Politisasi Pendidikan

 

Oleh : ALI RASYID Aktivis Pendidikan, Peneliti Bandung Intellectual Circle (BIC)

Di republik yang besar ini, entah kapan semua elemen masyarakat bisa
bergabung, bersatu padu, bersama-sama bekerja untuk memajukan bangsanya.
Kompetisi warna politik cukup ketika sedang menggelar pemilu, setelah
itu selesai dan membangun kembali negara secara gotong royong sesuai
dengan porsi dan tugasnya masing-masing, pikiran ini mungkin hanya ada
di alam ide. Di negeri ini, politik masih menjadi panglima dan uang
menjadi primadonanya. Pendidikan, hukum, ekonomi dan yang lainnya selalu
berselingkuh dengan politik dan kemudian diselesaikan secara
transaksional (uang). Akhirnya yang mendominasi adalah kepentingan dan
materi, mengutip Megawati ini adalah bencana mental yang melanda negeri
kita.

Di tengah-tengah banyaknya skandal yang belum tuntas, dunia
pendidikan sedang mengalami “politisasi” yaitu masuknya buku-buku
tentang SBY, presiden kita saat ini. Buku-buku tersebut baru
teridentifikasi masuk di beberapa sekolah tingkat SMP di Kabupaten
Tegal, Jawa Tengah. Pelaksana tugas Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan
Olah Raga (Dikpora) Kabupaten Tegal Edy Pramono mengatakan bahwa
buku-buku tentang SBY bisa masuk ke sekolah karena telah lolos penilaian
pusat kurikulum dan perbukuan Kementerian Pendidikan Nasional
(Kemdiknas), (kompas, 27 Januari 2011). Kalau alasan lainnya adalah
bahwa buku-buku tersebut hanya buku bacaan biasa yang akan disimpan di
perpustakaan dan tidak ada kewajiban murid untuk membacanya, kenapa
hanya buku-buku SBY saja yang dipromosikan, padahal kan kita sudah
memiliki lima mantan presiden yaitu Soekarno, Soeharto, B.J Habibie,
Abdurrahman Wahid dan Megawati. Mereka tidak kalah keren dan memiliki
kontribusi yang mungkin jauh lebih besar dari pada SBY.

Pendidikan adalah media sakral untuk mencetak generasi cerdas, dia
tidak boleh di intervensi oleh politik apalagi yang sifatnya sangat
individual. SBY adalah salah satu putra terbaik bangsa yang dalam
beberapa hal patut diteladani, tapi mengenalkan sosok beliau kepada
generasi bangsa tidak mesti dipaksakan melalui institusi pendidikan
formal seperti ini. Pak Beye akan lebih dihargai oleh rakyatnya bahkan
dunia internasional apabila dapat meningkatkan kualitas pendidikan,
tidak ada lagi anak yang tidak sekolah, kualitas guru ditingkatkan,
infrastruktur sekolah dibenahi, lulusan sarjana, magister dan doktor
makin bertambah.

Sampai detik ini buku-buku tersebut masih kontroversial, dalam hal
ini penulis hanya ingin mengatakan bahwa ini merupakan salah satu bukti
masih semrawutnya pengelolaan pendidikan kita, jangan-jangan ada mafia
buku juga. Keadaan seperti ini bukanlah hal baru di negara kita, pada
masa Orde Baru Pancasila sangat identik dengan Pak Harto dan ini
diajarkan hampir di semua level pendidikan, salah satu hasilnya adalah
Pak Harto dikenal luas sebagai Bapak Pembangunan.

Kasus ini tentu harus dilihat secara fair, apakah ini didistribusikan
secara sistemik dalam pengertian SBY memberikan perintah atau ini
hanyalah pekerjaan orang-orang yang sedang cari muka di hadapan SBY.
Kalau ini perintah SBY betapa lemahnya karakter presiden kita ini, dan
secara telanjang dia telah merampok uang negara karena buku-buku
tersebut dibiayai oleh negara melalui dana alokasi khusus (DAK). Tapi
kalau ini pekerjaan oknum, jangan terlalu dibawa ke wilayah politik
karena bukan domainnya, proses saja secara hukum sesuai dengan
undang-undang yang berlaku.

Kata Pramodya Ananta Toer, semua bermula dari pikiran. Cara pandang
kita selalu politis sehingga hasilnya pun selalu saling curiga
mencurigai. Nampaknya kita harus membaca ulang salah satu isi pembukaan
UUD 1945, bahwa Pemerintahan Negara Indonesia dibentuk untuk melindungi
seganap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk
memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut
melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian
abadi dan keadilan sosial.

Para pendiri republik ini bermimpi bahwa Indonesia di masa depan
menjadi bangsa maju dan bermartabat. Mereka dapat bersatu padu melawan
dominasi yang tidak ringan, sehingga mereka dapat menunaikan tugasnya
memerdekakan Indonesia dari penjajahan. Kini kemerdekaan itu sudah kita
rasakan lebih dari setengah abad, tugas kita sebagai generasi bangsa
adalah mewujudkan mimpi tersebut.

Pendidikan adalah kunci utama untuk mengangkat harkat dan martabat
bangsa, tidak ada satu pun negara yang maju tanpa memiliki dan memberi
perhatian serius terhadap institusi pendidikan. Sekali lagi, pendidikan
adalah ruang sakral yang tidak boleh diintervensi oleh
kepentingan-kepentingan politik yang dapat memasung ruhnya itu sendiri.

Buku-buku Pak Beye tidaklah jelek, malah akan memberi inspirasi
positif buat generasi bangsa. Tapi, alangkah mulianya kalau buku-buku
tersebut diperlakukan seperti buku-buku yang lainnya, biar mekanisme
pasar yang bekerja supaya suasana kompetisi dapat berlangsung secara
adil dan sehat. Argumentasi Wakil Menteri Pendidikan Nasional Fasli
Jalal bahwa tidak ada titipan dalam pengadaan buku SBY, prosedurnya
normal, kebetulan saja buku SBY yang terpilih lalu jadi wacana, padahal
buku itu tidak beda dengan buku lainnya, sudah dinilai para ahli
independen (kompas, 29 Januari 2011).

Dalam pandangan penulis, argumentasi ini sulit diterima karena SBY
adalah presiden yang masih aktif yang tentu masih memiliki kepentingan
politik entah itu pada saat ini maupun pencitraan dia setelah nanti
tidak jadi presiden. Baiknya, tim ahli independen itu menyeleksi
buku-buku yang lebih menunjang yang berkaitan erat hubungannya dengan
pelajaran-pelajaran siswa, kalaupun mau dipaksakan bertindaklah secara
adil karena pemimpin negeri ini bukan hanya SBY.
ed: Hast
http://hminews.com/opini/politisasi-pendidikan/

About these ads

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 56 other followers

%d bloggers like this: