MIKROSKOP

Jurnal Toddoppuli
Cerita Untuk Andriani S. Kusni & Anak-Anakku

Segah, nama lelaki muda  kurus, dengan mata menyorotkan kelembutan hati. Saya mengenalnya sudah hampir setahun. Dan menjadi kian akrab sejak kami bersama-sama  melakukan kegiatan penetelian sosial. Untuk membeayai kuliahnya di Universitas Palangka Raya (Unpar), Fakultas Biologi, keadaan ekonomi orangtuanya yang lemah, memaksanya harus kulah sambil bekerja. Barangkali untuk anak-anak Dayak angkatan sekarang, hal begini tidak jamak. Tapi ketika Kalteng baru-baru saja berdiri sebagai sebuah provinsi, belajar sambil bekerja merupakan hal yang tidak asing. Banyak yang melakukannya. Untuk menuju ke sekolah, orang-orang angkatan saya, tidak sedikit yang harus berjalan kaki berkilo-kilometer. Keadaan begini, menanamkan tekad di dalam hati. Semangat “masi arep ah” (menyayangi diri sendiri) tumbuh, bersamaan dengan kesadaran:  “beginilah keadaan kampung halaman yang harus dibangun”. Sadar akan keadaan tertinggal, serba tidak ada, maka para pendiri Kalteng, tanpa menunggu adanya barisan sarjana S2 atau S3, tanpa adanya Profesor Doktor, agar kepahitan, keterbelakangan demikian, tidak menerpa anak-cucu, termasuk yang pertama-tama mereka  bangun adalah Universitas Palangka Raya (Unpar). Diharapkan oleh para pendahulu itu , bahwa Unpa menjadi ‘Otak Dayak’, ‘Otak Kalimantan’.  Dengan berdirinya Unpar,  anak-anak muda Kalteng, terutama Uluh Itah, bisa tidak sulit lagi mendapatkan tempat bersekolah. Bukan hanya kemudahan mendapatkan perguruan tinggi yang tersedia dengan berdirinya Unpar. Dari Unpar pula lahir barisan cendekiawan Kalteng. Mulai dari Unpar , tidak sedikit anak-anak Kalteng bisa meraih jenjang-jenang akademi seperti S2, S3 bahkan mendapat gelar Profesor Doktor. Gelar-gelear akademi mereka bahkan bisa menandingi panjang nama diri pribadi mereka. Tapi apakah barisan cendekiawan Kalteng, baik yang di Unpar ataupun perguruan-perguruan tinggi lainnya, sudah menjawab harapan para pendiri Kalteng agar perguruan tinggi bisa menjadi Otak Dayak, Otak Kalimantan? Barangkali salah satu indikatornya bisa dilihat apa sumbangan sosial alumni perguruan-perguruan  tinggi itu. Sebab sari dari harapan para pendahulu itu adalah bagaimana ilmu yang didapat bisa disumbangkan demi kemajuan masyarakat, demi memanusiawikan diri sendiri, kehidupan dan masyarakat. Bukan dipajang untuk menggagahi orang lain, atau dipamerkan. Bagaimana ilmu yang didapat itu bisa dijadikan sebagai salah satu pembantu memecahkan masalah dan memajukan masyarakat sehingga ketertinggalan, kebodohan, keterasingan, keterbelakangan, kemiskinan, kepapaan berada jauh di belakang dan sebagian menjadi kisah silam. Pertanyaan ini diajukan karena predikat negatif ini nampak masih berada di hadapan Uluh Kalteng sampai hari ini. Demikian pertanyaan umum. Secara khusus, media cetak Palangka Raya, sering kit abaca tentang  pungutan tidak semestinya terhadap mahasiswa-mahasiswi, beasiswa disunat, uang makan dosen dipotong, sepinya dan tidak berartinya perpustakaan universitas dengan sekitar 12.000 mahasiswa, harga pembuatan skripsi, dan lain-lain, Perihal pembuatan skripsi (saya sendiri pernah diminta tolong oleh keluarga seorang mahssiswa, tapi saya tolak betapapun saya memerlukan uang),  kiranya tidak patut diteruskan. Sebab ia hanya menipu diri kita sendiri. Tidak punya arti bagi pemberdayaan dan pembangunan Kalteng. Tidak akan membuat Kalteng dan Uluh Kalteng, menjadi UlihKalteng dan Kalteng Bermutu. Gelar akademi aspal (asli tapi palsu) tidak mampu membuat perguruan tinggi kita menjadi Otak Dayak atau Otak Kalteng.Perkembangan Unpar juga tercermin dari kisah Segah tentang Fakultasnya. Fakultas Biologi memerlukan sarana berupa mikroskop. Mikroskop itu memang ada di Fakultas. Tapi untuk 30an orang mahasiswa-mahasiswi di tingkatnya hanya tersedia dua mikroskop tua. Dipakai dari tahun ke tahun tanpa penggantian apalagi penambahan. Untuk mengatasi kekurangan ini, maka secara berprakarsa mengumpulkan uang masing-masing Rp.200-Rp.300 ,- ribu per orang agar bisa mendapatkan mikroskop  yang sangat diperlukan dalam belajar dan praktek. Keadaan yang dialami oleh Fakultas Biologi Unpar menjadi sangat kontras dengan kelengkapan SMP Negeri VI di Makassar, Sul awesi Selatan yang pada 1990an dipimpin oleh Ranreng Pateha, seorang Soekarnois lulusan Perang Kemerdekaan. Pada tahun itu, SMP Negeri VI untuk 30an siswanya  menyediakan 30 unit mikroskop.  Saya tidak tahu, apakah dana tersedia dan yang dipunyai oleh SMP Negeri VI Makassar ini jauh lebih besar dari dana yang dimiliki oleh Unpar? Hanya secara logis, kiranya mustahil dana SMP Negeri VI Makassar ini jauh lebih besar dari dana yang dipunyai Unpar. Kalau demikian  bagaimana dana Unpar digunakan, sehingga memperbaharui dan  menambah jumlah unit mikroskop saja tidak mampu? Pertanyaan begini lebih berhak diajukan apabila merujuk pada UU No.14 Tahun 2008 Tentang Keterbukaan Informasi Publik. Ataukah Unpar masuk kategori bebas dari ketentuan UU No.14/Tahun 2008 ini? Oleh keadaan demikian, Segah sangat yakin, bahwa tidak sedikit mahasiswa-mahasiswi yang tidak pernah menggunakan mikroskop. Sarana yang kurang akan mempengaruhi mutu pengajaran. Mutu yang pas-pasan, akan sumber daya manusia yang pas-pasan juga. Jika dihubungkan dengan masalah “daya saing” lulusan universitas, bagaimana Uluh Kalteng bisa bersaing dengan orang lain, jika mutu yang dihasilkan oleh perguruan tinggi Kalteng hanya pas-pasan? Mutu inipun agaknya bisa disimak melalui hasil-hasil penelitian dan skripsi yang dibuat di Unpar. (Sebagian bisa didapat di Perpustakaan Daerah). Penelitian, niscayanya disiarkan dalam Majalah Ilmiah Universitas. Universitas-universitas negeri dan swasta penting di negeri ini semua memiliki penerbitan  akademi. Sampai sekarang, agaknya Unpar termasuk kekecualian dari hal yang umum demikian. Jika hal ini dijadikan indikator maka nampak bahwa Unpar pun masih belum memenuhi standar yang ditetapkan para pendiri provinsi ini. Menggunakan standard yang ditetapkan para pendahulu ini juga patut dipertanyakan apa yang telah dilakukan Unpar terhadap pemeliharaan dan pengembangan bahasa, sastra dan budaya Dayak. Penghapusan “daerah” dari “bahasa dan sastra Indonesia dan daerah” dari FKIP hanya bisa dipahami sebagai ketiadaan prakarsa pengelola. Penghapusan kata “daerah” hanya bisa menunjukkan ketidakberdayaan. Yang lebih meggelikan usulan agar jurusan atau bagian bahasa dan budaya Dayak dihidupkan kembali, telah ditampik sebagai “omong kosong” oleh sementara pengajar kunci di FKIP. Alasannya Kalteng tidak mempunyai barisan doktor atau S2 yang mampu menunjang usulan tersebut. Dosen ini agaknya lupa bahwa Republik Indonesia dan juga provinsi Kalteng tidak dibangun dengan tersedianya barisan sarjana setingkat doctor, ataupun S2.  Pandangan dan sikap mau terima jadi ini pun sebuah bentuk mikroskop guna melihat Unpar. Dengan menggunakan mikroskop seperti di atas, agaknya di Unpar ada sesuatu yang “busuk” yang perlu ditata ulang. Menggunakan kata-kata Shakespeare: “There is something rotten in the State of Denmark’’. Dan ‘’Denmark’’ itu di sini adalah Unpar. Barangkali demikian.***

KUSNI SULANG, Anggota Lembaga Keudayaan Dayak Palangka Raya (LKD-PR).

About these ads

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 54 other followers

%d bloggers like this: