Kaum Ateis, Bukalah Topengmu

Kaum Ateis, Bukalah Topengmu

Diterbitkan : 23 Desember 2010 – 4:35pm | Oleh Prita Riadhini (Indonesian Atheists)

Kelompok ateis di Indonesia semakin banyak jumlahnya. Namun belum semuanya memproklamirkan diri sebagai orang yang tidak memiliki keyakinan beragama. Perlukah membuka “topeng” menyatakan diri seperti apa adanya, guna mendapat perlakuan sama?

Indonesian Atheists merupakan tempat berlabuh bagi orang yang tidak beragama. Grup tersebut didirikan oleh Karl Karmadi yang berdomisili di Jerman. Lama kelamaan anggotanya semakin banyak dan akhirnya menjadi sebuah komunitas yang mendukung orang orang yang mengalami diskriminasi dan mengalami kesulitan, saat memilih untuk tidak beragama.

Sejak saat didirikan tahun 2008 sampai saat ini sudah memiliki sekitar 400 anggota yang tersebar di seluruh belahan dunia. Kelompok ini ingin agar kaum ateis diterima dan menghapus diskriminasi.

Diskriminasi itu simpel aja. Orang ga bisa menikah di Indonesia jika tidak beragama. Kemudian tentu saja ada banya lainnya seperti di KTP tidak ada kolom yang menyatakan bahwa kita tidak beragama.

Itu adalah semua perlakuan yang diterima dari pemerintah. Belum lagi dari lingkungan sekitar misalnya dari keluarga, teman dan lain kenalan lainnya.

Bersuaralah
Sebagai seorang ateis, Karl Karmadi berharap, orang Indonesia dapat menilai kelompoknya berdasarkan kemampuannya bukan berdasar agama yang diyakininya. Untuk itu ia menyarankan agar sesama ateis menyuarakan kepentingan mereka. Sebab untuk mengubah keadaan harus dimulai dengan diri sendiri.

Sama ketika ia pertama kali mendirikan kelompok Indonesian Atheists tersebut. Pada mulanya ia tidak melihat ada kemungkinan bahwa kelompoknya akan diterima. Namun pada saat semua orang bosan dengan segala kekerasan radikal maka lambat laun kelompoknya mendapat dukungan. “Banyak orang support terhadap grup kami dan banyak yang mendukung pula agar Indonesia lebih ke arah sekuler.”

Kendati demikian Karl Karmadi beruntung karena di antara anggotanya belum pernah menerima kekerasan dalam bentuk apapun. Itu karena mereka kebanyakan belum bersedia membuka dirinya sendiri.

Buka Topeng
“Banyak orang selama 24 jam masih memajang topeng mereka sebagai orang yang beragama, karena mereka tidak mau dikucilkan dalam masyarakat. Bahkan mereka juga menyembunyikan status mereka dari istri dan anaknya sendiri.”

Sangat penting untuk membuka “‘topeng” yang mereka kenakan selama ini. Untuk itulah ia memproklamirkan klubnya tersebut. Seperti ada kata pepatah tak kenal maka tak sayang.

Di Amerika contohnya, keberadaan ateis lebih diterima, padahal kaum beragama di sana juga cukup kuat dan banyak. Sementara di Indonesia masih ada stereotipe jelek terhadap ateis. Kaum itu masih dianggap tak bermoral, kriminal.

“Posisi saya di Jerman cukup ideal untuk terbuka, untuk muncul di publik dan tidak kuatir dengan lingkungan dan keamanan.” demikian Karl Karmadi yang dibesarkan dalam keluarga kristen yang cukup taat.

Ia pun berharap, keterbukaan di komunitasnya akan mengarah kepada penerimaan ateis di Indonesia.

About these ads

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 49 other followers

%d bloggers like this: