MENANTI PERTANGGUNGJAWABAN THAMRIN AMAL TAMAGOLA

Jurnal Toddoppuli

Cerita Buat Andriani S. Kusni & Anak-Anakku

Thamrin Amal Tamagola, sosiolog dari Universitas Indonesia, Jakarta, pada hari Kamis, 2 Desember 2010 menjadi saksi ahli dalam persidangan Ariel yag terkait kasus video asusila di Pengadilan Negeri Bandung. Seusai memberikan keterangan sebagai saksi ahli , Thamrin menyatakan kepada wartawan, ‘’video porno dengan pemeran mirip Ariel tidak meresahkan bagi sebagian masyarakat Indonesia. Sebab menurutnya, definisi soal susila atau asusila itu berbeda-beda. Undang-undang pornografi kita, kata dia, menyeragamkan standar asusila’’ (Kompas.com, 5 Januari 2011). Sampai di sini, pernyataan Thamrin tidak terlalu menimbulkan persoalan, walaupun pendapatnya bahwa ’video porno dengan pemeran mirip Ariel tidak meresahkan bagi sebagian masyarakat Indonesia. Sebab menurutnya, definisi soal susila atau asusila itu berbeda-beda, tetap membuka ruang diskusi. Masalah serius menjadi muncul, terutma di kalangan etnik Dayak, ketika untuk mendukung pernyataan di atas Thamrin menunjuk salah satu hasil penelitiannya. Contoh masyarakat yang tidak resah terhadap video tersebut adalah masyarakat suku Dayak, sejumlah masyarakat Bali, Mentawai dan masyarakat Papua.Lantas ia menyebut hasil penelitiannya di kalangan masyarakat Dayak yang menganggap bersenggama tanpa diikat perkawinan sebagai hal biasa. Pernyataan ini dipandang oleh 23 organisasi masyarakat Dayak dipandang bahwa ‘’yang bersangkutan tidak sensitif dan tidak memahami keragaman suku bangsa di Indonesia pada umumnya, dan khususnya suku Dayak secara utuh’’, “telah mendiskreditkan dan menimbulkan persepsi negatif publik terhadap masyarakat Dayak”; Terhadap reaksi ini, kepada Kompas.com,  Thamrin menjelaskan bahwa apa yang disampaikannya bukan dimaksudkan untuk menyamaratakan semua suku Dayak. “Saya sebutkan detail di pengadilan dalam penjelasan selama satu jam lebih bahwa itu hasil penelitian saya terhadap beberapa suku di Indonesia. Bukan menyamaratakan’’. Selanjutnya Thamrin mengatakan “Poin saya (dalam sidang) adalah memperlihatkan keanekaragaman dan kemajemukan serta toleransi; Saya sampaikan bahwa UU Pornografi akan kesulitan karena menghadapi budaya yang berbeda-beda. Saat menjelaskan keanekaragaman itu saya sampai pada contoh, antara lain, menyebut penelitian saya terhadap beberapa suku Papua dan Dayak’’, ujar Thamrin.  Selain itu menurut Thamrin, apa yang dinyatakan di pengadilan sebenarnya bukan sebenarnya bukan konsumsi publik, melainkan untk forum yang khusus. “Itu untuk keperluan pengadilan, penegakan hukum, atau diskusi akademik. Kalau dibawa ke diskusi publik akan repot karena yang muncul reaksi-reaksi seperti itu, karena setiap orang memiliki keragaman tingkat pemahaman’’, jelas Thamrin lagi.

 

Setelah mengetahui pernyataan Thamrin demikian, pada 8 Januari 2011 masyarakat Dayak dari berbagai suku dan agama  dari 14 kabupaten/kota yang ada di Palangka Raya, Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Palangka Raya, PMKRI, orgasisasi dayak seperti Majelis Adat Dayak Nasional (MADN), Gerakan Pemuda Dayak,  melangsungkan unjuk rasa protes, hampir secara spontan karena persiapannya hanya semalam. Hadir pula dalam unjuk rasa ini anggota-anggota DPR, warga dari berbagai  etnik yang ada di Kalimantan Tengah. Dalam Pernyataan Sikap MADN yang ditandatangani oleh Prsidennya A.Teras Narang, SH “menyatakan keberatan dan protes keras atas peernyataan Saudara Thamrin Amal Tomagola, yang telah melukai perasaan, harkat dan martabat Masyarakat Dayak, serta melecehkan Adat Istiadat Suku Dayak yang mengedepankan prinsip ‘’Belom Bahadat” (hidup bertatakrama dan beradat) dalam segi-segi kehidupan masyarakat Dayak; “Saudara Thamrin Amal Tomagola, wajib mempertanggungjawabkan perbuatannya secara pribadi di depa hokum dan tuntutan Hukum Adat Dayak, guna menghindari terjadinya disharmoisasi maupun konflik horizontak yang dapat merusak sendi-sendi kehidupan dalam bermasyarakat; berbangsa dan bernegara;  menuntut Saudara Thamrin Amal Tomagola , untuk segera menyampaikan pernyataan maaf atas pernyataannya secara terbuka dan tertulis melalui media cetak maupun elektronik kepada seluruh Masyarakat Dayak, paling lambat 1 (satu) minggu (15 Januari 2011), setelah pernyataan ini disampaikan”. Unjuk rasa masyarakat Dayak ini juga memutuskan untuk menggugat secara hukum nasional dan adat Thamrin Amal Tomagola. Ketika unjuk rasa berlangsung, Kapolda Kalteng Brigjen Damianus Jackie melalui Kapolres Palangka Raya menyampaikan akan memfasilitas gugatan hukum terhadap Thamrin Amal Tomagola yang dituntut untuk datang ke Palangka Raya untuk mempertanggungjawabkan pekataannya. Kalau Thamrin tidak mau datang, masyarakat Dayak dan organisasi-organisasinya akan mencari cara agar Thamrin bisa bertanggungjawab, demikian tegas Yansen Binti, Ketua Gerakan Pemuda Dayak dan anggota DPRD Kota Palangka Raya.

 

Bagaimana dengan argumen-argumen Thamrin yang mengatakan bahwa apa yang dikatakannya sebagai hasil  “penelitian terhadap beberapa suku dan Dayak’’ dan “apa yang dinyatakan di pengadilan sebenarnya bukan sebenarnya bukan konsumsi publik, melainkan untk forum yang khusus. “Itu untuk keperluan pengadilan, penegakan hukum, atau diskusi akademik. Kalau dibawa ke diskusi publik akan repot karena yang muncul reaksi-reaksi seperti itu, karena setiap orang memiliki keragaman tingkat pemahaman’’? Masalahnya bukan di mana pernyataan itu diucapkan, apakah d depan publik ataukah di forum yang khusus”, tapi  tapi apakah isi pernyataan itu benar atau salah. Lebih-lebih jika itu hasil riset dan bersifat akademi. Riset adalah upaya mencari kebenaran dan kenyataan.  Riset dan sifat akadem mengandung sifat setia pada kebenaran dan kenyataan. Untuk mendapatkan kebenaran dari kenyataan, seorang peneliti mestinya mengumpulkan data sekaya mungkin dari sudut pendekatan yang ia lakukan. Apa yang dibicarakan oleh  Thamrin justru masalahyang banyak dibicarakan dan dijadikan pasal-pasal dalam hukum adat Dayak  yang disepakati oleh seluruh masyarakat Dayak se pulau Borneo/Kalimantan dalam Pertemuan Damai 1894 di Tumbang Anoi. Jika Thamrin membaca hukum adat Tumbang Anoi itu, ia tidak akan mungkin sampai pada pernyataan bahwa “di kalangan masyarakat Dayak yang menganggap bersenggama tanpa diikat perkawinan sebagai hal biasa”. Kesimpulan Thamrin tentang hubungan lelaki-perempuan di Tanah Dayak yang demikian, memperlihatkan bahwa data-Thamrin tidal valid dan risetnya, riset yang asal-asalan. Data hukum adat, belum lagi praktik sehari-hari agaknya luput dari perhatian Thamrin sebagai peneliti, padahal hukum adat merupkan materi penting bagi masalah susila, hubungan lelaki-peremuana dalam masyarakat Dayak. Secara akademi mengapa Thamrin tidak memersiskan di masyarakat Dayak mana riset itu ia lakukan.  Waktu satu jam lebih beebicara di depan Pengadilan bukanlah jaminan bahwa data dan kesimpulan Thamrin sudah valid. Bisa saja satu jam itu adalah satu jam omong kosong. Apalagi ketika ia menyamaratakan masyarakat Dayak. Dengan ini metode riset dan sample Thmrin (yang masih tidak ia katakan di mana), apalagi hasilnya, tidak memperlihatkan mutu keakademian Thamrin. Para akademisi Kalteng siap melakukan diskusi serius tentang hasil penelitian Thamrin. Thamrin kapan saja boleh ke Kalteng untuk mendiskusikan hasil risetnya tentang masyarakat Dayak dan bagi seorng akademisi yang serius, peluang begini sangat dicari-cari. Selain hasil (isi) penelitian pasti salah dalam artian tidak sesuai kenyataan, metodenya pun masih diragukan, dilihat dari segi trilogi perguruan tinggi: pengabdian masyarakat, hasil riset dan pernyataan Thamrin sangat bersifat rasis, tidak sesuai dengan rangkaian nilai republikan dan berkeindonesiaan. Thamrin dari segi hukum bukan hanya sudah melakukan pencemaran nama baik kolektif (etnik Dayak), ia juga sudah melanggar hukum adat yang masih hidup di kalangan masyarakat Dayak, dan sayangnya tidak jadi acuan riset Thamrin. Akan sangat baik apabila Thamrin meluangkan waktu minimal  membaca hukum adat Tumbang Anoi 1894, dan Perda (Kalteng) No.16  Tahun 2008 sebagai acuan riset..

 

Perihal argumen “bukan konsumsi publik, melainkan untk forum yang khusus. Itu untuk keperluan pengadilan, penegakan hukum, atau diskusi akademik. Kalau dibawa ke diskusi publik akan repot karena yang muncul reaksi-reaksi seperti itu, karena setiap orang memiliki keragaman tingkat pemahaman’’  Pertanyaannya, apakah kebenaran hanya diperuntukkan untuk kalangan khusus saja, tidak diperlukan oleh publik? Tidak terlalu salah mengatakan setiap orang memiliki keragman tingkat pemahaman, seperti halnya tingkat pemahaman Thamrin sendiri tentang masyarakat Dayak. Tapi kalau masyarakat Dayak tidak mengerti hukum adat yang menuntun kehidupan mereka sejak turun-temurun, agaknya suatu prasangka tak berdasar. Jika demikian, siapakah yang menjadi sumber riset Thamrin tentang masyarakat Dayak? Apakah masyarakat Dayak itu sendiri ataukah pihak lain? Di mana obyektivitas riset demikian? Memandang masyarakat Dayak tidak tahu hukum adat mereka sendiri, nampaknya peneliti memandang masyarakat Dayak itu sangat dungu. Secara umum bisa dikatakan bahwa sang peneliti memandang massa rakyat itu bodoh sekali. Jika peneliti merasa yakin benar akan kebenaran penelitiannya, mengapa takut melakukan diskusi publik?

 

Contoh masyarakat yang tidak resah terhadap video tersebut adalah masyarakat suku Dayak, yang diambil oleh Thamrin sebagai peneliti, hanya membuktikan ketidaktahuan Thamrin tentang masyarakat Dayak. Thamrin tidak membaca dokumen-dokumen serta media massa cetak atau elektronik Kalimantan, cq. Kalimantan Tengah, tentang masalah yang sedang dibicarakannya.  Thamrin asing dari masyarakat Dayak yang ia sebut pernah ia teliti. Sebab jika ia benar-benar peneliti serius, ia akan tahu tanggapan dan apa yang dilakukan oleh masyarakat Dayak terhadap soal video tersebut. Seorang peneliti serius dan bertanggungjawab tidak akan membuat blunder seperti yang dilakukan oleh Thamrin. Sebuah spanduk yang dipajangkan dalam unjuk rasa 8 Januari 2011 di Palangka Raya memprotes hinaan Thamrin barangkali membantah secara hakiki kesimpulan riset Thamrin. Spanduk itu bertuliskan: “Hai, Thamrin, anak-anak kami bukan hasil hubungan seks bebas di luar pernikahan”.Kata-kata di spanduk inipun melukiskan sekaligus asingnya Thamrin dari masyarakat Dayak yang ia teliti.. Kalau Thamrin benar seorang akademisi dan peneliti serius serta bertanggungjawab, ia pasti mempertanggungjawabkan kata-katanya. “Mulutmu harimaumu”, tulis Harian Tabengan, salah satu harian terkemuka di Kalteng mengomentari kesimpulan riset Thamrin. Semoga Hatala Ranying Panutung Bulan Matanandau Pambelum memaafkan, Tuan  sekalipun boleh jadi sang peneliti ingin cepat populer dengan menghina suatu etnik secara kolektif..***

 

KUSNI SULANG, Anggota Lembaga Kebudayaan Dayak Palangka rya (LKD-PR).

About these ads

8 comments so far

  1. MARCOS TUWAN on

    Hanya meneruskan,
    Untuk di perhatikan sebagaimana mestinya,
    terima kasih

    KALARIFIKASI DAN PERMOHONAN MAAF PROF. TAMRIN A TOMAGOLA

    From: Martin goro-goro
    Date: Fri, 7 Jan 2011 08:32:03
    To:
    Subject: Bls: permohonan maaf dan klarifikasi sosiolog Tamrin Amal Tomagola

    Kepada Seluruh saudaraku warga masyarakat Dayak yang saya hormati,

    Pertama-tama dan yang paling utama dengan segala kerendahan hati saya memohon maaf yang sedalam-dalamnya telah menyinggung kehormatan warga Dayak dan adat-istiadatnya yang mulia. Sebagai penjunjung asas bhinneka tunggal ika saya berupaya bersama-sama banyak teman senusantara untuk memuliakan asas kebhinekaan sampai kapanpun.

    Kedua, saya berkewajiban untuk mengklarifikasi apa yang sesungguhnya terjadi dan terucapkan dalam kesaksian saya di pengadilan kasus Ariel di Bandung, 30 Desember yang lalu. Adalah saya yang menawarkan diri lewat suatu acrara di TV One untuk menjadi saksi ahli yang meringankan. Tawaran itu saya berikan karena menurut pendapat saya, kasus Ariel itu menyangkut hak-pribadi dasar warganegara. Dengan bersaksi saya ingin menegakkan prinsip-prinsip dasar dalam hidup bermasyarakat dan bernegara-bangsa. Karena saya menolak imbalan dalam bentuk apapun untuk kesaksian yang saya berikan. Keluarga Ariel pernah menawarkab ‘fee’, akomodasi dan transportasi. Semuanya saya tolak.

    Dalam kesaksian saya, saya menekankan tiga nilai fundamental: kemajemukan, toleransi dan penghormatan atas keunikan suatu budaya. Selama hampir 1 jam saya berupaya meyakinkan majelis hakim tentang penjunjungan ketiga nilai fundamental itu.

    Hakim Ketua, meminta contoh konkrit. Saya lalu mengacu pada temuan penelitian kualitatif saya sewaktu menjadi konsultan di Depertemen Transmigrasi tahun 1982-1983. Pennelitian kualitatif saya lakukan di Kalimantan Barat dan Papua Selatan. Pada masing-masing lokasi saya melalui wawancara mendalam dengan 10 ibu-ibu usia subur sebagai informan saya.

    Kepada majelis hakim saya tegaskan bahwa atas dasar hanya 10 informant, temuan saya samasekali tidak dapat digeneralisasi terhadap semua puak dan warga Dayak. Paling banter, temuan itu hanya sebagai petunjuk-petunjuk sementara yang masih perlu diuji lagi.

    Sangat dapat dimengerti bila saudara-saudara saya warga Dayak sangat tersinggung dan marah oleh pemberitaan seperti itu.

    Saya sungguh-sungguh menyesal telah menimbulkan amarah, yang wajar dari seluruh warga masyarakat Dayak, dan untuk itu, sekali lagi saya memohon maaf yang sebesarnya.

    Saya belajar banyak dari kesalahan ini dan berjanji pada diri saya, khususnya kepada seluruh warga masyarakat Dayak, dan umumnya kepada semua warga masyarakat adat nusantara, untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama di masa depan.

    Semoga semua kita tetap rukun dan damai dalam kebhinnekaan nusantara kita.

    Salam kebhinnekaan,

    Tamrin Amal Tomagola

  2. marten on

    pak thamrin..masa penelitian mendalam cuman mengunakan sampel 10 orang..emang warga dayak cuman 10 orng ya,,ckckckck
    kasian juga nih orng..udah pikun ya pak,,ya udah pensiuuuunn aja deh jd guru besar,,biar gax malu-maluin gitu lho,,kasian kan UI sebagai universitas terkemuka di indonesia punya guru besar yg udah pikun,,wkwkwkwk

  3. Pak Uda' on

    Kasihan UI koq punya GURU BESAR seperti ini ya ???

  4. Suwandi on

    Tolol

  5. Suwandi on

    Tiada maaf bagimu…..

  6. Suwandi on

    Tiada maaf bagimu ….

  7. Natanael on

    Mau mangkok merah berjalan kah ke keluarga kau…..
    Guru Besar tapi otak nya di dengkul…..

  8. dayak iban on

    saya tdk prcaya klw permohonan maaf disampaikan dlm bentuk email…
    saya mau prmohonan maaf secara lisan dlm televisi didampingi para majelis adat dayak nasional..
    kemudian didepan masyarakat adat di pulau kalimantan dan disampaikan ditiap-tiap provinsi yang ada di kalimantan didepan seluruh masyarakat Dayak..
    berani berbuat berani betanggung jawab..
    klw thamrin ingin menyangkal perkataannya silahkan berbicara didepan saya.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 49 other followers

%d bloggers like this: