SEMINAR HUT KE-52 KALIMANTAN TENGAH

Jurnal Toddopuli
(Cerita Untuk Andriani S. Kusni & Anak-Anakku)

« Masa Depan Kalimantan Tengah. Meretas Jalan Pembangunan Bersama Para Pemuda Dayak »

1.

Bertempat di Aula Jayang Tingang, komplek Kantor Gubernur, Palangka Raya, pada tanggal 25 Mei 2009 yang lalu para pemuda-pemudi Kalimantan Tengah telah menyelenggarakan seminar sehari bertemakan « Masa Depan Kalimantan Tengah. Meretas Jalan Pembangunan Bersama Para Pemuda Dayak ». Seminar sehari yang diselenggarakan dalam rangka merayakan ulangtahun ke-52 berdirinya provinsi Kalimantan Tengah ini diprakarsai oleh para pemuda-pemudi asal Kalimantan Tengah dikenal sebagai « Alumni Yogyakarta ». « Alumni Yogyakarta » adalah pemuda-pemudi Dayak yang telah menyelesaikan studi mereka di Yogyakarta dan kemudian kembali ke Kalimantan Tengah untuk memberi sumbangan tenaga dan pikiran guna pembangunan Kalimantan Tengah melalui kejuruan mereka masing-masing.

Tjilik Riwut, kelahiran Kasongan, Katingan, Pahlawan Nasional dan Gubernur Pertama Kalimantan Tengah (Dari Dokumentasi Nila Riwut, salah seorang penulis perempuan Kalimantan Tengah yang produktif).

Tjilik Riwut, kelahiran Kasongan, Katingan, Pahlawan Nasional dan Gubernur Pertama Kalimantan Tengah (Dari Dokumentasi Nila Riwut, salah seorang penulis perempuan Kalimantan Tengah yang produktif).


p>
Tema-tema yang diangkat oleh Seminar mencakup bidang-bidang infrastruktur, pariwisata, pendidikan, pertaniana, kesehatan, kebudayaan lingkungan hidup dan ekonomi. « Kesemuanya dikoridori oleh isu-isu penting seperti Community Development di Era Otonomi Daerah, Sumber Daya Manusia yang berintegritas, Dampak Perubahan Iklim Global, terpuruknya Ekonomi Global ».

Seminar yang didukung oleh Pemda dan Kota Madya Palangka Raya, bermottokan : »Pemuda/i Dayak berasal perbedaan, ikatan semangat jiwa Huma Betang lah yang menyatukan ». Sedangkan titiktolak pemikiran dan pertanyaan-pertanyaan yang melatarinya, oleh Panitia Penyelenggara yang diketuai oleh Trisna Angraini, SP., MSc dijelaskan sebagai berikut :

« Bangsa yang besar haruslah membangun peradabannya melalui kerja keras dan pengorbanan. Kalimantan Tengah sudah membuktikannya. Namun setelah 52 tahun meretas jalan pembangunan, mengapakah realitas berkata lain ? Kaliteng masih terisolir, fasilitas infrastruktur tidak kunjung sempurna, perekonomuan rata-rata penduduk masih di bawah rata-rata bahkan berdasarkan Profil Spasial Ekonomi Indonesia Triwulan IV –2008 yang di launching TKPK, menegaskan bahwa kontribusi produk domestik bruto (PRB) pulau Kalimantan hanya sekitar 10,0%, di mana penyumbang terbesarnya jelas bukana Kalteng ».

« Ada apa dengan pembangunan Kalteng ? Adakah visi pembangunan daerah gagal karena manusianya gagal untuk maju? Bukankah begitu banyak para pemikir ulung Kalteng yang telah berpengalaman? Apakah karena integritas akademik pemikiran-perkataan-pelaksanaan tidak sejalan dengan semangat kolektivitas pembangunan masyarakatnya? Atau mungkinkah karena usianya yang dianggap masih belia, berarti wajar saja pembangunannya belum matang?”.(huruf miring dari JJK).

“Melalui forum seminar ini, diharapkan tidak hanya lahir dari pemikiran-pemikiran dari lintas bidang studi untuk kemajuan pembangunan Kalteng di masa depan, namun lahir pula tokoh-tokoh pemuda/i Dayak yang rela berjuang,(huruf miring dari JJK) , berkecimpung diri menggarap Kalimantan Tengah sebagai teladan pembangunan di antara propinsi-propinsi lainya di Indonesia” (Lihat: Selebaran Panitia Seminar).

Dalam pidatonya membuka Seminar, Agustin Teras Narang, SH, Gubernur Kalimantan Tengah, antara lain mengatakan bahwa “Kalteng punya SDA melimpah, tapinjauh tertinggal. SDA melimpah bukan jaminan terciptanya kemakmuran dan kesejahteraan, dia hanya tersimpan begitu saja atau dimanfaatkan pihak lain dan untuk kemajuan daerah lain”. Selanjutnya Teras juga meminta para generasi muda untuk berjuang ke pemerintah pusat agar Kalteng diberi kesempatan untuk membangun daerah dengan baik sesuain dengan otonoli daerah dan desentralisasi, pasalnya, selama ini system pemerintahan yang diterapkan , pusat yang membangun daerah. “Sistem pemerintahankita masih membangun daerah. Tapi yang dibangun itu-itu saja, tak ada kemajuan. Ini bukan masalah menuntut keadilan, tapi bagaimana kita bisa membangun kalau tidak diberi kesempatan membangun daerah dengan baik”, ujar Teras (Lihat: Harian Dayak Pos, Palangka Raya, 26 Mei 2009). Dalam kesempatan serupa, Teras Narang juga mengkritik pemerintah pusat yang sampai sekarang masih belum juga menyelesaikan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kalteng. Menurutnya , Negara telah melanggar konsep, yakni pembangunan harus diawali dari daerah, bukan sebaliknya. “Negara telah melanggar Undang-undang No. 26 Tahun 2007 tentang tata ruang” (Lihat:Harian Dayak Pos, Palangka Raya, 26 Mei 2007). Ada silang-siur bahkan tabrakan antara Perpu dan UU. Apabila RTRW ini tidak diselesaikan oleh pemerintah pusat kesimpang-siuran ini akan terus berlangsung. Bahkan Istana Gubernur Isen Mulang dimasukkan sebagai bagian dari hutan produksi dan semua sertiikat tanah yang sudah dikeluarkan menjadi illegal. Keadaan simpang-siur inilah yang oleh Presiden Susilo Bambang Sudhoyono disebut sebagai masih terdapatnya ketidakserasian antara kultur dan struktur ( Lihat: JJ. Kusni, “Kultur Dan Struktur”, in http://jurnaltoddoppuli.wordpress.com).

2.

« Ada apa dengan pembangunan Kalteng ? Adakah visi pembangunan daerah gagal karena manusianya gagal untuk maju? Bukankah begitu banyak para pemikir ulung Kalteng yang telah berpengalaman? Apakah karena integritas akademik pemikiran-perkataan-pelaksanaan tidak sejalan dengan semangat kolektivitas pembangunan masyarakatnya? Atau mungkinkah karena usianya yang dianggap masih belia, berarti wajar saja pembangunannya belum matang?” Demikian beberapa pertanyaan mendasar yang diajukan oleh Seminar dan yang oleh para pemakalah sebagai hasil lomba, dicoba untuk dijawab.

Pertanyaan “Adakah visi pembangunan daerah gagal karena manusianya gagal untuk maju?”, saya kira merupakan dua pertanyaan yang bisa dipilah, walau pun mempunyai saling hubungan. Saling hubungannya terletak pada bahwa konsep, visi dimiliki oleh manusia. Konsep membimbing tindakan manusia. Tentang manusia ini, pertanyaannya: Konsep ada dan bagaimana yang ia anuti? Ataukah manusia tersebut hampa konsep , tanpa visi? Bingung, tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Generasi bingung, jika meminjam istilah sementara aktivis di Jakarta pada zaman melawan Orde Baru Soeharto dulu. “Generasi kosong”, jika meminjam istilah sosiolog Perancis Alain Touraine. Atau hanya alat jinak (docile tool) dari atasan, menunggu perintah, tanpa prakarsa. Telah menyelesaikan pendidikan tinggi, bukanlah jaminan untuk menjadi manusia yang berwawasan. Bisa saja manusia itu berketerampilan tinggi, tapi hampa visi, sehingga ia tidak lain dari tukang semata. Pemberdayaan dan pembangunan memerlukan tukang, tapi yang lebih diperlukan lagi adalah tukang yang mempunyai visi. Agaknya pendidikan kita sekarang lebih menciptakan para tukang, bukan tukang yang bervisi, bukan menciptakan manusia sadar. Sedangkan pada masa pemerintahan Soekarno character building diutamakan di samping penguasaan ketrampilan tekhnis. Masalahnya untuk Kalteng, apakah manusia berwacana integral dan berkerampilan sudah berderet-deret? Benarkah konstatasi Seminar bahwa “begitu banyak para pemikir ulung Kalteng yang telah berpengalaman”? Coba sebutkan beberapa? Apa bagaimana buah pemikiran mereka? Saya khawatir, bahwa masalah pembangunan Kalteng justru terletak pada ada tidaknya, cukup-tidaknya, manusia-manusia berwacana integral yang berpihak pada kemanusiaan dengan rakyat sebagai poros dan mempunyai ketegaran pendirian mewujudkan wacana itu. Hitung saja berapa jumlah para lulusan sekolah tinggi kita yang menyatu dengan rakyat, lapisan masyarakat bagian bawah, yang mempunyai langgam kerja merakyat. Saya mengkhawatiri yang banyak adalah yang “ngelit” dan menjadi manusia-manusia lulusan tiga pintu (pintu keluarga, pintu sekolah dan pintu kantor), jauh dari badai topan perjuangan masyarakat.

Lepas sekolah tinggi tidak serta-merta menjadi yang disebut sumber daya manusia. Sumber daya manusia yang diperlukan oleh upaya pemberdayaan dan pembangunan mencakup lima unsur terpadu: 1). Wacana, visi integral; 2). Keberpihakan manusiawi berporoskan pada rakyat; 3). Kerampilan (skill know how) yang tinggi; 4). Ketegaran pendirian mewujudkan wacana atau visi integral itu; 5). Langgam kerja yang tak kenal susah-payah.

Apakah sumber daya manusia yang demikian sudah berlimpah-limpah di Kalteng? Pertanyaan ini mendapatkan jawabannya apabila kita mendengar dan membaca makalah-makalah yang disampaikan dalam seminar sehari ini.

Benar pula bahwa keprihatinan dan kemauan baik diperlukan. Tapi keprihatinan dan kemauan baik, bukanlah wacana dan atau visi integral. Keprihatinan dan kemauan baik hanyalah langkah awal dan modal awal untuk memberikan sumbangan kepada pemberdayaan dan pembangunan. Tapi sama sekali bukan penyelesaian. Keprihatinan dan kemauan baik ini, niscayanya ditingkatkan menjadi visi sadar integral. Seminar sehari ini saya pahami sebagai ujud dari keprihatinan dan kemauan baik dari suatu generasi yang disebut generasi ke-empat Kalteng. Hal ini perlu didorong dan dikembangkan.

Harapan bahwa melalui seminar ini “akan lahir pula tokoh-tokoh pemuda/i Dayak yang rela berjuang, berkecimpung diri menggarap Kalimantan Tengah sebagai teladan pembangunan di antara propinsi-propinsi lainnya di Indonesia”, barangkali tidak lebih dari harapan terlalu dini tak berdasar. Bagaimana mungkin satu dua seminar melahirkan tokoh-tokoh demikian? Tokoh dilahirkan oleh badai topan perjuangan bersama masyarakat. Jatuh-bangun, menang-kalah bersama masyarakat dalam badai topan perjuangan demikian. Tidak keluar dari tiga pintu. Pandangan bahwa seminar sehari akan melahirkan tokoh-tokoh yang rela berjuang berjuang pun, saya kira suatu pernyataan kurang perhitungan karena dibakar oleh kobaran semangat. Sama tak masuk akalnya dengan keinginan menjadi teladan bagi provinsi-provinsi lainnya, sementara pembangunan Kalteng sendiri masih dipertanyakan. Memang tidak ada jeleknya berambisi demikian karena seperti Presiden Soekarno lama mendidik anak-anak muda bangsa ini supaya mereka menggantungkan cita-cita setinggi bintang di langit.

JJ. Kusni, penulis artikel ini, di Kasongan, Katingan 2009 (Foto: Andriani S. Kusni. Dokumentasi Andriani S. Kusni & JJK)

JJ. Kusni, penulis artikel ini, di Kasongan, Katingan 2009 (Foto: Andriani S. Kusni. Dokumentasi Andriani S. Kusni & JJK)

Peran visi atau konsep dalam pemberdayaan dan pembangunan, kiranya sudah menjadi pengetahuan umum. Teras Narang sendiri mengatakan bahwa “Kalau konsep salah, rusak Negara”. Konsep tak obah kompas bagi nakhoda ketika berlayar di laut.

Pertanyaan « Ada apa dengan pembangunan Kalteng ?” sebenarnya menunjukkan bahwa ada masalah dalam bidang konsepsional atau visional. Masalah konsepsional ini ditunjukan oleh Teras Narang ketika ia mengkritik konsep pembangunan selama ini bahwa “pemerintah pusat membangun daerah” yang sentralistik, dan bukannya “daerah yang membangun dirinya sendiri” sesuai dengan prinsip desentralisasi dan otonomi. (Lihat: Harian Dayak Pos, Palangka Raya, 26 Mei 2009). Adanya visi-misi pembangunan tidak serta menunjukkan bahwa pengelola kekuasaan memiliki wacana atau visi integral yang tanggap zaman dan apresiatif. Bisa saja visi-misi itu disusun berangkat dari keinginan subyektif, tidak didasarkan pada hasil penelitian, atau kajian serius sehingga gampang terperangkap pada pendekatan parsial. Konsep bermula dari persepsi pancaindra, lalu diolah oleh logika hingga menjadi konsep. Konsep kemudian diuji oleh pelaksanaan. Jika ternyata dalam pelaksanaan, konsep itu ternyata salah, maka ia niscaya perlu segera diperbaiki agar sesuai dengan keperluan publik dan fungsi Negara atau pengelola kekuasaan. Infrastruktur sebagai “kunci ajaib” atau ndengan istilah lain merupakan kontradiksi pokok dalam masalah pemberdayaan dan pembangunan adalah suatu konsep dan ia perlu dikaji ulang pelaksanaannya. Apakah ia benar kontradiksi pokok, apakah ia bukan pendekatan parsial, linear dan bukan pendekatan integral. Ketepurukan bersifat integral, maka melawannya perlu bersifat integral pula. Apakah konsep ini sudah diterapkan di Kalteng, sementara listrik yang vital untuk kehidupan ekonomi saja masih tergantung pada Kalimantan Selatan.Belum lagi pendekatan parsial lainnya yang berdampak jauh dari penyejahteraan dan perbaikan tingkat hidup masyarakat.

Jika benar demikian, maka agaknya di Kalteng masih terdapat masalah konsepsional untuk melakukan pembedayaan dan pembangunan. Saya masih belum melihat pertanyaan ini terjawab dalam seminar sehari ini. Yang gencar terdengar dan terbaca lebih berupa kutipan teoritis berasal dari negeri-negeri lain yang dibawa pulang setelah meninggalkan bangku kuliah.

“Adakah visi pembangunan daerah gagal karena manusianya gagal untuk maju?”

Pertanyaan ini agak membingungkan. Adakah manusia yang tak mau maju. Gagal merupakan ibu keberhasilan, tetua bilang. Apakah kegagalan suatu visi pembangunan disebabkan karena manusianya gagal untuk maju? Ataukah terletak, pertama-tama, pada visi itu sendiri sehingga dalam pelaksanaannya gagal. Bahwa dalam melaksanakannya bisa terjadi kegagalan, bukanlah hal aneh. Konsep tepat bisa saja gagal karena faktor manusia pelaksananya seperti yang sudah saya tuturkan di atas, sistem pelaksanaannya dan kelambatan mengkoreksinya, ada ketidak rasukan antara kultur dan struktur serta faktor-faktor luar lainnya. Menyebut “visi pembangunan daeraj gagal karena manusianya gagal untuk maju” mengesankan adanya suatu permainan kata untuk berindah-indah, tak jelas isi dan sasarannya. Tidak melakukan ‘peretasan jalan pembangunan’, seperti yang diinginkan oleh Seminar.

Lepas dari semua pendapat di atas, jelas nampaknya bahwa seminar melihat “there is something wong in the State of Denmark” bernama Kalteng dewasa ini. Generasi keempat prihatin.

4.

Meninggalkan ruang Seminar, saya masih pulang dengan pertanyaan klasik: Quo Vadis Kalteng? Quo Vadis the Fourth Generation? What next? (Mau ke mana Kalteng? Mau ke mana Generasi Ke-empat? Lalu apa kemudian?).

Saya menyusur tepi jalan pulang, sambil menunggu angin semilir segar berhembus menangkal terik matahari kota dengan keyakinan bahwa Indonesia, termasuk Kalimantan Tengah masih merupakan tempat di mana kita bisa berharap. Saya masih memelihara optimisme bahwa di ufuk timur besok masih ada fajar: Hari Depan Kalimantan Tengah.***

Palangka Raya, Mei 2009.
——————————
JJ. Kusni

About these ads

2 comments so far

  1. silmina on

    thx for sharing this…

  2. dt on

    benar pak, kami pun jadi malas pulang berbakti kepada daerah dan membagikan ilmu yg kami peroleh, karena ‘penghuni’ sudah merasa lebih pintar dari kami dan selalu mengkritik dengan kutipan2 tanpa arti.. klo belum benar2 mencoba mana tahu


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 59 other followers

%d bloggers like this: