Ali Sadikin: Yang Mau Jadi Gubernur Jakarta Cintailah Karya Sastra

 

PDS HB JASSIN
Ali Sadikin: Yang Mau Jadi Gubernur Jakarta Cintailah Karya Sastra
Rabu, 30 Maret 2011 , 08:21:00 WIB
Laporan: Kristian Ginting

RMOL. Semua berawal dari 1930an ketika HB Jassin mulai mengoleksi dan mendokumentasikan buku harian dan karya-karya sastra baik karya yang ditulisnya sendiri maupun karya sastrawan lain.

Seperti kecintaannya pada buku dan dunia tulis menulis, hobi ini pun mengalir dari ayahnya, Bague Mantu Jassin, seorang pegawai Bataafsche Petroleum Maat-schappij (BPM) yang memiliki perpustakaan pribadi.

Pada 1940an, ketika Jassin bekerja di Balai Pustaka, satu per satu karya sastra, tulisan tangan, foto-foto dan surat-surat pribadi dikumpulkannya. Jumlahnya sangat banyak. Bila disusun di dalam lemari bisa mencapai 80 meter panjangnya.

Jumlah buku dan naskah yang sangat besar itu dikumpulkan Jassin sejak jaman Jepang sampai awal kemerdekaan Republik Indonesia. Pernah pada suatu ketika seorang asing yang tertarik pada koleksi Jassin meminta agar Jassin bersedia memindahtangankan koleksi itu. Tetapi Jassin menolak. Nilai sejarah dalam koleksinya terlalu berharga untuk diberikan kepada bangsa lain.

Pekan lalu, kepada Rakyat Merdeka Online, Endo Senggono, bercerita tentang saat-saat awal pendirian PDS HB Jassin.

Endo adalah mantan Kepala Perpustakaan PDS HB Jassin antara 2000 hingga 2010. Adalah HB Jassin yang mengajaknya bergabung pada 1987. Awalnya, lelaki kelahiran 1959 alumni Fakultas Sastra Universitas Indonesia itu bekerja tenaga sukarela seperti umumnya staf yang bekerja di PDS HB Jassin. Baru pada 1997 ia diangkat sebagai Pegawai Negeri Sipil di lingkungan Pemprov DKI Jakarta.

Di pertengahan 1970an, Gubernur DKI Jakarta ketika itu, Ali Sadikin, menawarkan agar dokumentasi HB Jassin dikelola pemerintah Jakarta. Ali Sadikin berjanji akan memberikan bantuan operasional untuk PDS HB Jassin melalui Dinas Kebudayaan dan Permuseuman.

HB Jassin dan pengelola perpustaakaan setuju. Maka pada 28 Juni 1976 berdirilah Yayasan Dokumentasi HB Jassin yang kemudian berubah nama menjadi Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin. Gubernur Ali Sadikin menjadi ketua Badan Pendiri, sementara Ajip Rosidi sebagai Ketua Dewan Pembina Yayasan.

Setahun kemudian PDS HB Jassin dipindahkan dari Lembaga Bahasa dan Budaya di Jalan Diponegoro No. 82, Jakarta Pusat, ke gedung baru di lingkungan taman Ismail Marzuki, Jalan Cikini Raya No. 73, Jakarta Pusat.

“Masalah kebudayaan harus diurus oleh siapa saja yang ingin menjadi gubernur DKI Jakarta,” begitu antara lain kata Ali Sadikin ketika meresmikan gedung baru PDS seperti yang diingat Endo Senggono.

Menempati lahan seluas 900 meter persegi, PDS HB Jassin yang berlantai dua itu berada persis di belakang Planetarium TIM. Dinding-dindingnya dicat berwarna biru. Ruangan PDS HB Jassin dibagi menjadi tiga, yakni ruang kantor, ruang baca dan ruang koleksi. Pada tahun 2006 PDS HB Jassin tercatat memiliki tak kurang dari 48 ribu koleksi.

Koleksi sastra di tempat ini dapat dikatakan lengkap. Karya sastra tertua berasal dari masa keemasan sastra Melayu-Tionghoa yang diterbitkan di awal abad ke-20 antara 1900 hingga 1904, mulai dari karya Kwee Tek Hoay, Lim Kim Hok hingga F. Wiggers.

PDS HB Jassin sangat bergantung pada subsidi yang diberikan pemerintah. Itu pula, kata Endo, yang menjadi kelemahan PDS HB Jassin.

“Mungkin PDS HB Jassin dianggap tidak menghasilkan apa-apa, sehingga Pemprov DKI Jakarta berniat menghentikan bantuan,” kata Endo.

Sebetulnya, selain mengandalkan bantuan dari Pemprov DKI Jakarta, PDS HB Jassin juga berusaha sebisa mungkin mengumpulkan dana operasional dari berbagai kegiatan. Tetapi, saat ini, kata Endo lagi, tabungan PDS betul-betul habis terkuras.

Setelah berita mengenai kebijakan pemerintahan Fauzi Bowo mengurangi hingga akan memotong sama sekali anggaran bantuan untuk PDS HB Jassin berkembang luas, barulah banyak pihak yang memperlihatkan rasa simpati dengan memberikan sumbangan.

“Pada saat begini, PDS HB Jassin merasa lebih mudah untuk mengumpulkan dana. Tapi, pada saat tidak sakit, jual nama HB Jassin pun tidak laku,” Endo masygul.

Satu lagi yang tak habis-habisnya dipikirkan Endo: bila Ali Sadikin mengakui bahwa pelestarian karya sastra merupakan salah satu syarat penting bagi siapa saja yang ingin menjadi gubernur Jakarta, mengapa Fauzi Bowo yang dikenal sebagai salah seorang staf ahli Ali Sadikin dan kini memerintah Jakarta mengurangi dan memotong anggaran bantuan untuk PDS HB Jassin? (Bersambung)

http://www.rakyatmerdekaonline.com/news.php?id=22597

__._,_.___
About these ads

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 59 other followers

%d bloggers like this: