DUSTA DALAM SEJARAH

Jurnal Toddopuli

(Cerita Untuk Andriani S. Kusni & Anak-Anakku)

“Berdustalah terus-menerus dan sampai akhir, maka dustamu akan dipandang sebagai kebenaran ”, demikian doktrin Goebel Menteri Penerangan rezim  Hitler di bidang informasi pada masa Perang Dunia II. Dusta sebagai doktrin begini pun telah diikuti oleh banyak negeri di dunia dalam melancarkan perang urat-syarat atau psy-war. Sampai seorang perwira tinggi tentara Kerajaan Inggris yang beertugas pada Departemen Psy-War semasa Perang Dunia II, dalam buku kenang-kenangannya (Memoire) menyebut diri sebagai “pahlawan dusta”. Sementara itu L’Histoire, sebuah majalah bulanan Perancis, Paris,   yang mengkhususkan diri dalam bidang sejarah, pernah menerbitkan sebuah nomor khusus bertemakan “Dusta Dalam Sejarah Dunia” .Adanya dusta dalam sejarah,  dilakukan berkaitan erat dengan kepentingan dan tujuan-tujuan politik sejarah. Karena itu sering kita dengar ucapan bahwa “sejarah adalah sejarah pihak yang berkuasa”. Sejarah yang ditulis dan diajarkan di sekolah-sekolah sering merupakan sejarah pihak yang berkuasa yang tidak segan melakukan dusta. Karena itu Prof. Dr. Arkoun dari Universitas Sorbonne Paris membedakan adanya dua jenis penulisan sejarah, yaitu sejarah ilmiah dan sejarah politik. Sejarah politik adalah sejarah yang penuh dengan warna kepentingan dan tujuan politik. CIA, dinas rahasia Amerika Serikat yang notorius itu, menurut Letkol Penerbang Heru Atmodjo, mantan Kepala Dinas Intelijens AURI zaman Pemerintahan Soekarno,  yang pernah belajar pada CIA, dalam salah sebuah ceramahnya di Paris, mengatakan bahwa CIA menggunakan metode Goebel juga dalam informasi dan menanggapi isu-isu. Masalah pencukilan mata dan tindakan-tindakan pengirisan bagian-bagian tubuh tertentu para jendral oleh Gerwani dan yang terbunuh pada awal terjadinya Tragedi Kemanusiaan September 1965 adalah salah satu bentuk dusta dalam sejarah Indonesia. Oleh penuhnya sejarah Indonesia dengan dusta maka sementara sejarawan menyerukan perlunya upaya dan berupaya “meluruskan sejarah”. Dusta dalam sejarah negeri kita, paling tidak telah menduduki tempat utama semasa Orde Baru. Dusta dalam sejarah menjadi alat politik dari pihak yang sedang berluasa guna mempertahankan kekuasaannya. Dari keadaan demikian, nampak bahwa sejarah merupakan medan tarung berbagai kepentingan politik sehingga sejarah yang dominan lebih banyak menampakkan diri sebagai sejarah kepentingan politik. Para pahlawan dalam sejarah kepentingan politik demikian sering dibunuh berkali-kali. Jika demikian mungkinkah ilmu sosial, termasuk ilmu sejarah, benar-benar obyektif? Pertanyaan ini oleh  Jan Myrdal sosiolog dari Swedia bahwa obyektivitas  ilmu social mempunyai batasnya.

Soal dusta dalam sejarah ini juga sempat menjadi salah satu tema pembicaraan saya ketika pada suatu malam berkunjung ke rumah Pak Sabran Ahmad — salah seorang tokoh yang sejak awal turut berjuang mendirikan Kalimantan Tengah sebagai provinsi tersendiri lepas dari Kalimantan Selatan.

“Pada beberapa tulisan, wawancara, konfrensi-konfrensi dan kongres yang diselenggarakan oleh komunitas Dayak di Kalimantan Tengah, sejak tahun 1990an, saya sering membaca dan mendengar tentang peran penting Gerakan Mandau Talawang Panca Sila (GMTPS) dalam pembentukan provinsi  Kalimantan Tengah. GMTPS melancarkan pemberontakan  bersenjata untuk mewujudkan keinginan tersebut. Sebagai salah seorang tokoh dari angkatan tua yang mengikuti sejak awal perkembangan dan turut berjuang supaya Kalimantan Tengah sebagai provinsi tersendiri, saya ingin mengetahui duduk perkara sebenarnya. Apakah benar Provinsi Kalimantan Tengah berdiri karena pemberontakan GMPTS?”. Demikian saya bertanya kepada Pak Sabran Achmad yang rambutnya sudah putih semua, tapi dalam usia senja demikian, beliau selalu nampak hadir dalam kegiatan-kegiatan penting di Palangka Raya.

“Saya memastikan bahwa pandangan demikian tidak lain dari pernyataan dusta yang dipolitisir. Demi kepentingan politik pihak tertentu.Tuntutan Kalimantan Tengah provinsi tersendiri sebenarnya sudah disetujui oleh Kementerian Dalam Negeri, jauh sebelum adanya GMTPS)”, tegas Pak Sabran Achmad. “GMPTS mempunyai kaitan dengan Kesatuan Rakjat Jang Tertindas yang dipimpin Ibnu Hajar setelah terjadi yang berpusat di Kalimantan Selatan. Kesatuan Rakjat Jang Tertindas ini lahir menyusul “rasionalisasi dalam tubuh TNI”, sebuah politik dari pemerintah pusat untuk membuat TNI lebih profesional. Karena tidak puas dengan politik rasionalisasi ini, maka Ibnu Hajar dengan Kesatuan  Rakjat Jang Tertindas-nya melancarkan kerusuhan-kerusuhan. Oleh TNI, Kesatuan Rakjat Jang terindas dipandang sebagai “gerombolan pengacau”. “Nama lain dari Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII/NII) yang dpimpin oleh Kartosuwiryo dan Kahar Muzakar, sedangkan di Kalimantan dipimpin oleh Ibnu Hajar. Gembolan Kesatuan Rakjat Jang Tertindas ini berkeliaran juga di daerah Hulu Sungai, mau pun pedalaman kabupaten Kapuas, Barito, dan Kotawaringin, dipimpin oleh Adjai dan Sapari ( Prof.Dr. Ahim S. Rusan, et al, 2006:114).

Di dalamnya terdapat orang-orang yang kemudian membentuk dan bergabung dengan GMTPS. Kongres Rakyat Kalimantan Tengah Pertama mengusulkan amnesti terhadap mereka yang dari Kalimantan Tengah  dan tergabung dalam Kesatuan Rakjat Jang Tertindas. Setelah amnesti ini dibelakukan maka jumlah pengikut  GMTPS di Kalimantan Tengah menjadi bertambah besar. Sayangnya mereka banyak melakukan tindak-tindak kriminal sehingga diburu dan dikejar oleh TNI. Demikian Pak Sabran Achmad yang selanjutnya mengatakan bahwa dibesar-besarkannya peran GMTPS disertai oleh latar politik. Kepentingan politik jugalah yang sering memutarbalik sejarah.

Untuk memastikan keterangan maka saya kembali menanyai Pak Sabran Achmad: “Jadi tidak benar bahwa terbentuknya provinsi Kalimantan Tengah dicapai melalui perjuangan bersenjata?”. “Sama sekali tidak. Pemerintah pusat di Jakarta melalui Kementerian Dalam Negeri sudah menyetujui pembentukannya. Tinggal melaksanakan keputusan tersebut. Pembentukan provinsi Kalimantan Tengah adalah hasil perjuangan damai. Saya turut dalam upaya ini sejak awal”.

Tentang hal ini “Sejarah Kalimantan Tengah yang disusun oleh Prof. Dr. Ahim S. Rusan et.al. menulis:

“Ketik Menteri Dalam Negeri Prof. Dr.Mr. Hazairin , berkunjung ke Banjarmasin pada tanggal 25 Juni 1954, Panitia Penyalur  Hasrat Rakyat Kalimantan Tengah (PPHRKT)  dengan juru biara J.M.Nahan menyampaikan pernyataan kepada Mendagri, yang intinya:

  1. menyambut dengan tangan terbuka pengangkatan Raden Tumenggung Arjo Milono (RTAMilono) sebagai Gubernur Kalimantan  yang baru oleh Pemerintah Pusat;
  2. menegaskan baha resolusi, mosi dan pendapat-pendapat rakyat yang disampaikan kepada Pemerintah Pusat melalui PPHRKT tentang terbentuknya Provinsi Kalimantan Tengah yang berotonom penuh agar segera direalisasikan, demi perubahan dan jaminan perbaikan nasib mereka. Pernyataan yang sama menyusul datang dari PPHRKT  Sampit – Kabupaten Kotawaringin yang ditandatangani oleh Paul Alang, Tiel Jelau dan Eddy Yacob.  (Prof. Dr. Ahim S.Rusan et.al. 2006:119)

Sedangkan Gerakan Mandau Talawang Panca Sila baru didirikan pada 23 Agustus 1953. Sementara Sarikat Kaharingan Dayak  Indonesia (SKDI) yang mempunyai basis massa kuat, berdiri pada 20 Juli 1950 dan dalam Kongres Bahu Palawa (15-22 Juli 1953, menuntut terbentuknya Provinsi Kalimantan Tengah. Ikatan Keluarga Dayak (IKAD) pada tahun 1951 tanpa ragu menyokong tuntutan SKDI. IKAD pada tahun 1954 memprakarsai pembentukan Panitia Penyalur Hasrat Rakyat Kalimantan Tengah (PPHRKT).

Dari catatan-catatan di atas nampak bahwa hasrat untuk mendirikan provinsi Kalimantan Tengah, jauh sudah ada sebelum GMTPS didirikan 23 Agustus 1953 di desa Bunnar (Bundar), Kecamatan Dusun Utara.

“Apa tujuan penonjolan peran GMTPS seakan sangat menentukan?”

“Masalahnya sederhana, yaitu agar orang-orang GMTPS diakui sebagai barisan para pejuang dan mereka bisa menuntut dana dan posisi dari pemerintah sebagai  para pejuang. Yang lebih menarik, agar bisa diakui sebagai pimpinan GMTPS ada orang yang mengobah tanggal lahirnya sehingga lebih tua dari abang kandungnya sendiri, yang memang berjasa untuk Kalimantan Tengah. Waktu perjuangan membentuk Kalimantan Tengah orang ini masih berada di SMP”.

“Soal lain, dari seorang teman asal Daerah Aliran Sungai (DAS) Barito, saya mendapat keterangan bahwa di Barito santer terdengar cerita bahwa ada sebuah tempat di mana Simbar (dari Barito), salah seorang pimpinan GMTPS, melakukan duel dengan Tjilik Riwut (dari Katingan). Apakah cerita ini mempunyai dasar kebenaran?” .

“Cerita demikian tidak lain dari isapan jempot belaka”, jawab Sabran Achmad singkat.

Saya mengkhawatirkan kesemerawutan yang disebut sejarah begini bisa dijadikan benih yang sengaja ditabur untuk kepentingan politik tertentu untuk mengadu orang dari DAS satu dengan DAS lainnya, sesuatu yang sudah sangat kadaluwarsa. Hanya saja yang kadaluwarsa pun untuk kepentingan politik bisa dibongkar dan dibangkitkan kembali. Barangkali petaka beginilah yang bisa ditimbulkan oleh dusta dalam sejarah. Dusta dan rumor sama berperannya dan sering digunakan dalam politik lalu menabur pertikaian.

Sebagai acuan, dalam simpang-siur pandangan tentang GMTPS ini berikut saya kutip apa yang ditulisan oleh Prof. Dr. Ahim S. Rusan et al dalam “Sejarah Kalimantan Tengah”. Kutipan panjang ini bermaksud berupaya mendeteksi apa GMTPS itu sebenarnya – yang isunya masih mencuat sampai sekarang. Barangkali penelitian netral dan berjarak  tentang GMTPS masih diperlukan agar bisa lepas dari lingkaran kesemerawutan sejarah di Kalimantan Tengah.

4. PERJUANGAN GERAKAN MANDAU TALAWANG PANCA SILA (GMTPS)

  1. Berdirinya GMTPS

Meski pun dalam penjelasan UU Nomor 25 Tahun 1956 ada peluang untuk membentuk provinsi Kalimantan Tengah tiga tahun kemudian, rakyat di tiga Kabupaten merasa kurang puas. Rakyat  tidak sabar dan tetap mendesak agar pembentukan Provinsi Kalimantan Tengah segera dilaksanakan. Ketidakpuasan dan ketidak sabaran rakyat yang tergambar dengan timbulnya gerakan-gerakan yang kemudian merupakan perlawanan bersenjata terhadap alat kekuasaan Pemerintah.

Pada tanggal 23 Agustus 1953 ralyat di Kewedanaan Barito Hilir, diprakarsai pemuda Desa Bunnar (Bundar) di wilayah Kecamatan  Dusun Utara sekarang, mendirikan sebuah organisasi perjuangan yang diberi nama Gerakan Mandau Talawang Panca Sila (GMTPS) dengan susunan pengurus :

Ketua:

Christian Simbar/Mandulin/Uria Mapas

Wakil Ketua:

Satiman Dusau

Sekretaris:

Buri Ngaji

Wakil Sekretaris:

Mading Liwan

Bendarahara:

Sinin Dinan

Wakil Bendahara:

Komodor Nimban

Pembantu Umum:

Nating Rani, Kudi, dan Debar

Adapun tujuan pokok perjuangan GMTS adalah:

  1. memperjuangkan agar memiliki provinsi sendiri terpisah dari Kalimantan Selatan dengan nama Provinsi Kalimantan Tengah.
  2. Dengan berstatus Provinsi, GMTPS selanjutnya memperjuangkan peningkatan harkat dan martabat dan kesejahteraan rakyat di Kalimantan Tengah dan
  3. Mewaspadai segala bentu kegiatan sementara kalangan yang berniat menghianati Negara Republik Indonesia Proklamasi 17 Agustus 1945 yang bersendikan Pantja Sila.

Berdasarkan tujuan pokok tersebut di atas, GMTPS sebenarnya tidak memiliki program perjuangan dengan cara kekerasan dan kekuatan senjata.

Apabila pada awal berdirinya GMTPS dicurigai oleh aparat keamanan  sebagai « gerombolan pengacau keamanan » , tapi sesungguhnya GMTPS setia kepada Negara Kesatuan R.I. seperti yang dinyatakan dalam butir  (3) tujuan pokok perjuangan GMTPS di atas. Fakta juga membuktikan bahwa :

Bersamaan waktu dengan gencarnya tuntutan ùeùbejtuk Provinsi Kalimantan Tengah, hadir pula gerakan yang menamakan diri KJRT(Kesatuan Rakjat  Jang Tertindas) pimpinan Ibnu Hdjar, yaitu faksi bagian dari gerombolan DI/TIII yang bergerak di Kalimantan Selatan termasuk daerah Kalimantan Tengah sekarang). Apabila gerombolan KRJT melakukan aksinya di desa-desa , dan diketahui bertemu dengan gerombolan GMTPS , pasti terjadi kontrak senjata di antara kedua kubu. Tindakan GMTPS itu menunjukkan bahwa mereka ikut membantu pihak keamanan dalam menanggulangi kekacauan daerah yang ditimbulkan gerombolan KRJT itu.

Praduga ketermibatan GMTPS menggunakan kekerasan bersenjata berawal dari peristiwa terbunuhnya Taoke kapal “Gin Wan II” mili Warga Negara Keturunan Cina di Desa Kalahien (kurang lebih 14 kilometer dari kota Buntok) pada akhir bulan September 1953. Pihak Kepolisian Buntok menuduh GMTPS terlibat dalam tindakan kekerasan tersebut. Atas dasar tuduhan itu pada bulan Oktober 1953 Kepolisian melakukan penyerangan dan penangkapan terhadap anggota GMTPS. Pihak GMTPS  tidak dapat menerima serangan polisi itu karena  tidak didasarkan atas informasi dan penyelidikan yang teliti. Sehingga pada tanggal 21 Oktober 1953  dipimpin langsung oleh ketuanya  Ch. Simbar dan didukung oleh penduduk di desa-desa sekitarnya, GMTPS melakukan serangan balasan terhadap markas Krpolisian Buntok.

Setelah diproses secara hukum, dan atas atas bantuan beberapa tokoh masyarakat Kalimantan Tengah yang ada di Banjarmasin, akhirnya hanya empat orang pengurus GMTPS yang ditahan di Banjarmasin yaitu Ch. Simbar, Satiman Dusau, Sinin Dinan dan Boeboe Simbar

……………………………………………………………………………………………………………………………………………………

Dengan demikian sesungguhnya GMTPS terpaksa melakukan perlawanan bersenjata dan menjadi “kelompok penekan”, dalam ikut menentukan berhasilnya perjuangan rakyat Kabupaten Barito, Kapuas, dan Kotawaringin membentuk Provinsi Otonom Kalimantan Tengah (Prof. Dr. Ahim S. Rusan, et.al, 2006:121-124).

Bahwa dalam pergulatan politik, pemaduan antara perjuangan bersenjata dan perjuangan politik sudah merupakan hal yang jamak. Perjuangan bersenjata merupakan kelanjutan dan puncak perjuangan politik. Demikian pula, sudah lumrah dan dikenal umum bahwa untuk keperluan logistiknya, pasukan-pasukan geriliya melakukan “perampokan”, tapi “perampokan” yang terukur. Sebab jika tak terkendalikan, pasukan akan berobah menjadi pasukan bandit. Menjelma menjadi barusan kriminal. Siapa yang “dirampok” pun dilakukan dengan penuh pertimbangan, bukan asal-asalan. Niscayanya, jika mau berimbang dalam informasi, dokumen-dokumen pihak kepolisian dan pemerintah perlu juga ditelaah – hal yang absen dari daftar pustaka acuan “Sejarah Kalimantan Tengah”.

Kalimat-kalimat Prof. Dr. Ahim S. Rusan et. al. di atas ada  mengesankan suatu kehati-hatian besar, terutama mungkin oleh pertimbangan-pertimbangan politis, terutama masalah persatuan antar Dayak,  sehingga “Sejarah Kalimantan Tengah” terhadap  masalah GMTPS seperti kalimat-kalimat kompromis. Ataukah kompromi begini dimaknakan sebagai melihat permasalahan secara imbang dan adik? Tapi dari sejarah yang kompromis tidak bisa diharapkan untuk mendapatkan kejelasan obyektif. Sejarah yang kompromis dibimbing oleh ide penyatuan, suatu tujuan politik. Kebenaran berada di tingkat kedua atau ketiga. Dusta, pemelintiran, kompromi agaknya penyakit akut dalam penulisan sejarah. ***

Palangka Raya, 2009.

JJ. Kusni

About these ads

19 comments so far

  1. Kamal Ansyari on

    http://bintangborneo.blogdetik.com/2010/01/25/ibnu-hajar-dan-kesatuan-rakyat-yang-tertindas-kryt-di-kalimantan-selatan/

    Ketika saya berjalan-jalan ke Telaga Langsat dan sekitar Loksado, nama Ibnu Hajar seakan melegenda di benak mereka. Ibnu Hajar, lahir di desa ambutun kabupaten hulu sungai selatan. Ibnu Hajar dengan nama asli Angli, ayahnya berasal dari ambutun dan ibunya berasal dari suku dayak tepatnya d daerah puruk cahu kalimantan tengah. ketika masa kecil Ibnu Hajar adalah sosok yang pemberani. sampai menjelang dewasa dia bergabung dengan tentara pejuang pimpinan Hasan Basri melawan penjajah belanda. Muncul pertanyaan, kenapa tokoh kita yang dicap oleh pemerintah sebagai pemberontak, akan tetapi di masyarakat pendukungnya ia ada dan melegenda. Saya sadar persis, dalam sejarah ada persoalan interpretasi. Tinggal kita memilih dari sudut mana Ibnu Hajar dilihat.

  2. Kamal Ansyari on

    Masih belum banyak yang mengulas sejarah tentang Gerombolan pemberontak Ibnu Hajar di Kandangan

  3. widermen wl on

    beberapa kali pengikut Ibnu Hajar men coba memasuki daerah kalteng, tapi selalu bentrok dengan GMTPS pimpinan Simbar….saya salut dengan GMTPS yg telah berjuang mengangkat harkat dan martabat suku dayak dari hinaan orang melayu……

  4. cucu ibnu on

    hayyy… ibnu hadjar bukan pemberontak.!!!! teteapi ia dihianati oleh negara dan ingin mendirikan nekara islam dikalimantan selatan.!!!!!

  5. cucu ibnu on

    hayyy… ibnu hadjar bukan pemberontak.!!!! teteapi ia dihianati oleh negara dan ingin mendirikan negara islam dikalimantan selatan.!!!!!

  6. GUSTI ALI ZEIN on

    Sejarah kalteng itu palso dan tidak sahih.. sejarah kalteng hanyalah kepentingan politik saja,karna hadirnya sejarah kalteng adalah pada masa jaman soeharto atau masa orde baru..!!! sangat sedikit sekali orang dayak yang ikut berjuang melawan penjajah belanda.. orang dayak juga ikut memfitnah Ibnu Hajar atas kepentingan politik masa orde baru.. pada masa pemerintahan soekarno Ibnu Hajar adalah tokoh yang Sangat dikagumi dan yang sangat dihormati oleh pemerintah Indonesi dan para pemerintah luar negeri, karna beliu lah satu-satunya di Asia Tenggara yang paling keras berjuang mati-matian melawan para penjajah diseluruh penjuru Pulau Kalimantan,Sumatera,Jawa,Sulawisi,Malaysia Timur,Berunai Darussalam,Batam dan Singapura,Mindanau (Filipina), Patani (Tailan). Pada Masa Pemerintahan Soekarno Ibnu Hajar Adalah Tokoh Besar Kalimantan dan Tanah Air yang sangat disegani dan yang sangat diHormati,karna beliau lah tanah air menjadi merdeka, karna KEPENTINGAN PERIBADI dan KEPENTINGAN POLITIK Ibnu hajar DI FITNAH dan DI KUCILKAN oleh Pemeritahan Soeharto,Karna itulah SOEHARTO Sangat KETAKUTAN SETIAP KUNJUNGAN atau BERKUNJUNG KE PULAU KALIMANTAN (Soeharto takutnya setengah mati kalau-kalau Ibnu hajar membuka keduk kejahatan dan kezaliman Soeharto dan Soeharto takut kalau-kalau Ibnu Hajar Dan TUJUH PIMPINAN Pejuang besar kalimantan lainnya marah dan membunuh Soeharto.. karna Ibnu Hajar satu-satunya Pejuang Indonesia yang Tidak pernah dapat tersentuh oleh senjata dan benda apa pun, dan tidak Mati karna benda tajam apa pun, dan sesuatu peluru apa pun tidak dapat menembus tubuhnya, dan tidak bisa ditangkap dengan cara apa pun walau pun dengan tipu muslihat Soeharto..!! Karna Ibnu Hajar Sampai Sekarang Tidak Mati,beliu telah hidup dan Menyupi di utara pulau kalimantan (Menjadi orang Suffi dinegara yang makmur dan damai)######### Catatan: Hasan Basri Adalah Anak Buah Ibnu Hajar dan Hasan Basri berjuang hanya dikalimantan saja DAN Ibnu Hajar Berjuang Keliling Penjuru Nusantara,, kalau mau tau sejarah Perjuangan Indonesia dan Kalimantan yang sebenarnya selahkan hubungi atau datang bertemu langsung dengan saya..

  7. Kora Miliati Darpin on

    aduhh Gustii,,,,jangan sampai emosi menjadi ukuran n cermin siapa kita sebenarnya, Sejarah yg ditulis diatas sama spt yg pernah saya dengar dari tetua Dayak yg juga adalah TNI-AD yg berjuang dlm mempertahankan kemerdekaan.Saya cinta negara kesatuan RI,dimana saya berdiri saat ini. itulah sebabnya harus mengenal jati diri (diluar sentimen agama yg tak seharusnya berpolitik), cari tahu kebesaran sejarah suku Dayak, mengenal dekat mrk face to face n share dgn para tetua kampung shgg tahu betapa banyak n dahsyat perlawann mrk thd company dengan cara2 tradisional. Perlu diingat pepatah : Tak kenal maka tak sayang. Dimana bumi dipijak,disitu langit dijunjung.

  8. bulutangkis on

    Fauzie Letrick Sadar

  9. Fauzie Letrick Sadar on

    Pak Gusti… Adalah tidak benar kalau prop Kalteng terbentuk dijaman Soeharto atau orde baru, kiranya bapak jangan asal comment pelajari dulu sejarahnya

  10. sally salsabila on

    Iya, Ibnu Hajar bukanlah pemberontak!!! beliau adalah pahlawan kemerdekaan sebenarnya yang dikhianati oleh penguasa, sama seperti yang diamlami Sultan Hamid II dari Pontianak, membantu Indonesia untuk merdeka tetapi malah dihunus dari belakang….sudah saatnya sejarah bangsa kita DILURUSKAN !!!

  11. ariel on

    pelajari sejarah …supaya kita bangga dengan kalteng dan tetap cinta indonesia…,.,.,.,.,.,

  12. rony on

    Jgn samakan ibnu hajar dgn DI/TII di jawa ibnu hajar adalah pejuang sejati melawan ketidakadilan dan pembohongan sejarah

  13. pemuda kalsel on

    ibnu hajar itu adalah panutan ,dan smangat beliau perlu kt teladani. beliau bukan penghinat, beliau pejuang kalimantan, perjuangan itu beliau buktikan dengan pengabdian beliau atas tanah kalimantan tercinta ini. hnya sja beliu sdh di hianati negara ini.

  14. Riwut Badowo on

    Ada banyak kejanggalan di Posting ini yg lain dari History yg sebenarnya Saya dengar Ceritanya dari KAKEK SAYA SALAH SATU PEJUANG GMTPS WAKTU TERJADI PERTUMPAHAN DARAH DI JEMBATAN DESA DAYU___Contohnya saja itu ada gak diceritakan????????DAN JUGA GMTPS DIBENTUK BUKAN UNTUK MEMPERJUANGKAN PROVINSI KALIMANTAN TENGAH MELAINKAN SEBENARNYA MEMBENTUK PROVINSI BARITO RAYA (BARITO TIMUR,BARITO SELATAN,BARITO UTARA,MURA,DAN BARITO KUALA SEKARANG).SAYA TULISKAN SEJARAH KALTENG INI HANYA KEPENTINGAN POLITIK SAJA,RUMIT DAN GA SEMPAT KLO SAYA SHARE BANYAK2 REAL NYA…

    DAN BUAT GUSTI ALI ZEIN @ ATAS DASAR APA ANDA MENGATAKAN ” sangat sedikit sekali orang dayak yang ikut berjuang melawan penjajah belanda”? COBA LIAT DI SEJARAH DAS BARITO,CARI DI GOOGLE AJA. MASYARAKAT DAS BARITO DI TAHUN 1880’AN SUDAH BERJUANG MELAWAN BELANDA.

  15. patriano jaya maleh on

    pak sudah pernah ketemu sama Wakil Ketua GMPTS
    Satiman Dusau ya, orangnya masih hidup dan ada di palangka raya, biar tulisannya bisa berimbang, tabe

  16. Ariadi g fanyal on

    GMTPS di kenal sampai di daerah Kota baru Kalimantan Selatan tepatnya di daerah Bangkalaan Dayak,yang melingkupi seputaran guntung tarap,laburan,Hampang dan Lipun.Kemudian daerah lain yang pernah di naungi GMTPS yaitu daerah Magalau,Parupuk,haur Kuning,gandang,dan Hungei ruyan….yang sering kita dengar dengan Dusun Tumbang..itu lah beberapa wilayah yang pernah di naungi oleh utusan – utusan dari GMTPS untuk membela hak mereka meilih keyakinan dan kepercayaan mereka dan bebas dari gerakan ibnu hajar…..GMTPS lanjutttttt

  17. Rendy Simbar on

    Benar,yang dikatakan riwut,karena sayaa tahu kisah tersebut.dan saya adalah cucu kandung dari alm bubu simbar.

  18. Wider on

    Ibnu hajar mencoba melakukan pemaksaan keyakinan terhadap masyarakat dayak yang non muslim, itulah yang membuat masyarakat dayak di dukung oleh GMTPS selalu bentrok dengan Kelompok Ibnu Hajar…..Kemudian ketika terdesak Ibnu hajar melakukan kekacauan dan pembakaran terhadap kesultanan paser di Kabupaten Paser Kalimantan Timur…..

  19. uriamapas on

    Ibu Hadjar adalah pemberontak,mau mendirikan negara Islam sdgkan NKRI adalah harga mati dasar negara Pancasila,beliau sma seperti kahar muzakar an andi azis -pemberontak terhadap NKRI


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 54 other followers

%d bloggers like this: