air, nyawa-nyawa tak berdosa dibunuh karena dianggap PKI atau simpatisan PKI. Para korban dibunuh tanpa perikemanusiaan.

American Free Press menulis: “In Aceh, for example, the civilian were ‘decapitated and their heads were placed on stakes along the road’. The bodies often repeatedly slashed with knifes or sword. Then thrown into the river that they would not ‘contaminate Aceh soil’.” ; Di Surakarta Tangan dan kaki korban diikat direl kereta api dan dibiarkan sampai kereta api melindas  hancur tubuh2 itu.(http://www.timrelawan.org) ; Kaki/badan korban  diikat kepohon, dan kepala/leher diikat dengan kawat waja dan ditarik dengan mobil/truk, hingga kepala tercabut dari badan/leher .  (Film documenter ABC-TV Australia – Riding the Tiger part3); Korban disembelih, ditusuk dengan pisau panjang ditengah ramai atau ditembak dan ditolak kedalam lubang yang mareka buat karena perintah atau dikubur hidup-hidup. Di Pasuruan, bahkan yang melakukan pemenggalan adalah seorang wanita.  (lihat film documenter: Shadow plays dan film  Riding the Tiger ); Para korban dibunuh dengan sadis dan diklelerkan saja dipinggir jalan,dibawah pohon, dan dilempar kesungai seperti bangkai anjing ( ucapan Sukarno tgl 18  Desember 1965- didepan HMI di Bogor- http://www.tokohindonesia.com);  Di Bali para tahanan diambil dan dibunuh ada yang ditembak, belum mati lantas dibuang ke lubang dan ditimbun, bahkan ada yang tubuhnya dicincang dan dipotong-potong, leher, kaki dan tangan dicerai-beraikan;  Di Sumbar, korban (gadis SMP) dimaukkan ke dalam karung hidup-hidup dan dilempar kesungai, dibiarkan menggelepar dan mati dalam karung; lain korban diikat kepala dan kaki didua buah pedati dan ditarik berlawanan arah hingga tubuh korban berkecai; korban dimuat kedalam dump truk dan dituangkan kejurang terjal yang dalam hingga semua mati; Mengikat korban dan memaku telinganya tembus dari kiri ke kanan dengan paku besar panjang lebih dari 6 inci yang biasa digunakan sebagai paku untuk bantalan rel kereta api, sehingga si korban melolong-lolong dan mati bersiram darah!; Mengikat dan mengampak putus leher si korban di depan anak dan istrinya, sehingga mereka basah bersiram darah ayah atau suaminya yang dengan kejam dihabisi nyawanya, seperti yang terjadi atas Ketua SBPP di Kupang, Nusa Tenggara Barat;  Bahkan korban yang menjadi tapol yang tidak sedikit jumlahnya, diambil malam ( istilahnya di “bon”), dibunuh dan tidak  diketahui dimana dikuburkan.

Tentang pembunuhan massal ini Harsutejo menulis:  Prof Teuku Jacob mendaftar ulah kekejaman manusia dengan kata-kata lugas yang cukup mencengangkan. Penyiksaan dan penganiayaan tahanan dan tawanan menunjukkan kebengisan yang tak terbayangkan, mulai dari mencambuk, mencabut kuku, menjepit ibu jari, melilit tubuh, membakar bagian badan, menyiram cairan panas, menjepit daging dengan jepitan membara, memotong urat, membuang, memperbudak, memenggal kepala, menggantung, melempar dari tempat tinggi, mencekik, membenamkan, mengubur hidup-hidup, mencincang, sampai membunuh atau memperkosa anggota keluarganya di depan mata, menjemur, tidak memberi makan, menyeret dengan kuda, membakar dalam unggun api, dan sebagainya… sebagian besar dilakukan oleh pemerintah terhadap rakyatnya sendiri.

Begitu sulit dipercaya bahwa ulah kekejaman semacam itu dilakukan juga oleh rezim militer Orde Baru terhadap musuh politik mereka atas nama suatu gagasan yang begitu tinggi dan mulia, yakni Pancasila! Malahan rezim ini masih menggenapi khasanah penyiksaan dan pembunuhan dengan penemuan baru mereka: memasukkan tahanan politik hidup-hidup ke dalam luweng atau sumur alam yang amat dalam, memasukkan ke dalam kapal bobrok dan menenggelamkannya, meneggelamkan hidup-hidup tahanan dengan beban besi atau batu, menyiram gua dan ruba tempat persembunyian dengan bensin dan membakarnya serta melemparkan alat peledak, menyetrom kemaluan laki perempuan ketika mereka dipaksa bersetubuh, menancapkan bambu runcing ke dalam vagina, dan tindakan keji lain yang sulit diterima akal sehat dan akal normal dan sulit dipercaya oleh masyarakat beradab. Dan hebatnya rezim ini berusaha keras untuk menghapusnya dari memori orang banyak dengan segala macam cara termasuk memalsu sejarah dan menggantinya dengan memori rekayasa

Robert J Martens, seorang agen CIA dengan jabatan Perwira Politik pada Kedubes Amerika di Jakarta telah berhasil menyusun dan mempersiapkan daftar terpilih terdiri atas 5.000 orang kader PKI dari tingkat pusat sampai pedesaan beserta organisasi massanya dengan rincian jabatannya. Daftar itu dibuat selama dua tahun (1963-1965) dengan bantuan para pegawai CIA sebagaimana yang dibenarkan oleh Joseph Lazarsky, Deputi Kepala CIA di Jakarta. Selanjutnya diadakan kesepakatan dengan perwira intelijen Kostrad Ali Murtopo, secara berkala yang bersangkutan melaporkan siapa-siapa dari daftar itu telah ditangkap dan siapa-siapa telah dibunuh. Kostrad menjadi pusat pemantauan terhadap laporan pihak militer dari seluruh penjuru tentang penangkapan dan pembunuhan terhadap kaum komunis dan golongan kiri lain. Demikian tulis Cathy Kadane dalam San Fransisco Exeminer, 20 Mei 1990.

Penghancuran terhadap PKI dan seluruh gerakan kiri pertama-tama adalah membasmi secara fisik para anggota dan pendukungnya. Basmi sampai akar-akarnya, itulah yang terus-menerus diserukan baik oleh Jenderal Suharto maupun Jenderal Nasution serta para pengikutnya. Kekuasaan, dan segalanya ada di bawah laras senapan.

Dari Wikipedia kita baca: “Dalam bulan-bulan setelah peristiwa ini, semua anggota dan pendukung PKI, atau mereka yang dianggap sebagai anggota dan simpatisan PKI, semua partai kelas buruh yang diketahui dan ratusan ribu pekerja dan petani Indonesia yang lain dibunuh atau dimasukkan ke kamp-kamp tahanan untuk disiksa dan diinterogasi. Pembunuhan-pembunuhan ini terjadi di Jawa Tengah (bulan Oktober), Jawa Timur (bulan November) dan Bali (bulan Desember). Berapa jumlah orang yang dibantai tidak diketahui dengan persis – perkiraan yang konservatif menyebutkan 500.000 orang, sementara perkiraan lain menyebut dua sampai tiga juta orang. Namun diduga setidak-tidaknya satu juta orang menjadi korban dalam bencana enam bulan yang mengikuti kudeta itu.

Dihasut dan dibantu oleh tentara, kelompok-kelompok pemuda dari organisasi-organisasi muslim sayap-kanan seperti barisan Ansor NU dan Tameng Marhaenis PNI melakukan pembunuhan-pembunuhan massal, terutama di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Ada laporan-laporan bahwa Sungai Brantas di dekat Surabaya menjadi penuh mayat-mayat sampai di tempat-tempat tertentu sungai itu “terbendung mayat”.

Pada akhir 1965, antara 500.000 dan satu juta anggota-anggota dan pendukung-pendukung PKI telah menjadi korban pembunuhan dan ratusan ribu lainnya dipenjarakan di kamp-kamp konsentrasi, tanpa adanya perlawanan sama sekali. Sewaktu regu-regu militer yang didukung dana CIA menangkapi semua anggota dan pendukung PKI yang terketahui dan melakukan pembantaian keji terhadap mereka, majalah “Time” memberitakan:

Pembunuhan-pembunuhan itu dilakukan dalam skala yang sedemikian sehingga pembuangan mayat menyebabkan persoalan sanitasi yang serius di Sumatra Utara, di mana udara yang lembab membawa bau mayat membusuk. Orang-orang dari daerah-daerah ini bercerita kepada kita tentang sungai-sungai kecil yang benar-benar terbendung oleh mayat-mayat. Transportasi sungai menjadi terhambat secara serius.

Di pulau Bali, yang sebelum itu dianggap sebagai kubu PKI, paling sedikit 35.000 orang menjadi korban di permulaan 1966. Di sana para Tamin, pasukan komando elite Partai Nasional Indonesia, adalah pelaku pembunuhan-pembunuhan ini. Koresponden khusus dari Frankfurter Allgemeine Zeitung bercerita tentang mayat-mayat di pinggir jalan atau dibuang ke dalam galian-galian dan tentang desa-desa yang separuh dibakar di mana para petani tidak berani meninggalkan kerangka-kerangka rumah mereka yang sudah hangus.

Di daerah-daerah lain, para terdakwa dipaksa untuk membunuh teman-teman mereka untuk membuktikan kesetiaan mereka. Di kota-kota besar pemburuan-pemburuan rasialis “anti-Tionghoa” terjadi. Pekerja-pekerja dan pegawai-pegawai pemerintah yang mengadakan aksi mogok sebagai protes atas kejadian-kejadian kontra-revolusioner ini dipecat.

Paling sedikit 250,000 orang pekerja dan petani dipenjarakan di kamp-kamp konsentrasi. Diperkirakan sekitar 110,000 orang masih dipenjarakan sebagai tahanan politik pada akhir 1969. (Wikipedia)

TEAM pencari fakta yang dibentuk oleh Bung Karno mencatat laporan resmi para penguasa, antara 80.000—100.000 jiwa telah menjadi korban di Jawa dan Bali. Tetapi di balik itu, para penguasa sendiri menduga korbannya 10 kali lebih besar dari yang mereka laporkan.

Dr. Robert Cribb, dosen sejarah pada Universitas Nasional Australia di Melbourne, memperkirakan jumlah korban berkisar antara 78.000 hingga 2 juta jiwa.

John Hughes dalam bukunya “Indonesian Upheaval” (1967), memprediksikan antara 60.000 hingga 400.000 orang.

Donald Hindley, dalam tulisannya, “Political Power and the October Coup in Indonesia” (1967), memperkirakan sekira setengah juta orang.

Prof. Guy Pauker, agen CIA yang sangat dikenal dan tidak asing lagi di Seskoad (Sekolah Staf Komando Angkatan Darat), dalam tulisannya “Toward New Order in Indonesia” memperkirakan 200.000 orang yang dibunuh.

Yahya Muhaimin dalam bukunya Perkembangan Militer dalam Politik di Indonesia 1945—1966, memprediksikan sekira 100.000 orang.

Ulf Sundhaussen, dalam bukunya The Road to Power: Indonesian Military Politic 1945—1967 (1982), khusus untuk Jawa Barat, tanpa menyebut angka, mengatakan bahwa dari seluruh anggota komunis yang dibunuh di Jawa barat, bisa jadi hampir seluruhnya dibantai di Subang.

Kolonel Sarwo Edhi Wibowo, Komandan RPKAD, pembunuh berdarah dingin yang melakukan pembersihan di Jakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Bali, kepada Panitia Pencari Fakta, mengaku “telah membunuh 3 juta komunis”.

Pramoedya Ananta Toer, sastrawan dan bekas tapol dari Pulau Buru, dalam ucapannya sebelum meninggal dunia, yang direkam dalam film dokumen “Shadow Play” mengatakan: “Sampai sekarang tidak jelas berapa jumlahnya yang dibunuh. Soedomo [Kopkamtib] mengatakan 2 juta yang dibunuh, Sarwo Edhie [RPKAD] mengatakan 3 juta yang dibunuh. Yang jelas tidak ada yang tahu sampai sekarang.

Presiden Amerika Serikat Barack Obama, ketika masih menjadi senator, dalam satu tulisannya mengatakan: “In 1965, under the leadership of General Suharto, the military moved against Sukarno, and under emergency powers began a between 500.000 and one million people were slaughtered during the purge, with 750.000 others imprisoned or forced to exile.

Sedang Bertrand Russel, pemikir besar liberalisme, menyebut pembunuhan massal ini sebagai hal yang amat mengerikan yang mustahil bisa dilakukan oleh manusia. (Perang Urat SyarafKompas, 9 Februari 2001). “Dalam empat bulan, manusia yang dibunuh di Indonesia, lima kali dari jumlah korban perang Vietnam selama 12 tahun. (In four months, five times as many people died in Indonesia as in Vietnam in twelve years.)

And, last but not least, Hasil investigasi yang dilakukan oleh Tim Pencari Fakta, yang lebih dikenal sebagai Komisi Lima yang dipimpin oleh menteri dalam negeri saat itu, Mayjen. Dr.Soemarno, dengan anggota-anggota: Moejoko (Polri), Oei Tjoe Tat, S.H., Mayjen. Achmadi (eks. Brigade.XVII/TP), dan seorang lagi tokoh Islam, menyebut bahwa jumlah korban pembunuhan yang dilakukan atas perintah Soeharto sekitar 500.000 orang. Bahkan menurut pengakuan mendiang Letnan Jenderal Sarwo Edhie Wibowo, Panglima RPKAD, kepada Permadi, S.H., jumlah yang dibunuh mencapai sekitar 3.000.000 orang. “Itu yang ia suruh bunuh dan ia bunuh sendiri,” kata sumber itu.

Dengan begitu banyaknya jumlah manusia Indonesia yang dibantai oleh Angkatan Darat atas arahan, perintah ataupun persetujuan Suharto waktu itu, apakah kita mesti lupakan? Berapa puluh juta sanak saudara, “udek-udek gantung siwur dan canggah wareng” dari korban yang yang dibantai AD itu? Mestikah kita lupakan mereka itu begitu saja dan menganggap bahwa membicarakan nasib mereka sebagai “tidak produktif”?. Akankah kita kubur sejarah hitam itu ke lautan dalam, sehingga generasi bangsa selanjutnya mudah ditipu dan diperbodoh dengan sejarah rekayasa dan tipuan licik?  Hersri Setiawan, seorang mantan tapol Pulau Buru dalam satu tulisannya mengatakan“…..rezim Orba memutlakkan versi sejarahnya tentang Peristiwa ’65, dengan cara menggelapkan dan membelokkan fakta. Generasi pasca-65 dipaksa menelan mentah-mentah tanpa tanya!” Itu sebabnya, tidak heran banyak diantara generasi muda kendatipun sudah menjadi sarjana sejarah Indonesia namun pikirannya sudah tercuci dan terkontaminasi dan tetap mengikut serta menganut sejarah rekayasa Suharto dan kliknya yang dimutlakkan, sehingga tanpa mendalami lebih jauh, menjadi sesumbar dan berteriak “…..Pembunuhan, penyiksaan, dan pembuangan di Pulau Buru dan Plantungan akibat kekliruan keputusan politik pimpinan PKI yang menyebabkan jatuhnya ribuan korban…….Kami sudah kenyang dengan penderitaan akibat partai bapak saya yang tidak bertanggungjawab”. Tidak heran, orang yang demikian bisa gampang mendapat title sarjana dalam “arena pendidikan orba”, sebab kalau Orba mengetahui, menurut Peraturan Mendagri Amir Mahmud No. 32/1981, jangan harap anak-anak PKI yang masih membela “partai bapaknya” akan bisa menjadi sarjana. Satu-satunya jalan untuk tidak mungkin diketahui, adalah mengutuk PKI, mengutuk partai bapaknya! Dengan kata lain, membebek dan menerima bulat-bulat apa yang dijejalkan orba/Suharto bahwa PKI itu salah, keliru dan menjadi pemberontak dan harus dimusnahkan. Meminjam kata-kata Hersri Setiawan: “Generasi pasca-65 dipaksa menelan mentah-mentah tanpa tanya!”.  32 tahun-sepertiga abad- Suharto ditampuk kekuasaan, bukanlah sebentar. Semuanya bisa dirobah dalam masa yang begitu lama!

 

Jika anda barangkali adalah seorang Kristen dan membaca Alkitab, maka tepatlah ucapan sang Putra, Yesus Kristus, yang diutus Allah ke bumi bahwa “tak seorangpun dapat mengabdi kepada dua tuan, karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain……..” (Matius 6:24 Akitab Katolik). Jadi tidak mungkin sekaligus bisa membela PKI dan membela Suharto yang anti PKI.

 

Kalau kita mau membaca, Prof. John Roosa, yang secara pandai sekali merekonstruksi peristiwa dengan mewawancarai tokoh-tokoh Peristiwa 1965 yang terkenal, dalam bukunya “Dalih Pembunuhan Massal”, beliau menulis: “Sekalipun arus propaganda terus membanjir selama tiga puluh tahun lebih, tentara Suharto tidak pernah membuktikan bahwa PKI telah mendalangi G-30-S” (John Roosa, Dalih Pembunuhan Massal, halaman 95, alinea 2). “Pada akhirnya, satu-satunya bukti bahwa PKI memimpin G-30-S adalah karena Angkatan Darat menyatakan demikian” (John Roosa, Dalih Pembunuhan Massal, halaman 99, alinea 2).

 

Gus Dur pernah mengatakan:  “Kalau bangsa ini ingin berhasil di masa depan, harus jujur dengan masa lampau”. Pertanyaan kita: Apakah pemimpin-pemimpin Indonesia yang duduk di pemerintahan sekarang ini jujur dengan masa lampau? Harus kita ingat, Peristiwa Pelanggaran HAM Terbesar 1965 tidak pernah bakal dilupakan. Sejarah 1965 tak mungkin dihapuskan!

Siapa sajapun yang menjadi Presiden RI, selama kasus tragedi 1965 tidak diselesaikan tuntas secara hukum, selama itu akan menghantui Pemerintahan Indonesia!

Para pembaca yang budiman, untuk mendapatkan data yang lebih jelas, silahkanlah anda mendapatkan dan membaca buku/tulisan dan riset  dari tokoh-tokoh sejarah seperti Dr. Asvi, Prof. Anderson, Drs. Harsutejo, Prof. Wertheim, Prof. John Roosa dan banyak lainnya lagi. Namun, jangan lupa juga membaca buku Mengorek Abu Sejarah Hitam Indonesia (MASHI) terbitan Ultimus Bandung, 2010, yang diberi kata pengantar oleh Prof. Jakob Sumardjo, Bandung. Dari buku ini. anda, di samping bisa melihat dan mengulang serta mengingat kembali Peristiwa 1965 yang mengerikan dan menelan jutaan korban, anda juga akan menemukan lebih kurang 1500 nama-nama korban pembunuhan yang dilakukan oleh aparat orba di kota-kota di propinsi Jateng, Jatim, Bali, Sumbar, Riau  dll. serta nama-nama kaum wanita yang diperkosa ramai-ramai kemudian dibunuh di Sumatra, periode 1965/1966, yang tercantum sebagai lampiran buku tersebut, karena manatahu sanak saudara atau kenalan anda yang hilang semasa menjadi tapol orba, namanya mungkin tercantum dalam buku itu.

Kemudian, marilah kita merenungkan, mengheningkan cipta untuk  jutaan korban yang dibantai oleh rezim Suharto dalam Peristiwa 1965, yang jasad dan tulang belulangnya berserakan tanpa nisan di seluruh persada tanah air tercinta.  (bahan dari berbagai sumber)

 

 

‘Kan kukenang selalu,

‘kan kuingat selalu,

tubuh, darah dan nyawa

dan segenap pengorbananmu!

 

Australia-17 September 2011. YTTaher.

 

 


1.     Barack Obama – THE AUDICITY OF HOPE. Thoughts on Reclaiming The American Dream, First published (2006) in New York, the U.S. by The Crown Publishers; Chapter 8, The World Beyond Our Borders, page 272-273. Paperback edition, by Canongates Book, 2008/Ibrahim Isa -08 November 2010[1]

About these ads

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 59 other followers

%d bloggers like this: