Kepemimpinan, Keteladanan dan Pendidikan Karakter

http://www.balipost.com/mediadetail.php?module=detailrubrik&kid=7&id=5316
» Debat Publik
14 Mei 2011 | BP
Kepemimpinan, Keteladanan dan Pendidikan Karakter
Demokrasi yang menjadi pilihan bangsa ini, faktanya justru mendorong tenggelamnya manusia-manusia berkarakter jujur dan bertanggung jawab. Semua kedudukan dalam kepemimpinan di negeri ini menjadi hal yang sulit digapai bagi manusia-manusia yang berkarakter baik. Kepemimpinan hanya akan diraih oleh mereka yang memiliki uang dan berani menggunakannya untuk membeli kekuasaan.

Oleh IN Winata

Carut-marutnya kehidupan bangsa Indonesia tidak lepas dari minimnya keteladanan dari para pemimpin. Bahkan masyarakat kini dihadapkan pada realitas bahwa ada sangat sedikit pemimpin di negeri ini yang berasal dari manusia berkarakter. Sebagian besar pemimpin lahir dari manusia tak berkarakter namun sangat berani menyuap. Manusia yang berkarakter jujur dan bertanggung jawab di negeri ini justru menjelma menjadi ”makhluk aneh”. Lantas apakah pendidikan karakter melalui lembaga pendidikan formal bisa menjadi obat mujarab bagi carut marutnya persoalan di negeri ini?

——————————-

Kepemimpinan hasil demokrasi di negeri ini lebih banyak menuai kekecewaan rakyat. Prilaku dan sikap para pemimpin seakan-akan tak pernah berhenti menyakiti, mengabaikan aspirasi dan yang paling memprihatinkan adalah mereka tidak pernah memberi keteladanan. Derasnya kritikan dari rakyat tidak sedikit pun mengurangi pola kepemimpinan yang menyakiti rakyat. Bangsa ini miskin keteladanan, kehilangan kepemimpinan yang menyemangati dan bisa menginsiprasi dalam hal kejujuran dan tanggung jawab.

Pada tingkat lembaga legislatif, publik tak pernah henti dipertontonkan tingkah polah para anggota dewan perwakilan rakyat yang mengundang keprihatinan mendalam. Puluhan miliar rupiah uang rakyat dibelanjakan untuk studi banding yang tidak pernah jelas manfaatnya bagi rakyat. Triliunan rupiah lainnya kini siap-siap dipergunakan membangun gedung DPR yang super mewah. Ketika dikritik dengan tajam, ada saja jawaban yang dilontarkan para wakil rakyat untuk membela diri. Realitasnya tak banyak prestasi yang bisa dibanggakan para wakil rakyat, bahkan tugas utamanya menghasilkan produk hukum berupa undang-undang pun terbengkalai.

Kepemimpinan nasional eksekutif tertinggi di negeri ini pun setali tiga uang. Meski sudah cukup sering diberikan kritik tajam oleh semua pihak termasuk para tokoh lintas agama, tak ada perubahan yang berarti. Dituding melakukan kebohongan, pemimpin nasional dan jajaran pembantunya menuding balik yang mengkritik dengan mengatakan bahwa mereka tidak mengerti persoalan.

Kepemimpinan di tingkat lokal kondisinya jauh lebih parah. Banyak yang terlibat tindak pidana korupsi dan terlalu sedikit yang berprestasi menyejahterakan rakyatnya. Pembangunan infrastruktur sangat minim dan anggaran dari pajak rakyat lebih banyak dipergunakan membiayai gaji para pegawai. Pemimpin daerah terlalu sibuk bekerja untuk mengembalikan modal yang dipergunakan untuk membiayai kampanye dan membalas budi tim kampanye. Ketika masa pemilihan kepala daerah menjelang, seluruh kekuatan pun dikerahkan untuk mempertahankan kekuasaannya. Terlalu sedikit kepala daerah di negeri ini yang sibuk melayani rakyat dan secara sungguh-sungguh menjadi abdi rakyat.

Jangan menanyakan kepemimpinan di bidang keagamaan karena keteladanan tetap masih menjadi barang mahal. Pemimpin keagamaan terlalu sibuk menyebar dogma-dogma kaku agama yang berkutat pada ritus-ritus mistis dan selalu mengaitkan semua perbuatan pada kehidupan akhirat. Ketakutan akan siksa api neraka dan indahnya kehidupan sorga disebar begitu massif sampai-sampai mengabaikan akal sehat. Pemimpin agama terlalu sedikit yang mengajarkan dan memberi teladan nyata tentang bagaimana beragama yang bisa mengangkat harkat martabat kemanusiaan yang bersandar pada sikap dan perilaku jujur bertanggung jawab. Ironisnya lagi, pemimpin agama di negeri ini terlalu sibuk terjun berpolitik untuk merebut kekuasaan dengan menggunakan dalil-dalil agama.

Demokrasi yang menjadi pilihan bangsa ini, faktanya justru mendorong tenggelamnya manusia-manusia berkarakter jujur dan bertanggung jawab. Semua kedudukan dalam kepemimpinan di negeri ini menjadi hal yang sulit digapai bagi manusia-manusia yang berkarakter baik. Kepemimpinan hanya akan diraih oleh mereka yang memiliki uang dan berani menggunakannya untuk membeli kekuasaan. Demokrasi tanpa sadar menjadikan bangsa ini memusuhi manusia-manusia berkarakter baik dan mencintai mereka yang berani membeli dan menjanjikan keuntungan materi.

Pendidikan Karakter

Di tengah kondisi kepemimpinan yang minus keteladanan, menjadi menarik untuk direnungkan tekad Menteri Pendidikan Nasional yang mencanangkan pendidikan karakter melalui kurikulum di pendidikan usia dini sampai dengan perguruan tinggi pada tahun ajaran baru 2011/2012. Pendidikan karakter tersebut diwujudkan mulai dari kurikulum sampai dengan membangun budaya di sekolah. Melalui pendidikan karakter, diharapkan anak-anak bangsa yang berada di lembaga-lembaga pendidikan menjadi sosok yang jujur dan bertanggung jawab. Sebuah pemikiran yang menemukan ruang dan momentum yang memadai dan tepat di tengah carut marutnya kehidupan berbangsa dan bernegara.

Namun permasalahannya adalah, apakah lembaga pendidikan mampu melakukan fungsi yang demikian berat untuk membentuk karakter manusia Indonesia di tengah minimnya keteladanan dari para pemimpin. Ketika nantinya lembaga-lembaga pendidikan telah bekerja dengan keras membentuk karakter anak bangsa yang jujur dan bertanggunjawab, apakah yang akan terjadi saat mereka kembali ke tengah-tengah masyarakat yang tidak menghargai sikap-sikap jujur dan bertanggung jawab tersebut?

Tidakkah anak-anak bangsa akan mengalami kebingungan-kebingungan hebat karena mereka tidak menemukan relevansi antara pemahaman bahwa menjadi manusia berkarakter baik justru akan membuat mereka tersisih dan menjadi makhluk aneh? Bagaimana anak bangsa akan bersikap ketika dihadapkan pada realitas bahwa sosok yang jujur dan bertanggung jawab di negeri ini hanyalah menjadi bagian dari cerita dongeng pengantar tidur karena yang berkuasa dan menguasai adalah mereka yang berani berbuat tidak jujur dan tidak bertanggung jawab?

Karena itulah jalan utama melahirkan manusia-manusia berkarakter baik di negeri ini adalah dengan menciptakan pemimpin-pemimpin yang bisa memberi keteladanan. Demokrasi sesungguhnya sudah memberi ruang yang sangat luas bagi terciptanya pemimpin yang bisa menjadi teladan baik bagi masyarakat. Caranya sangat sederhana, pilihlah mereka yang memiliki karakter yang baik, atau mereka yang bisa memberi inspirasi semangat kejujuran dan bertanggung jawab sebagai pemimpin.

Pendidikan karakter akan menjadi sangat berguna, apabila masyarakat negeri ini memang memberikan tempat terhormat bagi manusia yang berkarakter baik. Pendidikan karakter hanyalah akan menjadi kesia-siaan belaka apabila para pemimpin tidak bisa memberi keteladanan yang sesungguhnya kepada masyarakat.

Penulis, wartawan tinggal di Semarang

About these ads

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 55 other followers

%d bloggers like this: