Bahasa Indonesia, Bahasa Ilmu (2)

http://www.suarapembaruan.com/index.php?modul=news&detail=true&id=27614
2010-10-26

Bahasa Indonesia, Bahasa Ilmu

Semangat Sumpah Pemuda (2)

Kekayaan kosakata yang dimiliki bahasa Indonesia membuatnya mampu digunakan untuk menuangkan berbagai pemikiran dalam bentuk lisan maupun tulisan. Kamus Besar Bahasa Indonesia memiliki 90.000 lema dan sublema dan masih ditambah dengan 410.000 istilah yang diserap dari bahasa asing, membuat bahasa Indonesia telah menjadi bahasa ilmu.
Apalagi, bahasa Indonesia telah digunakan dalam proses transfer ilmu pengetahuan di berbagai jenjang pendidikan serta digunakan untuk menulis, karya ilmiah, seperti skripsi, tesis, dan disertasi. Meski demikian, masih ditemukan akademisi yang lebih suka menggunakan bahasa asing dalam bahasa lisan dan tulisan, meski telah ada padanannya dalam bahasa Indonesia.
Demikian rangkuman pendapat yang dihimpun SP dari peneliti Pusat Bahasa, Dendy Sugono, pakar bahasa Indonesia Prof Dr H Suparno, Kepala Pusat Bahasa Universitas Nusa Cendana Kupang Godlief Vertigo, dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia, Asep Sambodja, dan peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Imelda.
Menurut Dendy, cerminan bahasa Indonesia telah menjadi bahasa ilmu terlihat pada berbagai karya tulis ilmiah. Para mahasiswa dan dosen telah menggunakan bahasa Indonesia untuk menuangkan pemikirannya, meski belum menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar.
“Pusat Bahasa telah mengembangkan peristilahan dalam bahasa Indonesia. Sekarang yang terpenting adalah memasyarakatkan atau mempopulerkannya agar dunia pendidikan tinggi menggunakannya,” katanya.
Untuk lebih memasyarakatkan bahasa Indonesia sebagai bahasa ilmu, guru bahasa Indonesia memiliki peran yang sangat penting. Mereka harus terus mendorong para pelajar membaca tulisan secara detail dan menangkap isinya secara keseluruhan, sehingga lebih cepat mempelajari ilmu di bangku sekolah.
Senada dengannya, Suparno menegaskan bahasa Indonesia sebagai bahasa ilmu sudah mengalami kemajuan yang pesat. Sebelum kemerdekaan, sudah banyak naskah ilmiah yang ditulis dalam bahasa Indonesia, kendati saat itu belum ditetapkan secara yuridis formal sebagai bahasa nasional. “Kita melihat teks-teks Melayu sudah masuk domain ilmu, bahkan lebih mencolok lagi setelah bahasa Indonesia menjadi bahasa resmi negara,” ujar Rektor Universitas Negeri Malang ini.
Bahasa ilmu, lanjutnya, adalah bahasa yang harus memiliki terminologi teknis, memiliki kemampuan sebagai pengungkap gagasan ilmiah yang mantiki atau sesuai logika-logika keilmuan, serta bahasa yang memiliki ragam teknis pada setiap bidang ilmu yang dilengkapi dengan ejaan dan tanda baca yang baku bagi para ilmuwan.
“Sudah sangat jelas, sebagai bahasa nasional dan bahasa resmi, fungsi bahasa Indonesia sebagai bahasa ilmu mendapatkan posisi legal formal. Bahasa Indonesia telah menjadi bahasa pengantar dunia pendidikan, yang mengajarkan tentang aneka ilmu pengetahuan,” tegasnya.
Kecanggihan bahasa Indonesia sebagai bahasa ilmu dapat dibuktikan penggunaannya pada level kecanggihan mana pun, sehingga bahasa Indonesia setara dengan bahasa-bahasa ilmu lainnya, termasuk bahasa Inggris. “Ini dapat dibuktikan dengan penggunaan bahasa Indonesia untuk menyusun dan mempertahankan disertasi sebagai derajat pendidikan tertinggi di lembaga perguruan tinggi. Kita tidak keliru jika kemudian sangat percaya diri dengan menggunakan bahasa nasional, bahasa Indonesia sebagai bahasa ilmu,” tegasnya.
Dalam perjalanannya, bahasa Indonesia menjadi semakin kokoh kapasitas dan kualitasnya. Terminologinya sudah dikembangkan secara luar biasa, sehingga setiap bidang ilmu sudah ada kamusnya masing-masing. Dalam berbagai paparan ilmiah, ilmuwan sudah menggunakan bahasa Indonesia.
Jika ada ilmuwan yang mengaku sulit menuliskan segala hal yang ilmiah dengan bahasa Indonesia, hal itu menunjukkan bahwa kekurangan sebenarnya terletak pada kemampuannya menguasai kosakata bahasa Indonesia.
Hal yang sama disampaikan Godlief Vertigo. Menurutnya, bahasa Indonesia saat ini telah menjadi bahasa ilmu karena sudah banyak buku ilmu pengetahuan maupun hasil penelitian yang ditulis dalam bahasa Indonesia.
Selain itu, pada semua jenjang pendidikan mulai SD hingga perguruan tinggi, bahasa Indonesia digunakan sebagai bahasa pengantar.

Kontekstual
Sementara itu, dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia Asep Sambodja menjelaskan Bahasa Indonesia telah menjadi bahasa ilmu, ter- utama dalam ilmu-ilmu sosial. Kekayaan budaya yang dimiliki oleh berbagai bangsa dan etnik di Indonesia bisa terjelaskan dengan baik apabila menggunakan bahasa Indonesia. Di sinilah Bahasa Indonesia tampil sebagai bahasa ilmu.
Syarat bahasa Indonesia bisa menjadi bahasa ilmu adalah ketika berfungsi menyampaikan ilmu pengetahuan dengan mudah. Dengan kata lain, ilmu tentang apa pun jika disampaikan dengan bahasa Indonesia dan bisa dipahami, maka bahasa Indonesia telah sah menjadi bahasa ilmu.
“Di dalam kelas yang diperlukan adalah bahasa yang komunikatif. Artinya bahasa yang digunakan sangat kontekstual. Karena itu, bahasa yang digunakan dalam buku harus akurat, tidak ambigu, dan bisa dimengerti. Bahasa yang tertulis dalam buku inilah yang akan menjadi jejak bagi bahasa Indonesia sebagai bahasa ilmu,” katanya.
Sedangkan, peneliti Pusat Penelitian Masyarakat dan Budaya LIPI, Imelda menilai sejauh ini bahasa Indonesia belum menjadi bahasa ilmu dalam arti yang serius. “Karena kalau kita lihat di perguruan tinggi, Bahasa Inggris lebih merajai. ini karena buku-buku yang kebanyakan menjadi rujukan ialah bahasa asing. Wajar saja, karena selain bahasa itu sumber ilmu, juga dosennya, barangkali belajar di negeri asing itu,” ungkapnya.
Baginya, bahasa Indonesia masih menjadi sekadar alat pengantar ilmu dalam proses belajar-mengajar. Salah satu indikator bahasa Indonesia menjadi sekadar alat pengantar ilmu ialah penggunaan kata-kata serapan yang melimpah saat proses belajar-mengajar atau diskusi.
Pada kesempatan itu, Imelda mengemukakan sejumlah syarat untuk menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa ilmu, yakni bangga berbahasa Indonesia, menggunakan bahasa Indonesia untuk menerjemahkan buku-buku asing, memperbanyak padanan kata asing, serta mengembangkan bidang keilmuan yang khas Indonesia. Pemenuhan berbagai syarat itu diharapkan mampu mengukuhkan bahasa Indonesia sebagai bahasa ilmu. [D-11/070/120/D-13/R-15]

About these ads

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 55 other followers

%d bloggers like this: