TEORI-TEORI SASTRA BAGI GURU BAHASA DAN SASTRA INDONESIA *
BAGI GURU BAHASA DAN SASTRA INDONESIA *
Karya sastra bersifat multiinterpretable. Oleh karena itu, penafsiran makna sebuah karya sastra oleh para pembacanya melibatkan berbagai strategi dan pendekatan yang multiinterpretable pula sesuai latar belakang pembaca atas suatu pesan dalam suatu karya sastra yang memiliki konvensi kebahasaan dan kesastraan tersendiri bagi sebuah ilmu.
Masalah penafsiran dalam menggeluti karya sastra adalah masalah dasar dalam khasanah teori dan kritik sastra. Kehadiran berbagai pendekatan untuk pemahaman karya sastra seperti Semiotik; Strukturalisme; Sosiologi Sastra; Estetika Resepsi; Fenomenologi; Hermeunetik, dan sebagainya dapat membantu juru tafsir untuk menelaah dan menafsirkan arti/makna karya sastra.
A Teeuw dalam buku Sastra dan Ilmu Sastra (1984:43) menelaaah berbagai pendekatan dalam apresiasi sastra uintuk memahami karya sastra,” Sastra sebagai model semiotik tidak dapat diteliti dan dipahami secara ilmiah tanpa mengikutsertakan aspek kemasyarakatannya, yakni sebagai tindak komunikasi.” Ia menyebut berbagai model pendekatan dalam mengapresiasi karya sastra sehingga turut memperkuat fakta bahwa karya sastra merupakan sesuatu yang kaya akan makna, sehingga tidak mudah didekati hanya dengan satu pendekatan saja.
Beberapa pendekatan yang dibutuhkan dalam apresiasi sastra seperti yang
dijelaskan Teeuw untuk para pembaca di antaranya yang sudah dikembangkan Umar Junus dalam pendekatan Pragmatik adalah pendekatan Resepsi sastra dari teori Iser (pembaca implisit) dan Hans Robert Jauss (horison harapan).Jauss menitikberatkan perhatiannya kepada bagaimana karya sastra diterima pada suatu masa tertentu berdasarkan horison penerimaan tertentu atau berdasarkan horison yang diharapkan. Karya sastra dapat hidup jika pembaca berpartisipasi dan dengan partisipasi pembaca itu, konteks sejarah terciptanya karya sastra bukan merupakan sesuatu yang faktual, tetapi hanya merupakan rangkaian peristiwa yang berdiri sendiri yang ujudnya terpisah dari embaca. Karya yang telah dipahami pembaca menjadi modal bagi resepsi. Proses resepsi menjadi perluasan semiotik yang timbul dalam
pengembangan dan perbaikan suatu sistem. Horison penerimaan mungkin
berubah (bahkan berkali-kali).
Selanjutnya Jauss menyatakan bahwa pendekatannya bersifat parsial, tidak menyeluruh karena hanya melakukan hubungan hari ini dengan “virtue” sejarah. Resepsi hanya berklaitan dengan saat karya itu dibaca sehingga terdapat konvergensi antara teks dan resepsi yang berupa dialog antara subjek hari ini dengan subjek masa lampau. Tradisi berperan penting dalam hal ini. Tradisi yang dimaksud adalah wawasan yang mendasari resepsi yang dilakukan pada saat tertentu.Jika resepsi Jauss mementingkan sejarah pada suatu saat tertentu, maka Resepsi Iser bertitik tolak pada kesan(sebenarnya pada tahap akhir teori Jauss juga disebut-sebut tentang kesan). Iser mempermasalahkan konkretisasi karya sastra, yakni reaksi pembaca terhadap teks yang diresepsi. Dalam resepsi Iser, terdapat dinamika pembaca. Ia akan memilih satu di antara berbagai kemungkinan realisasi, sehingga tugas kritikus dalam pandangan Iser bukan menerangkan teks sebagai objek, tetapi menerapkan efeknya kepada pembaca. Kodrat teks itulah yang mengizinkan beraneka ragam kemungkinan pembacaan, sehingga lahir pembaca implisit(pembaca yang diciptakan sendiri oleh teks dirinya dan menjadi jaringan kerja struktur yang mengundang jawaban, yang mempengaruhi kita untuk membaca dalam cara tertentu) dan pembaca nyata (yang menerima citra mental tertentu dalam proses pembacaan yang diwarnai oleh persediaan pengalaman yang ada). Dalam resepsi Iser, ada hubungan teks dan pembaca. Hubungan itu melalui tiga langkah, yakni 1. sketsa tentang suatu teks yang membedakan dengan teks-teks sebelumnya; 2. pengenalan dan analisis terhadap kesan dasar teks; dan 3. mencari kemungkinan yang ada tentang makna karya satra. Karya sastra selanjutnya memberi kesan kepada pembaca, sehingga teori Resepsi sastra Jauss dan Iser tampaknya mendapat pengaruh Hermeunetika dari Schleiermacher dan Gadamer.
Jika Jauss dan Iser berperan dalam resepsi sastra yang memberi kesan kepada pembaca, Edmund Husserl, seorang ahli filsafat modern terkenal dengan teori Fenomenologi-nya dalam kaitan antara karya sastra dengan pembacanya. Teori fenomenologi menuntut untuk menunjukkan kepada kita alam yang mengarisbawahi, baik kesadaran manusia maupun kesadaran fenomena.Teori ini adalah usaha untuk menghidupkan ide(setelah zaman Romantik) bahwa pikiran manusia individual adalah pusat dan asal semua arti. Teori ini tidak mendorong keterlibatan subjektif secara murni untuk struktur mental kritikus karena menggunakan berbagai lapis norma karya, tetapi tipe kritik sastra yang mencoba masuk ke dalam dunia karya seorang penulis dan sampai pada suatu pengertian tentang alam dasar atau intisari tulisan sebagaimanatampak dalam kesadaran kritikus.
Ahli satra lain, kritikus Amerika yang bernama Stanley Fish menyodorkan
teori Stilistika Efektif yang memusatkan penyesuaian harapan yang dibuat pembaca ketika membaca teks, tetapi ia lebih menekankan pada rangkaian kalimatnya. Fish berpendapat bahwa pembaca adalah seseorang yang memiliki kompetensi linguistik yang telah memasukan pengetahuan sintaktik dan semantik yang diperlukan untuk membaca selain penguasaan kompetensi sastra secara khusus(konvensi bahasa dan konvensi sastra). Namun,Jonathan Culler, salah seorang murid Fish justru selain mendukung juga memberikan kritik atas pendapat Fish karena ia dianggap gagal meneorikan konvensi-jkonvensi pembacaan, yaitu ia gagal mengajukan pertanyaan,”konvensi-konvensi apa yang diikuti pembaca?” Selain itu, ia dianggap gagal pada tuntutannya atas pembaca kalimat perkataan demi perkataan dalam suatu pengurutan waktu itu menyesatkan( tidak ada alasan mempercayai bahwa para pembaca secara nyata membaca kalimat dan memecahkannya serta melakukannya sedikit demi sedikit secara bertahap).
Selanjutnya Culler membuat teori pembacaan yang harus mengungkap operasi penafsiran yang dipergunakan pembaca karena pembaca yang berbeda akan menghasilkan tafsiran yang berbeda pula. Jadi, menurutnya bermacam-macam penafsiran inilah yang harus diterangkan sebuah teori meskipun hasil pembacaan akan berbeda artinya, walaupun mengikuti perangkat konvensi penafsiran yang sama. Dampaknya, Culler memberikan pendekatan yang mengizinkan suatu prospek sejati kemajuan teoritis. Sedangkan Fish memberikan metode yang berguna, tetapi menutup persoalan teori yang mendasar atau pendekatan Rifartere yang menghasilkan sebuah baju pengikat yang teoritis. Rifartere memberikan baju pengikat yang teoritis terutama pada bukunya Semiotics of Poetry(1978), yang di dalamnya ia mengatakan bahwa pembaca yang berkompeten melampaui arti permukaan. Ia penganut Formalis Rusia dalam memandang puisi sebagai sebuah penggunaan bahasa yang khusus. Menurutnya, diperlukan kompetensi linguistik biasa untuk memahami arti sebuah puisi, tetapi pembaca juga memerlukan kompetensi sastra untuk menghadapi ketidakgramatikalan yang sering dijumpai di dalam pembacaan sebuah sajak. Sehingga ia mengajukan matrik strutural/hipogram sebagai salah satu upaya pengujian sebuah sajak sebagai satu kesatuan.
pembacanya, misalnya teori ini tidak mengizinkan beberapa jenis pembacaan yang kita pikirkan sepenuhnya secara “lurus saja.Sedangkan ahli lain dari dunia psikologi, yakni Norman Holland dan David Bleich, yang telah menderevasi pendekatan teori pembacaan dari sisi psikologi, memandang bahwa pembacaan sebagai suatu proses yang memuaskan atau paling sedikit tergantung kepeda keperluan psikologis pembaca. Buku Kritik Sastra Subjektif(1978) karya David Bleich adalah satu bukti pendukung bahwa dalam pembacaan telah terjadi pergeseran dari paradigma objektif ke paradigma subjektif. Hal yang juga menjadi legitimasi atas teori khusus Norman Holland bahwa setiap anak menerima kesan”identitas pertama” dan orang dewasa menerima “identitas tema”.Artinya, ketika kita membaca suatu teks kita memprosesnya sesuai dengan tema identitas secara stabil. Jadi, kita mempergunakan karya sastra untuk melambangkan dan akhirnya meniru kita sendiri. Kita menyusun kembali karya itu untuk menemukan ciri strategi kita untuk menguasai ketakutan yang dalam dan keingintahuan yang membentuk kehidupan psikis kita.Ending
Teori yang berorientasi kepada pembaca, tidak mempunyai titik tolak filosofis yang tunggal atau utama. Para penulis teori di atas berasal dari tradisi pemikiran yang bermacam-macam. Jauss dan Iser serta Edmund Huserl tertarik pada Resepsi, Fenomenologi dan Hermeunetik dalam usahanya untuk menerangkan proses pembacaan dan hubungannya dengan kesadaran pembaca.
Mengapresiasi Sastra, Tingkat Nasional bagi Guru Bahasa dan Sastra Indonesia
Wilayah Jabar, tanggal 21 s.d. 25 September 2004 di Wisma Taruna, Jl.
Lengkong Besar Bandung. Kerjasama acara Depdiknas RI, Majalah Sastra
Horison, dan SMA 8 Bandung.** Penulis kini adalah Guru di SMAN 10 Bandung, selepas 10 tahun mengabdi di SMAN 1 Maja Kab Majalengka. Pernah bekerja sebagai jurnalis dan editor di Bandung, Jakarta, Jogjakarta. Mantan Pemimpin Umum Tabloid Jurnal Seni Budaya Kancah, Pemred Jurnal Seni Budaya Jendela Newsletter Bandung, Pendidikannya dari Diksatrasia FPBS IKIP Bandung dan Program Pascasarjana Jurusan Ilmu Sastra BKU-Filologi Unpad Bandung. Tulisanya berupa esai, artikel, esai, puisi, cerpen, kritik, resensi, terjemahan dll di muat di berbagai media massa lokal/nasional. Beberapa kali menjuarai lomba penulisan karya ilmiah/populer/sastra. Aktivis Yayasan Jendela Seni Bandung(YJSB). Tinggal di Jalan Sukapura 77 Rt 01 Rw 02 Kiaracondong Bandung 40285 Telp. (022) 7315622 Erwan_Juhara @Yahoo.Com. HP. 08122305043, 08156112110
Sumber:
redaksiaksara@yahoogroups.com] Im
Auftrag von manaek.sinaga@sumitomocorp.co.jp
Gesendet: Mittwoch, 15. Februar 2006 11:12
numpang ngopi artikelnya gan. Mau buat makalah. Salam kenal
selamat pak erwan,…jarang ada guru yg kreatif menulis.saya ingin comment juga novel karya saya sarkasme.
terima kasih informsiny pak…
Saya juga mau menjadi pnulis mohon petunjuknya pak…