Bangga Berbahasa Indonesia

 



2010-10-25

Bangga Berbahasa IndonesiaSemangat Sumpah Pemuda (1)

Bahasa menunjukkan bangsa. Lewat peribahasa ini, para leluhur kita menyatakan bahwa keadaban sebuah bangsa ditentukan oleh bahasa. Lewat bahasa, orang dapat mengetahui tingkat peradaban sese- orang. Lewat bahasa, orang dapat mengetahui tingkat peradaban sebuah bangsa. Bangsa yang tidak memiliki bahasa dianggap tidak memiliki peradaban.
Bangsa yang tidak memiliki bahasa sendiri tak akan mampu melestarikan nilai- nilai luhur warisan leluhurnya yang bermanfaat untuk menghadapi persaingan global yang semakin keras pada masa mendatang.
Atas dasar pemikiran inilah anak-anak muda pada 28 Oktober 1928 berkumpul di Jakarta untuk mengucapkan Soempah Pemoeda. “… Kami putra-putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.” Bahasa Indonesia dipilih menjadi bahasa persatuan, bukan bahasa Inggris yang sudah menjadi bahasa internasional, bukan pula bahasa Jawa yang dipakai sebagian besar penduduk Indonesia.
Bahasa Melayu terpilih menjadi bahasa nasional karena setidaknya tiga hal. Bahasa Melayu saat itu sudah menjadi lingua franca, bahasa pergaulan, dan perdagangan se-Nusantara. Bahasa Melayu sangat demokratis karena tidak memiliki strata.
Bahasa Melayu sangat adaptif terhadap perkembangan. Kosakata bahasa Melayu terus tumbuh. Menyerap unsur bahasa daerah dan bahasa internasional.
Kini bahasa Indonesia sudah menjadi bahasa nomor tujuh terbesar di dunia, setelah bahasa Mandarin, Inggris, Hindi, Spanyol, Arab, dan Rusia. Jika Malaysia, Singapura, Brunei, Thailand, dan Timor Timur juga dihitung, pemakai bahasa Indonesia cukup besar.
Dengan jumlah pemakai bahasa yang cukup besar ini, bangsa Indonesia tak perlu minder menggunakan bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia bahkan berpotensi menjadi bahasa dunia.
Sekarang banyak negara mempelajari bahasa Indonesia. Bahkan sejak 2007, Vietnam sudah menetapkan bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi kedua.
Namun sayangnya, belakangan ini bahasa Indonesia terkesan dinomorduakan di negeri sendiri. Orang Indonesia makin hari makin tidak bangga dengan bahasanya sendiri. Entah apa penyebabnya, makin banyak orang yang kini merasa bangga bila bisa menyelipkan istilah bahasa asing, khususnya Inggris, saat berkomunikasi. Mereka merasa hebat bila bisa berkomunikasi dalam bahasa Inggris.
Contoh nyata bisa dilihat pada aksi sejumlah penyiar televisi, radio, serta wartawan, yang kerap berbicara dan menyisipkan kata-kata bahasa Inggris dalam siaran atau tulisannya. Reklame luar ruang dan iklan di media massa juga kerap mencam- puradukkan kata-kata asing dengan kosakata bahasa Indonesia.
Para pejabat negara dan elite politik pun tak lupa mengutip kata atau istilah asing saat berpidato di hadapan rakyat. Bahkan, dalam seminar nasional dan rapat-rapat perusahaan, bahasa Inggris menjadi yang utama. Padahal kalau mau ditelisik, kata atau istilah asing itu sudah ada padanannya dalam bahasa Indonesia.
Dalam pandangan Rektor Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, Sunaryo Kartadinata , banyaknya kata-kata atau kalimat asing yang bertebaran di ruang publik menunjukkan rasa ketidakpercayaan diri dalam menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional. Apabila ketidakpercayaan diri ini dibiarkan berlarut-larut, bahasa Indonesia akan semakin ditinggalkan penuturnya.
“Padahal bahasa ini merupakan bagian dari jati diri bangsa,” tegasnya.
Menurutnya, penggunaan bahasa merefleksikan kepercayaan diri seseorang. Dia memberi contoh, orang-orang Jepang meski mahir berbahasa Inggris, tetap menggunakan bahasanya sendiri saat berbicara di forum-forum resmi. “Bukan karena tidak bisa, tetapi mereka bangga dengan bahasanya,” tutur Sunaryo.
Terkait kenyataan tersebut, dia menyatakan bahasa Indonesia belum berfungsi menunjukkan jati diri bangsa, apalagi menjadi kebanggaan nasional. “Saya kira masih perlu pembinaan dan proses yang kuat,” ujarnya.
Untuk mewujudkan hal tersebut, Sunaryo meminta seluruh komponen bangsa bersedia dan berupaya menggunakan bahasa Indonesia secara baik dan benar. Dia juga berharap para pejabat, politisi, dan kalangan yang banyak mendapatkan sorotan publik, bisa memberi contoh kepada masyarakat dengan menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. “Keteladanan itu penting. Tidak perlu memaksakan diri berbahasa yang sulit-sulit. Yang penting saat menyampaikan gagasan itu harus dengan bahasa yang komunikatif, baik itu secara lisan atau tulisan,” katanya.
Pemerintah juga bisa meningkatkan daya tawar bahasa Indonesia di mata internasional dengan membuka hubungan kebudayaan dengan negara-negara lain. Sunaryo memberi contoh pembukaan pusat kebudayaan asing yang ada di Indonesia, biasanya disertai dengan kursus bahasa negara yang bersangkutan. “Kita bisa saja membangun atau mengembangkan pusat kebudayaan. Jadi jangan hanya kita yang harus belajar bahasa asing kalau sekolah ke luar negeri, tapi mereka (orang asing, Red) juga harus belajar bahasa saat datang ke sini,” ungkapnya.
Beragam kebudayaan Indonesia, sambung Sunaryo, bisa menjadi daya tarik bagi orang asing untuk mempelajari bahasa Indonesia. Konsep ini berbeda dengan perkembangan bahasa Mandarin yang berkembang seiring dengan ekspansi perdagangan Tiongkok di dunia. “Kalau sudah banyak penuturnya, saya kira tidak tertutup kemungkinan bahasa Indonesia menjadi bahasa pergaulan dunia,” katanya.
Senada dengannya, cendekiawan Syafii Ma’arif melihat penggunaan bahasa Indonesia yang benar dan baik oleh para pejabat pemerintah maupun elite politik, bukannya semakin membaik, tapi sebaliknya dari hari ke hari makin memprihatinkan. Bahasa Indonesia dicampur aduk dengan bahasa asing, yang membuat masyarakat menjadi semakin tak mengerti. Sementara para elite pun terkesan bangga menggunakan bahasa asing.
Para elite tak percaya diri untuk berkomunikasi dengan bahasa bangsanya sendiri. Misalnya, untuk mengucapkan atau menjelaskan sesuatu, selalu saja harus mengutip bahasa asing, padahal ada padanannya dalam bahasa Indonesia yang bisa lebih mudah dan dicerna masyarakat. Kalau kata atau kalimat yang hendak disampaikan sama sekali belum diterjemahkan, penggunaan bahasa asing bisa dimaklumi. “Ada gejala sindrom kurang percaya diri para elite kita. Kepribadian mereka belum kokoh,” kata mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah ini.
Menurut Ma’arif, salah satu penyebab para elite suka mengutip bahasa asing, karena pengetahuan atau referensinya tentang bahasa Indonesia tak cukup. Selain itu, jiwa dan semangat nasionalisme mereka juga masih kurang.
Ia mencontohkan, masyarakat Irlandia yang sangat mencintai bahasa resmi negaranya. Mereka yakin bahasa resmi negaranya menunjukkan identitas rakyat dan bangsanya. “Kita mesti menuju ke sana, karena itu pendidikan kepada seluruh anak bangsa, termasuk para elite, untuk mencintai bahasa bangsanya harus terus ditingkatkan,” tegasnya.
Terkait hal itu, Pelaksana Tugas Kepala Pusat Bahasa, Agus Dharma, mengakui sekarang ini ada euforia berbahasa asing, seperti di sekolah, perguruan tinggi, dan lingkungan perusahaan. Euforia itu menunjukkan sikap yang mengabaikan bahasa sendiri.
Untuk itu, pihaknya mendorong lahirnya sertifikasi kompetensi berbahasa Indonesia. Dalam era pasar bebas seperti saat ini, ada kebutuhan sertifikasi berbahasa Indonesia. Di dunia pendidikan, para pendidik dan tenaga kependidikan harus mahir berbahasa Indonesia untuk menjamin mutu penggunaan bahasa Indonesia. Komunikasi dengan bahasa Indonesia di dunia kerja juga harus semakin ditingkatkan. Pekerja asing juga harus meningkatkan kemampuan berbahasa Indonesia, karena mereka akan melakukan transfer keahlian dan teknologi.
“Banyak tenaga kerja asing yang direkrut bekerja di Indonesia tanpa mampu berkomunikasi dengan bahasa Indonesia. Oleh karena itu, Pusat Bahasa mengusulkan sertifikasi kompetensi tenaga kerja asing dengan memasukkan sistem Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia (UKBI), seperti TOEFL. Tak hanya tenaga kerja asing, guru dan dosen pun wajib memiliki sertifikat UKBI. Agenda sertifikasi UKBI perlu dibarengi dengan kegiatan penggalakan penggunaan bahasa Indonesia di berbagai sektor kehidupan masyarakat,” kata Agus.
Sementara itu, Menteri Pendidikan Nasional, Mohammad Nuh menegaskan dalam UU 24/2009 tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara, serta Lagu Kebangsaan, antara lain disebutkan bahasa Indonesia adalah bahasa resmi nasional yang digunakan di seluruh wilayah Indonesia. Bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi kenegaraan, sehingga presiden, wakil presiden, dan pejabat negara wajib menggunakan bahasa Indonesia.
“UU itu juga mewajibkan dalam acara resmi atau kenegaraan, Presiden, Wapres, menteri atau pejabat negara harus memakai bahasa Indonesia. Tidak boleh menggunakan non-bahasa Indonesia,” tegasnya. [153/J-11/D-11]

About these ads

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 57 other followers

%d bloggers like this: