BAHASA DAERAH TERANCAM PUNAH

http://www.kompas. com/read/ xml/2008/ 08/11/21544654/ 169.bahasa. daerah.terancam. punah
BAHASA DAERAH TERANCAM PUNAH
JAKARTA, SENIN – Perkembangan bahasa daerah dewasa ini mencemaskan.
Dari 742 bahasa daerah di Indonesia, hanya 13 bahasa yang penuturnya
di atas satu juta orang. Artinya, terdapat 729 bahasa daerah lainnya
yang berpenutur di bawah satu juga orang. Di antara 729 bahasa daerah,
169 di antaranya terancam punah, karena berpenutur kurang dari 500 orang.

Agar tidak punah, maka preservasi dan pemberdayaan terhadap berbagai
bahasa daerah di seluruh Indonesia serta pengembangan bahasa
Indonesia, perlu dilakukan secara serius, terus menerus, dan
kesinambungan. Hal itu diungkapkan Multamia RMT Lauder dari Departemen
Linguistik, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia,
dalam seminar Empowering Local Language Through ICT yang digelar
Departemen Komunikasi dan Informatika, Senin (11/8) di Jakarta.

Bahasa-bahasa yang tercancam punah itu tersebar di wilayah Sumatera,
Sulawesi, Kalimantan, Maluku, dan Papua. Antara lain bahasa Lom
(Sumatera) hanya 50 penutur. Di Sulawesi bahasa Budong-budong 70
penutur, Dampal 90 penutur, Bahonsuai 200 penutur, Baras 250 penutur.
Di Kalimantan bahasa Lengilu 10 penutur, Punan Merah 137 penutur,
Kareho Uheng 200 penutur. Wilayah Maluku bahasa Hukumina satu penutur,
Kayeli tiga penutur, Nakaela lima penutur, Hoti 10 penutur, Hulung 10
penutur, Kamarian 10 penutur, dan bahasa Salas 50 penutur. Di Papua
bahasa Mapia satu penutur, Tandia dua penutur, Bonerif empat penutur,
dan bahasa Saponi 10 penutur.

Multamia menjelaskan, pada umumnya bahasa daerah yang jumlah
penurutnya sedikit cenderung merupakan bahasa yang tidak mempunyai
tulisan. Dengan demikian, tradisi lisan yang berkembang pada
bahasa-bahasa minoritas ini jika tidak segera didokumentasikan maka
akan sangat sulit untuk mempertahankan eksistensi mereka.

Ahli linguistik ini berpendapat, langkah awal untuk melakukan
antisipasi adalah mendaftarkan bahasa-bahasa yang jumlahnya penuturnya
sedikit. Bahasa yang dapat dikategorikan sebagai bahasa yang
berpenutur sedikit namun masih mempunyai potensi untuk hidup,
sebenarnya adalah bahasa-bahasa yang penutur sekurang-kurangnya 1.000
orang. ” Oleh karena itu, sebagai langkah awal diinterpretasikan
bahasa-bahasa yang jumlah penuturnya 500 orang atau kurang, dapat
dikategorikan sebagai bahasa yang cenderung dianggap memasuki ambang
proses berpotensi terancam punah,” tandas Multamia.

Ia berpendapat, harus ada kemauan dari pihak pemerintah dan masyarakat
penuturnya untuk menyelamatkan bahasa-bahasa yang terancam punah itu
mengingat daya saingnya lemah, sehingga sulit bersaing dengan
bahasa-bahasa daerah yang besar. Belum lagi tuntutan untuk mampu
bersaing dengan bahasa Indonesia yang berstatus sebagai bahasa
nasional. “Ada baiknya bahasa daerah yang terancam punah itu diolah
menjadi buku dan mulai diajarkan sebagai materi ajar muatan lokal.
Dengan demikian sedikit-demi sedikit, bahasa dan budaya yang terancam
punah itu mulai dikenal lagi oleh generasi muda,” papar Multamia. ***

About these ads

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 49 other followers

%d bloggers like this: