BUDAYA KEMISKINAN DAN KEMISKINAN BUDAYA

Jurnal Toddoppuli

Cerita Untuk Andriani S. Kusni & Anak-Anakku

Ketika berbicara tentang kebudayaan, yang dibicarakan, sebenarnya bukan hanya sebatas pakaian adat, seni pertunjukan, pergelaran teater, karya-karya sastra-seni sebagai bentuk yang kasat. Di balik yang kasat mata itu terdapat suatu mind set, pola pikir dan mentalitas. Suatu filosofi. Bentuk-bentuk kasat mata entah berbentuk buku, patung, lukisan, pementasan hanyalah wadah di mana filosofi, pola pikir dan mentalitas itu dituangkan. Karena itu dalam sastra-seni, kebudayaan pada umumnya, dikenal yang disebut bentuk (form) dan isi (content, substansi). Bentuk dan isi merupakan satu keutuhan. Sedangkan artistik adalah ciri utama khas dari sastra-seni sebagai bentuk pengungkapan (ekspresi) diri. Ciri khusus artistik kemudian dianalisa oleh filosofi estetika. Diuraikan perkembangannya dalam sejarah estetika atau sejarah kesenian.

Masing-masing orang (individu), demikian juga kelompok atau lapisan masyarakat memerlukan pengungkapan diri. Keperluan akan pengungkapan diri ini banyak dipengaruhi oleh keadaan sosial dan zaman pada suatu kurun waktu. Sehingga sastra-seni merupakan anak zaman yang dilahirkan zamannya. Dari karya-karya itu kita bisa menelusur keadaan sosial pencipta dan zaman karya-karya itu dicipta. Keperluan akan pengungkapan diri inilah yang dicerminkan oleh tulisan-tulisan truk angkutan yang melintasi jalan-jalan pantai utara (pantura) Jawa seperti: “Bapak tak pulang, ibu kawin lagi”, “Selimut malam”, “Aku menantimu”, dan lain-lain. Keperluan akan pengungkapan diri ini jugalah yang melahirkan sansana kayau di kalangan para penakik karet, pemotong rotan, pencari ikan, peladang berpindah Tanah Dayak.  Di Pulau Buru, pulau pembuangan politik Orde Baru Soeharto, Boven Digul, tanah pembuangan kolonialisme Belanda, terdapat kegiatan kesenian. Bahkan di Pulau Buru terdapat sebuah gedung kesenian yang dibangun oleh para tawanan politik. Maka tidak heran pula jika Uluh Kalteng asal etnik Jawa dating ke Kalteng dengan membawa reog, kuda lumping, wayang kulit dan atau campur-sari.

Dilihat dari segi sejarah, sastra-seni selalu lahir bersamaan dengan kehidupan itu sendiri. Tidak pernah ada kehidupan tanpa kebudayaan. Penemuan lukisan-lukisan di gua-gua purbakala tidak lain dari bukti satunya kebudayaan dan kehidupan. Bukti bahwa kebudayaan itu lahir bersama kehidupan. Diperlukan oleh kehidupan. Demikian juga adanya sastra lisan.

Tindakan, kebijakan yang dipilih, entah ia bernama program politik, ekonmi, sosial atau kesehatan, pendidikan, pemberdayaan, pembangunan,  dan lain-lain berangkat dari satu dermaga yang bernama filosofi. Memandang sastra-seni atau kebudayaan sebatas peragaan pakaian adat, pergelaran tari, nyanyi, teater atau sebatas seni pertunjukan, barangkali merupakan suatu pandangan budaya yang sangat miskin. Pandangan budaya yang miskin (budaya kemiskinan) dilahirkan oleh kemiskinan budaya penganut pandangan tersebut. Jika diusut lebih jauh, apalagi jika kita sepakat bahwa kebudayaan bernyawakan suatu filosofi maka kemiskinan budaya dan budaya kemiskinan ini tidak lepas dari kemiskinan filsafat. Kemiskinan filsafat akan melahirkan filsafat kemiskinan. Demikian juga kemiskinan budaya seseorang akan melahirkan filsafat budaya yang kerdil sebab kebudayaan diciptakan manusia. Tidaklah mungkin seseorang yang berbudaya miskin akan menciptakan budaya yang besar dan kaya.

Bentuk-bentuk Kemiskinan Budaya di Kalteng

Pertama-tama perlu ditegaskan sekali lagi, bahwa yang dimaksudkan dengan kemiskinan budaya di sini adalah kemiskinan filosofi, pandangan budaya seseorang. Bukan dalam artian bahwa Kalteng miskin kebudayaan dan khazanah kebudayaan.

Kemiskinan budaya di daerah ini memperlihatkan diri dalam bentuk kemandegan kreativitas. Yang digelarkan selama ini lebih bercorak repitisi karya-karya lama, sementara penciptaan sangat minim. Keadaan demikian tidak lepas dari tersedianya kreator di daerah yang terbatas secara kuantitas dan kemampuan. Keterbatasan kuantitas dan kemampuan ini merupakan hasil dari perhatian dan apresiasi kongkret terhadap kebudayaan selama ini dari berbagai pihak. Ketiadaan perhatian dan apresiasi ini disiratkan dalam pernyataan seperti “kegiatan kebudayaan hanya membuang-buang uang”, “sastra itu tidak penting”, dan “fokus pembangunan terletak pada pengentasan kemiskinan”.

Pandangan terakhir ini nampaknya menjadikan masyarakat sebagai obyek pembangunan, bukan aktor pemberdayaan dan pembangunan itu sendiri. Menjadikan masyarakat sebagai obyek, berarti pemberdayaan dan pembangunan berkelanjutan itu terbatas pada upaya penyelenggara kekuasaan. Uluh Kalteng tidak mempunyai kemampuan dan dipandang bodoh atau dibodoh-bodohkan. Tidak memandang manusia sebagai faktor utama pemberdayaan dan pembangunan. Pandangan begini agaknya dibantah oleh praktek Credit Union yang cukup berkembang di Kalimantan Tengah. Juga dibantah oleh adanya Koperasi Persekutuan Dayak (KPD) yang berhasil mendirikan beberapa toko serba ada. Lebih jauh, pandangan dan praktek Mohamad Yunus, pemenang Nobel ekonomi dari Bangladesh yang berhasil memberdayakan ribuan masyarakat miskin,  turut memberikan sanggahan. Upaya-upaya CU, KPD dan Moh. Yunus atau Paulo Freire dari Brazil,  semuanya bertitik berat pada manusia. Pemberdayaan dan pembangunan manusia pembangun. Pemberdayaan dan pembangunan manusia pembangun artinya mula-mula menata ulang pola pikir dan mentalitas, menata kembali mind set. Pola pikir, mentalitas dan mind set tidak lain dari masalah dan upaya kebudayaan. Masalah pola pikir, mentalitas dan atau mind set ini menjadi sari yang mengendap di karya-karya sastra-seni dalam berbagai bentuk atau genre sastra-seni. Di sinilah peran edukatif karya sastra-seni dan peran penting pendidikan dan proses pendidikan: Bagaimana memberdayakan manusia dan membuat manusia menjadi manusia serta manusiawi. Bukan menjadi docile tool (alat jinak), robot dan tukang-tukang tanpa wacana.

Untuk mewujudkan wacana, guna mencapai tujuan membangun manusia pembangun, selain diperlukan metode yang kena, juga dituntut adanya sarana. Gedung kesenian, gedung teater dan panggung pertunjukan hanyalah bentuk luar dari kebudayaan. Sarana pengembangan kebudayaan. Inti dari masalah Gedung Teater atau Gedung Olah Seni di kawasan Taman Budaya yang tak berfungsi sejak beberapa tahun, dan sekarang menjadi tema berita sementara koran Kalimantan Tengah, hanyalah bagian kecil dari masalah kebudayaan yang lebih hakiki.

Not For Bread Alone

“Hidup bukan untuk roti semata” (life is not for bread alone), tulis seorang pengarang Russia, pada zaman kekuasaan Stalin. Karena itu sastrawan lain mengatakan tentang kehidupan yang mati selagi seseorang hidup, tak ubah dengan “jiwa-jiwa mati” jika menggunakan kata-kata Nikolai Gogol, juga seorang pengarang Russia. Kata-kata di atas semuanya menunjukkan arti kebudayaan. Arti penting manusia ini juga diperlihatkan oleh pengalaman Republik Rakyat Tiongkok untuk bangkit mengenyahkan kemiskinan dan hinaan asing selama 100 tahun. Dalam hubungan ini I Basis Susilo, dosen Hubungan Internasional dan Dekan FISIP Unair menulis: “Banyak pelajaran bisa diambil dari kemajuan China. Tapi yang mendasar dan penting adalah soal kepercayaan diri, prioritas pendidikan dan peta jalan ke depan” (Kompas, Jakarta, 1 Oktober 2009).

Soal percaya diri, pembangunan manusia yang berharga diri dan percaya diri dan pendidikan serta rencana ke depan juga ditekankan oleh Dahlan Iskan, dari Grup Java Post dan yang sangat mengenal Tiongkok dalam bukunya “Pelajaran Dari Tiongkok. Catatan Dahlan Iskan” JP Books, Surabaya, April 2008, v-x + 268 hlm). Dalam buku ini, Dahlan Iskan menulis: “ Wan Gang (Menteri Ilmu Pengetahuan) adalah seorang seniman. Dia punya prinsip, bila seseorang bisa menggabungkan seni dan teknologi, dia akan bisa memberikan manfaat sangat besar pada peningkatan kualitas manusia. Teknologi saja juga hanya akan menghancurkan. Keyakinannya itu begitu kuat, sehingga dia memlopori sistem pengajaran yang menggabungkan sebu dab teknologi” (Dahlan Iskan, 2008:229).

Kemiskinan filsafat (budaya) yang kadang bertautan dengan kemiskinan material, sering membuat orang defisit kebudayaan. Tidak mampu melihat sari kebudayaan dan melihat makna yang dikatakan oleh ilmuwan dan para sastrawan di atas. Tidak mampu menyerap makna kebudayaan yang hakiki, yang  sebenarnya tidak lain dari upaya manusia untuk hidup berbudaya, sulit memahami pengentasan kemiskinan terpisah dari kegiatan kebudayaan. Hal inipun tidak lain dari bentuk budaya kemiskinan, produk dari kemiskinan budaya. Budaya kemiskinan dan kemiskinan budaya sedang berdiri di hadapan kita.***

Palangka Raya, Oktober 2009

Kusni Sulang

About these ads

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 55 other followers

%d bloggers like this: