Ambon: Sejarah Panjang Konflik Antar Etnis

Leeghttp://www. gatra.com/ nasional- cp/1-nasional/ 2613-ambon- sejarah-panjang- konflik-antar- etnis

Ambon: Sejarah Panjang Konflik Antar Etnis
Senin, 12 September 2011 10:15

Kerusuhan di Ambon, Minggu, 11 September 2011 (FOTO ANTARA/Izaac Mulyawan)
Ambon kembali membara pada Ahad (11/9/2011) kemarin. Kota yang tenang itu tiba-tiba bergolak. Dua kelompok massa bentrok dan mengamuk, menyebabkan kerusakan di berbagai sudut kota. Ibukota provinsi Maluku itu memanas dan mencekam.

Massa saling melempar batu. Sepeda motor dihentikan lalu dibakar. Letusan senjata api terdengar. Toko-toko tutup. Warga pun tak berani keluar rumah, bahkan sebagian mengungsi. Sementara pasukan polisi bekerja keras mengendalikan situasi. Keterbatasan jumlah aparat membuat kondisi tak terkendali selama beberapa saat.

Setelah mendapat tambahan pasukan dari Makassar, aparat akhirnya menguasi dapat menguasai keadaan beberapa jam kemudian. Tidak ada korban tewas, walau banyak yang mengalami luka.

Kerusuhan dipicu oleh hal yang sepele, yakni kecelakaan seorang tukang ojeg. Kepala Divisi Humas Mabes Polri, Inspektur Jenderal Anton Bachrul Alam menjelaskan, kematian tukang ojek bernama Darmin Saiman ditunggangi isu pembunuhan yang beredar via pesan pendek (SMS). Emosi warga pun memuncak, sehingga terjadi amuk massa.

Ketua Pemuda Maluku Indonesia Bersatu (PMIB) Ronald A Syuta menyatakan prihatin atas apa yang terjadi di kota Ambon. Pihaknya menghimbau kepada seluruh masyarakat Maluku, baik yang berada di Maluku maupun di luar Maluku agar bisa menahan diri dan tidak mudah terprovokasi situasi yang berkembang dan memecah belah persatuan warga.

“Kami mengharapkan Gubernur, para bupati, tokoh agama, tokoh masyarakat untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat agar bisa menahan diri tidak mudah terprovokasi, ” ujar Ronald. Ia meminta agar aparat mengusut kejadian di Ambon dan mengantisipasi kejadian serupa. Pihaknya juga mendesak agar presiden tetap menjaga kondisi Maluku yang damai dan aman.

Jika ditelisik lebih jauh, kerusuhan di Ambon yang sudah terjadi beberapa kali, semua akibat hasutan informasi berantai. Isu yang tidak berdasar fakta sengaja dihembuskan untuk menyulut emosi kelompok-kelompok yang kerap bertikai. Akibatnya, emosi tak terkendali membuat kekacauan di kota Ambon. Parahnya, persoalan kemudian dibelokkan ke masalah berbau SARA.

Kerusuhan Ambon pertama dan kedua juga diawali dengan persoalan sepele yang berujung ke konflik etnis. Pada kerusuhan 15 Juli 1999 yang diawali dengan bentrok di pulau Saparua, misalnya, menurut hasil investigasi pemerintah, diakibatkan oleh dendam pribadi yang memicu amuk massa lantaran rekayasa pihak-pihak tertentu.

Awalnya pecah kerusuhan di Desa Siri Sori Islam, Desa Ullath, Siri Sori Amalatu dan Saparua pada tanggal 15 dan 16 Juli 1999. Peristiwa tersebut menyulut kerusuhan di seantero Kotamadya Ambon dan daerah-daerah pinggirannya. Akibatnya, beberapa rumah dan bangunan yang menjadi kantor pemerintah terbakar, dan puluhan korban meninggal dunia.

Lantaran gampang tersulut kerusuhan, Ambon –dan Maluku pada umumnya– kemudian menjadi ajang adu domba oleh pihak-pihak yang menginginkan Indonesia tercerai berai. Hingga saat ini tercatat sudah 3 kali Ambon dilanda kerusuhan hebat. Dan semuanya berawal dari persoalan sepele: bentrok individu yang sudah jamak terjadi.

Yang perlu disadari, Ambon telah menjadi bagian dari pusaran konflik kepentingan nasional dan regional. Wilayah Indonesia Timur itu menjadi salah satu titik kulminasi konflik di Asia Tenggara.

Seperti diletahui, Asia Tenggara dijadikab obyek pusaran konflik dunia pasca perang dunia II. Kawasan ini menjadi “target” perebutan pengaruh bagi kubu Komunis maupun Liberalis, yang ditandai dengan pembentukan pakta militer SEATO (South East Asia Treaty Organizations) oleh Amerika Serikat dan sekutu, dan upaya perluasan Pakta Warsawa Uni Soviet di Vietnam pasca kejatuhan Vietnam Selatan.

Rebutan pengaruh itu diformulasikan dalam bentuk latent. Nah, intervensi kepentingan asing, tampaknya, mengangkat konflik latent tersebut menjadi gejala konflik sosial. Bentrok antar masyarakat banyak terjadi di lokasi yang mengalami ekskalasi konflik yang sangat tinggi.

Pola ini tidak bisa dilepaskan dari persoalan konflik di tingkat negara. Artinya jika suatu negara memiliki kerawanan konflik, maka akan mengalami efek spiral ke masyarakat. Kasus yang banyak terjadi di Indonesia tercermin dalam konflik yang berdimensikan SARA (Suku, Agama. Ras, dan Antar Golongan). Konflik ini sering timbul secara sporadis ataupun masif, seperti terjadi di Ambon.

Dalam batas tertentu, konflik antar masyarakat mengalami ekskalasi pada momen-momen tertentu, seperti menjelang pemilihan umum, pemilihan eksekutif atau presiden dan menjelang/usai hari raya agama. Dalam momen poltik, konflik antar masyarakat seringkali dimanfaatkan oleh elit untuk melakukan bargaining dengan rival politiknya. Dalam saat momen keagamaan, konflik di masyarakat seringkali berkembang menjadi konflik SARA tingkat nasional.

Jadi, masyarakat perlu menyadari konstelasi politik seperti ini. Tentu semua pihak menghimbau agar semua komponen masyarakat tidak terpancing isu provokatif yang memecah belah bangsa! (HP)

http://nasional. kompas.com/ read/2011/ 09/12/21105640/ Kekuatan. Asing.Mungkin. Bermain

Kekuatan Asing Mungkin Bermain
Khaerudin | Nasru Alam Aziz | Senin, 12 September 2011 | 21:10 WIB

TRIBUNNEWS.COM/ BIAN HARNANSA Prabowo Subianto.
1

TERKAIT:
a.. Polri Belum Akan Evaluasi Kapolda Maluku
b.. Mari Rajut Kembali Ikatan Perdamaian di Ambon
c.. Prabowo: Komunikasi di Ambon Sangat Penting
d.. Polri Tetap Buru Pelaku dan Provokator Bentrok di Ambon
e.. Masyarakat Ambon Diimbau Tak Mudah Terprovokasi

JAKARTA, KOMPAS.com – Kemungkinan keterlibatan pihak asing dalam kerusuhan di Ambon, Maluku, Minggu (11/9/2011), bisa saja terjadi. Sasarannya, menjadikan Indonesia negeri yang selalu gaduh dan jauh dari suasana aman dan damai.

Kemungkinan tersebut diungkapkan mantan Komandan Jenderal Komando Pasukan Khusus (Kopassus) TNI Angkatan Darat Prabowo Subianto di sela acara halalbihalal DPP Partai Gerindra di Jakarta, Selasa (12/9/2011).

Menurut Prabowo, sangat mungkin ada kekuatan asing yang terlibat dalam kerusuhan Ambon. “Sangat mungkin juga ada pihak-pihak, kekuatan-kekuatan tertentu, mungkin juga kekuatan asing, yang selalu ingin bikin Indonesia gaduh. Jadi, seluruh masyarakat, menurut saya, harus selalu menjaga kesejukan, perdamaian, dan tidak mudah terpancing desas-desus, ” katanya.

Prabowo mengatakan, masyarakat harus percaya kepada aparat yang berwenang dan tidak mudah terpancing isu yang tak jelas sumbernya. “Harus selalu waspada dengan penyebarluasan desas-desus, ” ujarnya.

http://berita. liputan6. com/read/ 353090/pemuda- ambon-bertemu- di-jakarta- mencari-solusi

Pemuda Ambon Bertemu di Jakarta, Mencari Solusi

Rochmanuddin dan Fira Abdurachman

Artikel Terkait
a.. Komunikasi, Kunci Utama Penyelesaian Kerusuhan Ambon
b.. Masyarakat Ambon Sebenarnya Lelah Berkonflik
c.. Polisi Belum Tetapkan Tersangka Kerusuhan Ambon
d.. Bentrokan Ambon, Kontras Minta Aparat Keamanan Tegas
e.. Presiden Minta Warga Ambon Tahan Diri
12/09/2011 20:12
Liputan6.com, Jakarta: Demi mencari solusi masalah yang belakangan marak di Ambon, Maluku, puluhan pemuda beserta tokoh-tokoh masyarakat daerah itu menggelar pertemuan di Senayan, Jakarta, Senin (12/9) malam.

Tokoh pemuda Ambon Darmin Sanusi menyatakan, tujuan diadakan acara, selain bersilaturahmi, juga mencari solusi terbaik untuk penyelesaian konflik di Maluku. “Dengan harapan bahwa apa yang dilakukan pemuda Indonesia bersatu menjadi kesempatan untuk mencari solusi yang terjadi belakangan ini di Maluku,” ujarnya.

Hal sama juga disampaikan pemuka masyarakat Ambon Muhammad Sidiq. Ia menjelaskan pertemuan ini guna mencari solusi peristiwa di Ambon. Masalah yang ada bukan saja masalah yang harus ditanggung satu kelompok, melainkan menjadi tanggung jawab semua kalangan.

“Karena itu ingin saya sampaikan, kami sadari keadaan di sana tidak hanya bisa diselesaikan sebagian pihak saja, tapi menyeluruh kita bersama-sama bagaimana Maluku ke depan. Judul yang paling tepat, apa yang harus kita lakukan, menyikapi yang terjadi di sana,” ujarnya.

Dalam kesempatan yang sama, Bob Tutupoli juga berharap pertemuan yang dimulai pukul 19.00 WIB itu dapat menghasilkan solusi terbaik dari kesepakatan bersama dengan kepala dingin. “Yang penting kita tidak mau menang sendiri. Paling utama berupa satu imbauan, jangan karena kita tidak tahu persis kejadian di sana, kita berbicara yang justru menambah masalah. Karena itu lebih baik imbauan sangat diharapkan di sini,” tandasnya.(BJK/ ULF)

http://www.rnw. nl/bahasa- indonesia/ article/waspadai -berita-dari- sosial-media

Map
Hilversum, Belanda
Hilversum, Belanda
Waspadai Berita dari Sosial Media
Diterbitkan : 12 September 2011 – 1:43pm | Oleh Redaksi Indonesia (Foto: EPA)
Diarsip dalam:

Jangan terprovokasi berita dari Maluku, itu pesan Otto Mattulessy, Pemimpin Sinode Gereja Injili Maluku di Belanda, menanggapi kerusuhan Ambon Ahad.

Otto Mattulessy (OM): Saya merasa menyesal bahwa hal ini terjadi di Ambon. Saya sudah harap tidak lagi terjadi tapi ternyata bisa terjadi. Saya pikir ada orang-orang yang masih main dari dalam. Kalau saya mengikuti beritanya, tadi-tadinya beritanya berbunyi bahwa tukang ojek itu dibunuh, sedangkan tukang ojek itu kecelakaan. Peranan siapakah ini?

Sejauh yang saya tahu, walikota dan wakil walikota sudah mengunjungi keluarga itu. Saya punya tanda tanya mengapa polisi tidak cepat dengan pernyataan bahwa keluarga itu sudah dikunjungi dan dijelaskan bahwa ini kecelakaan murni.

Terlebih saya dengar sekarang, dari Makassar mereka kirim tentara untuk kendali keadaan di Ambon. Ini mengingatkan kita pada tahun 2000an. Saya harap hal-hal seperti itu tidak terjadi dan saya harap bisa dikendalikan secepat mungkin karena berita-berita FB itu kadang-kadang tidak benar dan menimbulkan banyak emosi.

Saya harap segala berita yang datang dari Maluku juga dicek betul karena saya takut bahwa berita-berita itu berdasar pada dengar-dengar saja. Kita harus waspada, melihat media mana yang kemukakan berita-berita ini.

Radio Nederland Wereldomroep (RNW): Ini menunjukkan betapa pekanya situasi di Ambon?

OM: Memang ketegangan itu masih ada tapi sejauh ini dapat dikendali. Tapi mesti ada orang yang tahu itu sehingga mempermainkan soal ini.

Terkait:
a.. Kota Ambon Rusuh Lagi
b.. Intensifkan Dialog di Ambon
c.. Warga Muslim dan Kristen Saling Melindungi
d.. Damai di Kota Mati Lampu

RNW: Menurut Bapak kenapa ada pihak-pihak yang ingin memenaskan situasi?

OM: Saya belum tahu betul tapi saya kira masih ada pihak yang mau cari keuntungan, untuk kelompoknya. Saya harap dari pihak gereja dan mesjid di Ambon bisa rapaih mengatasi hal ini.

Sosial media
RNW: Bapak menyebut peran sosial media seperti facebook, twitter, juga sms. Bagaimana menurut Bapak?

OM: Yang saya harapkan dalam semua ini ada satu kronologi dari peristiwa yang terjadi. Rupanya hingga sekarang ini, kronologi itu tidak ada. Orang bisa ambil saja berita di twitter, di FB, sms, sedangkan tidak ada kronologi yang tepat sebetulnya. Jadi kita harus waspada dengan sosial media ini.

RNW: Orang harus waspada sebelum menyebarluaskan berita.

OM: Ya, karena berita yang masuk dari Ambon itu misalnya mereka telpon lalu katakan terjadi begini-begitu. Tapi mereka sendiri tidak ada di tempat, tapi hanya dengar dari sini dan situ.

RNW: Apa yang bisa dilakukan warga Maluku di Belanda untuk membantu mendamaikan situasi?

OM: Saat ini saya kira, tenang dulu saja. Lihat apa yang terjadi. Kalau bisa jangan memanaskan keadaan di sana.

Diskusi
J.H. Werinussa 12 September 2011 – 6:33pm / Republik Maluku Selatan *** RMS ***
a.. balas
Beta sungguh mengharapkan dari semua unsur terkait terlebih lagi kepada pemimpin kegerejani dan teristimewa kepada ketua Sinode Gereja injili Maluku (GIM) Pendeta O. Mattulessy di Belanda agar kesadaran berbangsa dan bernegara dalam diri kita masing masing haruslah dipertahankan dan dipentingkan. jangan mudah terpancing dengan wawancara wawancara Indonesia yang tidak jujur. Ingat, mereka juga bisa memanfaatkan keadaan dan memutarbalikan kata kata mereka dalam kepentingan Indonesia. Untuk itu, identitasmu sebagai tokoh masyarakat dan terlebih lagi sebagai Ketua Sinode GIM di belanda, janganlah semudah itu membawa diri kedalam arena percaturan politik Indonesia. GIM itu adalah GEREJA dari Rakyat dan bangsa Republik Maluku Selatan dan tidak bisa disamakan dengan GPM di Indonesia. Jadi Ketua Sinode Gereja Rakyat Republik Maluku Selatan. Beta menghimbau kepada semua tokoh tokoh dan pemuka pemuka masyarakat RMS di Belanda agar jangan salah membuktikan dirimu sebagai pemuka masyarakat Republik Maluku Selatan. Kiranya Tuhan memberkati katong samua dari BPPKRMS dan terimalah salam kebangsaan kami “Mena Muria”

About these ads

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 54 other followers

%d bloggers like this: