Batik Kalteng & Masalah-Masalah Di Sekitarnya

Jurnal Toddoppuli

Cerita Untuk Andriani S.Kusnu & Anak-Anakku

(Sebuah Tanggapan Atas Tulisan ‘’Apa Kabar Batik Kalteng?)

Artikel ‘’Apa Kabar Batik Kalteng?” adalah sebuah artikel Neo Indra P, SIP SH (selanjutnya saya singkat Neo) yang diterbitkan oleh Harian Kalteng Pos, pada 9 Oktober 2010. Setelah membaca artikel Neo ini, pertanyaan yang muncul di benak saya adalah: Adakah dan apa-bagaimanakah yang disebut “Batik Kalteng” itu? Mengapa pertanyaan ini?. Waktu turut menghadiri Rapat Paripurna Istimewa DPRD Provinsi Kalimantan Tengah dalam rangka Pelantikan Gubernur dan Wakil Gubernur Kalimantan Tengah masa jabatan tahun 2010-2015 oleh Menteri Dalam Negeri ataas nama Presiden R.I, Rabu 4 Agustus 2010 lalu, saya  berada di tengah-tengah rombongan para Damang se-Kalteng. Mereka semua mengenakan pakaian seragam adat dan lawung. Setelah jeda saya berbincang-bincang dengan mereka. Dalam perbincangan itu, salah seorang Damang berucap: “Saya malu sebenarnya mengenakan pakaian yang disebut pakaian adat  yang kata terbuat dari “batik Kalteng”. “Mengapa, Ma?” Tanya saya heran. “Coba kau pikir. Apa benar ini ‘batik Kalteng?’. Apa Uluh Itah mempunyai ‘batik’. Secara afirmatif, Mama (Paman) Damang  yang saya kenal baik itu berkata lagi : ‘’Batik itu karya budaya Orang Dayak, Ken. Uluh Ita (Orang Dayak –KS) tidak mengenal yang namanya batik. Apa yang kita lakukan dan anggap sekarang ‘pakaian adat Dayak’ dan ‘Batik Kalteng’ hanya cara menjawab keperluan mendesak dengan menggunakan jalan pintas. Tapi jika ditagih pertanggunganjawab sejarah dan  budaya, baik isi atau bentuk pakaian adat ini  barangkali yang merancangnya tidak bisa memberikan pertanggunganjawabanya. Dari segi motif saja, apakah pakaian yang saya kenakan sekarang benar-benar khas Kalteng ? Tidak. Ini contekan dari Kalimantan Timur. Tapi baiklah soal apa-bagaimana pakaian adapt Dayak Kalteng, saya serahkan kau dan teman-teman yang memikirkannya. Kami para Mamamu ini sanggup dan selalu siap membantumu’’. Jalan pintas, pertanggungjawaban karya, pengenalan sejarah dan budaya sendiri, merupakan empat soal hakiki yang saya pungut dari pembicaraan dengan Mama Damang itu dan menjadi bahan renungan saya sampai detik ini. Jalan pintas biasanya tidak mengindahkan pendalaman masalah, mencuekkan pertanggungjawaban dan kebenaran. Sama halnya dengan pemahaman tentang  “budaya betang” dan “Pertemuan Damai Tumbang Anoi 1894” yang meleset. Jika dibiarkan maka kemelesetan ini akan dianggap sebagai kebenaran seperti yang dikatakan oleh Menteri Penerangan Hitler, Goebel: ‘’dusta yang konsekwen mewujudkan diri  sebagai kebenaran”. Ini jugalah yang menjadi dasar muncul-berkembangnya salah kaprah.

 

Kembali pada pertanyaan: Adakah dan apa-bagaimanakah yang disebut “Batik Kalteng”. Sebelum menjawab pertanyaan ini, barangkali pertama-tama akan lebih baik jika kita  menyatukan pandangan tentang apa yang disebut batik. Menurut Kamus Besar  Bahasa Indonesia –KBBI (Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan –Balau Pustakan, 1999), yang disebut batik adalah (1). “corak atau gambar (pada kain) yang pembuatannya secara khusus dengan menuliskan atas menerakan malam kemudian pengolahannya diproses dengan cara tertentu; (2). Kain bergambar yang pembuatannya secara khusus dengan menuliskan atau menerakan malam pada kain itu kemudian pengolahannya diproses dengan cara tertentu; kain batik.(hlm.98). “Batik Pekalongan (kain) batik yang dibuat dengan corak dan gaya Pekalongan. Batik Yogya, (kain) batik yang dibuat dengan corak dan gaya Yogyakarta (hlm. 98). Dari pengertian KBBI , batik adalah “corak atau gambar pada kain dan atau “kain bergambar yang dibuat melalui proses tertentu”. Corak atau gambar ini bisa menggunakan berbagai gaya bermacam-macam. Bisa menggunakan corak dan gaya Solo, Yogya atau Pekalongan. Dari segi corak dan gaya ini memang bisa dikatakan bahwa “batik bercorak dan bergaya Kalteng” yang sekarang disebut “Batik Kalteng”. Tapi kalau dilihat dari sejarah keberadaan batik dan proses pembuatannya yang tertentu, apalagi proses dan pembuatan batik tulis, maka nampaknya batik adalah produk kerajinan tangan khas  Jawa. Kalaupun daerah-daerah bahkan negeri-negeri lain menirunya, terutama batik tulis, Batik Jawa masih tetap mempunyai orisinalitas tidak tertirukan. Daerah-daerah atau negeri-negeri lain,paling-paling bisa memproduksi batik sejenis batik cap. Agaknya yang disebut “Batik Kalteng”pun menggunakan tekhnik pembuatan batik cap, bukan batik tulis. Batik sebagai produk yang sesungguhnya khas Jawa tidak lepas dari berkembangnya perkebunan kapas dan tekhnik mengolah kapas menjadi kain dengan alat-alat sederhana yang sampai sekarang masih terdapat di pulau ini. Dengan alat-alat sederhana inilah rakyat kecil mulai dari kota hingga ke pedesaan membuat batik. Di Solo misalnya, terdapat sebuah perkampungan pembatik. Sedangkan di Yoygakarta, sampai  pada tahun 1960an masih terdapat pengrajin batik di dalam kota Yogyakarta sendiri. Lahirnya partai politik seperti Sarikat Dagang Islam di Jawa, tidak lepas dari latarbelakang upaya pedagang-pedagang batik membela usaha mereka dalam menghadapi persaingan pihak lain. Yang disebut “Batik Kalteng” pun umumnya  tidak diproduksi di Kalteng sendiri, tapi  dibuat di Jawa. Kalteng hanya menjadi tempat pemasaran batik dengan corak dan gaya Kalteng. Orang-orang Kalteng memberikan motif atau corak untuk produksi, lalu orang-orang Kalteng ini kemudian menjualnya di Kalteng. Artinya “Batik Kalteng” tidak bisa disebut sebagai produk Kalteng. Tapi produk Jawa yang dijual di Kalteng. “Batik Kalteng”  adalah varian produk dari Jawa dengan label khusus untuk pasar khusus yaitu Kalteng. Berbeda halnya dengan Batik Solo, Batik Yogya atau Batik Pekalongan yang selain menggunakan corak dan gaya Solo,Yogya dan atau Pekalongan, tapi juga diproduksi oleh tempat-tempat tersebut. Batik tidak punya akar di Kalteng. Uluh Itah tidak mempunya keterampilan tekhnis membuat batik. Kebun kapaspun tidak punya. Apalagi alat pemintal. Dalam keadaan demikia, mungkinkah ada keterampilan menenun atau memintal. Jika tidak ada, bagaimana bisa disebut ada produk “Batik Kalteng”? Dengan latar belakang keadaan beginilah maka Amang Damang yang saya sebutkan di atas mengatakan  bahwa “batik bukan khas Dayak tapi Jawa” sekalipun busana yang kita kenakan menggunakan bahan dari yang disebut “BatikKalteng”.

