Puisi dan Dekonstruksi Sutardji

Tanggapan Singkat untuk Ignas Kleden

LEO KLEDEN

Terima kasih untuk tulisanmu, yang telah diterbitkan dalam lembaran “Bentara”, Kompas, 4 Agustus 2007. Dengan sangat senang saya membaca analisismu yang tajam dan jernih tentang puisi-puisi Sutardji. Saya ingin menanggapinya dengan memberikan sedikit catatan kritis. Sayang, semua buku dan catatan saya mengenai sastra Indonesia ada di Ledalero, maka catatan ini saya tulis berdasarkan ingatan dan informasi terbatas yang bisa saya peroleh dari internet.

Hemat saya, dalam analisismu satu aspek penting luput dari perhatian, atau tidak cukup dikembangkan. Aspek ini ingin saya namakan teknik “pemecahan dan fusi atom kata” untuk menemukan energi puitis yang dahsyat. Atau, seperti dikatakan Sutardji sendiri dalam Kredo Puisi: “Dalam (penciptaan) puisi saya, kata-kata saya biarkan bebas. Dalam gairahnya karena telah menemukan kebebasan, kata-kata meloncat-loncat dan menari di atas kertas, mabuk dan menelanjangi dirinya sendiri, mundar-mandir dan berkali-kali menunjukkan muka dan belakangnya yang mungkin sama atau tak sama, membelah dirinya dengan bebas, menyatukan dirinya sendiri dengan yang lain untuk memperkuat dirinya, membalik atau menyungsangkan sendiri dirinya dengan bebas….” (kursif oleh LK)

Teknik pemecahan kata itu terdapat misalnya dalam sajak berikut ini:

Tragedi Winka & Sihka

kawin

kawin

kawin

kawin

kawin

ka

win

ka

win

ka

win

ka

win

ka

winka

winka

winka

sihka

sihka

sihka

sih

ka

sih

ka

sih

ka

sih

ka

sih

ka

sih

sih

sih

sih

sih

sih

ka

Ku

Nama WINKA & SIHKA dalam judul adalah kebalikan dari kata KAWIN & KASIH. Dengan teknik penulisan grafis seperti ini penyair tampaknya menyarankan bahwa dalam aliran waktu KAWIN & KASIH bisa mengalami tragedi menjadi WINKA & SIHKA. Cara penulisan dengan memecah dan menyatukan antara lain diperkenalkan oleh penyair sekaligus pelukis dan pemahat Jerman Kurt Schwitters (1887-1948), yang salah satu puisinya yang terkenal diterjemahkan oleh Sutardji.

An Anna Blume

Oh Du, Geliebte meiner 27 Sinne, ich liebe Dir!

Du, Deiner, Dich Dir, ich Dir, Du mir, —- wir?

Das gehört beiläufig nicht hierher!

Wer bist Du, ungezähltes Frauenzimmer, Du bist, bist Du?

Die Leute sagen, Du wärest.

Laß sie sagen, sie wissen nicht, wie der Kirchturm steht.

Du trägst den Hut auf Deinen Füßen und wanderst auf die Hände,

Auf den Händen wanderst Du.

Halloh, Deine roten Kleider, in weiße Falten zersägt,

Rot liebe ich Anna Blume, rot liebe ich Dir.

Du, Deiner, Dich Dir, ich Dir, Du mir, —– wir?

Das gehört beiläufig in die kalte Glut!

Anna Blume, rote Anna Blume, wie sagen die Leute?

Preisfrage:

1. Anna Blume hat ein Vogel,

2. Anna Blume ist rot.

3. Welche Farbe hat der Vogel?

Blau ist die Farbe Deines gelben Haares,

Rot ist die Farbe Deines grünen Vogels.

Du schlichtes Mädchen im Alltagskleid,

Du liebes grünes Tier, ich liebe Dir!

Du Deiner Dich Dir, ich Dir, Du mir, —- wir!

Das gehört beiläufig in die —- Glutenkiste.

Anna Blume, Anna, A—-N—-N—-A!

Ich träufle Deinen Namen.

Dein Name tropft wie weiches Rindertalg.

Weißt Du es Anna, weißt Du es schon,

Man kann Dich auch von hinten lesen.

Und Du, Du Herrlichste von allen,

Du bist von hinten, wie von vorne:

A——N——N——A.

Rindertalg träufelt STREICHELN über meinen Rücken.

Anna Blume,

Du tropfes Tier,

Ich——-liebe——-Dir!


Sutardji Calzoum Bachri

Ana Bunga

Terjemahan bebas (Adaptasi) dari puisi Kurt Schwittters, An Anna Blume

Oh kau Sayangku duapuluh tujuh indera

Kucinta kau

Aku ke kau ke kau aku

Akulah kauku kaulah ku ke kau

Kita ?

Biarlah antara kita saja

Siapa kau, perempuan tak terbilang

Kau

Kau ? – orang bilang kau – biarkan orang bilang

Orang tak tahu menara gereja menjulang

Kaki, kau pakaikan topi, engkau jalan

dengan kedua

tanganmu

Amboi! Rok birumu putih gratis melipat-lipat

Ana merah bunga aku cinta kau, dalam merahmu aku

cinta kau

Merahcintaku Ana Bunga, merahcintaku pada kau

Kau yang pada kau yang milikkau aku yang padaku

kau yang padaku

Kita?

Dalam dingin api mari kita bicara

Ana Bunga, Ana Merah Bunga, mereka bilang apa?

Sayembara :

Ana Bunga buahku

Merah Ana Bunga

Warna apa aku?

Biru warna rambut kuningmu

Merah warna dalam buah hijaumu

Engkau gadis sederhana dalam pakaian sehari-hari

Kau hewan hijau manis, aku cinta kau

Kau padakau yang milikau yang kau aku

yang milikkau

kau yang ku

Kita ?

Biarkan antara kita saja

pada api perdiangan

Ana Bunga, Ana, A-n-a, aku teteskan namamu

Namamu menetes bagai lembut lilin

Apa kau tahu Ana Bunga, apa sudah kau tahu?

Orang dapat membaca kau dari belakang

Dan kau yang paling agung dari segala

Kau yang dari belakang, yang dari depan

A-N-A

Tetes lilin mengusapusap punggungku

Ana Bunga

Oh hewan meleleh

Aku cinta yang padakau!

1999 Catatan: Terjemahan Anna Blume dikerjakan untuk panitia peringatan Kurt Schwitters, Niedersachen, Jerman.

Terjemahan ini dibuat tahun 1999, jauh kemudian dari penerbitan sajak-sajak Sutardji yang dikumpulkan dalam O Amuk Kapak. Namun, akan menarik untuk diselidiki apakah Sutardji sudah mengenal Kurt Schwittters sebelumnya dan dipengaruhi olehnya. Apa pun teknik yang digunakan, seorang penyair selalu berusaha mencapai kata dengan daya pengucapan maksimal. Setahu saya, sajak satu kata yang paling singkat dan pejal dalam bahasa Indonesia ditulis oleh Sutardji dalam sajak ini:

Kalian

pun

Yang paling menarik bagi saya ialah teknik peleburan (fusi) kata yang menghasilkan energi puitis yang luar biasa. Ambillah contoh sajak ini:

Sepisaupi

sepisau luka sepisau duri

sepikul dosa sepukau sepi

sepisau duka serisau diri

sepisau sepi sepisau nyanyi

sepisaupa sepisaupi

sepisapanya sepikau sepi

sepisaupa sepisaupi

sepikul diri keranjang duri

sepisaupa sepisaupi

sepisaupa sepisaupi

sepisaupa sepisaupi

sampai pisauNya ke dalam nyanyi.

Judul sajak ini terdengar seperti mantra. Namun, pembaca yang awas langsung melihat kata “sepi” dan “pisau” dalam mantra ini, yang akan terus-menerus terulang dalam bait-bait sajak selanjutnya, yang sekaligus menyarankan ketegangan yang tak kunjung sudah antara makna dan tanpa-makna. Demikian juga kata “sepisau” bisa dibaca se + pisau, tetapi juga bisa dilihat sebagai peleburan kata “sepi & pisau”. “Sepi & pisau” itu mengiris-menikam sampai luka, menusuk seperti duri, menekan bagai sepikul beban dalam dosa namun tetap saja memukau, sepisau itu membawa duka membuat risau, bahkan merasuk sampai ke dalam nyanyi (bait I).

Kalau demikian apa daya? Penyair meninggalkan ruang makna dan meloncat ke dalam mantra dan berteriak “Sepisaupa sepisaupi” (bait II larik 1). Bahkan, dalam tenung mantra ini “sepi & pisau” itu tetap hadir di relung “sepisaupa sepisaupi” . Ketegangan antara makna dan tanpa-makna tidak kunjung terselesaikan dalam sebuah sintesa ala Hegel, melainkan dibiarkan hidup dalam ketegangan tanpa akhir menurut dekonstruksi ala Derrida. Ketegangan itu lubuk risau tapi juga sumber daya-cipta sang penyair. “Sepisapanya sepikau sepi” (bait II larik 2): Sepisapanya bisa dibaca sebagai sepi + sapa + nya, tetapi bisa juga merupakan fusi dari sepi + siapa + punya, sedangkan sepikau bisa dibaca sepi + kau atau se + pikau (yang berarti berteriak lantang tak keruan). Maka, larik itu menyiratkan: Sepi siapa punya atau pun sepimu itu tetaplah sepi yang menjerit lantang tak keruan antara makna dan tanpa-makna “Sepisaupa sepisaupi” (bait II larik 3), yang akhirnya menjadi beban eksistensial yang mesti ditanggung sendiri (sepikul diri) betapapun menusuk seperti sekeranjang duri (bait II larik 4).

Dalam bait III:

sepisaupa sepisaupi

sepisaupa sepisaupi

sepisaupa sepisaupi

sampai pisauNya ke dalam nyanyi

Sang penyair yang mabuk dalam tenung tiga kali meneriakkan mantra sepisaupa sepisaupi dan toh antara sadar dan tak-sadar tetap merasa “sampai pisauNya ke dalam nyanyi”. Pada akhirnya pengalaman eksistensial akan pisau sepi itu serentak merupakan pengalaman religius akan pisauNya yang tidak membiarkan aku berpuas diri, menusuk sampai ke dalam nyanyi.

Kepedihan pisau sepi dalam ketegangan tak berujung antara makna dan tanpa-makna juga nyata dalam bait sajak yang engkau kutip menjelang akhir papermu (Sajak tak berjudul yang dimulai dengan frase: Ah rasa yang dalam!).

Rasa dari segala risau sepi dari segala nabi tanya dari segala

nyata sebab dari segala abad sungsang dari segala sampai duri

dari segala rindu luka dari segala laku igau dari segala risau

kubu dari segala buku resah dari segala rasa rusuh dari segala

guruh sia dari segala saya duka dari segala daku Ina dari segala

Anu puteri pesonaku!

datang Kau padaku!

Ketegangan antara makna dan tanpa-makna itu meruncing dalam pelbagai ungkapan yang menyatakan bahwa tak ada sesuatu pun yang lengkap-utuh dalam pengalaman eksistensial: “Sepi dari segala nabi”, “tanya dari segala nyata”, “sungsang dari segala sampai”, “duri dari segala rindu”, “luka dari segala laku”, “sia dari segala saya”, “duka dari segala daku”. Pengalaman hidup yang paling intens sekalipun mengandung sesuatu yang sia-sia, tetapi kesia-siaan yang getir itu membuka sebuah dimensi lain, yang mengubah pergulatan panjang sang penyair menjadi sebuah doa di larik akhir:

Kasih! jangan menampik

masuk Kau padaku! (O, Amuk, Kapak)


Leo Kleden Rohaniwan, Pengajar Filsafat pada Sekolah Tinggi Filsafat Ledalero, Maumere, Flores, Setelah Menyelesaikan Studi S-3 Filsafat di Universitas Leuven Belgia pada Awal 1990-an. Saat Ini Sedang Berada di Almamaternya di Leuven untuk Penulisan Sebuah Buku Filsafat.

(diambil dari KOMPAS, edisi Sabtu, 01 September 2007)

About these ads

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 55 other followers

%d bloggers like this: