PARIWISATA KALTENG DAN MASALAH-MASALAHNYA

Jurnal Toddoppuli

Cerita Buat Andriani S.Kusni  Dan Anak-Anakku

PARIWISATA KALTENG DAN MASALAH-MASALAHNYA

 

Menjelang dan ketika merayakan Hari Jadi Provinsi Kalteng, masalah kebudayaan dan pariwisata muncul menjadi topik pembicaraan yang hangat. Tanggal 12 Mei 2011 dalam acara unik TVRI Kalteng  ‘’Gubernur Hasupa Rakyat’’, A. Teras Narang, SH memandu sendiri dengan penuh kemantapan tema acaranya ‘’Kebudayaan dan Pariwisata di Kalteng’’. Kalau ingatan saya benar, sepanjang sejarah 54 tahun Kalteng, baru tanggal 12 Mei 2011 lalu itu seorang gubernur secara khusus mengangkat tema demikian dalam jumpa publik. Pada zaman Pakat Dajak , tahun 1929 di bawah pimpinan Hausmann Baboe, pemikir, inisiator dan organistor kebangkitan Dayak, dengan syarat serba terbatas, pernah diselenggarakan Pertemuan Budaya yang khusus membahas soal Bahasa Dayak, di Penda Katapi.  Teras selain menetapkan pndangan-pandangan bersifat orientasi pembngunan budaya, juga menjanjikan dana sekitar 6 miliar untuk pembngunan kebudayaan Kalteng (Tabengan, 13 Mei 2011). Suatu terobosan berarti dibandingkan dengan kemandegan selama ini. Tinggal sekarang bagaimana ‘’para perwira’’ Gubernur menindak lanjutnya secara rinci , dengan prakarsa dan keberanian serupa. Menyusul  siaran khusus TVRI Kalteng di atas, di Hotel Aquarius Palangka Rya, Jumat  20 Mei 2011 dilagsungkan Rapat Konsultasi Wilayah Tujuan Wisata  (Rakon WTW) E dihadiri oleh M.Fried ,direktur Promosi Dalam Negeri Ditjen Pemasaran Pariwisata Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata se-Kalimantan. Rakon ini lebih melapangkan jalan dan memberi syarat baru menguntung bagi pengembangan pariwisata di Bumi Tambun Bungai menyusul terobosan yang sudah diakukan oleh Teras. Penulis Editrial Harian Tabengan, melihat hal ini, sekaligus mendorong pihak-pihak terkait, sebagai langkah “menuju wisata internsional’’ (Tabengan, 21 Mei 2011). Dikatakan juga oleh penulis editorial Tabengan bahwa “Rasanya tidak ada yang harus dikhawatirkan tentg potensi wisata daerah ini. Terlalu banyak yang bisa dikembangkan. Kalteng memiliki kekayaan dan keanekaragaman  flora dan fauna untuk menembus peringkat kepariwisataan kelas nasional dan dunia .Potensi itu adalah aset yang amat penting untuk meningkatkan roda perekonomian masyarakat . Karena wisata terkit langsung dengan perdagangan dan investasi’’. Pendapat begini juga diucapkan oleh Gamaliel yang sedang mengelola dan mengembangkan wisata susur sungai di Palangka. Raya. ‘’Tujuan dan obyek wisata itu ada di sekitar bahkan di depan mata kita’’, ujar Gamaliel dalam percakapan kami di Wisma Edelweis tempat saya menunmpang sementara. ’Masalahnya bagaimana kita mengobah yang potensial itu menjadi nyata. Membuat yang potensial ini jadi nyata bukanlah masalah sederhana, dan justru di sinilah terletak masalah pokok pariwisata di daerah ini. Selama ini yang banyak didengar oleh publik bahwa kabupaten ini atau itu sangat potensial untuk pengembangan pariwisata. Tapi sejauh ini potensi-potensi tersebut tinggal dan asih saja potensial. Belum berobah jadi kenyataan yang menguntugkan rakyat. Jangankan menjelma jadi kenyataan. Bahkan terbengkalai. Danau Tahai yang terletak di Km 36 , Sandung Sukah, taman-taman di tengah kota Palangka Raya, Bahu Palawa, rujab Tjilik Riwut di Jalan Sudirman, Museum Balanga, Taman Budaya, Bukit Tangkiling, untuk menyebut beberapa contoh saja, belum bisa dikatakan sudah terawat dan dimaksimalkan pengurusannya. Demikian juga dengan Sungai Kahayan. Di sini saya sedang berbicra tentang perawatan situs-situs budaya dan arkeologi, bicara tentang obyek wisata.

M. Faried menyebut bahwa ‘’pilar pariwisata adalah kesenangan, happy. Bagaimana membuat orang tertarik dan setelah pulang memiliki kenangan berkunjung ke lokasi wisata tersebut. Untuk itu bngunan pariwisata pun harus bersih, nyaman,dan tertib’’.(Harian Tabengan, Palangka Raya, 21 Mei 2011). Apakah kita sudah memperlakukan situs-situs dan lokasi wisata Kalteng demikian? Sandung Sukah bahkan stu sisinya pernah jadi tempat pembuangan sampah. Patung-patung dan ornmennya rusak.Bukit Batu, tempat Tjilik Riwut bertapa kotor berhamburan botol-botol plastik aqua. Demikian juga halnya dengan Kumkum. Bersih nyaman dan tertib merupakan hal mewah di daerah ini.

Dari segi kelengkapan lain: Tranpor menuju lokasi wisata. Untuk ke Tangkiling yang terletak sekitar 30 km dari Palangka Raya, saja  sudah bukan merupakan perjalanan lancar jika mengandalkan kendaraan publik. Kondisi dan pelayanan transpor publik itu pun pas-pasan. Tidak jarang meninggalkan kesan tidak ‘’nyaman’’ oleh perangai pengemudi. Kenyamanan dalam transpor masih sering terganggu oleh keadaan jalan yang di sana-sini rusak berat sehingga kendaraan harus didorong atau ditarik oleh truk atau kendaraan lain agar bisa keluar dari lumpur sepaha seperti antara kabupaten Seruyan dan  Kotawaringin Timur atau antara Palangka Raya ke Buntok.

Lalu soal pemandu. Apakah kita sudah siap dengan tim pemandu yang bis menjelaskan masalah sejarah dan budaya lokal, tentang obyek-obyek yang dikunjungi? Adakah pemandu yang profesional di Museum Balanga? Jawabannya:Belum. Sama belum adanya restoran atau rumah makan yang bersih, nyaman , ramah selaiknya restoran atau rumah makan profesional, tanpa usah menjadi sebuah rumah makan mewah. Perihal cindramata, saya ingin menyampaikan penghargaan terhadap upaya sadar pihak Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota mememecahkan persoalan ini. Jika boleh berandai-andai, saya membayangkan Taman Budaya selain menjadi tempat pertunjukan juga bisa menjadi sentra kebudayaan dalam arti menyeluruh sehingga ia menjadi lokasi wisata yang tidak bisa tidak didatangi oleh wisatawan bahkan penduduk kota sendiri. Rumah makan, pemandu, hotel/losmen, transpor yang bersih, nyaman, tertib dan ramah, toko-toko suvenir, merupakan kelengkapan minimal bagi pengembangan parawisata. Mengenai pemandu, ia berperan sebagai wujud nyata jati diri dan juga sebagai duta budaya daerah. Karena wisata bukan hanya untuk bersenang-senang tapi juga sarana dan peluang tukar-menukar budaya, aliran yang menolak menjadikan daerah, negeri yang dikunjungi sebagai obyek bersenang-senang belaka dengan dampak-dampak negatifnya. Aliran ini disebut aliran wisata alternatif,. dan cukup berkembang di Eropa Barat.

Brand menjadi soal berikut dibndingkan dengan kesiapan internal yang parat. Sebab ‘’promosi dan pengembangan mulai dari dalam’’, ujar I.Gde Pitana , direktur promosi internasional Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata. Kalau pengembangan dari dalam ini tidak dilakukan semestinya, yang kita promosikan tidak lain dari ‘’wajah bopeng’’ kita. Sehebat apapun brand wisata, jika tidak dimulai dan tidak ditopang oleh kesiapan internal akan mengulangi pengalaman Makassar dengan brand ‘’Great Expectation’’-nya yang beujung  “ Great Disatisfaction’’.  Akankah orang kembali apabila ‘’expectation’’ mereka dilukai? Arti penting persiapan internal inilah barangkali yang digaris bawahi olehM. Faried ketika mengatakan:“Dinas Kebudayaan dan Prwisata Provinsi maupun Kabupaten/Kota di Kalteng diminta merencanakan secara matang target kunjungan wisatawan ke obyek wisata di daerahnya.Selain itu pemerintah daerah harus memiliki strategi jitu untuk mendongkrak jumlah kunjungan’’ (Harian Tabengan, PalangkaRaya, 21 Mei 2011).

Mempunyai ‘’rencana matang’’ dan ‘’strategi jitu’’ selain merupakan orientasi kerja bagi pengelola kekuasaan di Kalteng, ia pun merupakan sebuah cermin besar untuk melihat pekerjaan sampai hari ini. Kecuali itu, ucapan diplomatis demikian, tidak lain dari suatu evaluasi terhadap pekerjaan kebudayaan dan pariwisata di Kalteng. Cermin besar dan evaluasi demikian secara tidak langsug menunjukkan masalah-masalah pariwisata di Kalteng dan bagaimana menanganinya. Barangkali.***

KUSNI SULANG, Anggota Lembaga Kebudayaan Dayak Kalimantan Tengah, Palangka Raya .

About these ads

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 54 other followers

%d bloggers like this: