Persamaan dan perbedaan Indonesia dan negeri negeri Amerika Latin (AL).

(Memperingati Dampak Peristiwa Berdarah 1965 Dan Problem Jalan Keluar )
Jika kita perhatikan situasi dan kondisi negeri negeri Amerika Latin (AL) dengan Indonesia, maka banyak sekali persamaan dan juga perbedaan, tetapi secara umum, kemiripan kemiripannya  lebih menonjol dari perbedaan  yang ada.

Pada dasarnya, Indonesia dan negeri negeri AL  adalah negeri negeri yang disebut negeri sedang berkembang (developing countries), satu terminologi penghalus yang diberikan oleh negeri negeri maju , yang dulunya mereka sebut negeri terbelakang (under developed countries) , yang GNP nya masih jauh dibawah GNP negeri negeri maju, terutama di barat.
Sebagai ciri negeri berkembang ini adalah, bila negeri ltu mempunyai resourse alam yang besar, maka ekonomi dan politik negeri itu akan menjadi korban acak acakan, oblok oblokan dan campurtangan licik dari tangan tangan kotor dan berdarah imperialisme dan kolonialisme sejak abad ke 16  maupun abad  ke 20 dan sampai sekarang abad ke 21 ini dalam upaya mereka untuk tetap langgeng dan lestari menyedot kekayaan alam seperti vampire menyedot darah korbannya dan menghisap tenaga kerja yang sangat murah, sehingga mereka dibarat bisa hidup makmur dan menimbun kekayaan hasil penyedotan dan penindasan negeri negeri dunia ketiga sampai kempis.
Siapa yang melawan dan menentang perbuatan nista mereka niscaya  akan segera dan selalu dipojokkan dengan mengecap mereka sebagai teroris dan komunis, manusia manusia yang harus dihapuskan dari muka dunia.
Kata “komunis” dijadikan kata umpatan , kata stigmatisasi bagi seseorang untuk mengucilkan dan membinasakan orang orang yang menganggap keadilan masih harus dipertahankan dalam hubungan antar manusia di masyarakat.
Bahkan orang orang tak tahu apa apa, bila diinginkan untuk dibinasakan, maka dengan gampang dicap “komunis” , selesai sudah , boleh dibunuh.

Dengan upaya licik, kaum imperialis dan kolonialis ini menggunakan orang orang setempat yang mereka sogok jasmani dan rochaninya dan menjadikan mereka menjadi OKB (Orang Kaya Baru) dan sekaligus menjadi kacung kacung setia mereka dalam usaha terus menindas negeri jajahannya dan menghisap  SDA dan SDM negeri tersebut sampai ludes.
Inilah ciri pokok politik mereka terhadap negeri jajahan atau 1/2 jajahan mereka.
Tak aneh juga, dalam perjalanan sejarah negeri negeri AL dan Indonesia, terbentuk bermacam macam pemerintahan yang menjadi perpanjangan tangan kaum penghisap SDA dan SDM asing ini yang biasanya berbentuk Junta (rejim) militer dimana mana didunia ini.  Usaha mengganti kekuasaan yang anti rakyat setempat itu dengan pemerintahan yang demokratis dan pro rakyat, biasanya kandas karena adanya intervensi yang tidak tahu malu dari imperialis dan kolonialis melalui agen agen rahasia mereka , terutama imperialis Amerika dan Inggris (misal : pemerintah yang syah dari Allende di Chili yang diganti oleh Pinochet, kacung militernya imperialis Amerika dan jangan lupa pemerintah syah Bung Karno yang dbunuh pelan pelan dan digantikannya dengan budak imperialis Suharto sejak tahun 1965/1966 ) !

Fasisme
Selain Eropa sebelum PD II, maka Amerika Latin adalah gudangnya fasisme dan diktatur militer.

Elemen elemen (bagian penyebab) pandangan dunia  fasisme  di Amerika Latin (menurut Spitta, pejabat DAAD** di Mexico) adalah:

1. Tradisionisme Katholik yang berasal dari Spanyol.
2. Nasionalisme ( Peng artian yang berlebihan dari nasionalisme)
3. Kultus (pemujaan) atas Militer sebagai ideailisme pendidikan
4. Rasísme
5. Antikomunisme

** DAAD = Deutscher Akademischer Austausch Dienst   = Dinas Pertukaran Akademi Jerman .

Untuk Indonesia, sepertinya tidak ada dasar dasar itu , mengingat tradisi suku suku bangsa Indonesia sejak dulu hidup berdasarkan gotong royong , hidup bersama damai diantara macam macam kepercayaan dan agama, saling menolong diantara mereka.
Tradisi agama yang fundamentalis baik islam (Wahabi) maupun kristen tidak menonjol seperti di AL, nasionalisme sempit (chauvinisme)  bukanlah tradisi bangsa Indonesia, kultus atas aturan militer, rasisme dan antikomunisme , semuanya adalah asing buat rakyat Indonesia.
Mungkin karena hal hal itulah, maka usaha imperialis USA dan Inggris untuk menjadikan Indonesia (setelah merdeka) sebagai sapi perahan mereka dengan mendirikan rejim militer di Indonesia selalu gagal, hal ini juga karena politik Bung Karno yang tepat dalam memberikan arah Revolusi Indonesia sejak merdeka , 17 Agustus 1945 dan dalam memberikan pendidikan karakter dan kebangsaan yang tak kenal lelah dari beliau.

Tetapi setelah adanya coup d’etat Suharto 1965/1966 , dengan me rekayasa menggunakan dalih dalih penipuan akan kekejaman kaum komunis membunuh para pahlawan dan menyiksa mereka dilubang buaya, kemudian menyebarkan bahwa komunis = anti agama islam, menyebarkan chauvinisme , bahwa keturunan Tionghoa adalah penyebab kekacauan ekonomi sehingga berakibat rasisme yang timbul di Indonesia, dan kemudian penyebaran tiap hari berita atau suara anti komunisme  secara histeris, maka klop, terciptalah syarat syarat untuk membentuk rejim fasis militer di Indonesia , periode 1965/66 sampai 1998 ! Syarat syarat yang tertulis diatas terdiri dari 5 butir, yang disimpulkan oleh Spitta, pejabat DAAD Mexico itu telah dari tidak ada menjadi ada !
Degan begitu sempurnalah sudah syarat syarat dan alasan kaum neoimperilis untuk membentuk junta militer di Indonesia tahun 1965/1966 bagi Suharto & Co. yang bisa berumur 32 tahun , jauh lebih lama dari rejim militer manapun didunia !
Untuk membangun dan membentuk dan mempertahankan pemerintahan  rejim dikatatur orba Suharto ini , tak segan segan para militer dan ekonom ekonom Indonesia ini membunuh, menyiksa dan menindas bangsanya sendiri, orang orang tidak bersalah dengan mengecap mereka komunis atau simpatisan komunis ! Satu bentuk sablon yang diterima dari tuan tuan mereka kaum neoimperialis,  cara menyisihkan lawan lawan politik mereka yaitu dengan menyebarkan teror lahir dan bathin, physisk dan psychik terhadap rakyat Indonesia, agar selalu serba ketakutan! Perbuatan biadab yang tak ada taranya dalam sejarah bangsa indonesia ini !

Kemiripan
Selain mempunyai resource kekayaan alam dan tenaga kerja yang murah, Indonesia mirip sekali dengan negeri negeri AL
dalam sejarahnya, yang sejak lama (abad ke 16-17)  menjadi koloni negeri negeri Eropa .
Persamaan yang  paling pokok adalah bahwa negeri negeri itu merupakan  negeri kaya raya akan resource alam yang berlimpah limpah.
Kesamaan lainnya juga, bahwa kaum intelektil mereka kebanyakan dididik di USA, juga calon calon perwira dan pimpinan Angkatan Perang , kebanyakan adalah didikan dan lulusan USA.
Maka sudah menjadi jargon umum dinegeri negeri Indonesia dan AL selama periode diktator militer , bahwa secara simbolis yang berkuasa adalah Westpoint dan Berkeley Mafia , Westpoint adalah tempat US Military Academy , sedangkan Berkeley adalah tempat Universitas , dimana para calon calon ekonom digembleng.
Maka untuk menguasai resource alam yang luar biasa itu, kaum neoimperialis USA ( bukan kaum progresif dan rakyat USA umumnya !) mempersiapkan manusia manusia dari negeri setempat untuk menjadi penguasa dan ahli ekonomi negeri negeri masing masing , yang menuruti kehendak kaum neoimperialis ini.  Hasil usaha mereka  yang dipersiapkan berpuluh puluh tahun ini kita lihat sendiri: di Indonesia, selama 32 tahun + 12 tahun sampai sekarang, USA dan modal asing lainnya dengan aman dan tenang telah dan terus mengeduk dan menyedot kekayaan alam menurut pola yang mereka ingini tanpa adanya gangguan apapun. Perusahaan perusahaan seperti Freeport dan lain lainnya, secara leluasa mengeduk dengan aman kekayaan alam  Indonesia tanpa adanya perlawanan dari pihak Indonesia.
Begitupun dinegeri negeri AL, semua mengalami nasib sama seperti Indonesia, Chili,Venezuela,Mexico,Ecuador,Peru,Argentina,Brasilia ,Bolivia dan lain lainnya, hampir semua negeri negeri di AL !
Blue print ( atau lebih baik sablon atau resep) nya gampang saja : Diktatur Militer plus para “pakar” ekonomi  titik !
Di Indonesia: Suharto+(Emil Salim,Widjojo Nitisastro,Ali Wardhana dll.) adalah resep mujarab untuk Indonesia yang pada pokoknya masih prinsip mereka berjalan terus sampai sekarang , dimana neo imperialis dunia masih dengan tenang tenang menyedot kekayaan alam Indonesia , hal yang sangat bertolak belakang  dengan pasal 33 UUD 1945 !
Prinsip dan resep neoimperialis ini juga “berhasil” dengan “sukses” dijalankan di AL sampai detik dimana di Venezuela ada Chavez, di Bolivia ada Morales, di Ecuador ada Correa, di Argentina ada suami-isteri Kirchner, di Brasilia ada Lula da Silva dan lain lainnya…..

Perbedaan
Mereka mereka ini, para pemimpin AL, walau kebanyakan ( tidak semua !) adalah juga hasil cetakan sekolah militer atau ekonomi USA, achirnya mempunyai pikiran dan jiwa yang bersih dari sifat serigala yang serakah, mempunyai jiwa, rasa dan pikiran yang patriotis , otaknya berjalan dan berani memikir sendiri, mengapa negeri dan rakyat mereka tetap atau makin terbelakang, makin melarat, sedangkan kekayaan alam negeri mereka sangat berimpah limpah.
Dalam waktu yang relatif singkat, mereka bisa menyimpulkan, bahwa kaum neo imperialislah yang menjadi penyabab keterpurukan, keterbelakangan dan kesengsaraan rakyat dan negara mereka !
Tindakan tindakan drastis mereka lakukan : pengembalian kekuasaan atas sumber kekayaan alam dan kedaulatan atas negeri mereka rampas dan kembalikan ketangan negeri dan rakyat masing masing.
Perusahaan perusahaan dan modal asing tidak lagi leluasa semaunya menyedot kekayaan alam dan mengatur ekonomi mereka, kesejahteraan rakyat setempat  menjadi perhatian utama dari kebijaksanaan pemerintah. Semuanya ditata dan diatur kembali dengan aturan yang menguntungkan rakyat setempat. Dan semua ini dilakukan oleh pemerintahan yang dipimpin oleh orang orang patriotis yang memunyai rasa cinta terhadap tanah air mereka ! Baik orang orang yang memang dari semula melawan beradanya  dominasi modal asing maupun oleh orang orang didikan USA tetapi yang patriotis dan berpikiran jernih, tidak kotor !
Perombakan besar besaran ini  terjadi di AL saat ini , tetapi mengapa,di Indonesia tidak ???
Mengapa para “pemimpin” Indonesia tetap mempunyai pikiran kotor yang membusuk, yakni hanya berlomba memikirkan kepentingan sendiri dan para kroni mereka ?
Mengapa di Indonesia seakan berlaku hukum inertia (kekekalan) energi seperti di ilmu Fisika ?
Jadi bagaimana penyelesaian problem keterpurukan bangsa dan negara Indonesia ini ?

Saya mengambil jawaban atas pertanyaan ini dari sebab bahwa rakyat Indonesia terlalu mencekam kebudayaan feodalisme jauh lebih hebat dari rakyat rakyat negeri AL.  Kebudayaan yang “nuwun sendiko” , “sumonggo kerso” *) atau kebudayaan ABS **) yang sangat berracun dan sangat mudah kemasukan propaganda palsu dari atas.
Misalnya semua propaganda palsu rejim orba sampai rejim reformasi ini, yang semuanya pada dasarnya  mengabdi kepentingan modal asing dan para penguasa , kepanjangan (sambungan) tangan kaum neoimperialis modal asing !
Sedang para elite politik dan militer Indonesia sedang kemaruk(mumpung) berfoya foya diatas kemelaratan dan kesengsaraan rakyat Indonesia, tradisi yang ditinggalkan rejim orba dan sukar dihilangkan dari otak mereka.

Sebab sebab lain atau perbedaan perbedaan lain antara rakyat dan sikon Indonesia dan AL saya belum bisa menemukan !
Mungkin ada dari para pembaca yang bisa memberipencerahan atau pendapat tambahan ?
Saya sangat menunggunya. Terima kasih sebelumnya !

*) nuwun sendiko = menurut ucapan(kata)  tuan –> ucapan meng”ya”kan kawula terhadap tuannya.
sumonggo kerso = terserah  maunya tuan

**) ABS = asal bapak senang

salam

iwamardi

Sumber: iwamardi <iwamardi@yahoo.de>, in: GELORA45@yahoogroups.com, Monday, 4 October 2010 12:54:43

About these ads

1 comment so far

  1. hadiah on

    Saya kira ini perbedaannya.

    Kita sebagai orang muslim yang terbesar di ind, bersama sama dng militer menghancurkan orang2 kiri/komunis/sukarnois yang nota bene anti imperialis/kolonialis itu. Sampai saat inipun kita sebgai orang muslim tetap berterima kasih kepada jendral besar kita suharto yang banyak masjid2 yang dibangun untuk kita.Bahkan program 2 yang biadab dan tak berperikemanusiaan itu oleh kita sebagai orang islam tetap membenarkan.Dan otak kita yang telah dibrain wash kalau membunuh /memperdaya/ menyiksa orang2 kiri (orla),kafir adalah pekerjaan yang mulia,dan dibenarkan oleh hukum saat itu..Seperti juga yang terjadi di Amerika latin(sebagian besar beragama katolik). Kebiadaban militer di sana persis apa yang dikehendaki oleh big brother. Tapi sekarang setelah perjalanan sejarah kehidupan manusia berlalu, banyak2 general2 militer disana dihukum berat karena tindakan2 mereka itu benar2 menyalahi HAM dlm kategori berat sekali (genoside).Di ind tidak mungkin untuk itu karena kita sebagai orang muslim masih tetap membenarkan dan mengaminin apa yang dikerjakan oleh militer2 kita . Itulah bedanya. Karena cara berfikir orang2 katolik yang sudah lebih dari duaribu tahun itu lamanya, dan kita baru seribu enam ratusan tahun. Mungkin itu sebagai factor, kalau kita harus melek lagi bisa membedakan mana yang benar dan salah . Kita harus mengejar ratusan tahun lagi untuk bisa menyamai orang2 amerika latin itu yang sudah mendapat keadilan dari negaranya.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 56 other followers

%d bloggers like this: