APAKAH KEBUDAYAAN DAYAK KALIMANTAN TENGAH AKAN PUNAH?

Jurnal Toddopuli

(Cerita Untuk Andriani S. Kusni Dan Anak-Anakku)


1. PREMIS DASAR :

Banyak perumusan tentang kebudayaan, demikian pula tentang peradaban. Di sini saya tidak akan melibatkan diri dalam pembahasan tentang perumusan-perumusan yang bisa sebuku tebal sendiri jumlahnya. Yang saya maksudkan adalah semua produk spiritual manusia dalam menanggapi persoalan-persoalan zamannya. Produk ini, bisa berbentuk lukisan, karya sastra, patung, filosofi, psikhologi, emosional, bahasa, tari-tarian, hukum, tatakrama, adat-istiadat, wawasan-wawasan, pola piker, dan lain-lain yang bersifat spiritual, tatanan nilai atau mind, tidak kasat mata atau abstrak, non visual. Hal-hal yang bersifat kasat mata, seperti tekhnologi, ekonomi, kereta-api, pesawat terbang, listrik, gedung-gedung, pengairan, tekhnik bercocok tanam, alat-alat berburu, menangkap ikan, jembatan, dan lain-lain, saya golongkan sebagai kebudayaan material sebagai capaian dari ilmu pengetahuan. Produk kebudayaan yang kasat mata, material dan non material ini membentuk yang disebut peradaban. Di samping itu memang terdapat di mana yang kasat mata, yang material dan non-material, yang spiritual, yang filosofis, berpadu seperti pada patung, pada bangunan-bangunan Toraja, kuil-kuil Bali, candi Borobudur, Anglor Vat, Candi Prambanan, dan lain-lain. Yang spiritual agaknya menentukan pola hidup, mentalitas, semua buah kreativitas manusia dalam menanggap masalah-masalah zaman. Tatanan nilai, yang terdapat dalam kebudayaan non-material, menentukan untuk apa karya-karya material dan penemuan-penemuan digunakan. Penemuan bom atom dan kemudian digunakan untuk membunuh ribuan orang di Hiroshima 1) dan Nagasaki adalah penemuan budaya, dan pemboman kedua Jepang tersebut sesuai dengan tatanan nilai budaya cow boy (koboi), sebagai nilai budaya Amerikat Serikat, adalah tindakan tidak beradab, tidak berbudaya.

Peradaban yang terdiri tiga jenis kebudayaan di atas, lahir dan berkembangnya, baik dalam bentuk dan isi, dipengaruhi oleh lingkungan sosial dan alam pada suatu waktu tertentu, di samping oleh saling hubungan dengan bangsa-bangsa lain dengan tujuan menjawab masalah-masalah zaman dan pemanusiawian manusia. Karena itu Sigmund Freud merumuskan peradaban sebagai “menggambarkan jumlah keseluruhan dari pencapaian-pencapaian dan peraturan-peraturan yang membedakan kehidupan kita dari kehidupa leluhur binatang kita, dan untuk mencapai dua tujuan, yakni untuk melindungi manusia dari alam dan untuk mengatur hubungan timbal-balik mereka”. Juga Freud mengatakan bahwa “peradaban yang tinggi jika kita menemukan di dalamnya segala hal yang mampu manusia dalam mengeksploatasi bumi dan melindunginya dari kekuatan-kekuatan alam – segala hal yang mampu dimanfaatkannya”2).

Tingkat tekhnologi, tingkat kebudayaan material secanggih apa pun jika tidak digunakan untuk memanusiawikan manusia, kehidupan dan masyarakat, tidak menjadi pemiliknya sebagai bangsa atau manusia yang beradab atau berbudaya. Peradaban dan pemanusiawian manusia, kehidupan dan masyarakat termasuk salah satu ukuran beradab dan berkebudayaan serta tidak terpisahkan. Peradaban, khususnya kebudayaan yang bersifat non-material dari masa silam, dari generasi-generasi terdahulu tidak semuanya kadaluwarsa. Tidak sedikit yang masih tanggap zaman walau pun perlu direvitalisasi, kemudian direinstitusi. Karena kebudayaan dalam artian non material yang selanjutnya saya sebut kebudayaan saja, dilahirkan oleh kondisi dan situasi di mana ia dilahirkan, maka pengalihan mentah-mentah budaya lain untuk daerah kebudayaan itu, tidak lain dari suatu pemaksaan, sejenis agresi kebudayaan, pemusnahan kebudayaan sebagaimana yang dilakukan oleh Belanda terhadap kebudayaan Dayak dengan politik budaya « ragi usang », « Dajakers », « misi suci » (la mission sacrée) 3) atau politik budaya Jawanisasi tipe Mataram oleh Orde Baru. Karena itu Paul Ricoeur, filosof terkemuka Perancis mengatakan bahwa « kebudayaan bersifat majemuk, kemanusiaan itu tunggal » 4). Tunggal artinya bersifat universal. Secara spesifik, pada kebudayaan Dayak dan kebudayaan mana pun juga terdapat universalitas ini, walau pun bentuknya beraneka-warna. Juga Paul Ricoeur menyebut bahwa kebudayaan lokal merupakan bahasa orang-orang lokal, baik itu bernama bangsa atau etnik atau sub-etnik untuk berdialog dengan budaya lain 5) di mana pun untuk memperkaya budaya diri. Karena itu, menjadi Dayak tidak ada pertentangannya dengan menjadi Indonesia dan anak manusia, putera-puteri planet kecil kita ini, yang hari ini oleh tingkat perkembangan tekhnologi menjelma menjadi sebagai sebuah « desa planet » saja. Budaya negeri satu serap-menyerap dengan yang lain. Mana yang sesuai dan tidak sesuai disaring, difilter oleh tanggap tidaknya ia dengan keadaan setempat, oleh budaya lokal. Karena itu penyeragaman budaya adalah suatu bahaya sedangkan keanekaragaman merupakan suatu rakhmat budaya. Karena itu pemusnahan budaya satu etnik atau sub-etnik, entah sadar atau tidak merupakan suatu kesalahan. Memandang kebudayaan nasional hanyalah « puncak-puncak kebudayaan daerah », tidak lain dari mendorong dominasi mayoritas, demikian pula politik budaya sentralistik yang memandang kebudayaan nasional dibangun dari Jakarta, dan sentralisasi nilai, akan berdampak peminggiran budaya-budaya lokal. Ini adalah suatu kerancuan konsep. Sedangkan « kerancuan konsep… dapat berperan besar dalam melahirkan kekacauan dan tindak tak beradab di sekitar kita », demikian Amartya Sen. 6)

2. BAGAIMANA KEADAAN KEBUDAYAAN DAYAK SEKARANG?

Untuk melukiskan keadaannya, saya ingin mulai dari beberapa contoh yang saya dapatkan di lapangan, contoh yang tentu bisa diperpanjang lagi deretannya.

  1. Sandung Kaharingan yang terdapat di jalan Seram dan jalan Halmahera, Pahandut, Palangka Raya dijual dengan harga 4 miliar rupiah. Satu miliar dari harga tersebut telah diberikan kepada pihak penjualnya oleh pembeli tanah di mana sandung itu terdapat. Umat Kaharingan Pahandut melakukan protes keras dan sudah mengajukan soal ke pihak Walikota Palangka Raya. 7)
  2. Sapundu-sapundu berusia seratusan tahun di pambak datu saya di situs « Pambak Rindui » di Kasongan, telah digergaji dan dijual. Padahal Pambak Rindui oleh pemerintah daerah ditetapkan sebagai Cagar Budaya. Sebagai Cagar Budaya, ia sama sekali tidak terawat, ditumbuhi oleh semak-semak dan dijadikan tempat menanam kacang panjang dan sayur-mayur lainnya. Salah satu atap pambak hampir runtuh.
  3. Sapundu-sapundu di Pambak Nusi Djelau, di Kasongan, juga habis digergaji dan melenyap entah ke mana.
  4. Pemakaian bahasa Dayak Ngaju di kalangan keluarga Dayak makin merosot. Keadaan begini menarik perhatian Gereja Kalimantan Evangelis Sakatik Palangka Raya, sampai menyelenggarakan seminar sehari tentang persoalan dan keadaan ini. 8).
  5. Penggantian nama Akademi Hindu Kaharingan menjadi Akademi Negeri Hindu Kaharingan di Palangka Raya.
  6. Pengajaran agama Hindu, bukan budaya dan agama Kaharingan di SLTP dan SLTA di Kalimantan Tengah. 9)
  7. Makin berkurangnya tenaga pandai besi tradisional yang mampu melayani keperluan sehari-hari akan parang, ambang, pisau berbagai jenis; berkurangnya dan melenyapnya tenaga pembuat mandau, pembuat sumpitan, langkanya pengukir-pengukir Dayak, ketertinggalan pengrajin rotan dalam hal desain, langkanya pematung kayu Dayak, miskinnya isi Museum Balanga; makin langkanya tenaga pembuat perahu kayu.
  8. Mulai melenyapnya cerita-cerita rakyat Dayak. 10)
  9. Makin minimnya pengenalan angkatan muda terhadap budaya dan sejarah Dayak.
  10. Langkanya penulis-penulis bahasa Dayak tertulis, makin berkurangnya sastra Dayak lisan.
  11. Tidak adanya organisasi kebudayaan non pemerintah yang khusus menangani masalah kebudayaan. Dewan Kesenian Daerah Kalimantan Tengah lumpuh, Majelis Adat Dayak Nasional (MADN) dan Lembaga Musyawarah Masyarakat Dayak Daerah Kalimantan Tengah, lebih bersifat lembaga-lembaga politis tidak memproduksi karya-karya apa pun. Resolusi-resolusi yang dikeluarkan oleh Kongres, Rapat Kerja Nasional tinggal menjadi kalimat-kalimat tanpa wujud di lembar-lembar dokumen.
  12. Sangat kurangnya lembaran-lembaran kebudayaan berbahasa Dayak. 11)
  13. Penyelenggaraan muatan lokal sangat tidak terurus dan ada kecenderungan menjauh dari budaya lokal, termasuk siaran-siaran TVRI Palangka Raya. 12)
  14. Kurang adanya usaha pendokumentasian khasanah sastra Dayak dan perlindungan terhadap peninggalan budaya Dayak di Kalimantan Tengah. Pengembangan perkebunan kelapa sawit dan terutama Proyek Mega Lahan Gambut Sejuta Hektar telah menghancurkan sangat banyak khasanah budaya Dayak, selain perusakan lingkungan besar-besaran.
  15. Berjangkitnya kurang percaya diri dan tidak menghargai budaya sendiri di kalangan orang Dayak di berbagai kalangan akibat represi budaya selama ratusan tahun.
  16. Kurangnya pengangkatan dan perhatian terhadap seniman-seniman lokal yang potensial, misalnya terhadap Mael, seniman serba bisa di Tumbang Liting, Saér Sua, di betangnya di Tumbang Samba, dan seniman-seniman potensial lainnya.
  17. Bahkan pada akhir zaman pemerintahan Gubernur Asmawi A. Gani alm. tahun 2004, Taman Budaya ditutup. Pengurusan gedung lalu diserahkan kepada Salundik Gohong, Walikota Palangka Raya pada waktu itu. 13)
  18. Disatukannya masalah kebudayaan dengan pariwisata.
  19. Dan lain-lain.

3. SETELAH MEMBACA KEADAAN 14)

Untuk menanggap keadaan begini saya melihatnya dari dua segi, yaitu pertama dari segi sikap pemerintah daerah, dan kedua, dari segi masyarakat Dayak sendiri.

3.1. Sikap Pemerintah Daerah:

Keadaan-keadaan di atas, kiranya, tidak akan terjadi jika pemerintah menaruh perhatian, mempunyai wawasan kebudayaan dan politik kebudayaan yang jelas serta diejawantahkan dengan sungguh-sungguh. Seandainya memang pemerintah, mereka yang bertanggungjawab sebagai pengelola kekuasaan, mempunyai hal-hal di atas, mereka tidak akan membiarkan cagar budaya tidak terurus, apalagi sampai terjadi pencurian terhadap sapundu dan penjualan sandung. Tidak akan membiarkan sandung-sandung dan khazanah budaya dilabrak musnah oleh proyek-proyek perkebunan dan Proyek Mega Lahan Gambut Sejuta Hektar, penutupan Taman Budaya, tidak juga akan membiarkan pembengkalaian budaya Kaharingan sebagai muatan lokal di sekolah-sekolah, lalu menggantikan pengajaran budaya Kaharingan dengan pembelajaran agama Hindu serta bahasa Sanskerta dan bukan mengutamakan bahasa Dayak Ngaju, misalnya. Pengajaran agama Hindu dan bahasa Sanskerta serta filosofi Hindu Bali menggantikan budaya Kaharingan dan bahasa Dayak Ngaju kepada anak-anak muda yang sedang berada pada usia pembentukan diri, akan mengantar anak-anak didik Dayak ke arah keterasingan dari budaya mereka sendiri. Budaya Dayak, serta menjadikan mereka menjadi orang asing secara budaya dari kampung-halaman mereka sendiri. Apakah kebijakan begini bukannya sejenis politik pelikwidasian budaya Dayak dari panggung sejarah negeri ini, sejalan dengan pandangan yang menyetan-nyetankan budaya Dayak, varian dari politik “ragi usang”, “la mission sacrée”, dan “Dajakers”? Suatu etnosida budaya atas nama rangkaian nilai republiken dan berkeindonesian? Mengejawantahkan nilai berkeindonesiaan, multi-kulturisme kiranya tidak berarti memusnahkan kebudayaan mayoritas penduduk provinsi ini melalui penyisihan budaya mereka. Ketiadaan politik kebudayaan pemerintah turut menjadi penanggungjawab atas keadaan berbahaya begini.

Kalau saya menunjukkan adanya dampak buruk rasa rendah diri pada orang Dayak sampai-sampai dengan anggota keluarga inti saja menggunakan bahasa Banjar, wujud dari merosotnya identitas diri di kalangan orang Dayak sekarang, tidaklah berarti saya ingin menabrakkan satu identitas dengan identitas lain di Kalimantan Tengah. Saya hanya membunyi sirine bahaya tentang pemusnahan budaya suatu etnik.

Ada yang berpendapat bahwa masalah lebudayaan bukan masalah mendesak dibandingkan dengan upaya memperbaiki tingkat hidup. Memperbaiki keadaan ekonomi daerah. Saya tidak menentang perbaikan tingkat hidup dan keadaan ekonomi. Tapi saya sama sekali tidak melihat alasan mengapa masalah kebudayaan dipinggirkan, tidak diindahkan jika perbaikan masalah pemberdayaan dan pembangunan erat hubungannya dengan proses penyadaran agar rakyat menjadi aktor pemberdayaan diri dan kekuatan serta tujuan pembangunan. Bahwa rakyat bukanlah obyek, tapi bagaimana mereka menjadi subyek dari perbaikan ekonomi dan peningkatan taraf kehidupan? Berbicara tentang subyek dan obyek, menjadi aktor pemberdayaan dan proses pencerahan, artinya kita bicara tentang masalah kebudayaan. Jepang, Korea Selatan yang cukup berkembang dan baik tingkat penghidupan dan taraf ekonomi mereka, justru sejak dini tidak mengabaikan masalah kebudayaan.Perbaikan taraf hidup dan ekonomoi dilakukan oleh manusia. Tapi manusia yang bagaimana? Ini adalah masalah kebudayaan. Kebudayaan bukanlah hanya pakaian adat, museum, tari-tarian, patung, festival seni sekali setahun. Masalah kebudayaan adalah masalah pola pikir dan mentalitas manusia. Roh. Mind. Jiwa manusia baik secara individual mau pun secara kolektif.

Penyatuan soal pariwisata dengan masalah kebudayaan mengesankan bahwa kebudayaan dipandang sebagai barang dagangan, bukan pertama-tama dan yang utama adalah masalah pembentukan manusia. Demi mengembangkan turisme maka segamanya bisa diperdagangkan. Benar, bahwa karya budaya bisa dijual dan bisa menjadi salah satu obyek utama wisatawan, tapi apakah benar, apakah tepat kebudayaan diciptakan untuk pertama-tama diperjual-belikan. Paris yang mendapat penghasilan pentingnya dari 60 juta lebih wisatawan per tahun, kaya dengan situs budaya, museum-museum. Museum, berbagai jenis museum terdapat hampir di tiap pojok jalan. Tapi museum-museum dan karya-karya budaya itu bukan pertama diciptakan dengan tujuan untuk diperdagangkan, melainkan guna mewariskan nilai dan pergulatan pencarian nilai, sebagai bahasa komunikasi antar generasi dan lintas bangsa. Kementerian kebudayaan tidak pernah disatukan dengan kementerian pariwisata. Penggabungan masalah pariwisata dan kebudayaan ke dalam satu kementerian yang sama, saya pahami sebagai satu pandangan budaya juga, suatu pola pikir yang berorientasikan pada upaya peraupan uang sehingga sanggup menjual apa saja. Tidak mustahil jika di daerah-daerah yang pariwisatanya belum maju atau belum berkembang, perhatian terhadap masalah kebudayaan menjadi minim. Pengertian sering direduksi. Reduksi konsepsional tidak lain dari kerancuan konsep yang bahayanya sudah dikemukakan oleh Amartya Sen di atas.

3.2. Dari Segi Masyarakat Dayak Sendiri

Sekelumit data-data di atas menunjukkan bahwa bahaya pemusnahan budaya Dayak itu bermula dari sikap masyarakat Dayak sendiri yang tidak bisa menghargai kebudayaan mereka sendiri sampai malu menggunakan bahasa Dayak di keluarga mereka sendiri.

Terhadap hal ini, Priana Setia Miguna, staf pengajar pada SMP Katolik Palangka Raya dalam Majalah Suar Betang terbitan Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Tengah, Palangka Raya, 15) antara lain menulis:

“…pada saat ini banyak masyarakat Dayak Ngaju di dalam keluarganya sendiri jarang menggunakan bahasa Dayak Ngaju sebagai bahasa sehari-hari mereka. Bahasa Dayak Ngaju dalam kondisi sekarang lebih cenderung digunakan sebagai bahasa pengantar bila berbicara dengan orang lebih tua atau memang orang yang berpengaruh dalam kehidupan masyarakat Dayak Ngaju itu sendiri…”.

Selanjutnya Priana menulis dalam artikel yang sama:

“… dalam kondisi ini Bahasa Indonesia menjadi salah satu faktor yang mampu menghilangkan bahasa daerah yang ada. Karena dengan berbahasa Indonesia di dalam kehidupan sehari-hari tidak akan membuat anak-cucu kita malu dalam pergaulannya, namun sebaliknya nilai sastra yang dimiliki dalam sebuah cerita rakyat Dayak Ngaju yang tinggi nilainya menjadi hilang dari generasi ke generasi”.

“….apabila orang tua kita sudah tiak terlalu ampu menggunakan bahasa Dayak Ngaju sebagai bahasa sehari-hari di dalam rumah kita sendiri, lalu bagaimana mungkin mereka … mengajarkan tentang nilai-nilai budaya dan amanat yang terdapat dalam sebuah cerita rakyat?”, Tanya Priana dengan sedih.

“Malu dalam pergaulan” jika menggunakan bahasa Dayak adalah akibat dari rendah diri produk dari penindasan kebudayaan ratusan tahun, hasil dari politik budaya Belanda “ragi usang”, “la mission sacrée”, “Dajakers” , kemudian lebih sistmatik dilakukan oleh Orde Baru Soeharto dan sekarang adanya pandangan yang menyetan-nyetankan kebudayaan Dayak. Politik etnik pemerintah pusat di Jakarta yang sentralistik pun bukan tidak ada dampak negatifnya. Tidak dipakainya bahasa Dayak Ngaju di dalam keluarga sendiri dan hanya digunakan terhadap orang-orang tua dan atau pemuka masyarakat Dayak Ngaju, saya kira tidak bisa dikatakan bahwa bahasa Dayak Ngaju adalah “bahasa diplomatis” seperti yang dikatakan oleh Prof. K.M. A. Usop, MA. Bahasa diplomatis adalah bahasa terhormat sebagaimana halnya posisi bahasa Perancis di Eropa Barat sebelum Perang Dunia I. Di mana letak tingginya posisi bahasa Dayak Ngaju, dan bagaimana bahasa Dayak Ngaju bisa disebut “bahasa diplomatis” kalau digunakan pun menimbulkan rasa “malu dalam pergaulannya”, seperti yang dikatakan oleh Priana? Lagi pula, apa gerangan yang disebut “bahasa diplomatis” itu? Apakah bahasa yang dipakai dalam keseharian ataukah suatu bahasa yang diungkapkan dengan kata, gerak tubuh, seperti menolak jabatan tangan, menolak berjumpa dengan alasan sakit, yang semuanya multi arti. Bahasa atau cara menyampaikan pesan dengan isyarat atau kalimat berwayuh makna begini, sangat sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari, bukan hanya di kalangan para diplomat. Menyebut bahasa Dayak sebagai “bahasa diplomatis” mengesankan kurang menyadari bahaya yang mengancam budaya Dayak, nina bobo oleh analisa reduksionistis atau reduksi intelektualitas terhadap suatu keadaan yang gawat.

Dengan sikap yang tidak bisa menghargai budaya diri sendiri, masyarakat Dayak secara kebudayaan telah melakukan bunuh diri.

3.3. Ke mana Organisasi-organisasi Kebudayaan Dayak?

Di hadapan keadaan kebudayaan Dayak yang gawat begini, niscayanya organisasi-organisasi kebudayaan orang Dayak berbuat lebih aktif untuk menanggalungi keadaan.Tapi agaknya organisasi-organisasi kebudayaan Dayak bergeser bidang kegiatan dari bidang kebudayaan ke bidang politik praktis. Resolusi-resolusi di kongres, konfrensi dan atau rapat kerja, tinggal tercantum di lembaran-lembaran dokumentasi tersimpan di lemari buku untuk kemudian kembali disuarakan ulang pada konfrensi atau rapat kerja berikutnya. Sementara waktu mengalir bersama memarahnya keadaan kebudayaan Dayak yang dirasakan sebagai membuat “malu dalam pergaulannya” alias malu menjadi orang Dayak. Nama Dayak kemudian hanya digunakan pada pemilu atau saat memburu jabatan.

Dalam keadaan begini, kiranya kegiatan Gereja Kalimantan Evangelis dengan seminar seharinya di Sakatik dengan tema “Injil Dan Budaya Dayak”, kiranya patut dihargai. Kegiatan ini memperlihat keprihatinan dan kongkrit dalam upaya mencari jalan penyelamatan budaya Dayak dari bencana pemusnahan diri sendiri (self destruction).

Jika kebudayaan Dayak tidak lagi mempunyai penopang, apakah ia bisa terus hidup? Sulit dibayangkan Dayak yang bagaimana jadinya yang ada di hadapan dunia, jika Dayak tanpa budaya Dayak lagi. Barangkali apa yang dikatakan oleh Amartya Sen bisa padan untuk melukiskan prospek demikian: “Kita pun akan terbawa ke prospek masa depan yang seram sebagaimana digambarkan oleh Matthew Arnold dalam syairnya “Dower Beach”:

Dan di sini kita berdiri di atas dataran kelam

Terombang-ambing oleh kengerian pertarungan dan pergumulan

Kala bala tentara yang bebal bertempur pada malam buta » 16)

Apakah Dayak memang « bala tentara yang bebal » dan bukan lagi “rengan tingang nyanak jata” (anak enggang putera-puteri naga)? ***

Palangka Raya, Mei 2009

——————————

JJ. Kusni

Catatan Kaki :

1). Lihat : Hersey, John « Hiroshima. Ketika Bom Dihatuhkan », Komunitas Bambu, Depok, Jakarta,

2). Lihat: Freud, Sigmund, “Peradaban dan Kekecewaan-Kekecewaan” (Civilization and Its Discontents”, Penerbit Jendela, Yogyakarta, April 2002, hlm. 58 dan hlm. 62. Perumusan Freud dalam buku ini nampak seperti menyetarakan makna kebudayaan dan peradaban, “kultur” dan “civilization”. Misalnya, dari perumusan Freud tentang kultur sebagai “segala aktivitas dan sumber-sumber yang bermanfaat bagi manusia untuk menjadikan bumi seisinya dapat digunakan demi kepentingan mereka, untuk melindungi mereka dari kekerasan kekuatan alam dan seterusnya” (hlm-hlm.58-59).

3). Lihat: Kusni, JJ, « Dayak Membangun. Masalah Etnik & Pembangunan Kasus Dayak Ngaju, Kalimantan Tengah », PT, Paragon, Jakarta, 1994.

4). Ricoeur, Paul, Le Monde, Paris, 2005.

5). Ricoeur, Paul, lihat Kusni JJ, in : « Dayak Membangun. Masalah Etnik Dan Pembangunan. Kasus Dayak Ngaju di Klimantan Tengah», PTParagon, Jakarta 1994.

6). Sen, Amartya, « Kekerasan dan Ilusi Tentang Identitas”, PT.Buku Kita, Jakarta, 2007, hlm. xxiii.

7). Kalteng Pos, Palangka Raya, 25 April 2009.

8). Pdt. Tawar Soewardji, M. Th. (Makalah), “Alkitab Dan Budaya Lokal. Retrospeksi Dan Proyeksi”, Palangka Raya, Mei 2009.

9). Lihat: Sudirga, Ida Bagus, Drs; Mudana, I.Nengah, Drs; Suratmini, Ni Wayan, S.Ag ; Ariasa, I Wayan, Drs, (Tim Penyusun Buku Pegangan) « Bulu Pendidikan Agama Hindu. Untuk SMU Kelas XI), Penerbit Paramita, Surbaya, 2007. Lihat juga:”Buku Pelajaran Agama Hindu Untuk SLTA Kelas 2 (Semester 1 & 2), Penerbit Paramita, Surabaya, 2004.

10).Lihat: Miguna, Priana Setia, “Nilai Budaya Dan Amanat Yang Disampaikan Dalam Cerita Rakyat Dayak Ngaju “Kesah Balawau”, in: “Suar Betang”, Palangka Raya, Vol III, Nomor 1, Juni 2008 , hlm-hlm. 89-99.

11). Atas prakarsa linguist muda Anthony Nyahu, dalam waktu dekat tak lama lagi , di Palangka Raya, akan terbit buletin yang sepenuhnya berbahasa Dayak Ngaju bernama TAMUEI. Sebelumnya penerbitan yang berbahasa Dayak pernah dilakukan oleh Pakat Dayak, dan Gereja Kalimantan Evangelis (GKE) juga telah menerbitkan injil dan Nyanyian Rokhani dalam bahasa Dayak Ngaju. Sementara itu Nila Riwut telah selesai menyusun Kamus Dayak-Indonesia yang lebih tebal dari Kamis Besar Bahasa Indonesia, karya besar yang membuktikan kayanya bahasa Dayak Ngaju. Nila Riwut juga telah menciptakan rangkaian lagu-lagu baru berbahasa Dayak, yang sekali lagi memberikan bukti tentang potensi manusia Dayak dan kemungkinan-kemungkinan yang disediakan oleh bahasa Dayak Ngaju.

12). Hal ini diakui oleh Drs. Burdju Daeng HS, MM , kepala Lembaga Penyiaran Publik TVRI Stasiun Kalimantan Tengah, dalam percakapan singkatnya dengan penulis di TVRI Palangka Raya pada tanggal 15 Mei 2009.

13). Percakapan dengan teman-teman ISASI (Ikatan Sastrawan Indonesia, Kalimantan Tengah) di Palangka Raya, pada tanggal 13 Mei 2009.

14). Lihat: Kusni, JJ dan Kusni, Andriani S. Kusni, “Bahasa dan Sastra Di Kalimantan Tengah Serta Permasalahannya”, in blog:http:// jurnaltoddoppuli.wordpress.com

15). Lihat : Priana SM, « Nilai Budaya Dan Amanat Yang Disampaikan DalamCerita Rakyat Dayak Ngaju « Kesah Balawau », in : Suar Betang, terbitan Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Tengah, Palangka Raya, Volume III, No. 2, Juni 2008, hlm-hlm. 89-90.

16). Sen, Amartya, « Kekerasan Dan Ilusi Tentang Identitas », Penerbit Buku Kita, Jakarta, 2007, hlm. xxiv.

About these ads

3 comments so far

  1. Rizki on

    salam sejahtera Pak Kusni.

    Saya mahasiswa dan saat ini sedang meneliti dan menulis skripsi tentang pengangkatan anak dalam sistem hukum adat dayak, yang dalam bahasa setempat dikenal dengan istilah balaku anak.

    Mungkin Bapak Kusni dapat memberikan informasi atau data berupa artikel atau tulisan Bapak sendiri kepada saya terkait dengan balaku anak tersebut. Mengingat saya menggunakan metode snow ball sampling, jadi informasi dari Bapak selaku pemerhati budaya, akan sangat membantu saya.

    Terima kasih sebelumnya Bapak Kusni,

    Salam Sejahtera

  2. kusni sulang on

    salam,

    Mungkin dapat mencari tulisan2 Tjilik Riwut yang diterbitkan dan di edit oleh Nila Riwut. Bisa juga konsultasi dengan para damang di berbagai kabupaten seperti kab. Katingan Hilir atau Katingan Hulu dll.

    Terima kasih atas perhatian. Mengharap anda berhasil. Salam.

  3. oskar on

    Harapan kami sebagai anak esun Tambun Bungai kembalikan pada kearifan lokal (ingenius knowladge) kebudayaan lokal yang sangat bernilai tinggi baik dari budaya, sosial dan lingkungannya. kedua pihak stacholder adakan gerakan cinta budayamu, gerakan aku bangga jadi orang/suku Dayak mulia dari lingkup kecil di rumah tangga, keluarga dan kampung-kampung jangan terpesona melihat apa yang diperlihat budaya luar yang semu dan instan. Amun di itah eweh hindai, salam


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 49 other followers

%d bloggers like this: