SARKASME SI MALINKUNDANG

Jurnal Toddoppuli

Cerita Buat Andriani S. Kusni & Anak-Anakku


Di samping pelestarian, potensial, kepentingan masyarakat (publik), pertumbuhan, pembangunan adalah sebuah kata yang paling sering diucapkan oleh banyak orang,apalagi yang bertugas mengelola negara di berbagai tingkat. Kata standard formal yang sangat hapal, fasih diucapkan. Apabila makna kata pembangunan dan pelestarian ini dicocokan dengan kenyataan, maka kita akan mendapatkan pembangunan yang dimaksudkan adalah pembangunan tanpa kesejahteraan. Dalam kesejahteraan terkandung makna berbudaya. Beradab. Pembangunan yang dimaksudkan lebih berupa pembangunan fisik, tapi pembangunan non fisik seperti pembangunan budaya, karakter, pola pikir dan mentalitas tidak menjadi program. Alasannya sangat klasik yaitu ‘’ketiadaan dana’’. Argumen ini sangat bertolak belakang dengan begitu gampangnya mengeluarkan dana untuk melakukan pembangunan fisik, seperti gedung-gedung mewah bertingkat untuk kantor ini dan itu. Sarkastik? Ya, sungguh sarkastik.Sarkasme dari gedung-gedung mewah dan besar seperti Gedung Juang ’45 di Jalan Setaji, Gedung-gedung di kawasan Taman Budaya dan Museum Balanga, kompleks kampus Universitas Palangka Raya (Unpar), kampus Universitas Kristen di Kereng, dan lain-lain tempat lagi. Gedung-gedung itu dibiarkan menjadi rusak tidak terurus dan tidak difungsi efektifkan. Gedung-gedung baru terus dibangun menggunakan uang rakyat. Pembangunan gedung-gedung itu seakan-akan hanya untuk menyalurkan dana alias uang rakyat dalam bingkai suatu ‘’proyek’’. Sedangkan apa yang disebut ‘’proyek’’ seperti sudah dipahami oleh umum berarti ‘’ada persenan untuk diriku’’. ‘’Persenan untuk diriku’’ dan berbagi prosentase adalah bagian dari arti ‘’proyek’’. Sedangkan perawatan tidak termasuk, kecuali jika dalam menjadi ‘’proyek’’ baru seperti yang diperlihatkan oleh Kasus Gedung Teater Tertutup di Taman Budaya Palangka Raya. Ketika gedung-gedung itu sudah rusak, perawatan akan menjadi pembangunan ulang.  Pada saat pembangunan ulang dilakukan, yang tetap terbengkalai, kumuh-papa serta kian usang adalah pola pikir, mentalitas dan karakter. Sarkasme memandang Palangka Raya dan Kalteng jual-beli hambaruan (roh) dengan kepentingan egoistik yang menopang langit setempurung kelapa. Pada saat ini juga kesadaran sejarah dan kesadaran budaya melapuk bersama gedung-gedung megah yang jadi srng serangga, jengkrik dan ular tanah.

Lebih sarkastik lagi adalah keadaan rumah jabatan (rujab)TjilikRiwut, ikon penting Kalteng, yng terletak di Jalan Jenderal Sudirman No.1 Palangka Raya. Di rujab ini dulu saat Palangka Raya sedang dibangun, telah ditulis karya-karya yang sekarang diedit dan diterbitkan oleh Nila Riwut, puteri ketiga Tjilik Riwut. Keputusan-keputusan penting tentang Kalteng dan Palangka Raya pun dirancangkan dari rujab ini.

Bagaimana keadaan rujab itu sekarang? Halaman ditumbuhi rerumputan tinggi selutut. Plafond tiris berlobang. Helai-helai plafond yang sobek bergayutan seakan bertanya : ‘’Beginikah sikap kalian terhadap para pendahulu yang telah berjuang mndi darah untuk hari ini ?’’.Memandang ruang penuh debu nampak sosok si Malinkundang. Angkatan hari inikah si Malinkundang itu ?

 

Sebuah kamar disewakan oleh pengusaha fotokopie. Rujab ini memang telah diserahkan pemerintah kepada anak-tertua. Sejak itu pemerintah memang tidak bertnggungjawab atas  perawatan rumah bersejarah ini. Sekalipun demikian, daripada rumah bersejarah ini hancur, apakah tidak lebih baik jika pemerintah daerah (kota atau provinsi) segera campur tangan , misal, dengan membelinya. Kemudian memperbaikinya tanpa mengobah bentuk asli rumah, lalu dijadikan Museum Tjilik Riwut yang dikelola oleh sebuah lembaga kebudayaan Arti penting rumah ini tidak tergantikan. Dari segi UU Kepurbakalaan, Rujab ini sudah termasuk salah satu situs budaya sangat penting. Adalah suatu kesalahan besar jika membiarkannya hancur karena tidak terawat. Rusaknya rujab bersejarah ini hanya bisa saya pahami sebagai bentuk sarkasme masyarakat Kalteng hari ini, masyarakat  yang tidak mengacuhkan sejarah dan kebudayaan, menakar segala dengan uang. Sarkasme ini pulalah yang menyebabkan Sandung Sukah yang indah di tengah kota, cagar budaya di beberapa kabupaten seperti di Kasongan, Kabupaten  Katingan tidak terurus,sapundu (patung kayu) yang ratusan tahun usianya dicuri orang tanpa kekhawatiran. Pembangunan yang menyuburkan sarkasme bukanlah pembangunan yang manusiawi. Manusia yang manusiawi disebut juga Uluh Bahadat (Manusia Beradat). Adanya jarak antara diskursus dengan kenyataan,melukiskan betapa panjang berliku serta beratnya pertarungan Kalteng. ***

Kusni Sulang, Anggota Lembaga Kebudayaan Dayak Kalimantan Tengah, Palangka Raya.

About these ads

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 59 other followers

%d bloggers like this: