SANDUNG: SENI BENTUK DAN KOMPLEKS SENI BENTUK DAYAK KALIMANTAN TENGAH

(Foto & Dok. Kusni Sulang, 2009)

(Foto & Dok. Kusni Sulang, 2009)

Catatan Panarung Andriani S. Kusni

Mulai hari ini, Rabu, 7 Oktober 2009, Ruang Kebudayaan Sahewan Panarung yang berarti Obor Pelaga hadir menjumpai pembaca sekalian. Ruang ini selanjutnya akan mengunjungi para pembaca dengan setia tiap Rabu.

Dinamakan Sahewan atau Obor karena Ruangan Kebudayaan ini bermaksud mengajak semua warga Dayak yang merasa diri sebagai Dayak untuk mencintai  kebudayaan Dayak, memahami makna kebudayaan Dayak sebagai bahasa berdialog dengan kebudayaan etnik-etnik dan bangsa lain di titik geografi mana pun di dunia, untuk kemudian memperkaya diri dan selanjutnya memberi  sumbangan kepada budaya dunia. Seperti dikatakan JJ. Kusni,”Hal ini mungkin sekali karena tidak ada pertentangan antara sebagai seorang Dayak tapi sekaligus  menjadi  anak bangsa dan putera-puteri dunia.” Sayangnya yang terjadi sekarang, entah sadar atau tidak, orang Dayak kurang, untuk tidak mengatakan tidak, menghargai diri dan budaya diri sendiri sebagai Dayak. Dalam keluarga Dayak, tidak sedikit yang menggunakan bahasa Banjar dengan anak-anak mereka dan di lingkungan mereka sendiri. Dayak seakan-akan hanya digunakan untuk meraih kedudukan dan jabatan, sesudah itu dikesampingkan. Perhatian terhadap kebudayaan Dayak boleh dikatakan sampai pada tingkat “derajat nol”, jika menggunakan istilah seorang pemikir Perancis, Paul Ricoeur. Sebelum keadaan derajat nol ini berlanjut dan sebelum terlambat,  Sahewan PANARUNG,  mengajak semua warga Dayak melakukan penyelamatan budaya dan gerakan kebangkitan budaya Dayak.

Hasrat dan upaya ini hanya akan berhasil jika semua orang Dayak dan yang berempati pada Dayak bergandengan tangan melakukan seperti yang dilakukan oleh JJ. Kusni yang mengangkat cerita anak-anak bermuatan lokal bekerja sama dengan Majalah SISWARTA milik yayasan sekolah katolik Palangka Raya. Pandangan, sikap dan tindakan begini, sebenarnya adalah kritik kepada orang Dayak dan yang tidak sadar arti warna lokal bagi  kebudayaan yang republikan dan berkeindonesiaan jika memakai istilah JJ. Kusni.  Pandangan, sikap dan tindakan ini merupakan wujud nyata  kebudayaan majemuk – ciri lain kebudayaan yang ada di propinsi ini. Selain menampilkan karya-karya dan bahasa lokal, Sahewan PANARUNG juga akan menyajikan kebudayaan lintas etnik serta karya-karya berbahasa Indonesia dari seniman-seniman etnik lain yang tinggal di Kalimantan Tengah. Keanekaan warna budaya adalah kekayaan budaya Kalimantan Tengah. Karena itu Sahewan PANARUNG menggunakan motto: ”Untuk Kebangkitan Kebudayaan Dayak & Yang Majemuk Di Kalimantan Tengah”.

SANDUNG: SENI BENTUK  DAN KOMPLEKS SENI BENTUK DAYAK KALIMANTAN TENGAH

Sandung Pahandut di Jl. Darmo Sugondo, Palangka Raya (Foto & Dok. Andriani S. Kusni)

Sandung Pahandut di Jl. Darmo Sugondo, Palangka Raya, Kalteng (Foto & Dok. Andriani S. Kusni, 2009)

Pagi cerah pukul 8.30. Kota sepi karena masih pagi dan karena penduduk ibukota propinsi terluas di Indonesia ini hanya sekitar 500.000 orang. Di Palangka Raya, keramaian baru terasa saat malam tiba, saat orang-orang keluar rumah cari tempat makan malam. Saya dan suami bersiap-siap. Agenda kami, mengunjungi Kompleks Sandung Pahandut dekat Dermaga Rambang. Kami telah mendengar kontroversi tentang sandung ini melalui sebuah media lokal. Kontroversi tersebut berkaitan dengan kabar penjualan sandung Pahandut seharga 4 milyar oleh pengurus lembaga Kaharingan. Namun kami belum hendak mengusut kabar tersebut lebih jauh. Saat ini, kami ingin mengetahui kondisi sandung Pahandut dengan melihatnya langsung.

Untunglah cuaca baik. Saya dan suami naik angkot dengan membayar Rp 3000,-/orang sekali jalan. Makan waktu kurang lebih 15 menit hingga tiba di kompleks sandung. Awalnya saya kira, kompleks sandung itu seperti kompleks kuburan Cina yang padat dan semarak dengan ornamen warna cerah terutama merah.

Ternyata kompleks itu hanya berisi satu bangunan mirip miniatur rumah panggung terbuat dari kayu yang dipenuhi ukiran, patung-patung kayu dan patung-patung semen. Ukiran-ukiran kayu dan ornamen dicat dengan Lime Ba, lima warna yang dianggap agung oleh suku Dayak yakni merah, kuning, hijau, putih, hitam. Saya bertanya pada suami, apa beda pambak dengan sandung. Bukankah sama-sama tempat menyimpan tulang-belulang manusia yang sudah ditiwahkan? Saya menanyakan ini karena teringat kompleks Pambak Rindoi, kompleks makam leluhur suami saya yang kami kunjungi di Kasongan Lama. Dengan bahasa rapi dan suara khas suami saya, ia menjelaskan. Penjelasan itu kira-kira begini: Pada mulanya, Kalimantan Tengah didominasi oleh orang Dayak yang berbudaya Kaharingan. Dari segi sejarah perkembangan Kaharingan, pada mulanya Kaharingan bukanlah suatu agama sebagaimana ia diperlakukan sekarang., Pada masa pemerintahan Orde Baru yang hanya mengakui lima agama besar di Indonesia, melalui  Keputusan Menteri Dalam Negeri 1976 yang pada masa itu dipegang oleh Amir Machmud, agar tetap eksis dan luput dari pemusnahan serta represi, pemuka-pemuka Dayak Kaharingan terpaksa menerima penggabungan diri dengan agama Hindu. Sejak itu budaya Kaharingan  secara formal disebut Agama Hindu-Kaharingan. Akademinya pun disebut Akademi Hindu-Kaharingan  dengan isi kurikulum didominasi oleh ajaran-ajaran agama Hindu. Bahwa Kaharingan adalah suatu sistem budaya, suatu sistem pandangan hidup, nampak dari kenyataan betapa dalam kehidupan sehari-hari, orang Dayak Islam dan Kristen masih dipengaruhi  oleh budaya dan filosofi Kaharingan. Sistem budaya dan filosofi Kaharingan mengejawantahkan diri dalam seluruh bidang kehidupan, seperti hukum adat, sistem tatanan masyarakat, pandangan tentang hidup-mati, hubungan antar manusia, upacara-upacara dan lain-lain, termasuk sastra-seninya.

Dalam sistem filosofi dan budaya ini, orang Dayak Kaharingan memandang kematian sebagai perjalanan kembali dari dunia (Pantai Danum Kalunen) ke negeri tempat Ranying Hatalla Langit,   tempat yang disebut Pantai Danum Sangiang (Alam Atas). Upacara-upacara kematian serta segala perangkat, tahap-tahap dan kelengkapannya dilakukan berangkat dari tananan pandangan demikian.

Secara tahapan, pertama-tama orang Dayak Kaharingan yang meninggal, dikebumikan dengan upacara yang relatif sederhana. Kemudian tahap kedua dilakukan pada saat jenazah yang dikebumikan itu diperkirakan sudah tinggal kerangka. Kerangka ini dipindahkan dalam sebuah peti jenazah baru. Peti tulang-belulang ini selanjutnya  diletakkan dalam  sebuah tempat yang berbentuk rumah-rumahan disebut sandung atau pambak sesuai adat daerah aliran sungai (DAS). Setiap DAS mempunyai adat  masing-masing. Sandung terletak di atas permukaan tanah, sedangkan pambak di dalam tanah tapi diberi atap. Dalam sandung dan pambak bisa disimpan beberapa jenazah tetua, misalnya suami-istri. Sandung dan pambak yang diukir, ditatah dan dilengkapi dengan rupa-rupa ornamen, terutama burung enggang (lambang dunia atas) dan naga (lambang dunia bawah). mempunyai ruang atau halaman cukup luas. Di ruang (l’espace) atau halaman ini didirikan patung-patung kayu atau batu berbagai ukuran, sapundu–sapundu (tiang korban) yang artistik, patung-patung enggang (tingang) dan naga (jata) dalam berbagai posisi, patahu (rumah-rumahan tempat meletakkan persembahan kepada almarhum dan leluhur), relief melukiskan kehidupan masyarakat Dayak di betang (rumah panjang) dengan segala kelengkapannya.

Saya kira, dari segi kesenian, kompleks sandung atau pambak merupakan sebuah kompleks karya seni manusia Dayak dengan filosofi Kaharingan sebagai latar belakang konsep. Dari segi kebudayaan,  kompleks sandung dan pambak merupakan buku pelajaran filsafat. Dari segi sosiologis, kompleks permakaman ini bisa diketahui tatanan masyarakat Dayak pada periode tertentu saat sandung atau pambak itu didirikan. Dilihat dari segi sejarah, kompleks sandung dan pambak, jika dibandingkan satu dengan yang lain di berbagai DAS, selain kita bisa melihat keragaman budaya Dayak,  kita juga bisa membaca perkembangan wacana serta  masyarakat Dayak itu sendiri. Maka tidaklah berlebihan jika dikatakan bahwa sandung, pambak dan kompleks sandung dan atau pambak merupakan sebuah kompleks kesenian Tanah Dayak yang memperlihat taraf dan tradisi seni bentuk orang-orang Dayak pada suatu kurun waktu..

Kelengkapan-kelengkapan sandung dan pambak seperti sapundu dan patung-patungnya sekarang menjadi obyek pencurian kemudian dijual di Bali, sebagai tempat tujuan utama, sebelum (biasanya) dibawa keluar negeri. Tidak nampak perlindungan, perawatan, dan pengurusan terhadap khazanah budaya yang tak tergantikan dan mungkin tak ada duanya di dunia. Perhatian terhadap sandung dan pambak dari angkatan sekarang pun sangat minim, jika tidak mau mengatakan tidak ada karena angkatan sekarang bisa dikatakan angkatan yang tercerabut dari akar budayanya sendiri. Kegiatan kebudayaan dipandang oleh birokrat terkait sebagai “kegiatan membuang-buang uang”. Sementara disaat yang sama, sebuah kompleks sandung di kampung Pahandut, yang kini menjadi Palangka Raya, ibukota Kalimantan Tengah, dijual dengan harga 4 milyar. Dikhawatirkan jika perhatian, perawatan dan perlindungan masih berlangsung seperti sekarang, sandung dan pambak sebagai kompleks seni bentuk Dayak akan punah.

Saya mengambil beberapa foto lingkungan dan detail sandung. Juga foto kerusakan-kerusakan yang dialami sandung Pahandut sekarang. Setelah menghabiskan waktu sekitar satu jam, kami pulang. Matahari mulai terik dan kota masih tetap sepi. ***

Andriani S. Kusni & Kusni Sulang

Pertama kali dimuat di Harian Palangka Post-Kalteng, Halaman Kebudayaan, Rabu-7 Oktober 2009

About these ads

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 49 other followers

%d bloggers like this: