Menyalakan Optimisme Anak Negeri

Menyalakan Optimisme Anak Negeri
Andar Nubowo | Kamis, 31/03/2011

Bukan lautan hanya kolam susu
Kail dan jala cukup menghidupimu
Orang bilang tanah kita tanah surga
Tongkat kayu dan batu jadi tanaman

(Koes Plus)

Koes Plus memang musisi brilian. Ketika menamsilkan Indonesia bagai “kolam susu”, grup musik ini jelas dalam kondisi sadar sesadar-sadarnya. Tak sedang bercanda, apalagi mengigau. Selain indah dan enak didengar, lirik lagu Koes Ploes di atas menyajikan sebuah fakta: Indonesia adalah baldatun thayyibatun wa rabbun ghafurun, sebuah negeri yang elok dan dirahmati Tuhan dengan berjuta ampunan. Itulah metafora Koes Plus tentang keindahan sekaligus kekayaan alam Nusantara. Konon, daratan Indonesia dahulu kala adalah locus peradaban Atlantis yang murca, hilang tak berbekas pada tiga belas ribu tahun lalu—seperti yang diyakini Prof. Arysio Santos dalam bukunya, Atlantis : The Lost Continent Finally Found (Washington DC : Library of Congres, 1997).

Terlepas benar tidaknya tesis tersebut, fakta empiris menyebutkan bahwa Indonesia adalah negeri gemah ripah loh jinawi. Kita kaya sumber daya alam darat dan maritim. Kita adalah bangsa besar dengan sumberdaya insani mencapai 240 juta jiwa. Kita adalah negeri dengan warna-warni budaya yang elok. Kita juga pewaris budaya leluhur yang eksotis; ratusan candi Hindu-Budha, ribuan masjid-masjid tua dan bersejarah, serta tabiat sosial masyarakat kita yang ramah tamah, terbuka, dan sumeh. Kita juga adalah bangsa yang mempunyai kemampuan adaptasi luar biasa, yang dengannya kita bisa bertahan dalam mengarungi perubahan secara arif dan bijak.

Namun, karakter positif-superlatif yang dimiliki bangsa ini seakan tertimbun. Kita terhenyak kaget, mengapa negeri yang elok permai dan warga-bangsa yang super ramah itu kini seakan murca, sirna, menghilang tak berbekas. Dan yang menggantikannya adalah sifat-sifat negatif-superlatif yang begitu telanjang di hadapan muka kita, sehingga ke arah mana pun wajah dihadapkan, yang menganjal mata kita adalah serba-serbi keburukan, amarah, keluh kesah dan sumpah serapah. Kita mendadak berada dalam benang kusut keruwetan politik, ekonomi, sosial, agama dan budaya yang sukar dirunut dan diurai kembali.

Kita pernah mengalami berkali-kali perubahan politik dan transformasi demokrasi : kolonialisme menjadi Republik Indonesia, Demokrasi Liberal (1945-1959) menjadi Demokrasi Terpimpin (1959-1966), Demokrasi Pancasila (1966-1998), dan Orde Reformasi (1998-). Dalam setiap babak pergantian politik, tergurat represi kaum elit dan bau anyir darah para martir negeri. Tetapi, kematian syuhada negeri ini tidak membuat negeri kita mau membuang semua keburukan masa lalu dan menggantinya dengan kebajikan dan kebijaksanaan. Kita hanya sekadar mengganti baju, sedangkan struktur tubuh negeri kita tetaplah sama, yakni tubuh yang setia pada kuptasi, represi, dan penyengsaraan rakyatnya sendiri.

Setiap perubahan yang berlangsung di negeri ini—apapun istilahnya: revolusi atau reformasi, hanya berlangsung secara superfisial. Yang terjadi adalah pergantian elit, bukan struktur politik baru dan segar yang mampu menyejahterakan. Sebab, perubahan yang ada adalah milik kaum elit terdidik, bukan seru sekalian rakyat semesta. Para elit terdidik itu hanya bermimpi merebut kekuasaan dan setelah berhasil mengenggamnya mereka amnesia terhadap tujuan kekuasaan: memakmurkan dan menyejahterakan rakyat. Betapa Soeharto dan rejimnya mengkritik kebijakan Soekarno, tetapi perilaku politik Orde Baru malah melampaui rejim Orde Lama. Betapa Reformasi 1998 berniat menghapus kegagalan Orde Baru, tetapi elit-elit yang berkuasa masih setia pada nilai-nilai yang diwariskan penguasa Orde Baru.

Kita jengah, sebab nasib kita kembali dipermainkan oleh pengulangan sejarah-sejarah yang jauh dari kearifan dan cinta terhadap rakyat semesta. Kini, kita nyaris kehabisan energi, kecuali energi untuk mengutuk dan mengutuk. Ruang privat dan publik telah terasa sesak dan muak oleh kedunguan sistem yang membelenggu dan mengungkung kreatifitas. Kita tak bisa inovatif, karena setiap jengkal ruang personal dan sosial kita telah diaduk-aduk oleh sistem yang ruwet dan acak kadut. Lantas, kita sering bertanya-tanya, bagaimana meruntuhkan tembok kedunguan yang mahakuat itu, yang telah mengakar sejak puluhan tahun, yang telah berinvestasi panjang demi tegaknya kebahlulan dan ketololan sistemik? Metode apa yang paling manjur untuk membongkar sistem yang bahlul dan dungu itu: reformasi? revolusi?

Darma dan Kontribusi

Kebahlulan sistem tersebut tidak akan pernah berakhir, jika kita hanya mampu mengutuk. Jika kita hanya duduk sembari memoncongkan sekaligus memamerkan mulut kita yang nyinyir penuh sumpah serapah. Mulut kita boleh berbusa-busa, tetapi tanpa kesadaran untuk berbuat, semuanya hanya akan berakhir menjadi sampah busuk yang menyesaki ruang eksistensial kita. Selain itu, sumpah serapah kita, kritisisme kita, dan kutukan kita hanya akan membentur tembok baja sebuah sistem yang dungu, tolol dan keras kepala.

Oleh karena itu, momen berdarma dan bersumbangsih telah tiba. Saatnya kini, kita semua, berkontribusi untuk negeri ini sesuai kapasitas dan posisi kita masing-masing. Agar darma dan sumbangsih kita terhadap negari maksimal, penuh kearifan dan kebijaksanaan, ada empat darma yang bisa dilembagakan dalam diri setiap kita sebagai individu dan warga negara:

1) Relijiusitas. Apapun keyakinan yang dianut, kita perlu menggali nilai dan norma keagamaan yang universal dan humanis dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Sikap relijius ini penting, mengingat akar budaya kita bertumpu pada ajaran-ajaran agama. Keyakinan kita terhadap Yang Mahaadi (The Supreme Being) perlu dibumikan, dilembagakan dalam bentuk pranata dan norma sosial, politik, ekonomi dan hukum yang bersifat universal dan mengakomodasi setiap warga negara.

2) Pengetahuan. Anak bangsa harus berpengetahuan dan mencintai pengetahuan. Syaratnya adalah sikap terbuka dan sikap ingin tahu (curiosity) terhadap apapun di sekeliling kita. Pengetahuan itu penting sebagai syarat memahami sesuatu, memahami keragaman, memahami keanehan hidup dan kehidupan. Pengetahuan membuat nalar kita kritis, tidak jumud dan tidak gampang dibodohi dan diadudomba. Pengetahuan membimbing kita untuk mampu bersikap percaya diri atas modal dan kapasitas yang kita miliki. Dengan pengetahuan, pembodohan dan penaklukan atas nama politik dan ekonomi, misalnya, praktis tidak akan pernah terjadi.

3) Militansi. Militansi adalah sikap berjuang secara sungguh-sungguh tanpa kenal lelah dan putus asa untuk meraih sebuah tujuan. Dalam konteks sebagai anak bangsa, kita perlu membangun dan memperkokoh spirit spartan kita untuk negeri. Sikap spartan dan militansi sebagai anak bangsa di sini sangat diperlukan, supaya kita semua bisa bangkit untuk menghindari keterpurukan yang lebih parah. Kita butuh sedikit mengambil spirit gambaru yang dicontohkan oleh bangsa Jepang. Kita perlu membangun spirit bangsa Asia (Asian values) yang bertumpu pada kemandirian, kemajuan, dan solidaritas antar sesama untuk pencapaian cita-cita bersama.

4) Cinta. Cinta dalam pengertian sempit dan luas sangat esensial untuk mengurangi dan mengobati luka-luka anak bangsa akibat pertikaian dan perselisihan. Cinta mengantarkan kita pada sikap saling menghargai, menghormati dan menoleransi atas keragaman, perbedaan di antara dua atau banyak pihak. Semangat cinta etik seperti inilah yang sekarang dilunturkan oleh egoism yang memuja hasrat dan kepuasaan individu. Koruptor dan teroris adalah makluk egois dan paling menjijikkan di muka bumi, karena hanya peduli pada perutnya yang menggembung dan tangannya yang bau anyir darah. Dengan demikian, korupsi dan terorisme adalah antitesis dari ajaran cinta.

Keempat darma ini adalah modal kita putra bangsa untuk menyalakan obor optimisme dalam membangun masa depan negeri tercinta. Saatnyalah kita berjejaring, membangun kekuatan dengan mempraktekkan kepercayaan yang kita anut dalam laku dan akal budi kita sehari-hari, memperdalam pengetahuan, menperkuat militansi kita pada Ibu Pertiwi, sembari terus menebarkan cinta pada semua. Dalam tulisan mendatang, kita akan mencoba membahas satu persatu empat darma tersebut secara lebih mendetail. Dengan keempat darma itu, kita berharap Indonesia ke depan adalah Indonesia yang seperti digambarkan oleh Koes Plus sebagai “tanah surga di mana tongkat kayu dan batu jadi tanaman”. Kita pun tidak perlu khawatir akan diolok-olok anak cucu kita, karena kita telah berdarma dan berbakti bagi nusa dan bangsa, sekecil apapun wujudnya. Semoga

*) Andar Nubowo, WNI tinggal di Paris, Perancis (adr/hyd)

Sumber:

http://www.today.co.id/read/2011/03/31/21367/menyalakan_optimisme_anak_negeri

About these ads

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 49 other followers

%d bloggers like this: