Thamrin Amal Tomagola Professor Sekelas Orang Liberal Ngawur


Selasa, 18/01/2011 07:31 WIB | email | print | share

MUNGKIN Thamrin Amal Tomagola lupa, bahwa ia hidup bukan dalam ruang hampa.
Ia hidup di tengah-tengah masyarakat berbudaya, beretika, dan beragama.
Ketika mengeluarkan pernyataan sebagai saksi ahli dalam kasus zina Ariel
Peterporn, yang disidang karena video mesum bikinannya sendiri beredar di
masyarakat; Thamrin lebih cenderung memberikan pernyataan yang bebas nilai.
Padahal ia konon menganut agama tertentu.

Menurut Thamrin, video porno dengan pemeran mirip Ariel tidak meresahkan
bagi sebagian masyarakat Indonesia, karena sebagian masyarakat Indonesia
menganggap hal itu biasa. Contohnya, menurut Thamrin, dapat dilihat pada
masyarakat suku Dayak, sejumlah masyarakat Bali, Mentawai, dan masyarakat
Papua. Thamrin juga mengatakan, “Dari hasil penelitian saya di Dayak itu,
bersenggama tanpa diikat perkawinan oleh sejumlah masyarakat sana sudah
dianggap biasa. Malah hal itu dianggap sebagai pembelajaran seks.”

Ternyata, hasil penelitian Thamrin di Dayak itu, justru diprotes warga Dayak
sendiri. Menurut Agustin Teras Narang Gubernur Kalimantan Tengah sekaligus
Ketua Umum Majelis Adat Dayak Nasional, Thamrin telah melukai perasaan,
harkat dan martabat masyarakat Dayak, sekaligus melecehkan adat istiadat
suku Dayak yang mengedepankan Belom Bahadat (hidup bertata krama dan
beradat).

Sedangkan menurut Sabran Akhmad (Tokoh Dayak Kalimantan Tengah), pernyataan
Thamrin sangat menghina warga Dayak Kalimantan Tengah. Karena, warga Dayak
tidak pernah melakukan hal-hal yang tidak senonoh, sebagaimana diungkap
Thamrin. Masyarakat Dayak, menurut Sabran, justru menjunjung tinggi falsafah
Huma Betang, hidup jujur, kebersamaan, sifat sosial, dan kesetaraan.

Tokoh wanita Dayak yang juga anggota DPR Kalimantan Tengah, Tuty Dau, merasa
tersinggung sekaligus merasa dilecehkan oleh Thamrin melalui pernyataannya
yang disampaikan pada sidang Ariel, di Pengadilan Negeri Bandung, Jawa
Barat. Menurut Tuty, dalam adat Dayak perilaku sebagaimana dilakukan
Ariel-Luna tergolong perbuatan tidak senonoh yang tidak dibenarkan dan akan
dikenakan Jipen atau denda adat. Menurut Tuty pula, wanita Dayak sangat
menjunjung tinggi adat, sopan satun, dan tatakrama yang diajarkan nenek
moyang mereka, sekaligus mengedepankan falsafah Huma Betang yang terjaga
hingga saat ini.

Thamrin Minta Maaf

Akhirnya, Thamrin Amal Tomagola meminta maaf kepada masyarakat Dayak, secara
terbuka. Menurut Thamrin, ketika ia menjadi saksi ahli pada persidangan
Ariel, 30 Desember 2010 lalu, ia mengacu pada temuan penelitian kualitatif
sewaktu dirinya menjadi konsultan di Depertemen Transmigrasi tahun 1982-1983
di Kalimantan Barat dan Papua Selatan. Pada masing-masing lokasi Thamrin
melalukan wawancara mendalam dengan 10 ibu-ibu usia subur sebagai
informannya. Pada sidang Ariel, dalam kapasitasnya sebagai saksi ahli,
Thamrin juga telah menjelaskan bahwa karena informan penelitiannya hanya 10
ibu-ibu, maka temuannya itu sama sekali tidak dapat digeneralisasi terhadap
semua puak dan warga Dayak, dan hanya dapat dijadikan sebagai petunjuk
sementara yang masih perlu diuji lagi.

Pernyataan di atas disampaikan Thamrin dalam sidang tertutup. Sedangkan
pernyataan yang dirilis media massa, menurut Thamrin, adalah kutipan
sepotong-sepotong yang out of context. Hal ini bisa terjadi karena Thamrin
tidak menyiapkan penjelasan tertulis untuk dibagikan kepada wartawan.

Lagi pula, sudah merupakan naluri jurnalis untuk memberitakan materi yang
unik, khas, agak berbeda, dan agak kontroversial. Oleh karena itu, para
jurnalis yang dinilai Thamrin memuat pernyataannya sepotong-sepotong dan out
of context, sama sekali tidak bisa disalahkan. Yang salah, justru Thamrin
sendiri. Karena, pendapatnya sebagai saksi ahli disandarkan pada sesuatu
yang belum tentu reliable. Dalam kaidah penelitian, kalau reliable saja
tidak, maka sudah bisa dipastikan hasil penelitiannya tidak valid. Buktinya,
ia didemo oleh masyarakat Dayak sendiri.

Artinya, Thamrin sebagai profesor dan peneliti sudah terjangkiti penyakit
asma (asal mangap). Sepertinya ia kebablasan membawa misi kebhinekaan,
sampai-sampai hal-hal kecil saja yang belum tentu signifikan dan belum tentu
representasi dari suatu kelompok, keberadaannya ia posisikan seolah-olah
penting untuk disosialisasikan dan diakomodasi.

Boleh jadi, memang masih ada sebagian kecil dari suku-suku tertentu yang
membenarkan hubungan seks (senggama) tanpa ikatan perkawinan. Tapi bukan
berarti layak dijadikan pembenar terhadap perilaku Ariel-Luna yang
memvideokan adegan mesumnya. Seharusnya, dijadikan pembanding yang arahnya
justru memposisikan perilaku Ariel-Luna sebagai sesuatu yang negatif,
mengingat keduanya punya agama, dan hidup dalam lingkungan sosial yang punya
nilai, punya etika, punya hukum, dan sebagainya. Ariel-Luna bukan dua
makhluk yang hidup di era primitif, di sebuah ruang hampa dan bebas nilai.
Begitu juga dengan Thamrin Amal Tomagola.

Kalau putri kandung Thamrin Amal Tomagola, misalnya, melakukan hubungan seks
(senggama) tanpa ikatan perkawinan dengan laki-laki yang disukainya,
kemudian divideokan dan beredar luas; saat ditanya orangtuanya lalu sang
putri beralasan: “Video mesum saya tidak meresahkan, karena ada contohnya di
sebagian masyarakat atau suku tertentu yang membolehkan senggama seperti ini
sebagai pembelajaran seks, sehingga anda sebagai orangtua saya tidak berhak
melarang perbuatan saya ini, karena saya sudah dewasa dan bisa menentukan
jalan hidup saya sendiri.” Kira-kira bagaimana?

Kalau toh memang ada sebagian masyarakat primitif yang mempraktekkan
senggama tanpa ikatan perkawinan, dan dijadikan pembelajaran seks, pastinya
perilaku itu tidak divideokan dan disebar-luaskan, sebagaimana terjadi pada
video mesum Ariel-Luna dan Ariel-Cut Tari. Nampaknya Thamrin sudah
kebablasan.

Soal kebablasan, bukan kali ini saja. Pernah diberitakan oleh Tribun Batam
edisi Kamis tanggal 28 Oktober 2010, bahwa Thamrin Amal Tomagola menjadi
salah satu undangan pada Musda (Musyawarah Daerah) Persekutuan Gereja-gereja
Indonesia Wilayah (PGWI) Kepulauan Riau (Kepri). Thamrin diundang sebagai
tokoh Islam. Sejauh ini belum ditemukan konfirmasi kedatangan Thamrin pada
acara tersebut. Kalau Thamrin hadir sebagai tokoh Islam, jelas tidak pada
tempatnya.

Alasannya, pertama, tidak semua orang Islam yang menjadi profesor dan tokoh
masyarakat serta-merta menjadi tokoh Islam. Kedua, Thamrin adalah tokoh
masyarakat Halmahera, yang jauh dari Kepri (Kepulauan Riau). Kalau ia
diundang oleh PGWI Halmahera atau Maluku, barangkali masih bisa dimengerti.
Ketiga, latar belakang akademis Thamrin adalah sosiologi, bukan teologi. Apa
relevansinya?

Thamrin dan Kasus Ambon

Kasus Ambon berdarah terjadi pada 19 Januari 1999. Menurut Thamrin, empat
Jenderal (Wiranto, Suaidi Marasabessy, Djaja Suparman, dan Sudi Silalahi)
paling bertanggung jawab atas konflik berdarah di Ambon. Pernyataan itu
disampaikan Thamrin pada tahun 2001, ketika ia diwawancarai harian Jawa Pos
di Washington DC. Pada masa Abdurrahman Wahid jadi Presiden, Thamrin
diangkat sebagai Advisor Gus Dur untuk kasus Maluku.

Uniknya, pernyataan Thamrin tersebut mendapat sambutan positif dari kalangan
kristen, sebagaimana tercermin melalui surat elektronik yang disebarluaskan
Joshua Latupatti (joshualatu@hotmail.com), tanggal 14 Mei 2001. Menurut
Joshua, Thamrin adalah salah satu dari segelintir putra Maluku yang berani
menyatakan kebenaran untuk menelanjangi kejahatan orde baru terhadap Maluku,
dan terhadap Negara ini, dengan taruhan yang tidak kecil.

Menurut Joshua pula, empat Jenderal orde baru (Wiranto, Suaidi Marasabessy,
Djaja Suparman, dan Sudi Silalahi), mencoba memanfaatkan kekalutan politik
Nasional saat ini, untuk mengubur dosa mereka, dengan menggugat Thamrin ke
pengadilan, dengan gugatan perdata dan pidana.

Pada tanggal 10 Oktober 2002, Pengadilan Negeri Cibinong, Jawa Barat,
memutuskan Thamrin Amal Tomagola bersalah, karena telah mencemarkan nama
baik empat perwira tinggi TNI (Wiranto, Suaidi Marasabessy, Djaja Suparman,
dan Sudi Silalahi). Untuk itu, Thamrin diharuskan membayar denda Rp50 juta,
dan diharuskan meminta maaf lewat media massa selama tiga hari.

Rupanya, bukan kali ini saja Thamrin berani melempar pernyataan yang
faktanya masih perlu dikaji. Boleh jadi itu sudah menjadi bagian dari
strateginya untuk tetap diingat masyarakat.

Liberal, membela kepornoan dan aliran penoda agama

Kembali kepada kasus zina dengan perkaranya penyebaran video porno,
pernyataan kebablasan Thamrin yang dinilai menyinggung perasaan suku Dayak
itu perlu dilacak latar belakangnya. Kenapa Thamrin semenggebu itu.

Jauh-jauh hari Detiknews memberitakan, Dukung Ariel, Thamrin Amal Tamagola
Bersedia Jadi Saksi. Intinya, ia bersedia jadi saksi yang meringankan kasus
(zina dan tersebarnya video porno) trio artis: Ariel-Luna Maya-Cut Tari.
(lihat detiknews, Sabtu, 26/06/2010 13:07 WIB).

Rupanya Thamrin ini merupakan jago dari Kelompok liberal yang “mendukung”
pornografi, di antaranya Thamrin adalah salah seorang yang maju untuk
menyampaikan suaranya sebagai saksi ahli dalam permohonan uji materi
Undang-undang Pornografi. Thamrin mengatakan di Mahkamah Konstitusi: “UU
Pornografi tidak terlalu urgen untuk diterbitkan dan jadi mubazir,” tegas
dosen sosiologi FISIP UI ini dalam sidang lanjutan uji materi UU Nomor 44
Tahun 2008 tentang pornografi di gedung Mahkamah Konstitusi, Jakarta, Kamis
(8/10). (lihat suarapembaruan online, 9 Okt 2009)

Sudah sampai Thamrin katakan UU Pornografi itu mubazir, namun pihak MK tetap
menolak permohonan Uji Materi UU Pornogafi itu.

Diberitakan, Sidang uji materiil UU Nomor 44 Tahun 2008 Tentang Pornografi
tiba pada putusan akhir. Majelis Hakim Konstitusi (MK) yang dipimpin oleh
Hakim Ketua Mahfud MD menyatakan menolak seluruh permohonan pemohon. Majelis
Hakim berpendapat, setelah mencermati norma yang diujikan dengan pasal yang
diujikan di UUD 1945, Majelis Hakim menilai Undang-Undang tersebut tidak
bertentangan dengan UUD 1945. (JPNN, Kamis, 25 Maret 2010 , 20:50:00).

Di samping itu, suara islam online menyebut Tharimn Amal Tomagola adalah
orang liberal dan pembela Ahmadiyah(aliran sesat, penoda agama). Sementara
itu kelompok liberal pun ditolak oleh MK (Mahkamah Konstitusi) mengenai
permohonan mereka tentang uji materi UU Penodaan Agama –yang biasa dirujuk
oleh para aktivis Islam untuk menilai aliran sesat di antaranya Ahmadiyah
sebagai penoda agama.

Mahkamah Konsitusi (MK) menolak pengujian materi UU Penodaan Agama yang
diajukan oleh pemohon dari berbagai LSM. MK menilai pasal-pasal yang
diujimaterikan pemohon tidak bertentangan dengan UUD 1945.

“Mahkamah Konstitusi menolak permohonan pemohon seluruhnya,” kata Ketua MK
Mahfud MD dalam pembacaan putusan di Gedung MK, Jakarta, Senin (19/4). Lalu,
membahana pekik “Allahhuakbar!!” dari massa FPI yang selalu memantau sidang
di MK. (eramuslim.com, Selasa, 20/04/2010 09:41 WIB).

Kekecewaan demi kekecewaan tampaknya telah mendera Thamrin Amal Tomagola
khususnya dan konco-konconya pada umumnya. Jadilah Thamrin Amal Tomagola
seorang professor yang tersandung-sandung dengan ucapannya seperti tersebut.
Sehingga menambah daftar sosok-sosok yang tidak bermutu dan berbicara ngawur
dari kalangan liberal.

Professor sekelas dengan orang-orang liberal yang ngawur

Dalam kasus tersebut professor ini dalam sejarah hidupnya akan sekelas
dengan mereka yang tercatat bicaranya ngawur, dari kalangan liberal di
antaranya:

1. A. Mustofa Bisri yang menganggap tidak apa-apa kalau mengangan-angan
untuk menzinai bintang film. Ungkapan dia: Jadi, kalau pemikirannya sendiri,
gagasan-gagasan, tidak bisa diharamkan. Kalau Sampean punya gagasan akan
menzinahi bintang film, ia baru haram kalau Anda laksanakan. Kalau masih
gagasan, tidak apa-apa. (Novriantoni dari Kajian Islam Utan Kayu (KIUK)
mewawancarai pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin, Rembang, KH
Mustofa Bisri, Kamis (4 Agustus 2005) lalu mengenai dampak fatwa itu).
(Lihat nahimunkar.com, April 30, 2008 5:18 am, Ngawurnya A. Mustofa Bisri
dalam Membela Ahmadiyah,
http://www.nahimunkar.com/ngawurnya-a-mustofa-bisri/)

Perkataan itu ngawur bahkan telah berani menganggap tidak apa-apa alias
halal apa yang telah jelas haram dalam Islam. Istilah haram itu sendiri
(karena A Mustofa Bisri sering disebut Kyai, bahkan dia memimpin pesantren),
tentu saja berkaitan dengan istilah Islam yang rujukannya adalah Al-Qur’an
dan Al-Hadits. Sedangkan dalam hadits ditegaskan:

Úóäú ÃóÈöí åõÑóíúÑóÉó Ãóäøó ÑóÓõæáó Çááøóåö Õóáøóì Çááøóåõ Úóáóíúåö
æóÓóáøóãó ÞóÇáó áößõáøö Èóäöí ÂÏóãó ÍóÙøñ ãöäú ÇáÒøöäóÇ ÝóÇáúÚóíúäóÇäö
ÊóÒúäöíóÇäö æóÒöäóÇåõãóÇ ÇáäøóÙóÑõ æóÇáúíóÏóÇäö ÊóÒúäöíóÇäö æóÒöäóÇåõãóÇ
ÇáúÈóØúÔõ æóÇáÑøöÌúáóÇäö íóÒúäöíóÇäö æóÒöäóÇåõãóÇ ÇáúãóÔúíõ æóÇáúÝóãõ
íóÒúäöí æóÒöäóÇåõ ÇáúÞõÈóáõ æóÇáúÞóáúÈõ íóåúæóì æóíóÊóãóäøóì æóÇáúÝóÑúÌõ
íõÕóÏøöÞõ Ðóáößó Ãóæú íõßóÐøöÈõåõ

Dari Abu Hurairah, dia berkata; Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wasallam Bersabda: “Setiap anak cucu Adam telah tertulis bagiannya dari
zina, maka kedua mata berbuat zina dan zina mata adalah melihat, kedua
tangan berzina dan zina kedua tangan adalah memegang, kedua kaki berzina dan
zina kedua kaki adalah melangkah, mulut berzina dan zina mulut adalah
mengucapkan, hati berharap dan berangan-angan, adapun kemaluan ia yang
membenarkan atau mendustakannya.” (HR. Ahmad, shahih atas syarat Muslim
menurut Syu’aib al-Arnauth, dan riwayat Al-Hakim, Ibnu Hibban, dan
Ad-Dailami).

Dalam hadits itu hati berharap dan berangan-angan adalah rangkaian dalam hal
zinanya anggota-anggota tubuh. Bukan tidak apa-apa seperti kata A Mustofa
Bisri itu. Ini jelas haram, karena ada larangan mendekati zina. itu jelas
dalam Al-Quran:

æóáóÇ ÊóÞúÑóÈõæÇ ÇáÒøöäóÇ Åöäøóåõ ßóÇäó ÝóÇÍöÔóÉð æóÓóÇÁó ÓóÈöíáðÇ
[ÇáÅÓÑÇÁ/32]

Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu
perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk. (QS. Al-Israa’ [17] : 32).

2. Luthfi Assyaukanie tokoh JIL. Beritanya sebagai berikut: Bukti Dungunya
Tokoh JIL

Tokoh JIL: Kesalahan Lia Eden Sama dengan Kesalahan Nabi Muhammad. “Apa yang
dilakukan oleh Lia Aminudin, sama seperti yang dilakukan Nabi Muhammad.
Kesalahan Lia sama dengan yang dilakukan oleh Nabi Muhammad waktu munculnya
Islam,” kata Luthfi Assyaukanie tokoh JIL (Jaringan Islam Liberal) dalam
sidang MK di Gedung MK, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta, Rabu,
(17/2/2010) .

Tokoh Jaringan Islam Liberal (JIL) itu mengakui pernyataan itu sangat
sensitif dan telah memikirkan secara matang tentang pernyataan tersebut.

Siapa Lia Aminuddin itu?

Pos Kota memberitakan, Ny. Aminudin alias Lia Eden akhirnya divonis 2,5
tahun penjara oleh majelis hakim PN Jakarta Pusat, Selasa (2/6 2009) sore.

Sementara Wahyu Andito, sebagai pelayanan penerima wahyu dari Lia Eden, juga
divonis majelis hakim dengan 2 tahun penjara.

Lia Eden terbukti melakukan penistaan terhadap agama, yakni membuat beberapa
risalah kepada Presiden RI SBY, Kejaksaan, Kepolisian dan beberapa lembaga
Ormas Islam. Intinya, Lia Eden minta Agama Islam dihapuskan di Indonesia.
(poskota.co.id, Selasa, 2 Juni 2009 – 17:55 WIB).

Bagaimana tokoh JIL itu bisa menyamakan kesalahan Lia Eden dengan apa yang
dia sebut kesalahan Nabi Muhammad waktu munculnya Islam. Lia Eden jelas mau
menghapus Islam, agama dari Allah Ta’ala; sedang Nabi Muhammad shallallahu
‘alaihi wa sallam berdakwah untuk menghapus agama berhala kemusyrikan.

Menyamakan Lia Eden yang mau menghapus Islam dengan Nabi Muhammad
shallallahu ‘alaihi wa sallam yang berdakwah menghapus kemusyrikan adalah
lebih buruk sama sekali dibanding anak kecil yang menyamakan antara babi dan
unta. Orang yang sedang naik unta pun akan marah ketika dikatakan naik babi.
(lihat nahimunkar.com, February 17, 2010 11:45 pm,
http://www.nahimunkar.com/bukti-dungunya-tokoh-jil/)

3. Gusti Randa. Beritanya sebagai berikut: Membela Jupe Melecehkan Nabi.

Ditolak NU, Artis Seronok Jupe Malah Disamakan dengan Kisah Nabi.

Bertandangnya artis seronok ke kancah pilkada (pemilihan kepala daerah)
tampak semakin menambah masalah. Bukan hanya masalah yang berkaitan dengan
pilkada itu sendiri, namun telah merendahkan bahkan melecehkan martabat Nabi
Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Diberitakan, Jupe (Julia Perez) artis seronok yang akan mencalonkan diri
sebagai cawabup (calon wakil bupati) Pacitan Jawa Timur ditolak oleh NU dan
berbagai ormas Islam. Namun penolakan itu justru dikilahi dengan
membawa-bawa kisah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Gusti Randa, seorang pengacara, yang saat ini juga salah satu tim sukses
Jupe menegaskan, Jupe pantang mundur dari pertarungan calon orang nomor satu
di Pacitan.

Gusti pun sempat membandingkan penolakan terhadap Jupe dengan kisah Nabi.
“Pada zaman nabi, nabi itu ditolak sama daerah asalnya,” ujar Gusti.

Membandingkan lakon Jupe dengan kisah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam itu
perbandingan yang sangat ngawur. Jupe, ditolaknya oleh NU dan lain-lain itu
karena berbagai factor tentunya. Di antaranya lantaran perempuan inisudah
dikenal di masyarakat, dia suka buka-bukaan, berpenampilan seronok,
mabuk-mabukan, dan sebagainya. Sedangkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
ditolak oleh daerah asalnya karena mengajarkan tauhid, mengesakan Allah
Ta’ala, sedang para penolaknya adalah orang-orang yang sesat yakni kafir
musyrik, menentang Tauhid.

Penyamaan kisah Nabi dengan lakon Jupe hanya karena sama-sama ditolak oleh
daerah asalnya itu penyamaan yang paling dungu. Dan itulah yang telah
dilakukan oleh tokoh JIL ketika di Mahkamah Konstitusi ketika menginginka
Undang-Undang Penodaan Agama dicabut (yang akhirnya tuntutan JIL dan lainnya
itu kalah, sedang UU Larangan Penodaan Agama tetap diberlakukan) beberapa
waktu lalu. Pentolan JIL itu menyamakan Lia Eden pentolan sesat yang ingin
menghapus Islam justru disamakan dengan Nabi Muhammad shallalhu ‘alaihi wa
sallam, hanya karena awalnya sama-sama ditolak masyarakat.

Dalam kasus ini, berarti pendukung Jupe ini sudah ketularan atau memang
sama-sama dungunya dengan tokoh JIL yang tidak mampu membedakan emas dengan
kotoran manusia hanya karena sama-sama kuningnya. (lihat nahimunkar.com,
April 28, 2010 11:23 pm,
http://www.nahimunkar.com/membela-jupe-melecehkan-nabi/).

Masih ada yang lain-lain lagi. Tetapi sebagai contoh sudah cukuplah. Dan ini
sudah cukup membuktikan, kelompok liberal yang membela kepornoan, maksiat,
sampai aliran sesat penoda agama terbukti walau sampai tingkat professor
atau kyai pun mutunya seperti itu. Di dunia saja mereka sudah sulit
mempertahankan argumennya. Apalagi di akherat kelak. Dan itu semua harus
dipertanggung jawabkan. Betapa memalukannya! (haji/tede)

http://www.eramuslim.com/berita/tahukah-anda/thamrin-amal-tomagola-professor
-sekelas-orang-liberal-ngawur.htm

Sumber: Yudi Yuliyadi <yudi@geoindo.com>,in: wanita-muslimah@yahoogroups.com, Wednesday, 19 January 2011 08:41:41

About these ads

1 comment so far

  1. ferry on

    thamrin amal tomagola bukan beragama Islam ia hanya separatis ujntuk daerh tertentu dan inhgin jadi presidennya lihat aja darfi tampangnya omongannya diwarnai frustasi.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 57 other followers

%d bloggers like this: