Archive for 2009

PEPATAH-PETITIH DAN UNGKAPAN-UNGKAPAN BAHASA DAYAK NGAJU KALIMANTAN TENGAH

Jurnal Toddopuli 34

(Cerita Untuk Andriani S. Kusni Dan Anak-Anakku)

Ada yang lebih memfokuskan kegiatannya pada pemberdayaan ekonomi masyarakat, ada pula yang memilih dunia bahasa, sejarah, budaya Kaharingan, tekhnologi atau musik sebagai bidang tekunan. Mulai nampak adanya spesialisasi masalah yang ditekuni dan ditangani secara sungguh-sungguh. Berharap saja bahwa spesialisasi tidak membuat orang menutup mata dan telinga terhadap bidang-bidang lain, lalu merasa bidang tekunannya sendiri yang paling “wah” sehingga kurang memahami arti penting pendekatan multi disipliner dan makna saling hubungan dalam suatu perkembangan dialektis hal-ikhwal. Di samping gejala mulai terjadinya spesialisasi bidang tekunan, terdapat tidak sedikit pula bidang-bidang yang belum terjamah baik. Bidang sastra, seni lukis, teater, misalnya masih belum memperlihatkan perkembangan berarti dibandingkan dengan 7 tahun silam saat saya masih bekerja di propinsi ini. Dunia eterntainment masih jauh dari perhatian, padahal masyarakat berbagai kalangan sangat kekurangan dan memerlukan hiburan. Sejak 1957 saat berdirinya Palangka Raya sampai hari ini, tak ada sebuah gedung bioskop pun terdapat di ibukota propinsi ke-17 ini. Terdengar berita bahwa dalam waktu dekat Bioskop 21 akan diadakan di Palma (Palangka Raya Mall). Apakah Palangka Raya kekurangan gedung-gedung pertunjukan? Aneh jika demikian, sementara banyak gedung-gedung yang mubazir tak dimanfaatkan tapi gedung-gedung baru terus dibangun, mungkin atas nama “proyek”. Kehausan akan tempat bersantai begini kemudian menjadi sebuah arus manusia menuju restoran-restoran tenda dan Monumen Nilai-Nilai Juang 1945 – dengan nilai-nilai dan pandangan sejarah yang membangkitkan polemis – terletak di depan Kantor Gubernur yang megah indah. Narkoba dan miras, kekerasan dan agresivitas seksual mengisi kolom-kolom koran hampir saban hari. Secara garis besar, bisa dikatakan adalah sebuah kota kering tanpa kegiatan kesenian yang berarti. “Ini disebabkan karena kota sedang berkembang”, ujar seorang pejabat dari Kejaksaan Tinggi yang kebetulan menginap di satu wisma. O ya, kota memang tengah berkembang tapi tidak seimbang dan bergaya pop konsumptif. Demikianlah perkembangan baru di Kalimantan Tengah yang saya lihat saat pulang kampung kali ini.

Di tengah ketimpangan-ketimpangan di atas, hal menarik adalah kegiatan-kegiatan fokus yang dilakukan oleh dua budayawan muda Dayak Anthony Nyahu dan Marko Mahin. Yang terakhir adalah seorang antropolog lulusan S2 universitas di Leiden, sedang menulis tesis S3 pada Universitas Indonesia, Jakarta. Sedangkan Anthony Nyahu seorang pegawai pada Pusat Bahasa yang sesuai dengan bidang kerjanya banyak menekuni permasalahan dan pengembangan bahasa Dayak Ngaju. Marko dan Mahin sedang berencana untuk menerbitkan Buletin Tamuei yang sepenuhnya berbahasa Dayak Ngaju. Dalam kerangka pengembangan bahasa Dayak Ngaju ini, Anthony Nyahu aktif melakukan penelitian, penulisan, pengumpulan khazanah bahasa Dayak Ngaju serta menganalisanya. Kegiatan Nyahu dalam bidang bahasa, nampaknya agak berbeda dengan pekerjaan besar dan penting Institut Dayakologi Pontianak yang membuat peta bahasa di Kalimantan Barat. Selain membuat peta linguistik di Kalteng, Nyahu juga menganalisa, membahas ejaan dan tatabahasa – kegiatan lengkap-melengkapi dengan kegiatan Nila Riwut yang telah berhasil menyusun kamus bahasa Dayak-Indonesia terlengkap sampai sekarang dan masih mencari penerbit. Salah satu kegiatan Anthony Nyahu adalah mengumpulkan kembali pepatah-petitih dan ungkapan bahasa Dayak Ngaju yang selama ini kurang diindahkan terutama oleh generasi muda, mulai dari angkatan Anthony dan angkatan yang di bawahynya. Jangankan menaruh perhatian, dalam berkomunikasi sesama diri mereka, angkatan muda Dayak Kalteng nampak lebih banyak menggunakan bahasa Banjar daripada bahasa Dayak Ngaju, sekalipun mereka adalah orang Dayak Ngaju. Penggunaan bahasa Banjar sebagai alat komunikasi bahkan oleh tak sedikit keluarga digunakan untuk berkomunikasi dengan anak-anak mereka. Apakah hal begini merupakan petunjuk akan adanya masalah dalam soal identitas dan kompleks psikhologis di kalangan masyarakat Dayak Ngaju? Apakah secara budaya, orang Dayak Ngaju, mengalami sejenis penyakit? Kalau pun mereka berbahasa Banjar, saya juga tidak yakin bahwa mereka yang memakainya sebagai bahasa komunikasi hingga di lingkungan keluarga mereka, memahami pesan filosofis dan nilai-nilai yang terungkap dalam pepatah-petitih serta ungkapan bahasa Banjar. Jika bahasa etniknya sendiri dilecehkan secara tidak sadar, sedangkan bahasa Banjar digunakan sebatas bahasa kmunikasi, saya khawatir, akhirnya manusia Dayak Kalteng sekarang, menjadi sejenis manusia hampa nilai budaya. Padahal jika memperhatikan sejumlah pepatah-petitih dan ungkapan bahasa Dayak Ngaju (Lihat: Lampiran) yang telah dikumpulkan oleh Anthony Nyahu, pepatah-petitih dan ungkapan tersebut merupakan kesimpulan para tetua tentang pengalaman hidup mereka. Kecuali itu, pepatah-petitih dan ungkapan-ungkapan mencerminkan evaluasi mereka terhadap perangai atau watak manusia Dayak. Dari pepatah-petitih dan ungkapan Dayak Ngaju yant dikumpulkan oleh Nyahu, tercermin juga kedekatan manusia Dayak dengan lingkungan, bagaimana “basis” tercermin pada “bangunan atas” yang bernama pepatah-petitih dan ungkapan-ungkapan.

Kesimpulan tetua tentang pengalaman hidup mereka menjawab tantangan zaman mereka misalnya tersirat dari pepatah-petitih dan ungkapan berikut:

Buju-bujur ikoh aso (Lurus selurus ekor anjing)

Rimae (artinya): Tampayahe bahalap padahal pananjaru (Nampaknya baik, tapi nyatanya pembohong)

Bisa bulue dia belange (Basah kulit tidak belangnya)

Rimae (artinya): Taloh gawi je dia mandinun hasil (Pekerjaan yang tidak mendatangkan hasil)

Baka-bakas bua rangas (tua(tua buah rangas)

Rimae (artinya): Oloh jadi bakas baya gawie kilau anak tabela

(Walau pun sudah tua, tapi kerjanya seperti anak-anak).

Karas nyaho jaton ujan (Deras petir tanpa hujan=

Rimae (artinyanya):Are pander jatun katotoe (besar mulut tanpa bukti).

Kalah batang awi sampange (kalau sungai karena anak sungainya)

Rimae (artinya): Nihau tintu je solake tagal panggawi rahian

(Hilang arah semula karena ulah yang kemudian).

Dia tau pisang handue mamua (Pisang tak bisa berbuah dua kali).

Rimae (artinya): Kabakas tuntang kagancang dia tau haluli akan tampara

(Kedewasaan dan kekuatan tak bisa kembali ke awal).

Tingang manganderang into bitie (Enggang menggema di dalam tubuhnya saja)

Rimae (artinya):Tamam pander baya jaton gawie (Hebat omongnya saja, tanpa kerja).

Ampit manak tingang(Pipit beranak enggang).

Rimae (artinya): Oloh je tau menggatang tarung oloh bakase.

(Seseorang yang bisa mengangkat martabat orangtua).

Berbagai perangai manusia di dalam pepatah-petitih dan ungkapan juga tercermin, misalnya :

Aku raja aku tamanggung aku damang(Saya raja, saya temenggung saya damang).

Rimae (artinya):Dia maku marandah arep awi keme arepe oloh hai.

(Tidak mau rendahhati karena merasa dirinya orang besar)

Duan kulate ilihi batange (Ambil jamur tinggalkan pohon)

Rimae (artinya):Baya handak kamangate, pehe dia hakun

(Mau enaknya saja, sakitnya tidak mau).

Lepah anise kuas inganan (Habis manis sepah dibuang).

Rimae (artinya):Amon tege gunae inyayang, amon dia palus inganan.

(Saat berguna disayangi, saat tak berguna dibuang).

Pepatah-petitih yang lahir sebagai kesimpulan pengalaman angkatan pendahulu oleh Anthony Nyahu disebut sebagai “pandehen utus” (pengokoh ketahanan suku dan bangsa) “melalui teguran ingatan dan kesadaran pada setiap saat dalam mengharungi kehidupan” (gunae kan indu pampingat tuntang parendeng itah hong pambelom sining katika). Dari pepatah-petitih dan ungkapan dalam sebuah bahasa, barangkali bisa terbaca juga keadaan masyarakat pada suatu kurun waktu, mimpi dan nilai-nilai dominan serta romantisme zaman tertentu. Berangkat dari hipotesa begini, saya jadi bertanya-tanya tentang keadaan atau latarbelakang lahirnya ungkapan mengingatkan berikut:

Tempun kajang bisa puat = Tempun uyah batawah belai = Tempun petak manana sare”, “punya atap basah muatan, punya tanah berladang di tepi, punya garam hambar di rasa”.

Kata-kata peringatan ini terpampang dengan huruf-huruf besar di salah sebuah batu Bukit Batu dengan tandatangan Tjilik Riwut, bisa jelas terbaca dari kejauhan. Pertanyaan saya: Apakah keadaan terpinggir begini telah berlangsung lama di Tanah Dayak? Berapa lama, sejak kapan? Tentu ungkapan peringatan begini bukanlah ungkapan baru, tapi sudah berlangsung lama. Mengapa terjadi keadaan terpinggir untuk kurun waktu yang lama, pada katanya manusia Dayak itu adalah “Utus Panarung” (turunan manusia pelaga). Apakah ada perobahan pola pikir dan mentalitas pada Utus Panarung sejak Pertemuan Tumbang Anoi 22 Mei 1894 1), pertemuan yang mengawali kekalahan politik komunitas Dayak? Faktor-faktor apa yang membuat keterpurukan komunitas Dayak berlangsung demikian lama dan sampai sekarang masih belum juga teratasi sekali pun orang pertama propinsi adalah seorang Dayak juga, baik ia bernama Teras Narang, Gara, Reynault Sylvanus atau pun Asmawi A Gani? Apa yang salah?

Menjawab pertanyaan-pertanyaan begini, agaknya kita niscaya menelusur sejarah Dayak dari masa ke masa, menyimak konsep pemberdayaan dan pembangunan yang dipilih dan diterapkan dari saat ke saat oleh penyelenggara kekuasaan politik propinsi, mencermati kesungguhan keberpihakan yang mengatasinamai pemberdayaan dan pembangunan daerah. Dengan demikian maka belajar bahasa, belajar pepatah-petitih dan ungkapan-ungkapan, barangkali mengandung makna dan meniscayakan kita juga belajar sejarah perkembangan masyarakat, sejarah pemikiran dan nilai-nilai dominan pada suatu kurun waktu. Barangkali dalam kaitannya dengan titik-titik demikian, usaha awal Anthony Nyahu menghimpun pepatah-petitih dan ungkapan bahasa Dayak Ngaju Dayak mempunyai arti yang melampaui sekedar bisa dijadikan isi muatan lokal dalam proses ajar-mengajar di Kalteng (baca: daerah). Titik-titik demikian tentu mengungkapkan diri dalam berbagai sektor, termasuk seni rupa, puisi, dan arsitektur, dan sebagainya. Penanganan khusus arsitektur menjadi fokus perhatian Andriani S. Kusni dalam rangka kajiannya terhadap arsitektur tradisional nusantara. Spesialisasi kajian menandai perkembangan baru dalam usaha melangkah di jalan pemberdayaan dan pembangunan yang oleh Prof. Dr. Sajogyo disebut “Jalan Kalimantan” (Kalimantan bisa digantikan dengan nama pulau-pulau lain).****

Palangka Raya, Mei 2009

—————————–

JJ. Kusni

Catatan:

1). Lihat: JJ. Kusni, “Masalah Etnis Dan Pembangunan. Kasus Dayak Kalimantan Tengah”, PT Paragon, Jakarta ,Agustus 1994, hlm-hlm. 30-38. Kata Pengantar DR. Djohan Effendi.

LAMPIRAN:

PADEHEN UTUS

JETOH GUNAE AKAN INDU PAMPINGAT TUNTANG PARENDENG ITAH

HONG PAMBELOM SINING KATIKA

Dikumpulkan Dan Disusun Oleh

ANTHONY NYAHU

Kahem badue bisa ije

Rimae: Badue manggawi, kabuat nyarena

Tempun kajang bisa puat = Tempun uyah batawah belai = Tempun petak manana sare.

Rimae: Tempun ramo, oloh mahapae,

Munduk lelep mendeng tambukep

Rimae: Saraba sala

Mahimes ujau ije kapulau

Rimae: Oloh hatue je manduan uras oloh bawi ije kalambutan akan sawae

Kongkong saran tewang teah belai, antang saran langit bisa belai

Rimae: Arep je tempon petak danum, oloh beken je manduae

Bapinding rinjing baatei butong

Rimae: Oloh je dia maku mahining peteh oloh bakas

Buju-bujur ikoh aso

Rimae: Tampayahe bahalap padahal pananjaru

Bisa bulue dia belange

Rimae: Taloh gawi je dia mandinun hasil

Baka-bakas bua rangas

Rimae: Oloh jadi bakas baya gawie kilau anak tabela

Karas nyaho jaton ujan

Rimae: Are pander jatun katotoe

Kalah batang awi sampange

Rimae: Nihau tintu je solake tagal panggawi rahian

Dia tau pisang handue mamua

Rimae: Kabakas tuntang kagancang dia tau haluli akan tampara

Tingang manganderang into bitie

Rimae: Tamam pander baya jaton gawie

Ampit manak tingang

Rimae: Oloh je tau menggatang tarung oloh bakase.

Ampit biti, tingang kanderange

Rimae: Kutak pander tuntang taloh gawi dia satimbang.

Jaton tau kambing maobah belange

Rimae: Jaton ati oloh je tau maobah tabiate

Nyamae ewau madu, parae mimbit puntut

Rimae: Oloh ije kotak pander bahalap tapi papa ateie

Handak neweng jaton baliung, handak nyakei tangkalau gantung

Rimae: Gawi je ngahus, are katapase

Neweng kayu hapa pisau, mandirik hapa baliyong

Rimae: Mahapa pakakas dia tumon ekae

‘Menggunakan segala alat tidak pada tempatnya’

Mikeh tapuhus kinyak, tepa buah duhi

Rimae: Mikeh bara kapehe je kurik, buah kapehe je hai

Jaton utuse kelep tau mandai

Rimae: Manggawi je dia mungkin

Inti-intih bua rihat halawu bua ruku

Rimae: Mintih je bahalap halawu mandino je papa

Jaton pusa nalua laok je langa-langai

Rimae: Jaton aton oloh je mananrtalua ytaloh je mangat

Jaton danum tau maleket hunjon dawen kujang

Rimae: Dia tau mahapan ramo atawa rajaki bua-buah

Mamparingkung bawoi lewu, manyeput bawoi himba

Rimae: Tau/bahalap dengan oloh beken

Mamuno lauk talimbas kambues

Rimae: Manampa kare gawi barangkah bara wayahe

Laya-laya katam tatame buwu

Rimae: Haranan laya, tapajok tame tingkes

Mambelom tingang manutok mate

Rimae: Mambelom oloh, jadi sampai katika, ie tulas dengan oloh je mambelom ie’

Makang hejan limbah balawo = Manutup rumbak jadi tambohos

Rimae: Harue batawat limbah jadi mandino kapehe

Dia katawan kasak kulat

Rimae: Oloh je dia katawan auh pander saritae kabuat

Pandang andau jari halemei

Rimae: Malalus gawi jari talimbas

Mandop bawoi paheka aso = Misi laok palepah umpan

Rimae: Manggawi kare gawi je jaton hasile

Dus dahian dus nangkarap

Rimae: Oloh je malalus taloh gawie dia imarima helo

Hong kueh batang lembut hete ie tege

Rimae: Oloh je baya manggau kamangat ih

Hore-horeh aso tapangkit pinding kolae

Rimae: Bara horeh mampalembut kalahi/karidu

Anak kambing dia tau manjadi anak haramaung

Rimae: Anak oloh humong dia tau manjadi anak oloh pintar

Ite anak nanture mananto

Rimae: Genep gawi kahandake irima bua-buah.

Inti-intih bua rihat

Rimae: Handak mendinum je bahalap dia katawa dinun je papa

Antang tarawang manari, manok hadari manyahukan

Rimae: Amon dumah pangawas bara hunjun, uras pagawai bagawi intu eka ewen.

Panginan antang dia akan kinan munyin

Rimae: Rajaki itah dia akan induan oloh beken.

Hong kueh tingen lepah hete apoi belep

Rimae: Into kueh itah matei into hete ingubur.

Mausik apoi balupak

Rimae: Genep gawi aton akibate

Kahandak atei handak dimpah, jukung tege besei jatun

Rimae: Handak bagawi tapi pakakas jaton

Atei bagatel mate inggayau

Rimae: Oloh je dia ulih manggawi taloh gawie je puna iharape.

Manakau atei oloh.

Rimae: mangat oloh manyinta dengae benye-benyem tuntang halus.

Babilem inyewut baputi, baputi inyewut babilem

Rimae: Bahalap inyewut papa, papa inyewut bahalap; dia mander ije katutu/pananjaru

Keleh babilas bara babute

Rimae: Keleh aton bara jaton sama sinde

Lalau papoi tatepa bakeho

Rimae: Eweh bewei je lalau mampagantung arep, kajaria manjatu kea.

Kuman bari angat bulu, mihop danum angat duhi

Rimae: Pangkeme pehe atei je tamam toto awi are je dia manyanang.

Antang tempon tandak, sabaru tempon talatak

Rimae: Itah tempon aran, oloh beken je mangkeme kamangate

Batekang kilau batu, gantung kilau langit

Rimae: Batekang ateie

Ali-alim bawang, padahal paham bahewau

Rimae: Oloh je tampayahe panyuni, padahal balinga.

Tambohos pai tau injawut, tambohos pander bahali nangkaluli

Rimae: Pander je jadi ingutak dia mungkin tau injawut

Betung bulat jatun lapake, ampit jagau dia basarangan

Rimae: Oloh je lapas-liwus pambelume

Baatei butung badaha danum

Rimae: Oloh je jaton pangkeme/perasaan

Ije gawang intu itah, ije depe intu oloh

Rimae: Masalah je korik akan itah, tapi puna hai akan oloh.

Babilem bulu Kak awi oloh bawi barapi

Rimae: Manyuman kakare bawi je puna are.

Kahem dia badanum

Rimae: Dinon musibah jaton katawan buku sababe.

Tekap sambil tekap gantau

Rimae: Oloh je badaham

Akan ngaju dia kuman manok, akan ngawa dia kuman tabuan

Rimae: Kare rancana uras dia bahasil atawa jaton bara tinto, uras

sala’

Aku raja aku tamanggung aku damang

Rimae: Dia maku marandah arep awi keme arepe oloh hai.

Duan kulate ilihi batange

Rimae: Baya handak kamangate, pehe dia hakun

Helo nupi bara batiroh

Rimae: Sahelo masalah jete lembut, ie jadi tawan

Lepah anise kuas inganan

Rimae: Amon tege gunae inyayang, amon dia palus inganan.

Halaku dia hatenga, hapili dia hajual

Rimae: Kaadaan je sama, jaton je labih.

(Dokumentasi: Andriani S. Kusni dan JJ.Kusni)

ROBERT BOB EARL FREEBERG

Jurnal Toddopuli

(Cerita Untuk Andriani S. Kusni Dan Anak-Anakku)

Cerita nyata di bawah ini saya kutip dari buku kecil Dra. Nila Riwut Suseno, anak ketiga Tjilik Riwut berjudul “Tjilik Riwut Berkisah. Aksi Kalimantan Dalam Tugas Operasional Militer Pertama Pasukan Payung Angkatan Udara Republik Indonesia” – selanjutnya saya singkat “Aksi Kalimantan — (Penerbit Pusakalima, Palangka Raya, Oktober 2003, 102 hlm.). Nila Riwut yang di kalangan mahasiswa/I Kalteng di Yogyakarta, biasa dipanggil Mina Nila nama lengkapnya Theresia Nila Ambun Triwati, lahir di Sampit tanggal 13 Juli 1955, telah menerbitkan dan mengedit beberapa buku, tulisan, catatan dan dokumentasi ayahnya tentang masalah Kalimantan, perjuangan membela Republik di Kalimantan, masalah kebudayaan, dan masalah adat-istiadat masyarakat Dayak. Karya Mina Nila terbaru dan sangat berarti adalah kamus bahasa Dayak-Indonesia yang tebalnya tidak kalah dengan Kamus Umum Bahasa Indonesia, terbal yang menunjukkan kayanya kosakata bahasa Dayak. Kegiatan Mina Nila terakhir pada bulan-bulan terakhir ini adalah menciptakan lagu-lagu Dayak dengan mengangkat penyanyi-penyanyi perempuan Dayak. “Untuk mendorong perempuan Dayak kembali bangkit”, ujarnya dalam pertemuan kami akhir bulan April lalu. Kalau ingatan saya benar, berdasarkan kisah yang dituturkan oleh Tjilik Riwut dan diterbitkan kembali oleh Mina Nila dalam buku kecil “Aksi Kalimantan” ini, telah diangkat ke layar putih oleh para pekerja filem Cekoslowakia pada masa pemerintahan Soekarno dengan bintang utama Bambang Hermanto dan Bambang Irawan – actor-aktor terkemuka pada zaman itu.

Membaca “Aksi Kalimantan”, selain kita membaca sejarah, kita pun seperti sedang membaca sebuah novel dengan segala lika-liku psikhologis para pelaku peserta penerjunan paying pertama AURI, kisah kasih, pergulatan menghadapi kesulitan, pertarungan mengatasi ketakutan akan ajal serta akibat khianat. Di hadapan kesulitan-kesulitan, khianat dan ketakutan terhadap ajal, para pelaku tampil sebagai manusia wajar, bukan sebagai “supermen” (manusia supra). Di samping itu, kita juga melihat betapa tekad dan setiakawan yang lahir dari rahim kesadaran cita-cita tentang makna kemerdekaan, mampu mengatasi segalanya, memberikan para pelaku suatu kekuatan magis.

Segi lain yang nampak dari buku kecil “Aksi Kalimantan” bahwa republik dididirkkan dan dibela serta dibangun oleh semua etnik, bukan monopoli satu dua etnik besar mana pun. Hal yang tercermin dari komposisi 72 orang yang dilatih di Yogya untuk terjun ke Kalimantan Tengah. Di hadapan kesulitan dan ajal dibimbing oleh kesadaran akan makna kemerdekaan dan ber-Republik Indonesia, kita melihat bahwa perbedaan etnik menjadi cair dan melebur dalam semangat berkeindonesiaan. Etnik hanyalah sebuah perbatasan semu bagi kemanusiaan. Demikian juga bangsa. Kesemuan bangsa sebagai perbatasan semu bagi kemanusiaan dan keadilan, serta kebenaran, nampak dari kisah Robert Bob Earl Freeberg, pilot berkebangsaan Amerika, yang menerbangkan pesawat RI-002 yang mendrop pasukan pertama dalam sejarah AURI ini pada 17 Oktober 1947 di Kalteng. Kisah Bob juga menunjukkan bahwa kemerdekaan Indonesia tidak luput dari solidaritas banyak bangsa di dunia, yang berarti bahwa kemerdekaan merupakan kemenangan kemanusiaan dan keadilan di samping perjuangan rakyat Indonesia itu sendiri merupakan factor yang menentukan agarfaktor luar bisa memainkan fungsinya.

Kisah tentang Bob Freeberg yang diselipkan oleh Mina Nila dalam buku kecilnya “Aksi Kalimantan” ,dikutip dari Majalah Angkasa, September 1991, hlm. 69. Berikut adalah cerita tentang Bob yang dikutip oleh Mina Nila (hlm-hlm. 20-21):

“Bob Freeberg seorang berkebangsaan Amerika yang pada saat itu berusia sekitar 26 tahun, semula adalah penerbang pesawat pembom privateer-Versi AL-AS B 24 Liberator. Setelah berhenti dinas militer, ia menjadi penerbang perusahaan penerbangan Filipina 1). Setelah jemu dengan penerangan berjadwal, Bob dengan beberapa orang temannya membeli Skytrain 2) .Kemudian dengan pesawat yang telah dibelinya tersebut, ia menambah penghasilannya dengan melayani penerbangan carteran.

Waktu berjalan, akhirnya Bob dengan pesawatnya sampai di Indonesia. Di Indonesia Bob jatuh hati kepada perjuangan kemerdekaan rakyat Indonesia, dan berani melakukan berbagai penerbangan berbahaya menerobos blokade Belanda, sehingga pers Belanda menamakan ia petualang dan termasuk salah seorang yang dicari oleh kekuatan Belanda. Di negerinya ia dijuluki soldier of fortune karena semua tujuannya adalah untuk mencari uang bermodalkan pesawatnya yang siap untuk dicarter, namun kenyataannya ia tidak pernah lagi merewelkan masalah pembayaran carteran pesawatnya yang hampir selalu tersendat. Di Meguwo orang-orang menggelari dia Bob – the best one.

Untuk penerbangan ke luar negeri, Bob membawa obat-obatan , suku cadangh mesin, ban mobil, rdio pemancar, dan berbagai keperluan Republik. Karena seringnya mengadakan penerbngan ke luar negeri dan menerobos blokade Belanda serta seringnya dihadapkan pada kerepotan masalah registrasi pesawat, maka pers Bangkok misalnya pernah menjulukinya sebagai One-man-Airforce. Bob juga telah menerbangkan Presiden Pertama Indonesia, Ir. Soekarno berkeliling Sumatera yang berkelanjutan dengan pengumpulan dana sumbangan rakyat untuk membeli pesawat Dakota Seulawah.

Pada saat penerbangan dari Lampung ke arah Bengkulu, Bob dan pesawatnya telah hilang karena menabrak gunung. Bersama pesawat itu hilang pula penerbang-penerbang muda kader bangsa. Mereka adalah: Opsir Udara II Bambang Saptoadji, Santoso, dan Residen Republik Indonesia di Banten seorang anggota KNIP dan bekas pasukan istimewa Semaun Bakri yang konon membawa emas 20 kg dari Cikotok untuk membeli pesawat di luar negeri. Tigapuluh tahun kemudian pada tanggal 14 April 1978 kerangka pesawat baru berhasil ditemukan di Bukit Pungur Kotabumi”.

Kisah Bob melukiskan perkembangan seorang anak manusia yang mencari makna, bahwa pereobahan sajalah yang kekal, bahwa pengenalan terhadap badai topan perjuangan dan terjun langsung ke badai topan demikian mengobah pandangan dan sikap serta sekaligus mendidik seorang menjadi manusia yang manusiawi dan teguh pada pendirian temuan nilai bagaimana dan apa arti berpihak pada kemanusiaan. Temuan ini mencatat nama Bob dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia.***

Palangka Raya, Mei 2009

——————————-

JJ. Kusni

Catatan:

1).Commercial Air Line Incorporated –CALD.

2). Dakota

MENGENANG OEI HAY DJOEN

Jurnal Toddopuli (Lanjutan)

(Cerita Untuk Andriani S. Kusni Dan Anak-Anakku)


Oleh: Hilmar Farid

17 Mei 2008 pagi hari. Telepon berdering. Oom Oei Hay Djoen – demikian saya memanggil Oey Hay Djoen – menyapa. Ia memang sering telepon, setidaknya sebulan sekali, membahas pekerjaan yang kami tangani bersama atau tukar pendapat tentang bermacamhal. Kali ini ia menelepon untuk menanyakan tentang diskusi buku John Roosa, Dalih Pembunuhan Massal yang baru diterbitkan Institut Sejarah Sosial (ISSI) bersama Hasta Mitra. Dalam sepuluh tahun terakhir Oom Oey memang giat membantu menangani HastaMitra, penerbit perjuangan yang dibentuk tiga serangkai: Hasyim Rachman, Jusuf Isak dan Pramoedya Ananta Toer. Oom Oey adalah penerjemah utama yang sangat giat menerjemahkan naskah-naskah filsafat, sejarah dan ekonomi politik, mulai dari Das Kapital dan Kemiskinan Filsafar karya Karl Marx, sampai Gejalan Manusia dari Teilhard de Chardin, dan sejarah lisan tentang perjuangan anti-kolonial perempuan Malaya yang disusun Agnes-Khoo.

Tidak lama kami bicara. Setelah beberapa menit ia mengucap salam dan terima kasih, kami menutup telepon dan berpisah. Saya kembali tenggelam dalam kesibukan menyelesaikan kata pengantar untuk buku sahabat saya sejak zaman kuliah, Wilson, yang berjudul Orang dan Partai Nazi di Indonesia. Saya tidak menduga bahwa itulah percakapan kami yang terakhir. Beberapa jam kemudian ia ambruk di rumahnya, lalu dilarikan ke rumah sakit. Kemacetan Jakarta menghambat perjalanannya dari Cibubur di pinggiran kota ke RS Carolus yang terletak di tengah kota. Dua belas jam ia bertahan. Jane Luyke, istri yang setia mendampinginya, berbisik di tengah dengkur keras orang yang terkena serangan jantung: “Kalau mau pergi, pergilah. Tapi jangan hari Sabtu.” Tidak jelas apa orang bisa mengontrol waktu kepergiannya dari dunia, tapi beberapa menit lewat tengah malam, memasuki hari Minggu, Oom Oey menghembuskan nafas terakhir.

Saya pertama kali mengenal OomOey di rumah almarhum Joebaar Ajoeb, Sekretaris Umum LEKRA (Lembaga Kebudayaan Rakyat), yang terletak di Jalan Pemuda, Rawamangun. “Samnjaya” , ia memperkenalkan diri dengan nom de plume semasa muda. Ia tidak banyak bicara waktu itu. Di pangkuannya ada setumpuk naskah, karya terjemahan. Kami bertemu beberapa kali, tapi tidak banyak bicara. Ia biasanya pergi ketika saya datang, seolah tidak ingin mengganggu pembicaraan dengan Joebaar, yang sebenarnya hanya ngalor-ngidul tentang bermacam soal. Saya juga tahu diri, jika datang lebih dulu, lantas mohon pamit jika ia datang. Boleh jadi ini hanya sikap hati-hati akibat represi Orde Baru, tidak mau membuka diri terlalu lebar pada orang yang baru dijumpai. Apalagi di « tempat rawan » semacam rumah Joebaar Ajoeb, yang tidak hanya rajin dikunjungi kawan seperjuangan, tapi juga intel dan cecungguk peliharaan militer.

Sambil mengenang pertemuan pertama ini saya membuka-buka catatan lama dan lprespondensi e-mail dengannya, serta mendengarkan wawancara yang saya lakukan dengannya beberapa kali.

Oey Hay Djoen lahir di Malang pada 18 April 1929. Saya tidak tahu banyak tentang keluarganya, kecuali bahwa ayahnya meninggal saat usia Oey baru sembilan tahun, dan ia diurus oleh ibunya yang keras tapi liberal sekaligus, dan bahwa saudara-saudara kandungnya hidup terpencar di berbagai benua. Kecuali seorang kakak, Tante !leony, yang tinggal seatap dengannya di kompleks Cibubur Permai. Sekalipun mengirimnya ke sekolah Katolik, keluarga Oey menyimpan abu untuk sembahyang, sesuai tradisi Tionghoa yang menghormati leluhur. Di luar rumah dan sekolah, ia bergaul dengan banyak kalangan, dan salah satu kegemarannya adalah mengunjungi toko buku dan perpustakaan milik A.R.C. Salim, tokoh Muhalladiyah di Malang. Di situ ia berkenalan dengan Karl Marx, Sir Arthur Conan Doyle serta karya sastra dunia lainnya.

Melalui buku juga ia kemudian berkenalan dengan dunia politik. Setelah Jepang pergi dan proklamasi diumumkan, suasana politik menjadi terbuka. Aktivis gerakan bawah tanah muncul ke permukaan dan ratusan orang yang sempat dibuang penguasa colonial ke Boven !digoel – dan kemudian dibawa ke Australia – kembali ke tanah air. Di antaranya adalah Pak Kliwon, aktivis veteran Sarekat Rakjat yang melancarkan pemberontakan 12 November 1926. Pak Kliwon mengelola sebuah toko buku kecil yang menjual antara lain buku-buku politik. Ketika Oey berkunjung ke tokonya dan melihat buku-buku , Pak Kliwon menyapa, “kamu suka buku-buku ini?” Oey muda mengangguk.

Seperti pemuda seusianya di alam revolusi, ia juga tertarik pada politik.Pak Kliwon kemudian mengajaknya ikut pendidikan politik yang diselenggarakan aktivis Sarekat Rakjat. Melihat Oey begitu bersemangat, Pak Kliwon menawarinya untuk berangkat ke Jogja, untuk belajar di Marx House yang bertempat di pabrik gula Padokan (sekarang Madukismo). Awalnya Oey ditolak untuk belajar di sana karena usianya terlalu muda. Tapi dengan dukungan Tan Ling Djie, anggota KNIP dan juga tokoh Partai Sosialis, ia akhirnya diperkenankan ikut.

Pendidikan di Marx House inimenurut Oey Hay Djoen sendiri, mengubah perjalanan hidupnya. Ia tekun mendengarkan ceramah dan berdiskusi dengan para pemimpin republik, mulai dari Sjahrir, Alimin, Amir Sjarifuddin, Setiadji dan Maruto Darusman. Menurut penuturannya ia bergabung dengan Partai Sosialis, yang merupakan blok gerakan kiri terbesar di awal pembentukan republik. Karir politik yang sungguh-sungguh dimulai saat usianya baru 17 tahun. Di Marx House ini juga ia mulai coba menerjemahkan karya-karya dalam bahasa Inggris. Usaha pertamanya adalah buku Lenin, Negara Dan Revolusi, yang di diterjamahkannya dari bahasa Inggris ke bahasa Belanda! Pendidikan Katolik di Malang membuatnya fasih dalam Inggris dan Belanda, yang sangat berguna ketika ia memutuskan menekuni dunia penerjemahan.

Dari Jogja ia kembali dan mulai giat dalam pergerakan. Ia terjun ke dalam gerakan serikat buruh dan juga kegiatan gerilya di Malang Selatan yang dipimpin oleh Warouw. Tugas utamanya adalah mengurus logistik dan membangun jaringan bawah tanah, membeli senjata dari tentara sukarelawan Belanda yang frustrasi dan merasa dibohongi karena harus berperang dengan orang yang berjuang untuk kemerdekaan.

Di masa ini ia mulai berkenalan dengan tokoh-tokoh Tionghoa nasionalis seperti Siauw Giok Tjhan, Go Gien Tjawan dan lainnya, yang sangat berpengaruh dalam perjalanan hidupnya kemudian. Ia sempat ditangkap oleh tentara Belanda lalu disekap di penjara. Tapi penahanan itu tidak berlangsung lama karena beberapa kawan kemudian melarikannya dari penjara.Dari Malang ia pindah ke Surabaya.

Pada pertengahan September 1948 meletus apa yang disebut Peristiwa Madiun. Sejumlah besar pemimpin penting organisasi gerakan kiri seperti Amir Sjariffudin, Musso, Maruto Darusman, Suripno dan Sardjono di eksekusi. Gerakan kiri terpaksa bergerak di bawah tanah karena kejaran tentara republik. Oeyyang saat itu belum genap 20 tahun termasuk mereka yang “terlempar” dari gerakan. Saat menceritakan pengalamannya di masa ini kepada sayaia sering meningkahi kata-katanya dengan tawa kecil.Mungkin malu, ragu atau tidak tahu apakah hal-hal itu memang perlu diingat dan diceritakan. “Aku dibawa ke Serubaya dan di sana kumpul dengan geng. Semua yang brengsek aku kerjakan waktu itu”. Ia sempat mengaku kehilangan arah dan kendali karena para pemimpin yang mengasuhnya, jika tidak tertangkap, menghilang ke bawah tanah.

Ia kemudian mendapat pekerjaan menjadi manajer percetakan Sin Tit Po di Surabaya. Bersama Siauw Giok Tjahn dan Ismoyo ia mengasuh majalah Republik. Setelah Agustus 1951,salah-satu dari lima pemimpin PKI terkemuka, Njoto, menghindari kejaran militer ke Surabaya dan tinggal di tempat Oey. Ia sering diajak bicara oleh Njoto yang bisa bicara tentang segala macam hal, mulai dari ekonomi sampai musik klasik, sepak bola dan teori Marxis.

Adalah Njoto yang kemudian membantunya menemukan diri dan mencari tempat yang tempat baginya untuk berkegiatan. »Gampangnya, aku ini dipungut lagi oleh Njoto.” Njoto juga memperkenalkannya kepada kelompok ludruk di Surabaya dan juga kalangan seniman di Jakarta. Salaj satu tokoj yang menarik perhatian dan epat menjadikaribnya adalah AS Dharta, yang di masa mendatang menjadi Sekratis Umum Lembaga Kebudayaan Rakyat (LEKRA).

Dalam waktu tidak terlalu lama Oey pun pulih secara politik. Ia aktif kembali dalam gerakan. Di samping membuat tulisan feature untuk majalah Republik, ia juga mulai menulis cerita pendek untuk Harian Rakjat. Cerpen pertamanya dimuat bersambung di harian itu dengan judul ”Simin, Dul, Amat,Mzdjid,dan lain-lain” pada. 12 dan19 September 1953. Pergaulannya dengan tokoh-tokoh kebudayaan punsemain luas: Buyung Saleh, Pramoedya, Rivai Apin, Hendra Gunawan, Dodong Djiwapradja, termasuk yang sering dijumpainya. Posisinya sebagai salah satu pimpinan Gabungan Perusahaan Rokok Nasional (Gaperon), membuatnya mampu mengundang beberapa dari mereka untuk bertandang ke Semarang. “Aku memang berkemampuan waktu itu”, katanya. Ia dikenal sebagai pengusaha nasional dengan komitmen social tinggi, yang sering membantu orang kesulitan.

Keterlibatannya yang lebih jauh dalam politik membuatnya dipilih menjadi anggota Dewan Konstituante (dan kemudian DPR-GR) mewakili Partai Komunis Indonesia atau PKI. Tentu ini nampak sebagai hak yang kontraiktif, bagaimana mungkin seorang pengusaha yang merupakan bagian dari borjuasi menjadi anggota partai komunis. Oey beberapa kali menjelaskan keganjilan ini. PKI menurut di masa itu melihat bahwa agenda terpenting di pada awal 1950-an adalah menghantam imperialisme Belanda yang kembali tegak setelah Koperensi Meja Bundar. Bukan saja semua usaha ekonomi yang telah dikuasai republic harus dikembalikan kepada pemilik aslinya yang colonial itu, tapi Indonesia juga harus membayar utang Belanda yang dibuat ketika memerangi republic. Dengan kata lain, orang Indonesia harus mengongkosi perang terhadap dirinya. PKI berada di garis depan menentang kebijakan itu bekerjasama dengan semua pihak, termasuk pengusaha nasional.

Di Semarang ini kehidupannya lebih mapan dan teratur. Di sini juga ia bertemu dengan Jean Luyke.Mereka menikah pada 5 April 1954. Malang, anak pertama mereka meninggal ketika masih kecil. Oey pun sibuk bola-balik Semarang-Jakarta, apalagi ketika sudah menjadi anggota Konstituante. Selain aktif di partai ia juga berabung dengan Lembaga Kebudayaan Rakyat (LEKRA) di Jawa Tengah, waktu tidak menduduki jabatan penting. Usianya saat itu baru 26 tahun.

Anak keduanya, Mado, lahir 7 Februari 1958. Setahun kemudian keluarga Oey pindah ke Jakarta, karena Oey ditarik ke secretariat pusat LEKRA.. Rumahnya di Jl. Cidurian 19 Cikini, Jakarta Pusat ditawarkannya menjadi secretariat. Pasalnya , kantor sebelumnya diJl.Dr.Wahidin tidak memadai lagi. Tawaran itu langsung diambut oleh organisasi dan seiring dengan kemajuan organisasi pengunjung tetap dan tidak tetap semakin bertambah. DN Aidit, Oloan Hutapea, Njoto, Djoko Sudjono kerap mampir di tempatnya, untuk berdiskusi atau sekedar ngobrol dan minum bir. Setiap Selasa pengurus LEKRA bertemu untuk pertemuan rutin. Berbeda dengan banyak organisasi kebudayaan dan politik lain, dari segi komposisi etnik PKI, LEKRA dan organisasi gerakan kiri pada umumnya, sangat beragam.Tabrakan budaya pun tidak jarang terjadi.

Oey yang berasal dari keluargaTionghoa yang sangat menghargai orang lebih tua, kalau mendengarkan orang bicara sering manggut-manggut sambil mengiyakan dengan dialek Khek, “owe, owe” (saya, saya). Suatu hari Aidit mendampratnya, “apa kamu owe, owe. Seperti feodal saja!”

Dalam Kongres LEKRA yang pertama di Solo, Oey dipilih menjadi anggota secretariat pimpinan pusat organisasi itu, di samping menjadi “kepala rumah tangga” yang mengurus sekretariatnya. Pengalamannya dengan percetakan Sin Tit Po dan majalah Republik di Surabaya juga membuatnya dipercaya untuk ikut mengurus penerbit LEKRA.

Tulisan dan karya terjemahannya pun semakin banuak, termasuk Perang Gerilya dari Che Guevara, dan Hubungan Estetik Sen Dengan Realitas karya Nikolai Chernyshevsky. Lembar kebudayaan Harian Rakjat beberapa kali memuat esei dan cerpennya seperti “Dimadu Gadjah dan Matjan”, (26 Desember 1959). Oleh kawan-kawannya Oey diingat sebagai organisator yang baik dan telaten.

Karena ketermibatannya dalam gerakan kiri inilah Oey Hay Djoen kemudian ditangkap oleh penguasa militer pada 21 Oktober 1965 dan seperti ribuan orang lainnya, ditahan selama 14 tahun tanpa pengadilan. Ia pertama ditempatkan di penjara Salemba, lalu sempat dipindahkan ke Tanggerang. Sempat ia berharap akan dibebaskan karena penjara Tanggerang adalah untuk orang dari golongan C. Tapi penguasa militer berubah pikiran. Ia dikirim kembali ke Salemba sebelum diberangkatkan ke Nusakambangan.

Kalangan tapol (tahanan politik) mengenangnya sebagai orang yang keras, berpegang pada prinsip dan tidak mau kompromi. Pada 17 Agustus 1969 ia diberangkatkan dalam rombongan tapol pertama ke Pulau Buru .Nomer bajunya :001.

Di Pulau Buru ia ditempatkan di Unit II yang dikenal sebagai unit die hard bersama Pramoedya Ananta Toer dan Rivai Apin. Sikap kerasnya menyambung perlawanan kaum naturalisten yang tidak mau bekerjasama dengan penguasa kolonial di Boven Digoel 40 tahun sebelumnya. Ia tetap membaca dan berkarya, antara lain menerjemahkan karya klasik Plato, Republc, dari edisi buku saku berbahasa Inggris dan panduan akupunktur yang disusun Felix Mann, pendiri dan ketua pertama Medical Acupuncture Society. Tapi kerja intelektual ini bzrimbang dengan kerja fisik. Hersri Setiawan, yang juga ditahan di Pulau Buru, dalam pidato untuk menghormati Oey bercerita bahwa Oey yang tidak punya latar belakang petani pernah memenangkan lomba menanam benih di sawah yang baru digarap.

Oey termasuk rombongan terakhir yang dilepas dari Pulau Buru bersama Pramoedya, Rivai Apin, Hasjim Rachman dan Karel Supit. Penguasa militer terus terang bilang bahwa mereka adalah rombongan die hard yang harus dipisahkan dari tahan lain.

Selepas dari tahanan Oey aktif menekuni penulisan dan penerbitan. Ia kembali bertemu dengan rekannya sesama eks-tapol yang memang secara sistematis disingkirkan dari pergaulan sosial oleh penguasa. Dalam Instruksi Mendagri No. 32/1981 jelas dikatakan para eks tapil ini tidak boleh menerima pekerjaan yang « dapat dimanfaatkan untuk mempengaruhi orang lain baik langsung maupun tidak langsung », seperti guru, dosen, pendeta, dalang, pengacara, wartawan dan lainnya. Mereka juga tidak boleh membentuk perusahaan yang mempekerjakan tenaga eks-tapol. Dengan kata lain, harus hidup terisolasi satu sama lain.

Tentu tidak semua eks-tapol tunduk pada aturan itu, termasuk Oey. Rumahnya di Rawamangun tetap terbuka bagi para eks-tapol untuk berkumpul. Tapi ia membatasi pergaulannya dengan kalangan lain. Di lingkungan aktivis Oom Oey dikenal sebagai orang yang kuat memegang prinsip. Ia anti lembaga donor dan gerakan NGO yang menurutnya sangat bergantung pada kepentingan donor, padahal seharusnya memperjuangkan agenda yang mereka susun sendiri. Tidak jarang ia terlibat dalam perdebatan hangat yang sesekali diselingi nada tinggi dengan orang yang dikritiknya. Ia rajin menghadiri pertemuan, seminar dan diskusi, mendebat para pembicara, mengkritik yang ia rasa perlu dikritik, memuji yang ia rasa dipuji. Luas, tidak banyak basa-basi.

Ia tidak hanya bicara. Saat kerusuhan melanda Jakarta pada Mei 1998,Oom Oey dan keluarganya aktif dalam Tim Relawan untuk Kemanusiaan. Mereka rajin menyambangi secretariat organisasi ini, membawa bantuan makanan, obat-obatan bagi para korban kekerasan. Sebelumnya Oom Oey dan keluarga aktif juga dalam gerakan Koperasi Solidaritas yang dibentuk akhir 1997 untuk menghadapi akibat krisis finansial. Dengan jaringannya, ia turut membantu koperasi itu tumbuh besar dan melayani anggota dengan berbagai kebutuhan pokok. Ketika Indonesia dikoyak oleh kekerasan sectarian,Oey lebih dari sekadar prihatin, tapi aktif membangun jaringan dengan kawan-kawannya yang tersebar di dalam maupun luar negeri untuk membantu para korban. “Ini adalah kenyataan hidup hari ini, dan kita harus bisa menjawabnya”. Demikian ia menyimpulkan keterlibatannya dalam gerakan kemanusiaan.

Pertemuan dengan aktivis muda menggerakkannya terus berkarya. Di samping sibuk menghadiri berbagai pertemuan, mengurus jaringan kemanusiaan, ia terus menerjemahkan naskah-naskah klasik yang dinilainya penting untuk diketahui. “Agar teman-teman bisa langsung mempelajari aslinya”. Ia mengkritik kecenderungan “kader kuping” yang gemar mengutip tanpa pernah membaca aslinya.

Penyakit jantung tidak membuatnya surut berkarya. Justru dalam sepuluh terakhir, ketika kesehatannya mulai menurun, ia mencurahkan sebagian besar waktunya untuk menerjemahkan belasan ribu halaman karya filsafat, sejarah, ekonomi politik dan gerakan sosial. Hampir seluruhnya adalah karya-karya klasik dari Marx dan Engels, ditambah beberapa buku kunci dari Rosa Luxemburg dan G.V. Plekhanov. “Mengaoa tidak menerjemahkan Lenin?” saya bertanya suatu hari. “Lenin itu lebih preskriptif, tulisannya berisi anjuran untuk berbuat ini dan itu, sementara yang kita perlukan adalah kekuatan kritik, dan itu ada ada Marx dan Engels.” Ia mengkritik kecenderungan dogmatic yang hanya mau membaca tulisan yang jelas garisnya, padahal pikiran terus berkembang. “Yang abadi hanyalah perubahan.”

Masih banyak yang bisa saya sampaikan mengenai hidup, diri dan karyanya. Tapi yang paling mengesankan adalah persahabatannya yang tulus. Ia selalu sedia menerima kawan yang kehabisan tenaga dan semangat menghadapi tumpukan masalah. “Kita tidak mungkin melakukan semua hal. Kemampuan kita ada batasnya. Yang penting adalah bagaimana mengorganisasi kekuatan kita yang terbatas ini.” Sering ia menyitir ucapan Njoto, sahabat dan gurunya, “ibarat kerikil yang dilempar dalam air. Jika kita genggam kerikil dan melemparnya ke air, maka permukaan air akan kacau. Tapi jika kita melempar satu kerikil ke tengah air, maka riaknya akan terus bergelombang ke tepian”.

Oom Oey adalah kerikil itu, yang riaknya terus akan kita rasakan selama bergenerasi.***

(Sumber: “Mengenang 100 Hari Meninggalnya Oey Hay Djoen”, Jakarta, 25 Agustus 2008, hlm-hlm: 6-16)

Selesai

“RIAK KERIKIL AKAN TERUS MENGGELOMBANG”: Mengenang Setahun Kepergian Oei Hay Djoen (1929-2008)

Jurnal Toddopuli

(Cerita Untuk Andriani S. Kusni Dan Anak-Anakku)


“Jika kita melempar satu kerikil ke tengah air, maka raknya terus akan menggelombang ke tepian”, adalah kata-kata Njoto, salah seorang anggota Sekretariat Pimpinan Pusat Lekra yang ia ucapkan kepada Oei Hay Djoen, anggota Sekretariat Pimpinan Pusat Lekra lainnya yang meninggal pada 17 Mei 2008 lalu. Keduanya sudah tiada. Njoto dibunuh oleh Orde Baru pada awal terjadinya Tragedi Nasional September 1965. Njoto oleh Oey Hay Djoen yang juga menggunakan nama pena Samanjaya, selain sebagai seorang kawan, juga dipandangnya sebagai guru. Oleh kekagumannya pada Njoto maka setelah Hay Djoen keluar dari pulau pembuangan Orde Baru, Pulau Buru, pada karya-karyanya tidak lagi ia bubuhi dengan nama Samanjaya tapi menggunakan nama Ira Iramanto. Iramani adalah nama pena Njoto.

Entah mengapa, secara tiba-tiba begitu memasuki bulan Mei ini, saya teringat pada Oei Hay Djoen yang biasa saya panggil dengan Bung Hay Djoen. Saya mengenal beliau sejak saya masih remaja di Yogya. Hubungan kami terputus selama putusan tahun, ketika Hay Djoen ditangkap Orde Baru dan saya terpaksa mengelana dari benua ke benua. Kami berjumpa kembali setelah saya bisa kembali ke Indonesia dengan menggunakan paspor Perancis saat Soerharto masihl di tampuk kekuasaan Orde Baru. Beliau menyempatkan diri mendatangi saya di Cilandak, Jakarta Selatan. Kami pun mulai meninjau ulang pengalaman Lekra sebagai suatu gerakan kebudayaan rakyat. Gerakan kebudayaan adalah suatu kegiatan terorganisasi, dengan program, struktur dan prinsip serta wacana yang kerakyatan. Barangkali di sinilah letak bedanya dengan kegiatan spontan.

Kali terakhir kami berjumpa adalah pada saat peluncuran sebuah buku Pramoedya A Toer tentang perempuan-perempuan Indonesia yang menjadi “perempuan penghibur kaum fasis Jepang saat menduduki Indonesia selama 3,5 tahun, di Toko Buku Aksara Jakarta. Tahun berapa, saya sudah lupa. Waktu itu saya memberanikan diri turut berkomentar menyanggah pandangan bahwa peran Negara sudah melemah, bahkan mendekati hilang fungsi. Mendengar nama saya disebut oleh moderator, Bung Hay Djoen dari tempat duduknya menoleh ke belakang dan mengangkat tangan memberi salam. Yang berkesan bahwa usai saya berkomentar, Bung Hay Djoen bertepuk tangan sendiri. Masalah Negara termasuk masalah esensial dalamfilsafat politik dan Hay Djoen sejak lama menekuni masalah filsafat, termasuk masalah filsafat politik. Beliau memandang masalah teori dan pemikiran merupakan masalah sangat penting untuk suatu gerakan rakyat. Barangkali karena ia termasuk yang menganut pendapat bahwa “tanpa teori revolusioner, tidak akan ada gerakan revolusioner”, dan mengkritik keras “ilmu kuping”, pengetahuan teori yang diperoleh dari dengar-dengaran tapi tidak membaca serta menyimaknya langsung teks aslinya. Sepinya perpustakaan universitas dan daerah, mengkhawatirkan saya bahwa kemalasan membaca dan “ilmu kuping” ini masih belum sirna dari negeri ini, termasuk di kalangan angkatan mudanya.

Tepuk tangan dan rangkulan saban jumpa hanyalah bagian saja dari sifat hubungan Hay Djoen dan saya. Sedangkan debat adalah ciri lain hubungan saya dengan pimpinan pusat Lekra seperti JoebaarAjoeb, Bakri Siregar, Banda Haharap, Pram, dan lain-lain… , termasuk Hay Djoen. Debat sengit kami, yang saya sesalkan belum tuntas, mengenai masalah “Apakah Republik Rakyat Tiongkok masih Negara sosialis ataukah kapitalis”. Dengan ini, yang ingin saya katakan bahwa debat intern yang sengit, adalah suatu kebiasaan di kalangan Lekra, dan tidak seperti dibayangkan bahwa di dalam lembaga kebudayaan ini, merupakan kumpulan “yes men”, yang anggota-anggotanya menyuarakan “his master’s voice”. Untuk waktu bertahun-tahun antara Lekra Jawa Timur dan Pusat (Jakarta) terjadi perbedaan pendapat tajam, walau pun mengenai arah keberpihakan. Keberpihakan adalah arah umum belaka yang menyatukan anggota-anggota Lekra. Pendapat Pram, saya kira hanyalah salah satu varian penting dari pendapat-pendapat yang ada di Lekra. Di dalam cara penuangan keberpihakan ini pun, berbeda dengan anggapan pihak lain yang membayangkan karya-karya lukis anggota Lekra itu seragam, pada kenyataannya sangat beragam. Ada cara Affandi, ada cara Batara Lubis, Amrus Natalsya, Hendra, Soedarso, gaya Sanggar Bumi Tarung, dan lain-lain. Demikian juga mengenai realisme sosialis, terdapat berbagai tafsiran atau pemahaman. Lekra, satu dalam keberpihakan, majemuk dalam cara mengungkapkan keberpihakan itu. Hay Djoen melalui karya-karya dan terjemahan-terjemahan buku teori-teori estetika dan filsafat memberi bahan dalam memperkaya pemikiran dan bobot pada debat intern Lekra. Kegiatan penerjemahan dilanjutkan oleh Hay Djoen hingga beliau menghembuskan nafas penghabisan, terutama dengan usaha menerjemahkan dan menerbitkan karya-karya « klasik » Marxisme seperti karya Marx-Engels. Di bidang penerjemahan ini, saya kira, Hai Djoen menyumbangkan jasa yang tak terlupakan. Dari segala kegiatan Hai Djoen, baik sebelum ditangkap dan dibuang ke Pulau Buru, selama berada di pulau pembuangan, mau pun sesudahnya, saya menyaksikan elan hidup seorang pemimpi yang mempunyai keberpihakan manusiawi, pencinta bangsa dan tanahair yang tegar. Goenawan Mohamad dan teman-temannya dari TUK Jakarta, secara khusus memberikan penghormatan kepada Hai Djoen dengan menyelenggarakan suatu acara peringatan mengenang Hay Djoen. Melalui Hay Djoen , saya juga melihat kembali dan lagi-lagi melihat bahwa Republik Indonesia didirikan, dibangun dan dibela oleh semua etnik, termasuk etnik Tionghoa – etnik asal Hay Djoen. Hai Djoen menunjukkan melalui kegiatan dan pemikirannya serta sikapnya bahwa Republik Indonesia (RI) adalah milik bersama semua etnik yang ada di wilayah RI. Indonesia adalah nama perangkum semua etnik. Saya sendiri senantiasa merasa bangga saban mendengar dan membaca macam-macam nama orang Indonesia karena keragaman nama tersebut mencerminkan kemajemukan bangsa kita. Kemajemukan yang saya anggap sebagai suatu rahmat, menyediakan sumber kemungkinan kreatif tak berhingga. Etnik besar dan kecil setara dalam menjadi manusia Indonesia bermutu, sama dalam hak dan wajib serta membuktikan cintanya. Sepanjang hidup Hay Djoen menjadi bukti pandangan dan sikap Hai Djoen tentang apa bagaimana menjadi Indonesia yang sadar. Sadar menjadi Indonesia adalah sesuatu hal yang utama untuk memberdayakan dan membangun Indonesia yang bermutu, bermartabat dan berharga diri sebagai tempat hidup manusiawi anak manusia.

Tanggal 17 Februari, TUK Jakarta, meluncurkan buku saya “Menoleh Silam Melirik Esok” (Penerbit Ultimus, Bandung, Februari 2009). Di antara sekian orang yang membanjiri TUK, seorang perempuan tua dengan mata menyala, menghampiri saya, dan menyerahkan sebuah buku kecil sederhana berjudul:”Mengenang 100 Hari Meninggalnya Oei Hay Djoen” (Jakarta, 25 Agustus 2008). Perempuan tua dengan mata menyala itu adalah Jane Luyke, istri Bung Hay Djoen yang juga saya kenal sejak remaja. Usia dan pengalaman jatuh-bangun sepanjang sejarah RI nampak tidak melusuhkan semangat, kegiatan dan keberpihakan berprinsip kerakyatannya. Saya tidak pernah menanyakan asal turunan Jane. Apakah ia orang berdarah Eropa atau dari mana, karena yang terpenting bagi saya ia adalah Orang Indonesia seperti halnya Ktut Tantri, asal Amerika, penulis “Rebel in Paradise” yang tegar berpihak pada rakyat Indonesia ketika melawan pendudukan Jepang, sampai masuk penjara Jepang, atau Piet Pitoyo, yang meninggalkan kesatuan tentara kolonial Belanda untuk berjuang bahu-membahu dengan rakyat Indonesia merebut kemerdekaan. Kemerdekaan Indonesia adalah kemenangan kemanusiaan seperti halnya kemenangan Perang Viêt Nam melawan agresi Amerika Serikat.

Setelah berpelukan, Jane menyerahkan buku kecil di atas, sambil berkata: “Bung, harus memiliki buku ini, dan pasti Bung akan menyukainya”. Saya melihat buku itu sejenak dan mengucapkan terimakasih sebesar atas ingatan, perhatian dan hadiah berharga serta memastikan bahwa saya menyukainya.

Entah mengapa, di awal bulan Mei ini, tiba-tiba wajah Hay Djoen kembali muncul ke hadapan saya beserta segala cerita kebersamaan, pertemuan dan perpisahan kami. Ada rasa sesal karena saya tidak bisa hadir melepaskannya memberikan penghormatan kepada tokoh budaya yang dipinggirkan oleh Orba dan terus membuktikan diri sebagai Manusia Indonesia Sadar, tanpa henti mewujudkan keindonesiaannya dan yang dinilai oleh budayawan muda Hilmar Farid dalam kata-kata:”Oom Hay Djoen adalah kerikil itu, yang riaknya terus akan kita rasakan selama bergenerasi”.

“Hay” dalam bahasa Mandarin berarti »laut ». Sepanjang usianya, Hay Djoen membuktikan bahwa hidupnya tak obah laut yang selalu beriak dan menggelombang, dan itulah riak gelombang kasihsayang dan keindonesiaan Hay Djoen, seorang « videre recta », pencari kebenaran. « Hai » adalah laut seorang pemimpi bernama Oei Hai Djoen. Hari ini saya kembali mengenang dan menyampaikan ulang hormat kepadamu, Bung, sambil menyitir baris-baris Agam Wispi alm. penyair Aceh yang hidup mati dari syair :

« Gugur bunga dari tampuknya

Di musim nanti berkembang lagi »

Untuk lebih mengenal Hai Djoen, « burung sriti (yang telah) pulang ke sarang », terlampir saya sertakan beberapa puisi yang beliau tulis setelah keluar dari Buru, pulau pembuangan, yang saya kutip dari bukun »Mengenang 100 Hari Meninggalnya Oei Hay Djoen ». Teserta juga tulisan seorang budayawan dan sejarawan Hilmar Farid tentang Oei Hay Djoen. ***

Palangka Raya, Mei 2009

——————————-

JJ. Kusni


LAMPIRAN:

PUISI-PUISI OEI HAY DJOEN

TITIPAN

melesat

dua kali melesat

bayangan

seperti anak panah

mengarah dan mengenai

sasaran

sajak a la haiku

ira iramanto

2007


YANG TIDAK MAU KETINGGALAN

1.

batang-batang bambu dikumpulkan

lubang besar buatan meteor

langit ketujuh sudah dibuka (kembali)

2.

padi bunting merunduk ke tanah

burung sriti pulang ke sarang

sang kekasih menengadah bulan

3.

kelelawar penuhi gua

di kelenteng sembahyang rebutan

orang bertapa digigit nyamuk

4.

lentera disusun bersab-sab

gelombang tinggi mengekang nelayan

berotak udang di mana-mana

ira iramanto

2008


SATU

seruling merindukan priangan

si kabayan menolong orang

kereta api menembus trowongan

DUA

berisik di kamar sebelah

goyang ruput dihembus angin

al maut menyjemput nyawa

TIGA

airterjun tumpah menderu-deru

ada anak merenung nasib

pencerahan tak kunjung dating

EMPAT

sejuk pagi hari

periba dating menagih

burung besi terbang lalu

LIMA

gemercing logam dihitung-hitung

gelombang pasang menjadi-jadi

berdamai dengan kematian

ENAM

ada srigala berburu mangsa

peziazah memungut bunga melati

rezeki menunggu di ujung jalan

TUJUH

genjer-genjer lembah gemulai

gunung meledak marah merah

gambar telentang diinjak-injak orang

DELAPAN

kunang-kunang bermain terang

tak kunjung pulang si anak hilang

berdangdut rian di pasar malam

SEMBILAN

kuku harimau diikat emas putih

jago silat siap berlaga

banjir bandang menyapu bersih

SEPULUH

gereja di atas bukit

ikan berlompatan dalam kolam

pasukan pulang dari medan perang

WELASAN

memang sepulh ditambah satu

meratapi orang yang dipanggil pulang

omong kosong disepuh emas

di saiang bolong

orang terkapar di tengah pasar

dikutuk sesat bertubi-tubi

layangan bersambuit-sambitan

pahlawan pulang berarah-darah

rumput bergoyang hanya sekali


ira iramanto

2008

(Bersambung ….)

CATATAN ATAS BUKU “THE OT DANUM: FROM TUMBANG MIRI UNTIL TUMBANG RUNGAN (Based on Tatum) THEIR HISTORIES AND LEGENDS”

Oleh: Anthony Nyahu

Ada beberapa catatan pada buku ini yang dirangkum pada hal-hal berikut. Tidak semua cerita dikoreksi seluruhnya, hanya beberapa bagian yang memerlukan pendalaman lebih lanjut, terutama dari segi kaidah atau norma bahasa (the norm of a language), segi penerjemahan, dan ideologi bahasa yang ingin disampaikan kepada publik pembaca.

Kata “uluh” pada baris pertama alinea pertama dan seterusnya; semestinya “oloh” (lihat Hardeland, 1859; Riwut 1970; Hasil Kongres Bahasa Dayak Ngaju 1987; Epple 1933); perhatikan juga “kameluh” yang seharusnya “kameloh” dan kekurangtaatasasan pada kata-kata yang berupa vokal mendahului fonem konsonan akhir pada posisi penultima: kameloh, tanteloh, taloh, ihop, dohop, telo,mandoi dst. Vokal /o/ pada kata-kata tersebut tentu saja tidak dilafalkan seperti melafalkan /botol/, /bodoh/ atau /sombong/ tetapi antar bunyi /o/ dan /u/, yang mungkin bagi telinga awam/masyarakat luas sama saja seperti pelafalan /u/.

Mengapa demikian? Itulah kekayaan dan kekhasan sebuah bahasa. Pembedaan antara lafal /u/ pada /uluh/ mengandung ketaksaan (ambiguitas) antara makna leksikal mengulurkan misalnya pada kalimat “Uluh pisim te sampai akan lunas sungei” yang artinya “Ulurkan kailmu hingga ke dasar sungai” atau “Muluh gandang” yang artinya “Menurunkan gendang (dari rumah)/tabuh/perhelatan hari -h suatu upacara”. Pada masyarakat Dayak Katingan dikenal “manguluh” atau “nguluh” yang berarti “menguburkan” atau “mengulurkan tali-temali peti mati hingga mencapai dasar galian kubur”. Kemudian bandingkan dengan kalimat: “Lampang hasupa dengan pangoloh hong parak kayu”. Makna nya adalah “Lampang bertemu dengan hantu jadi-jadian yang meyerupai /mirip orang/manusia di hutan”. Jadi, oloh di kalimat tersebut adalah “orang”. Tidak ditemukan kata “panguluh” untuk konteks kalimat tersebut.

“ie te”, pada baris pertama alinea pertama semestinya “iyete” (tidak dipisah) karena merupakan terjemahan dari “yaitu” untuk membedakannya dengan “ia itu” [ia/dia (subjek,orang ketiga tunggal) itu].

“kan” pada baris kedua alinea pertama..seharusnya “akan” “untuk”. “kan” hanya dipergunakan pada situsi verbal (colloquial speech). Tentu tidaklah bijak kalau juga dihadirkan dalam bahasa tulis (textual materials) yang akan mengurangi martabat dan kekayaan bahasa itu sendiri.

Alinea kedua “Awi..” merujuk kepada ambiguitas/ketaksaan; semestinya “Tagal…”. “Awi’ merupakan hubungan kausalitas, misalnya: Aku bahimang awi Otong atau bandingkan dengan Awi mangalandau batiruh, ie liwat akan sakola. Jadi pilihan kata awi agaknya kurang tepat dalam konteks kalimat berkaitan dengan penguasa yang diagungkan oleh umat Kaharingan seperti Ranying Hatalla Langit.

Pada baris kedua alinea kedua “…sabujure..” seharusnya “kateteke..” Karena merujuk kepada “tuturan yang seontetik aslinya dari para orang tua/leluhur”. Pemilihan kata tersebut menyiratkan “ada sesuatu yang lain yang tidak benar” atau “aton beken je dia bujur”.

Perlu dibedakan antara “huang” yang bermakna “di dalam”dengan diikuti oleh preposisi “intu”, dengan “hong” yang berarti “pada” atau “di”.

Perlu dibedakan antara “je” dengan “ije”. “Je” sebagai konjungtif (penghubung antarkalimat) yang bermakna “yang” dan “ije” bermakna “satu” bukan “sesuatu” .

“Hayak kasaktii” mungkin sebuah terjemahan bebas dari “Dengan (menggunakan) kesaktiannya” secara literer. Ada dua kekeliruan yang fatal pada pengawalan kalimat tersebut: pertama, ‘hayak” bermakna “ikut atau bersama-sama dengan seseorang/sesuatu (alat, cara dsb)” kemudian kedua, “kasaktii” ini bukan menunjukkan “kesaktiannya” karena pronomina posesif (kata ganti orang untuk milik) –nya tidak terlihat pada kalimat tersebut (kalau diucapkan mungkin tidak akan terdengar ada masalah). Untuk itu “kasaktii” menggunakan bentuk yang benar “kasaktie” “kesaktiannya”, -e pada “kasaktie” menunjukkan pronomina posesif (milik) –nya . Begitu pula dengan kalimat-kalimat lain yang kurang taat kaidah seperti terlihat pada “hantuu”, “rimaa”dan lain-lain.

Pada kata pembuka awal alinea keempat, “Sadang” bukan merujuk kepada “sedangkan” tetapi dalam bahasa Dayak Ngaju “sadang” adalah adjektiva atau kata sifat, misalnya Baju jetoh sadang akan andim. “Baju ini pas/sedang/muat untuk adikmu”. Jadi tentu kurang bijak kalau penerjemahannya langsung dari bahasa Indonesia yang akan mengurangi makna/semantik dan struktur bahasa Dayak Ngaju.

Alinea kesembilan baris kedua yang sangat fatal, “mampasawe” tidak akan pernah ditemukan dalam bahasa Dayak Ngaju untuk konteks manusia (apalagi leluhur) yang sangat egaliter dan kaya akan perbendaharaan kosakata. Terjemahan ini mengandung konotasi negatif atas citra orang Dayak dalam memandang sakralnya sebuah lembaga perkawinan (marital institution) hanya untuk sebuah terjemahan “memperistri(kan)” sebagai ganti “menikahi” atau “mengawini”. Konotasi “mampasawe” hanya digunakan untuk binatang. Misalnya terlihat dalam konteks kalimat, Paham kabujange jadi bawoie, te ie mampasawe(e) dengan lakang ayun Mama bara dimpah. Terjemahannya ke dalam bahasa Indonesia adalah “Karena sudah cukup umurnya, ia (maaf-menyenggamakan) babinya dengan babi milik Paman dari seberang (dengan maksud untuk memperoleh anak babi).

Jadi persoalan diksi atau pilihan kata bukan sebuah persoalan yang gampang tanpa mempertimbangkan aspek makna dan keluhuran nilai suatu bahasa. Sehingga tidak akan menimbulkan persepsi yang berbeda dari pembaca dalam hal pencitraan orang Dayak secara umum.

Pada alinea terakhir terdapat kosakata bahasa luar yang menyiratkan semacam ‘kemiskinan’ kosakata bahasa Dayak Ngaju, misalnya “bubuhan” dan ”pahuluan” padahal kosakata tersebut tidak dikenal oleh pembaca dan penutur bahasa Dayak Ngaju. Bukankah ada kata “ungkup”, “waris-basa” atau “labenga” dan “ hulu-saka” untuk memadankan kedua kosa kata aneh tersebut?

Di dalam dunia penerjemahan terdapat dua hal yang mendasar. Pertama, penerjemahan dapat berupa “penerjemahan tekstual atau lexical translation” yang kaku dan bisa saja menjurus ke ambiguitas semantik; dan kedua, penerjemahan yang dilakukan atas “penerjemahan kontekstual”, yakni interpretasi atas makna sebuah teks. Ada semacam “pemaksaan terjemahan” yang muncul pada aneka cerita dan seolah menunjukkan bahwa bahasa Dayak Ngaju merupakan bahasa yang tidak akomodir dan berkosakata miskin. Padahal, kalau saja penulis mau sedikit menggali, diyakini akan banyak tersedia untuk berbagai hal yang dimaksudkan dalam konteks kalimat dalam cerita-cerita tersebut. Sangat disayangkan, kalau otentisitas cerita-cerita leluhur tersebut menyerap kosakata-kosakata yang terdengar asing dan tidak mencerminkan kearifan berbahasa orang Dayak Ngaju. Terkecuali untuk unsur kata-kata serapan yang tidak ditemukan padanan katanya dalam bahasa Dayak Ngaju, misalnya telepon, wilayah, komputer, dan lain-lain.

Buku ini diharapkan dibaca oleh para pembaca multibahasa dan multibudaya dari berbagai belahan dunia, dengan demikian ia menjadi pertaruhan martabat yang dapat dilihat dari bagaimana orang Dayak Ngaju menggunakan bahasanya—termasuk di dalamnya cara bertutur. Ekspresi tutur suatu masyarakat bahasa menjadi cermin bagaimana masyarakat memandang ideologi bahasanya. Artinya, sebuah bahasa menunjukkan cara berpikir, cara mengekspresikan ide-ide, dan tinggi rendahnya martabat penuturnya.

Disarankan untuk meninjau kembali penggunaan tuturan dalam cerita-cerita yang sudah tertuang dalam buku ini—dengan tidak mengurangi rasa hormat kepada penulisnya, terutama dari segi bahasa dan muatan folosofisnya sehingga tidak bergeser dari otensitas dan keluhuran martabat bahasa Dayak Ngaju dan pencitraan atas kebudayaan Dayak umumnya . Bahasa menunjukkan bangsa, kata orang bijak. Tentu kurang bijak apabila dalam hal berbahasa pun kita tidak mampu menunjukkan betapa bermartabatnya bangsa kita, utus Dayak itu.[*AN]

(Dari: Dokumentasi Andriani SJK & JJ. Kusni)

BAHAYA HILANGNYA KEBUDAYAAN DAYAK: Kuburan Leluhur Pun Dijual

Jurnal Toddopuli

(Cerita Untuk Andriani S. Kusni Dan Anak-Anakku)

Harian Kalteng Pos, Palangka Raya, Sabtu 25 April 2009, telah menurunkan sebuah berita berjudul: “Umat Kaharingan Pahandut Kukuh”. Seperti diketahui, Pahandut merupakan salah satu kelurahan yang terletak di kecamatan Pahandut di Kota Palangka Raya. Jalan Halmahera dan Jalan Jawa terdapat di kelurahan ini. Nama kedua jalan ini disebut, karena di sinilah masalah yang diberitakan Harian Kalteng Pos di atas bermula.

Di kedua jalan tersebut terdapat kuburan leluhur warga Kaharingan Pahandut. Tanah kuburan warisan leluhur yang terletak di daerah strategis kota, dekat Pasar Besar Blauran, di mana sekaligus terdapat sandung (tempat penyimpanan tulang-tulang leluhur setelah upacara tiwah) “oleh oknum anggota Majelis Kecil Hindu Kaharingan Pahandut, mau dijual seharga 4 miliar. “Tanah itu tanah warisan leluhur yang dimiliki oleh banyak orang” “yang tersebar di seluruh Kalteng”, ujar tokoh Kaharingan Djimal D Daya didampingi oleh rekannya Dugan, kepada Harian Kalteng Pos, 24 April 2009.

“Mereka yang menjual tanah kuburan leluhur itu tergiur dengan uang Rp. 4 miliar lebih.Apa artinya uang sebanyak itu . Masa warisan leluhur yang punya nilai sejarah mau dijual.Mau di kemanakan muka kita ini?”, protes tokoh Kaharingan itu penuh rasa kesal.

Menurut Djimal, “Oknum yang menjualnya sudah menerima uang dari pembeli ,µRp.1 miliar lebih. Kami dapat informasi ini dari notaris yang membuat akta jual beli tanah itu ». Pada kesempatan yang sama, Djimal juga membantah pernyataan Ketua Majelis Agama Hindu Kaharingan Kalteng Drs. Rangkap I Nau, salah seorang akademisi dan tokoh masyarakat yang mengatakan, tanah kuburan itu dipindah.

« Mau dipindah ke mana ? Kami tidak ingin kuburan leluhur kami dipindah. Saya tahu oknum yang menjual tanah itu hanya ingin uang saja. Saya bicara bukan atas nama pribadi melainkan mewakili warga Pahandut”, tambah Djimal, yang selanjutnya menerangkan bahwa masalah ketidak setujuan warga Kaharingan Pahandut terhadap penjualan kuburan dan tanah kuburan ini sudah disampaikan kepada HM Riban, Walikota Palangka Raya.

Penghancuran sandung dan kuburan leluhur bukanlah kasus baru di Kalteng. Lebih-lebih pada masa Proyek Lahan Gambut Sejuta Hektar semasa Orde Baru dulu. Sayangnya penghancuran dan ketidak perdulian terhadap situs budaya dan peninggalan budaya begini sampai sekarang masih berlanjut. Kasus kuburan dan tanah kuburan Jalan Jawa dan Halmahera, bisa diambil sebagai contoh terbaru. Sapundu usia ratusan tahun digergaji dan dijual. Sandung dibongkar dan dijual. Sama sekali tidak tampak usaha kongkret melindungi situs-situs dan peninggalan budaya, apalagi merawatnya, sekali pun jelas-jelas ditetapkan sebagai “cagar budaya”. Yang dijadikan patokan dan pegangan hanyalah bagaimana meraup uang sebanyak-banyaknya tanpa memperduli jalan apa dan bagaimana memperoleh uang tersebut. Keadaan begini mengingatkan saya akan kata-kata Mochtar Lubis, sastrawan dan wartawan terkemuka Indonesia, peraih Masaysay Award, bahwa dalam buku kecilnya ““Manusia Indonesia” bahwa “manusia Indonesia itu bisa dibeli”. Ucapan bahwa “Segalanya Bisa Diatur”, dari satu sisi menunjukkan rendahnya tingkat apresiasi budaya sementara orang di negeri ini. Negeri yang dikatakan “berbudaya tinggi”, “lemah lembut” sedangkan kekerasan menggurita menjaring masyarakat dari bawah hingga ke atas. Penjualan tanah kuburan dan kuburan, sandung dan sapundu, dari pola pikir dan mentalitas memperlihatkan pola pikir dan mentalitas mie instan dan jalan pintas. Roh, leluhur dan para pahlawan di zaman ini telah dikalahkan oleh uang yang diciptakan manusia tapi kemudian memperbudak manusia. Inikah juga yang dimaksudkan oleh sastrawan Solo, Ranggawarsita ketika mengatakan « zaman edan » ? Harga diri, martabat, budaya tidak mempunyai makna bagi « wong edan » di « zaman edan ». Agaknya « wong edan » dan « zaman edan » sudah sampai juga ke Kalteng. Dilihat dari hukum adat Dayak, barangkali “wong edan” ini bisa dikelompokkan pada “orang tidak beradat” sampai-sampai leluhur sendiri pun sudah tidak dihargai. Diperjualbelikan. Sedangkan “zaman edan” dalam bahasa Dayak Ngaju bisa paralel dengan yang “wayah layau”. Wayah layau yang menurut Uluh Katingan, membuat kita “layang” (sesat). Layang membawa kita ke jurusan layang, setelah layang menjadi nihau (hilang).

Kasus kuburan dan tanah kuburan Pahandut, boleh dipandang sebagai peringatan terhadap kita semua, terutama para penyelenggara kekuasaan politik untuk segera menetapkan serta melaksanakan secara nyata suatu politik kebudayaan yang tanggap. Wajah pilihan politik secara umum tercermin juga pada pilihan dan pentrapan politik kebudayaan. Apa bagaimana politik kebudayaan yang dipilih dan diterapkan di Kalteng sekarang? Tanpa politik kebudayaan yang tanggap dan sungguh-sungguh diterapkan bukan tidak mungkin bahwa kebudayaan Dayak menjurus ke arah nihau?***

Palangka Raya, Mei 2009

——————————

JJ. Kusni

TAMUEI

Jurnal Toddoppuli

(Cerita untuk Andriani S. Kusni dan Anak-Anakku)


TAMUEI

Buletin Kutak Itah Hapan Basa Dayak Ngaju

Impalua Gagenep Bulan Awi Majelis Adat Dayak Nasional

Dalam perjalanan ke Kalimantan Tengah (Kalteng) tahun 2009 ini, saya berjumpa dengan pelbagai kalangan baik jajaran pemerintah, aparat keamanan, orang-orang dari partai-partai politik atau pun kalangan sipil lainnya. Saya juga berjumpa dengan kalangan LSM, para penulis, cendekiawan, kalangan masyarakat adat, petani, dan orang-orang kampung baik dari etnik Dayak atau pun non Dayak, termasuk dari kalangan etnik Madura yang sejak beberapa tahun setelah Tragedi Sampit 2000 mulai kembali berdatangan ke Kalteng. Usaha menemui kalangan-kalangan demikian, saya lakukan dengan maksud membaca peta kekuatan dan keadaan di Kalteng. Yang saya maksudkan dengan “peta kekuatan” terutama peta kekuatan potensial dan nyata dalam usaha memberdayakan dan membangun propinsi ke-17 ini.

Dari percakapan-percakapan intens dengan berbagai kalangan demikian saya ketahui bahwa sejak tahun 2005, kali terakhir saya ke Kalteng sebelum kedatangan kembali tahun ini, saya ketahui bahwa “peta kekuatan” pemberdayaan sekarang sudah banyak berobah dengan kembalinya ribuan mahasiswa Kalteng yang belajar berbagai disiplin ilmu di luar, terutama dari Yogyakarta. Ribuan jumlah mereka yang pulang kampung. Pulang kampungnya anak-anak muda ini nampaknya membangkitkan situasi dan semangat baru dalam pemberdayaan dan pembangunan propinsi. Dari pembicaraan dengan anak-anak muda yang pulang kampung ini, saya ketahui bahwa mereka pulang untuk memberdayakan dan membangun kampung. Siapa lagi yang diharapkan memberdayakan dan membangun kampung halaman jika bukan pertama-tama anak kampung itu sendiri. Demikianlah kesan saya seusai berbicara dengan mereka.

Di samping kepulangan mereka, masuknya secara sadar dan berpihak (engagé) kemanusiaan tenaga-tenaga dari non Dayak ke Kalteng turut mengobah “peta kekuatan”. Saya hanya berharap semoga tenaga-tenaga baru dan segar yang baru datang akan mampu melakukan terobosan-terobosan terhadap kemandegan “tradisonal” baik politik atau pun budaya, melalui prakarsa dan tindakan sadar nyata berwawasan manusiawi yang jauh.

Gebrakan baru yang menggembirakan, saya lihat di Palangka Raya saat berbicara intens dengan Anthony Nyahu, penyandang S1 bahasa Inggris, bekerja Balai Bahasa Kalteng, dan Marko Mahin, seorang antropolog yang pernah menyelesaikan S2-nya di Leiden Negeri Belanda. Kedua anak muda pemimpi dan bersemangat ini mulai menangani penerbitan dalam bahasa Dayak Ngaju bernama “Tamuei” yang berarti kembara (barangkali yang mereka maksudkan adalah kembara atau pencarian pemikiran dan spiritualitas). Secara tersirat, saya membaca nama Tamuei, sebagai suatu pengembaraan di cakrawala baru: pengembangan sadar bahasa Dayak Ngaju yang menjadi bahasa utama antar Dayak di Kalteng. Sebelumnya, sepanjang sejarah Propinsi Kalteng, tidak ada penerbitan atau berkala sesederhana apa pun yang menggunakan sepenuhnya bahasa Dayak Ngaju.

Usaha yang masih bersifat janin dari kedua anak muda ini berangkat dari bacaan keadaan bahwa bahasa Dayak Ngaju jika tidak dirawat dengan sadar akan mengalami kepunahan. Sebab tidak sedikit, keluarga Dayak, di dalam keluarga sehari-hari berbahasa Banjar, termasuk dengan anak-anak mereka. Anak-anak muda pun secara spontan akan menggunakan bahasa Banjar ketika berkomunikasi antar sesama, walau pun mereka sama-sama bisa berbahasa Dayak. Apakah karena bahasa Banjar dipandang lebih elite akibat penindasan budaya beratus tahun terhadap Dayak mulai dari politik budaya ragi usang Belanda sampai politik budaya Jawanisasi Orde Baru. Politik ragi usang Belanda menumbuhkan sesuatu yang diharapkan, yaitu kompleks rendah diri sebagai Dayak, sedangkan Orba memandang penggunaan yang berbau Dayak sebagai isyarat tumbuhnya separatisme. Apakah bahasa Banjar, Jawa dan lain-lain bahasa memang lebih hebat dan tinggi kualitasnya dari bahasa Dayak sehingga orang Dayak malu menggunakan bahasa Dayak dengan mana mereka diasuh dan dibesarkan (kecuali oleh keluarga Dayak yang mengasuh anak-anak mereka dengan bahasa Banjar). Berkata begini, sama sekali tidak ada terselip sedikit pun penentangan untuk menguasai baik bahasa daerah dan bahasa asing lainnya. Yang menjadi persoalan, mengapa orang Dayak menjadi tidak bisa menghargai bahasa dan budaya mereka sendiri sambil lantang mengatakan diri Dayak serta membela kepentingan dan budaya Dayak . Dibalik keadaan begini, keadaan tidak menghargai diri sendiri, saya kira tersimpan sesuatu yang tidak benar dan tidak sehat pada orang Dayak sebagai anak manusia. Keadaan yang menggelisahkan dua anak muda di atas dan menggerakkan mereka untuk melakukan sesuatu di bidang bahasa, betapa pun sederhana bentuk awalnya. Arus pembasmian diri sukarela dan tidak sadar secara budaya begini perlu dicegah sebelum ramalan sementara antroplog Barat tentang Dayak bahwa “Dayak akan musnah” menjadi kenyataan.

Kedua anak muda tersebut di atas mengambil prakarsa demikian saat menyadari juga

bahwa apabila angkatan orangtua mereka tidak ada, siapakah yang bisa menjadi rujukan dan tempat bertanya mereka tentang budaya, termasuk bahasa Dayak. Kematian adalah sesuatu yang tak terelakkan. Tahun bertambah kian mengakrabkan kita dengan ajal.

Sebagai dasar legal legal dan pikiran, mereka menggunakan salah satu pasal UUD yang mengatakan bahwa “Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Pasal 32 jari mansanan tahiu “negara menghormati dan memelihara bahasa daerah sebagai bagian dari kebudayaan nasional” (Undang-Undang Dasar Republik Indonesia Pasal 32 sudah memberitahukan perihal “negara menghormati dan memelihara bahasa daerah sebagai bagian dari kebudayaan nasional”).

Selanjutnya Anthony Nyahu dalam tulisannya berjudul “Manintu Kueh Hila Imbit Basan Itah Toh?” (Ke Arah Mana Kita Membawa Bahasa Kita Ini?) antara lain berkata lebih lanjut bahwa “Akan tindak lanjut tandipah kutak te rimae, palalus gawi mahaga basa daerah te hajamban upaya pengembangan, pembinaan, revitalisasi, tuntang pendokumentasian maninto hila akan pelestarian bahasa hong maname pambelom taheta masyarakat multikultural bahagian bara masyarakat internasional je paham babeda hadat-basa. Tagal te, upaya mahaga kutak “bahasa daerah” dia baya panggawin tuntang kewajiban negara bewei, tinai manjari tanggung jawab pamarentah daerah je panyambung lengen pamarentah pusat hong daerah”.(Tindak lanjut yang sejajar dengan kata-kata tersebut, berarti, bersamaan dengan pekerjaan memelihara bahasa daerah tersebut, dilakukan upaya pengembangan, pembinaan, revitalisasi, dan pendokumentasian ke jurusan pelestarian bahasa guna memasuki kehidupan baru masyarakat multikultural sebagai bagian dari masyarakat internasional yang sangat berbeda adat-istiadat mereka satu dari yang lain. Karena itu, upaya memelihara “bahasa daerah” bukan hanya pekerjaan dan kewajiban negara saja, tapi juga menjadi tanggung jawab pemerintah daerah sebagai penyambung tangan pemerintah pusat di daerah).

Kecuali itu, apa yang diprakarsai oleh Anthony Nyahu dan Marko Mahin, selain memperlihat peranan budaya cendekiawan Dayak, juga sebagai anak-anak Dayak menunjukkan bahwa pemeliharaan dan pengembangan bahasa Dayak, adalah tanggung jawab semua puter-puteri Dayak (baca daerah!) yang bisa menghargai diri sendiri, melalui budaya dan bahasa khususnya.

Anthony Nyahu dalam tulisannya “Manintu Kueh Hila Imbit Basan Itah Toh” secara rinci juga menunjukkan bidang-bidang apa yang patut segera ditangani, bagaimana caranya mengembangkan bahasa daerah, kesulitan-kesulitan apa yang dihadapi dalam usaha ini (Khusus kepada yang bisa berbahasa Dayak, lihat: Lampiran).

Dalam tulisan tersebut, Anthony Nyahu menyampaikan kebijakan Kepala Pusat Depdiknas RI tentang bahasa daerah:

“…. Kepala Pusat Bahasa Depdiknas RI mengatakan bahwa:

° Bahasa daerah digunakan di rumah dengan anggota keluarga atau dengan sanak-saudara. Digunakan dalam menyampaikan segala apa saja yang menjadi kekayaan suku, seperti kesenian, menuturkan cerita-cerita masa dahoeloe, muatan lokal, pekerjaan serta ritual-ritual adat;

° Bahasa Indonesia, digunakan dalam pekerjaan resmi pemerintah, di kantor, di sekolah-sekolah, pekerjaan yang bersifat nasional, bahasa penyampai ilmu pengetahuan dan tekhnologi;

° Bahasa Asing, digunakan dalam pekerjaan-pekerjaan yang memerlukannya serta pekerjaan-pekerjaan di luar negeri dan tuntutan situasi”.

Akan segera terbitnya Buletin Bahasa Dayak Ngaju “Tamuei” merupakan suatu terobosan baru dan memperlihatkan dinamika yang digerakkan oleh masuknya tenaga-tenaga segar dari luar seusai menyelesaikan pelajaran mereka. Nila Riwut yang sudah menyelesaikan penyusunan Kamus Dayak-Indonesia tidak kalah tebal dengan Kamus Umum Bahasa Indonesia, membuktikan betapa kaya kosakata bahasa Dayak Ngaju. Sementara masuknya beberapa kosakata Dayak-Ngaju ke dalam kosakata bahasa Indonesia edisi terbaru memperlihatkan sumbangan apa yang bisa diberikan oleh bahasa Dayak (baca: bahasa daerah) kepada pengembangan bahasa nasional.

Sedangkan motto “Tamuei”: ”Tulis Yang Kau Katakan, Katakan Yang Tulis”, barangkali saran untuk mengembangkan sastra lisan bersamaan dengan pengembangan sastra tulis di Kalteng, terutama di kalangan orang Dayak. Jika ide ini terwujud maka ia akan merupakan sastra Dayak memasuki tahap perkembangannya yang baru: sastra lisan dan tulisan berkembang bersama-sama.***

Palangka Raya, Mei 2009

——————————-

JJ.Kusni

LAMPIRAN:

MANINTU KUEH HILA IMBIT BASAN ITAH TOH?

Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Pasal 32 jari mansanan tahiu “negara menghormati dan memelihara bahasa daerah sebagai bagian dari kebudayaan nasional”. Akan tindak lanjut tandipah kutak te rimae, palalus gawi mahaga basa daerah te hajamban upaya pengembangan, pembinaan, revitalisasi, tuntang pendokumentasian maninto hila akan pelestarian bahasa hong maname pambelom taheta masyarakat multikultural bahagian bara masyarakat internasional je paham babeda hadat-basa. Tagal te, upaya mahaga kutak “bahasa daerah” dia baya panggawin tuntang kewajiban negara bewei, tinai manjari tanggung jawab pamarentah daerah je panyambung lengen pamarentah pusat hong daerah.

Pahagan kutak bahasa daerah te tahiu, iyete a) penelitian kakaren aspek kutak-basa daerah gunae pengembangan, pembinaan, tuntang pendokumentasian bahasa daerah te; b) pengembangan bahasa daerah sontoe pemekaran kosa kata, pemutakhiran kodifikasi akan pampahalap ejaan, kamus, tuntang tata bahasa uka bahasa daerah te tetep sarurui akan keperluan masyarakat je mangutake; tuntang c) pembinaan bahasa daerah tahiu gawi pemertahanan guna bahasa daerah awi masyarakat je mahapae tuntang inarus panggunae akan generasi anak-esu hajamban proses pambajar bahasa daerah hong lingkungan keluarga atawa hong sakola. Beken bara te, pahagan bahasa daerah te rimae akan upaya perlindungan bahasa daerah dia leteng tinai merevitalisasi fungsi tuntang kedudukan bahasa, hajamban hurup tuntang sastra daerah hong kueh bewei panggunae awi masyarakat je mangutake (Dendy Sugono. Suar Betang No. 2 Vol 2. p 2).

Aton kebijakan tahiu “bahasa daerah” je insanan awi Kepala Pusat Bahasa Depdiknas RI, iyete:

● Basa daerah ihapan hong huma, dengan ije labenga, atawa dengan tundah-jalahan. Tinai akan manyampai kare narai bewei je manjari panatau utus, kilau kesenian sontoe, akan hapan mangutak sarita horan, muatan lokal, tuntang panggawi adat tuntang sombayang je tarait dengan katetek gunae;

● Basa Indonesia, akan hapan itah hong kakare gawi resmi pamarentah, hong eka bagawi (kantor), hong bajar intu sakola, atawa palalus gawi je rimae akan nasional, basa panyampai ilmu pengetahuan tuntang teknologi;

● Basa Asing, akan ihapan itah hong kakare palalus gawi hong ruar negeri, akan inyampai katika bajar basa Asing, tuntang manumon ampin katikae.

Mahaga Basan Itah wayah toh, kilen lalau kahali?

Aton kapehen itah wayah toh, tagal ampin kamiar jaman. Te kakare anak tabela te iajar awi oloh bakase mahapan basan oloh; rimae habasa. Alohe oloh bakase sama arep, ije basa bewei. Te anak tabela habasa dengan gagenep labengae, nihau identitas aie, nihau kadehen utuse, tinai regan bereng. Eweh je akan manarus basan itah toh andau rahian amon itah jari malihi?

Tahiu basan oloh rimae habasa te tau ih anak te kareh bajar tuntang marasok kutake dengan kolae. Tapi ianggap kutak oloh ih je labien barega hayak bahalap bara kutak arep. Rimae, amun hakutak hapan basan oloh te itah mangkeme tamam hayak inyewut oloh bara tumbang je pintar-harati. Ianggap amon hakutak basa Ngaju bara hila ngaju je paham humong. Padahal wayah toh dia macam te tinai. Are oloh Ngaju je pintar-harati hayak bijaksana dia baya oloh bara laut bewei. Tinai, kapehe amon itah hasupa hong lewun oloh, te habasa-habair kilau dia bara lewu je sama. Mikeh mahamen katawan oloh itah bara lewu ngaju. Amon itah melai intu lewu ngaju, narai je manjari kahawen itah. En kia lalau itah sama kilau manyahukan taloh je bahewau. Maka itah sama kuman bari kea, labien pambelom itah kinan bari tuntang taloh juhu uras organik, lauk-bilis kejau akan marusak biti-bereng.

Kilen Ampin Carae Itah Mahaga Basan Itah?

Are cara je dia babehat hayak manampa bereng barega tandipah oloh ruar, sontoe uka itah dia manyuruk-menda basan oloh hong katikae je sarurui. Umpamae:

● Itah dia mahapan basan oloh hong huma, hong pumpong dengan kula-jalahan, atawa hong lewu, tuntang hong palalus gawi sombayang tuntang adat

● Itah maningak-majar anak-silih itah bara huma mahapan kutak itah palus manenga sontoe tuntang manyarita saritan tatu-hiang tuntang tanding-tampengan uka tau mampalampang utuse

● Pamarentah daerah are menerbit buku kesah, sarita, komek tuntang pilem hong basan itah je inenga cuma-cuma akan utus itah

● Hapakat hong kasintan itah uka badehen mahaga panatau tatu-hiang itah sontoe panatau basan itah, karungut, sansana, deder, tuntang kutohe tinai

Ela hatawah sama arep. Sontoe mambaka basan arep atawa basan oloh ih je pangkahalape

Narai bewei pangatawan itah hong pambelom itah toh tahiu kare kilen ampi manampa arut, kilen ampie hadat-basa amon handak mamalan-manana, kilen ampi amon handak haguet malauk, kilen ampi manapa jarat, t.k.t te uras inyurat akan pangatawan anak eson itah andau rahian. AWI TE NGUTAKM NARAI JE NYURATM, NYURATM NARAI JE NGUTAKM AKAN INDU PANOHAN UTUS DAYAK ANDAU RAHIAN.

● Oloh Dayak je belom bahadat, mamut menteng tuntang ureh iyete oloh Dayak je tau mahaga kutak-basae, haratie mahapan basa Indonesia intu ekae je kateteke, tinai basa asing hong ekae je sarurui. Dia asal hapan, dia asal habasa bewei, tuntang dia asal mahapa basa daerah oloh je beken bara panatau tatu-hiang itah. [*AN].

(Sumber : Dokumentasi Andriani S.Kusni & JJK)

MENCARI SUATU POLITIK BAHASA

Jurnal Toddopuli

(Cerita Untuk Andriani S. Kusni Dan Anak-Anakku)

Lebih dari empat dasawarsa yang lalu, Lembaga Sastra Indonesia, salah satu lembaga Lekra, bertempat di Gedung Shin Shen She, Pacinan, Yogyakarta (sekarang gedung ini sudah tidak ada) pernah menyeleggarakan sebuah sarasehan bertemakan “Hubungan Bahasa Daerah dan Bahasa Nasional”. Yang dimaksudkan dengan bahasa nasional, tentu saja tidak lain dari Bahasa Indonesia, sedangkan bahasa daerah adalah semua bahasa etnik yang terdapat dan digunakan di wilayah Republik Indonesia. Masalah yang diangkat oleh sasasehan tersebut sering berulang datang sebagai persoalan nyata dari saat ke saat di mana pun saya berada, entah di Indonesia atau pun saat berada di negeri orang.

Waktu sedang transit Singapura, dalam perjalanan menuju tanahair, saya mendengar seseorang menggunakan telepon genggamnya sedang berbicara menggunakan bahasa Indonesia yang campur-baur antara kosakata bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Saya namakan bahasa demikian sebagai “bahasa gado-gado”. Kali lain dalam seminar-seminar, baik yang bersifat lokal, nasional atau pun internasional, bahasa sejenis bahasa gado-gado ini pun kembali saya dengar dan hadapi. Kata Anda, Saudara, kau atau kamu, digantikan dengan kata “you”, seakan-akan kosakata bahasa Indonesia untuk pengertian yang sama seperti kurang berarti. Keadaan serupa pun saya dapati, saat membaca tulisan-tulisan di media cetak atau pun radio dan televisi.

Sebuah tragedi komik, pernah juga saya dengar dari paman saya. Peristiwanya terjadi di kampung Serua Indah, Ciputat, Tanggerang, Jawa Barat. Paman saya dari etnik Madura, adalah mantan kapten Angkatan Laut. Karena dituduh terlibat dalam G30S/1965 atau Tragedi September 1965, ia dikeluarkan dari Angkatan Laut, dihukum penjara selama 14 tahun tanpa diadili. Setelah keluar dari penjara, ia tinggal menyepi di Serua Indah. Di kampung ini, ia banyak meluangkan waktu guna membantu anak-anak belajar matematik, bahasa Inggris dan lain-lain. Hubungannya dengan orang kampung sangat dekat. Tidak seorang pun yang tidak mengenalnya. Pada suatu hari di kampung Serua Indah diselenggarakan helat perkawinan. Pak Lik, demikian saya memanggilnya, diundang. Hadir dalam perhelatan itu selain orang-orang kampung, camat dan lurah. Sampailah giliran Pak Lurah mengucapkan pidato ucapan selamat. Di akhir pidatonya, Pak Lurah berkata dengan bangga dan pasti: “Pokoknya saudara-saudara, made in Sweden” (merek korek api buatan Swedia yang banyak dijual di Indonesia). Karena tidak mengerti arti “made in Sweden yang diucapkan seperti yang tertulis, orang kampung yang hadir bertanya spontan: ”Apa artinya, Pak Lurah?”. Pak Lurah dengan pasti pula menjawab: “Artinya, semoga berbahagia”. Seperti koor, orang-orang kampung serentak menjawab:”Oooooo” sambil mengulangi kata-kata “made in Sweden” sebagaimana yang diucapkan oleh Pak Lurah. Dengan mengucapkan “made in Sweden”, kalimat dalam bahasa asing itu, Pak Lurah merasa prestise atau martabatnya jadi meningkat. Tentu masih banyak kisah tragedi komik demikian yang pernah saya saksikan dan dengar. Merenungi ulang kejadian-kejadian demikian, mulai dari “bahasa gado-gado” sampai ke kasus “made in Sweden” di Serua Indah, saya melihat intinya sama. Merasa martabat meningkat dengan menggunakan bahasa asing, dan umumnya bahasa Inggris, sedangkan pada masa angkatan ayah saya dulu adalah bahasa Belanda. Benarkah terjadi peningkatan martabat dan zamani bahkan modern atau tidakkah yang berlangsung adalah mempertontonkan rasa rendah diri dalam bentuk terbalik, ketiadaan jati diri sebagai suatu bangsa? Barangkali juga kasus di atas jika ditarik lebih tajam dan lebih jauh, mempertontonkan sekaligus pola pikir dan mentalitas budak, kekaguman membuta pada Barat. Seakan-akan Barat adalah standar benar dan salah, baik dan buruk, modern dan kolot sementara budaya negeri sendiri tidak atau kurang dikenal dan dipahami sehingga walau pun secara fisik berada di Indonesia, tapi pada kenyataannya asing dari Indonesia. Keadaan begini mungkin saja terjadi oleh sistem dan acuan pendidikan adalah Barat, terutama Amerika Serikat.

Saya tidak keberatan menggunakan istilah-istilah bahasa-bahasa Barat atau bahasa asing mana pun dan menjadikan kosakata-kosakata tersebut sebagai kosakata bahasa Indonesia, jika memang bahasa nasional kita tidak memiliki padanannya. Tapi jika untuk pengertian yang sama persis kita sudah mempunyai kosakata sendiri , mengapa mesti menggunakan kosakata asing?

Sarasehan bahasa yang diselenggarakan oleh Lembaga Sastra Indonesia empat dasawarsa silam itu pun bersikap seperti di atas. Lebih lanjut sarasehan tersebut juga menyarankan agar sebelum menggunakan kosakata asing tersebut, kita coba dahulu mencari padanannya dalam bahasa-bahasa daerah. Dengan cara ini, maka bahasa-bahasa daerah menjadi suatu sumber untuk memperkaya bahasa Indonesia, demikian pula sebaliknya. Sehingga antara bahasa-bahasa daerah dan bahasa nasional terjadi proses hubungan yang saling mendekati dan saling memperkaya, bukan saling memusnahi atau menjadi saingan. Pandangan begini kemudian saya dapatkan kesejajarannya pada pandangan dan sikap Bernard Pivot, seorang budayawan terkemuka Perancis yang menganjurkan agar jangan sampai ada kosakata bahasa mana pun yang hilang. Bernard Pivot secara ekstrim bahkan menyamakan kosakata dati bahasa mana pun seperti sebatang pohon di hutan yang harus dipelihara. Lebih ekstrim dari Bernard Pivot adalah sikap Jacques Toubon, mantan Menteri Kebudayaan pemerintah Jacques Chirac yang melarang penggunaan kosakata Inggris ke dalam bahasa Pzerancis demi menjaga kemurnian bahasa Perancis. Toubon diejek oleh pers internasional dengan julukan Menteri “Semua Baik” (Tout Bon).

Berbeda dengan pandangan Pivot dan Toubon adalah pandangan seorang linguis Amerika Serikat yang disampaikannya dalam salah sebuah seminarnya di l’Ecole des Hautes Etudes en Sciences Sociales (l’EHESS) , Paris, dimoderator oleh Prof. DR. D. Lombard. Ahli bahasa Amerika tersebut berpendapat bahwa bahasa daerah tidak semestinya dikembangkan di Indonesia, cukup bahasa nasional saja. Alasannya : Pengembangan bahasa daerah akan berbeaya mahal, lebih-lebh jika pelajaran-pelajaran harus diterjemahkan ke dalam bahasa-bahasa daerah.

Pengalaman lain yang saya alami bahwa seorang teman, kebetulan seorang pemimpin redaksi suatu penerbitan, menasehati saya agar mengurangi semaksimal mungkin penggunaan istilah-istilah bahasa daerah. Tentu saja saya sepakat jika kosakata tersebut mempunyai padanan dalam bahasa Indonesia dengan segala nuansanya. Nasehat teman saya ini, menimbulkan teka-teki pada diri saya, bagaimana ia melihat sejarah perkembangan bahasa Indonesia, membandingkan bahasa Indonesia dahulu dan yang sekarang, saling hubungan bahasa daerah dan bahasa nasional. Penerbitan, tentu mempunyai peran dalam pengembangan bahasa serta memelihara bahasa. Dengan peran demikian, saya kira, media masa, terutama penanggungjawab-penanggungjawab kuncinya, perlu memiliki politik bahasa yang jelas. Politik bahasa yang diterapkan oleh Jacques Toubon yang ternyata gagal dan dilecehkan dunia, memperlihatkan bahwa politik bahasa tutup-pintuisme atau sektaris, bertentangan dengan sifat bahasa yang dinamis dan menjadi alat komunikasi antar manusia. Saya khawatir politik bahasa yang tersisat pada nasehat teman saya di atas, salah-salah bisa terjerumus ke sikap sektaris dan tutup pintuisme seperti yang dilakukan Toubon. Barangkali sikap Bernard Pivot menarik untuk disimak, karena sejalan dengan politik budaya dan bahasa yang bhinneka. Saya memahami politik budaya dan bahasa yang bhinneka adalah politik budaya dan bahasa tanpa tabu. Hipotesa ini hanyalah suatu pertanyaan dalam bentuk lain tentang politik bahasa dan budaya yang bagaimana seniscayanya kita pilih dan terapkan untuk negeri dan bangsa kita yang majemuk.***


Palangka Raya, April 2009

———————————

JJ. Kusni

PERKEMBANGAN MUSIK DI KALTENG

Jurnal Toddopuli

(Cerita Untuk Andriani S. Kusni Dan Anak-Anakku)

Barangkali judul Jurnal Toddopuli kali ini sangat ambisius. Tidak padan dengan yang mau diceritakan. Sebab yang mau saya ceritakan secara spesifik terutama perkembangan penciptaan lagu-lagu di Kalteng, khususnya yang liriknya menggunakan bahasa Dayak. Lebih berani lagi, karena dalam menulis Jurnal ini, data-data yang saya gunakan pun sangat terbatas, sejauh pengenalan sepintas terhadap perkembangan yang saya lihat di Palangka Raya dan Kasongan melalui beberapa pengamatan di toko-toko kaset, lagu-lagu yang digemakan oleh sopir-sopir taksi, anak-anak muda, dan pertemuan dengan beberapa orang dan kelompok.

Dibandingkan dengan keadaan semasa keberadaan saya di Kalteng tujuh tahun silam, dangdut sampai sekarang agaknya masih merupakan musik dan lagu-lagu favorit dengan banyak penggemarnya. Sering saya menyaksikan keadaan bahwa begitu mendengar lagu-lagu dangdut, sementara pendengar tidak perduli lelaki atau perempuan, segera mau “goyang”. Dalam pertemuan-pertemuan, tua-muda, lelaki-perempuan, tidak canggung-canggung “bergoyang” dan mencari giliran untuk berdendang. Dangdut dengan jumlah penggemar demikian, memang mempunyai basis sosial yang relatif merasa, termasuk lapisan bawah dan sejarah yang lama mengakar di lapisan bawah di kampung-kampung dan daerah kumuh. Agaknya dangdut mereka dapatkan sebagai penyalur yang bersifat “kompensasi” dan meringankan beban walau pun sejenak di hadapan kehidupan sehari-hari yang berat. Peringan beban didapatkan melalui lirik-lirik dan “goyang” erotis yang membawakan bius kegirangan sekali pun kepahitan harian masih membayang dengan melankolisme kehilangan dan khianat kekasih seperti yang sebelumnya disajikan oleh filem-filem India dan Malaya. Secara kocak diungkapkan oleh “men in the street” di Kasongan dan Palangka Raya bahwa lelaki perempuan di filem-filem India itu jika ketemu pohon, berjumpa rel kereta-api dan tiang lalu menyanyi. Dengan basis sosial penggemar yang luas demikian, bisa dimengerti jika kaset-kaset dangdut menjadi tangguk uang yang menguntungkan. Demikian juga di Kasongan, ibukota kabupaten Katingan. Sebagai hal baru, bahkan Kasongan mempunyai Lendoi, penggubah lagu-lagu dangdut dalam bahasa Dayak.Kaset-kasetnya direkam di Jakarta dan banyak terjual.

Karungut, deder dan sansana kayau, sekali pun merupakan lagu-lagu asli Kalteng nampaknya tidak mampu tampil menandingi kehadiran dangdut. Manasai, tari massal Dayak, juga seakan tersingkir oleh “goyang” dangdut erotik dan memberikan keleluasaan improvisasi serta memberikan ruang luas bagi spontanisme dan kebebasan. Ya, dangdut seperti karya yang lebih membebaskan para penggemarnya.

Beberapa hari lalu, untuk kedua kalinya, saya mendengar lagu-lagu karya Nila Riwut, seorang penulis yang cukup produktif. Karya terakhirnya adalah Kamus Dayak-Indonesia, sebuah kamus tak kalah tebal dari Kamus Umum Bahasa Indonesia. Setelah jeda sejenak dari dunia penulisan, Nila Riwut, yang biasa disebut Mina Nila oleh anak-anak muda Dayak di Yogyayakarta, bulan-bulan belakangan, sibuk menciptakan lagu-lagu dengan lirik berbahasa Dayak Ngaju dan Katingan, dengan bantuan mahasiswa-mahasiswi Dayak yang sedang belajar di Yogyakarta. Berbeda dengan Lendoi, Mina Nila dalam karya-karyanya mencoba memasukkan kecapi, malahap dan sansana kayau untuk memberi warna lokal. Saya kira usaha begini layak dikembangkan sehingga kelak Mina Nila bisa mempunyai ciri sendiri, ciri Mina Nila. Selain itu, sementara ini Mina Nila lebih mengangkat penyanyi-penyanyi perempuan Dayak, dengan tujuan mendorong dan mengingatkan kepada perempuan-perempuan Dayak tentang hak dan wajib setara mereka dengan lelaki. Saya menyenangi sikap Mina Nila begini yang bekerja dan berkegiatan berdasarkan suatu wacana. Bukan bekerja dan berkegiatan asal bekerja dan berkegiatan, tapi tahu untuk apa dan siapa? Ia tidak larut di arus utama ruang dan waktu.

Dari segi percobaan dan pencarian, agaknya Mina Nila jauh lebih gelisah daripada Lendoi pencipta lagu-lagu dangdut Katingan. Saya masih berpendapat bahwa musik lokal dan etnik-etnik merupakan bahan-bahan tersedia perlu diolah untuk menghamilkan dan melahirkan karya-karya baru yang berkarakter nasional seperti yang pernah dicoba oleh Johny Trisno, seniman serba bisa Lekra Yogyakarta. Johny Trisno mencoba mencoba menciptakan lagu-lagu baru atas dasar musik Jawa Tengah. Udin, dari Ansambel Tari-Nyanyi Maju Tak Gentar, Medan, menciptakan lagu-lagu baru yang membawa cirri-ciri lagu etnik Tionghoa. Para balerina Lekra mengolah Tanduk Majeng dari Madura ke bentuk baru.

Album musik karya-karya Nila yang mencoba mengangkat unsur-unsur lokal sedianya akan segera diluncurkan dan bisa didengar bukan hanya di Kalteng tapi juga di tingkat nasional melalui tivi dan RRI.

Album-album deder dan karungut, suling balawung, memang banyak diciptakan dan dipasarkan. Hanya deder dan karungut, agaknya kurang mendapat sambutan luas. Monoton. Sejauh ini, saya belum melihat adanya perobaan terobosan dan percobaan dari para pangarungut dan pandeder guna menciptakan karungut dan deder yang tanggap zaman. Terobosan maju memerlukan kegelisahan dan pencarian kreatif tanpa titik mandeg.

Yang menarik perhatian saya, dalam hal percobaan dan pencarian kreatif ini adalah upaya-upaya yang dilakukan oleh musisi-musisi Gereja Katolik, termasuk yang di Palangka Raya. Pada misa-misa, saya sering terpukau mendengar gubahan dan lagu-lagu bernafas lokal Dayak yang diperdengarkan oleh para penyanyi Gereja. Tidak mustahil jika kelak kita melihat bahwa Gereja Katolik Palangka Raya bisa menyumbangkan karya-karya bermakna dalam musik di propinsi le-17 ini. Sedangkan TV-RRI Kalteng, sejauh ini saya belum mendengar adanya grup musik dan karya-karya mereka yang berarti. Apalagi tentang adanya semacam benih Philharmonie. Barangkali pengetahuan dan pendengaran saya terlalu tidak tajam.

Walau pun tidak spektakuler, selama tujuh tahun sejak saya meninggalkan Kalteng, ketika kembali tiba, saya memang melihat memang terdapat perkembangan dan kegairahan kreatif. Tapi samar-samar saya juga melihat bahwa perkembangan sastra-seni, termasuk musik, di Kalteng masih lebih diperankan dan tergantung pada figure. Belum pada lembaga, kecuali dalam seni tari dengan sanggar-sanggarnya. Saya masih belum mempunyai syarat untuk menengok betang Saer Sua, seniman musik Katingan yang sekarang tinggal di hulu. Apakah Saer Sua menjadikan sekaligus betangnya sebagai suatu lembaga pengembangan kesenian ? Tingkat yang dicapai Kalteng di bidang musik, umumnya sastra-seni, masih pada tingkat amatirisme karena seniman-senimannya pun, dalam syarat Kalteng seperti sekarang, tak ada yang berani berkecimpung secara profesionalisme, dalam artian mati hidup dari karya sastra-seninya. Dewan Kesenian Palangka Raya pun tak terdengar kegiatannya. Organisasi kesenian apakah yang dengan visi-misi serta program jelas terdengar kegiatannya di propinsi ini , cq. Palangka Raya sebagai ibukota ? Padahal bisa dipastikan bahwa penduduk sangat haus akan hiburan. Kehausan begini apakah suatu peluang pasar yang baik ? Entahlah. Saya hanya mencatat apa yang saya lihat dan dengar sebagai seorang yang selalu datang dan pergi, karena saya ternyata hanyalah “seorang tamuei” memang. Dalam tamuei, saya selalu ingat pesan Tjilik Riwut yang disampaikan kepada remaja saya bahwa mata itu untuk melihat, telinga untuk mendengar, lidah untuk merasa dan berkata. Sementara dalam kenyataan, tidak jarang indera-indera tersebut tidak digunakan selayaknya.***


Palangka Raya, Mei 2009

——————————-

JJ. Kusni

MENAPAK JEJAK BUNGAI TAMBUN

Jurnal Toddopuli

(Cerita Untuk Andriani S. Kusni Dan Anakku –Lanjutan Jurnal Ke-27)


Catatan Kritis Atas Buku

The Ot Danul From Tumbang Miri Until Tumbang Rungan

(Based On Tatum) Their Histories And Legends)

Oleh: Marko Mahin

Catatan Ketiga

Bungai Tambun atau Tambun Bungai ?


Halaman 40 dari buku cukup membuat saya bingung yaitu pada kalima:

« Sebagai pahlawan mitos kebanggaan suku Dayak, maka Kodam Kalteng dahulu dinamai Kodam XI/Tambun Bungai. Ada perbedaan sedikit dalam penulisan naskah ini yang mencantumkan nama Bungai terlebih dahulu, yaitu Bungai Tambun.Hal ini disebabkan dalam perjuangan terbentuknya Kodam XI/Tambun Bungai, turut berpartisipasi aktif dua orang petinggi militer TNI-AD yang mempunyai intial nama depannya yang jika disingkat TB juga yakni TB Simatupang dan TB Silalahi.

Maka penulisan epos kepahlawanan Bungai Tambun ini sekaligus juga menempatkan posisi yang sebenarnya dari keterpaduan kedua tokoh mitos ini, dari keadaan yang salah serta sudah berlangsung lebih dari 50 tahun ».

Dari beberapa data awal memang tampak bahwa nama Bungai Tambun yang kerap kali dipakai 4). Kemudian tak dapat disangkal memang ada upaya untuk menjadikan nama kedua pahlawan Dayak sebagai Komando Daerah (Kodam) XI Kalimantan Tengah (dibentuk tanggal 17 Agustus 1958) yaitu pada 1 Desember 1959 menjadi Kodam XI Tambun Bungai.5) Kalau dari segi akurasi data, maka 1 Desember 1959 belum lagi genap 50 tahun apalagi lebih dari 50 tahun.

Saya tidak menyanggah ada peranan TB Simatupang dalam membentuk Kodam XI Tambun Bungai, namun saya sangat meragukan peranan TB Silalahi. TBSilalahi lahir tahun 1938, jadi pada tahun 1959 ia baru berumur 21 tahun. Usia yang sangat muda untuk bisa disebutkan sebagai Petinggi Militer AD. Apalagin kalau mengingat bahwa T.B. Silalahi pada tahun 1959 belum lagi lulus Akademi Militer Nasional (AMN). Ia lululusan tahun 1961. 6)

Keturunan “dua pahlawan perkasa” yang saya wawancarai menerangkan bahwa Bungai memang lebih tua dari Tambun, karena itu disebut Bungai Tambun.7) Namun ada juga yang menerangkan bahwa mereka memakai sebutan Tambun Bungai dengan alasan “sudah biasa” atau “enak diucapkan” atau “enak didengar”. Sehubungan dengan nama pahlawan ini, saya percaya orang Dayak “cukup cerdas” sehingga kalau menyebut Tambun Bungai sama sekali tidaklah identik dengan “Tahi Bonar”.

Hal ini dinyatakan dengan tegas, karena kita seringkali suka gagiren (latah) yaitu bertindak spontan tanpa pemikiran dan konsep yang dalam. Saya kuatir nanti akan muncul kawan giren (kelompok latah) yang dengan gegabah mengganti nama Gedung Pertemuan Umum (GPU)Tambun Bungai, Sekolah Tinggi Ilmu Hukum (STIH) Tambun Bungai dan Jalan Tambun Bunga_, menjadi GPU Bungai Tambun, STIH Bungai Tambun dan Jalan Bungai Tambun.Pun pidato para petinggi propinsi ini menjadi Welcome to Central Kalimantan, the Land of Bungai-Tambun.

Catatan Keempat

Bahasa Dayak Rusak: Mampasawe?

Sebagai orang Dayak Ngaju, saya merasa asing dengan versi bahasa Dayak Ngaju dari buku ini. Ada banyak kata-kata “ajaib” yang saya temukan, antara lain:

Arwah Hagan Pahuluan Rambungan

Bacahaya Hengga Pambaruan Sajahtera

Bahubungan Ingarunia Pamuka Sangu

Bajalan Kalumpuke Pangamatan Tabing

Bakajut Kesatria Parubahan Taluk

Bandrang Koreng Pimpinan Tantram

Bapesta Ladang Putus asa Tantilantang

Batambat Lembah Rantau Uzur

Bawaan Madam Versi

Dukun Manyukure

Selain itu saya juga ada banyak menemukan istilah yang “aneh”

Upun Sungei Basir= Dukun Tradisional

Seni mambela arep Palepahan

Pangatawan Baperang Hampahari sapupu

Mambaleh dendam Inunang

Kabuhawa Balangsung

Kalisanga Manyalidik

Mangkuk Badaha Bara titik palhue kabuat

Hiau Uru halalang

Pambelum je tantram

Saya menemukan satu pilihan cara penulisa « lain » : Palakuu, Kayuu, Lewuu, Hunyuuu, Jalanaa, dan Lantinga.

Saya juga menemukan pilihan kata (diksi) yang « heboh » yaitu mampasawe. Pada masa kanak-kanak, kalau kami berani mengucapkan kata ini maka ibu kami tidak segan memukul mulut kami hingga berdarah. Bahkan ada ibu-ibu yang mengoles lombok yang pedas ke mulut anaknya agar jera tidak mengucapkan kata ini. Dalam bahasa Dayak Ngaju kata « mampasawe » tidak digunakan untuk manusia tetapi untuk hewan.

Diksi lain yang bermasalah menurut saya adalah basara. Setahu saya kata basara berarti « Rapat Peradilan Adat » dan tidak sama dengan rapat, atau musyawarah untuk mencari kebulatan pikiran (pumpong).

Hanya sebagai pembanding saja, berikut ini saya menyampaikan contoh terjemahan yang saya buat memakai standar penulisan Dayak Ngaju yang dikenal dengan Ejaan Epple, yaitu

Teks Bahasa Indonesia

PEMUKIMAN BAGI NYOHUNGAN

Rakit-rakit itu terus hanyut dan setelah melewati beberapa teluk dan tanjung, Atung Sempung kembali berkokok. Mereka semua berhenti dansetelah mendapat kesepakatan, maka Nyohungan beserta keluarganya ditetapkan tinggal di tempat ini. Musyawarah ini terpaksa dilakukan karena biasanya Sempung yang menetapkan.

Karena di saran (tepi) sungai itu ada rangan (kerikil), maka tempat ini laludinamakan Saran Rangan. Sekarang desa itu kita kenal dengan nama Sare Rangan, akibat perubahan laal (verbastering). Letaknya termasuk wilayah kecamatan Tewah kabupaten Gunung Mas.

Terjemahan Nahan & Rampai

LEKA MELAI HAGAN NYOHUNGAN

Lanting-lanting te palus bahantung tuntang limbah mahalau papire taluk tuntang rantau, Atung Sempung manandu hindai. Ewen uras tende tuntang limbah dinun kapakat, te Nyohungan kayak babuhaa inetep intu hetuh. Kapakat te tapaksa ilalus awi kilau biasa Sempung je manantu.

Awi intu saran sungei te tege rangan, maka leka tuh balalu inyewut Saran Rangan. Wayah tuh lewu te itah mangatawa bagare Sare Rangan, awi parubahan sewut. Kaduduka tame wilayah kecamatan Tewah kabupaten Gunung Mas.

Terjemahan Mahin

Lewu Akan Nyohungan

Kakare lanting te palus bahantung tuntang mahalau papire teluk tuntang tanjung, te manuk Atung Sempung manandu tinai. Ewen samandiai balalu tende hong eka te. Limbah dinun kabulat pander te Nyohungan tuntang anak-sawae inukas uka mangkalewu hong eka te. Pumpung manggau kabulat pander musti ilalus tagal bahut Sempung je manukase akan ewen.

Haranan hong saran batang danum are rangan, balalu eka te inggare Saran Rangan. Wayah tuh aran eka te hubang manjadi Sare Rangan je aton hong Kecamatan Tewah, Kabupaten Gunung Mas.

Kata sungai dalam bahasa Indonesia tidak bisa diterjemahkan begitusaja menjadi sungei. Dalam bahasa Dayak Ngaju ada perbedaan arti antara sungei dan batang danum (bukan upon sungei – lihat halaman 1). Orang Dayak Ngaju mengenal beberapa kata sehubungan dengan sungai yaitu:

Batang Danum =Sungai Utama

Sampang Batang Danum = Anak dari Sungai Utama

Sungei (batang/bapa sungei = Sungei Kecil yang bermuara di sungai utama atau bermuara di anak dari sungai utama.

Sampang Sungei (anak sungei) = Anak dari Sungai Kecil

Saka (esun sungei) = Cucu dari Sungai Kecil

Sungai Kahayan, Barito, Katingan dan Kapuas adalah batang danum, dan tidak bisa diklasifikasikan sebagai sungei.

Catatan Kelima

Silsilah Para Leluhur

Ketika ditawarkan untuk membahas buku ini saya sangat senang sekali. Apalagi pada bagian sampul depan dituliskan Based On Tatum. Saya membayangkan buku iniadalah hasil transkripsi dari Tetek Tatum yaitu sejarah para leluhur suku Ot Danum yang termasyhur itu, ternyata buku ini adalah hasil penulisan ulang dengan menggunakan beberapa sumber sebelumnya. 8) Sungguh saya kecewa. Apalagi buku ini tidak mencantumkan sumber-sumber yang dipakai. Kemudian sumber yang dipakai juga tidak diuji dengan kritis. Karena itu pada halaman pertama kita menemukan kekacauan-kekacauan silsilah leluhur yaitu:

- Antang Bajela Bulau disamakan dengan Tunggul Garing Janjahunan Laut.

- Lambung dan Lanting disamakan dengan Maharaja Buno dan Maharaja Sangen.

- Karangkang disamakan dengan Maharaja Sangiang

- Lambung atau Maharaja Buno ( yang dalam Panaturan menjadi leluhur manusia yang tinggal di dunia ini) diceriterakan mendapat jodoh di pulau Mako

Seorang Kaharingan yang akrab dengn Panaturan atau sering mendengar Basir Handepang Telon melakukan hanteran akan kebingungan dengan kekacau-balauan silsilah para leluhur itu.

Kenapa terjadi kekacau-balauan ini? Karena bagian ini diambil dari Buku Tjilik Riwut (1958) yang oleh Martin Baier diberi komentar demikian :

« Tjilik !riwut giat mengumpulkan bahan-bahan kebnudayaan dan sejarah Kalimantan dari mana-mana, lalu menerbitkannya sebagai susunannya sendiri. Jarang beliau memberitahukan sumber, darimana beliau menerima dan menyalin bahan adat atau agama-agama suku Kalimantan. Umpamanya halaman 334-370 dengan langsung disalin dari buku Belanda Adatrecht Bundel XXVI halaman 351-375 tanpa pemberitahuan sumbernya. Dalam Panaturannya beliau menyusun unsur mitos penciptaan dari Barito Timur,Katingan dan sebagian dari Kahayan. Sayang sekali, beberapa istilah dan nama tidak dimengerti dan disusun secara salah. Lalu pada tahun 1993 sebuah cetakan baru diterbitkan di Yogyakarta. Dalam buku itu leluhur manusia Maharaja Buno milir sungai Kapuas/Kalbar melalui Kangkamiak – yaitu Pontianak – sampai pulau Mako. Di situ kawin dengan jodohnya Kameloh atau Petak Bulau Tantu Julen Karangan. Mereka memperoleh anak yang menjadi nenek moyang orang Kalteng. Lihatlah, di sini timbul pengaruh dari bermacam-macam kebudayaan lain dari luar Kalimantan, terutama dari kebudayaan Melayu, Banjar , dsb…”9)

Di kalangan masyarakat suku Dayak Ngaju paling sedikit terdapat 25 versi mitos penciptaan atau mitos asal-usul manusia yang dalam basa Sangiang disebut Panaturan. Namun tidak semua dapat digolongkan ke Panaturan yang adalah ceritera suci yang dituturkan oleh para imam Kaharingan dalam upacara menghantar arwah ke sorga loka yang dikenal dengan hanteran.

Panaturan sangat berbeda dari mitos-mitos penciptaan yang dipakai oleh orang biasa untuk mendidik atau menghibur anak-cucunya pada waktu luang. Contohnya pada malam hari, sebelum tidur seorang nenek tua bertutur untuk cucunya tentang Angui Bungai yaitu satu bagian dari cerita penciptaan. Cerita yang dituturkan sebagai dongeng penghantar tidur itu biasanya dalam bahasa sehari-hari, tidak lengkap, hanya satu bagian, dan sarat dengan imajinasi penuturnya.

Panaturan memakai basa Sangiang yaitu bahasa para imam (priestly language) dan hanya digunakan pada saat melakukan ritual agama saja. Karena itu harus dituturkan secara cepat dan tanpa salah, karena bisa menyebabkan roh orang yang meninggal dunia tidak bisa masuk ke dalam sorga-loka. Sedangkan imam yang menuturkannya bisa pingsan, 10) bahkan imam meninggal dunia. 11)

Ceritera asal-usul yang terdapat dalam buku ini tentu saja termasuk pada golongan duniawi (profane) bukan yang sakral (sacred) karena itu sarat dengan imajinasi penuturnya. Dalam mitos penciptaan Dayak Ot Danum dituturkan bahwa penciptaan manusia dilaksanakan oleh pasangan Ranying Pohotara dan Andin Bamban. Manusia laki-laki dan perempuan yang pertama adalah patung tanah yang kemudian dihidupkan dengan memberi nafas yang berasal dari angin. 12)

Sebagai catatan bahwa ada ratusan mitos penciptaan dan mitos asal-usul di kalangan orang Dayak, sesuai dengan adanya ratusan suku Dayak yang ada di Kalimantan. Setahu saya hanya suku Dayak Ngaju dan Ot Danum saja yang mempunyai mitos nenek moyangnya diturunkan dengan Palangka Bulau. Sebaiknya kita menahan diri untuk tidak menggeneralisasi Dayak dan mitos-mitos sucinya. Dayak adalah nama generic dari ratusan suku pribumi yang ada di pulau Kalimantan, karena itu Dayak tidaklah tunggal, Dayak adalah entities plural.

Anggur Jenewer Lawin Pander

Sebagai buku ceritera, kita tidak bisa menuntut mutu ilmiah dari tulisan ini.Namun minimal ada ukuran umum yang harus dipenuhi antara lain:

  1. Untuk menghindari tudingan plagiat, produk copy paste, serta untuk menjunjung tinggi Hak Intelektual orang lain, sebaiknya dicantumkan sumber tertulis dan tidak tertulis yang dipakai untuk meracik dan meramu buku ini. Sebagai contoh, hanya segelintir orang saja di kota Palangka Raya yang dapat menjadi informan tentang sejarah pemberian nama Kodam XI Tambun Bungai, karena memang bukan pengetahuan umum, nama-nama informan itu mutlak disebutkan. Selain menjunjung tinggi Hak Intelektual juga bagi dari etika penulisan.
  2. Secara khusus untuk terjemahan Basa Dayak Ngaju, sebaiknya memakai kaidah buku Basa Dayak Ngaju. Kaidah buku yang dimaksudkan di sini tidak hanya standar ejaan atau cara penulisan, juga standard bagasa Belom Bahadat, misalnya kapan, di mana dan untuk siapa menggunakan kata “Mampasawe”.
  3. Agar tidak terjadi “penyesatan” perlu dilakukan validasi data.Misalnya buku ini mengatakan bahwa sampai sekarang Dampahan Rambang masih ada sampai sekarang (hlm.27). Apakah memang betul demikian? Ketika mengikuti ekspedisi Muller-Schwaner pada tahun 2005, saya mencoba melacak Dampahan Rambang ini. Namun menurut penduduk Tumbang Topus yang menjadi informan saya, Pantar Rambang atau Dampahan Rambang telah gaib atau tidak ada lagi.
  4. Esensi buku ini adalah Buku Ceritera, karena itu sebaiknya jangan mengajukan (menyelipkan) informasi atau data yang sifatnya spekulatif yang akhirnya hanya akan menadi ilmu pengetahuan semu (pseudeo science) atau menyesatkan pembaca, yaitu antara lain:

- Mengenai manuskrip kuno Tiongkok menyebutkan tentang mendaratnya sekelompok suku dari daerah provinsi Yunan (RRC) di pantai utara pulau Borneo, pada sekitar 700 tahun setelah Masehi dibawah pimpinan Sam Hau Fung (halaman 2).

- Tentang penyerang Kota Bataguh yang secara gamblang disebutkan berasal dari Solok-Mindanao, Filippina (halaman 31).

- Tentang Tiwah yang dijelaskan sebagai pemakaman kedua (halaman 37). Tiwah bukanlah uâcara pemakaman (mangubur) tetapi upacara kematian tahap terakhir. Di dalam upacara Tiwah tidak ada kegiatan pemakaman.

- Tentang TB Silalahi (halaman 40).

Sebagai media pendidikan atau buku ceritera, buku ini bermasalah dalam hal:

  1. Buku ini sarat dengan imajinasi kolonial yang mencitrakan orang Dayak sebagai pengayau (koppensneller, pemburu kepala (head hunter, koopjager). Imajinasi kolonial selalu mensteriotipkan Dayak itu “liar”, “ganas”, “primitif”, “kafir dan « kanibal ». Pada tahun 1887, Perelaer (1887 :217) menulis demikian di dalam bukunya:

“…28 koppen waren buitgemaakt…. De ogen uit de kassen halen ..eindelijk in de schedelholten wroeten om de hersens uit te halen”.

“…28 kepala manusia direbut… mata manusia dicongkel dari lubangnya… terakhir mengorek otak dari tengkorak dengan tangan….”13).

Pencitraan negatif seperti ini akan melahirkan pandangan bahwa Dayak identik dengan kekerasan, primitive dan kanibalisme. Pada gilirannya akan membunuh karakter orang Dayak sendiri. Akibatnya akan ada banyak kaum muda Dayak yang malu menjadi orang Dayak atau menyesal dilahirkan sebagai orang Dayak.

  1. Beberapa bagian dari buku ini sarat dengan nuansa kekerasan (violence) sehingga tidak cocok menjadi bacaan anak-anak. Misalnya tentang pembunuhan seluruh isi kampung dan pemotongan kepala (halaman 28), pembunuhan yang dilakukan oleh Nyai Undang yang diakhiri dengan adegan mengerikan yaitu ia keramas dengan darah orang yang dibunuhnya dengan alasan balas-dendam (halaman 34), dan pembunuhan yang dilakukan oleh Bungai dan Tambun atas semua penduduk Hurung Untung (halaman 37).
  2. Ada bagian ceritera dalam buku in yang kontra produktif dengan kegiatan WWF dalam hal melindungi hewan-hewan langka. Misalnya pada halaman 37 berceritera tentang Tambun berburu burung Enggang.
  3. Saya percaya ada banyak ceritera , mitos dan ajaran para leluhur Dayak yang lebih ramah lingkungan, jauh dari imajinasi colonial yang menyesatkan dan nir-kekerasan (non violence). Misalnya cerita tatun kahiu yang mengajarkan perempuan belajar ilmu beladiri untuk lengatasi suaminya yang suka melakukan KDRT, atau konsepsi bumi sebagai ibu semesta (teologi ibu pertiwi), dst.*****

III

Uraian di atas memperlihatkan bahwa draft buku “The Ot Danum” yang diluncurkan 27 April 2009 lalu di Palma, sebagai bagian dari satu proyek menggunakan dana ratusan juta rupiah bahkan ada yang menyebutnya berjumlah satu miliar (?), acak-acakan, masih memerlukan pengerjaan ulang serius jika ia ingin diterbitkan. ***

Palangka Raya, Mei 2009

——————————-

JJ.Kusni

Catatan :

4).Lihat OR. 8893 Tatum Bungai Tambun, Tamparan utus Bungai, Tambun Tamparan Bungai Tambun Menteng (inyurat awi Pambarita A. Menggang, Tumbang Marak, 22 Desember 1938), atau Or. 1899 Kasana Bungai Tambun, Kasana Bungai noehing malaut (inyurat awi B. Bahan). Department o Oriental Manuscripts Leiden University Library.

5). Lihat Sejarah Pangdam VI Tanjungpura. Sumber:www.kodam-tanjungpura.mil.id

6).T.B. Silalahi (lahir 17 April 1938, di P. Siantar, Smatera Utara) lulusan Akademi Militer Kasional (AMK) tahun 1961. Jabatan terkakhir di militer adalah Asisten I Kasad dengan pangkat Mayor Jenderal, tahun 1988. Selanjutnya dikaryakan sebagai Sekjen Departemen Pertambangan dan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara (1993-1998).

7). Wawancara dengan Ideng Rawing Nyaring di desa Tampang, Kuala Kurun, 21 April 2009.

8).Lihat Tjilik Riwut, Kalimantan Memanggil, Jakarta; Percetakan Endang, 1958,dan TimPenelitian Dan Pencatatan Kebudayaan Daerah Kalimantan Tengah, Ceritera Rakyat Daerah Kalimantan Tengah, Diterbitkan oleh: Proyek Penelitian dan Pencatatan Kebudayaan Daerah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Tahun Anggaran 1978/1979.

9). Martin Baier, “Form – und textkritische Studien an Ursprungsmythen der Ngaju-Dayak”, dalam Tribus No. 49,Tahun 1999.

10).Hans Schärer, Der Totenkult der Ngadju Dajak in Südborneo, s-Gravenhage: Nijhoff 1966.

11). Sridjani Kuhn-Saptodewo, Zum Seelengeleit bei den Ngaju am Kahayan, München: Akademischer Verlag, 1993.

12). Schärer, Opcit 1963

13). Perelaer J.H. Borneo, Zuid naar Noord deel 2, Elzevier, Rotterdam, 1887

(Selesai)

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 59 other followers