 

Seni kerajinan menenun memang pernah dimiliki oleh Uluh Itah di Kalteng, seperti halnya  Uluh Itah mampu membuat gula dari tebu, membuat sabun dari daun nenas dan keterampilan-kerampilan khas lainnya seperti membuat perahu, kapal, meramu obat-obatan,  mengolah lebih lanjut produk pertanian dan perikanan, dan lain-lan.. Di Kalteng jauh sebelum kemerdekaan pernah terdapat kebun kapas. Hanya saja keterampilan menenun ini setelah Persetujuan Damai Tumbang Anoi 1894 yang dipuja-puji sebagai “fajar peradaban bagi Orang Dayak” dihancurkan. Mengolah kulit kayu, nyamu untuk pakaianpun tidak berkembang.  Belanda sebagai penjajah yang diakui legalitasnya oleh Pertemuan Damai Tumbang Anoi 1894 memenggal keterampilan Uluh Itah menenun dengan memasukkan belacu ke daerah yang sekarang disebut  Kalteng. Kalteng oleh penjajah, selain dijadikan sebagai sumber bahan mentah untuk industri mereka, juga dijadikan pasar produk kualitas rendahan mereka, salah satu bentuk dari politik desivilisasi “ragi usang” pemerintah kolonial. Bagaimana bisa kita bisa mensejajarkan “politik desivilisasi” dengan “fajar peradaban”? Posisi Kalteng sebagai penyedia sumber bahan mentah dan pasar bagi produk luar, hanya sebagai daerah usaha belaka, bukan sebagai daerah produksi bahan setengah jadi dengan hasil tambah lebih besar, masih berlangsung sampai hari ini. Kalau ada perkembangan, perkembangan yang terjadi adalah penghancuran ekonomi subsistensi, menjadi ketergantungan pada luar. Produksi dan pemasaran yang disebut “Batik Kalteng” hanyalah salah satu contoh belaka. “Batik Kalteng” berbeda tentang produk tenun-menenun dari Kaltim, seperti sarung Samarinda, ulos di Tapianauli, kain Toraja, Timor, Bugis atau Sumbawa. Ada terkesan pada saya bahwa jika tidak awas, Uluh Itah kehilangan keterampilan-keterampilan khas mereka sehingga berada pada status lebih sebagai konsumen barang-barang dari luar. Oleh ketergantungan pada luar maka sampai-sampai gelombang Laut Jawa pun turut mempermainkan kehidupan Kalteng. Mengatasi kemerosotan ini lebih jauh, barangkali Desperindak dan Dinas Koperasi bisa bermain positif asalkan kedua lembaga ini mampu melakukan intrispeksi tajam dan jujur. Peran lain bisa dilakukan oleh Credit Union (CU), asalkan bisa kembali ke ide semula, memadukan upaya pencerahan, pemberdayaan  dan usaha produktif . Tidak terjerat oleh pasung kapitalisme.

 

Khusus untuk mengembangkan “Batik Kalteng”, pertanyaannya: Bagaimana Uluh Utah belajar membatik dan memproduksi “Batik Kalteng” itu di Kalteng sendiri. Sehingga mengobah keadaan “Batik Kalteng” produksi Jawa menjadi “Batik Kalteng” produk Kalteng sendiri. Dengan cara ini, Kalteng membuka lapangan kerja untuk diri sendiri, menambah varian keterampilan dan meningkatkan keterampilan diri serta mengurangi ketergantungan pada luar. Adanya transmigran asal Jawa barangkali bisa dimanfaatkan. Dengan cara ini pembauran melalui kerja berlangsung alami, lahirnya Uluh Kaltengpun terjadi secara alami pula. Ghettoisme dibongkar. Pembauran beginilah yang agaknya masih lemah di Kalteng sehingga kebersamaan dan tanggungjawab sebagai sesama Uluh Kalteng belum bisa dibanggakan. Jika “Batik Kalteng” produk Kalteng sendiri, penggunaan tekhnik dan keterampilan dari Jawa yang kita serap, merupakan isyarat betapa kemajemkan budaya itu suatu kekayaan. Pada “Batik Kalteng” bisa ditemukan keadaan umum Kalteng yang mendasar. Kalau demikian, tepatkah pertanyaan bahwa yang dihadapi “BatikKalteng” adalah masalah “sosialisasi-mobilisasi-publikasi”? ***

 

KUSNI SULANG, anggota Lembaga Kebudayaan Dayak Palangka Raya (LKD-PR).

About these ads

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 59 other followers

%d bloggers like this: