Makalah-Makalah Dalam Temu Sastra Indonesia Di Paris

Makalah-makalah yang disampaikan dalam Seminar Sastra Indonesia di Paris bebeapa bulan silam. Diselenggarakan oleh sastrawan Indonesia dai Indonesia, Paris, Belanda dan Singapura.

BERPACU DENGAN WAKTU UNTUK MENINGGALKAN

WARISAN LEKRA PADA GENERASI MUDA

Ada dua pengalaman hidup saya yang membikin saya banyak belajar sehingga saya merasa harus “berpacu dengan waktu”.

Pengalaman pertama, yalah pengalaman dengan salahseorang pimpinan Lekra di masa lalu, Oey Hay Djoen. Saya baru mulai bisa berinternet dan sering berkomunikasi dengan beliau. Dalam sebuah surat elektroniknya al beliau berkata, bahwa sudah menerjemahkan banyak buku, saya segera minta dikirimkan daftar buku-buku apa saja yang sudah diterjemahkan tapi belum bisa dicetak.  Saya memang sebelumnya sudah tahu, bahwa setelah bebas dari penjara dan pembuangan sekitar tahun 78, kebanyakan es Tapol sangat sulit mendapat pekerjaan, dan salahsatu kesempatan untuk bisa bekerja bagi mereka yang bisa berbahasa asing adalah menerjemahkan.  Ternyata daftar yang diberikan pada saya cukup panjang, ada belasan buku, yang kebanyakan adalah buku-buku teori kiri atau marxis buku-buku ilmiah ilmu sosial – saya menjadi terkesima. Setelah saya teliti ada yang tipis, hanya seratusan halaman, ada yang tebal 300 – 500 halaman. Saya minta dibuatkan perhitungan berapa kiranya dana yang dibutuhkan untuk melakukan penerbitan. Kami mulai dengan buku yang paling tipis, ketika itu dana yang dibutuhkan ternyata  700 franc. … Kerjasama ini berlaku sampai terbitnya belasan buku, dan yang terakhir yalah buku “Kapital” Marx jilid I-II-III. Terbit dalam kumpulan “seri ilmiah” Hasta Mitra.

Pengalaman kedua, pengalaman dengan seorang mahasiswa Indonesia di Paris. Beberapa tahun sebelum Reformasi,  dia meminjam dari saya fotokopi buku Pledoi Latief, tokoh G 30 S yang selama belasan tahun  dipenjara Suharto. Ketika mengembalikan buku tsb, mengatakan betapa dia terperangah, karena baru sadar bahwa selama 30 tahun hidupnya dia “ditipu”, bahwa selama ini dia hanya “memakai otak kanan” dan “otak kirinya” licin, tak berlekuk-lekuk karena tidak pernah dipakai. Saya tidak pernah menyuruhnya membaca buku itu mau pun buku-buku lain yang kemudian seperti orang lapar dilahapnya. Saya juga tidak pernah mengatakan bahwa versi sejarah yang diketahui/ diyakini saya adalah versi yang benar.  Saya hanya mencatat bahwa generasi muda, kecuali segelintir anak muda yang kritis, mayoritas termasuk lapisan intelektualnya dan mereka yang datang ke Paris untuk belajar S I , atau S II, S III, selama ini hanya dicekoki satu versi. Pemuda itu juga suatu waktu menghubungi saya lagi, mengeluh, bahwa dalam kuliah kalau orang mulai ramai berdiskusi tentang berbagai pandangan dan buku-buku kiri, “yang masuk ke telinga dan aku mengerti … Marx, Marx lagi, lalu sekali-sekali Engels, Lenin, jarang-jarang Stalin. Tapi apa yang mereka bicarakan tentang Marx dan kawan-kawannya itu – aku sama sekali tidak mengerti….  . Tolong bantu aku, ini buku-buku, tolong terangkan padaku isinya”

Sungguh luarbiasa pembodohan yang dilakukan regime terhadap generasi mudanya.

Sistem pendidikan Orde Baru tidak menanamkan sikap kritis di dalam ilmu-ilmu sosial. Generasi muda harus diberi kesempatan untuk mempelajari versi lain daripada versi resmi. Saya mempunyai keyakinan bahwa pada akhirnya tentulah mereka juga akan mencari dan belajar. Dan ternyata betul, generasi muda terus mencari. Suatu ketika saya merasa “dilampaui” olehnya, yaitu ketika menemukan ada dua orang wakilnya, yaitu Rhoma dan Muhidin Dahlan; yang menulis 3 buku mengenai Lekra:

1)      Lekra Tidak Membakar Buku

2)      Gugur Merah

3)      Laporan dari Bawah

Bung Oey Hay Djoen kemudian meninggal, akan tetapi saya merasa beliau sudah bahagia bisa meninggalkan warisan sedemikian banyak terjemahan buku-buku kiri yang selama ini dilarang beredar dan dibaca, bahkan menjualkan saja buku Pramoedya dulu orang bisa dipenjara 8 tahun. Banyak teman yang tentunya tidak bisa menikmati hal ini, padahal ingin juga mewariskan sesuatu pada generasi muda, dan sudah tentu ada yang mereka bisa wariskan.

“Ini ada naskah bung Sabar, sajak-sajaknya bagus, tapi aku tak ada dana untuk menerbitkannya”, demikian Bung Putu Oka mengatakan pada saya. Segera saya tanggapi, tolong ketikkan dan kirimkan pada saya per email. Hal mana dilakukannya. Bung Sabar sudah lebih dari 80 tahun, dia adalah salahsatu penyair senior Lekra pada jaman Sukarno, hidup dalam keadaan susah sekali, bersandar pada keluar, tak ada pemasukan. Tentulah akan saya usahakan penerbitan naskahnya. Ketika bukunya terbit, dia berkata “Saya sedang mempersiapkan buku kedua, baru 40 sajak, mau saya kalau bisa 100 sajak”. “Silahkan jawab saya.

Bung Putu cerita lagi suatu waktu: “Sebetulnya ada lagi satu naskah, sajak-sajak juga, oleh Bung Tikno”. “Lempar ke aku”, kataku bergurau. Terbit kumpulan sajak Bung Sutikno W.S. “Nyanyian dalam Kelam”. Akhirnya aku bilang, bung Putu, coba carikan semua naskah yang selama ini tergeletak di laci teman-teman kita … . Sekarang di daftar kami ada 25 naskah, sekitar 15 menanti terkumpulnya dana.

Bahwa generasi muda kemudian ternyata suka, atau tidak suka, kagum, atau berpendapat “ah, cuma segini saja” – itu bukan urusan saya lagi. Tetapi mereka punya hak penuh mewarisi segala yang oleh generasi sebelumnya dianggap yang terbaik. Silahkan kemudian olahlah sendiri, ambil sarinya dan buang ampasnya. Haridepan milikmu.

IS

LEKRA: PENCARIAN IDENTITAS KEBUDAYAAN NASIONAL INDONESIA

Rhoma Dwi Aria Yuliantri

 

 

Sejarah seharusnya tidak tunggal, terhadap alternative tafsir kebenaran yang berbeda kita mesti toleran. Pembahasan mengenai sejarah Indonesia masa Orde Lama (1950-1965), pada tema-tema tertentu masih menjadi samacam tabu di Indonesia. Misalnya saja, mengenai tema peristiwa 30 September-1 Oktober 1965, atau tema-tema mengenai organisasi-organisasi yang ’diangap’ pemerintah Orde Baru ‘terlibat’ dengan Partai Komunis Indonesia. Setelah Orde Baru berakhir (1997), bahasan tema-tema tersebut pun masih dianggap ‘tabu’. Inggatan kolektif yang ditanamkan Orde Baru tentang ‘pemberontakan’, ‘anti agama’ serta ‘kekenjamnya’ Partai Komunis Indonesia (PKI) berserta organiasi-organiasi yang seideologinya tidak bisa dihapuskan begitu saja. Bahasan mengenai Lembaga Kebudajaan Rakjat (LEKRA) yang dianggap seideologi dengan PKI, masih ditabukan. Hingga beberapa waktu lalu tanggal 22 Desember 2009 Jaksa Agung mengeluarkan keputusan pelarangan beredarnya buku-buku yang dianggap menganggu ketertiban umum, salah satunya buku “LEKRA Tak Membakar Buku: Suara Senyap Lembar Harian Rakjat (1950-1965)”, karya Rhoma Dwi Aria Yuliantri dan Muhidin M Dahlan.[1]

 

Artikel ini hanya akan membahas perjalanan LEKRA, memfokuskan pada kegiatan seni pertunjukkan yang menjadi bagian kecil dari buku yang dilarang tersebut dengan penambahan sumber wawancara. Surat kabar Harian Rakjat[2] menjadi sandaran utama dalam artikel ini, karena minimnya data yang bisa diperoleh tentang tema ini. Tentu saja dengan menyadarkan data pada Harian Rakjat, peran LEKRA dalam bidang kebudayaan akan tampak besar. Untuk itu perlu kajian dengan menggunakan data yang lebih komprehensif dan menyeluruh guna mendapatkan gambaran yang lebih seimbang.

 

Jalan Pencarian Kebudayaan Indonesia

 

Paska revolusi Agustus 1945 saat Indonesia mencari indentitas kebudayaan nasional,[3] munculah sebuah organisasi kebudayaan bernama LEKRA. LEKRA (Lembaga Kebudayaan Rakyat) yang dideklarasikan D.N. Aidit, M.S. Ashar, A.S. Dharta, dan Njoto pada 17 Agustus 1950[4] dimaksudkan untuk menghimpun dan memperkuat buhul kebudayaan nasional dan teguh mendukung Revolusi. Seperti yang termaktub dalam mukadimah LEKRA, ‘Gagalnya Revolusi Agustus 1945 berarti djuga gagalnja perdjuangan pekerdja kebudajaan untuk menghantjurkan kebudajaan kolonial dan menggantikannja dengan kebudjaan jang demokratis, dengan kebudajaan Rakjat’.[5] Sikap ini semakin jelas tatkala Sekretaris Umum LEKRA Joebaar Ajoeb menyampaikan laporan umum Pengurus Pusat LEKRA kepada Kongres Nasional I LEKRA di Solo 1959, ‘LEKRA didirikan ditahun 1950 dari kesadaran tentang hakekat Revolusi Agustus 1945 dan tentang hubungannja antara Revolusi itu dengan kebudajaan. Bahwa Revolusi itu besar sekali artinja bagi kebudajaan, dan bahwa sekaligus, sebaliknja, kebudajaan besar sekali artinja bagi Revolusi Agustus’.[6]

 

Mengenai sifat organisasinya dari awal berdirinya LEKRA mempertegas pandangan organnya sebagai organisasi yang terbuka.[7] Terbuka terhadap setiap aliran kesenian, dan terbuka untuk bekerja sama dengan organisasi kebudayaan lainnya yang sealiran, hal ini diperjelas dalam mukadimah LEKRA:

 

…mendorong keberanian kreatif, dan LEKRA menjetudjui setiap aliran bentuk dan gaja, selama ia setia pada kebenaran, keadilan, dan kemadjuan jang salama ia mengusahakan keindahan artistik jang setinggi2nja…. mengulurkan tangan kepada organisasi kebudajaan jang lain dari aliran atau kejakinan apa pun untuk bekerdja sama dalam pengabdian ini.[8]

 

LEKRA menempatkan rakyat sebagai akar penciptaan. Pada mukadimah yang direvisi pada 1959, tugas dan kedudukan Rakyat di lapangan kebudayaan dipertegas:

‘Usaha LEKRA pertama2 dan sedjak semula ditudjukan untuk memadukan kebudajaan dengan gerakan Rakjat, gerakan Rakjat dengan kebudajaan. Dengan menghimpun seniman2 dan pekerdja2 kebudajaan lain jang revolusioner, dan dengan mendirikan organisasi di mana2, LEKRA menjebarkan dan membela azas Seni untuk Rakjat dan Ilmu untuk Rakjat’.[9]

 

 

Secara struktur organisasi, dikenal beberapa struktur kepenggurusan dalam LEKRA. Sekretariat Pusat, dikoordinasi oleh sekretaris umum bermakas di Jakarta. Pengurus Daerah, berkedudukan dimasing-masing wilayah setingkat propinsi. Kepengurusan Cabang, berkedudukan di tingkat Kabupaten yang mengkoordinasi penggurus Ranting. Pengurus Ranting, berkedudukan di tingkat kecamatan. Lembaga-lembaga kreatif, bersifat otonom.

 

Secara organisasi, ada tujuh lembaga kreatif[10] dalam LEKRA, yaitu Lembaga Sastera Indonesia, Lembaga Senirupa Indonesia, Lembaga Film Indonesia, dan Lembaga  Senidrama Indonesia, dibentuk pada bulan-bulan setelah Kongres LEKRA di Solo  yaitu pada 1959. Untuk lembaga kreatif lainnya, yaitu Lembaga Musik Indonesia, Lembaga Senitari Indonesia, dan Lembaga Ilmu Indonesia, dibentuk setelah sidang pleno LEKRA  Agustus  1960.[11]

 

Untuk melihat kegiatan LEKRA, di tingkat paling bawah yaitu tingkat Ranting, penulis cukup beruntung bisa menemui Salim, koordinator LEKRA sekaligus pedalang dan Siswoyo sekretaris LEKRA di Kecamatan Ponjong, Kabupaten Gunung Kidul. Menurut keterangan Salim, LEKRA di kecamatan Ponjong terbentuk pada tahun 1963-an, pada saat PKI tengah berkembang di daerah ini, setelah diadakan riset -turun ke bawah- mengenai kesenian di masyarakat. Kegiatan yang ada dibawah koordinasinya adalah kegiatan kesenian yang sudah ada dalam masyarakat, seperti reog, ketoprak, reog, pedalangan dan seni karawitan yang kemudian diorganisir.[12]

 

 

‘Gerakan 1-5-1’ adalah simbol dari sikap berkesenian yang dikembangkan oleh LEKRA, yang menempatkan rakyat sebagai satu-satunya pencipta kebudayaan. Gerakan 1-5-1 menjadi jangkar tengah dan sekaligus rujukan visi bagi seluruh pekerjaan kreatif yang ditempuh. Di sana ada politik, ideologi, filsafat seni, arah kepemimpinan, serta metode kerja dalam mencipta karya-karya kreatif di bidang kebudayaan. Gerakan 1-5-1 adalah menempatkan politik sebagai penglima sebagai asas dan basis dari lima kombinasi kerja, yaitu ‘(1) meluas dan meninggi, (2) tinggi mutu ideologi dan tinggi mutu artistik, (3) tradisi baik dan kekinian revolusioner, (4) kreativited [sic] individuil dan kearifan massa, (5) realisme sosialis dan romatik revolusioner. Asas kerjanya adalah turun ke bawah’.[13] Karya-karya yang dianggap sesuai dengan azas ‘Politik adalah Panglima’ dicontohkan oleh Joebar Ajoeb, Sekretaris Umum LEKRA seperti, ‘Tak Seorang Berniat Pulang’ HR Bandaharo, atau ‘Demokrasi’ Agam Wispi, maupun ‘Elegi’ Rivai Apin, dan ‘Djamila’ Anantaguna serta dalam bidang seni pertunjukkan ‘Batu Merah Lembah Merapi’ Bactiar Siagian,  ‘Resopim’ Subronto K. Atmodjo, ‘Asia-Afrika’ Sudharnoto, ‘Lumumba’ Amir Pasaribu-Njoto, dalam bidang tari ‘Tari Tenun’ Wajan Likes dan lainnya.[14]

 

Bagi LEKRA  kesenian tidak sekadar sebagai seni keindahan atau hiburan tetapi seni yang sadar pada politik, negara, partai, rakyat, perjuangan revolusi dan bahasa diplomasi-komunikasi-antar negara. Program-program LEKRA memperlihatkan perhatian yang cukup besar pada seni daerah. Hal ini bisa dilihat dari laporan kongres, konfrensi nasional, maupun pleno LEKRA. Misalnya pada Konfrensi Nasional I di Bali (1962), LEKRA dari Sumatera Selatan diwakili oleh Z. Trisno melaporkan selama satu tahun telah mengadakan investarisasi dongeng-dongeng, tari-tari, lagu-lagu daerah dan mengumpulkan bahan-bahan untuk penyelidikan akasara-akasara dan bahasa daerah. LEKRA Sulawesi Tenggara, yang diwakili oleh Mahmud Jusmanor, juga melaporkan pengembangan tari-tari daerah dan pengembangan tari-tari suku daerah lainnya.[15] Namun, sejauh mana revitalisasi yang dilakukan LEKRA terhadap kesenian daerah ini berhasil dilakukan, belum dapat dijelaskan sejauh riset ini. Akan tetapi kesadaran kegiatan LEKRA  dalam membangkitkan seni-seni daerah agar tetap bertahan patut mendapat apresiasi dan penghormatan.

 

Pada tahun 1960-1965 kegiatan LEKRA semakin jelas diarahkan pada pencarian kebudayaan nasional yang progresif. Hal ini didukung situasi kebudayaan Indonesia yang berada di titik pergeseran yang panas, atau yang oleh Presiden Soekarno disebut ‘tahun vivere pericoloso’ (Tavip), yakni tahun-tahun yang menyerempet-nyerempet bahaya. Retorikanya semakin militan, kegiatannya digambarkan sebagai gerakan anti budaya imperialis (maksudnya Amerika Serikat), dan pendiriannya semakin tegas melawan budaya populer yang komersiil dan dianggap imperialis.

Jelas kiranya yang berbau imperialis dan lagu-lagu pop seperti Elvys Presley  diletakkan dalam garis lawan kebudayaan yang membahayakan bagi kebudayaan nasional. Begitu pula dalam bidang film, ada aksi pemboikotan dalam bidang film-film yang dianggap imperialis Amerika.[16]

 

Sikap progresif LEKRA, dalam identitas kebudayaan nasional memberi penggaruh tidak langsung terhadap lembaga lain, seperti NU (Nahdhatul Ulama) dengan mendirikan LESBUMI pada tahun 1962.[17]

 

Selanjutnya akan dibahas tentang kegiatan LEKRA dengan ideologi yang dianutnya, mengkhususkan pada kegiatan seni pertunjukan.

Hilangnya Seni Pertujukan Revolusioner

Seni pertunjukkan akan menjadi bahasan khusus dalam artikel ini karena penulis melihat pasca pergantian rezim, yaitu dari Orde Baru ke masa Reformasi (1997-sampai sekarang), jejak-jejak seni pertunjukan, seperti Drama dan Film di Indonesia ‘hilang’ dan tidak menyisakan banyak dokumen. Selain itu pertujukkan boleh dibilang menjadi salah satu terminal yang padat macam-macam kesenian berjumpa, ada musik, sastra, tari, dan rupa. Sedikit bahasan ini ingin menunjukkan aplikasi konsep-konsep LEKRA yang telah dibahas diatas khususnya dalam seni pertunjukkan.

 

Salah satu lembaga kreatif LEKRA yang memiliki konsen terhadap seni pertunjukkan adalah LSDI (Lembaga Senidrama Indonesia). Lembaga ini diketuai Rivai Apin dan Dhalia sebagai wakil ketua. Lembaga ini mengurusi beberapa seni pertujukkan kerayatan, antara lain ketoprak ludruk, sandiwara, dan wayang orang.[18]

 

Ketoprak merupakan salah satu seni pertujukkan yang memiliki hubungan unik dengan LEKRA. BAKOKSI (Badan Kontak Organisasi Ketoprak Seluruh Indonesia) didirikan pada tahun 1937, berhasil meletakkan landasan semangat kolektivitas dan teroganisir. BAKOKSI, sebagai organisasi idependen bertanggungjawab atas kelompok-kelompok ketoprak yang bernaung di bawahnya, berupaya memperluas jaringan kepada yang bersimpati. Di sinilah BAKOKSI bertemu LEKRA, dengan kesamaan kepentingan dah ideologi yaitu memberi tempat istimewa bagi tumbuh-kembangnya kesenian rakyat. Kerjasama ini semakin menguat dan erat ketika Festival Kongres Ketoprak II dilangsungkan di Gedung Kesenian Sriwedari, Solo pada tahun 1964. Di Kongres II ini, sikap politik kebudayaan BAKOKSI tak bisa dibedakan lagi dengan konsep kebudayaan yang diusung oleh LEKRA. BAKOKSI mendukung dan menerima sepenuhnya Manipol (Manifesto Politik) yang dimami oleh Presiden Sukarno, begitu pula dengan LEKRA.[19] Hubungan LEKRA dan BAKOKSI memperlihatkan bahwa organisasi LEKRA terbuka terhadap aliran-aliran seni, tentu saja yang sealiran sesuai dengan mukadimah yang telah dibahas di atas.

 

Bagaimana pembentukan ideologi ketoprak yang diimani oleh LEKRA maupun BAKOKSI? Salah satunya adalah dengan diperbaharui cerita-cerita yang biasa dimainkan dalam ketoprak. Misalnya, mengiilmiahkan cerita-cerita yang diangap takhayul. Seperti cerita pembuatan Candi Prambanan, yang menurut lakon Bandung Bandawasa dibuat oleh mahluk halus harus diilmiahkan, bahwa pembuat candi tidak mungkin mahluk halus, tapi rakyat.[20] Menurut keterangan Bondan Nusantara[21], dalam pertunjukan ketoprak yang selalu menjadi tokoh utama dan dimenangkan dalam cerita adalah Rakyat. Politik Rakyat dinyatakan sebagai sokoguru bagi revolusi nasional, komitmen inilah yang memberi justifikasi bahwa lakon-lakon dari ketoprak daiambil dari kehidupan Rakyat, sepeti tani. Hal ini tentu tidak lepas dari Mukadimah LEKRA yang menempatkan Rakyat sebagai basis penciptaan, seperti yang sudah daibahas diawal artikel ini.

 

Pembaharuan juga terjadi dalam seni peryunjukkan yang lain, seperti wayang. Menurut keterangan Salim yang ditekankan oleh LEKRA adalah ‘pembaharuan ke arah kemajuan tanpa mengubah pakemnya’.[22] Ia mencotohkan seperti ini, dalam lakon Gatot Koco saat akan menerima senjata Kuntowijoyo ia menangis, karena tahu akan kematiannya. Maka, digubah tidak boleh dengan adegan menangis, karena seorang pahalawan tidak boleh menangis ketika maju di medan perang , selain itu kalaupun harus meninggal harus direlakan. Selain itu tembang (lagu) yang mengiringi dalang juga harus mengalami gubahan yang kekinian dan disesuaikan dengan keadaan, misalnya didipin kata seperti ini: tani miskin umume ra duwe sabin/petani miskin umumnya tidak punya sawah/ Pamong desa bayar lemah oro-oro/pamong desa cuman dikasih tanah luas /tambah yatra ora cukup sebrak olo/tambah uang ngak cukup dengan berhutang/do nompo ning nagih bar lungo teko/ pada menerima, dan nagih, habis datang langsung pergi/. Atau kalimat seperti salawatan (lagu puji-pujian dalam agama Islam dengan bahasa Arab) disisipi kalimat, “Yen PKI oleh kemenangon, agoma dijunjung dhuwur, luwih-luwih agama kita iki, Lailahaillah (kalau PKI mendapat kemenangan, agama mendapat tempat yang tinggi, apalagi agama kita ini, Tiada Tuhan Selain Allah).[23] Hal ini memperlihatkan bagaimana seni bagi LEKRA harus berpihak. Ia tak semata hiburan, melainkan harus mendorong keterlibatan kondisi masyarakat. Lirik-lirik yang ditulis jelas memperlihatkan hal itu.

 

Untuk pementasan seni drama, kita bisa melihat kerjasama antar lembaga kreatif LEKRA. Seperti, LSDI bekerjasama dengan para sastrawan yang bergabung dengan lembaga Sastera Indonesia (Lestra). Kerjasama dilakukan untuk memproduksi naskah Drama, yaitu dengan melakukan adaptasi dari prosa yang sudah jadi. Contoh kasus ini adalah novel Sekali Peritiwa di Banten Selatan karya Pramodya Ananta Toer diadopsi ke dalam naskah drama menjadi Orang-orang Baru dari Banten. Putu Oka juga mengadaptasi ke dalam naskah drama novel Pramodya Ananta Toer Keluarga Gerilja dengan judul Borgol.  F. L. Risakotta, menyadur cerita Rakyat Koera menjadi drama satu babak berjudul Arirang. Cuplikan buku karya Gorki berjudul Ibunda juga disadur Bactiar Siagian menjadi drama satu babak.

 

Pertujukan wayang orang, ludruk, ketoprak, wayang dipentaskan secara terbuka untuk kebutuhan pertemuan-pertemuan, diskusi, resepsi, konferensi, rapat umum, karnaval yang diadakan oleh pelbagai organisasi masyarakat ataupun partai politik dan lembaga pemerintahan. Misalnya saja pada, pada saat memperingati ulang tahun PKI, di alun-alun Utara Surakarta, 27 Februari 1955 diadakan pertunjukkan tari dan nyanyi, atau saat Pekan Raya & Pembangunan ke II di Palembang sekaligus memperingati Kemerdekaan Indonesia ke XIX, daidakan pertujukkan ketoprak bahasa Indonesia.[24] Menurut Salim, pertujukan juga sering diadakan oleh masyarakat secara swadaya dengan iuran pribadi.[25] Hal inilah, yang menjadikan kesenian Rakyat meluas, hidup dan bergairah. Perlu digarisbawahi bahwa pemerintah Soekarno cukup mendukung pelbagai jenis kesenian Rakyat kala itu.

 

Selama kurun itu (1950-1965) kita juga bisa melihat bagaimana corak seni pertunjukkan’ dicari, dibentuk dan dimunculkan sesuai identitas LEKRA untuk membentuk kebudayaan yang dianggap nasional Indonesia. Seiring dengan berubahnya situasi politik Indonesia secara drastis pasca-30 September-1 Oktober 1965, seniman-seniman pertunjukan yang dicap sinonim dengan politik kiri, harus turun panggung, dan hampir tak berbekas. Sejak itu seni pertujukkan seperti yang diperjuangkan LEKRA ‘hilang’, berganti dengan seni pertujukan dengan wajah lain yang mencerminkan wajah rezim berikutnya.

 

 

Daftar Pustaka

Foulcher, Keith

1986Social commitment in literature and the arts; The Indonesian institute of people’s culture 1950-1965. Australia: Southeast Asian Studies, Monash University.

 

Laporan Kebudajaan Rakjat II

1960   Laporan Kebudajaan Rakjat II.  Penerbitan Lembaga Kebudajaan Rakjat.

 

Toer, Tatyana

1980          Mukadimah Lekra dalam “Realisme-Sosialis: Sebuah Tindjauan Sosial”, Prasaran di hadapan Seminar Fakultas Sastra. Universitas Indonesia, pada tanggal 26 Djanuari 1963. [unpub. Manuscript]

 

Yuliantri, Rhoma Dwi Aria & Muhidin M Dahlan

1998    Lekra tak membakar buku; Suara senyap lembar kebudayaan Harian Rakjat 1950- 1965 . Yogyakarta: Merakesumba

 

 


[1] Buku lain yang dilarang karya John Roosa, yang berjudul Dalih Pembunuhan Massal: Gerakan 30 September dan Kudeta Suharto, karya Socratez Dumma Sofyan Yoman Suara Gereja bagi Umat Penderitaan Tetesan Darah dan Cucuran Air Mata Umat Tuhan di Papua Barat Harus Diakhiri , karya Darmawan Enam Jalan Menuju Tuhan dan karya Syahruddin Ahmad Mengungkap Misteri Keragaman Agama.

[2] Harian Rakjat (HR), surat kabar milik Partai Komunis Indonesia, memberi ruang bagi seniman-seniman LEKRA untuk berdiskusi dalam bidang kebudayaan. HR pertama kali terbit pada 31 Januari 1951 bernama Suara Rakjat. Salah satu anggota dewan redaksi HR adalah Njoto, yang sekaligus salah satu pendiri LEKRA.

[3] Pencarian identitas kebudayaan yang dianggap nasional, juga dilakukan oleh lembaga-lembaga lain dengan aliran dan ideologi masing-masing, seperti LKN (Lembaga Kebudayaan Nasional), Lesbumi (Lembaga Seniman Budayawan Muslim Indonesia), HSBI (Himunan Seni Budaya Islam) dan lainnya.

[4] ‘Laporan Umum Pengurus Pusat LEKRA Kepada Konggres Nasional ke I LEKRA’, Harian Rakjat 31 -1-1959 .

[5] Lihat ‘Realisme-Sosialis: Sebuah Tindjauan Sosial: Prasaran di hadapan Seminar Fakultas Sastra. Universitas Indonesia 26-1- 1963’  [Tatyana Toer 1980: t.t Juni]  lihat pula (Foulcher 1986:209).

[6] ‘Laporan Umum Pengurus Pusat LEKRA Kepada Konggres Nasional ke I LEKRA, Harian Rakjat 31 -1-1959.

[7] Sabar Ananta Guna, salah satu anggota sekretariat LEKRA pusat menjelaskan sifat terbuka organisasi LEKRA (wawancara 4-9-2009).

[8] Mukadimah LEKRA dalam ‘Realisme-Sosialis: Sebuah Tindjauan Sosial: Prasaran di hadapan Seminar Fakultas Sastra. Ibid. paragaraf ke-6 dan terakhir.

[9] Mukadimah LEKRA dalam ‘Realisme-Sosialis: Sebuah Tindjauan Sosial: Prasaran di hadapan Seminar Fakultas Sastra.

[10] Dalam buku [Rhoma Dwi Aria Yuliantri 2008:35-38]  hanya disebutkan bahwa LEKRA memiliki 6 lembaga kreatif tanpa menyebutkan Lembaga Ilmu Indonesia. Mengenai Lembaga Ilmu Indonesia penulis tidak ditemukan informasi lebih lanjut.

[11] Tidak diketahui pasti kapan LMI ini didirikan. Dalam Kongres I LEKRA di Solo tahun 1959, lembaga itu disebut bersamaan dengan Lembaga  Tari sebagai “Lembaga Musik Indonesia dan Lembaga Tari Indonesia” lihat ‘Laporan Kebudajaan Rakjat II, diterbitkan oleh bagian Penerbitan Lembaga Kebudajaan Rakjat’, h. 165. LMI Djogja baru didirikan kemudian pada 15 April 1963, lihat Harian Rakjat 2-1- 1964, h. III

[12] Salim adalah ketua LEKRA Kecamatan Ponjong. Ia adalah pedalang. (Wawancara 5-2-2010)

[13] Kesimpulan atas laporan umum Konfernas I LEKRA, “Tak seorang berniat pulang walau mati menanti”, 1962, dalam Laporan Kebudajaan Rakjat II, diterbitkan oleh bagian Penerbitan Lembaga Kebudajaan Rakjat, h. 165. Dalam laporan yang sama yaitu pada Pleno Juli 1961 h. 94, Pimpinan Pusat LEKRA menjelaskan garis kerja LEKRA sebagai berikut: “Azas politik adalah panglima”, “garis2 pentjiptaan seperti tinggi mutu ideologi dan tinggi mutu artistik”, “meluas dan meninggi”, “memadukan kreativitet individual dengan kearifan massa”, mamadukan realisme revolusioner dengan romantic revolusioner”…dengan garis2 itu, jaitu, berdasarkan aza “Politik adalah Panglima”,  kita laksanakan 5 kombinasi….melalui satu tjara, jaitu “turun kebawah”. Dari catatan ini istilah realisme sosialis mulai digunakan tahun 1962, ini berarti sebelum konggres KSSR yang dilaksanakan tanggal 27 Agustus hingga 2 September 1964.

[14] lihat Joebar Ajoeb Sekretaris Umum LEKRA , “Tak Seorang Berniat Pulang,  Walau Mati Menanti’ dalam ‘Laporan Kebudajaan Rakjat II’, Pidato Penutupan Konfernas I diterbitkan oleh bagian Penerbitan Lembaga Kebudajaan Rakjat’, tanpa tahun terbit , h. 178.

[15] Tak Seorang Berniat Pulang,  Walau Mati Menanti’ dalam ‘Laporan Kebudajaan Rakjat II’, Laporan daerah-daerahI diterbitkan oleh bagian Penerbitan Lembaga Kebudajaan Rakjat’, tanpa tahun terbit , h. 140-143..

 

[16] Pemboikotan ini merupakan rekomendasi praktis dari Festifal Film Asia Afrika. Aksi boikot tidak hanya dilakukan oleh LEKRA tetapi organ-oran yang lain seperti LKN, Wanita Marhenis, IPPI, Wanita Bapeki, Partindo dan lainnya lebih lanjut Lihat Yuliantri (1998: 240-274).

[17] Hasil riset yang dilakukan oleh Choirotun Chisaan, diungkapkan bahwa salah satu alasan kemunculan  LESBUMI (1962) adanya reaksi atas kedekatan hubungan LEKRA dengan PKI, meskipun sebab-sebab langsung tidak berhubungan dengan PKI-LEKRA, namun berubungan dengan pendefinisian ‘agama’ (Islam dalah hal ini) sebagai unsur mutlak nasional building dalam bidang kebudayaan. LESBUMI, juga mengamini seni ala LEKRA yaitu seni untuk Rakjat. Lihat Choirotun Chisaan (2008:  1,3,5,6,125,126).

[18] Kesimpulan atas laporan umum Konfernas I LEKRA, “Tak seorang berniat pulang walau mati menanti”, 1962, dalam Laporan Kebudajaan Rakjat II, diterbitkan oleh bagian Penerbitan Lembaga Kebudajaan Rakjat, h. 165

[19] Lihat Harian Rakjat, 4 November 1959.

[20] Harian Rakjat, 4 November 1959.

[21] Bondan adalah pemain Ketoprak anak-anak dari kampung Rotowijayan Yogyakarta.

[22] Salim (Wawancara 5-2-2010)

[23] Salim (Wawancara 5-2-2010)

[24] Harian Rakjat, 25 Oktober 1964.

[25] Salim(Wawancara 5-2-2010)

 

 

 

MENULIS UNTUK MELAWAN DEHUMANISASI

Proses dehumanisasi dimulai ketika pengejaran dan pembunuhan terhadap rakyat dilakukan oleh milisi dengan dukungan militer, bulan Oktober 1965. Seniman Lekra, kalau tidak dibunuh, ia ditahan di dalam penjara atau di pembuangan. Tetapi tidak ada protes dari Negara Barat maupun Negara non Blok  terhadap pembunuhan missal tersebut.

Saya 10 tahun dipenjara tanpa diadili (1966-1976), mengalami kelaparan, sakit, teror mental dan dilarang  menulis maupun membaca buku.

Sesudah dipindahkan dari sel penjara ke sel seluas tanah air, banyak peraturan  diskriminatif dikenakan kepada “bekas tahanan” dan keluarganya untuk membatasi hak-hak sipil mereka sebagai warganegara. (Instruksi Menteri Pendidikan Dasar dan Kebudayaan R.I. No.138/1965, Ketetapan MPRS No. 25/1966, Instruksi Menteri Dalam Negeri no. 30/1881). Proses dehumanisasi dilangsungkan secara sistimatis dan terstruktur.

Sebagai seorang pengarang, menulis telah saya jadikan sebagai alat untuk melawan proses dehumanisasi tersebut, agar bisa menjadi manusia kembali.

Masa lalu adalah tulang punggung saya.

Pada mulanya Koran-koran nasional menerima tulisan saya, tetapi belakangan tidak mau lagi. Untuk membangun eksistensi saya sebagai pengarang, saya menempuh berbagai macam cara damai sehingga mampu memperoleh beberapa prestasi:  memenangkan kompetisi baca cerita untuk Lingkungan Hidup yang diselenggarakan oleh Kementerian Lingkungan Hidup R.I., memenangkan kompetisi cerita pendek NEMIS dari Kedutaan Besar Chile, membuat acara membaca puisi dan cerita pendek di Goethe Institut Jakarta (satu-satunya peluang yang ada) kemudian diundang ke beberapa Negara untuk kegiatan sastra dan theater, serta menerbitkan kumpulan puisi dalam bahasa Indoensia dan Inggris, di Malaysia dan Indonesia, kumpulan cerita pendek dan artikel-artikel kesehatan. Tulisan sastra saya mulai dikutip untuk antologi puisi maupun cerita pendek International oleh beberapa penerbit dan lembaga asing.

Selain berjuang untuk menegakkan eksistensi sebagai pengarang, saya juga berhasil memperoleh legalisasi sebagai akupunkturis sehingga mendapat ijin praktik dari Departemen Kesehatan R.I. Dengan dua jenis legalitas itu, saya mulai melakukan kegiatan berbasis akar rumput, walaupun untuk itu sebagai risikonya, saya ditahan dan disiksa lagi pada tahun 1990 sepulang dari Eropa dan Yayasan Pengobatan yang saya dirikanpun  dibubarkan. Saya dituduh mendapat dukungan dari gerakan komunis di beberapa Negara, padahal yang mendukung saya semua berasal dari negara kapitalis: Australia , Jerman dan Belanda.

Sejak itu intel hampir setiap hari mengontrol kegiatan saya. Tantangan yang semakin berat, menyebabkan saya semakin kreatif, hidup semakin tegang, tetapi saya terus menulis dan beraktivitas sebagai motivator dan instruktur kesehatan tradisional, aktivis kemanusiaan, penulis, aktif dalam program penanggulangan HIV/AIDS, program melawan kekerasan terhadap perempuan dan melakukan pendampingan komunitas miskin. Dengan berkegiatan di berbagai bidang itu menyebabkan tulisan sastra ( puisi, cerpen, novel) saya semakin kaya dengan tema-tema kaum termajinalkan, kaum yang digilas oleh buldozer dehumanisasi. Sebagai hasilnya saya semakin banyak memperoleh sahabat yang seiring dan sejalan dalam memberikan makna kepada kehidupan.

Sesudah Soeharto jatuh, novel “Merajut Harkat” yang saya garap selama 20 tahun, dan kumpulan puisi “Perjalanan Penyair” berhasil terbit dan  mendapat perhatian hampir dari semua media cetak di Indonesia. Profil saya banyak ditulis wartawan. Tanpa lelah saya masih terus menulis  sastra, dan kesehatan. Sejak lima tahun yang lalu dengan sangat susah payah saya dan kawan-kawan memproduksi film-film dokumenter seputar Tragedi Kemanusiaan 1965/66. Saya bisa menarik nafas lega, eksistensi saya sebagai manusia tegak, walaupun peraturan-peraturan  yang diskriminatif sampai sekarangpun  belum dicabut. Oleh karena itu sebagai seniman saya masih tetap mengemban tugas melawan proses dehumanisasi yang terjadi dimana –mana terhadap siapapun, melalui karya sastra, kesehatan maupun film-film yang diproduksi dan kegiatan kemanusiaan lainnya.

 

Diberinya aku

diberinya aku segumpal keberanian

mencair di pembuluh darah

diberinya aku seberkas cahaya

memancar di dalam mata

diberinya aku segelas empedu

membalur kilah setiap langkah

diberinya aku sebungkah batu

kuremuk jadi dasar jalanan

diberinya aku cemeti

menguatkan otot pangkal lidah

apa lagi yang engkau akan berikan

buat menating harga diri?

 

(dikutip dari buku “Tembang Jalak Bali” 1986)

 

Terimakasih.

Putu Oka Sukanta.

e-mail: poskanta@indosat.net.id

=============================================

Perkembangan Drama LEKRA di Sumatera Utara

Periode 1950-1965.

 

 

Setelah Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra)  dibentuk di Jakarta pada tanggal 17 Agustus 1950, maka di kota Medan dibentuk Pengurus Lekra Sumatra Utara pada tahun 1953, terutama dipelopori oleh H.R. Bandaharo (Banda Harahap) dan Bakri Siregar. Di samping aktivitet di berbagai bidang seni seperti seni tari, lukis, film, sastra, dan lain-lain, aktivitet Lakra yang paling menonjol adalah teater pentas drama. Jika dibandingkan dengan provinsi-provinsi dan kota-kota lainnya di Indonesia, maka Lekra provinsi Sumatera Uatara adalah yang paling banyak mementaskas drama, terutama yang berpusat di kota Medan. Tak lama setelah berdirinya, Lekra kota Medan misalnya segera mementaskan drama “Lagu Subu’’ karya Zubir AA. Kemudian disusul dengan pementasan drama ‘’Gerbong’’ karya Agam Wispi, yang mendapat sambutan hangat dari publik kota Medan dan dua kota lainnya : Belawan dan Binjai. Kemudian disusul pula dengan dua drama lainnya ‘’Saijah dan Adinda’’ karya pengarang Multatuli  dan ‘’Wanita Berambut Putih’’ saduran Bakri Siregar  dari drama terkenal Tingkok.  Pada awal tahun 50-an itu Lekra meluas ke kota-kota lainnya seperti Pematang Siantar, Tebing Tinggi, Tanjung Balai, Rantau Perapat, Berastagi, Kabanjahe, Binjai, Belawan, dan lain-lain.

Drama-drama Lekra yang banyak dipentaskan dan sangat populer pada saat itu adalah “Orang-orang Baru dari Banten”  karya Pramoedya Ananta Toer, “Si Kabayan” karya Utuy Tatang Sontani, “Siti Jamilah” karya Joebaar Ayoeb, ‘’Awal dan Mira’’ Utuy Tatang Sontani, ‘’Buih dan Kasih’’  Bachtiar Siagian, ‘’Sinandang’’  karya Emha (Ibrahim Hamid), ‘’Sangkar Madu’’ karya Bachjatiar Siagian, ‘’Sangkuriang’’ Utuy Tatang Sontani dan lain-lain. Sebuah SMA (Sekolah Menengah Atas) ´´Permbaruan“ yang berada di bawah naungan Lekra pada tahun 1960 berhasil memenangkan hadia ke II dalam Festival Drama Pelajar se kota Medan. Sekolah ini menampilkan drama ‘’Dosa dan Hukuman’’ (‘’Krime and Punishment’’ karya Dostoyevsky) yang disadur oleh Bakri Siregar. Para aktor yang membawakan drama itu adalah Chalik Hamid, Z.Afif dan Peria Hotty.

Tahun berikutnya, di kota Medan diadakan Festival Drama se Sumatera Utara yang diikuti oleh berbagai organisasi seni di luar Lekra, seperti LKN ( Lembaga Kebudayaan Nasional) di bawah naungan Partai Naional Indonesia (PNI), Lesbi (Lembaga Seni Budaya Indonesia) di bawah naungan Partindo, Lesbumi (Lembaga Seni Budaya Muslim Indonesia) di bawah naungan Nahdatul Ulama (NU) dan kelompok-kelompok drama lainnya. Pada kesempatan itu Lekra kota Tanjung Balai yang menampilkan darama ‘’Sinandang’’ karangan Emha berhasil memperoleh juara pertama.

Ketika Dewan Banteng dibawah Kolonel Ahmad Husein mengadakan pemberontakan di Sumatera Barat melawan pemerintah pusat, dan kemudian pada tanggal 15 Februari 1958 ia berhasil melahirkan Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia ( PRRI ), di sana didirikan beberapa Kamp Konsentrasi untuk memenjarakan orang-orang Komunis dan kaum revolusiner sejati Indonesia. Pada waktu itu lah Bachtiar Siagian berhasil menciptakan sebuah drama ‘’Batu Merah Lembah Merapi’’ berkisah tentang kamp konsentrasi di Situjuh, Sumatera Barat, yang dikuasai oleh PRRI. Drama ini sangat terkenal dan berkembang di Sumatera Utara. Ia dipentaskan di kota-kota besar seperti Medan, Tanjung Balai, Pematang Siantar, Kisaran, Binjai, Rantau Prapat dan kota-kota lainnya. Di samping kaum Intelektuil, para penontonnya sebagian besar terdiri dari kalangan kaum buruh dan kaum tani.

Sebuah drama yang dipentaskan di alam terbuka adalah “Buih dan Kasih” Bachtiar Siagian. Drama ini dipentaskan di Pantai Cermin, kabupaten Deli Serdang, di hamparan pasir putih dengan latar belakang laut lepas di bawah bunyi ombak berdesir. Dari simpang Perbaungan hingga ke Pantai Cermin yang berjarak sekitar 4 Km, jalan raya macat total sebagai akibat besarnya opini dan keinginan untuk menyaksikan pertunjukan tsb. Para pendukung dram ini adalah Nismah, Achmadi Hamid dan Rindu Tanjung.

 

Sutradara-sutradara Lekra yang terkenal di Sumatra Utara pada waktu itu antara lain Prof.Bakri Siregar, H.R.Bandaharo, Emha, Sy.Anjasmara dan Aziz Akbar. Sedangkan pemeran utama dalam berbagai drama itu, mencakup seluruh Sumatera Utara, kita kenal Kamaludin Rangkuty, Sy.Anjasmara, Achmadi Hamid, Mariadi Ridwan, Mulkan AS, Chalik Hamid, Z.Afif, Masrian Else, Nurdimal, Onen Gusri, Duryani Siregar, Nismah, Sudarsiah, Farida Rani, Penah Pelawi, Peria Hotty, dan lain-lain.

Pementasan drama dalam periode 1950-1965 di Sumatera Utara, merupakan periode yang sangat sulit. Bukan hanya dalam memperoleh dana, tetapi juga dalam masalah lainnya seperti dekorasi panggung, ilustrasi musik, tehnik lampu (pengaturan cahaya), tata panggung, pembisik (supelir), sistim pengeras suara (mikropon), cara-cara latihan sebelum  pementasan dan lain-lain.

Untuk memperoleh dana misalnya, Lekra mencetak undangan sehubungan dengan pertunjukan drama bersangkutan.  Undangan ini disodorkan kepada pengusaha-pengusaha  kecil, dan Lekra memperoleh bantuan uang dari para pengusaha tersebut. Uang inilah yang dipergunakan untuk menyewa gedung pertunjukan, melengkapi dekorasi panggung, untuk uang transpot pengangkutan para pemain drama ketika diadakan latihan maupun ketika diadakan pertunjukan.

Masalah sistim pengeras suara pada waktu itu merupakan masalah yang sangat perlu dipikirkan dan diatasi. Panggung drama pada saat itu sangat berbeda dengan sekarang ini. Mikrofon pada waktu itu merupakan mikrofon terhubung langsung dengan versteker dan laudspeker, masih sangat kuno, berbeda dengan yang sekarang sudah digunakan mokrofon lepas yang terbawa ke mana-mana oleh para pelaku. Pada jaman dulu mikrofon itu terpaksa disembunyikan di belakang layar, tergantung atau diletakkan di tempat-tempat tersembunyi lainnya. Untuk melayani kebutuhan penonton, para pemain drama harus berteriak dan mengeluarkan  suara dengan keras.

Dalam pengaturan cahaya lampu, Lekra tidak memiliki alat yang memadai. Untuk mengatur  pertukaran cahaya dari malam menjadi siang misalnya, Lekra menggunakan alat sederhana. Sebuah ember diisi dengan air, ujung kabel positif (+) dan ujung kabel negatif (-) dimasukkan ke dalam air tersebut, dengan menarik menjauhkan dan mendekatkan kabel tsb, maka terjadilah cahaya terang dan cahaya gelap, yang berarti perbuahan dari malam menjadi siang. Ini tentu saja sangat berbahaya, karena air tsb mengandung aliran listrik. Namun itulah yang kami lakukan. Adegan demikian kita jumpai dalam drama “Siti Jamialh” karya Yoebaar Ayoeb dan ‘’Batu Merah Lembah Merapi’’ karya Bachtiar Siagian.

Dengan meluasnya Lekra sampai ke desa-desa di Sumatera Uatara, maka perkembangan drama-drama tersebut di atas juga mengalir hingga ke desa-desa. Demikianlah laporan singlkat mengenai perkembangan drama Lekra di Sumatera Utara dalam periode 1950 hingga 1965, yang kemudian Lekra di kubur oleh rezim Orde Baru Soeharto dan para anggotanya banyak yang dipenjarakan, dibuang ke Pulau Buru dan bahkan ada yang masih berkeliaran di luarnegeri***

 

ASAHAN:

 

 

SASTRA YANG MENCARI HARI DEPAN

 

 

Kecenderungan menemukan identitas sebuah sastra Nasional tidaklah terlalu penting dan segala galanya dalam pergaulan sastra Internasional. Indonesia mengarah ke soal pencarian identitas yang identitas itu semakin mempersempit dan membubarkan identitas dirinya sendiri. Sastra Jawa dan sastra Melayu dalam bahasa Indonesia seolah berlomba memperebutkan pengakuan mengklaim dirinya sebagai sastra Indonesia.  Ayu Utami pernah mengatakan dalam bentuk pertanyaan: “Mana itu pengarang-pengarang Melayu yang dulu mendominssi sastra Indonesia, mana karya-karya mereka”.Tantangan serupa itu agak berbunyi arogan tapi juga adil. Prof. Dr. A. Teeuw pernah mengatakan, bahwa zaman dominasi pengarang-pengarang Melayu telah lampau dan sudah digantikan oleh para pemgarang Jawa. Dan sebagai tambahan, Pak Teeuw pernah mengatakan bahwa pengarang Indonesia suka ribut-ribut, suka onar, suka bertengkar. Asosiasi kita tentu segera teringat akan pertengkaran dan debat besar sastra antara Lekra dan Manikebu dan selanjutnya sesudah Lekra dilibas Suharto para pengarang yang hidup dalam zaman Orba, juga saling bertengkar di antara mereka yang salah satunya memperdebatkan soal identitas sastra Indonesia. Antarta lain ada aliran yang menganggap bahwa sastra itu tidak punya tanah air. Sedangkan aliran lain menawarkan”sastra kontekstual”( Arief Budiaman) yang juga mengkritik kecenderungan para pengarang yang ke barat-baratan dan tidak melihat realitas masyarakatnya sendiri dan ukuran hadiah Nobel adalah sebagai ukuran tertimggi puncak pemcapaian sastra, dan cenderung  ke arah yang demikian.

Hasil terahir adalah bahwa sastra Indonesia belum berhasil menemukan Indentitasnya sendiri dan juga tidak jelas hari depannya. Yang saya maksudkan hari depan adalah perkembangan sastra yang hiruk pikuk tapi berkembang tanpa henti kwalitas maupun kuantitasnya. Sastra di jaman Orba Suharto meskipun terjadi perkembangan yang agak produktif tapi tidak menghasilkan sesuatu yang menonjol dan benar-benar punya arti. Para pengarang atau para sastrawan yang”menang”sebagai wakil sastrawan kanan tidak  berhasil menunjukkan keunggulan  atau kelebihan mereka untuk dibedakan dengan para sastrawa yang mereka kalahkan secara politik dan fisik yaitu para sastrawa kiri yang pada umunnya tergabung dalam Lekra. Sastra di masa Orba suharto hanya menghasilkan sastra yang anti komunis yang tokoh wanitanya diwakili oleh N.H. Dini sedangkan tokoh prianya Iwan Simatupang. Nilai sastra anti komunis mereka tidak lebih dari sekedar ocehan politik yang sering keluar dari kenyataan yang terjadi dalam peristiwa pokitik itu sendiri. Berlebihan atau hyperbola dan tidak punya nilai sastra.

Tapi di kalangan para sastrawan kiri atau bekas Lekra, sesudah mereka keluar dari penjara-penjara dan tempat pembuangan, untuk suatu periode yang cukup lama, mereka tidak tampak menujukkan dirinya  sebagai sastrawan yang lama yang mucul kembali secara meyakinkan. Perkecualian besar adalah seorang Pramoedya Ananta Toer yang muncul seketika dengan bobot besar dan menginternasional secara meluas dan bahkan spektakuler. Ada kesan, di kalangan sastrawan kiri yang baru “bebas” dari pembuangan dan penjara-penjara itu mengalami perubahan-perubahan tertentu di bidang ideologi dan politik yang meskipun masih tampak sangat subtiel tapi dalam banyak hal mereka sudah bukan seperti yang lama sebelum mereka dikalahkan dan dibekuk dalam penjara-penjara dan buangan. H.R. Bandaharo dalam kumpulan sajaknya”Sepuluh Sanjak Berkisah” sesudah dia  dibebaskan dari pembuangan dalam satu sajaknya terdapat kata-kata : Samakin hidup lama semakin sedikit teman”dan kalimat berikutnya: “Rambut sama hitam, pikiran lain-lain”(kutipan dari sebuah pribahasa Indonesia). Jelas dalam pertemanan di antara sastrawan kiri sudah terjadi banyak perubahan. Dan perubahan itu juga termanifestai dalam karya-karya mereka selanjutnya. Itu logis saja. Penjara atau tempat pembuangan adalah tempat pendidikan yang paling terkonsentrasi dari musuh. Semua anak didik musuh (para tahanan dan tawanan) sedikit banyak akan membawa pengaruh hasil  didikan musuh dan untuk para sastrawan tertentu pengaruh didikan itu akan tampak dalam karya-karya mereka, sadar maupun tak sadar. Secara kasar bisa kita klasifikasikan bahwa dari hasil didikan musuh itu, ada semangat jera atau kapok, ada semangat yang tetap masih menyala dan melawan musuh mereka, ada yang menaruh dendam dan ada yang sudah tidak punya rasa dendam dan ingin melupakan kepahitan masa lalu demi kehidupan yang lebih tenang tanpa rasa dendam untuk yang mereka maksudkan sebagai kehiduapan bebas dari rasa dendam dan kehidupan yang hanya memandang ke depan tapi juga ada yang putus asa dan frustrasi. Mungkin tidak tampak menyolok, tapi perjuangan ideologi dan politik di antara bekas pengarang-pengarang kiri telah terjadi perjuangan intern yang masih belum terbuka dan baru api di dalam sekam yang entah kapan bisa menjadi marak. Inipun bukan gejala luar biasa yang tidak mungkin terjadi. Kenyatan, cukup banyak dari barisan pengarang kiri itu sesudah pembebasan mereka ada yang bekerja pada bekas musuh mereka sesama pengarang di masa lalu. Perjuangan untuk hidup dan mempertahankan kehidupan sering-sering harus melakukan hal-hal yang memaksa orang harus kompromi atau bahkan tanpa beban dan menganggapnya sebagai nasib baik yang tidak dipunyai teman-temannya yang lain. Di bidang sastrapun, di kalangan sastrawan kiri ini terjadi persaingan di  antara mereka bahkan hingga saling jegal meskipun tidak terang-terangan. Ada segolongan sastrawan kiri yang ingin merapat atau ingin menyamakan dirinya dengan cita rasa para sastrawan kanan bekas musuh mereka di masa lalu untuk dapat pengakuan dan sejajar dengan mereka  dan biasanya para sastrawan muda yang mucul sesudah kejatuhan Suharto, menjadi sasaran mereka untuk didekati dan memasang titian untuk menyebrang ke barisan mereka yang dalam pada itu para sastrwan yang pernah sebarisan dengan mereka yang sudah berlainan pendapat, titian lama  yang memang sudah rapuh, diruntuhkan dan mereka mencari jalan sendiri-sendiri.

 

Dalam keberagaman sastra Indonesia yang sekarang, sulit untuk melihat hari depan sastra Indonesia yang dicita-citakan bersama. Setiap kelompok, yang dari kanan maupun dari kiri atau juga bila ada yang dari tengah merasa dirinyalah sebagai wakil identitas sastra Indonesia dan biasanya, sebagai patokan adalah  perhatian luar negeri atau Internasional yang akan dianggap bahwa dirinyalah sastra Indonesia dan hari depan sastra Indonesia. Tapi dalam kenyataan, perhatian Luar negeri terhadap sekelompok maupun perorangan-perorangan, cumalah sekedar studi atau untuk kepentingan studi para pemerhati sastra Indonesia di luar negeri. Sastra Internasional belum  memperlakukan sastra Indomesia sebagaai sastra yang duduk sama rendah berdiri sama tinggi dengan sastra Internasional. Kegiatan studi terhadap sastra terhadap sastra Indonesia cuma sekedar demi kepentingan penyelidikan di bidang sastra dan bahkan tidak jarang untuk sekedar demi hubungan persahabatan antara bangsa dan belum sebagai pengakuan Internasional yang sederajat dengan sastra dunia. Hal itu a.l. dibuktikan masih sangat sedikitnya hasil sastra Indonesia yang diterjemahkan ke dalam bahasa-bahasa asing yang besar seperti ke dalam bahasa Inggris, Perancis, Spanyol , Jerman atau bahkan hingga bahasa Tionghoa dan Rusia oleh para penterjemah asing negeri mereka masing-masing. Kalau ada satu dua yang diterjemahkan ke dalam bahasa asing, pada umumnya juga adalah untuk kepentingan studi, atau dalam kesempatan-kesempatan spontan seperti temu sastra dengan sastra asing tertentu dan sesudah beberapa karya diterjemahkan dan diterbitkan, kita tidak dengar berita apakah karya sastra Indonesia yang diterjemahkan itu bisa laku di negeri yang menterjemahkannya. Jadi  di arena sastra Internasional, sastra Indonesiaa masih dalam tingkat sastra studi, sastra hubungan persahabatan. Sekali lagi harus dikecualikan Pramoedya Ananta Toer yang telah mencapai sastra komersil Internasional, buku-bukunya yang diterjemahkan cepat habis di toko-toko buku karena nilai dan bobot tulisannya  yang telah mendapat pengakuan dunia. Tapi dia cuma sendiri. Dunia Internasional hanya mengenal nama Pram dan tulisan-tulisannya dan sering-sering tidak mengenal Indonesia apalagi sastra Indonesia.

 

Di bidang puisi, persajakan Indonesia moderen masih sibuk dengan  percobaan-percobaan eksperimentil terutama yang dilakukan oleh para penyair generasi baru atau para penyair muda. Tokoh menyoloknya adalah a.l.Soetardji Calzoum Bachri. Para penyair eksperimentil ini pada umumnya sudah tidak lagi mementingkan makna atau pesan dalam sajak-sajak mereka tapi yang lebih dipentingkan adalah permainan  kata, kalimat-kalimat dalam ungkapan  yang sukar dimengerti atau sama sekali tidak bisa dimengerti atau yang kadang-kadang disebut sebagai “sajak-sajak gelap”. Kecenderungan membuat sajak-sajak eksperimnetil dan  jenis-jenis “sajak gelap” ini punya efek memencilkan puisi Indonesia secara lebih jauh lagi dari pembaca awam bahkan pembaca sastra sekalipun. Di kalangan para penyaitr bekas Lekra atau penyair kiri lainnya, gaya Lekra yang lama masih terasa yang berciri sajak perlawanan atau puisi-puisi protes terhadap penguasa dan kaum koruptor, membela kaum terhisap dan tertindas. Bedanya dengan sajak-sajak Lekra yang lama adalah nama “Partai” dan kata “Komunis”.”Sosialisme”sudah sangat jarang terdapat. Tokoh penyair yang mengingatkan akan gaya Lekra adalah Wiji Thukul yang menciptakan sajak-sajak protes atau perlawanan terhadap penguasa dengan gaya yang paling matang, paling berkesan  dan juga paling efektif yang hingga sekarang belum ditemukan bandingannya. Sayangnya penyair genial ini cepat dihilangkan penguasa yang hingga sekarang tak tahu rimbanya yang diperkirakan dia telah dibunuh secara misterius tanpa kepastian yang meyakinkan.

Puisi Indonesia masih dalam tanda tanya dan sedang mencari hari depan sambil perlahan-lahan kehilangan identitas di persimpangan jalan: Quo Vadis?. Sajak-sajak dari para penyair yang bukan kiri yang dianggap moderen bahkan hingga dekaden tidak lebih  cuma sekedar perhiasan sastra Indonesia yang kadang-kadang cocok untuk dicetak dalam kartu ucapan selamat tahun baru  dan hari Natal.

 

Segolongan para sastrawan dan  peminat sastra  turut-turut latah menyuarakan bahwa sastra telah mati. Hal itu disebabkan mereka melihat “kenyataan”di negerinya sendiri. Mungkin yang mereka maksudkan bahwa sastra Indonesia telah mati karena sudah sangat banyak kehilangan pembacanya. Mungkin bisa terkesan demikian bila sastra itu dibikin semakin menjauhi selera pembaca dan suka meng-akrobatkan sastra , mengakrobatkan kata dan kalimat dan meng-elitkan sastra. Bacaan sastra atau karya sastra memang akan semakin mengecil penggemar dan pencitanya, bila sastra semakin tidak dimengerti banyak orang dan hanya mengabdi sebagian kecil kaun elit semata. Keindahan dalam sastra, pertama-tama bila sastra itu bisa dinikmati  maknanya, pesan yang terkandung di dalamnya, pemikirannya, dengan menggunakan bahasa yang indah atau lancar, atau enak dibaca dan bukan selalu menawarkan teka teki yang rumit yang ahir ahirnya tak terjawab dan kehilangan interes untuk menjawabnya terutama di bidang puisi. Pembaca ingin mendapatkan sesuatu atau mencari  sesuatu dalam karya sastra dan juga mengharapkan kepuasan atau tidak puas-puasnya dan bukan kejemuan atau kerumitan tak menentu. Tanpa memperhatikan tuntutan atau keinginan para pembaca sastra yang demikian, memang sastra bisa mati dan tidak lagi diperhatikan orang. Tapi dalam kenyataan lain seperti di negeri-negeri maju atau di negeri-negeri yang sastranya berkembang, hampir di semua toko-toko buku paling tidak 50 persen  isinya adalah buku-buku sastra.Sudah tentu pengertian sastra di abad moderen sekarang telah sangat meluas. Umpamanya buku-buku yang bersifat memoar, biografi dan otobiografi sering-sering dianggap orang sebagai buku sastra bila buku-buku tsb, menarik dan enak dibaca. Essay-essay sastra yang ditulis dengan bagus dan menarikpun bisa dianggap sebagai buku sastra atau punya nilai sastra. Pembaca moderen lebih mengutamakan nilai sebuah buku itu pada enak dibaca atau kadang-kadang mudah dibaca yang semua kesan demikian, juga dianggap sebagai keindahan dalam sastra. Buku sastra yang sulit dimengerti atau tidak bisa dimengerti  tidak akan terasa keindahannya bagi pembaca moderen dan akan dianggap sebagai buku-buku ilmiah atau karya filsafat yang peminatnya tentu lebih terbatas. Karnanya “sastra pop” atau “novel pop”lebih banyak peminatnyan dan lebih banyak ditulis di Indonesia karena sastra jennis demikian mempunyai dua ciri yaitu enak dibaca dan mudah dimengerti.Tapi bila kita mulai mempersoalkan nilai sastra dalam novel-novel pop maka kecenderungan umum adalah merendahkan bahkan hingga tidak mengakui novel-novel pop  punya nilai sastra. Tapi masih ada satu masaalah tertang norma-norma apa itu nilai sastra  atau yang punya nilai sastra. Saya tidak bermaksud untuk mengatakan bahwa sastra pop selalu punya nilai sastra dan juga tidak bermaksud mengatakan novel pop selalu rendah mutunya atau sama sekali tidak punya nilai sastra. Kita belum punya norma umum atau kriteria yang bisa atau diterima sebagian besar orang apa itu nilai sastra. Satu-satunya patokan adalah bahwa sebuah karya sastra harus bagus bahasanya, tinggi mutu pengungkapannya dan sebagai tambahan bagi segolongan intelektuil sastra harus agak sukar dimengeti hingga betul betul sulit dimengerti karena keanehan-keanehan dalam pengungkapan belitan jalan cerita yang tak mudah ditangkap orang awam atau dengan kata lain intelektualisme dalalm sastra sebagai jawaban awamisme di bidang sastra. . Biasanya awamisme dalam sastra lebih banyak terdapat di sekitar kerumunan sastra golongan kiri. Mereka sering bertindak atau belaku seperti polisi sastra untuk agar sastra kiri dan revolusioner agar lebih kiri lagi, lebih revolusioner lagi hingga sudah menolak fiksi dalam sastra, menolak fantasi, menolak imajinasi dan harus hanya menuliskan kebenaran dan kenyataan hidup sebagaimana adanya dan contoh yang mereka andalkan adalah semua bentuk karya otobiografi atau biografi yang harus ditulis secara jujur, tidak “bohong”, tidak meng-ada-ada atau dengan istilah yang lebih sinis lagi yang mereka sebut sebagai “ngibul”. Awamisme dalam sastra bertolak dari ketidak pahaman atau tidak menguasai atau hanya mempunyai pengetahuan tentang sastra secara permukaan atau kulitnya saja, tidak mendalam dalam memasuki dan mengenal dunia sastra secara memadai dan cuma pengetahuan elementer yang sepotong sepotong tapi ingin turut mengemudikan arah sastra kiri agar lebih revolusioner, lebih jujur dan apa adanya. “Kekiri-kirian”atau ekstremisme ternyata tidak hanya terdapat dalam dunia politik tapi juga dalam sastra dan gejala semacam ini adalah juga pernyataan lebih lanjut dari penyakit awamisme dalam sastra Indonesia. Awamisme dalam sastra Indonesia tidak cuma terdapat di kalangan “pemerhati”sastra tapi juga terdapat pada segolongan “sastrawan”itu sendiri yang hal itu bisa ditemui dalam karya-karya mereka dengan ciri-ciri hambar, banal dan kadang-kadang juga brutal yang ditujukan pada Penguasa, sesuatu Rezim, Masyarakat dan golongan Sosial tertentu maupun perseorangan-perseorangan.

 

Kecenderungan aneh terdapat pada sementara sastrawan kiri angkatan lama terutamanya yang keluar dari penjara-penjara serta buangan di Pulau Buru. Harapan orang awam yang normal tentulah mereka mengira dari karya-karya para sastrwan berpengalaman dan kiri serta revolusioner di masa lalu akan lahir karya-karya revolusioner baru dengan nuansa perjuangan baru bagi menuntut balas atas siksaan dan hinaan musuh mereka di masa lalu dalam penjara-penjara dan tempat buangan seperti di Pulau Buru atau di Nusakambangan. Tentu dugaan demikian ada juga yang mendekati kebenaran . Tapi sebuah keanehan di luar dugaan juga turut mewarnai nuansa sastra kiri dari angkatan lama, angkatan penjara musuh itu. Segolongan yang mungkin bisa dipandang aneh ini adalah karena mereka mempropagandakan moral anti dendam terhadap musuh yang telah menyiksa dan mem-Pariakan mereka hingga saat ini. Mereka mengatakan dengan jelas dan penuh kebanggaan: “Kami tidak punya rasa dendam terhadap masa lalu, kami ingin memandang ke depan dan melupakan masa pahit getir di waaktu yang lalu”.

Karya-karya mereka tetap masih mencertakan pengalaman mereka selama penyiksaan musuh tapi tidak sampai pada kesimpulan bahwa musuh harus digulingkan dan dihukum untuk bisa membebaskan rakyat dan merebut kekuasaan dengan revolusi kekerasan. Mentalitas demikian sudah tidak terdapat dan tidak lagi terasa pada segolongan sastrawan kiri lama di dalam karya-karya mereka kecuali pasifisme yang ingin mereka sebarkan dan pengaruh mereka bukan sama sekali tidak mendapatkan lahan. Mentalitas tanpa dendam, mengharamkan dendam yang ditinjau dari sudut ajaran agama, moralitas bangsa maupun pengaruh-pengaruh sisa-sisa feodal di masa lalu, mereka jadikan dasar penyebaran semangat melikwidasi rasa dendan terhadap musuh mereka di masa lalu dan juga sekarang ini. Ini sebuah kecenderungan menarik dalam sastra sebagian dari golongan kiri tapi juga yang sangat menguntungkan musuh-musuh mereka meskipun bukan kecenderungan pokok sastrawan kiri lama Indonesia dan ini agaknya adalah juga hasil dari bunga-bunga ide rekonsiliasi di bidang sastra. Tapi sastra kiri Indonesia masih akan berkembang lebih lanjut dan yang akan menentukan adalah generasi baru selanjutnya yang akan memberikan kata putus: Pasifisme atau perjuangan.

Asahan.

Hoofddorp- Nederland

4 Desenber 2009.

Writing is media to struggle against dehumanization.

Dehumanization process started when the militia and military hunting and  killing  the suspected communist people, in October 1965.

Writers or artists accused as Lekra , a member of people cultural association, possibly if he is fortunately not being killed, he would be put in the prison or exiled.

But there is no any protest to this killing mass from the Western Countries as well as Non Block Countries.

I was detained for 10 years without trial (1966-1976) suffered in very bad conditions like mal nutrition , with many kind of diseases, plus daily terrorized mentally, prohibited to have pencil nor book, to write nor to read.

After they moved me from prison as small as a cell to the widest as large as my own country, many discriminative regulations were created to mishandle the Ex Tapols ( ex political detainee) and their family.( Instruction Education and Culture Ministry,No.138/1965, TAP MPRS no.25/1966, Internal Affairs Instruction 1981,no.30). The process of dehumanization works systematically and structurally.

As a writer, I use writing as  a  media to fight against dehumanization process in order to be human again. The past is my back bone.

In the beginning some national news paper accepted my writings, but no more because of political reasons.  As writer I create many  peaceful  way to actualize my existence. The results are: Won the Environment Story Teller organized by Indonesian Government, won an international NEMIS short story competition organized by the Chilean Embassy in Jakarta, invited to International Popular Theatre Workshop in India, create regular literature reading in Goethe-Institut Jakarta ( the only public space for me ), reading my poems in some Australian university,  Malaysia and Europe, and publish my writing through alternative publisher. Some of my short stories  and poems have been published in the several international anthologies.

As an acupuncturist with legalization from Department of Health, I started to work with grass root community to increase their awareness of the rights and obligation in health, also transfer the knowledge and skill of acupressure and herbal medicine.

For those activities I have to pay the risk too. The Soeharto regime detained me for ten days again, torture me with electrical tool. They suspected that communist international organization who  supported me. In fact I was invited by capitalist countries. My health foundation and clinic was bended. But that treatment   never  stopped me to work although the intelligent strongly control my daily activities. The hard challenges forced me to work harder and harder , my life was tensed and full of stress, but I continue to write, and active as motivator and instructor  of health, humanity, HIV/AIDS and Gender equalization’s activist programs. My work in many fields enriched my writing’s themes   with the life of marginalized people. I have got  also many new friends with the same way of thinking.

After Soeharto regime collapsed, in the reformation era military intelligence was visibly reduced. The first thing I‘ve done  to publish a novel “Merajut Harkat   in 1999 which I started since 1979, as well as compilation of poems “Perjalanan Penyair.” “(Those books inspired by my experiences in jail). The mass media took  a  sudden notice of my work: they were eager to discuss the books and to know about me as the writer. Without any rest I continue to write literature and health books, and since 5 years a go I work with some friends to produce the documentary films about Social Impact of Humanity Tragedy 1965/66. I take deep fresh breath, my human dignity is being rebuilt even the discriminative regulation still exist. So as writer I still have tasks to fight against the humanization process every where for everybody in the world by writings, producing films and other activities related to Human Rights problems.

They gave me.

they   gave  me a lump of courage

flowing   through  my veins

they  gave  me a shaft of light

shining  within my eyes

they  gave  me a glass of bile

strengthening  my  every step

they gave me a piece of stone

witch  I crushed and made a road

they  gave me a whip

witch  tightened  the muscles at the base of my tongue

what  else can you give me

to test my self respect?

(from book The Song of Starling, 1986, translator Keith Foulcher)

Thank you.

Jakarta, January 2010.

Putu Oka Sukanta

e-mail: poskanta@indosat.net.id

About these ads

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 54 other followers

%d bloggers like this: