SEJARAH BARON PEMAIN PERDAGANGAN GULA NASIONAL

Sumber:Al Faqir Ilmi <alfaqirilmi@yahoo.com>,  Thursday, 11 November 2010 09:03:07,in: [mediacare] CUPLIKAN SEJARAH BARON PEMAIN PERDAGANGAN GULA NASIONAL

CUPLIKAN SEJARAH BARON PEMAIN PERDAGANGAN  GULA NASIONAL

 

1.1950-1997 Liem Sioe Liong Kolega penguasa orde baru

Salim Group & Sugar Group

 

Sejarah mencatat Liem Sioe Liong membangun kerajaan bisnisnya lewat berdagang bahan pokok, khususnya gula. Pada 1950-an, Liem sudah bersahabat dengan Soeharto. Saat itu, Liem, yang masih pedagang kelontong, memasok kelapa, cengkeh, dan gula untuk pasukan Soeharto di Divisi Diponegoro, Semarang. Soeharto dan Liem pernah tercatat menyelundupkan gula.

 

Ketika Soeharto naik menjadi presiden pada 1966, setahun kemudian pengadaan, penyaluran, dan pemasaran bahan pokok, termasuk gula, dimonopoli Badan Urusan Logistik (Bulog). Di masa jayanya, rekanan Bulog di bisnis gula mencapai 800-an importir. Toh, tak ada yang mampu menahan mekarnya Grup Salim di bisnis ini. Hingga 1997, Sugar Group (SG), perkebunan gula terpadu milik Salim, menjadi salah satu produsen terbesar.

 

Dengan lahan seluas 61 ribu hektare di Lampung, total produksi SG mencapai 450 ribu ton setahun-setara dengan 30 persen produksi gula nasional pada 1997.

 

 

2. era 1980-an

 

Yantje Liem alias Haryanto

rekanan kepercayaan Bulog, khususnya untuk impor berskala ratusan ribu ton.

nama Yantje Liem alias Haryanto dikenal sebagai rekanan kepercayaan Bulog, khususnya untuk impor berskala ratusan ribu ton.

 

Nama Yantje tenggelam ketika ia terlibat sengketa dengan importir gula Inggris, E.D. & F. Man (Sugar) Ltd., pada 1982 dan dihukum arbitrase di London membayar ganti rugi US$ 22 juta.

 

pertengahan 1990-an. Hokkiarto, tangan kanan Kepala Bulog Beddu Amang

 

Armindo menjadi tangan kanan Kepala Bulog Beddu Amang sejak pertengahan 1990-an.

Penelusuran Badan Pemeriksa Keuangan pada 1999-2000 menemukan bahwa Hokkiarto, melalui PT Armindo, pernah menilap 5.150 kuintal gula pasir di gudang Bulog.

 

3. sejak awal 1980-an

 

Soesanto, dikenal lihai “menyusupkan” gula dari Thailand dan Malaysia.

 

sejak awal 1980-an ia telah berkecimpung di bisnis gula. Ia dikenal lihai “menyusupkan” gula dari Thailand dan Malaysia. Biasanya gula dia bawa dari Port Klang, Malaysia, melalui Teluk Nibung atau Tanjung Bala.

Biasanya gula dia bawa dari Port Klang, Malaysia, melalui Teluk Nibung atau Tanjung Bala. Soesanto adalah raja diraja gula di Sumatera. Sekali main ia bisa menyabet 200 ribu ton sekaligus.

 

4. Sejak 1980-an, Pieko Nyoto Setijadi, Baron di pesisir utara Jawa, khususnya di sekitar Jawa Timur. Sejak 1980-an, melalui PT Cipta Gemini Mulia, Pieko dipercaya menjadi rekanan Bulog.

 

PT Cipta Gemini Mulia, Pieko.

 

Dialah baron di pesisir utara Jawa, khususnya di sekitar Jawa Timur. Sejak 1980-an, melalui PT Cipta Gemini Mulia, Pieko dipercaya menjadi rekanan Bulog. Menurut Sulistyo, seorang pedagang gula, ia dikenal dekat dengan kalangan tentara, khususnya polisi militer. Di depan kantor Pieko di Surabaya terpampang sebuah plang bertuliskan “Korps Polisi Militer”.

 

Pada 1990-an, posisi Pieko makin kuat ketika ia menjadi Ketua Asosiasi Pedagang Gula Indonesia se-Jawa. Setelah itu, ia pun merambah ke Jawa Tengah dan Jakarta. Kepada TEMPO, Pieko menyatakan sukses bisnisnya semata karena asosiasi tempat ia bernaung memang telah berpengalaman menyalurkan gula. “Jaringan kami sudah tersebar di seluruh Indonesia,” katanya.

 

5.Kurnadi dan Yayat Supriatna, Duet ini menguasai pasar di Jakarta dan Jawa Barat.

PT Kurnadi Abadi

 

Melalui bendera PT Kurnadi Abadi, mereka mampu menangani impor dan distribusi 50 ribu ton gula. Selain bermain di bisnis gula, Kurnadi dipercaya Bogasari menjadi distributor tepung terigunya.

 

Di kalangan pemain gula, Yayat dikenal sebagai “saudara kembar” Kurnadi. Pengalaman Yayat sebagai mantan Kepala Dolog Jakarta tampaknya menjadi modal mereka menguasai liku-liku pasar Ibu Kota.

 

6. Tjokro Setiawan dan Hans Maramis, Tjokro dan Hans inilah pesaing berat duet Kurnadi-Yayat di Jabotabek.


PT Kencana Gula Manis

Dari kantornya, di Menara Sudirman, Jakarta, Tjokro mengatur “armada semutnya” di bawah payung PT Kencana Gula Manis.

 

Tjokro dikenal sebagai pelobi ulung dan disebut-sebut punya hubungan dekat dengan petinggi Republik. Sedangkan Hans dikenal punya lobi kuat di jajaran birokrasi, khususnya di Departemen Perindustrian.

 

7. Artaguna Sentosa (Grup AGS), Grup AGS dikenal sebagai salah satu pemain besar di Jawa Timur. Haryono

 

Artaguna Sentosa (Grup AGS)

Ketua Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Theo F. Toemion pernah berkirim surat kepada Menteri Rini Soewandi, menuduh AGS berada di balik langkanya pasokan gula di Jawa Timur

 

Atas tuduhan itu, Haryono, salah satu pemilik AGS, menjawab, “Kami kan cuma berdagang gula dengan petani dan tidak mengimpor. Bagaimana mau memainkan harga?”

 

8. Era 1998, Setelah Soeharto lengser,

 

Hartono, pendatang baru yang dikenal gesit

PT. Berlian Penta. Perusahaan ini berbasis di Malang, Jawa Timur

Kantor JL. Berlian timur no 1 surabaya

60165 telp: 031 3284159

Di zaman Orde Baru, perusahaan ini hanya bermain di tetes tebu, tapi sejak akhir 1990-an mulai mengimpor dan mendistribusikan gula.

 

Penta pernah dicurigai bermain di balik penimbunan gula di gudang PTPN di Jawa Timur . bahwa membenarkan gula yang ada di gudang PTPN itu memang miliknya. Memang tidak semua yang lainnya milik pedagang lain.

 

9. PT.  WIN


PT Win Ketika PT Perkebunan Nasional (PTPN) XI diberi izin impor 50 ribu ton gula, perusahaan inilah yang ditunjuk pemerintah untuk bermitra dengan PTPN XI. Penunjukan ini kontan memicu protes dari para pemain gula lama.

 

Akhirnya, kemitraan PTPN XI dengan PT Win dibatalkan Menteri Rini Soewandi. Dikabarkan, yang berdiri di belakang PT Win adalah sebuah pabrik rokok besar di Jawa Timur. Belum lama ini, langkah pemain baru ini kembali mengejutkan para pemain lama. Win berhasil menggandeng Agrocorp, pemain gula dunia dari Singapura, untuk memasok 50 ribu ton gula dengan harga murah US$ 230 per ton atau kira-kira Rp 3.100 sekilo.

 

10. Pada era 2001

Gunawan Muchlis, debutan paling agresif dalam bisnis ini

PT Yosilindo Aneka Coklat Industry dan PT Insan Makmur Sejati

 

PT Lampung Bintang Semesta (LBS), untuk mengimpor 1,08 juta ton gula.

Namanya menjadi pembicaraan ketika pada 2001 lalu, melalui PT Yosilindo Aneka Coklat Industry dan PT Insan Makmur Sejati, ia mendapat izin dari BKPM untuk mengimpor 221 ribu ton gula. Ternyata sebagian gula itu dijual langsung ke masyarakat-satu hal yang diharamkan ketentuan.

 

Bea Cukai pernah menahan sisa gulanya di gudang dan mengusut kasus ini. Surat dari Nazarudin Kiemas, adik Taufiq Kiemas, kepada Direktur Jenderal Bea Cukai ketika itu, Permana Agung. Isinya meminta agar sisa gula impor sebanyak 20 ribu ton itu dilepas dari Pelabuhan Tanjung Priok.

 

Investigasi wartawan akhir 2002 lalu, Ketua BKPM Theo Toemion kembali memberi Gunawan izin, melalui LBS . LBS mengales heran kenapa dibuat ketentuan yang melarang perusahaan memproses gula kasar menjadi gula putih untuk dipasarkan.”

 

11. Pada Era 2001

Gunawan Jusuf,

pemain baru di bisnis gula.

hubungan dekat dengan Kepala Bulog Widjanarko Puspoyo dan Guruh Sukarno Putra, adik Presiden Megawati

 

Makindo Sekuritas

 

Pada 2001 lalu, bos Makindo Sekuritas ini membeli Sugar Group dari Badan Penyehatan Perbankan Nasional. Pembelian ini lalu berbuntut sengketa dengan Grup Salim tentang status lahan.

 

Gunawan dijagokan banyak kalangan akan menjadi baron gula baru. Ia dikenal punya hubungan dekat dengan Kepala Bulog Widjanarko Puspoyo dan Guruh Sukarno Putra, adik Presiden Megawati. Guruh menyatakan tak pernah punya kongsi apa pun dengan Gunawan.

 

12. 2004 PIEKO NYOTO SETJADI, HARTONO, HARYONO Baron Penguasa gula Jatim

 

PT Citra Gemini Mulia dan PT Fajar Mulia Trasindo

 

PT Berlian Penta Trading

 

PT Arta Guna Sentosa (AGS)

 

PT Arta Guna Sentosa (AGS) (jatah 1800 ton/ distributor)

1.      PT Artha Kencana Agung,

2.      CV Haris,

3.      CV Kencana Makmur,

4.      PT Kharisma Sembada

5.      PT Kedung Agung.

PT Berlian Penta Trading, boss Hartono (jatah1800 ton/ distributor)

1.      PT Berlian Mandiri Perkasa,

2.      PT Rastung Sejahtera,

3.      PT Bhirawa Sembada.

 

PT lainnya yang tidak teridentifikasi groupnya

 

28 APRIL 2004 Ada Indikasi kasus terlihat pertengahan April lalu, ketika Dolog Jawa Timur menunjuk 13 distributor untuk menyalurkan 20 ribu ton gula impor dari Thailand. Besar dugaan, 13 distributor itu berasal dari dua grup besar, di bawah bayang-bayang Pieko Nyotosetiadi, bos PT Citra Gemini Mulia dan PT Fajar Mulia Trasindo.(investigasi sementara) Dua perusahaan milik Pieko Iini dipercaya memasok barang- barang kebutuhan pokok ke Primer Koperasi Angkatan Darat (Primkopad), Primer Koperasi Angkatan Laut (Prikopal), dan Induk Koperasi Kepolisian (Inkoppol).

 

 

13. 2007 Tjokro Setiawan


PT . Kencana Gula Manis Merambah ke jatim melalui pintu KSO dengan PG Ngadi rejo PTPN X Setelah lengsernya dirut PTPN X Adi Prasongko, sebagai Dirut PTPN X yang baru Subiyono (mantan kepala Dinas perkebunan Jatim) mencoba mengadakan kerjasama operasional dengan PT Kencana Gula Manis. Dalih efesiensi dan peningkatan mutu serta rendemen tebu. Terjadi gejolak petani dan karyawan PG yang terkena rasionalisasi MOU KSO tersebut.

 

14. 2008-2010

PIEKO NYOTO SETJADI

HARTONO

HARYONO

TJOKRO SETIAWAN

Group-group raksasa 4 baron masih punya kans kuat menguasai gula Jatim

Penguasaan hubungan dengan para petinggi negri semakin dekat, terutama menjelang PILPRES 2009. Semauanya mencoba menggali lubang terobosan unutk memperoleh penguasaan gula di jatim. Akibatnya jajaran kementrian BUMN, deptan, dan deperindag serta , direksi-direksi PTPN (X dan XI) di jatim dicoba untuk di”jaring” oleh baron-baron gula. Penguasa daerah juga tak luput dari ikatan “semut dan gula”.Berlanjut dengan lembaga pergulaan DGN, APTRI yang sudah mulai dirintis sejak 2005-2006 sebagai legatimed-nya

 

*Data olahan dari investigasi sekber KRD (konsolidasi Rakyat Untuk Demokrasi) Jember Jatim, 2010

 

Beberapa item masalah ruwetnya distribusi gula Indonesia

1.      Kasus Importir gula oleh PTPN dan RNI.Dirjen Perdagangan Luar Negeri, Sudar, S.A. 19.000 ton gula yang diimpor PTPN X terpaksa tertahan di Tanjung Priok gara-gara masalah dokumen. Dirjen Bea dan Cukai, Eddy Abdurrachman,PTPN X mengajukan pemberitahuan impor atas nama Bulog. (harusnya atas nama PTPN). 10.000  ton gula impor PTPN X.

2.      Kasus 39.000 ton gula milik Bulog yang tak bisa dikeluarkan dari gudang Dolog Kelapa Gading, Jakarta Utara.(dokumen gula bermasalah)

3.      Distributor  memberi pinjaman PTPN untuk mengimpor 100.000  ton gula. Sebagai kompensasi, dia bakal mendapat jatah terbesar untuk menjual gula impor (share profit 10 persen,harga gula US$ 200 per ton), maka keuntungan US$ 2 juta.

4.      Penunjukan  Bulog pada salah satu Pt distributor  untuk menyalurkan gula ke wilayah Jabotabek. (jatah terbesar tanpa ada transparansi)

5.      Group PT pergulaan menggotong salah seorang direksi PTPN agar berhasil terpilih menjadi direktur utama perusahaan baru yang merupakan hasil merger PTPN IX, X, dan XI .

6.      Pembinaan manajemen dan keorganisasian Organisasi petani tebu yang syarat intervensi politik (rawan penyimpangan)

7.      Lobi tingkat tinggi para pejabat di Kementerian Negara BUMN , petinggi aparatus penegak hukum serta tokoh-tokoh partai politik

8.      Regulasi impor gula yang tidak  sesuai (konsisten) dengan musim giling tebu rakyat

9.      Regulasi Skema kredit untuk petani yang lemah dalam pengawasanya

10.  Regulasi skema pengadaan dana talangan yang masih mengandung multitafsir

11.  Regulasi audit dan kinerja PTPN yang belum transparan adanya sebagai wacana publik

12.  Penimbunan  gula, akibat mahalnya gula adalah rakyat kecil, termasuk petani tebu.

 

 

 

Beberapa Kebijakan Pemerintah yang Berkaitan dengan Industri gula

 

 

Nomor SK/Keppres/Kepmen

Perihal

Tujuan

 

Keppres No. 43/1971, 14 Juli 1971

Pengadaan, penyaluran, dan pe­masaran

Menjaga kestabilan gula sebagai bahan pokok

 

Surat Mensekneg No. B.136/ABN SEKNEG/3/74, 27 Maret 1974

Penguasaan, pengawasan, dan penyaluran gula pasir non PNP

Penjelasan mengenai Keppres No. 43/1971 yang meliputi gula PNP

 

Inpres No. 9/1975, 22 April 1975

Intensifikasi tebu (TRI)

Peningkatan produksi gula serta peningkatan pendapatan petani tebu

 

Kepmen Perdagangan dan Koperasi No. 122/Kp/III/81, 12 Maret 1981

Tataniaga gula pasir dalam negeri

Menjamin kelancaran pengadaan dan penyaluran gula pasir serta peningkatan pendapatan petani

 

Kepmenkeu No. 342/KMK.011/1987

Penetapan harga gula pasir pro­duksi dalam negeri dan impor

Menjamin stabilitas harga, devi­sa, serta kesesuaian pendapatan petani dan pabrik

 

UU No. 12/1992

Budidaya tanaman Memberikan kebebasan pada petani untuk menanam komodi­tas sesuai dengan prospek pasar

 

Inpres No. 5/1997, 29 Desember 1997

Program pengembangan tebu rakyat Pemberian peranan pada pelaku bisnis dalam rangka perdagang­an bebas

 

Inpres No. 5/1998, 21 Januari 1998 Penghentian pelaksanaan Inpres No. 5/1997

Kebebasan pada petani untuk memilih komoditas sesuai de­ngan UU No. 12/1992

 

Kepmen Perindag No. 25/MPP/Kep/1/1998

Komoditas yang diatur tata­nia­ga impornya

 

 

Mendorong efisiensi dan kelan­caran arus barang

 

Kepmenhutbun No. 282/Kpts-IX/1999, 7 Mei 1999

Penetapan harga provenue gula pasir produksi petani Menghindari kerugian petani dan mendorong peningkatan produk­si

 

Kepmenperindag No. 363/MPP/Kep/8/1999, 5 Agus­tus 1999

Tata niaga impor gula Pengurangan beban anggaran pemerintah melalui impor  oleh produsen

 

Kepermenindag No. 230/MPP/ Kep/6/1999, 5 Juni 1999

Mencabut Kepmenperindag No. 363/MPP/Kep/8/1999

Pembebanan tarif impor gula untuk melindungi industri dalam negeri

 

Kepmenkeu No. 324/KMK.01/2002

Perubahan bea masukPeningkatan efektivitas bea masuk

 

Kepmenperindag No. 643/MPP/Kep/9/2002, 23 September 2002

Tataniaga impor gulaPembatasan pelaku impor  hanya pada importir produsen dan importir  terdaftar untuk peningkatan pendapatan petani/produsen

 

Kepmenperindag No. 527/MPP/Kep/9/2004

Penyempurnaan tataniaga impor gulaIT wajib menyangga harga di tingkat petani dan impor dilakukan bila harga minimum Rp 3410

 

Kepmenperindag No. 18/M-AG/PER/4/2007

Tentang perubahan ke empat

Kepmenperindag No. 527/MPP/Kep/9/2004IT wajib menyangga harga di tingkat petani dan impor dilakukan bila harga minimum Rp 4900

 

*selama harga ditingkat petani mampu dipermainkan oleh para baron maka keuntungan terbesar (pembelian gula lokal dan impor) ada ditangan para baron dan petani mesti akan mengalami kerugian ditiap musimnya.***

 

About these ads

1 comment so far

  1. handoyo on

    Waaah seru juga mengikuti permainan gula putih ini. jadi ingin coba ikut main. Tapi skalanya mikro saja. kan kita bukan baron nasional. salam


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 54 other followers

%d bloggers like this: