MENGEMBANGKAN SASTRA & BAHASA DAYAK NGAJU

Jurnal Toddoppuli

Cerita Buat Andriani S. Kusni & Anak-Anakku

Pada November 2010 lalu Dinas Kebudayaan Dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Palangka Raya mengadakan lomba menulis cerita rakyat Dayak dalam bahasa Dayak Ngaju. Perlombaan jenis ini, baru pertama kali diorganisasi oleh Disbudpar Kota. Hsilnya baru diumumkan pada 10 Desember 2010. Sebelumnya pada Mei 2010, Disbudpar telah menyelenggarakan lomba penulisan cerita rakyat Dayak, tapi dalam bahasa Indonesia. Kedua lomba mendapat sambutan hangat dari 30an penulis. Dalam rangkaian kegiatan memperingati Hari Bahasa,Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Tengah,diikuti oleh 42 penulis usia 14-19 tahun.  Sementra itu, Komunitas Seniman-Budayawan Palangka Raya (KSB-PR) pada November 2010 di Sungai Rungau menyelenggarakan pelatihan penulisa selama seminggu siang-malam diikuti oleh 20 peserta. Pelatihan serupa kemudian juga diselenggarakan oleh Harian Kalteng Pos, diikuti oleh 40 peserta. Jika para peserta ini bisa dipandangan sebagai penulis atau calon-calon penulis, maka di Kalteng paling sedikit terdapat 100an orang penulis dan atau calon penulis. Suatu jumlah yang tidak kecil jika para penulis ini terus menulis dan memandang kerja menulis adalah suatu keharusan dan profesi seperti bidang lainnya. Kalaupun dari 100-an orang ini separo, artinya 50 orang saja yang ajeg menulis, maka untuk Kalteng yang berpenduduk hanya 2,2 juta jiwa, jumlah ini sudah memadai. Walaupun sebenarnya keterampilan menulis niscyanya dimiliki oleh semua orang, apapun profesi  mereka. Hnya saja hal yang tidak mendukung pengembangan dunia tulis-menulis di provinsi ini adalah sangat minimnya kemampuan menghargai terhadap para penulis dari pihak-pihak resmi dan  yang berhubungan dengan dunia penulisan.  Sehingga untuk hidup di Kalteng dari menulis sangat tidak bisa dimungkinkan. Terutama bagi penulis lepas profesional. Untuk bisa hidup, mereka tidak punya pilihan lain kecuali menjual karya-karya mereka ke luar Kalteng. Kesulitan lain, yaitu terbatasnya penerbitan. Yang paling parah, sangat kurangnya pebghargaan terhadap penulis nmpak dalam bentuk pencantuman nama diri untuk karya orang lain. Penulis sebagai cendekiawan diperlukan karena ia adalah pengawasan sosial, pendidik publik, dan juga oleh pengetahuannya yang luas serta mendalam, ia bisa menjadi perangsang pemikiran ke arah perobahan maju manusiawi melalui karya-karya mereka.Karena itu di Perancis ada yang disebut Parlemen Para Penulis Dunia,. Beranggotakan para penulis dari seluruh dunia. Filosof Jacques Derrida, sosiolog Pierre de Bourdieu pernah menjadi ketuanya.

Lomba menulis memang salah salah cara untuk menumbuhkan barisan penulis. Karena itu jerih-payah Disbudpar Kota patut dihargai. Hanya yang paling efektif adalah penghargaan pada penulis dan karya-karyanya. Yang banyak berperan dalam menentukan mutu lomba adalah Dewan Juri. Dewan Juri asal-asalan akan menentukan kadar lomba  serta karya yang dimunculkan. Mengenai juri lomba tulis-menulis ini di Kalteng nampak ada kecenderungan menggunakan orang-orang itu saja, tanpa melibatkan orang yang benar-benar banyak berkecimpung di dunia penulisan seperti kritikus seni-sastra, sosiolog, budayawan, sastrawan, serta tanpa kriteria yang jelas.  Sehingga bukan tidak mungkin dengan susunan Dewan Juri demikian, memberi nilaipun asal-asalan oleh apresiasi sastra-seni yang pas-pasan, untuk tidak mengatakan tidak punya. Selain itu, saya kira, suatu lomba yang dilakukan secara teratur, atau mulai mau diselenggarakan secara teratur perlu rencana dengan capaian target yang jelas. Rencana misalnya: untuk apa lomba diadakan, apa yang dilakukan kemudian dengan hasil lomba itu, untuk pengembangan : target apa yang mau dicapai dalam lomba tahun ini, kemudian tahun berikutnya apa yang mau dicapai seperti penulisan cerita-cerita kontemporer dalam Bahasa Dayak Ngaju. Dalam menetapkan target capaian, kiranya perlu dijelaskan apa yang dimaksudkan dengan cerita rakyat. Apakah penuturan ulang atukah termasuk cerita yang ditafsirkan. Lomba yang diselenggarakan untuk menghabiskan alokasi anggaran, tidak mempunyai makna besar. Sebaiknya pula anak-anak usia remaja 12 tahun-19 tahun tidak disatukan dengan penulis yang berumur. Melihat kualitas pendidikan dan apresaisi sastra-seni di Kalteng, terasa sangat ganjil seorang anak SMP kelas dua, usia 14 tahun,bisa mengalahkan para akademisi, peneliti dan penulis-penulis yang jam terbangnya lebih lama. Wacana  dan apresiasi sastra-seni anak-anak usia 12-19 tahun sangat meragukan jika sudah setara dengan penulis-penulis dengan jam terbang lebih lama. Apalagi untuk ukuran Kalteng. Akan lebih masuk akal jika untuk usia 12-14 tahun dimasukkan dalam kategori tersendiri. Keanehan ini juga terdapat pada lomba menulis anak-anak usia 14-19 tahun yang diselenggarakan oleh Balai Bahasa Provinsi Kalteng. Sangat meragukan 1945 sekali jika ada anak-anak yang tahu detail satu pertempuran 10 November di Surabaya dan nama-nama senjata yang digunakan. Sedangkan pengetahuan sejarah angkatan sekarang terkesan ada semacam keterpenggalan sejarah. Sejarah Kalteng dan pahlawan-pahlawan Kalteng saja belum tentu anak-anak sekarang mengetahuinya. Tentu saja keanehan begini di hadapan Tim Juri yang cermata dan masih menggunakan akal, tidak akan lolos. Dari gejala keanehan begini,, sya mencium bau busuk mentalitas yang sakit berat. Jika pada masa mendatang, ada rencana untuk kembali menyelenggarakan lomba menulis atau lomba apa saja, hendaknya pemilihan dewan juri dipertimbangkan benar untuk tidak terbelenggu oleh suatu kebiasaan usang yang tidak tanggap zaman lagi. Paling tidak diperluas dengan tenaga-tenaga yang memang bidangnya.

Hasil lomba menulis cerita rakyat dalam bahasa Dayak Ngaju ini, untuk menyambut tekad Gubernur Kalteng  A. Teras Narang agar muatan lokal di Kalteng, niscaya ada pelajaran sejarah Kalteng dan Bahasa Dayak Ngaju, maka cerita-cerita ini jika diterbitkan akan bisa secara kongkret mengisi kekosongan bahan. Kecuali itu dengan menerbitkannya, maka ia bisa mengisi lemari arsip, menjawab nyata juga tuntutan  pelestrian budaya yang banyak dibicarakan, tapi kurang diimbangi dengan tindakan nyata. Lomba penulisan cerita rakyat, juga berarti jika dilihat dari upaya mengembangkan sastra lisan ke tulisan. Arti penting ini lebih-lebih bagi Kalteng yang tradisi lisannya masih kuat, sehingga tradisi tulisan belum berkembang. Disamping itu, ia menunjukkan kemampuan Bahasa Dayak Ngaju sebagai pendukung kehidupan sastra. Bentuk lain yang kongkret pula untuk memelihara dan mengembangkan Bahasa Dayak Ngaju yang cukup lama tidak diurus dengan sungguh-sungguh oleh dunia pendidikan dan masyarakat Kalteng. Dengan terdapatnya bentuk tulisan dari karya-karya lisan, sangat membantu usaha pengkajian dan perbandingan sastra. Mengapa Jurusan Bahasa Indonesia Unpar  kurag mengindahkan masalah sastra lokal sedangkan Unpar diharapkan sesuai sejarah dan harpan yang menyertai lahirnya Unpar bisa berperan dalam upaya pelestarian dan pengembangan budaya lokal ? Kejadian serupa Fakultas Hukum tidak acuh pada hukum adat Dayak. Kegiatan Disbudpar Kota memberikan perhatian pada Bahasa Dayak Ngaju pantas dihargai pula, betapapun masih merupakan ayunan   langkah pertama. Saya tidak tahu, dalam upaya memelihara, mengembangkan dan menstandarisasi Bahasa Dayak Ngaju, apakah pihak Disbudpar tidak memandang perlu adanya seminar Bahasa Dayak Ngaju dan perlunya menyelenggarakan Kongres Kebudayaan Dayak ? Pertanyaan ini saya kemukakan melihat betapa simpang siurnya cara menulis  dan memaknai kosakata dalam Bahasa Dayak Nagju sekarang. Sadar akan arti Bahasa Dayak Ngaju ini, Sarikat Dajak yang berdiri pada tahun 1919 dan Pakat Dajak yang melanjutkannya telah menyelenggarakan Konfrensi Bahasa Dayak Ngaju di Penda Katapi (Wawancara Dengan TT. Suan, Mei 2010 di Palangka Raya). Kondisi sekarang, jauh lebih baik daripada zaman Penda Katapi. Barangkali yang beda adalah kesadaran dan semangat.  Tanpa kesadaran (dan upaya nyata) akan arti bahasa-bahasa Dayak akan terancam punah seperti bahasa  Moronene Kabaena, Kabupaten Bolbana , Sulawesi Tenggara, dan ratusan lainnya, oleh pergeseran zaman, menyebabkan generasi muda tidak tertarik lagi mempelajari sastra lisan. Padahal dalam sastra lisan dan bahasa ‘’terkandung nilai-nilai dan fungsi tersendiri dalam kehidupan masyarakat pendukung khususnya dan umumnya bangsa Indonesia dalam konteks keanekaragaman budaya’’, ujar Azramal dari Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.

KUSNI SULANG, Anggota Lembaga Kebudayaan Dayak Palangka Raya (LKD-PR).

About these ads

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 54 other followers

%d bloggers like this: