PERTEMUAN TERAKHIR (1)

Jurnal Toddoppuli

Cerita Untuk Andriani S. Kusni & Anak-Anakku

Yogyakarta Agustus 1965. Saya masih di Gadjah Mada. Dari adiknya yang sering ke Yogyakarta menengok saya, Ayah tahu bahwa tahu bahwa saya turut berkegiatan di Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra). Adik Ayah seorang kader Partai Sosialis Indonesia (PSI) yang diasuh langsung oleh Sutan Sjahrir ketika ia berada di Jawa. Pulang ke Kalimantan Tengah, adik kandung Ayah menjadi salah seorang tokoh utama PSI di Kalimantan. Sampai sekarang, ia masih setia pada ide-ide PSI sekali pun timbul-tenggelam diterpa oleh gelombang politik Orde Baru.

Waktu itu, seperti biasa saya pulang sangat larut malam ke Asrama Palangka Raya di Jalan Pakuningratan, Yogyakarta. Ketika memasuki kamar, tanpa diduga sama sekali, saya melihat adik Ayah duduk di meja belajar saya yang dikelilingi oleh buku-buku. Dua sisi tembok yang menjadi bagian ruangan saya pun penuh bermacam-macam buku dari berbagai negeri di dunia dalam bahasa-bahasa yang saya pahami. Buku-buku yang berjejer di lemari menutupi tembok itu mengenai macam-macam tema :politik, sastra, filsafat, kebudayaan, ekonomi, dan lain-lain. Di samping meja terdapat tumpukan majalah dan koran-koran seperti Suluh Indonesia, Harian Rakyat, Duta Masyarakat, Kedaulatan Rakyat, Nasional, Harian Tempo, Suara Persatuan, Bintang Timur, Suara Merdeka, Pesat, Waspada, Minggu Pagi, Siasat. Tumpukan majalah dan koran itu menyebar hingga ke bawah tempat tidur.

“Kapan Paman datang? Sudah lamakah?”, saya menyapa paman yang memegang dan membaca Harian Rakyat yang memuat puisi saya tentang Katingan dan Sampit. Puisi-puisi ini kemudian diterjemahkan ke berbagai bahasa. Diterbitkan dalam antologi “Indonesian Progressive Poems” tahun 1964 oleh Yayasan Pembaharuan Jakarta.

“Ya dari tadi. Kau dari mana?”

« Dari rumah teman-teman ».

« Dari rumah teman-teman atau rapat ».

« Dari rumah teman-teman », jawabku pasti walaupun sesungguhnya baru selesai dengan sebuah rapat.

« Ini puisi-puisimu ya ? ». Sambil lalu saya menjulurkan leher melihatnya.

« Ya. Saya teringat perjalanan dengan Ayah saat ia mengantar saya dari ladang ke Kasongan dengan berperahu agar esoknya saya bisa bersekolah. Ketika sampai di muara sungai Katunen, Ayah bertanya : Apakah kalau kau besar nanti, kau akan ingat saya ? Pertanyaan yang sesungguhnya menyinggung perasaan saya. Sedangkan puisi tentang Sampit mengisahkan keadaan Sampit di tahun-tahun SMP saya di kota itu”.

Paman mendengar saya dengan dingin.

“Dan diterbitkan di Harian Rakyat” , lanjut¨Paman. « Kau tahu tentu Harian Rakyat itu koran siapa ? ».

« Tentu saja saya tahu. Seperti halnya saya juga tahu, koran-koran lain yang menumpuk di bawah meja dan ranjang ».

« Dan ini, apa ? » , tanya Paman sambil mengeluarkan sebuah amplop dari kantongnya. Saya mengambil surat itu. Surat undangan « Kepada Sekretaris Lekra Yogyakarta ».

Setelah membaca surat undangan itu saya hanya mengatakan:

“O, surat undangan dari Front Persatuan Nasional”.

“Jadi kau orang pertama Lekra Yogya ya?”.

Karena tidak mau berkelit. Menjawab seadanya:

“Ya. Saya mencari jalan saya sendiri menjawab tantangan keluarga termasuk Paman yang saya terima ketika berangkat pada usia 10 tahun dari kampung saat pergi mencari sekolah. Untuk menjawab tantangan itu pula maka saya batalkan niat menjadi insinyur kehutanan tapi memilih dunia pers sebagai sarana. Saya mau jelas tentang jalan yang saya pilih untuk menjawab tantangan Paman dan keluarga”. Paman diam sejenak.

“Baik, kau sudah besar sekarang. Segala akibatnya tentu kau sanggup menanggungnya sebagaimana seorang Dayak menanggung akibat pilihan dan tindakannya”.

Saya memandang wajah Paman, tidak mengerti arah pernyataannya.

“Ya. Tanpa bisa memilih saya memang seorang Dayak secara darah. Barangkali dunia saya sekarang jauh lebih besar dari langit Dayak”. Paman nampak kecewa dan bangun dari kursinya menuju keluar meninggalkan asrama. Saya mengantarnya sampai halaman.

« Sampai kapan di Yogya, Paman ? » tanyaku mencoba tetap hangat di hadapan sikapnya yang dingin.

« Besok. Besok ke Jakarta dan kemudian terbang ke Banjarmasin ».

Bulan Yogya mengantar Paman pulang. Angin Merapi yang dingin mengisi pojok-pojok kota. Saya kembali ke kamar merenungkan sikap Paman yang tak biasa. Dingin. Lebih dingin dari angin Merapi.

***

Secara ekonomi, waktu Paman datang, saya masih tergantung pada poswesel Ayah. Saat datang begini, biasanya Paman meninggalkan uang tambahan wesel Ayah. Tapi malam ini Paman tidak meninggalkan apa-apa kecuali wajah yang dingin. Saya pun tidak meminta apa-apa. Dan memang kapanpun saya tidak pernah meminta apapun dari siapapun.Tidak dari Ayah. Tidak juga dari Ibu. Jika dikasih, saya berterimakasih, jika tidak, sayapun tidak menagih. Saya menjadi terbiasa sendiri sejak usia sepuluh tahun. Sekolah sambil bekerja pada orang lain. Pagi bekerja, petang sekolah. Pulang sekolah bekerja lagi. Setelah pekerjaan selesai, baru saya belajar sampai larut malam. Karena sekolah sambil bekerja, sayapun tidak pernah menumpang pada Tjilik Riwut saat saya bersekolah walaupun rumahnya sebagai Bupati Sampit cukup besar untuk menampungku. Terlalu dini berpisah dengan orangtua, saya merasa sangat kekurangan kasihsayang Ibu. Paling tidak saya merasa tidak cukup banyak merasakan kasihsayang perempuan yang melahirkan saya tanpa permisi.

Berbulan-bulan saya menunggu wesel dari Ayah. Yang saya tunggu tak kunjung datang sampai pada suatu hari sepucuk surat bertulis tangan Ayah yang sangat kukenal menyatakan: « Kalau saya tidak meninggalkan Lekra, kau tak boleh menginjakkan kaki di rumah saya lagi. Kau bukan anakku lagi ». Surat itu kubaca berkali-kali sampai kumal. Kubawa ke mana-mana di dalam saku celana. Sampai akhirnya hilang. Barangkali jatuh. Saya mulai merasakan lapar. Kurang makan. Kuliah terus saya lakukan. Jalan kaki menelusuri Malioboro. Terkadang kedua kakiku tertekuk. Lemas kurang makan.

Di sebuah taman bunga di depan asrama yang rajin kurawat bertumbuhan macam-macam bunga. Termasuk bunga mawar. Orang bilang, bunga mawar itu indah. Saya memandanginya dari beranda asrama dengan perut keroncongan, tubuh lemah. “Di mana indahmu, mawar, jika perutku lapar?” Saya menertawai perkembangan pikiranku tentang keindahan. Lalu ke belakang, mencari cangkul. Halaman asrama yang kosong, kucangkuli. Kutanam ubikayu dan ubi rambat. “Saya tidak mau kalah. Saya harus jadi pemenang”, ujarku pada diri sendiri. “Mosok seorang Dayak, Utus Panarung dikalahkan lapar. Saya harus mencari jalan keluar dan hidup sebagai pemenang”.

Tanaman kurawat baik-baik. Tumbuh subur dan hijau. Terasa tanamanku tumbuh terlalu lambat untuk ukuran perutku yang lapar. Tidak sabar pada desakan lapar, ubikayu kucabut. Ubinya masih kecil-kecil. Tidak lebih besar dari telunjuk. Tapi kuambil juga dan kurebus. Celaka tak terelak. Seperti orang jatuh, lalu tertimpa tangga. Saya keracunan ubikayu kecil itu.Perutku melilit tidak keruan. Saya hanya menahannya. Bertahan karena yakin saya tidak akan mati. Bertahan, saya akan menang. Dua hari cuma perutku melilit-lilit.

Undangan lain tiba untuk pembentukan Panitia Anti Filem Amerika Serikat. Saya diundang sebagai Sekretaris. Enos Asong, yang juga anggota Lekra dan tinggal satu asrama kuajak. Ketika Panitia mencari penekun, saya dipilih secara aklamasi. Tapi mengingat pekerjaan saya yang lain tidak kurang, maka saya usulkan agar pos penekun diserahkan kepada Enos Asong. Usulku diterima. Kepada penekun selain diberi sedikit honorarium, juga diberikan beras dan gula. Imbalan inilah yang Enos Asong dan saya konsumsi bersama. Secara harafiah bisa dikatakan Enos dan saya berbagi makan dari satu piring. Saya terus mencari pekerjaan dan akhirnya diterima sebagai guru di SMP dan SMA Tionghoa. Saya mulai mempunyai syarat untuk membeli beras menambah apa yang diperoleh Enos. Enos dan saya tersenyum melihat jumlah beras kami bertambah. Apalagi ubikayu dan ubi rambatku berubi wajar. Hasilnya saya bagikan kepada teman-teman lain seasrama. Karena untuk berdua cukup berlimpah.

Saat makan berdua dengan cukup kenyang, Enos dengan senyum khasnya berkata:

“Kita lahir dan hidup bukan untuk menjadi budak dan orang kalah”. Dalam Tragedi September 1965, Enos diangkut oleh tentara. Tak lagi pernah kembali. Dari koran-koran saya yang saya baca di Eropa, saya ketahui tulang-belulangnya diketemukan di Purworejo. Ketika akan dikebumikan dengan layak, tulang-belulang itu diporakporandakan dan ditabur oleh sekelompok ekstrimis atas nama Tuhan Maha Besar. Enos hilang dengan cintanya pada negeri ini tanpa mempunyai kubur yang jelas. Tulang-belulangnya berserakan entah di mana kemudian tertimbun lumpur seperti halnya di sawah atau di sungai di Jawa sering kita lihat tengkorak muncul dari tengah-tengah lumpur.

***

Seorang teman Dayak yang sudah menyelesaikan kuliah ekonominya di Gadjah Mada kemudian pulang. Ia menemui Ayah dan mencoba membujuk agar Ayah mau kembali membantuku dengan pengiriman wesel. Ayah menjawabnya dengan marah:

“Kau tak usah membujuk-bujuk saya. Saya sudah mengambil keputusan. Kalau ia tak keluar dari Lekra, ia tak boleh pulang dan ia bukan anakku. Kiriman dari kampungpun tidak bakal ada”. Saya tidak membenci Ayah. Saya menganggap sikap demikian adalah haknya. Saya tidak meminta apa-apa dari Ayah karena saya memilih hidup dan memilih apa yang mau kupilih. Paman pun tidak lagi pernah bersurat atau datang seperti tahun-tahun sebelumnya. Saya mengerti kemudian makna kata-katanya malam itu ketika wajahnya jadi dingin. Lebih dingin dari angin Merapi.

Saban melihat burung pulang senja menuju sarang, saya menanyai diri, di mana rumahku. Sedangkan di langitnya yang merah , saya melihat darah derita di dadaku yang menggenang. Seperti burung-burung itu, saya dan Enos Asong terus mengepak dan mengepak. Sekalipun Enos sudah jatuh terlebih dahulu. Jatuh dalam penerbangan jauh memburu mimpi dengan sayap-sayap cintanya. Ia tidak menyerah karena manusia lahir bukan untuk kalah. Apalagi Dayak. Dayak Katingan yang diajarkan sejak dini sebagai Utus Panarung. Daya terbatas memang sering tak kuasa mengimbangi tuntutan mimpi. Tragedi pun lahir. ***

Palangka Raya, Oktober 2009

Kusni Sulang

(Bersambung…..)

About these ads

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 58 other followers

%d bloggers like this: