MENGENANG 45 TAHUN TRAGEDI KEMANUSIAAN INDONESIA

Satu lagi tulisan yang mencerahkan , yang sangat penting untuk dibaca terutama bagi yang masih belum tahu bahwa Suharto adalah penghianat bangsa Indonesia, pembunuh Bung Karno dan penjegal ide ide dan ajaran Bung Karno, Bung Karno  pemimpin dan pahlawan terbesar Republik Indonesia . Juga bagi mereka yang ngotot memuji muji Suharto tetapi tidak tahu cikal bakal keterpurukan dan kehancuran bangsa dan negara kita tercinta ini. (Komentar Iwamardi )

Sampai matinya karena kerusakan otak (gila?-pen) dan mesti dirawat oleh 40 orang dokter ahli, Suharto tetap bungkam atas pembunuhan massal terhadap bangsa Indonesia yang dijadikannya alasan menghancurkan G30S, dan melakukan kudeta merangkak memreteli kekuasaan Presiden R.I.  Bung Karno.

Tiga puluh dua tahun selama kekuasaan Suharto, rakyat dipaksa dan dijejali dengan sejarah plintiran, ditipu dan diperbodoh melalui sejarah ciptaan dan karangan penjilat-penjilat Suharto.

Sekarang, setelah 65 tahun semenjak kejadian genosida bangsa Indonesia tahun 1965/1966 itu, keadaan rakyat dan bangsa Indonesia tidak ada perobahan. Sisa-sisa kaum milisia Orba yang bertindak semaunya, masih berkeliaran di mana-mana dan tampil dengan berkedokkan organisasi agama, pancasila dll., melakukan terror terhadap rakyat. Kehidupan rakyat makin hari makin bertambah sengsara. Diperkirakan, 60% rakyat Indonesia adalah melarat, berpendapatan di bawah minimum. Sedang sebagian menjadi kaya raya melewati batas. Politikus, Kapitalis, Pejabat dan para Menteri Pemerintah, kekayaannya makin hari makin gendut dan melambung . Indonesia jauh melencong dari yang dicita-citakan oleh founding fathers/mothers dan pejuang kemerdekaan.

Kekayaan Indonesia dijarah dan dibagi-bagi oleh dan untuk para penguasa. Rakyat makin dilupakan, dianggap seolah-olah sampah yang tak tahu apa-apa, terutama mereka yang semenjak tahun 1965 menjadi korban fitnah dan rekayasa Suharto, yang keluarganya dibunuh, ditahan belasan tahun, dibuang, dicabut kewarganegaraannya dan dikucilkan dari masyarakat dan dibatasi ruang hidupnya. Mereka dianggap sebagai manusia berpenyakit kusta, harus dijauhi dan dianggap sebagai pariah.

Setelah 65 tahun, mereka satu persatu meninggal dunia dalam kepapaan, dalam kemelaratan, tanpa sedikitpun perhatian dari pemerintah tentang nasibnya. Bahkan keturunan dan sanak saudara mereka sampai sekarang masih hidup menderita karena politik diskriminasi Pemerintah. Janji-janji perhatian, rekonsiliasi dan rehabilitasi cumalah lip-service, cuma hiasan bibir. Semboyan “dari rakyat untuk rakyat” hanyalah sekedar coretan di atas kertas. Tidak heran kalau ada seorang ibu dengan 2 anaknya rela bunuh diri karena tidak bisa membayar “hutang” yang cuma kurang dari 2 dollar. Beginilah kenyataan Indonesia kita sekarang!

Setelah Suharto si raja fitnah dan rekayasa ditumbangkan oleh para pemuda dan mahasiswa yang heroik, dan KH Abdurrahman Wahid menjadi Presiden RI dalam Era Reformasi, nampak sedikit cahaya terang menyinari bumi persada. Pertama-tama sekali, beliau yang adalah Ketua dan sesepuh Nahdhatul Ulama (NU) berani meminta maaf kepada semua korban Suharto/Ordebaru, orang-orang komunis yang dibantai, dimana NU dan anggota-anggotanya ikut arahan Suharto menumpahkan darah orang-orang yang tak bersalah yaitu golongan progresip yang dituduh komunis. Keberanian Gus Dur meminta maaf kepada para korban ini sangat dipujikan. Bukan itu saja, bahkan Gus Dur berusaha untuk menghapus peraturan-peraturan Pemerintah atau MPR yang salah kaprah, dibuat-buat oleh rezim Suharto, guna menopang dan menjadikan Suharto sebagai penguasa di Indonesia, seperti TAP MPRS No: XXV/MPR/1966. Banyak usaha-usaha baik lainnya yang dilakukan Gus Dur. Akan tetapi, karena hal ini, pihak lawan politiknya tidak suka, terutama Golkar dan cecunguk Ordebaru yang masihberkuasa di pemerintahan dan MPR. Gus Dur didongkel dan dijatuhkan. Dinaikkanlah wakil Presiden Megawati Sukarnaputri menjadi Presiden. Pihak reaksioner, pembela-pembela Suharto/orba berasumsi bahwa Mega bisa didikte, dan tidak akan berbuat hal-hal yang mereka tidak sukai. Asumsi dan harapan mereka ternyata memang betul karena Mega tidak bisa berbuat banyak. Bahkan sebagai presiden, “tidak sempat” memulihkan nama baik Bung Karno, ayahnya, yang dengan sengaja sudah ditumpuki najis oleh Suharto. Mega gagal dan rakyat kecewa. Akibatnya, dalam pemilu 1999, Mega tidak terpilih. SBY yang pernah menjadi menterinya Mega dan keluar karena disebut sebagai anak kecil oleh suami Mega, dan juga sebagai Menteri yang dipecat Gus Dur, menang Pemilu dan jadi Presiden! Dia tampil sebagai idola!

Rakyat meletakkan harapan kepada Presiden SBY, seorang militer yang gagah, ganteng dan dianggap berwibawa dan bisa membela rakyat. Sebagai Presiden, SBY mulai mengumbar kata-kata dan janji manis.

Tahun 1984, Eks . Komandan RPKAD Letjen. Sarwo Eddi Wibowo, pernah bertemu dengan Ilham Aidit, putra bungsu D.N. Aidit, Ketua PKI,  di puncak Gunung Tangkubanperahu Jabar. Saat itu, kepada Ilham, Sarwo Edhi berkata mengenai pembunuhan yang dilakukannnya, bahwa dirinya hanya melaksanakan tugas dan kewajiban pada 1965 silam yang diyakininya benar. Tapi setelah peristiwa itu, kata Ilham, Sarwo sadar bahwa yang dilakukannya itu salah. Ilham terpana. Sarwo mengulurkan tangan, dan tangan Ilham gemetar. Mereka bersalaman, dan berpelukan.

Perkataan, pernyataan dan uluran tangan Sarwo Edhi Wibowo kepada Ilham Aidit ini jelas merupakan expressi, pernyataan “menyesal” dari Sarwo Edhi atas “perbuatannya” membunuhi manusia seenaknya.
Akan tetapi, kendatipun Sarwo Edhi Wibowo “menyesal” dan  menyatakan “sadar bahwa yang dilakukannya itu salah”, apakah kasus pembantaian tiga juta manusia itu bisa dianggap selesai dengan “permintaan maaf” Sarwo Edhi Wibowo kepada Ilham?

Kasus G-30-S-1965, bukanlah kasus antar-personal. Bukanlah kasus Sarwo Edhi dan Ilham Aidit, tetapi adalah masalah bangsa dan negara, yang harus diselesaikan secara kenegaraan pula.

Sebelum pemilihan presiden putaran terakhir pada tahun 2004, Ilham mengikuti silaturahmi yang digagas oleh dai kondang Aa Gym, dan bertemu dengan calon presiden Susilo “SBY” Bambang Yudhoyono.

Dalam pertemuan itu Ilham membisiki SBY tentang pertemuannya dengan Sarwo Edhi Wibowo (yang adalah bapak mertua SBY), pada 1981 dan 1984 silam. SBY memberi respons positif. “Dengan tangannya yang besar, dia (SBY) memegang paha kiri saya dan dia bilang kita harus menyelesaikan masa lalu, namun dengan cara yang arif,” kata Ilham. Ketika itu, SBY yang berbaju batik dan berpeci diapit oleh Aa Gym yang bersorban dan Ilham  mengenakan kemeja lengan panjang. (Silahkan baca tulisan wartawan Bersihar Lubis: Pertemuan Sarwo Edhie-Ilham Aidit)

Pada permulaan kekuasaannya, Presiden Indonesia, Susilo Bambang Yudoyono, rakyat merasa mempunyai harapan karena ucapan beliau yang akan “mensejahterakan eks. tahanan politik”, bahkan berkunjung ke Pulau Buru tempat 12.000 tapol dikerjapaksakan, diromushakan, dirodikan oleh rejim Suharto untuk  membuka hutan belantara menjadi perkebunan/ladang padi.. Akan tetapi sayang,  sampai para eks tapol Pulau Buru pada mati satu persatu seperti Pramudya Ananta Toer, Oei Hay Djoen dll., ucapan  Presiden SBY pada 1 Oktober 2006 itu tidak pernah terlaksana.

Seharusnya, momentum,” permintaan maaf” Sarwo Edhi Wibowo kepada Ilham Aidit, bisa menjadi contoh dan pendorong buat SBY melakukan rekonsiliasi para korban rejim Suharto yang jutaan jumlahnya. Namun, sayang, SBY sebagai penguasa, nampaknya tidak punya keberanian untuk itu. Terlalu lembek dan mengikut arus para pendukung dan pembelaOrba Suharto.Bahkan kemudian tindakannya  menjadi berbalik 180 derajat, kembali mengikuti pola pikiran dan membela Suharto dengan mengatakan bahwa membicarakan masalah yang berkaitan dengan G30S/1965 sebagai  hal “yang tidak produktif” dan rakyat supaya jangan terjebak dengan hal itu. (Silahkan baca RM-Online 1/10/2006).

Betapa sedih dan kecewanya jutaan Rakyat  akan penyataan  SBY itu. Membicarakan mengenai derita 20 juta sanak keluarga korban rejim Suharto sebagai “tidak produktif”.  Nampak dan jelas sekali bahwa Presiden dan Pemerintah, cenderung untuk nelupakan begitu saja, menghilangkan dan menghapus sejarah yang terjadi atas bangsa dan  tanah air Indonesia. Rakyat, bukan saja kecewa dengan SBy, namun juga menjadi takut karena menganggap bahwa SBY dan Suharto adalah satu!

Yang lebih jelek lagi, dalam mengungkapkan masalah HAM, dua tahun yang lalu  ada mantan jenderal yang juga coba menghilangkan sejarah dengan mengatakan bahwa “tak ada jenderal yang bunuh rakyatnya”.  Kalau boleh kita bertanya, bagaimana dengan pengakuan Jenderal Sarwo Edhi Wibowo yang telah membunuh 3 juta jiwa? Bahkan lebih munafik lagi, ada juga Mantan Jenderal terkenal yang juga beriktikad  menghilangkan sejarah dengan mengatakan bahwa di Indonesia tidak ada Genosida. “Kasus pelanggaran HAM berat seperti pembunuhan massal, termasuk genocida itu seperti yang terjadi di Rwanda, Kambodja dan Nazi Jerman”. Sang Mantan Jenderal terkenal ini jelas sekali menutup mata dan menyembunyikan serta menghilangkan fakta sejarah Pembunuhan Massal atau Genosida yang terjadi di Indonesia pada tahun 65/66.  Sedangkan Bertrand Russel, pemikir besar liberalisme, menyebut pembunuhan massal ini sebagai hal yang amat mengerikan: “Dalam empat bulan, manusia yang dibunuh di Indonesia, lima kali dari jumlah korban perang Vietnam selama 12 tahun. (Perang Urat SyarafKompas, 9 Februari 2001). Dan tidak ketinggalan, bahkan, Presiden Amerika Serikat Barack Obama yang dibanggakan bangsa Indonesia karena beliau pernah dibesarkan dan  bersekolah di Indonesia, mengatakan: ”According to estimates, between 500.000 and one million people were slaughtered during the purge, with 750.000 others imprisoned or forced to exile.”.

Nah, bagaimana mantan Jenderal terkenal Indonesia itu menanggapi pernyataan Barack Obama ini?

Telah banyak ditulis buku-buku, baik oleh sarjana-sarjana luar  maupun dalam negeri yang menceritakan tentang hal-hal yang berkaitan dengan Peristiwa Tragedi Nasional 1965/di Indonesia. Ratusan, bahkan ribuan tulisan dan artikel telah muncul mengenai derita dan aniaya yang menimpa bangsa dan tanah air di bawah rejim Suharto/Orba dan Peristiwa Pembantaian Masal 1965. Puluhan buku hasil penelitian dan studi telah ditulis oleh banyak pakar dan cendekiawan luar dan dalam negeri, mengenai Peristiwa 1965, kudeta Jendral Suharto, penggulingan Presiden Sukarno dan Genosida 1965 . Baik dalam bentuk artikel, wawancara, prosa ataupun puisi yang menggambarkan tentang derita dan sengsara rakyat dalam Peristiwa 1965.

Para sarjana dari Amerika, Belanda dan Kanada seperti Prof. Br. Ben Anderson , Dr. Mc. Vey, Lambert Giebel, John Hughes, Dr. Henk Schulte Nordholt dan banyak lagi lainnya, semua menulis tentang Tragedi Nasional 1965 di Indonesia. Tak ketinggalan juga Prof. John Roosa yang menulis buku: “Dalih Pembunuhan Massal-G30S dan Kudeta Suharto” yang merupakan panduan penting untuk generasi muda Indonesia untuk mengerti tentang Kudeta Suharto, yang coba ditutupi dan disembunyikan oleh para  pendukung dan pengikut Suharto yang masih duduk di lembaga-lembaga pemerintahan dan kejaksaan sampai sekarang. Bahkan, seorang penulis Indonesia, Harsutejo juga pada 2003  telah berhasil menulis dan menerbitkan hasil penelitiannya yang berjudul : “G30S — Sejarah yang Digelapkan” — Tangan Berdarah CIA dan Rejim Suharto”.

Begitu banyaknya buku dan tulisan yang membukakan kepada bangsa dan generasi muda Indonesia tentang Peristiwa Tragedi Nasional dan Kudeta Suharto, sampai-sampai sebuah lembaga dokumentasi penting di Amsterdam Negeri Belanda, “Perkumpulan Dokumentasi Indonesia “, di bawah asuhan Saudara Sarmaji (seorang yang paspor Indonesianya dicabut Suharto), telah berhasil menyusun sebuah perpustakaan dan koleksi yang  jumlahnya tidak kurang dari 231 (duaratus tigapuluh satu) judul buku dan dokumen mengenai “Gerakan 30 September 1965 dan Dampaknya”.  (dari: Catatan Ibrahim Isa, Negeri Belanda)

Juga tidak bisa dilupakan segala  usaha dan jerih payah Saudari Cyntha, yang ayahnya  Dr. Wirantaprawira mendapat tugas belajar di Eropah Timur (1963-1968), namun kemudian paspornya dicabut oleh rejim Suharto hingga hampir 47 tahun terpaksa “kelayaban” di mancanegara.  Sebagai generasi muda yang lahir tahun 1983 dan hidup di luar Indonesia, Cyntha telah berhasil mengumpulkan tulisan-tulisan mengenai “Gerakan Satu Oktober 1965″ (Coupd´État ´65), yang telah disusunnya sebagai sebuah e-Book dengan judul “Menguak Tabir Peristiwa 1 Oktober 1965 – Mencari Keadilan (“Lifting the Curtain on the Coup of October 1st 1965 – Suing for the Justice”) Ini bisa dilihat dan dibaca dengan mengklik situs: http://www.wirantaprawira.net/pakorba/

Namun, dengan jumlah buku dan dokumen yang begitu, masih terasa belum mencukupi. Indonesia telah terlalu lama dicekoki dengan sejarah dan plintiran fakta oleh rejim Suharto. Sepertiga abad  lamanya, setiap hari  bangsa kita dijejali dongeng dan cerita rekayasaciptaan  rejim Orba, sehingga menjadi muak dan apatis dan akhirnya menjadi masa bodoh dan sebagian menganggap bahwa semua cerita itu sebagai suatu yang benar. Generasi muda Indonesia, pewaris-pewaris masa depan bangsa dan negara, perlu lebih banyak mengetahui, perlu lebih banyak bahan dan dokumentasi  untuk dipelajari guna menelanjangi Pemerintah sekarang dan para pejabatnya yang cenderung untuk menghilangkan dan menghapus secara diam-diam sejarah Tragedi Nasional 1965, tentang Pembunuhan Massal dan Kudeta Suharto.

Kita berterimakasih kepada Penerbit Ultimus Bandung yang pada 1 Agustus 2010 telah menerbitkan sebuah  buku kecil yang berjudul “Mengorek Abu Sejarah Hitam Indonesia”. Buku  setebal 256 halaman ini yang diberi kata pengantar oleh Prof. Jakob Sumardjo,  berisi kumpulan informasi dan tulisan dari para ahli sejarah dan penulis-penulis lainnya sekitar ‘sejarah hitam’ yang coba disembunyikan, dihilangkan dan dihapus atau  ibarat “abu” yang coba disiram , coba dimusnahkan  oleh pihak penguasa.  Dan abu sejarah hitam yang berserakan di mana-mana ini, dikumpulkan menjadi satu catatan yang berkesinambungan dan dijadikan buku, agar menjadi pegangan dan panduan kaum  muda Indonesia.

Di samping menceritakan secara urutan-kronologis-tentang sejarah hitam Indonesia dari masa sesudah Proklamasi Kemerdekaan sampai kepada wafatnya Bung Karno karena sengaja dibunuh secara perlahan oleh Suharto, buku ini memuat sebagian kecil (lebih dari seribu nama) Daftar Korban Genosida 1965-1968, yaitu nama para /tapol yang ditahan dan dihilangkan, dibunuh tanpa proses hukum oleh penguasa militer, di Jabar, Jateng, Jatim, Bali, Jogyakarta dan Sumut, Sumbar, Riau serta Daftar Pemerkosaan Perempuan di Indonesia tahun 66-67 yang dilakukan oleh Penguasa dan kakitangannya. Daftar ini diperoleh dari Bagian Data Lembaga Perjuangan Rehabilitasi Korban Rejim Orde Baru (LPR-KROB), yang merupakan sebagian kecil dari Daftar Genosida 65 yang oleh LPRKROB telah diserahkan kepada Komnas HAM. Setiap orang dianjurkan untuk mendapatkan buku kecil ini sebagai pegangan guna membantah omongan yang mengatakan “tidak ada jenderal yang membunuh rakyatnya” atau omongan yang mengatakan bahwa “genosida itu cuma terjadi di Rwanda, Kambodja dan Nazi Jerman” tanpa menyinggung sedikitpun tentang Pembunuhan Massal 3 juta orang di Indonesia oleh rejim Suharto. Bagi sanak saudara keluarga para korban, mungkin bisa menemukan nama ayah, ibu, saudara atau kakeknya dalam Daftar Genosida dan Perkosaan yang terlampir dalam buku tersebut.

Menurut Harian Sinar Harapan tanggal 10 Maret 2004, Ketua Komnas HAM Abdul Hakim Garuda Nusantara telah mengucapkan pernyataan yang antara lain menyebutkan bahwa : “Perlu diteliti siapa aktor dan berapa jumlah korban pembantaian 1965. Negara telah membiarkan korban selama puluhan tahun tanpa proses pengadilan, maka negara harus minta maaf dan memberikan keadilan pada korban”.

Dan Ifdhal Kasim Ketua Komisi Nasional (Komnas) HAM dalam mimbar bebas untuk memperingati Hari HAM se-Dunia di Kantor Komnas HAM, Jalan Latuharhary, Jakarta (Kamis, 10/12/2009). menilai “kebijakan SBY tidak serius dalam menuntaskan kasus pelanggaran hak asasi manusia (HAM) di Indonesia”. Jadi, nampaknya, selama masih Presiden Indonesia adalah SBY, mungkinkah bakal ada penyelidikan dan pemeriksaan atas drakula-drakula yang menumpahkan banyak darah bangsa Indonesia dalam Pembunuhan Massal 1965? Rasanya jauh panggang dari api, karena mbahnya drakula, si pembunuh manusia yang  terbesar  jumlahnya adalah Komandan RPKAD, Letnan Jenderal Sarwo Edhi Wibowo, yang adalah bapak mertua SBY sendiri! “Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah” kata Bung Karno!  Karenanya, tanpa ada keberanian SBY melakukan gebrakan, sebagai pimpinan negara untuk meminta maaf atas kejahatan kemanusiaan yang dilakukan pemerintahan rejim Suharto, dan melakukan rekonsiliasi atas para korban rejim Suharto, rasanya sulit bagi rakyat yang telah menderita selama 45 tahun untuk mengakui  SBY sebagai pemimpin mereka; Tidak bakal  ada arti samasekali bagi rakyat yang menderita, karena mereka akan menganggap Suharto dan SBY sami mawon!

Hendaknya, SBY berani belajar akan keberanian Paus John Paul II yang meminta maaf kepada Dunia karena keikutsertaan Katolik atas Nazi Hitker; berani belajar atas keberanian Perdana Menteri Australia Kevin Rudd yang meminta maaf atas perilaku pemerintahan masa lalu yang melakukan “stolen generation atas” anak-anak Aborigin Australia; berani belajar atas keberanian Perdana Menteri Inggris Gordon Brown, yang meminta maaf atas kesalahan pemerintahan masa lalu yang menculik anak-anak Inggris dan membuangnya – mentransmigrasikannya- ke Australia.Alangkah bagusnya kalau SBY mencontoh keberanian pemimpin-pemimpin dunia tersebut.

Mengingat  semuanya itu,  patutlah kiranya sama-sama kita hargai dan kita dukung segala usaha dan kegiatan yang dilakukan oleh berbagai kalangan dan golongan seperti LPR-KROB, YPKP, Pakorba, Komnas HAM, Kontras, dan organisasi-organisasi Kemanusiaan lainnya, baik di dalam maupun luarnegeri, yang selalu menyegarkan ingatan bangsa kita kepada tragedi besar yang telah menimbulkan begitu banyak korban. Apa yang dilakukan oleh organisasi-organisasi  tersebut diatas itu sangatlah perlu dan juga mulia bagi keseluruhan bangsa, termasuk bagi anak cucu kita di kemudian hari.  “Jangan sekali-kali melupakan sejarah”, pesan pemimpin kita Bung Karno.

Para korban rejim militer Suharto yang begitu banyak itu – terutama sekali yang dari golongan kiri dan pendukung politik Bung Karno – sudah terlalu lama, semenjak  1965, mendapat berbagai perlakuan yang melanggar HAM dari penguasa bahkan juga dari sebagian masyarakat. Mereka itu berhak menuntut dan berjuang bersama-sama untuk memperoleh hak mereka sebagai warganegara yang lain atau direhabilitasi sepenuhnya.

Mereka juga berhak sepenuhnya  – dan sudah seharusnya pula  – untuk menuntut diperbaikinya kesalahan-kesalahan yang begitu besar dan ditebusnya dosa-dosa berat yang sudah dilakukan begitu lama oleh Orde Baru beserta para penerusnya. Diperbaikinya kesalahan dan ditebusnya dosa-dosa terhadap para korban itu akan mendatangkan kebaikan bagi kehidupan bangsa, yang sampai sekarang masih tercabik-cabik, atau tersayat-sayat, sehingga melukai Pancasila dan merusak Bhinneka Tunggal Ika. (silahkan baca tulisan A.Umar Said, Paris dalam  Mengenang peristiwa 30 September 1965 dengan judul “Korban rejim Suharto berhak dan harus menuntut keadilan !”.- http://umarsaid.free.fr/)

Kawan-kawan para korban rejim Suharto, di manapun berada, baik yang belum maupun yang sudah tergabung dalam organisasi apapun  jua, dalam  mengenang, mengheningkan cipta  dan  memperingati 45 tahun Peristiwa Tragedi Bangsa 1965 ini,  mari bersatu teguh dan harus menggunakan hak kita sebagai bangsa Indonesia,  menuntut  keadilan kepada Pemerintah yang berkuasa! Jangan sampai tertipu dengan usaha-usaha licik para penerus rejim Orba (baca Suara Pembaruan 23/9/2010) yang  ingin mengangkat Suharto  sebagai “Pahlawan Nasional”.  Tuntaskan terlebih dahulu masalah Peristiwa 1965 dan Pembunuhan Massal 3 juta manusia tahun 1965/1966 itu, masalah Pembunuhan perlahan-lahan terhadap Bung Karno, Bapak Bangsa dan Pemimpin Revolusi Indonesia dan Kudeta merangkak Suharto, Cabut TAP No. XXV/MPR/1966 dan TAP XXXIII/MPR/1967, perjelas kebenaran sejarah Indonesia yang digelapkan selama ini, baru kemudian dipikirkan, apakah pantas untuk menganugerahi “koruptor/maling besar, penyelundup kawakan, penjahat kemanusian terbesar abad 20, sersan KNIL (serdadu  kolonialis Belanda) yang jadi penguasa Indonesia dan mengangkangi Indonesia selama sepertiga abad  lamanya , menjadi “pahlawan nasional”?.

“Jika Suharto pahlawan nasional, maka semua koruptor dan perusak negara Indonesia
ini, yang tak lain adalah anak anak didik dan anak anak kesayangan Suharto,
adalah putera putera bangsa yang berjasa ! Karena mereka ini adalah produk dari
orba selama Suharto berkuasa memerintah Indonesia .Jika Suharto pahlawan nasional , maka sebagai konsekwensi Bung Karno adalah dianggap penghianat Republik Indonesia , bukan pendiri dan proklamator RI, bukan penggali Pancasila, bukan pemimpin Revolusi Indonesia, bukan ketua BPPKI dan bukan salah satu perancang UUD 1945 . Dan Bung Karno adalah seorang berstatus tahanan atau pesakitan yang masih dipenjara-rumahkan ! Kenyataan lebih biadab lagi, Bung Karno telah dibunuh perlahan perlahan oleh rejim Suharto !
Konsekwensinya? Indonesia bukanlah lagi Republik Indonesia yang lahir dari Revolusi Agustus 1945 yang telah dibayar dengan waktu, pikiran, tenaga dan jiwa para founding mothers dan fathers kita selama periode dari tahun 1928 (Sumpah Pemuda) sampai Revolusi 1945 !” (Iwamardi-Jerman)

Mengangkat Suharto menjadi ‘pahlawan nasional’ adalah merupakan sebuah lelucon, dagelan-jawa yang tidak lucu, yang bukannya membuat rakyat tertawa dan gembira tetapi muntah!!!

YTTaher

Australia-30 September 2010.

Sumber:[GELORA45]  MENGENANG 45 TAHUN TRAGEDI KEMANUSIAAN INDONESIA

About these ads

3 comments so far

  1. M.Hadi Nopianto on

    Hormat Saya,

    Saya begitu terkesan dengan tulisan ini, saya hanya anak manusia yg ingin belajar sejarah (yg sesungguh nya) begitu banyak simpang siur sejarah dan rekayasanya di zaman ini..
    Yang saya bisa hanya mampu mendoakan saudara2 yg dimaksud diatas, dan menyumpah dalam hati kepada yg salah..

    Sekali lagi, maju terus bung !! jgn menyerah dgn dunia yg penuh rekayasa !!

  2. carapintarbelajar on

    walaupun indonesia tersiksa dalm segala hal,.,.,.tetapi indonesia tetap merdeka
    carapintarbelajar.wordpress.com

    w copy ya

  3. Aku gaptek on

    Bahas donk,fahamnya,komunisme=anti swasta asing,anti perusahaan asing,semua perusahaan milik negara.amerika negara kapitalis,bingung?gmn mengekplorasi emas papua,gas ,minyak di aceh?dan oleh karenanya komunisme dibantai.jadi temanya bukan kudeta tapi keinginan menguasai sumber kekayaan alam Indonesia atau kolonialisme alias penjajahan?mereka menang,Indonesia goblok.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 55 other followers

%d bloggers like this: