SASTRA DAN MEMOAR TRAGEDI 1965: MEMBUKA KOTAK PANDORA

[1]

Yoseph Yapi Taum[2]

1. Pengantar

Ketika saya diminta oleh Yohanes B. Wibawa untuk berbicara dalam forum Peluncuran Buku dan Diskusi Sastra, yang akan meluncurkan 12 buah buku Penerbit Ultimus Bandung yang bertemakan “Dari yang Dibuang dan Dibungkamkan”, tanggal 3 Juli 2010, saya langsung menjawab “Bersedia!” Tetapi ketika menghadapi 12 buku yang tebal-tebal, saya menjadi ragu-ragu, apakah pembicaraan saya bermanfaat atau tidak.  Yang saya lakukan adalah memberikan kesan-kesan umum yang mungkin bersifat subjektif tentang ke-12 buku ini. Keraguan itu disebabkan karena beragamnya buku-buku yang akan dibahas. Buku-buku itu terdiri dari buku-buku memoar dan buku-buku karya sastra.

Buku-buku memoar itu adalah: (1) Kisah-kisah dari Tanah Merah: Cerita Digul Cerita Buru karya Triramidjo. Bandung : Ultimus, 2009. Pengantar Jakob Sumardjo; (2) Bulembangbu: Kisah Pahit Seorang Tahanan G.30.S karya N. Syam. H. Jakarta : Cipta Pustaka, 2009; (3) Kisah Perjalanan karya Syarkawi Manap. Bandung : Ultimus, 2009; (4) Pelangi karya Tatiana Lukman. Bandung : Ultimus, 2010; (5) Azalea: Hidup Mengejar Ijazah karya Asahan Alham. Jakarta : Klik Books, 2009. Buku-buku memoar ini tentu saja bukan buku-buku fiksi, melainkan karya-karya autobiografi yang jelas mengacu pada fakta dan realitas empiris.

Sedangkan buku-buku karya sastra adalah (1) Pelita Keajaiban Dunia karya Nurdiana. Bandung : Ultimus, 2010; (2) Nyanyian dalam Kelam karya Sutikno W. S. Bandung: Ultimus, 2010. Pengantar Asep Samboja; (3) Gelora Api 26: Kumpulan Cerpen dan Puisi Penyunting Chalik Hamid, Bandung : Ultimus, 2010 Pengantar Asep Samboja; (4) Puisi-puisi dari Penjara karya S. Anantaguna. Bandung : Ultimus, 2010. Pengantar Asep Samboja; (5) Aku Hadir di Hari Ini karya Hr. Bandaharo. Bandung : Ultimus, 2010.

Untuk dapat memberikan sebuah pengantar sebagai bahan diskusi, catatan ini saya buat. Catatan ini akan dibagi dalam tiga bagian. Bagian pertama saya akan memberikan catatan berupa kesan-kesan umum saya atas ke-10 buku ini. Bagian kedua, sebuah kajian sederhana tentang sastra sebagai corong suara korban Bagian ketiga,membahas Tragedi 1965 dalam Sejarah Sastra. Uraian ini akan diakhiri dengan sebuah catatan penutup.

2. Isi Ringkas Buku-buku Tersebut

Kisah-kisah dari Tanah Merah: Cerita Digul Cerita Buru karya Triramidjo. Bandung : Ultimus, 2009. Pengantar Jakob Sumardjo

Buku ini sangat menarik karena memberikan gambaran yang gambling dan lugas tentang dua lokasi pembuangan tahanan politik pada dua rezim pemerintahan dengan dua kondisi yang amat berbeda. Perhatikan perbandingannya dalam table berikut.

Tanah Merah Boven Digul, 1927-1941  (14 tahun) Pulau Buru, 1966-1979 (13 tahun)
1.      Zaman Pemerintahan Kolonial Belanda

2.      Dibuang ke Digul bersama keluarganya

3.      Fasilitas: kelambu, alat-alat kerja militer lengkap dengan topi militer; makanan militer (daging kaleng, ikan kaleng, nasi goreng kaleng, tempat minum) diberi tunjangan f.12,60

4.      Kesehatan sangat diperhatikan: Jika sakit diobati oleh dokter asli Belanda

1.      Zaman Pemerintahan Orde Baru

2.      Dipisahkan dari istri dan anak-anaknya

3.      Fasilitas tidak ada: barak-barak dibangun sendiri, tidak ada peralatan, mencari makan sendiri, memberi makan pejabat militer, tidak ada tunjangan uang.

4.      Jika sakit tidak diperiksa, tidak sakit malah diperiksa (Puisi S. Anantaguna, “Interogasi” dalam Puisi-puisi dari Penjara.

Bulembangbu: Kisah Pahit Seorang Tahanan G.30.S karya N. Syam. H. Jakarta: Cipta Pustaka, 2009

Yang menarik dari Bulembangbu ini adalah kritiknya terhadap apa yang disebut Santiaji. Santiaji (santi = ikrar, janji, sumpah; aji = pusaka, pegangan, ilmu) adalah ceramah-ceramah agama maupun ideologi (pancasila) yang diberikan kepada para tahanan politik, yang dilakukan seminggu/dua minggu sekali. Tujuannya adalah mengubah mental dan moral para tahanan PKI agar mental kafir dan anti-Tuhannya berubah menjadi mental agamis, mau melaksanakan perintah agama dan menjauhkan larangan Tuhan.

Orang-orang yang memberikan santiaji ini rupanya tidak pernah meneliti siapa dan bagaimana kami, para tapol PKI. Mereka tidak tahu bahwa banyak tahanan politik PKI yang mempunyai keimanan sangat kuat (apakah Budha, Nasrani, Hindu, Kong Hu Cu, dan terutama Islam. Jadi bagaimana bisa PKI itu dikatakan sebagai Atheis, anti pada agama dan Tuhan?

Kisah Perjalanan karya Syarkawi Manap. Bandung : Ultimus, 2009

Syarkawi yang lahir di Tanjung Raya, Lahat, Sumatra Selatan ini pun memprotes pandangan yang membenturkan agama dan PKI. Bagi Syarkawi, sejak dulu dia tidak pernah melepaskan agama Islam yang dianut. Tahun 1997, dia pergi naik haji dari Stockhom (Swedia). Dia pun menjelaskan posisi pandangan politiknya yang “kiri”, pernah menjadi anggota PKI, bahkan pernah mengucapkan sumpah  sesuai dengan konstitusi PKI sebagai berikut.

“Saya bersumpah akan memenuhi semua kewajiban partai, memelihara kesatuan partai, melaksanakan putusan-putusan partai, menjadi contoh dalam perjuangan untuk tanah air dan rakyat, berusaha menjadi contoh dalam kehidupan sehari-hari, meneguhkan hubungan massa dengan partai, memperdalam kesadaran dan menguasai prinsip-prinsip Marxism/Leninism, berterus terang dan jujur kepada partai, menataati disiplin partai,menjaga keselamatan partai.”

Tujuan dan cita-cita PKI yang menariknya adalah: membebaskan rakyat Indonesia dari segala macam belenggu penindasan, membebaskan rakyat dari kemiskinan dan kelaparan. Cita-cita PKI ini tidak akan pernah dia lepaskan sekalipun dengan resiko menjadi warna negara Swedia.

Pelangi karya Tatiana Lukman. Bandung : Ultimus, 2010

Pelangi berisi 12 buah cerpen autobiografi Tatiana Lukman, yang memiliki gaya penulisan seperti gaya penulisan N. H. Dini. Semua kejadiannya berlokasi di luar negeri, seperti Kuba, Italia, Meksiko, dan Belanda.

Gelora Api 26: Kumpulan Cerpen dan Puisi Penyunting Chalik Hamid, Bandung: Ultimus, 2010 Pengantar Asep Samboja

Berbeda dari buku-buku yang lainnya, buku ini adalah sebuah bunga rampai yang berisi enam buah cerpen, 10 buah puisi, dan sebuah lagu berjudul 12 November, yang semuanya berbicara tentang peristiwa pemberontakan PKI pada 12 November 1926. Oleh editornya, karya-karya sastra ini pada umumnya diambil dari buku Api 26 (Yayasan Pembaruan Jakarta, 1961) dan Majalah API ( Albania , 1976). Melalui buku ini, pemahaman kita tentang peranan PKI dalam perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia menjadi lebih jelas.

Nyanyian dalam Kelam karya Sutikno W. S. Bandung: Ultimus, 2010. Pengantar Asep Samboja;

Buku kumpulan puisi ini berisi 29 puisi yang terbagi dalam dua bagian. Bagian pertama Hari-hari Tak Punya Siang yang berisi 16 puisi, merupakan puisi-puisi yang ditulisnya dari dalam tembok penjara Salemba (1969-1972). Bagian kedua Hari-hari Bermandi Matahari berisi 13 buah puisi yang ditulisnya di Pulau Buru .  Secara keseluruhan, semua puisi Sutikno WS merupakan puisi-puisi yang sangat berhasil, yang merupakan hasil permenungan yang intens atas penderitaan yang dialami.

3. Sastra sebagai Suara Korban

Apa sesungguhnya harapan korban? Elie Wiesel (lihat Sumarwan, 2007: 377)mengatakan “Marilah kita berkisah sehingga para eksekutor tidak dibiarkan menjadi pemilik kata terakhir. Kata terakhir adalah milik para korban”. Dia mengajak kita semua untuk terus bercerita. Kisah para korban mesti diteruskan dan dikomunikasikan kepada sebanyak mungkin orang.

3.1 Korban yang Gagal dan Menyerah

“Please Give Us Voice”

When broken glass floats, a nation drowns,

Descending to the abyss

From mass graves in the once-gentle land,

Their blood seeps into mother earth.

Their suffering spirits whisper to the world,

“Why has this happened?”

Their voice resounds in the spirit world,

Shouts through the souls of survivors,

Determined to connect, begging the world:

Please remember us.

Please speak for us.

Please bring us justice.

(Chanrithy Him – Growing Up Under the Khmer Rouge, 2000)

Dalam Senja Kehidupan Tambah Mendekat

(H R Bandahoro, Aku Hadir di Hari Ini, 2010)

….

Napoleon di St. Helena pun merasakan ini

panglima penakluk Eropa yang menjadi orang buangan

kehilangan mimpi dan harapan, terkucil dari sejarah

tapi aku tak sakit hati, tak menaruh dendam

tak membenci siapa pun, tak iri pada siapa pun

tak mengutuk, tak menyesali diri

hati dan jiwaku merasa tenteram

karena yakin, mimpi yang gagal pun adalah sejarah

(1983)

SEKALIPUN MENYERAH

dosa manusia telah ditebus di tiang salib

seberat dosa dalam timbangan….

putra-putri agustus telah dicap dengan cap buatan sementara

lalu dipikullah dosa dengan sukarela

menanti dan menanti, hari berganti hari

menanti ini pun adalah bagian sejarah

tak mungkin seorang melepaskan diri

daripadanya –sekalipun menyerah

Dalam puisi “Please Give Us Voice” karya Chanrity Him ini ada gugatan, bahkan gugatan atas nama roh-roh orang mati dari kuburan massal yang dia suarakan kepada dunia. Mereka menuntut untuk dikenang (di-wong-ke) dan menuntut keadilan. Harapannya adalah: agar kebenaran ditegakkan dan keadilan dijunjung tinggi.

Sedangkan dalam puisi “Dalam Senja Kehidupan Tambah Mendekat” karya H R Bandahoro, tidak ada nada gugatan seperti itu. Dia merasa terkucil dari sejarah, tetapi dia tidak sakit hati, dendam, benci, iri hati, dan menyesal. Dalam buku Menyeberangi Sungai Air Mata: Kisah Tragis Tapol ’65 dan Upaya Rekonsiliasi Antonisus Sumarwan (2007) juga bernada sama. Para korban memaafkan pelaku, tidak merasa sakit hati, dan bahkan menawarkan rekonsiliasi dengan para pelaku. Pertanyaannya, apakah semua karya sastra (khususnya puisi) ini bernada sama? Nrimo). Adakah puisi yang bertujuan menggugat dan memperjuangkan hak-hak korban dengan penuh semangat?

2.2 Korban yang Gelorakan Semangat Perjuangan

Ziarah

Hersri Setiawan (2007: 158)

….

papan papan mati

tanda kehidupan

orang orang kalah

kembali berkisah

pantang menyerah

pantang menyerah

bukit walgan pulau buru, 1975

SERUAN PADA SESAMA KORBAN

(dari tanah persinggahan)

menyongsong temu korban orba

saudara, mari kita pandang ke atas

dalam satu semangat, perlawanan

pada mata-air kepalsuan

pada mata-air kezaliman

akhiri kekuasaan zalim dan palsu

(kockengen, 5 mei 2003)

Bung Abe

(Abe = Kohar Ibrahim)

Nurdiana (2010: 126-127)

Kita tak gundah alam berubah,

tidak ngeri musim berganti,

puting beliung mengharu jagat,

kaum kiri nyaris terbasmi.

Raksasa tua sempat berjaya,

perwira antek pegang kuasa,

darah tumpah gelimang air mata,

betapa sengsara melanda bangsa.

Di kala persada dibenam kelam,

di Timur terbit mentari pagi,

Naga bangun angkat kepala,

kumandangkan lantang tak terhalang:

Bangunlah kaum yang terhina!

Bangunlah kaum yang lapar!

panji merah berkibar jaya,

Dunia tengah berganti rupa.

Upacara

Sutikno WS

hari ini// yang terbaring dalam usungan//masuk lagi bilangan//mereka yang terampas//dan dilumpuhkan//

tapi ada satu yang tak terkalahkan//ialah kehendak//untuk beraturung//dan merebut kemenangan

(Salemba, 1973)

2.3 Korban sebagai Penyair dalam Renungan yang Sublim

Renungan yang Tinggi Mutu Ideologi dan Mutu Artistiknya, adalah sebuah renungan di sebuah pantai yang sama di Pulau Buru , yaitu Pantai Sanleko.

Pantai Sanleko

(Hersri Setiawan)

aku mencium angin pantai

asin laut berdebur

mengusap bibir

getaran sepi

melimbur datang bersama

gelombang bergulung

bayangan seragam loreng

mata tentara dendam kesumat

bayangan gagang karaben

bersambaran di atas kepala

oleh rasa sendiri

basah tampuk mataku

dua puluh tahun lalu

delapan ratus lima puluh

tapol-tapol tak berdaya

merangkak di panasnya pasir

masing-masing hanya bisa

mencoba bertahan

angka-angka nomor deportasi

hitam di dada dan pantat seragam

seperti komunis-komunis dan yahudi

musuh-musuh hitler yang harus mati

tangan-tangan dan kaki-kaki kurus

melindungi dada dan kepala mereka

dari sambaran gagang-gagang karaben

kenangan dua puluh tahun

kembali mengalir

bersama tetes air mata

Inilah Pamflet Itu karya Hersri Setiawan (2007)

Di Pasir-pasir Sanleko

(Sutikno W.S)

bermain gadis kecil di pasir-pasir sanleko

kelam matanya –duh

dalam memagut hatiku

di sini

yang terampas pun hidup dalam papa

berpacu antara lapar dan terik matahari

o tanah pengasingan

jika itulah namamu

ajarkan padaku hidup

untuk menimba

kemuliaan yang lahir dari lubuk derita

dank kau, o anak manis yang sendiri di teluk sunyi

pabila inilah pula fitrah hidupmu

menimba harapan pada puncak layar yang tak kunjung tiba

pada laut dan risik angin yang mengabarkan kesengsaraan kerabatmu

di pasir-pasir ini mari digali

derajat baru dari kemerdekaan yang tidak dipalsukan

serta hidup, dalam mana

cinta bukan lagi perhambaan

(1973 – Buru )

Ingatan Hersri tentang Pantai Sanleko di Pulau Buru adalah sebuah kenangan buruk: 850 orang tapol merangkak di panasnya pasir: tangan-tangan dan kaki-kaki kurus melindungi dada dan kepala mereka dari sambaran gagang-gagang karaben. Ingatan tentang Pantai Sanleko meneteskan air mata. Di pantai Sanleko, bayangan traumatis sejarah kelam itu mencuat kembali dan meneteskan air mata, air mata penderitaan dan penyesalan sekaligus.

Sebaliknya Sutikno WS memandang Pantai Sanleko sebagai sebuah kenangan yang indah, di mana ada seorang gadis kecil bermain-main sendirian di pasir dan teluk yang sunyi. Ada perenungan tentang cinta, fitrah, pertanyaan tentang kemerdekaan di sana .

Sebuah renungan yang sangat menggetarkan hati siapapun yang membacanya tampak dalam puisi “Kubur di Atas Bukit” karya Sutikno W.S., yang menceritakan kematian dua orang sahabat tapolnya di Pulau Buru .

Kubur di Atas Bukit

Sutikno W.S.

kembang mihong di bukit berbatu

turun mengetukkan kesunyian

jauh di dasar hatiku

ah kalaulah biru itu kesetiaan

alangkah mengharukan

anak-anak yang istirah di pengembaraan ini

memeluk kedamaian abadi

berpayung langit dalam membiru

bersunting bunga mahkota ungi

mustar dan ardi

dan ditulisnya ini tingkap kehidupan

seuntai pastoral paling sendu

tentang angin dan daun-daun

yang gugur ke pangkuan bumi

nyayian perjalanan hidupnya sendiri

kembang mihong di bukit berbatu

singgah menyulamkan kenangan

pada yang terbaring berbekal rindu

ah kalaulah biru itu ketulusan

kusunting mari seuntai bagimu

bunga perdu bermahkota ungu

kasih yang terpahat di batu penghabisan

(1974)

4. Tragedi 1965 dalam Sejarah Sastra

Dalam lintasan sejarah sastra Indonesia , tema tentang Tragedi 1965 mengalami pasang surut pembicaraan sebagai berikut.

Tahun 1960-an:

1)      Hoerip, Satyagraha, 1966. “Pada Titik Kulminasi.” Horison No. 3 Tahun I, September 1966

2)      Poyk, Gerson, 1966. “Perempuan dan Anak-anaknya.” Horison No. 5 Tahun I,            Nopember 1966

3)      Zulidahlan, 1967. “Maka Sempurnalah Penderitaan Saya di Muka Bumi.” Horison No. 3 Tahun II, Maret 1967

4)      Nugroho, Sosiawan, 1967. “Sebuah Perjoangan Kecil.” Horison No. 10 Tahun II, Oktober 1967

5)      Usamah, 1969. “Perang dan Kemanusiaan.” Horison No. 8 Tahun IV, Agustus 1969,

6)      Kayam, Umar, 1969. “Musim Gugur Kembali di Connecticut.” Horison No. 10  Tahun IV, Agustus 1969

7)      Kayam, Umar, 1970. “Bawuk.” Horison No. 1 Tahun V, Januari 1970

8)      Aleida, Martin, 1970. “Malam Kelabu.”  Horison No. 2 Tahun V, Februari 1970,

9)      Kipanjikusmin, 1967. “Bintang Maut.” Sastra No. 1 Tahun V, Nopember 1967,

10)  Kipanjikusmin, 1968. “Domba Kain.” Sastra No. 5 Tahun VI, Mei 1968

11)  Ugati, H.G., 1969. “Ancaman.” Sastra No. 6 Tahun VII, Juni 1969

12)  Sjoekoer, Mohammad, 1969. “Maut.” Sastra No. 10 Tahun VII, Oktober 1969

Tahun 1970-an: Tidak Menyinggung Tragedi 1965

ü      Sastra kreatif tahun 1970-an tidak nyaris sama sekali tidak menyuarakan makna peristiwa-peristiwa tahun 1965 dan akibatnya bagi kehidupan perorangan, masyarakat, dan bangsa.

ü      Perhatian sastrawan besar lebih ke isu-isu internasional (Foulcher).

Tahun 1980-an:

1)      Ahmad Tohari Ronggeng Dukuh Paruk (1982), Lintang Kemukus Dini Hari (1985), dan Jantera Bianglala (1986). Ketiga novel inilah yang dikenal sebagai Trilogi  Ronggeng Dukuh Paruk, yang pada tahun 2003 muncul dalam versi lengkap dalam satu buku.

2)      Ashadi Siregar Jentera Lepas (Jakarta: Cypress, 1979);

3)      Yudhistira Ardi Noegraha, Mencoba Tidak Menyerah (Jakarta: Gramedia, 1979);

4)      Putu Oka Sukanta, Selat Bali, (Jakarta: Inkultura, 1982),

5)      Putu Oka Sukanta Tembang Jalak Bali, (Kuala Lumpur: Wira Karya, 1986),

6)      Ajib Rosidi, Anak Tanahair, Secercah Kisah (Jakarta: Gramedia, 1985) dan

7)      Arswendo Atmowiloto, Pengkhianatan G30S/PKI (Jakarta: Sinar Harapan, 1986).

8)      Terbit pula karya-karya para sastrawan Lekra, terutama karya-karya Pramoedya Ananta Toer

Pemerintah Membuat Film Pengkhianatan G30S PKI (1985) karena: 1) Banyak bermunculan karya sastra yang ‘bersimpati pada korban-korban Tragedi 1965’; 2) Semua tahanan politik di berbagai penjara, termasuk  Pulau Buru sudah dilepaskan.

Tahun 1990-2000an: Muncul Banyak Memoar, Autobiografi, dan Karya Sastra yang Ditulis oleh Mantan-mantan Tapol

1) Budiardjo, Carmel , Surviving Indonesia ‘s Gulag (London: Cassel, 1995). Terjemahan: Bertahan

2)      Hidup di Gulag Indonesia (Kuala Lumpur: Wira Karya, 1997).

3)      Dani, Omar, Tuhan Pergunakanlah Hati, Pikiran dan Tanganku: Pleidoi Omar Dani ( Jakarta :

4)      ISAI, 2001).

5)      Hanafi, A.M., A.M. Hanafi Menggugat (Lile, France: Edition Montblanc, 1998).

6)      Havelaar, Ruth (Jitske Mulder), Selamat Tinggal Indonesia ( Jakarta : Lentera, 1995; Pustaka Utan

7) Kayu, 2003). Diterjemahkan dari Quartering: A Story of a Marriage in Indonesia During

8)      the Eighties (Monash Papers on Southeast Asia, no. 24, 1991).

9)      Krisnadi, I.G., Tahanan Politik Pulau Buru, 1969-1979 ( Jakarta : LP3ES, 2001).

10)  Latief, Kol. Abdul, Pleidoi Kol. A. Latief: Soeharto Terlibat G-30S ( Jakarta : ISAI, 2000).

11) Marni, Ibu, “I am a Leaf in a Storm,”  diedit dan diterjemahkan oleh Anton Lucas, Indonesia 47

12)  (April 1989).

13)  Moestahal, H. Achmadi, Dari Gontor ke Pulau Buru ( Yogyakarta : Syarikat, 2002).

14)  Oei Tjoe Tat, Memoar Oei Tjoe Tat: Pembantu Presiden Soekarno (Jakarta: Hasta Mitra, 1995).

15)  Nusa, Pandu, “The Path of Suffering: The Report of a Political Prisoner on his Journey through

16)  Various Prison Camps in Indonesia ,” Bulletin of Concerned Asian Scholars 19: 1 (1987).

17) Prayitno, Suyatno; Hasibuan, Astaman; Buntoro, Kesaksian Tapol Orde Baru: Guru, Seniman,

18)  Prajurit ( Jakarta : Pustaka Utan Kayu, 2003).

19)  Raid, Hasan, Pergulatan Muslim Komunis ( Yogyakarta : LKPSM/Syarikat, 2001).

20)  Reksosamodra, Pranoto, Memoar Major Jenderal Raden Pranoto Reksosamodra ( Yogyakarta :

21)  Syarikat, 2002).

Berdasarkan pembacaan terhadap berbagai karya sastra yang membicarakan tentang tragedi 1965, saya menyimpulkan empat poin sebagai berikut.

1.      Berbagai karya sastra menggambarkan bahwa suasana di tahun 1965 – 1966 diisi dengan aroma pertentangan dan dendam memuncak yang memuncak, terutama antara kekuatan tentara dan PKI. Propaganda hitam-putih yang semuanya ditujukan untuk mendiskreditkan PKI, terutama dengan  menuduh PKI sebagai dalang peristiwa G30S/PKI mencapai kesuksesan yang luar biasa. Film Pengkhianatan G30S/PKI, buku teks Sejarah Nasional Indonesia, dan berbagai museum dan monumen mengawetkan image buruk tentang PKI.

2.      Pembantaian PKI luar biasa binatangnya, tak pandang bulu: lembaga keluarga dihancurkan, anak kecil, bayi, perempuan, guru, seniman, dosen, dokter dibantai tanpa pandang bulu.

3.      Hampir semua sastrawan bersimpati pada korban pembantaian. Beberapa  sastrawan, seperti Umar Kayam mencoba memilah, mana kader PKI yang ‘pantas dibunuh’ dan mana simpatisan yang tidak pantas dibunuh.

4.      Secara keseluruhan, saya menilai bahwa karya sastra keluar dari wacana dominan, dan memberikan ruang ekspresi yang relatif lebih bebas untuk menungkapkan pikiran, perasaan, bahkan protes dan penolakan yang berasal dari jiwa dan hati nurani sastrawan.

5. Catatan Penutup

Buku-buku memoar tentang Tragedi 1965 sudah cukup banyak ditulis. Hal ini merupakan sebuah bukti bahwa sebagian besar para korban tidak tinggal diam. Mereka tetap melakukan sesuatu dengan berbagai cara untuk melawan kesewenang-wenangan regim otoriter Orde Baru. Salah satunya adalah dengan menuliskan karya sastra dan memoar.  Upaya itu masih berlangsung sampai saat ini. Kini sebuah tantangan baru dihadapi, yaitu mereka masih harus berhadapan dengan ormas-ormas tertentu yang terus-menerus berupaya membungkam suara mereka.

Ke-12 buku yang diluncurkan hari ini membuka kota Pandora yang menguak kejahatan-kejahatan kemanusiaan yang dilakukan rezim otoriter Orde Baru. Perbandingan suasana dan perlakuan terhadap tapol di Boven Digul dengan di Pulau Buru menunjukkan bahwa perlakuan Orde Baru terhadap para tapol memang melampaui batas kemanusiaan yang adil dan beradab. Santiaji dan berbagai teori Orde Baru tentang agama dan Pancasila hanyalah lip service yang kosong tanpa makna. Membaca buku-buku ini timbul rasa ngeri bercampur malu dan rasa berdosa yang besar. Inilah sebuah potret pertunjukan yang sangat mengerikan, di mana terjadi pembunuhan bangsa kita oleh bangsa kita sendiri. Pewarisan ingatan Orde Baru yang sangat kuat, yang mempertentangkan secara hitam-putih antara agama (theism) dengan PKI (a-theisme) merupakan propaganda keji yang telah berhasil membangkitkan amarah dan emosi massa untuk menghancurkan komunis. Dalam kenyataannya, hampir semua anggota PKI di Indonesia adalah pemeluk salah satu agama resmi, bahkan banyak di antara mereka yang amat taat beribadah. Tragedi yang menimpa PKI adalah sebuah tragedi kemanusiaan yang amat parah yang harus dikuak terus-menerus agar dipelajari dan agar kejahatan di kemudian hari dapat dihindari.

Sebagai karya sastra, buku-buku yang sudah dilempar ke publik ini merupakan jalan menuju menuju kebenaran.[3] Kebenaran sastra menyentuh secara lembut, tidak menggugat, tidak menghukum. Selama berkuasanya regim Orde Baru, kebenaran tentang komunis telah dimanipulasi. Karya-karya ini menjadi bagian dari memori kolektif bangsa Indonesia yang secara perlahan tetapi pasti akan mengobati luka kemanusiaan akibat berkuasanya angkara murka Orde Baru.


[1] Bahan diskusi  dalam Peluncuran Buku dan Diskusi Sastra 12 buah buku Penerbit Ultimus Bandung yang bertemakan “Dari yang Dibuang dan Dibungkamkan”, tanggal 3 Juli 2010, di Elpueblo Café, Yogyakarta.

[2] Yoseph Yapi Taum, dosen Fakultas Sastra Universitas Sanata Dharma. Sedang menulis disertasi berjudul Representasi Tragedi 1965 dalam Sastra Indonesia : Pendekatan New Historicism pada FIB UGM.

[3] Ada empat  jalan menuju kebenaran, yaitu agama, filsafat, ilmu pengetahuan, dan  sastra.

About these ads

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 57 other followers

%d bloggers like this: