Privatisasi Krakatau Steel dan Siasat Imperialisme

 

Senin, 15 November 2010 | Editorial

Dengan segala retorika yang dibuat-buat, para ekonom dan juru bicara terbaik kaum liberal berupaya mencari alibi terkait penjualan PT. Krakatau Steel. Tidak sedikit diantara mereka yang mengatakan, bahwa penjualan saham (dikenal dengan mekanisme initial public offering/IPO) dimaksudkan untuk mencari sumber dana guna revitalisasi dan memperkuat produksi.

Akan tetapi, fakta-fakta terus menggugurkan alibi para penganut liberalisme ekonomi tersebut. Di hadapan kita, semakin terang benderanglah bahwa privatisasi PT. Krakatau Steel adalah strategi imperialisme untuk menghancur-leburkan ekonomi nasional kita.

Soekarno pernah berkata: “Ingat, produksi, ekonomi adalah perutnya negara. Maka itu jamak lumrahlah kalau kaum reaksioner mengkonsentrasikan sabotasenya kepada perut negara ini.” Dengan mempertinggi produksi (pertanian, perkebunan, dan industri), maka kita akan memerdekakan ekonomi nasional dan memberi makan kepada seluruh rakyat.

Perkataan Bung Karno itu sangat benar adanya. PT. Krakatau Steel, yang dulunya bernama pabrik baja Trikora, adalah induknya industri (mother of industry). Sebagai induknya industri, maka peranan industri baja adalah memberi dasar bagi perkembangan dan pembangunan jenis-jenis industri yang lain, seperti transporasi, elektronik, telekomunikasi, dan sebagainya.

Sejarah industrialisasi di berbagai negeri-negeri maju selalu dimulai dari reformasi agraria dan pembangunan pertanian, dan setelah itu, adalah pembangunan industri baja. Dengan begitu, jika industri baja nasional dihancurkan atau bila kita tidak punya industri baja sendiri, maka industrialisasi nasional akan tersendat atau malah mengalami kehancuran.

Jadi, apabila anda melihat kasus privatisasi Krakatau Steel, maka jangan lihat hanya satu kasus saja, yaitu penjualan pabrik baja nasional, tetapi lihatlah sebagai usaha untuk melikuidasi proyek industri nasional secara keseluruhan. Bukankan ada pepatah yang mengatakan, “jika hendak menaklukkan musuh, maka mulailah dengan memukul tulang punggungnya.” Pabrik baja, seperti sudah diterangkan dimuka, sangat berkaitan dengan pabrik lainnya. Sehingga menghilangkan industri baja ini, maka rembetannya akan menghancurkan pula industri-industri lain.

Itulah tujuan kaum imperialis saat ini; tidak sekedar melancarkan sabotase terhadap produksi, sebagaimana dirasakan oleh pemerintahan Soekarno, tetapi melancarkan upaya untuk membunuh industri nasional kita.

Apa keuntungannya bagi pihak asing? Pertama, jika Krakatau Steel dilikuidasi atau dibangkrutkan, maka ini akan menjadi solusi sementara bagi negeri-negeri imperialis untuk mengatasi over-produksi baja dunia. Negara-negara produsen baja dunia, khususnya AS, Jerman dan Tiongkok, akan menjadikan Indonesia sebagai tempat pembuangan kelebihan produksi bajanya.

Jadi, alih-alih modal asing akan merevitalisasi dan meningkatkan produktifitas Krakatau Steel, malahan kami mengira bahwa pabrik baja nasional ini hanya akan dijadikan gudang untuk menampung produk baja dari negeri-negeri imperialis.

Kedua, Dengan membangkrutkan (privatisasi) PT. Krakatau Steel dan puluhan industri strategis yang akan menyusul, maka Indonesia akan semakin bergantung pada impor dari negeri-negeri maju, baik impor barang kebutuhan hidup maupun impor untuk bahan baku industri.

Ini sangat sejalan dengan misi para imperialis yang baru saja didengungkan dalam pertemuan G-20 di Seoul, Korea Selatan. Dengan kesepakatan bersama melawan proteksionisme dan nasionalisme ekonomi, maka negara-negara imperialis akan semakin leluasa menyerbu pasar-pasar dunia ketiga, termasuk Indonesia yang akan menjadi sasaran paling empuk-nya.

Sementara, bagi penguasa-penguasa politik dan pejabat di dalam negeri, penjualan PT. Krakatau Steel melalui mekanisme IPO akan menjadi “mesin pengunduh” uang atau modal yang baru. Bukankah politik Indonesia yang serba transaksional memerlukan pundi-pundi yang besar pula. Tidaklah mengherankan kiranya apabila partai politik akan memilih “diam” dalam situasi ini, ketimbang berteriak lantang.

Maka, sangat pantas pula kiranya jikalau yang paling marah terhadap penjualan PT. Krakatau Steel ini adalah rakyat Indonesia, yaitu kaum buruh, kaum tani, dan seluruh lapisan melarat lainnya. Sebab, jika industri nasional tidak lagi berjalan, sebagaimana diterangkan Bung Karno, maka rakyat Indonesia akan kehilangan perutnya.

Maka, jika para politisi dan kaum intelektual berdiam saja, maka rakyat Indonesia justru harus mengorganisir diri untuk melakukan perlawanan. Gerakan buruh harus berdiri di barisan terdepan, bersama dengan sektor-sektor rakyat yang lainnya seperti petani, mahasiswa, dan kaum miskin perkotaan.

Bukankah sejarah telah menitahkan, bahwa “perlawanan yang paling hebat selalu dimulai dari persoalan perut—gerakan menuntut roti”.

Anda dapat menanggapi Editorial kami di : redaksiberdikari@yahoo.com

http://berdikarionline.com/editorial/20101115/privatisasi-krakatau-steel-dan-siasat-imperialisme.html

About these ads

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 49 other followers

%d bloggers like this: