MEMPERHATIKAN MUSEUM BALANGA

Jurnal Toddoppuli

Cerita Buat Andriani S. Kusni & Anak-Anakku


Museum tidak lain adalah sebuah kelas belajar yang berharga. Di Museum para pengunjung belajar kebudayaan, belajar tentang sastra-seni, belajar sejarah berbagai bidang mulai dari sejarah politik,sosial, ekonomi hingga militer. Di Republik Rakyat Tiongkok di berbagai kota selalu terdapat museum-museum besar yang selalu dipadati oleh pengunjung dari berbagai lapisan masyarakat, mulai dari anak-anak sekolah sampai buruh dan tani. Keadaan ini boleh dikatakan terdapat merata di negeri-negeri yang tadinya menerapkan ‘’sistem sosialis’’.Tidak cuma di negeri-negeri ‘’sosialis’’. Tapi juga di negeri Eropa Barat, Amerika, Jepang, –katakanlah negeri-negeri yang bersistem kapitalis – berbagai jenis museum seperti museum berbagai aliran seni rupa, patung, museum Abad Tengah, Museum Primitif  Tengah, hingga Museum Kekinian bertebaran di berbagai kota. Di Paris misalnya, banyaknya museum hampir terdapat di setiap jalan.Yang terbesar adalah Museum Louvre.  Apabila pengujung berdiri tiga detik di setiap obyek yang dipajangkan di Museum Louvre ini, maka ia baru menyelesaikan kunjungannya dalam tiga bulan. Di Louvre yang terdiri dari tiga tingkat, pengunjung bisa belajar sejarah berbagai negeri terutama yang mempunyai hubungan dengan Perancis dari periode ke periode, belajar sejarah Perancis dari masa ke masa Museum, belajar sastra-seni dengan segala alirannya. Paris mempunyai keunikan lain. Di setiap pojok jalan, pemerintah kotapraja memasang prasasti-prasasti yang menuturkan sejarah kawasan tersebut sehingga yang datang bisa segera mengetahui riwayat daerah yang sedang didatanginya.

 

Sedangkan di Amsterdam, Negeri Belanda, melalui Museum Troepen (Tropical Museum) atau Museum Kerajaan, kita bisa belajar sejarah Indonesia dan melihat khazanah kekayaan negeri kita, termasuk khazanah budaya Dayak, yang tersimpan di kedua museum tersebut. Bisa dipastikan khazanah budaya Dayak yang terdapat di kedua museum Belanda itu jauh lebih kaya dibandingkan dengan yang terdapat di Museum Balanga, Palangka Raya, tanpa menyertai dokumen-dokumen di Perpustakaan Leiden–perpustakaan tebesar di dunia tentang Indonesia.Sehingga bukan bercanda jika saya katakan bahwa untuk belajar tentang Dayak, oleh kenyataan demikian, perlu datang ke Negeri Belanda. Tempat lain yang patut dikunjungi untuk belajar sejarah Dayak adalah Museum Kuching di Sarawak. Di Kuching terdapat museum terdiri dari dua gedung besar bersambung, mengkhususkan diri tentang soal-soal Dayak; Mengunjungi Museum Dayak terbesar di dunia ini, pengunjung akan jelas tentang sejarah Dayak dari seluruh daerah pulau. Untuk mengisi museum Dayak Kuching ini, pengelolanya berburu ke semua penjuru pulau Kalimantan/Borneo. Begitu mereka mendengar di suatu tempat terdapat peninggalan sejarah penting, pegelola museum langsung mengirim orang ke tempat tersebut dan melindungi benda bersejarah tersebut. Tahun lalu saya beruntung berjumpa dengan penanggungjawab pengelola Museum. Ia mengatakan bahwa dua gedung yang ada sudah tidak cukup menampung semua benda budaya dan sejarah yang terkumpul.

 

Museum di tempat-tempat di atas, merupakan rujukan kunjungan para wisatawan, peneliti dari dalam dan luar negeri. Secara harafiah, museum-museum tersebut selalu penuh pengunjung, sekalipun mereka harus membayar untuk bisa masuk. Anak-anak sekolah secara berombongan datang, dibimbing oleh guru-guru mereka untuk belajar sastra-seni aliran tertentu atau sejarah periode spesifik. Melalui museum anak-anak didik itu mengetahui akar budaya sejarah mereka. Para guru dibantu oleh pemandu museum yang khusus dididik untuk pemandu. Untuk obyek-obyek diluar gedung, Dinas Pariwisata khusus menyediakan pemandu publik. Dengan cara ini maka para wisatawan disamping berlibur tapi juga sekaligus belajar budaya dan sejarah negeri yang dikunjunginya. Bentuk tukar-menukar budaya antar negeri. Penjelasan sejarah dan budya begini juga diberikan kepada para wisatawan yang sedang menggunakan kapal susur-sungai yang membawa ratusan penumpang.

 

Adanya Museum Balanga di Palangka Raya dengan gedung-gedung yang megah memang suatu keberuntungan bagi daerah ini. Masalahnya sekarang: Apakah Museum Balanga menapi kemajuan berarti dari tahun ke tahun? Apakah ada upaya dan jika ada bagaimana upaya itu dilakukan agar isi Museum kian kaya sehingga dengan mengunjungi Museum Balanga itu, pengunjung bisa mendapatkan gambaran tentang sejarah 14 kabupaten/kota Kalteng dari periode ke periode? Apakah pelayanan Museum sudah memadai tanpa usah mengambil ukuran Eropa Barat, RRT atau Kuching? Letak kwasan Museum Balanga yang bersanding dengan Taman Budaya, sungguh sesuatu yang ideal sekali. Sayangnya hal yang ideal begini kurang disadari oleh pihak-pihak terkait. Bahkan untuk wktu cukup lama Taman Budaya dimatikan dan sekarang masih menunggu dana (model kerja kadaluwarsa) untuk bergerak ketika ia.dihidupkan kembali oleh Gubernur A.Teras Narang.

 

Selama tahun 2010 ,Museum Balanga dikunjungi oleh 7.210 orang. Jumlah ini menurut Kepala Unit Pelaksana Tekhnis Dinas (UPTD)Museum Balanga, Berty Letllora, meningkat dibanding tahun tahun-tahun sebelumnya. Jika dirinci maka dalam tahun 2010, saban bulan  yang berkunjung ke Museum rata-rata 600,83 (katakan 601 orang). Tiap hari kurang-lebih 20 orang (Angka yang masih dipertanyakan jika dibandingkan dengan kenyataan hari-hari). Dibandingkan dengan jumlah mahasiswa Universitas Palangka Raya yang 12.000 orang, ditambah dengan jumlah siswa-siswi SD-SMU agaknya yang disebut ‘’peningkatan’’ dan jumlah pengunjung 20 orang/hari tidak bisa dibanggakan. Apalagi jika dibandingkan dengan jumlah peduduk Kalteng yang 2,2 juta. Karena masih sangat sedikit. Untuk mengatakan tidak ada artinya sama sekali.Memang berarti jika dibandingkan dengan tahun-tahun sangat sunyi sebelumnya. Dari beberapa teman yang mencoba datang ke Museum, seperti Ken Zuraida Rendra, ditambah ketika saya mengantar teman Yogya yang ingin berkunjung ke Museum, saya dapatkan keadaan berikut: Museum terkunci, orang yang mengurusnya tidak ada, gedung terkunci. Sedangkan isinya sama sekali tidak bisa menggambarkan sejarah dan budaya Kalteng, masih sangat miskin,tidak ada pemandu, kamar kecilnya kotor, Mengapa Museum Dayak Kuching berlimpah materi  yang sudah dan akan dipajangkan di Museum sedangkan Museum Balanga tidak memperlihatkan perkembangan berarti? Sebagai paralel, saya ingin mengambil keadaan di Perpustakaan Daerah Kalteng. Perangkat komputer untuk komunikasi internet sudah dibeli, tapi baru setelah Moses Nicodemus mempimpin Perpustakaan, perangkat komputer dan berbagai prakasa dilakukan.Sehingga Perpustakaan Daerah mempunyai wajah yang lain dari masa-masa sebelumnya. Untuk Program Kalteng Harati seniscayanya Museum Balanga dibenah, disistematikkan ulang, diperkaya isinya. Caranya? Mengapa tidak mengikutsertakan 14 Kabupaten/Kota memperkaya isi museum? Program ‘’Museum Di Hatiku’’ hanya mengesankan: melempar kesalahan pada pengunjung, seperti halnya menuntut penduduk untuk ‘’Sadar Wisata’’. Apabila ada yang datang tapi Museum terkunci, tidak ada yang melayani dan memandu, isi Museum itu-itu saja, barangkali wajar pengunjung wegah untuk dua kali datang. Kalau saya, secara prinsip , saya tidak akan menyalahkan pengunjung, tapi memeriksa pekerjaan saya:Apakah saya sudah bekerja secara memadai, sudah mengembangkan segala prakarsa, mempunyai program pengembangan, dn seterusnya. Tanpa program pengembangan, pembenahan dan prakarsa, optimisme akan menjadi optimisme tak berdasar, apalagi waktu sudah berjalan paling tidak entah berapa tahun. Sebagai contoh, diapakan bangkai kapal pendarat di Pelabuhan Rambang? Apakah bangkai kapal pendarat Belanda itu tidak punya peran dalam sejarah Kalteng? Barangkali, akan ada baiknya, apabila Gubernur, menyediakan waktu datang mendadak, ke Museum seperti halnya ketika datang ke Taman Budaya dahulu, sehingga bisa mengetahui keadaan kongkret yang dioptimiskan itu. Saran ini semata-mata berangkat dari keinginan untuk melihat Kalteng kampung-halaman bangkit maju melesat. Maju di seluruh sektor! Bukan berada di tempat dari tahun ke tahun oleh rutinisme ‘’daerah aman’’ (secure zone) yang membunuh prakarsa. Bukan makin mundur dan terpuruk seperti gerobak tua masuk lumpur. Apalagi menjadi daerah neo-koloni di wilayah Republik Indonesia. Museum adalah sarana penting untuk Program Kalteng Pintar-Harati, pencarian identitas yang meniscayakan kita belajar sejarah dan budaya warisan leluhur. Perhatian serius juga harus diberikan kepadanya.***

 

KUSNI SULANG, Anggota Lembaga Kebudayaan Dayak Palangka Raya (LKD-PR).

About these ads

1 comment so far

  1. pesankaosonline on

    Selamat dan sukses, semoga selalu dimudahkan jalannya. dan yang pasti beranjangsana serta silaturahmi merupakan pembuka pintu rejeki.

    terima kasih banyak, support dan simpati buat blog ini, Jaya dan Maju … Sukses …

    dari albahaca production, 0815 7020 271

    http://pesankaosonline.wordpress.com


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 57 other followers

%d bloggers like this: