DANAU MASORAYA DAN ILOGISME

Jurnal Toddoppuli

Cerita Buat Andriani S. Kusni dan Anak-Anakku

DANAU MASORAYA DAN ILOGISME

 

Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar) berencana awal Agustus 2011 akan menimbun Danau Masoraya, yang panjangnya kurang lebih 2,5 kilometer. Penimbunan Danau Masoraya ini dilakukan guna membangun  jalan menuju Kecamatan Kotawaringin Lama (Kolam) tembus ibukota Kobar,  Pangkalan Bun. Oleh  Radar Pangkalan Bun, bagian dari Harian Radar Sampit, tanggal 29 Juli 2011, rencana ini dijadikan berita utama dengan huruf-huruf besar, barangkali ingin mempertanyakan  pendapat pendapat dan sikap para pembacanya tentang rencana  DPU ini. Dana penimbunan dianggarkan sebesar dua miliar.

 

Rencana penimbunan Danau Masoraya ini beberapa waktu lalu  sempat dibahas alot oleh sejumlah unsur-unsur terkait, termasuk DPRD Kobar.Pasalnya , ada beberapa alternatif yang menjadi pertimbangan. Alternatif-alternatif itu, pertama,  penimbunan yang memang sempat dikerjakan oleh DPU dengan  menyerap dana dua miliar, hasilnya kurang maksimal. Kedua, dibuat jalan layang, dan ketiga, danau itu dihindari, dengan mengambil lokasi sebelah kiri atau kanan danau yang struktur tanahnya keras (Radar Pangkalan Bun, 29 Juli 2011). Berbagai pihak menyaran agar pihak DPU mempertimbangkan kembali rencananya untuk menimbun danau , baik  dari segi efisiensi anggaran, mau pun dari sudut pandang kualitas hasil pekerjaan. ‘’Kita berpikir obyektif saja. Perencanaan proyek itu kan bukan hanya asal jadi, namun juga mempertimbangkan kualitas dan biaya. Danau itu, kondisi tanahnya  patut diteliti, kedalaman dan struktur tanahnya. Memang sekitar lima meter dari dasar tanah, tetapi kedalaman lumpurnya kan juga perlu diketahui benar-benar. Yang dikhawatirkan setelah ditimbun malah menjadi lebih besr biayanya’’, papar PS , seorang konsultan di Pangkalan Bun yang memang pernah melakukan survey ke lapangan. ‘’Danau itu, setelah diukur panjangnya 2,6 km. Padahal jika mengambil posisi sebelah kiri  hanya akan menjadi sekitar lima kilometer. Tapi yang jelas itu daratan, struktur tanahnya lebih padat”, lanjut PS yang selanjutnya menjelaskan bahwa “meskipun tanahnya ada yang bergambut, tetapi sebelah kiri danau Masoraya kondisinya lebih baik dibandingkan memutar sebelah kanan. Agar kualitasnya bagus,bisa dibuatkan geotekstil. Sampingnya dibuat geomembran” (Radar Pangkalan Bun, 30 Juli 2011).

 

Menanggapi saran-saran dan tantangan terhadap rencana penimbunan danau Masoraya  ini, Kepala DPU Kobar Agus Yuwono menyatakan, pihaknya tetap akan menimbun danau tersebut. Alasannya: “Memang pileslab merupakan solusi yang lebih mudah, tapi biayanya jauh sekali (lebih besar), bisa dua kali lipat”. Karena itu, pihak DPU “akan mengambil jalan tengah. Artinya, ada beberapa titik yang diyakini struktur tanahnya kuat tetap akan ditimbun, sementara untuk beberapa di sepanjang jalan lima kilometer itu tidak memungkinkan lagi untuk ditimbun , direncanakan akan dibuat jembatan. Kalau dibuat  pileslab semua, berapa anggarannya. Soalnya, ada  pileslab yang hanya 200 meter saja menghabiskan dana Rp.13 miliar” (Radar Pangkalan Bun, 30 Juli 2011).

 

Masalah utama yang ingin saya angkat di sini adalah masalah penimbunan danau untuk pembangunan infrastruktur fisik. Pembangunan pada masa pemeritah Orde Baru dijadikan sebgai “agama baru” yang membenarkan segala tindakan. Pemerintah Kotwringin Timur melalui sepucuk surat resminya kepada alm. Mayor Tiyel Djelau yang ingin melindungi Bukit Batu dari penghancuran pemburu batu untuk bangunan sebagai “anti dan perintang  pembangunan”. “Agama pembangunan” ini telah merusak hutan, sungai dan danau serta kehidupan penduduk Kalteng, sampai sekarang. Karena orientasi pembangunan tidak berporos pada kepentingan rakyat. Rakyat hanya di atasnamakan. Tapi senyatanya yang banyak diuntungkan adalah kepentingan pengelola kekuasaan. Pembangunan berarti proyek, proyek berarti uang masuk untuk penyelenggarnya dan teman-teman penyelenggara. Danau, termasuk Danau Masoraya, sungai dan hutan adalah kekayaan Kalteng. Menimbun danau, bukankah suatu  tindakan menghancurkan lingkungan dan kekayaan yang ada di danau tersebut? Menghapuskan danau tersebut dari peta bumi Kalteng untuk selama-lamanya? Hal ini terjadi membuntuti Proyek Lahan Gambut Sejuta Hektar, proyek yang mengatasnamai rakyat tetapi menyengsarkan rakyat. Demi melaksanakan rencana pembangunan “egoistik” pertimbangan nalar apa pun tidak diindahkan. Rencana penimbunan adalah suatu sikap dan rencana yang tidak melihat jauh, tidak melihat dampak-dampak negatifnya. Sedangkan danau seperti dikatakan oleh Andrianof A.Chaniago, Koordinator Visi Indonesia 2033 “terbukti mampu menjadi penggerak perekonomian” (Radar Sampit,  29 Juli 2011). Artinya menimbun danau identik dengan menimbun salah satu penggerak perekonomian. Sugguh menjadi pertanyaan besar: Dengan tujuan meraih manfaat apa Kadis DPU Kobar mempunyai rencana menimbun Danau Masoraya? Berhemat? Berhemat dengan menimbun alias menghancurkan satu “penggerakperekonomian”? Rencana ini penuh dengan ilogisme. Kalau bukan penuh dengan ilogisme maka ia adalah rencana dan tindak anti nalar. Anti nalar ini hanya bisa dipahami dari  pertimbangan pragmatisme financial dan atau profit egoistik. Tanpa menyebutnya satu persatu secara spesifik,  sudah menjadi pengetahuan dunia, terlalu banyak sudah alam Kalteng dirusak dan dihancurkan oleh ilogisme begini, Apakah  masih mau diteruskan dan dibiarkan?

 

Sadar akan arti air, danau, laut dan hutan, salah seorang Kaisar Tiongkok dahoeloe lalu memerintahkan pembangunan danau-danau besar seperti Pei Hai (Laut Utara), Danau Musim Panas di Beijing, Danau Barat (Sie Ho) di Hangchow. Danau- danau buatan ini sekarang menjadi obyek dan tempat wisata yang didatangi oleh jutaan wisatawan. Kecuali itu,  menjadi tempat mengembangkan ternak ikan. Ikan Danau Sie Ho menjadi salah satu ikon kotacantik Hangchow. Negeri Belanda yang berada di bawah permukaan laut, penuh dengan  danau dan kanal-kanal dinaungi oleh pepohonan willow. Kanal dan danau merupakan ikon, obyek dan tempat wisata di negeri tersebut. Negeri manapun di dunia ini, terutama negeri-negeri yang beradab, tidak menghancurkan danau, sungai dan hutan mereka. Sebaliknya dirawati dengan baik apa yang sudah ada. Lebih jauh mereka membuat danau dan hutan buatan. Dengan kesadaran serupa, sekalipun sudah dilingkugi oleh air, pemerintah Sulawesi Selatan telah membangun Danau Buatan Bili-Bili di kabupaten Sungguminasa. Bahkan Kota Makassar sendiri pun membangun danau buatan  seluas Bundaran Besar Palangka Raya dinaungi pohon-pohon rindang. Apalagi Paris yang mencoba menjadikan diri sebagai kota hijau.  Kota ini selain mengembangkan pertamanan, juga membangun danau-danau buatan seperti Danau Buatan Creteil.  Berkebalikan dari  sikap berbudaya negeri-negeri, Kabupaten Sungguminasa, Makassar atau Paris tersebut, di Kalteng kita malah menghancurkan danau, sungai, hutan dan gunung. DPU yang dikepalai oleh Agus Yuwono dengan bangga dan ketetapan hati mau menimbun Danau Masoraya, mau melenyapkannya dari peta bumi. Padahal jalan lain untuk membangun jalan  yang direncanakan itu tersedia. Tidakkah akan lebih indah apabila ada jalan merentang di pinggir danau. Dengan adanya jalan membujur di pinggir danau, danau bisa menjadi obyek dan tempat wisata yang menyenangkan. Menimbun danau sama dengan menghancurkan sumber penghasilan daerah dan bersamaan dengan itu merusak lingkungan. Saya kira rencana penimbunan Danau Masoraya ini, sebelum terlambat, pada tempatnya menjadi perhatian Pemerintah tingkat lebih atas dan menjadi perhatian lembaga ada badan-badan yang melindungi kelestarian lingkungan. Berapa jalan dan jembatan sudah dibangun di Kalteng, pembangunannya tidak diiringi dengan penimbunan  sungai, danau dan anak sungai. Rencana penimbunan danau baru pertama kali ini terdengar dan dating dri DPU Kobar. Di mana LSM-SM Lingkungan dan ke mana BLH (Badan Lingkungan Hidup) berbagai tingkat di hadapan soal rencana penimbunan Danau Masoraya sekarang? Oleh besarnya proyek sampai miliaran rupiah pembangunan jalan ini, mengapa tidak KPK mulai meliriknya sejak dini, untuk melihat apa sesungguhnya yang sedang terjadi dibalik rencana penimbunan Danau Masoraya yang mengesankan ilogis?

 

Membiarkan Danau Masoraya ditimbun sama dengan membiarkan ilogisme menguasai Kalteng. Ilogisme ini memang sedang mendominasi dan mendiktaturi  masyarakat Kalteng. Ilogisme erat hubungannya dengan kualitas seseorang. Sosiolog Universitas Indonesia, Tamrin Amal Tomagola menilai “kualitas pimpinan di negeri ini, elite politik yang saat ini yang berkuasa, kebanyakan berkualitas rendah dan bukan manusia pilihan (http://www.sinarharapan.co.id/berita/content_96/read/kualitas-elite-politik-rendah/). ***

Kusni Sulang, Anggota Lembaga Kebudayaan DayakKalimantanTengah Palangka Raya.

 

 

About these ads

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 54 other followers

%d bloggers like this: