TOKOBUKU BUDAYA DAYAK

Jurnal Toddoppuli

Cerita Buat Andriani S. Kusni & Anak-Anakku

Dibandingkan dengan tahun 1990an, jumlah tokobuku di Palangka Raya, pada tahun 2010 ini mengalami sedikit perkembangan. Sampai dengan awal tahun 2001, saat saya harus meninggalkan provinsi kelahiran ini, di ibu kota Kalteng hanya terdapat lima buah tokobuku kecil.  Dua terdapat di dekat Gereja Maranata, dan tiga terletak di Jalan A. Yani. Buku-buku yang dijual kelima tokobuku ini terutama buku-buku agama dan sedikit buku-buku lama di berbagai disiplin ilmu. Seperti halnya perpustakaan-perpustakaan universitas dan perguruan tinggi, buku-buku yang mutakhir sangat langka di ibukota provinsi ini. Kembali  lagi ke mari pada awal tahun 2009, jumlahnya bertambah menjadi enam buah. Tiga terdapat di Jalan A. Yani, satu di Jalan Krakatau, satu di Palma dekat Bundaran Besar, dan sebuah lagi yaitu tokobuku Kharisma di Jalan Yos Sudarso, lantai satu Megatop Store. Selebihnya hanya berupa kios-kios Koran, dengan Fathir Agency yang paling besar dan juga menjual beberapa buku.  Sebuah dari toko buku lama itu, yaitu  yang terutama  menjual buku-buku Gramedia nampaknya sudah lama tutup, jauh sebelum 2002. Sehingga sampai dengan tahun 2010 ini, terdapat penambahan dua tokobuku: Book City dan Kharisma. Dari segi jumlah, angka dua memang bukan jumlah yang besar.  Tapi adanya Book City dan Tokobuku Kharisma merupakan pertambahan yang berarti. Dua tokobuku ini merupakan dua tokohbuku terbesar dengan khazanah buku-buku yang mutakhir, sekalipun masih sangat minim.  Hal yang tidak dilakukan sebelum keduanya hadir. Dua tokohbuku ini, juga merupakan dua tokobuku terbesar yang sampai sekarang dimiliki Palangka Raya. Tokobuku Kharisma bahkan tidak membatasi fungsinya sebagai tokobuku, tetapi sekaligus melakukan kegiatan-kegiatan kebudayaan. Paling akhir Tokobuku Kharisma menyelenggarakan lomba mewarnai lukisan untuk anak-anak. Dalam kegiatan ini , tokobuku Kharisma menggalang kerjasama dengan berbagai pihak termasuk komunitas-komunitas kebudayaan. Upaya Kharisma yang demikian, merupakan gebrakan baru yang dilakukan oleh tokobuku-tokobuku di Palangka Raya.Baru artinya sebelum ini tidak pernah dilakukan. Baru juga dalam arti perspektif.

Apa sesungguhnya yang ditunjukkan dan diperankan oleh tokobuku untuk pemberdayaan dan pembangunan suatu bangsa dan daerah? Dari tokobuku dan buku-buku yang dijualnya, sebagaimana juga buku-buku yang menjadi isi  dari suatu perpustakaan, kita melihat tingkat perkembangan intelektualitas bangsa dan atau daerah itu. Dari buku-buku yang mengisi tokobuku dan perpustakaan, kita bisa melihat apakah daerah atau bangsa itu sudah dan mampu mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan mutkahir, bahasa-bahasa apa saja yang dikuasai dalam upaya tidak tertinggal perkembangan. Dari jumlah pengunjung tokobuku dan perpustakaan, kita bisa mengetahui minat baca penduduk, terutama kalangan cendekiawan atau calon cendekiawan (yang kemudian bisa mengantar kita pada masalah sistem ajar-mengajar yang diterapkan), politik kebudayaan daerah,. Perpustakaan dan tokobuku mengatakan persis kepada kita bagaimana pandangan dominan terhadap sejarah (masa lampau,  hari ini dan esok) melalui kuantitas dan kualitas pengarsipan. Kita juga bisa mengetahui tingkat keterbukaan penyelenggaraan pemerintahan melalui tersedia tidaknya dokumen-dokumen public di perpustakaan dan tokobuku. Tokobuku dan perpustakaan bisa dikatakan salah satu pintu dan jendela guna melihat tingkat kebudayaan suatu bangsa dan atau daerah di zaman ini. Tokobuku dan perpustakaan, apalagi dengan kelengkapan tekhnologi seperti sekarang, melalui buku-buku yang disediakannya akan membantu peningkatan sumber daya manusia yang menjadi pilar utama pemberdayaan dan pembangunan bangsa dan atau daerah. Perberdayaan dan pembangunan manusiawi tidak mungkin berjalan parallel dengan kegelapan dan dilakukan oleh manusia-manusia “kada balampu”, “yang kadap kepala dan hatinya”, jika memnjam istilah seorang ustadz asal Bangkalan dalam pembicaraan kami di Palangka Raya menjelang Tragedi Sampit tahun 2000. Melalui buku-buku yang tersedia, tokobuku-tokobuku dan perpustakaan melakukan pencerahan, menghalau “kekadapan” dari kepala dan hati penduduk. Sehingga membaca, mencintai buku mempunyai peran dalam menerangkan pikiran. “Pikiran merupaka ma,dasan kepribadian kita. Pikiran yang menentukan watak kita. Perilaku kita, pendirian kita, kebiasaan-kebiasaan kita – semuanya bertumbuh dari  dan di atas ‘bumi pikiran’” (Anand Krishna, 1998:25). “Buku adalah jalan terhampar  guna menjelajahi dunia” ujar Bung Karno. Menenelusur jalan terhampar ini kita meluaskan cakralawala pandang dan melebarkan langit jelajah. Menyediakan syarat untuk menjadi Uluh Itah Bermutu dan Dayak Kekinian atau Dayak Modern. Dayak Pasca Tradisi. Buku membantu kita untuk melakukan pembentukan pola pikir dengan proses “learn, relearn dan unlean” (belajar, belajar ulang, tidak belajar).

Dari enam tokobuku yang ada di Palangka Raya sampai hari ini tidak ada satupun tokobuku di mana kita bisa memperoleh secara padan kebutuhan buku-buku tentang budaya Dayak.Petunjuk lain betapa budaya Dayak terpinggir dari perhatian. Apabila muatan lokal (mulok)  benar-benar mendapat perhatian dari Kepala Dinas Pendidikan sebagai “Menteri  Pendidikan” pada Kabinet Teras-Diran yang sekarang, seniscayanya akan banyak buku-buku tentang budaya, sejarah Dayak dan bidang-bidang lainnya yang akan diterbitkan. Entah kalau mulok hanya jadi kata-kata pelamis bibir belaka. Lepas dari perhatian dari pihak terkait, saya kira adanya totobuku khusus tentang Dayak merupakan keperluan yang senicayanya diwujudkan. Pasarnya pasti ada, baik lokal, nasional maupun internasional. “Wacana Palangka Raya Ibukota RI” turut membuat peluang pasar bagi tokobuku demikian. Apabila ’’ Menteri’’ Pendidikan dan ‘’Menteri Kebudayaan Kabinet Teras-Diran benar-benar menaruh perhatian pada bidangnya dalam kerangka pelaksanaan visi-misi Teras-Diran, peluang pasar tokobuku Dayak menjadi sangat besar. Tokobuku demikianpun akan berperan nyata dalam  upaya melahirkan dan mengembangkan Budaya Uluh Kalteng Beridentitas Kalteng. Lebih lagi apabila Universitas Palangka Raya (Unpar) berania menghidupkan kembali dan membuka Fakultas  Bahasa  dan Budaya Dayak seperti halnya yang dilakukan di Jawa terhadap bahasa dan budaya Sunda atau Jawa. Pembukaan Fakultas Kebudayaan  dan Bahasa Dayak bukanlah sesuatu yang ethnosentrisme tapi sesuai dengan rangkaian nilai Republikan dan Berkeindonesiaan. Fakultas ini akan berdampak jauh secara politik, ekonomi dan budaya.

Di Harian Kalteng Pos (26 September 2010), saya membaca sebuah iklan bertajuk ‘’Menjual Buku Mulok Bahasa Dayak Ngaju’’. Ini adalah petunjuk lain dari apa yang saya katakana di atas. Tapi yang menarik perhatian saya lebih lanjut adalah kata-kata ‘’Fotocopy Mulok’’, termasuk diperjual-belikan oleh pihak yang menyebut diri sebagai ‘’Distributor Tunggal’’ karya-karya untuk bahan mulok itu. Saya mempertanyakan, apakah memfotokopie karya orang lain dan dijadikan sebagai  komoditas tidak merupakan suatu tindak pencurian kekayaan intelektual orang lain dan illegal ? Sebaiknya jika pembuatan illegal demikian agar jadi legal, perlu dirundingkan dengan penciptanya, sehingga pencipta yang sudah memeras otak, tenaga dan meluangkan waktu juga bisa dihargai serta mendapatkan hasil  dari jerih-payahnya. Bukankah ‘’Hak cipta dilindungi oleh Undang-Undang ‘’ ? Memfotokopie  karya-karya orang lain dan menjadikan komoditas tanpa berunding dengan penciptanya, sekali lagi adalah pencurian mentah-mentah, kejahatan moral dan bentuk dari pola pikir serta mentalitas jalan pintas atau serba instan seperti halnya korupsi. Iklan di Harian Kalteng Pos itu dari segi lain adalah benih dari lahirnya Tokobuku Dayak. Petunjuk dari adanya kepekaan bisnis. Tapi haruskah kepekaan bisnis disertai oleh tindak kriminal ? Yang terbaik adalah kita maju sederap, tanpa mengorbankan pihak lain, apalagi para penulis dan kreator. Hal ini hanyalah suatu canang. Sebab mungkin yang dikomoditaskan oleh ‘’Distributor Tunggal’’ karya-karya Drs.Dunis Iper yang sekaligus bertindak sebagai ‘’Distributor Tunggal’’ itu sendiri.  ***

KUSNI SULANG, anggota Lembaga Kebudayaan Dayak Palangka Raya (LKD-PR).


About these ads

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 49 other followers

%d bloggers like this: