Memprioritaskan Pembangunan di Daerah Perbatasan

Memprioritaskan Pembangunan di

Daerah Perbatasan

Senin, 23 Mei 2011 |Editorial

Wilayah perbatasan Negara Kesatuan Republik Indonesia umumnya jauh dari jangkauan modal sehingga kondisinya tertinggal dalam berbagai hal dibandingkan wilayah lain. Menurut sumber di Kementerian Negara Pembangunan Daerah Tertinggal, terdapat 26 kabupaten yang terletak di perbatasan. Semua kabupaten ini tercatat masuk dalam kategori daerah tertinggal.

Bahkan di beberapa daerah, khususnya di pulau Kalimantan yang berbatasan dengan teritori Malaysia, ketergantungan ekonomi masyarakat terhadap negeri tetangga sangat besar. Barang-barang kebutuhan hidup dibeli dari Malaysia, dibawa melalui jalan-jalan tikus yang jumlahnya mencapai ratusan.

Keadaan ekonomi yang tertinggal di wilayah perbatasan bukanlah situasi yang sangat khusus, karena keadaan serupa dapat ditemui di daerah lain yang bukan perbatasan. Namun wilayah perbatasan mempunyai arti penting tersendiri.

Kita sudah sering mendengar pendapat berbagai kalangan tentang arti penting tersebut, sehingga berkonsekuensi diperlukannya prioritas pembangunan daerah perbatasan. Dari aspek pertahanan, kesejahteraan masyarakat di daerah perbatasan berkaitan dengan keadaulatan nasional suatu bangsa.

Pilihan masyarakat perbatasan untuk memehuni kebutuhan hidupnya dari negeri tetangga menggambarkan lemahnya kedaulatan negeri ini. Bahkan banyak kejadian warga di perbatasan yang memilih pindah kewarga-negaraan (WNI ke Malaysia) karena kesenjangan ekonomi kedua negeri. Selain itu, bukan rahasia lagi bahwa penyelundupan kayu ilegal banyak terjadi melalui daerah ini.

Dari sini dapat ditarik pelajaran, bahwa kecintaan terhadap tanah air bukanlah seperti wahyu dari langit, melainkan dipengaruhi oleh kondisi sosio-ekonomi dan kultural yang melingkupinya. Dapat dibayangkan, bila seorang anak WNI harus menempuh jalan berpuluh kilometer untuk bersekolah, sementara di seberangnya, anak warga negara Malaysia dapat dengan mudah mengakses sekolah, dengan kualitas yang lebih baik pula.

Dari aspek lain, disebutkan bahwa daerah perbatasan adalah “serambi” suatu negara, sehingga harus dikondisikan sebaik mungkin. Entah alasan ini ada hubungan atau tidak dengan tradisi “pencitraan” yang sering digunakan dalam ranah politik. Namun dalam persaingan ideologi di masa lalu, “pencitraan” demikian pernah terjadi di dua negara yang sekarang sudah menjadi satu, yakni Jerman Barat dan Jerman Timur.

Terlepas dari arti penting tersebut di atas, kita melihat persoalan ketertinggalan di daerah perbatasan berhubungan dengan kebijakan yang memusatkan akumulasi modal di wilayah Jawa, atau lebih khusus lagi, Jakarta. Kebijakan ini mengakibatkan tertinggalnya daerah-daerah di luar Jawa, dan imbasnya adalah daerah perbatasan yang berada paling jauh atau terluar.

Oleh karena itu, prioritas pembangunan perbatasan harus dimulai dari perubahan paradigma pembangunan nasional. Tanggungjawab memperhatikan daerah perbatasan tidak dapat diemban oleh Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal semata, yang mendapat pagu anggaran sangat kecil untuk menanggulangi masalah yang sangat besar.

Pembangunan nasional harus mendahulukan desa dan atau pedalaman. Bukan hanya melalui alokasi anggaran yang lebih besar, melainkan harus disertai program-program ekonomi yang menyentuh kebutuhan riil masyarakat; baik infrastruktur jalan, pertanian, pendidikan dan kesehatan. Tanpa itu maka rencana-rencana pembangunan daerah perbatasan tetap akan menjadi retorika penguasa.

Anda dapat menanggapi Editorial kami di: redaksiberdikari@yahoo.com

http://berdikarionline.com/editorial/20110523/memprioritaskan-pembangunan-di-daerah-perbatasan.html

About these ads

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 56 other followers

%d bloggers like this: