BUNG KARNO DAN PANCA SILA DI GELANGGANG INTERNASIONAL

BUNG KARNO DAN PANCA SILA DI GELANGGANG INTERNASIONAL

DALAM RANGKA MEMPERINGATI PANCASILA DAN MENGENANG BUNG KARNO SAYA LONTARKAN CUKILAN PIDATO BUNG KARNO DI SIDANG UMUM PBB 30 SEPTEMBER 1960 YANG BERJUDUL “MEMBANGUN DUNIA BARU” (TO BUILD  THE WORLD ANEW).

KUTIPAN :

 

   “Tidak seorangpun akan membantah unsur kebenaran dalam pandangan jang dikemukakan oleh Bertrand Russel itu. Sebagian besar dari dunia telah terbagi mendjadi golongan jang menerima gagasan dan prinsip-prinsip Declaration of Amerika Independence  dan golongan jang  menerima gagasan dan prinsip-prinsip Manifesto Komunis. Mereka jang menerima gagasan jang satu menolak gagasan jang lain, dan terdapatlah bentrokan atas dasar ideologis maupun praktis.

   Kita semuanja terantjam oleh bentrokan itu dan kita merasa chawatir karena bentrokan ini. Apakah tidak sesuatu tindakan jang dapat diambil terhadap antjaman ini ? Apakah hal ini harus dari generasi ke generasi,  dengan kemungkinan pada achirnja akan meletus mendjadi lautan api jang akan menelan kita semuanja ? Apakah tidak ada suatu djalan keluar ?

   Djalan keluar harus ada. Djika tidak ada, maka semua musjawarah kita, semua harapan kita, semua perdjuangan kita akan sia-sia belaka.

   Kami bangsa Indonesia tidak bersedih bertopang dagu, sedangkan dunia menudju kedjurang keruntuhannja. Kami tidak bersedia bahwa fadjar tjerah dari kemerdekaan kami diliputi oleh awan radio-aktif. Tidak satupun diantara bangsa-bangsa Asia atau Afrika akan bersedia menerima hal itu. Kami memikul pertanggungan-djawab terhadap dunia, dan kami siap menerima serta  memenuhi pertanggungan-djawab itu. D…ika itu berati turut-tjampur dalam apa jang tadinja merupakan urusan-urusan Negara-Negara Besar jang didjauhkan dari kami, maka kami akan bersedia melakukannja. Tidak ada bangsa Asia dan Afrika manapun djuga jang akan menjingkiri tugas itu.

   Bukankah djelas, bahwa bentrokan itu timbul terutama karena ketidak-samaan? Didalam suatu bangsa, adanja jang kaja dan miskin, jang dihisap dan jang menghisap, menimbulkan bentrokan. Hilangkan penghisapan, dan bentrokan itu akan lenjap, karena sebab jang menimbulkan bentrokan itu telah tidak ada.

   Diantara bangsa-bangsa, djika ada jang kaja dan jang miskin, jang menghisap dan jang dihisap, akan pula ada bentrokan. Hilangkan sebab jang menimbulkan bentrokan, dan bentrokan itu akan lenjap. Hal itu berlaku, baik internasional maupun didalam suatu bangsa. Dilenjapkannja imperialisme dan kolonialisme meniadakan penghisapan demikian daripada bangsa oleh bangsa.

   Saja pertjaja, bahwa ada djalan keluar daripada konfrontasi ideologi-ideologi itu. Saja pertjaja bahwa djalan keluar itu terletak pada dipakainja Pantja Sila setjara universil !

   Siapakah diantara tuan-tuan menolak Pantja Sila ? Apakah wakil-wakil jang terhormat dari bangsa Amerika jang besar menolaknja ? Apakah wakil-wakil jang terhormat dari bangsa Rusia jang besar menolaknja ? Ataukah wakil-wakil jang terhormat dari Inggeris atau Polandia ? atau Perantjis atau Tjekoslowakia ? Ataukah memang ada diantara mereka jang agaknja telah mengambil posisi jang statis dalam Perang Dingin antara gagasan-gagasan dan praktek-praktek, dan jang berusaha tetap berakar sedalam-dalamnja sedangkan dunia menghadapi kekatjauan-kekatjauan ?

   Lihat, lihatlah delegasi jang mendukung saja ! Delegasi itu  bukan terdiri dari pegawai-pegawai  negeri atau politikus-politikus profesionil. Delegasi ini mewakili bangsa Indonesia. Dalam Delegasi ini ada pradjurit-pradjurit. Mereka menerima Pantja Sila, ada seorang ulama Islam jang besar, jang merupakan soko guru bagi agamanja. Ia menerima Pantja Sila. Selandjutnja ada pemimpin Partai Komunis Indonesia jang kuat. Ia menerima Pantja Sila. Seterusnja ada wakil-wakil dari Golongan-golongan Katolik dan Protestan, dari Partai Nasionalis dan organisasi-organisasi buruh dan tani, ada pula wanita-wanita, kaum tjendekiawan dan pedjabat-pedjabat pemerintahan. Semuanja, ja semuanja menerima Pantja Sila.

   Mereka bukannja menerima Pantja Sila semata-mata sebagai konsepsi ideologi belaka, melainkan sebagai suatu pedoman jang praktissekali untuk bertindak. Mereka diantara bangsa-bangsa saja jang berusaha mendjadi pemimpin tetapi menolak Pantja Sila, ditolak pula oleh bangsa Indonesia.

   Bagaimana penggunaan setjara Internasional daripada Pantja Sila ? Bagaimana Pantja Sila itu dapat dipraktekkan ? Marilah kita tindjau kelima pokok itu satu demi satu.

   Pertama – Ketuhanan Jang Maha Esa. Tidak seorangpun jang menerima Declaration of American Independence sebagai pedoman untuk hidup dan bertindak, akan menjangkalnja. Begitu pula tida ada seorang pengikutpun dari Manifesto Komunis, dalam forum internasional ini kini akan menjangkal hak untuk pertjaja kepada Jang Maha Kuasa. Untuk pendjelasan lebih landjut mengenai hal ini, saja persilahkan tuan-tuan jang terhormat bertanja kepada tuan Aidit, ketua Partai Komunis Indonesia, jang duduk dalam Delegasi saja dan jang menerima sepenuhnja baik Manifesto Komunis maupun Pantja Sila.

   Kedua : Nasionalisme. Kita semua adalah wakil-wakil bangsa-bangsa. Bagaimana kita akan dapat menolak nasionalisme ? Djika kita menolak nasionalisme, maka kita harus menolak kebangsaan kita sendiri dan menolak pengorbanan-pengorbanan jang telah diberikan oleh generasi-generasi. Akan tetapi saja peringatkan tuan-tuan ; djika tuan-tuan menerima prinsip nasionalisme, maka tuan-tuan harus menolak Imperialisme. Tetapi pada peringatan itu saja ingin menambahkan peringatan lagi : Djika tuan-tuan menolak imperialisme, maka setjara otomatis dan dengan segera tuan-tuan lenjapkan dari dunia jang dalam kesukaran ini sebab terbesar jang menimbulkan ketegangan dan bentrokan.

   Ketiga : Internasionalisme. Apakah perlu untuk berbitjara dengan pandjang lebar mengenai internasionalisme dalam badan internasional ini ? Tentu tidak ! Djika bangsa-bangsa kita tidak “Internationally minded”, maka bangsa-bangsa itu tidak akan mendjadi anggauta organisasi ini. Akan tetapi, internasionalisme jang sedjati tidak selalu terdapat disini. Saja menjesal harus mengatakan demikian, akan tetapi hal ini adalah suatu kenjataan. Terlalu sering perserikatan bangsa-bangsa dipergunakan sebagai forum untuk tudjuan-tudjuan nasional jang sempit atau tudjuan-tudjuan golongan sadja. Terlalu sering pula tudjuan-tudjuan jang agung dan tjita-tjita jang luhur dari piagam kita dikaburkan oleh usaha untuk mentjari keuntungan nasional atau prestige nasional. Internasionalisme jang sedjati harus didasarkan atas kenjataan persamaan nasional. Internasionalisme jang sedjati harus didasarkan atas persamaan kehormatan, persamaan penghargaan dan atas dasar penggunaan setjara praktis dari pada kebenaran, bahwa semua orang adalah saudara. Untuk mengutip piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa – dokumen jang sering kali dilupakan orang itu – internasionalisme itu harus “meneguhkan kembali kejakinan ……….berdasarkan hak-hak jang sama bagi ……………bangsa-bangsa, baik besar maupun ketjil”.

   Achirnja, dan sekali lagi, internasionalisme akan berarti berachirnja imperialisme dan kolonialisme, sehingga dengan demikian berachirnja banjak bahaja dan ketegangan.

   Keempat : Demokrasi. Bagi kami bangsa Indonesia, demokrasi mengandung tiga unsur jang pokok. Demokrasi mengandung pertama-tama prinsip jang kami sebut Mufakat  jakni : kebulatan pendapat. Kedua, demokrasi mengandung prinsip Perwakilan

   Achirnja demokrasi mengadung, bagi kami, prinsip Musjawarah. Ja, demokrasi Indonesia mengandung ketiga prinsip itu, jakni : mufakat, perwakilan dan musjawarah antara wakil-wakil.

   Prinsip-prinsip dari pada tjara kehidupan demokrasi kami ini dikandung sedalam-dalamnja oleh rakjat kami dan sudah ada sedjak berabad-abad lamanja. Prinsip-prinsip ini menguasai kehidupan demokrasi kami ketika suku-suku jang liar dan biadab masih mengembara di Eropah. Prinsip-prinsip ini membimbing kami ketika feodalisme mendjadikan dirinja kekuatan jang progresif dan revolusioner di Eropah. Prinsip-prinsip ini memberi kekuatan kepada kami, ketika feodalisme melahirkan kapitalisme, dan ketika kapitalisme mendjadi bapak imperialisme jang memperbudak kami. Prinsip-prinsip ini memberi kekuatan kepada kami selama gerhana kegelapan pendjadjahan dan selama tahun-tahun jang berdjalan lambat, ketika bentuk-bentuk lain dan berbeda-beda dari praktek-praktek demokrasi timbul setjara perlahan-lahan di Eropah dan Amerika.

   Perhatikanlah. Oraganisasi Perserikatan Bangsa-Bangsa ini adalah organisasi dari bangsa-bangsa jang sederadjat, organisasi dari negara-negara jang mengakui kedaulatan jang sederadjat, kemerdekaan jang sederadjat dan rasa bangga jang sederadjat tentang kedaulatan serta kemerdekaan. Satu-satunja tjara bagi organisasi ini untuk dapat mendjalankan fungsinja setjara memuaskan, ialah dengan djalan mufakat jang diperoleh dalam musjawarah. Musjawarah harus dilakukan sedemikian rupa, sehingga tidak ada saingan antara pendapat-pendapat jang bertentangan, tidak ada resolusi-resolusi dan resolusi-resolusi balasan, tidak ada pemihakan-pemihakan, melainkan hanja usaha jang teguh untuk mentjari dasar umum dalam memetjahkan sesuatu masalah. Dari musjawarah sematjam ini timbullah permufakatan, suatu kebulatan pendapat jang lebih kuat dari pada suatu resolusi jang mungkin tidak diterima, atau jang mungkin tidak disukai oleh minoritet.

   Apakah saja berbitjara idealistis ? Apakah saja memimpikan dunia jang ideal dan romantis ?

   Tidak ! Kedua kaki saja dengan teguh berpidjak ditanah ! Betul saja menengadah kelangit untuk mendapatkan inspirasi, akan tetapi pikiran saja tidak berada diawang-awang. Saja tegaskan, bahwa tjara-tjara musjawarah demikian ini dapat dilaksanakan. Tjara-tjara itu bagi kami dapat didjalankan . Tjara-tjara itu dapat didjalankan dalam D.P.R. kami, tjara-tjara itu dapat didjalankan dalam D.P.A. kami, tjara-tjara itu dapat didjalankan dalam Kabinet kami.

   Tjara musjawarah ini dapat didjalankan, karena wakil-wakil bangsa berkeinginan agar tjara-tjara itu dapat berdjalan. Kaum komunis menginginkannja, kaum nasionalis menginginkannja, golongan Islam menginginkannja, dan golongan Kristen menginginkannja, Tentara menginginkannja, baik warga kota maupun rakjat didesa-desa jang terpentjil menginginkannja, kaum tjendekiawan menginginkannja dan orang jang berusaha dengan sekuat-tenaga memberantas buta huruf menginginkannja. Semua menginginkannja, karena semuanja menginginkannja tertjapainja tudjuan djelas dari Pantja Sila, dan tudjuan jang djelas itu ialah masjarakat adil dan makmur.

   Tuan-tuan boleh berkata : “Ja, kita akan menerima kata-kata Presiden Soekarno dan kita akan menerima bukti-bukti jang kita lihat dalam susunan delegasinja di Perserikatan Bangsa-Bangsa pada hari ini, akan tetapi kita adalah kaum realis dalam dunia jang kedjam. Tjara satu-satunja untuk menjelenggarakan pertemuan internasional ialah tjara jang dipergunakan dalam menjelnggarakan Perserikatan Bangsa-Bangsa, jaitu dengan resolusi-resolusi, amandemen-amandemen, suara-suara majoritet dan minoritet”.

   Perkenankanlah saja menegaskan sesuatu. Kami tahu dari pengalaman jang sama pahitnja, sama praktisnja dan sama realistisnja, bahwa tjara-tjara musjawarah kami dapat pula diselenggarakan dibidang internasional. Dibidang itu tjara-tjara itu berdjalan sama baiknja seperti dibidang nasional.

   Seperti tuan-tuan ketahui, belum begitu lama berselang, wakil-wakil dari dua puluh sembilan bangsa-bangsa dari Asia dan Afrika berkumpul di Bandung. Pemimpin-pemimpin bangsa-bangsa itu bukan pemimpin-pengelamun jang tidak praktis. Djauh dari itu ! Mereka adalah pemimpin-pemimpin jang keras dan realistis dari rakjat dan bangsa-bangsa, sebagian besar diantara mereka lulus dari perdjuangan kemerdekaan nasional, semuanja mengetahui benara kan realitet-realitet dari pada kehidupan serta kepemimpinan  baik politik maupun internasional.

   Mereka mempunjai pandangan politik jang berbeda-beda, dari ekstrim kanan sampai ekstrim kiri.

   Banjak orang dinegara-negara barat tidak dapat pertjaja bahwa konperensi sematjam itu dapat menghasilkan sesuatu jang berguna. Banjak orang bahkan berpendapat bahwa konperensi itu akan bubar dalam keadaan katjau dan saling tuduh-menuduh , terpetjah-belah diatas karang perbedaan faham politik.

   Konperensi Asia-Afrika diselenggarakan dengan tjara-tjara musjawarah.

   Dalam konperensi itu tidak terdapat majorite dan minoritet. Tidak pula diadakan pemungutan suara. Dalam konperensi itu hanja terdapat musjawarah dan keinginan umum untuk mentjapai persetudjuan. Konperensi itu menghasilkan komunike jang dibuat dengan suara bulat, komunike jang merupakan salah suatu jang terpenting dalam windu ini atau mungkin salah satu dokumen jang terpenting dalam sedjarah.

   Apakah tuan-tuan masih sangsi terhadap faedah dan efisiensi daripada tjara musjawarah sematjam itu ?

   Saja jakin bahwa pemakaian dengan tulus ichlas dari tjara-tjara musjawarah demikian ini akan mempermudah pekerdjaan organisasi internasional ini. Ja, barangkali tjara ini akan memungkinkan pekerdjaan jang sebenarnja dari organisasi ini. Tjara musjawarah ini akan menundjukkan djalan untuk menjelesaikan banjak masalah-masalah jang makin bertumpuk bertahun-tahun. Tjara musjawarah ini akan memungkinkan terselesaikannja masalah-masalah jang tampaknja tidak terpetjahkan.

   Dan saja minta dengan hormat, hendaknja tuan-tuan ingat bahwa sedjarah memperlakukan mereka jang gagal tanpa mengenal ampun.

   Siapakah jang sekarang ini ingat kepada mereka jang membanting-tulang dalam Liga Bangsa-Bangsa ? Kita hanja ingat kepada mereka jang telah menghantjurkan badan internasional itu ! Akan tetapi mereka hanja menghantjurkan suatu organisasi negara-negara dari sebagian dunia sadja. Kita tidak bersedia bertopang dagu, dan melihat organisasi ini, organisasi kita sendiri, dihantjurkan karena tidak flexible, atau karena lambat menjambut keadaan dunia jang berobah.

   Apakah tidak patut ditjoba? Djika tuan-tuan berpendapat tidak, maka tuan-tuan harus bersedia untuk mempertanggung-djawabkan  keputusan tuan-tuan dihadapan mahkamah sedjarah.

   Achirnja, didalam Pantja Sila terkandung Keadilan Sosial. Untuk dapat dilaksanakan dibidang internasional, mungkin hal ini akan mendjadi keadilan sosial internasional. Sekali lagi, menerima prinsip ini akan berarti menolak kolonialisme dan imperialisme.

   Selandjutnja, diterimanja oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa keadilan sosial sebagai suatu tudjuan, akan berarti diterimanja pertanggungan-djawab dan kewadjiban-kewadjiban tertentu.

   Ini akan berarti usaha jang tegas dan berpadu untuk mengachiri banjak dari kedjahatan-kedjahatan sosial, jang menjusahkan dunia kita. Ini akan berarti bahwa bantuan kepada negara-negara jang belum madju dan bangsa-bangsa jang kurang beruntung akan disingkirkan dari suasana Perang Dingin. Ini akan berarti pula pengakuan jang praktis bahwa semua orang adalah saudara dan bahwa semua orang mempunjai tanggung-djawab terhadap saudaranja.

   Apakah ini bukan tudjuan jang mulia ! Apakah ada jang berani menjangkal kemuliaan dan keadilan dari pada tudjuan ini ? Djika ada jang berani menjangkalnja, maka suruhlah ia menghadapi kenjataan ! Suruh ia menghadapi si-lapar, suruh ia menghadapi sibuta huruf, suruh ia menghendaki si-sakit dan suruhlah ia kemudian membenarkan sangkalannja !

   Perkenankanlah saja sekali lagi mengulang lima sila itu. Ketuhanan Jang Maha Esa; Nasionalisme; Internasionalisme : Demokrasi ; Keadilan Sosial.

 

(BAHAN-BAHAN POKOK INDOKTRINASI HAL. 371-379)

About these ads

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 59 other followers

%d bloggers like this: