BARAK & RUSUNAWA: Masalah Tata Kota, Perumahan & Demografi Di Kalimantan Tengah

Di Kalimantan Tengah (Kalteng), kata barak berarti sebuah bangunan rumah terdiri dari beberapa kamar terpisah oleh sekat-sekat. Kamar-kamar ini bermacam-macam tingkat kelengkapannya. Ada yang dilengkapi dengan dapur dan toilet. Ada yang tanpa toilet dan dapur. Ada pula yang hanya kamar saja dan atau kamar tanpa kamar mandi. Kamar mandi terdapat di luar. Kamar-kamar ini disewakan. Para penyewa, umumnya para mahasiswa/i atau para keluarga yang datang dari luar, entah itu dari pulau lain atau dari hulu ataupun muara sungai yang baru datang dan mengalami kesulitan tempat tinggal. Harga sewa kamar-kamar ini bervariasi. Berkisar antara Rp 400 ribu-Rp 700 ribu per bulan, termasuk pembayaran listrik dan air. Tapi untuk menempati kamar-kamar ini, para penyewa  yang harus melengkapinya sendiri.

Barak-barak ini tumbuh menjamur mulai dari kota kabupaten hingga dan apalagi ibukota provinsi. Keperluan akan barak ditunjukkan oleh kenyataan, bahwa ketika sedang dibangun, kamar-kamar semua sudah dipesan. Keperluan akan barang terungkap dalam kata-kata “kurang baraknya saja” yang sering terdengar apabila kita menanyai orang tentang keperluan barak. Barak adalah salah satu mata bisnis sangat laku di Kalteng.

Yang memprihatinkan pada kamar barak-barak adalah kondisi saniternya. Peredaran udara dalam kamar terkesan sangat kurang baik, apalagi cahaya karena tidak jarang, kamar-kamar tersebut tidak lebih dari suatu ruang segi empat tanpa jendela. Keadaan saniter makin buruk, apabila saluran air tidak diperhitungkan ketika membangunnya. Air yang menggenang menjadi sarang nyamuk. Demikian pula sampah yang menumpuk atau berhamburan menjadi salah satu ciri tambahan barak dan keadaan kehidupan di barak.

Menyaksikan barak-barak yang terdapat hampir di semua kampung di Palangka Raya, saya menyangsikan bahwa mereka dibangun sesuai tata kota yang bermottokan “Kota Cantik” ini. Mereka bermunculan seperti halnya warung-warung kaki lima atau kios koran, tumbuh di mana-mana di ruang-ruang yang memungkinkan. Sempadan jalan sama sekali tidak diperhitungkan. Saya membayangkan bahwa jika terjadi pelebaran jalan pada suatu ketika, bangunan-bangunan yang tumbuh seperti tumbuhnya semak-semak di bekas lahan terbakar, akan terkena. Ketika itu masalah sosial, bahkan keresahan sosial akan muncul. Barangkali para penghuni yang digusur akan menuntut ganti rugi, walaupun pembangunan rumah-rumah – terkadang sekaligus merupakan tempat usaha kecil – dilakukan secara “liar”.

Melihat pertumbuhan barak-barak, rumah-rumah, warung-warung dan kios  kaki lima ini, ingatan saya langsung melayang ke Jakarta, Paris dan Tiongkok dengan bayangan yang berbeda. Jakarta dengan tata kota yang kacau-balau, pengairan air jalan-jalan tidak diperhitungkan ketika membuatnya. Demikian juga warung-warung dan bangunan kuluh seperti juga gedung-gedung bertingkat tumbuh berserakan seperti pertumbuhan belukar. Sungai-sungai kotor bau apak. Terasa Jakarta yang terik seperti sebuah kota sudah tak layak huni. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana rumitnya menata ulang Jakarta tanpa menimbulkan suatu keresahan sosial.

Kota-kota Republik Rakyat Tiongkok saya ingat oleh pohon-pohon rindang melindungi jalan-jalannya yang lebar. Terkenang akan trotoarnya yang lebar-lebar. Delapan orang jalan bergandengan tangan, trotoar itu tidak penuh. Dan Paris, trotoarnya empat lima kali lebih besar dari jalan kendaraan roda empat. Di Paris, untuk merombak beranda pun, kita harus mendapat izin dari kotrapraja agar segala perubahan sesuai dengan rencana tata kota. Jalan-jalan dibersihkan, disapu dan disiram tiga empat kali sehari. Di sungai Seine yang membelah Paris tidak nampak secari kertaspun terapung. Air dihargai. Sungai yang indah, keindahannya dipelihara dan dimanfaatkan untuk kehidupan orang banyak.

O, tentu saja Paris, Beijing, Syanghai, Jakarta dan Palangka Raya memang kota-kota berlainan. Hanya saja, yang saya pertanyakan : Mengapa tidak kita belajar dari pengalaman baik orang dan membetulkan kesalahan serta keteledoran. Apalagi Palangka Raya yang baru membangun dan masih punya kesempatan untuk tidak mengulang ketidakteraturan. Saya merasa aneh, mengapa air yang vital untuk kehidupan tidak kita maknai dan hargai. Sungai dan alam yang indah kita cemari. Kita rusaki sehingga berdampak buruk pada hidup diri kita sendiri.

Barak, warung-warung dan kios-kios kaki lima yang tumbuh serupa semak lahan terbakar, selain merusak perencanaan tata kota – kalau ada, tapi tidak dipegang teguh – keadaan demikian juga mencerminkan perkembangan demografis, keperluan penduduk akan perumah dan sumber penghidupan yang mendesak. Mereka juga mengatakan tentang mendesaknya pemecahan masalah pekerjaan dan lapangan kerja. Sebab barak dan kehidupan barak, warung-warung, kios-kios kaki lima, kiranya sulit dikatakan sebagai lambang kehidupan yang elitis. Sebaliknya mendekati tingkat kekumuhan dan bentuk pergulatan untuk hidup lapisan bawah masyarakat. Di situ pulalah tersimpan bom waktu keresahan sosial. Barak, warung-warung dan kios-kios kaki lima yang tumbuh tak beraturan mencerminkan banyak hal dalam masyarakat Kalteng.

Hal baru di bidang perumahan di Palangka Raya, barangkali di  Kalteng secara keseluruhan, adalah munculnya rusunawa (rumah susun sewa) di Jalan Tjilik Riwut, dekat Pasar Kahayan. Rusunawa ini sudah siap pakai – barangkali hanya sedang menunggu penetapan besar sewanya dari pemerintah kota (pemkota). Dibandingkan dengan barak atau warung-warung kaki lima yang sekaligus menjadi tempat hunian, rusunawa jauh lebih manusiawi dan bisa dipertanggungjawabkan dari segi artistik keseluruhan kota, demikian juga dari segi saniter.  Rusunawa yang bisa disebut pengembangan kekinian dari betang, kiranya bisa merupakan jalan rasuk dalam menjawab masalah perumahan yang muncul seiring dengan pertumbuhan demografis – terutama di daerah perkotaan (urban). Untuk itu, akan sangat rasional jika masalah rusunawa bisa dipindahkan penanganannya ke daerah. Ke pemkot. Sedangkan dalam hal desainnya, apakah harus seragam untuk seluruh Indonesia? Apakah tidak akan lebih bagus jika rusunawa daerah dipertimbangkan soal arsitektural lokal dalam pembuatannya.

Selain menjawab masalah perumahan uang muncul seiring dengan pertumbuhan demografis, rusunawa juga boleh jadi merupakan jalan keluar juga terhadap masalah perumahan di bentaran sungai. Sungai dan itu indah dan berharga. Masalah keindahan dan makna sungai dan air ini, perlu dipecahkan. Salah satu soal di dalam masalah sungai dan air, adalah budaya air, dan perumahan di bentaran sungai.

Beberan di atas tidak lain dari tuturan  tentang persoalan-persoalan yang tersimpan di balik barak-barak, warung-warung dan kios kaki lima yang saban hari kita lewati. Karena saban hari dilihat dan dilalui, kita menjadi biasa. Biasa membuat kita tidak peka. Bisa menumpulkan daya kritis. Termasuk tidak peka terhadap keterpurukan. Matapun sering dibuat rabun oleh kebiasaan, termasuk kebiasaan buruk. Kalteng seniscayanya tidak menjadi betang keterpurukan dan ketidakpekaan tapi menjadi betang manusia yang berharga diri dan bermatabat manusiawi. ***

Palangka Raya, Oktober 2009

Kusni Sulang

About these ads

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 49 other followers

%d bloggers like this: