KONGRES ‘POINT OF NO RETURN’

Jurnal Toddoppuli

Cerita Untuk Andriani S. Kusni & Anak-Anakku

Tentu bukanlah kebetulan jika Majelis Adat Dayak Nasional (MADN) menyelenggrakan Kongres I-nya di Palangka Raya bertepatan dengan Hari Sumpah Pemuda pada 28 Oktober. Seperti halnya bukan pula kebetulan jika janin MADN berupa pertemuan beberapa tokoh Dayak Kalimantan Timur, Tengah, Barat dan Selatan di Balikpapan dan yang kemudian mendirikan sebuah lembaga bernama Dewan Adat Dayak Kalimantan (DADK) pada  bulan Mei 2001  Bulan Mei merupakan bulan Kebangkitan Nasional. Pertemuan Balikpapan ini selain merupakan pertemuan pembentukan DADK, ia juga sekaligus merupakan Musyawarah Nasional I. DADK. Munas II  diselenggarakan di Pontianak  pada tahun 2006 di mana MADN dibentuk. Pertemuan di Palangka Raya yang berlangsung dari 28 sd 31 Oktober  2010 jadinya merupakan Kongres I MADN, sekaligus memilih pengurus baru serta menyusun kembali visi-misi dan AD/RT organisasi.

 

Pemilihan Hari Kebangkitan Nasional untuk menyelenggarakan Pertemuan Balikpapan 2001 seperti mengisyaratkan bahwa Masyarakat Adat (MA)Dayak dan Manusia Dayak mau bangkit kembali. Dan kebangkitan itu seperti diisyaratkan oleh pemilihan 28 Oktober untuk menyelenggarakan Kongres I MADN, merupakan Kongres MA Dayak yang sejalan dengan isi Sumpah Pemuda. Sumpah Pemuda akan menjadi kosong, tanpa isi nyata jika etnik-etnik yang dulu mencetusnya berada dalam kedaan terpuruk bahkan menjadi korban dari kolonialisme internal. Kehadiran perutusan dari Sabah, Sarawak, Brunei Darrusalam dan pulau-pulau lain mengatakan bahwa kebangkitan ini akan terwujud jika tergalang persatuan berprinsip yaitu keinginan dan tindakan nyata Manusia Dayak untuk menjadi manusia berharkat dan bermartabat sebagai suatu hak dasar sipapun. Kebangkitan adalah tindakan nyata mengatakan ‘’Tidak!’’kepada keterpurukan, kepada segala bentuk penindasan,penyingkiran, penerpurukan sistematik. Sedang Dayak adalah salah satu warna dari keaneka ragaman dalam kemanusiaan yang tunggal. Kebangkitan MA Dayak sebagai anak manusia merupakan keniscayaan nilai republikan dan berkeindonesiaan yang patut diwujudkan, sesuai pula dengan budaya Dayak bagaimana hidup di tengah masyarakat, baik masyarkat lokal, nasional atau internasional, yang terjabar dalam diskurus: tentang niscayanya anak manusia dan anak bangsa itu berlomba-lomba menjadi anak manusia dan anak bangsa yang manusiawi, republikan dan berkeindonesiaan (hatindih kambang nyahun tarung,mantang lawang langit). Kecuali itu, keinginan dan tindakan untuk bangkit menjadi manusia berharkat dan bermartabat dari orang-orang Dayak ini mengatakan bahwa penanggungjawab pertama pertama timbul-tenggelam suatu etnik dan atau bangsa adalah putera-puteri etnik dan atau bangsa itu sendiri. Mereka tidak bisa melemparkan tanggungjawab kepada pihak lain di luar diri mereka.

 

Petunjuk tentang keinginan dan tindakan untuk bangkit di kalangan orang Dayak sejak lama dan dengan gampang didapat dalam sejarah. Dengan segala keluguan dan kenaifannya, sekalipun ternyata merupakan pertemuan kapitulasi dan penerimaan pembudakan diri, Pertemua Tumbang Anoi 1894 menyelipkan juga keinginan hidup berharkat dan bermartabat. Kesalahan inilah yang dikoreksi oleh Pakat Dajak  25 tahun kemudian dan dilanjutkan oleh Pakat Dajak, lalu diteruskan oleh Perang Gerilya berbentuk Perang Rakyat didorong dan disulit oleh penerjunan Pasukan MN-1001 agar kemerdekaan disimbolkan oleh berdirinya kekuasaan RI di Kalimantan termasuk di Tanah Dayak bisa tegak dan efektif. Di tengah upaya pendegrasian Dayak oleh Orba, keinginan dan tindakan nyata untuk mewujudkan mimpi atau keinginan tersebut tidak terkekang.  Pada tahun 1992 di Pontianak, dilangsungkan Kongres Nasional Dayak dengan motto melestarikan kebudayaan Dayak yang kemudian dikembangkan menjadi revitalisasi dan restitusi kebudayaan Dayak. Sesudah Kongres Nasional Dayak tahun 1992 itu, di Palangka Raya berlangsung seminar yang menuntut pembebasan lembaga kadamangan dari golkarisasi.Seminar ini diselenggarakan oleh LSM pertama Kalteng, Talusung Damar dengan sokongan kuat dari Institut Dayakologi Pontianak. Hasil seminar kemudian oleh Gubernur dijadikan Perda yang kemudian oleh Gubernur Teras Narang pada tahun 2008 dicabut dan diganti dengan Perda No.16 Tahun  2008.  Semangat kebangkitan ini juga diperlihatkan oleh Dayak-Dayak Kalimantan Timur. Diprakarsai  LP2SM Dayak Sejahtera, pada tahun 1990 di Tenggarong dilangsungkan Seminar Adat Masyarakat Dayak dengan tema sentral ‘’Eksistensi Adat Dayak’’ (Rudy Haryo Widjono AMZ, 1998: 32). Di tahun 1993, kembali LP2SM Dayak Sejahtera bersama dengan  Lembaga Adat dari 12 suku Dayak di Kalimantan Timur memprakarsai acara Musyawarah Besar Masyarakat Adat Dayak se-Kalimantan Timur. Sedangkan pada 1992, diselengarakan Festival Kebudayaan Dayak Lundaye , di Long Bawan, Kecamatan Krayan. Di tahun yang sama, Borneo Research Council menyelenggarakan acara ‘’Second Bienneal International Conference’’ (Rudy Haryo Widjono AMZ, 1998: 33). Lahirnya MADN dan Kongres I-nya sekarang merupakan bagian dari keinginan dan tindakan Orang-Orang Dayak untuk hidup berharkat dan bermartabat. Keinginan dilakukan dengan berbagai cara mulai dari cara damai, diplomasi hingga ke medan perang berdarah sampai  seratus tahun (Lihat ‘’Sejarah .Kalimantan Tengah (Dr. Ahim S. Rusan, et.al. 2006).

 

Kepentingan apa yang tersimpan dibalik upaya memurukkan MA Dayak secara sistematik dan yang berlangsung sejak Pertemuan  Damai Tumbang  Anoi yang sampai sekarang oleh sementara orang dipandang sebagai ‘fajar peradaban bagi MA Dayak’’ padahal suatu titik hitam bermulanya penjajahan dan desivilisasi terhadap Orang Dayak? Apabila MA Dayak terpuruk, maka pihak lain kan dengan gampang merampok Sumber Daya Alam (SDA)Kalimantan yang kaya raya. Perampokan, pengurasan, penjualan tanpa pikir panjang SDA ini akan lebih dipermudah lagi jika MA  Dayak , terpecah-belah, atau ikut bersekongkol menjualnya karena kepentingan yang dilihat sejauh batas ujung jari.  Karena itu 95 persen lahan Kalteng, misalnya, telah dikuasai oleh Perusahaan Besar Swasta (liha: Harian Tabengan, Palangka Raya, 18 Oktober 2010; Purwo Santoso dan Cornelis Lay,ed., 2009: 69-70). Secara ekonomi, Kalteng hanyalah berperan sebagai daerah usaha, daerah eksploitasi  bahan mentah, bukan daerah pengolahan bahan mentah yang dimilikinya. Bahkan padi diolah di provinsi lain lalu dimasukkan kembali ke Kalteng dengan harga mahal. Sayur-mayur,  kambing, sapi, roti banyak tergantung pada daerah luar. Sampai gelombang Laut Jawa turut mempermainkan kita. Kalteng hanya menjadi sumber bahan mentah yang kaya, sumber tenaga kerja yang murah, jadi pasar bagi produk daerah lain. Ciri-ciri yang dimiliki oleh daerah koloni. Situasi sosial-ekonomi begini tidak akan terjadi jika tidak peran pemangku kekuasan. Oleh runyamnya keadaan sosial-ekonomi-politik, Kalteng menjadi daerah yang bersiko sangat tinggi . Masyarakat lapisan bawah yang lemah di hadapan negara, dan PBS melakukan perlawanan spontan sporadik. Masyarakat Adat dan pemimpin-pemimpinnya tidak sedikit yang terkontimninasi. Sesuai dengan keadaan sosial-ekonomi dan politik demikian budaya ghetto berdominasi. Keadaan masyarakat Kalimantan dan Dayak yang beginilah yang dihadapi oleh MADN dan Kongres I-nya. Arti keberadaan MADN terutama terletak apakah ia mampu menjawab tantangan ini secara nyata, ataukah ia juga menjadi sebuah organisasi yang loyo oleh kontaminasi  neo-liberal serta budaya atau tataran nilai kapitalistik dan kolonial. Untuk mampu menjawab tantangan keterpurukan begini, masalahnya terletak pada pertanyaan: Apakah MADN mampu mewujudkan diri sebagai organisasi perjuangan. Sebab mengentas keterpurukan tidak lain dari berjuang. Perjuangan habis-habis an selain memerlukan keberanian juga menuntut kepintaran kemudian keberanian dan kepandaian menang. Untuk memastikan kemantapan perjuangan yang dilakukan dengan berani dan pandai, adalah suatu keniscayaan menetapkan sandaran kekuatan induk, sekutu dan sasaran. MADN yang elitis dan amatiran, apalagi hanya memajangkan deretan nama bergelar tidak bekerja, tidak akan bisa diharapkan apa-apa untuk mewujudkan mimpi hidup berharkat dan bermartabat. MADN akan berdaya, kata-katanya mempunyai daya paksa jika ia menyatu dengan badai topan perjuangan mayoritas masyarakat, terutama MA Dayak seperti yang pada tahun 1919, dilakukan oleh Sjarikat Dajak dan Pakat Dajak. Kongres MADN I ini oleh keadaan politik, social, ekonomi dan budaya aktual menjadi sebuah Kongres ‘point of no return’ MA Dayak yang bangkit, lahir kembali, ‘’take off’’ jika menggunakan istilah A. Teras Narang,  ataukah binasa. Sporadisme  tidak akan membuat kebangkitan (renaisans) atau take off. Dahulu Orang Dayak menyebut diri sebagai Utus Panarung dengan kecerdikan Sangumang (lihat:A.F. Nahan, 2010),kegagah-beranian Panimba Tasik, Panetek Gunng. Sekarang masihkah mereka itu turunan Utus Panarung atau kah Babuhan Jipen (Warga Budak) Kekinian? Jawaban nyata MADN, Gerakan Pemuda Dayak dan organisasi-organisasi Dayak lainnya akan nyata pula diperlihatkan oleh waktu. Waktulah yang akhirnya memberi angka merah biru pada mereka.***

 

KUSNI SULANG, Anggota Lembaga Kebudayaan Dayak Palangka Raya (LKD-PR).

About these ads

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 59 other followers

%d bloggers like this: